Tag Archives: Indonesia

Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran.

Standard

Di ujung selatan desa adat Penglipuran, terdapat sebuah candi yang merupakan Tugu peringatan terhadap jasa pahlawan pejuang kemerdekaan yang dipimpin oleh Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Muditha.

Walau gerimis turun dan saya tak membawa payung, saya menyempatkan diri berkunjung ke sana.

Saya merasa kunjungan saya ke sana kali ini penting, karena sebagai orang yang lahir dan besar di Bangli, tak banyak yang saya ingat tentang taman makam pahlawan ini. Walaupun dulu sering juga diajak oleh bapak/ ibu guru maupun kakak pembina pramuka ke sini. Jadi saya ingin merefresh kembali ingatan saya tentang tempat ini.

Selain itu, saya baru saja menerima kiriman buku tentang pahlawan Kapten TNI AAG Anom Muditha ini dari Anak Agung Made Karmadanarta, seorang sahabat saya yang merupakan keponakan dari sang pahlawan. Judulnya “Merdeka 100%” yang ditulis oleh Satria Mahardika. Terus terang karena kesibukan, saya belum sempat membacanya. Namun entah kenapa, hati saya terasa terpanggil untuk terlebih dahulu datang sendiri ke Tugu itu guna memberi penghormatan saya secara langsung kepada beliau. Setelah itu, saya akan membaca buku itu hingga selesai.

Demikianlah dalam gerimis saya berjalan ke sana. Segalanya masih tampak sama dengan ketika saya masih kecil. Saya masuk dari pintu gerbang di arah Selatan. Taman dengan tanah lapang dan Bale besar di sisi barat lapangan.

Di hulu lapangan terdapat candi bentar yang kecil, gerbang masuk ke dalam Tugu.

Di sebelahnya terdapat bangunan kecil di mana patung dada Kapten TNI AAG Anom Muditha ditempatkan. Baru kali ini saya memandang wajah beliau. Sangat gagah dan tenang.

Lalu saya menyusuri jalan setapak menuju pohon besar di sebelahnya. Di bawah tempat itu terdapat sebuah batu yang menurut catatan sejarah nerupakan tempat dimana darah sang pahlawan tumpah membasahi pertiwi dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan NICA yang ingin kembali menguasai Indonesia. Beliau tercatat gugur pada tanggal 20 November 1947.

Saya terdiam sebentar di sana. Mencoba membayangkan apa yang terjadi. Rasanya sangat teriris jika memikirkan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan ini demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara generasi berikutnya yang tak ikut berjuang sibuk memperebutkan kekuasaan dan kepentingan politik, pribadi dan golongannya, dengan mudahnya memecah belah masyarakat.

Merasa paling berpengaruh, paling berkuasa dan paling berhak menentukan nasib negeri ini. Sementara yang lain dianggap minoritas dan nge-kost. Tak terasa air mata saya mengambang.

Entah sebuah bentuk pengaduan ataukah jeritan keperihan hati melihat kondisi negeri saat ini yang carut marut diterpa isu politik dan agama yang berpotensi memecah belah bangsa. Saya yakin, bukan kondisi berkebangsaan yang intolerant seperti sekarang inilah yang dicita-citakan oleh para pahlawan kita dulu.

Saya memandang tugu tugu kecil para pahlawan yang berjajar rapi di sebelahnya. Hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keselamatan bangsa.

Gerimis turun semakin deras. Sayapun bergegas pamit.

Advertisements

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa. 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

​Kerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

​Berkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.

Livi Zheng & Passionnya Dalam Film “Brush With Danger”.

Standard

wpid-20151120_201427.jpgJumat malam tanggal 20 yang lalu, saya diundang oleh sutradara muda Livi Zheng untuk menghadiri pemutaran perdana filmnya yaitu “Brush With Danger” di CGV Blitz di Grand Indonesia. Premierenya ini dibuka oleh pak Djarot Saiful Hidayat,  Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tentu saja saya sangat senang dan berterimakasih pada Livi atas kesempatan bagus yang diberikan olehnya.

Pertama, karena Brush With Danger adalah film Hollywood pertama yang disutradarai oleh orang Indonesia dan saya bisa ikut menyaksikan pemutaran perdananya. Livi Zheng adalah sutradara sekaligus pemeran utama dan penulis cerita film Brush With Danger ini. Ia  berasal dari Blitar, Jawa Timur.

Kedua, dari cerita Livi saya tahu bahwa film ini dibuat dengan usaha yang luarbiasa yang dilakukan oleh seorang wanita yang masih sedemikian muda. Bayangkan saja, scenario film ini sebelumnya sempat ditolak sebanyak 32x. Tetapi Livi yang usianya baru 26 tahun ini, tidak pernah berputus asa. Ia terus berusaha lagi dan berusaha lagi, mencoba kembali dengan segala semangat dan daya upayanya hingga akhirnya berhasil. Nah, apa yang terjadi jika penolakan itu terjadi pada kita? Jangan-jangan baru ditolak sekali atau dua kali saja kita sudah langsung  mundur dan berputus asa. Sungguh wanita muda ini luar biasa sekali.

Dan yang ke tiga, Brush With Danger juga sempat terpilih masuk seleksi Oscar walaupun belum sempat masuk nominasi. Tetap saja ini merupakan prestasi yang luar biasa mengingat untuk bisa masuk ke ajang film bergengsi ini tentu ribuan film telah masuk ke tangan panitya. Sudah berhasil masuk ke babak seleksi saja tentu sudah merupakan sebuah prestasi sendiri yang membanggakan.

Brush With DangerFilm ini sendiri berkisah tentang dua orang kakak beradik imigrant gelap Alice Qiang (diperankan sendiri oleh Livi Zheng) dan Ken Qiang (Ken Zheng) yang datang menyelundup dari Asia dengan menggunakan container untuk mengadu nasib di Amerika yang dilihatnya sebagai tanah impian.
Alice sendiri adalah seorang artist yang selain menekuni aliran  seni yang disebutnya sebagai Asia Art,  juga mampu meniru lukisan orang lain walaupun secara pribadi ia tidak suka dengan perbuatan itu. Selain itu Alice dan adiknya sama-sama jago martial art. Kemampuan yang banyak membantu mereka dalam menjalani kehidupan.

Di film ini digambarkan dengan baik bagaimana susahnya kehidupan mereka di masa awal. Mengais makanan dari tong sampah, mencoba menjual lukisan namun tidak laku namun mereka tetap tabah. Bahkan masih sempat membantu  menyelamatkan seorang wanita pemilik toko yang bernama Elizabeth (Stephanie Hilbert) yang kelak kemudian menawarkan persahabatan bagi mereka berdua.

Untuk mempermudah mendapatkan uang untuk makan sehari-hari, kerapkali Ken memamerkan kemampuan teknisnya dalam bela diri pada kerumunan masa. Ia juga memaksa Alice untuk melakukan hal yang sama. Dan kenyataannya memang lebih mudah mencari uang dengan cara begini daripada menjual lukisan. Namun cara ini juga menarik perhatian Justus Sullivan (Norman Newkirk), pemilik gallery yang kaya raya dari usahanya melakukan pemalsuan lukisan-lukisan ternama. Ia berhasil menarik kakak beradik itu untuk tinggal bersamanya dan mengikuti rencananya. Ia berhasil membujuk Ken untuk ikut club tinju dan bertarung. Ia juga memberikan fasilitas studio agar Alice bisa melukis di sana. Dengans egala fasilitas dan keramahan yang diberikan oleh Justus, mereka menyangka bahwa mereka sudah menemukan impiannya.

Belakangan Justus mulai memanfaatkan Alice untuk membuat copy lukisan Van Gogh.  Sekarang kakak beradik ini berada dalam keadaan bahaya tanpa mereka sadari. Untunglah ada Detektif Nick Thopmson (Nikita Breznikov) yang membantu mereka keluar dari masalah ini. Nick juga yang menjembatani mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah dan akhirnya bisa tinggal menetap di Amerika tanpa rasa was was lagi. Happy ending.

Detail ceritanya bisa ditonton sendiri nanti. Karena per tanggal 26, film Brush With  Danger akan mulai beredar di bioskop -bioskop di seluruh Indonesia.

Terlepas dari feedback pro-kontra yang diterima oleh film ini setelah beredar di Amerika, bagi saya, film yang berdurasi 90 menit ini, berhasil mengangkat sesuatu yang cukup unik juga. Imigrant gelap yang berpikir bahwa Amerika adalah tanah impian dan karenanya mudah untuk mendapatkan sukses di sana, namun kenyataannya tidaklah sedemikian mudah juga. Setiap orang perlu berusaha dan bekerja keras untuk bisa sukses. Dan tidak jarang juga dibarengi bahaya.

Penonton sangat terhibur dengan humor -humor yang diselipkan oleh Livi di sana-sini dalam beberapa adegannya,  yang menjaga film laga penuh pertarungan ini tetap enak ditonton bahkan bagi mereka yang tidak menyukai kekerasan.

Secara keseluruhan film ini sangat menarik untuk ditonton. Ceritanya mengalir dengan baik. Pengambilan gambar demi gambarnya juga bagus. Demikian juga colour tone dan pencahayaannya. Menarik!.

Saya sendiri pertama kali menyaksikan trailer film ini sekitar sebulan sebelumnya dan seketika saya katakan pada Livi bahwa filmnya pasti sangat bagus. Saya ingin menontonnya.

LiviSebagai hasil karya seorang sutradara yang masih sangat muda, tentunya ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.  Tak heran hingga Pak Ahok pun bangga dan ikut mengendorse hasil karya Livi Zheng ini. Tentu saja. Kita semua pasti bangga akan ketekunan dan ketangguhan Livi dalam upayanya mencapai sukses di kelas dunia.

Walaupun demikian Livi yang berasal dari kota Blitar di Jawa Timur ini tetap rendah hati, ramah dan tidak sombong. Ini mengingatkan pada kita semua, bahwa seberapapun tingginya pencapaiankita,  tidak perlu hati dan sikap kitapun ikut meninggi.

Viva Livi Zheng! Semoga makin berprestasi dan tetap humble.

Sapu Nenek Sihir.

Standard
????????????

Sapu Lidi

Jika sedang berada di kota Sukabumi, saya paling senang makan bubur untuk sarapan pagi. Karena menurut saya bubur ayam di Sukabumi itu sangat enak. Nah suatu pagi saya melihat seorang kakek penjual sapu lidi di depan tukang bubur langganan saya itu. Seketika saya teringat akan sapu lidi pembersih kasur saya yang sudah rusak dimainkan anak-anak. Kelihatannya  perlu membeli penggantinya. Saya memberi isyarat kepada kakek tua itu bahwa nanti  saya akan membeli setelah makan bubur. Maksudnya agar beliau jangan cepat-cepat pergi. Biasanya tukang jualan seperti ini hanya nongkrong sebentar lalu pergi, karena torotoar ini bukan tempat jualan permanen.

Seusai makan bubur, saya menepati janji saya. Melihat-lihat dan memilih sapu yang ingin saya beli. Ada sapu untuk membersihkan tempat tidur. Jumlah batang lidinya paling sedikit diantara semua jenis sapu. Lidinya sendiri berwarna lebih terang. Diameter sapu itu sekitar 3.5 cm. Harganya 10 ribu rupiah.

Lalu ada sapu lidi biasa. Maksudnya sapu lidi untuk lantai dan halaman. Diameternya sekitar 5 cm. Eh..harganya sama lho….10 ribu rupiah juga. Apa nggak salah ya kakek ini? Padahal jumlah lidinya 2x lipat lebih banyak dibanding sapu yang kecil. Pasti salah satu ada yang salah. Mungkin yang kecil kemahalan. Atau yang besar kemurahan. Saat saya konfirmasi apakah kakek ini tidak salah memberikan harga, beliau bilang tidak. “Memang begitu harganya dari sananya Neng” katanya. Beliau juga tidak mengerti mengapa bisa begitu. Hm..barangkali karena warnanya yang agak berbeda. Sapu lidi yang kecil warna lidinya agak lebih terang sedikit (biasanya diambil dari lidi janur alias daun kelapa yang masih muda – Busung – Bahasa Bali) ketimbang warna lidi dari sapu yang besar yang warnanya lebih coklat (biasanya diambil dari lidi daun kelapa yang lebih tua – Selepaan -Bahasa Bali). Saya mencoba mencari pembenaran sendiri atas harga yang kelihatannya janggal itu.

Terus ada lagi sapu lidi yang bertangkai. Saya tahu ini pasti untuk membantu agar pinggang kita tidak sakit karena membungkuk. Harganya menjadi 20 ribu rupiah. Oke, masuk akal jika yang ini harganya lebih mahal.

Saya memilih-milih dan memutuskan untk membeli 2 buah sapu kasur dan 1 buah sapu halaman yang bertangkai. Dan menambahkan satu buah lagi sapu biasa. Jadi semuanya ada 4 buah yang saya beli, Melihat wajah Kakek itu saya tidak tega menawarnya. Lagi pula saya pikir harga sapu ini sangatlah masuk akal . Sementara kwalitasnya sendiri  menurut saya jauh lebih baik dibanding sapu lidi kasur yang saya beli di Jakarta. Sebagai pembanding,  saya coba hitung jumlah lidi sapu kecil jualan si kakek ini ada 169 buah.  Sedangkan yang saya beli di Jakarta paling banter isinya tidak lebih dari 75 batang lidi saja.  Saya lupa harganya berapa yang saya beli di Jakarta ini.

Yang membuat saya tertawa adalah sapu itu ternyata memiliki merk. Dan merknya adalah “SAPU NENEK SIHIR“.  Dilengkapi dengan alamat dan nomor telpon  si Abah pembuatnya di Kampung Gentong Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Sukabumi.  Ha ha.. terutama yang bertangkai panjang itu memang mirip sapunya Nenek Sihir dalam dongeng sih. Jadi cocoklah barangkali bermerk Nenek Sihir. Dikorek-korek sedikit dengan sapu ini, sim salabim! Abrakadabra! Halaman langsung bersih!. Kreatif juga si pembuatnya. Walaupun bagi sebagian orang denger nama Nenek Sihir barangkali takut juga.  Eh.. tapi tiba-tiba saya jadi penasaran juga, sebenarnya sapu nenek sihir dalam dongeng itu sapu ijuk atau sapi lidi sih?

O ya… terlepas dari kaitan sapu lidi dengan Nenek Sihir, ada cerita menarik yang saya ingat tentang Sapu Lidi. Diceritakan oleh guru saya waktu SD. Seorang Bapak memanggil anak-anaknya yang sering sekali bertengkar dan tidak pernah akur satu sama lain. Sang Bapak mengambil lidi lalu menyerahkan ke anak-anaknya masing-masing sebatang lidi. Ia lalu berkata, siapa yang bisa mematahkan batang lidi itu?. Anak-anaknya tentu saja heran akan pertanyaan bapaknya itu. Semua anak bisa mematahkan batang lidi itu dengan mudah.  Sang Bapak lalu mengambil sebuah sapulidi. Sekarang beliau bertanya lagi kepada anak-anaknya. Siapa yang bisa mematahkan  sapu lidi ini? Anak-anaknya secara bergiliran mencoba  mematahkan sapu lidi itu dengan sekuat tenaga, tetapi tidak ada yang berhasil. Sapu lidi itu hanya melengkung, tapi tidak pernah patah. Cerita itu diakhiri dengan pesan Sang Bapak agar anak-anaknya selalu hidup rukun dan saling mendukung agar bisa berhasil. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sapulidi, jika sendirian kita akan mudah patah. Namun jika rukun dan selalu bersama-sama maka kita akan menjadi kuat.

Saya pikir ingin juga saya menceritakan kembali cerita ini kepada anak-anak saya. Agar mereka mengerti arti kerukunan dalam keluarga. Demikian juga arti kerukunan di dalam kelas, dalam bermasyarakat dan kerukunan dalam berbangsa. Tiada gunanya membesar-besarkan perbedaan yang membuat kita justru terpecah belah dan akhirnya lebih mudah dikuasai orang lain, bukan?.

Nah..lumayan juga sapulidi nenek sihir ini mengingatkan saya kembali.

Hubungan Manusia.

Standard

Hubungan ManusiaSeorang keponakan suami berkunjung ke rumah setelah agak lama kami tidak bertemu. Selama ini ia selalu mengikuti suaminya berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lain, maka kami menjadi sangat jarang bertemu. Sebulan ini suaminya kembali lagi bertugas di Jakarta. Jadi sempatlah ia ‘pulang’ kembali ke rumah.

Walaupun jarang pulang, tapi ia mengatakan sangat senang dengan kehidupannya. Berpindah-pindah kota bukanlah hal yang baru dan sulit buatnya. Karena bahkan sebelum menikahpun ia juga sudah sering dibawa berpindah-pindah megikuti papanya yang juga kebetulan tugas berpindah-pindah kota. Dengan begitu ia ikut menjalani kehidupan di berbagai tempat  di tanah air, mulai dari Sabang sampai Merauke. “Tapi seneng juga kok bisa pernah tinggal di berbagai kota, Tante” katanya.

“Jadi aku bisa melihat orang yang berbeda-beda. Bahasanya, adatnya, agamanya. Aku jadi lebih bisa mengerti dan menghargai perbedaan. Kita jadi mudah mengerti  orang lain dengan lebih baik. Kita jadi lebih toleran dan tidak berpikiran sempit. Tidak lagi mengira kebiasaan, adat istiadat, agama dan budaya kita yang paling baik sementara orang lain jelek semua. Nggak seperti katak dalam tempurung” lanjutnya menarik kesimpulan dari pengalaman hidupnya.

Saya sangat setuju dengan apa yang ia katakan. Mengenal dan mengerti orang lain yang berbeda membuat kesenjangan sosial kita berkurang ada bahkan hilang sama sekali.

Jika hanya mengenal attribut (adat, kebiasaan, budaya,agama, bahasa, bangsa) kita sendiri saja, kita cenderung akan merasa sangat asing dengan attribut orang lain. Pandangan dan pikiran kita menjadi terbatas dan sempit, sebatas apa yang kita lihat di permukaan saja. Kita tidak memahami alasan dan filosofi di belakang atribut orang lain, sehingga kita mungkin bisa salah tafsir atau salah mengerti tentang orang lain. Pada pikiran yang sempit, ada 2 kemungkinan yang terjadi:

Pertama, merasa SUPER- kita pikir adat kebiasaan, budaya, agama kita lebih baik dari orang lain.  Yang baik hanya kita, yang lain kurang baik. Yang benar hanya kita, yang lain kurang benar. Kalau sudah begini kita akan mudah menjadi bersikap sok. Sengak. Dan mengecilkan orang lain.

Kemungkinan kedua yang terjadi adalah merasa MINDER, karena menyangka apa yang orang lain miliki itu semua lebih baik dari kita. Kita jadi khawatir, ragu dan tidak percaya diri. Kita takut menyatakan pendapat. Takut mengatakan tidak suka atau tidak setuju, karena  tidak pede.  Boro-boro bersahabat dekat. Mau ngomong aja rasanya sudah gugup. Nggak nyaman. Semuanya terasa asing dan aneh.

Tapi coba kita buka diri. Dengarkan orang lain. Pelajari attribut yang orang lain miliki. Buka mata hati kita lebar-lebar untuk melihat semuanya dengan lebih jelas. Kita akan mulai tahu dan mengerti adat,  kebiasaan, bahasa, agama dan budaya orang lain dengan lebih baik dan proporsional. Pemahaman kita membaik. Cara pandang kita  akan menjadi berbeda. Lebih luas dan tidak lagi sesempit sebelumnya. Kita bisa melihat banyak kelebihan dan kekurangan dimiliki oleh setiap orang, setiap suku, setiap agama, setiap bahasa, setiap bangsa  dan sebagainya.

Pemahaman ini membuat kita jadi lebih bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain. Kita tidak lagi merasa asing.  Sehingga membuat kita jadi  jauh lebih mudah berbaur. Karena sekarang kita akan fokus melihat kebaikan-kebaikan orang lain dibanding kekurangannya. Apapun suku atau bangsa kita, akan mudah bergaul dengan suku manapun yang ada di Indonesia atau bahkan dengan bangsa manapun di dunia ini,  karena kini kita bisa mengerti adat kebiasannya. Apapun agama kita, kita akan bisa mengerti dan menghormati agama orang lain karena kita mengerti banyak kebaikan dalam ajaran-ajarannya. Kita juga akan lebih tertarik dan menemukan jika bahasa daerah teman kita menjadi lebih menarik karena memperkaya khasanah pengetahuan kita.

Sangat jelas dengan membuka hati seperti ini, kita akan menjadi lebih toleran terhadap orang lain. Kita tidak akan pernah lagi berpikir bahwa perbedaan attribut adat kebiasaan, bahasa, agama, suku bangsa  menjadi penghalang kita untuk berhubungan lebih dekat dengan orang lain yang attributnya berbeda. Karena sekarang kita tidak lagi mengedepankan perbedaan itu.

Semakin kita mengenal adat kebiasaan, suku, budaya, bangsa dan agama orang lain, maka semakin kita mengerti dan merasakan kalau gap perbedaan kita menjadi semakin kecil. Sebaliknya, kita akan merasakan kedekatan dan rasa persaudaraan yang semakin membesar. Kita merasa sejajar. Tidak lagi merasa minder ataupun merasa super terhadap orang lain yang suku,agama atau bangsanya berbeda dengan kita.

Kwalitas hubungan manusia itu tidak ditentukan oleh apa suku bangsanya atau apa bahasa yang diucapkannya. Juga tidak ditentukan oleh apa agama yang dianutnya, tetapi lebih banyak ditentukan pada bagaimana sikap dan tingkah lakunya terhadap orang lain, terhadap sesama.

Ya…. pada akhirnya, orang akan ditentukan oleh tingkah laku dan perbuatannya masing-masing dalam berinteraksi dengan orang lain. Bukan ditentukan oleh adatnya, agamanya, sukunya , bangsanya ataupun bahasanya.

 

 

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung II.

Standard

Selain relief yang menggambarkan Sumpah Amukti Palapa, di dinding belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat daftar Raja-Raja Majapahit. Saya mencoba membaca daftar itu walaupun agak susah, karena jenis font yang dipakai agak keriting selain juga karena hari mulai gelap.

Raja-Raja MajapahitMelihat daftar para raja beserta tahun pemerintahannya, kita jadi tahu bahwa Kerajaan Majapahit berdiri selama nyaris 200 tahun. Tepatnya 193 tahun, sejak pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya (1294), hingga runtuhnya di tangan Prabhu Girinderawardhana (1487). Lama juga ya umur negara itu. Indonesia sendiri baru berumur 70 pada tahun ini. Masih dibutuhkan 123 tahun lagi agar minimal bisa meyamai panjangnya umur negara Majapahit. Dan tentunya kita semua berharap agar Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan bisa melebihi Majapahit. Lalu mengapa negara yang sedemikian besar dan sedemikian lama eksistensinya di Nusantara ini akhirnya bisa runtuh?

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Di daftar ini, sepintas lalu semua kelihatan sangat rapi. Namun jika kita tilik lebih jauh, dan pelajari kembali sejarah, di balik kejayaannya, pemerintahan kerajaan Majapahit ini sebenarnya juga tidak mulus-mulus amat.  Dihiasi dengan banyak pemberontakan, mulai dari Ra Kuti, Semi, hingga Ronggolawe. Juga dipenuhi dengan intrik-intrik politik dalam keluarga. Memperebutkan tahta dan kekuasaan, terutama sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan antara tahun 1453-1456, sempat terjadi kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Nah apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari sini?

Ketika Ego dan Keserakahan mengalahkan rasa Persaudaraan dan Kepedulian pada orang lain, maka ketika itu juga kemampuan manusia untuk berjalan ke arah kejayaan akan memudar. Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaannya. Para pendongkel sibuk berusaha merebut kekuasaan. Mereka saling menjatuhkan. Lupa bagaimana cara mengelola negara dengan baik. Lupa memikirkan kesejahteraan rakyat. Perang dan pemberontakan tak terhindarkan. Negara menjadi lemah. Rakyat menderita. Negara yang lemah, dengan sendirinya sangat mudah diguncang dan runtuh.

Hari semakin gelap. Saya tidak mampu lagi membaca. Penjaga pendopo mengajak kami ke bagian belakang Pendopo.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Di sana ada sebuah batu tempat menambatkan gajah tunggangan kerajaan. Konon batu itu sangat kuat tertancap ke tanah, sehingga bahkan tenaga gajahpun tak mampu menariknya.

Petilasan Raden Wijaya.

Di balik tembok belakang Pendopo Agung itu ada sebuah pintu. Saya melongokkan kepala saya ingin tahu. Oops! Alangkah terkejutnya saya. Waduuuh! Kuburan!. Rupanya itu tempat pemakaman. Sebuah pohon besar tampak menaungi. Ada jalan kecil membelah tempat pemakaman itu menuju sebuah bangunan kecil mirip rumah penjaga kuburan. Saya tertegun dan menghentikan langkah saya seketika.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan.Terus terang saya merasa gentar juga. Demikian juga kelihatannya ke dua teman saya. Mana malam sudah mulai turun pula. Suasana gelap remang-remang. Sekarang saya mulai meratapi keingin-tahuan saya yang terlalu besar, yang mengantarkan saya nyasar ke tempat seperti ini. Tapi sebagai orang yang tertua diantara mereka, dan yang juga memberi ide untuk bermain ke Trowulan adalah saya sendiri, mau tidak mau terpaksa saya menggagah-gagahkan diri saya agar tidak kelihatan takut di depan mereka. Jika saya menunjukkan rasa takut, pasti mereka berdua akan segera lari terbirit-birit. Jadi saya harus kelihatan setenang mungkin.

Tempat apa ini?” tanya saya kepada penjaga Pendopo. “Petilasan Raden Wijaya. Silakan ke sana” jawab bapak penjaga. Entah kenapa saya merasa kalau orang yang ada di dalam bangunan kecil itu sudah tahu, melihat dan menunggu kedatangan saya. Tentu tidak sopan jika saya menolak masuk dan kabur begitu saja. Sekarang saya tidak punya pilihan selain harus lanjut berjalan dan melawan rasa takut saya. Sayapun berjingkat di jalan kecil di bawah pohon yang kelihatan angker dengan makam di kiri-kanannya itu. Kedua teman saya mengikuti dari belakang dengan ragu.

Panggung.

Di depan gerbangnya ada tulisan.”Panggung. Tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya. Tempat Pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Patih Gajah Mada“. Saya berhenti sejenak. Dari sana saya lalu mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam yang mempersilakan saya masuk. Saya dan teman-teman sayapun masuk.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Di dalam ada seorang pria yang kelihatan masih muda duduk di lantai dan menyapa kami. Wajahnya kelihatan tenang dan tampan di bawah sinar lampu kecil.  Beliau memperkenalkan diri sebagai pemelihara tempat itu. Sayangnya saya tidak mampu mengingat nama beliau. Saya menjelaskan perihal diri saya apa adanya. Bahwa beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di Kompas tentang situs Kerajaan Majapahit dan sangat tertarik ingin tahu dan melihat sendiri situs-situs itu, tapi baru bisa datang berkunjung hari ini. Pria itu berkata bahwa tidak ada orang yang datang ke tempat itu jika tidak ada yang menuntunnya ke sana. Jika niat itu sudah lama dan ternyata baru bisa datang hari ini, ya itu artinya bahwa jodohnya memang hari ini. Semuanya sudah atas petunjukNya. Entah karena ucapannya itu atau karena suaranya yang rendah dan lambat, saya menjadi semakin ngeper.

Tapi beberapa saat kemudian saya mulai berhasil menguasai ketakutan saya. Saya lalu diberi penjelasan bahwa tempat ini adalah petilasan dari Raden Wijaya. Petilasan adalah tempat dimana Raden Wijaya melakukan tapa semadhi dan mendapatkan inspirasinya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Bukan makam Raden Wijaya. Raden Wijaya tidak dimakamkan, karena beliau adalah penganut agama Hindu Ciwa-Budha yang tentu jasadnya dibakar (diaben/diperabukan) dengan maksud mengembalikan Atma (rohnya) kepada Sang Pencipta, sementara unsur-unsur pembentuk badan kasarnya dikembalikan ke alam (Panca Maha Butha – kembali ke air, ke tanah, ke api, ke udara dan ke cahaya). Jadi tidak ada makamnya. Saya sependapat dengannya.

Namun karena keturunan beliau sangat banyak dan saat ini tidak semuanya menganut agama Hindu-Ciwa, karena sebagian diantaranya ada yang kemudian memeluk agama lain dan ingin melakukan ziarah ke leluhurnya, sementara beliau sendiri tidak punya makam. Maka dibuatkanlah maqom (bukan makam) di tempat itu, sebagai tempat berziarah.

Sedangkan makam-makam yang banyak bertebaran di sekitar tempat itu adalah makam-makam penduduk dari generasi belakangan. Paling banter baru sekitar seratusan tahun umurnya.  Bukan dari generasi Majapahit – demikian penjelasannya.

Selain itu saya juga dijelaskan bahwa di tempat ini dahulunya juga merupakan panggung tempat di mana Maha  Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa-nya yang sangat terkenal itu.

Ponco Waliko

Pria itu bercerita panjang dan lebar tentang Raden Wijaya , Gajah Mada dan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Saya mendengarkan dengan takzim. Saya juga dijelaskan tentang tuntunan hidup dari jaman Majapahit yang disebut dengan PONCO WALIKO seperti yang tertera di dinding itu  yang isinya:

1/. Kudu trisno marang sepadaning urip (Harus mencintai sesama mahluk hidup)

2/.Ora pareng nerak wewalering negara (Tidak boleh melanggar hukum negara)

3/. Ora pareng milik sing dudu semestine (Tidak boleh menguasai yang bukan hak miliknya).

4/.Ora pareng sepata nyepatani (Tidak boleh saling menghujat)

5/. Ora pareng cidra hing ubaya ( Tidak boleh melanggar janji).

Petuah hidup yang sangat baik. Jika semua orang di dunia ini berlaku seperti apa yang diajarkan Ponco Waliko itu, tentu dunia akan jauh lebih tenteram dan damai. Semoga kita semua bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Teman saya memberi saya kode kalau kami harus segera ke Surabaya agar tidak ketinggalan pesawat. Saya mencari celah agar bisa memohon pamit dengan sopan  tanpa harus memotong pembicaraan pria itu.  Saya mengucapkan terimakasih atas obrolan dan kesediaannya menerima kedatangan kami.

Sebenarnya, masih banyak  yang ingin saya lihat, dengar dan ketahui tentang Kerajaan Majapahit. Banyak yang belum saya lihat. Namun sayang saya datang sudah terlalu sore. Sudah gelap. Sehingga membuat kunjungan sangat terburu-buru . Baru sempat mengunjungi Pendopo Agung Trowulan itu saja. Suatu saat jika saya memiliki kesempatan, saya ingin datang berkunjung kembali untuk melihat situs-situs Majapahit yang lain.

 

 

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung – I.

Standard

Pendopo Agung

Beberapa tahun  yang lalu sebuah artikel di harian Kompas menceritakan tentang penggalian situs yang diduga bekas istana Majapahit di Trowulan. Saya sangat tertarik dengan tulisan itu. Dan memendam keinginan untuk bisa bermain ke sana dan melihat sendiri situs-situs peninggalan kerajaan terbesar di Nusantara itu. Sayang hingga berapa tahun berlalu, niat saya belum juga kesampaian.

Sekembalinya dari Gunung Bromo, saya punya sedikit waktu untuk bermain ke Trowulan di Mojokerto. Jalanan agak macet. Perjalanan dari Probolinggo ke Mojokerto memakan waktu lebih lama daris eharusnya. Sehingga kami baru bisa mencapai Trowulan pukul lima sore. Museum Majapahit sudah tutup. Mencoba mencari tahu di mana persisnya lokasi penggalian situs yang diduga istana itu, sayangnya bolak balik nanya ke penduduk setempat tidak ada yang tahu persis. Pak sopir jadi muter-muter karena informasi berbeda-beda yang kami terima. Sementara hari semakin sore dan saya khawatir gelap malam akan segera tiba. Akhirnya seseorang memberi tahu kami sebaiknya kami berkunjung ke Pendopo Agung saja. Daripada tidak ada situs yang berhasil kami kunjungi hari itu, akhirnya kami pun ke sana.

Petugas yang berjaga di pintu depan Pendopo Agung menemani kami masuk. Pendopo itu adalah bangunan terbuka tanpa dinding. Mirip bangunan bale banjar kalau di Bali. Saya mencoba menerka-nerka, bangunan apakah sebenarnya ini? Terlihat sangat modern dan jauuuuuuuh  sekali dari kesan bahwa itu adalah salah satu situs peninggalan Majapahit. Tidak terlihat bangunan batu bata merah khas Majapahit seperti yang terlihat di photo-photo. Saya dijelaskan bahwa areal itu sekarang merupakan property yang dibangun dan dikelola oleh TNI. Itulah sebabnya mengapa terlihat baru dan modern.

 

Maha Patih Gajah MadaMaha Patih Gajah Mada.

Begitu memasuki halaman depan, kita akan melihat sebuah arca Maha Patih Gajah Mada yang  juga terlihat sangat baru,  dipersembahkan oleh Corps Polisi Militer tahun 1986. Walaupun hati saya  agak kecewa melihat tingkat ke’baru’annya, namun sedikitnya saya terhibur bisa diajak mengenang kembali kebesaran cita-cita dan upaya sang Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya itu dalam menyatukan Nusantara. Sebuah cita-cita yang memang selayaknya tetap kita junjung sebagai bagsa Indonesia.

Raden Wijaya

Raden Wijaya Dan Resiliensi Manusia.

Di depan pendopo tampak berdiri sebuah arca baru perwujudan dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Terus terang, melihat arca itu membuat pikiran saya berlari pesat ke pelajaran sejarah yang dijelaskan oleh Pak Wayan Suta , guru saya saat kelas IV SD.  Apa yang berkecamuk dalam pikiran Raden Wijaya sebagai sang menantu Prabu Kerthanegara – raja Singasari terakhir ketika kerajaan Singasari diserang dan dihancurkan habis oleh Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang? Walaupun pasukannya sendiri menang di utara, tetapi sang prabu dan istananya telah hancur diserang dari arah selatan. Tentu beliau sangat kecewa, lelah dan sedih. Namun apakah beliau berputus asa? Tidak! sama sekali tidak!. Yang jelas beliau tetap semangat. Tetap mencari jalan keluar. Dengan bantuan sahabatnya Arya Wiraraja, sang Bupati Sumenep, beliau kembali menyusun strategy-nya dengan baik. Mencari jalan keluar yang lebih baik dan bahkan berhasil membangun  kerajaan baru, yakni Kerajaan Majapahit yang justru jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kerajaan Singasari sebelumnya.

Guru saya satu itu memang sangat jago bercerita sejarah. Sehingga ketika beliau mengajar, rasanya saya seperti ikut berada di sana. Ikut saat Raden Wijaya terlunta-lunta di dalam hutan, mencari bantuan Arya Wiraraja lalu masuk dan membangun wilayah hutan Tarik.

Saya menundukkan kepala saya. Memberikan penghormatan saya yang tertinggi terhadap Resiliensi yang beliau miliki. Kemampuan yang sangat sangat tinggi dari seorang anak manusia untuk keluar dari permasalahan yang terjadi, menata dirinya kembali, jalan pikirannya, kata-kata serta langkah-langkah yang beliau ambil  untuk akhirnya memenangkan pertarungan dalam kehidupan. Keluar dari kekisruhan Singasari dan membangun kejayaan Majapahit!.

Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah  Mada menyatakan sumpahnya

Sumpah Amukti Palapa.

Di bagian belakang pendopo terdapat dinding dengan relief yang menggambarkan peristiwa pengambilan “Sumpah Amukti Palapa” yang sangat terkenal itu diucapkan oleh Gajah Mada pada saat beliau diangkat sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit. Saya melihat ke relief itu dan membaca kalimat sumpah itu dalam keremangan senja.

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjung Pura,  ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Artinya kira-kira begini:  Jika Nusantara masih kalah, saya akan amukti palapa. Jika kalah di Gurun, di Seran, di Tanjung Pura, di Haru, di Pahang, Dompo, di Bali, Sunda,Palembang, Tumasik, selamanya saya akan amukti palapa.

Saya tidak tahu persis apa artinya “Amukti Palapa” karena sebagian orang menterjemahkannya sebagai “puasa memakan buah palapa”, sebagian lagi mengatakan “puasa istirahat & tidak mengambil cuti kerja”. Sementara guru saya waktu kelas IV SD  menjelaskan bahwa palapa = rebung bambu muda, yang konon merupakan makanan enak pada jaman dulu.  Sehingga Amukti Palapa arti literalnya adalah “puasa memakan rebung bambu” namun makna sesungguhnya adalah “Puasa dalam menikmati kenikmatan duniawi (tidak makan enak/tidak bersenang-senang/tidak berplesir- ria/tidak berhura-hura, dsb)”. Saya sendiri cenderung mengikuti penjelasan dari bapak Guru saya itu.

Namun demikian, sedikit perbedaan pemahaman buat saya tidak jadi masalah, karena pada prinisipnya semua kita paham bahwa Maha patih dari kerajaan majapahit ini telah bersumpah tidak akan bersenang-senang sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Membaca Sumpah yang tertera di dinding itu membuat saya merinding. Darah terasa mengalir sangat cepat. Gajah Mada telah menunjukkan kepada kita bahwa sebuah tekad dalam menentukan cita-cita yang tinggi dan dengan penuh ketekunan melaksanakn apa yang seharusnya dilakukan akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tidak terbayang betapa besar kerja keras yang harus dilakukan untuk menyatukan Nusantara pada jaman itu, namun Maha Patih Gajah Mada  menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan dengan keteguhan hati. Dan beliau berhasil!.

Rasanya saya sangat kagum dan terharu memikirkan ini. Gajah Mada dan kebulatan tekadnya. Majapahit yang jaya. Nusantara yang bersatu dan kuat. Semoga Indonesia tetap bersatu dan semakin jaya.

Adakah yang lebih baik dilakukan oleh seorang anak bangsa daripada mempelajari sejarah leluhurnya dan mengambil intisari pelajaran darinya dan berusaha menggunakannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari?

Yuk kita pelajari sejarah kita dan cintai tanah air dan bangsa kita!.

 

 

Kecintaan Terhadap Bendera Merah Putih.

Standard

Bendera merah PutihMasih dalam kaitan 17 Agustus, hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Tahun ini di kompleks perumahan tempat saya tinggal tidak terjadi kemeriahan yang luar biasa. Biasanya dari tahun ke tahun di tempat ini dilakukan banyak lomba-lomba, karnaval, pertunjukan barongsai, bazaar dan sebagainya. Namun tahun ini terasa anyep nyepnyep tanpa ada kegiatan yang berarti. Barangkali karena perumahannya sudah lama, para penghuninya sudah berkurang semangatnya untuk mengorganisir acara. Paling banter akhirnya hanya memasang umbul-umbul “Dirgahayu Republik Indonesia” dan memasang bendera di depan pintu halamannya masing-masing.

Tapi tidak apalah. Tidak mengikuti perayaan, bukan berarti kecintaan saya terhadap tanah air menjadi berkurang. Saya memandang bendera yang saya pasang di depan rumah dengan tiang yang tidak terlalu tinggi. Karena tidak ada angin benderanya hanya tampak kuncup.  Tidak mau berkibar-kibar sama sekali. Dengan latar belakang tembok-tembok dan rumah  tetangga. Sama sekali tidak terlihat langit  biru  yang jernih sebagai latar belakangnya.

Saya membayangkan melihat bendera yang dipasang dengan tiang tinggi di lapangan kabupaten yang banyak angin, sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Ibu Sud dalam lagunya “Bendera Merah Putih“.

Bendera Merah Putih/Bendera Tanah Airku

Gagah dan jernih tampak warnamu/Berkibaran di langit yang biru

Bendera Merah Putih/Bendera bangsaku

Nah..dalam lagu ini disebutkan bahwa sang Merah Putih tampak gagah dan jernih warnanya dengan latar belakang warna langit yang biru, bukan?  Namun, lagi-lagi, walaupun bendera saya tidak berkibar-kibar di langit yang biru, tapi kecintaan saya terhadap bendera Merah Putih juag tidak berkurang sedikitpun.

Sambil bersenandung lagu “Bendera  Merah Putih”  saya jadi teringat akan lagu ciptaan Ibu Sud yang lain yang juga bercerita tentang bendera Merah Putih yang berjudul  “Berkibarlah Benderaku

 

“Berkibarlah benderaku/Lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia/Kau Tetap Pujaan Bangsa

Siapa berani menurunkan kau/Serentak rakyatmu membela

Sang merah putih nan perwira/Berkibarlah slama-lamanya.

 

Kami rakyat Indonesia/Bersedia setiap masa

Mencurahkan segenap tenaga/Supaya kau tetap cemerlang

Tak goyang jiwaku menahan rintangan/Tak gentar rakyatmu berkorban

Sang merah putih yang perwira/Berkibarkah Slama-lamanya”

Saya sangat salut akan Ibu Sud dengan ciptaan-ciptaannya.  Di dalam lagu-lagu tentang bendera ini, Sang Saka Merah Putih diposisikan sangat tinggi dan sakral di hati rakyat Indonesia. Sehingga jika terjadi sesuatu yang mengganggu misalnya berani menurunkan bendera ini begitu saja dari tanah air, maka serentak rakyat Indonesia akan membelanya.  Meresapi makna lagu ini memang membuat semangat kebangsaan dan kecintaan kita terhadap Merah Putih semakin berkobar.

Nah itu kalau kita lihat semangat di tingkat nasional. Kalau di daerah bagaimana? Saya rasa sama saja. Setidaknya kalau di Bali, saya tahu kecintaan terhadap Bendera Merah Putih inipun dituangkan dalam lagu berbahasa daerah.  Terus terang saya tidak tahu siapa penciptanya, yang jelas lagu ini sering dinyanyikan di sekolah-sekolah  ataupun dalam pertunjukan traditional, misalnya sebagai salah satu lagu yang dinyanyikan oleh para Janger/Kecak.

Judul lagunya ” Merah Putih, Benderan Tityange”

“Merah Putih benderan tityange/Mekibaran di langite terang galang

Nika lambang jiwan rakyat Indonesia/Merah bani medasar atine suci

Pusaka adi leluhur jaya sakti/Merah putih, benderan tityange”

 

terjemahan”

“Merah putih bendera saya/berkibar di langit yang terang benderang/

Itu lambang dari jiwa rakyat Indonesia/ Merah berani berdasar hati yang suci

Pusaka terbaik dari leluhur yang jaya dan sakti/Merah putih, bendera saya’

Isinya serupa, tentang pujian terhadap bendera kita.  Nah demikianlah kecintaan para pendahulu kita terhadap Merah Putih. Mengagumkan bukan? Saya rasa masih ada banyak lagi lagu  yang bercerita tentang  atau setidaknya menyebut bendera kita ini.

Yuk,  semakin kita cintai sang Merah Putih kita!

 

 

Kemerdekaan & Ke-Indonesia-an Kita.

Standard

TertiupTujuh Belas Agustus tahun ini jatuh pada hari Minggu. Oleh karenanya, walaupun Minggu, anak-anak tetap bangun pagi karena harus mengikuti Upacara Bendera di Sekolah. Saya sendiri tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa untuk memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini. Hanya memasang bendera merah putih di pintu depan, sisanya hanya menonton di TV dan Youtube. Ceklak ceklik mulai dari menonton Upacara di Istana Merdeka, hingga melihat upacara yang dilakukan Pak Prabowo Subianto di Cibinong.  Saya juga menonton ulang pidato kenegaraan terakhir Pak Susilo Bambang Yudhoyono  yang sangat mengesankan yang membuat saya merasa terharu.

Terutama pada pesan beliau bahwa perjuangan yang perlu dilakukan bagi kita di abad dua puluh satu ini bukanlah “Menjaga Kemerdekaan” lagi,  tapi  “Menjaga keIndonesiaan”. Karena seperti yang beliau sampaikan,bahwa  tidak ada gunanya menjadi semakin makmur dan modern, namun kehilangan yang amat fundamendal dan terbaik dari bangsa yaitu Pancasila, ke-Bhinnekaan, semangat persatuan, toleransi, kesantunan, pluralisme, dan kemanusiaan. Saya sangat memikirkan bagian kalimat itu.

Saya pikir apa yang disampaikan beliau itu sangat, sangat benar adanya. Dan saya rasa itu penting untuk direnungkan oleh kita semua.

Seperti misalnya saya. Datang dari generasi yang bukan memperjuangkan kemerdekaan, karena sejak lahir sudah beruntung -menemukan Indonesia memang sudah merdeka. Jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya memperjuangkan kemerdekaan. Saya tidak merasakan secara langsung penderitaan dan pengorbanan para pejuang kita di masa lampau. Walaupun bisa membayangkannya baik dari cerita orang tua, guru di sekolah maupun dari bacaan.  Namun yang terbaik yang bisa saya lakukan hanya mengucapkan terimakasih atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kita itu.

Bertahun-tahun pesan-pesan 17 Agustusan yang biasa saya terima adalah bagaimana caranya “Mengisi Kemerdekaan” – lalu kita diajak semua untuk mengisinya dengan pembangunan. Baik pembangun fisik, pembangunan pengetahuan dan prestasi maupun pembangunan spiritual.  Atau kalau tidak, pesan 17 Agustusan yang lain adalah  bagaimana “Menjaga Kemerdekaan” – lalu kita diajak untuk lebih mandiri, berusaha mengurangkan ketergantungan pada pihak luar, lagi-lagi dengan meningkatkan prestasi dan kwalitas diri sebagai anak bangsa.

Namun semakin ke sini, memang perkembangan ke-Indonesia-an kita semakin memprihatinkan. Element-element yang fundamental dan terbaik dari bangsa kita terasa tergerogoti sedikit demi sedikit.  Adu mulut soal SARA cukup mudah kita temukan di media sosial. Itu mencerminkan kebencian dan kekurang-mauan untuk menghargai dan menghormati sesama anak bangsa yang berbeda. Saling caci dan saling maki hanya gara-gara berbeda pilihan partai ataupun calon presiden. Terasa sangat runcing dan membakar. Saya sering merasa sedih melihat dan membaca kenyataan itu. Namun itu memang terjadi. Dimana letak kesantunan kita sebagai bangsa yang beradab? Entah kemana pula perginya toleransi dan rasa persatuan serta pemahaman akan pluralisme bangsa kita? Mengapa dengan sengaja kita membuat diri kita sendiri terkotak-kotak? Membiarkan diri kita dipisahkan oleh perbedaan suku, agama, ras atau bahkan pilihan partai politik atau calon presiden yang diperbesar-besarkan?

Bukankah para tetua kita dulu telah berjanji untuk menjunjung negara kesatuan Republik Indonesia ini? Dengan kesadaran penuh mereka telah meletakkan ego masing-masing yang timbul akibat dari perbedaan-perbedaan suku,agama, ras dan sebagainya, demi menegakkan persatuan Indonesia? Mereka telah mengikrarkan “Bhineka Tunggal Ika” sebagai semboyan yang menyatukan perbedaan-perbedaan kita.  Tidak bisakah kita membawa kembali semangat persatuan kita itu? Mengembalikan apa yang disitilahkan oleh Pak SBY sebagai “Ke-Indonesia-an” kita? Bangga terhadap kekayaan budaya, adat istiadat, bahasa daerah ataupun agama yang kita anut adalah wajar. Namun ketika semua itu tiba pada urusan berbangsa, hendaknya  kita tetap mengedepankan Persatuan kita, sebagaimana apa yang dilakukan oleh para leluhur kita.

Walaupun saya tahu banyak juga diantara kita yang masih berpihak terhadap “Ke-Indonesiaan” kita, namun semakin jelas seperti yang disampaikan oleh Pak SBY, bahwa  memang yang diperlukan oleh kita saat ini adalah bagaimana “Menjaga ke-Indonesia-an” dengan segala ragam element dasar penting yang kita miliki. Agar jangan sebagai bangsa kita semakin berpikiran sempit dan terkotak-kotak, lalu rapuh dan terpecah-pecah serta saling menjauh satu sama lain. Mirip bunga Dandelion tua yang  bijinya terbang menjauh satu  persatu karena ditiup angin. Tentunya kita tidak mau tercerai berai begitu, bukan?

Seperti yang saya sampaikan di atas, saya sangat terkesan akan pidato Pak SBY yang terakhir ini. Dari apa yang disampaikan beliau dalam pidatonya, saya juga melihat bahwa Pak SBY  adalah sosok yang sangat santun dan bijaksana. Permintaan maafnya, kesediaannya untuk membantu siapapun presiden berikutnya kelak – entah Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo sama saja- dan hal-hal lain yang beliau sampaikan dalam pidatonya benar-benar menunjukkan kwalitas beliau sebagai seorang negarawan sejati.

Karena ini adalah pidato kenegaraan terakhir Pak SBY dalam akhir masa baktinya sebagai Presiden Indonesia, saya sebagai salah seorang rakyat Indonesia lewat tulisan ini  sekaligus  juga ingin mengucapkan terimakasih atas kepemimpinannya yang sukses dalam membawa Indonesia lebih maju. Dan yang paling penting lagi, adalah dalam situasi negara yang aman tanpa kerusuhan, sehingga rakyat bisa melakukan aktifitasnya sehari-hari dengan tenang.

Dirgahayu Republik Indonesia!

 

 

 

 

 

 

 

Nasi Goreng Kencur, Lebih Alami & Lebih Sehat.

Standard

Nasi Goreng KencurSaya seorang penggemar Nasi Goreng.  Walaupun berkali-kali saya dinasihati agar  jangan sering-sering makan Nasi Goreng, mengingat bahwa nasi yang  tadinya cuma dimasak dengan air sekarang jadi mengandung minyak akibat digoreng, entah kenapa saya tetap menyukainya juga.  Ada banyak jenis Nasi Goreng , namun Nasi Goreng favorit saya tetaplah Nasi Goreng  ala kampung yang disebut dengan Nasi Goreng Kencur.  Karena Nasi Goreng ini adalah salah satu menu andalan ibu saya pada hari minggu pagi.

Hampir semua anak di seluruh dunia menganggap ibunya adalah ‘the best chef in the world’. Termasuk saya. Alasannya adalah, karena masakan ibulah yang dicekokin ke mulut anaknya sejak lahir hingga dewasa, mau tidak mau makanan paling enak yang kita tahu tentulah masakan ibu. Itulah barangkali sebabnya mengapa saya sangat menyukai Nasi Goreng kencur ini. Saya tidak tahu,apakah Nasi Goreng Kencur juga ada di daerah lain?

Di Bali, sebenarnya nama aslinya adalah Nasi Goreng Suna Cekuh.  Disebut Nasi Goreng Suna Cekuh, karena Nasi Goreng ini menggunakan bumbu Suna Cekuh. Karena namanya jadi panjang jika diterjemahkan, Nasi Goreng Bawang Putih Dan Kencur, maka saya perpendek saja dengan nama Nasi Goreng Kencur.

Suna Cekuh, adalah salah satu bumbu standard dalam masakan traditional Bali, selain jenis bumbu standard traditional Bali yang lain seperti misalnya Basa Gede,  Basa Genep, Basa Cenik , Uyah Tabya, dll.  Sesuai dengan namanya, tentu saja Nasi Goreng ini menggunakan Suna (Bawang putih) dan Cekuh (Kencur)  sebagai bahan bumbunya yang utama. Walaupun demikian, bumbu ini juga mengandung komponen bumbu yang lain dalam jumlah sedikit, antara lain kunyit, bawang merah dan garam.  Dan Daun Salam (Don Janggar Ulam) sebagai penyedap masakan traditional.  Bawang Putih dan Kencur, tetap menjadi bahan yang porsinya mendominasi bumbu ini. Semua bumbu diulek sampai halus (keculai daun salam), lalu ditumis dengan sedikit minyak kelapa, ditambahkan daun salam dan diaduk dengan nasi di atas penggorengan.

Menurut saya, terlepas dari minyaknya yang dipakai menggoreng, saya pikir ini adalah salah satu Nasi Goreng yang cukup sehat dibandingkan jenis Nasi Goreng yang lain. Tanpa daging, tanpa telor dan tanpa MSG.   Hanya nasi dan bumbu, serta sedikit minyak untuk menumis. Dan bumbunya tentu saja adalah bahan-bahan yang secara traditional dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan.

Di bawah ini adalah catatan bagaimana bahan-bahan untuk Bumbu Suna Cekuh ini dimanfaatkan secara traditional di Bali untuk menjaga kesehatan dengan cara praktis – namun tentunya tetap perlu pembuktian secara ilmiah, syukur-syukur jika sudah ada yang pernah melakukan penelitian tentangnya:

Kencur, Cekuh  (Kaempferia galanga), secara traditional dimanfaatkan untuk menjaga agar tubuh tidak kedinginan dan mencegah batuk dan pilek. Selain untuk bumbu dapur,kerap digunakan untuk bahan loloh (jamu) bersama-sama dengan beras untuk menjaga stamina tubuh.

Bawang putih , Suna (Allium sativum) digunakan untuk mencegah tekanan darah tinggi, mengobati gatal pada kulit.

Bawang merah, bawang  (Allium cepa) sering digunakan untuk mengobati demam, mengeluarkan duri yang masuk ke dalam daging.

Kunyit (Curcuma longa), dimanfaatkan untuk mengobati luka, antiseptik, melancarkan pencernaan.

Daun Salam, Don Janggar Ulam  (Syzygium polyanthum) digunakan untuk mencegah tekanan darah tinggi dan mencegah asam urat.Daun ini secara traditional dikenal sebagai penyedap masakan. Itu sebabnya dalam daftar  bahan masakan traditional kita tidak pernah mendengar  kata MSG ataupun bumbu kaldu sebagai penyedapnya.

Cukup sehat bukan Nasi Goreng ini? Tanpa accesories lainpun (ayam,bakso,sosis, telor, udang,cumi, dst), nasi gorenng ini sendiri sudah sangat enak.  Direkomendasikan untuk para Vegetarian.

Yuk lestarikan  Masakan Tradisional kita!.