Tag Archives: Indonesian language

Bahasaku, Bahasa Indonesia Yang Dinamis.

Standard

BenderakuTergelitik oleh tulisan beberapa orang sahabat tentang Bahasa Indonesia dan bagaimana sebaiknya kita melestarikannya, serta mengingat bahwa kemarin tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda – saya juga tertarik untuk ikut bercerita dan sekalian menuangkan pemikiran saya tentang Bahasa kita tercinta itu.

Bahasa Daerah.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu saya sangat mencintai Indonesia, tanah air saya. Termasuk di dalamnya Bahasa Indonesia. Walaupun terus terang, Bahasa Indonesia adalah Bahasa kedua yang saya kuasai setelah bahasa Bali. Itu terjadi karena keluarga saya menggunakan Bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari, sedangkan di sekolah, Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar.

Dalam Bahasa Bali pun saya harus menguasai dua jenis sub bahasa.  Pertama adalah Bahasa Bali selatan yang dikenal sebagai Bahasa Bali biasa adalah bahasa umum yang digunakan oleh keluarga ibu saya. Dan kedua adalah Bahasa Songan,  adalah Bahasa yang umum digunakan oleh keluarga Bapak saya. Mengapa dua bahasa ini saya pisahkan? Karena walaupun serupa, Bahasa Songan hanya dituturkan oleh orang-orang dari desa Songan dan di sekitar tepi danau Batur, yang umumnya dikenal dengan nama Orang Bali Mula (penduduk asli di Bali sebelum jaman Majapahit). Memiliki sekitar 30-40% kosa kata yang sama sekali berbeda dengan Bahasa Bali.  Saya sebutkan beberapa contoh kata dalam Bahasa Songan yang tidak ada dalam bahasa Bali biasa,misalnya : anih = aduh; jitnika=cemburu; pancek=bodoh, panci=bagus; lajana = rupanya, nyerowadi= meniru dialek orang lain; seleh = habis-habisan; memanjang= menangis meraung-raung dengan irama, muun= jorok, kurang menjaga kebersihan, dan lain-lain masih banyak sekali. Saya sering bergurau dengan mengatakan bahwa saya bisa membuat sebuah kamus Bahasa Songan tersendiri saking banyaknya yang berbeda.

Sisanya sekitar 60-70% sama namun diucapkan dengan dialek yang sama sekali berbeda. Dimana  bahasa Bali Selatan umumnya menggunakan akhiran e, sedangkan Bahasa Songan menggunakan akhiran a. Misalnya ketika menterjemahkan  kata ‘di mana? (bahasa Indonesia)”, kita akan mengucapkan kata ‘di je?’ dalam Bahasa Bali selatan (walaupun dalam tulisan kita akan menuliskannya ‘di ja?”, sementara dalam Bahasa Songan kita akan mengucapkannya “jaa?” .   Walaupun serupa, tapi beda bukan? Juga ada beberapa kata yang jika dalam Bahasa Bali selatan diucapkan berakhiran e, akan diucapkan dengan akhiran i dalam Bahasa Songan. Misalnya, ‘ nyen adane? (siapa namanya?), maka jika diucapkan dalam Bahasa Songan akan menjadi ‘nyen adani?’.

Agar dapat berkomunikasi dengan baik dan akrab dengan saudara dan kerabat saya baik dari pihak Bapak maupun Ibu, saya tidak punya pilihan selain harus menguasai kedua sub bahasa Bali itu.

Bapak saya yang lama bersekolah di Jawa (baca: Semarang dan Yogyakarta) dan sangat fasih berbahasa Jawa,  terkadang mengajarkan saya beberapa kosa kata Bahasa Jawa. Sehingga secara umum saya mengerti Bahasa Jawa. Karena 90% kosa katanya ada dalam Bahasa Bali juga. Walaupun jika untuk berbicara, hingga kini saya tetap tidak pede, takut ketukar antara halus dengan kasarnya.

Bahasa Indonesia Yang Keren.

Karena Bahasa daerah sedemikian pentingnya dalam kehidupan masa kecil saya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua yang saya kuasai. Sekolah membuat saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia  dengan baik dan lancar. Karena pada saat saya kecil tidak semua orang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, maka memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik merupakan kebanggaan tersendiri.  Karena rasanya keren dan lebih modern dibandingkan dengan yang lainnya. Saya menggunakan Bahasa Indonesia hanya terbatas dengan teman-teman yang berasal dari luar Pulau Bali, atau hanya selama jam-jam pelajaran di sekolah. Tentu saja Bahasa Indonesia dengan dialek Bali yang sangat kental.  Dengan Bapak dan Ibu di rumah, saya tetap menggunakan Bahasa Bali halus. Sekali-sekali diselingi dengan Bahasa Indonesia. Sementara dengan kakak dan adik-adik saya menggunakan Bahasa Bali biasa (jabag) dengan porsi Bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak.  Semakin saya besar, penggunaan Bahasa Indonesia saya menjadi semakin banyak. Terutama sejak tinggal di Jakarta. Nyaris-nyaris saya hanya berbahasa Indonesia dalam pergaulan masyarakat. Saya mencintai Bahasa Indonesia sama banyaknya seperti saya mencintai Bahasa Bali.

Bahasa Asing.

Berasal dari daerah Kintamani yang cukup banyak dikunjungi tourist asing, mau tidak mau saya terpapar akan berbagai bahasa asing.   Bapak saya yang menguasai  dengan fasih beberapa bahasa asing, selalu mendorong saya untuk  mencoba berbahasa Inggris  dengan para tourist itu – namun terus terang saya tidak begitu bisa. Yang ada di luar kepala saya waktu kecil hanya dua kalimat. “Hellow, ho aryu?”  untuk menanyakan apa kabar turis yang sedang saya sapa (maksudnya ya…” Hallo, how are you?”).  Dan  berikutnya adalah  “Wer duyu kamprong?” (maksudnya “Where do you come from?”)  untuk menanyakan negara asal turis itu. Sisanya hanya “Yes” dan “No” saja.

Hingga masa kuliah saya praktis hanya menggunakan Bahasa Inggris secara pasif saja. Membaca buku text book, mau tidak mau karena buku-buku text book untuk Kedokteran Hewan hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Punya beberapa kawan berkebangsaan asing, namun lagi-lagi saya hanya mampu sedikit-sedikit ngobrol.  Sampai akhirnya saya bekerja di perusahaan asing. Karena tuntutan pekerjaan mau tidak mau saya harus berbahasa Inggris. Rapat dalam Bahasa Inggris, presentasi dalam Bahasa Inggris, ngomong dengan boss dan beberapa teman-teman expatriate ya berbahasa Inggris dan seterusnya.

Bahasa Indonesia yang Dinamis.

Jadi sekarang, sehari-hari  saya praktis menggunakan Bahasa Indonesia, dengan dicampur kosa kata Bahasa Inggris, Bahasa daerah dan bahasa gaul yang saya tahu – tergantung dengan siapa saya berbicara.  Terus terang, bahasa  Indonesia yang saya gunakan tentu jauh dari bahasa Indonesia baku.  Tapi apakah itu artinya saya kurang cinta pada Bahasa Indonesia saya?  Tentu saja tidak! Saya mencintai Indonesia dan akan tetap mencintai Indonesia hingga titik darah saya yang penghabisan.

Bagi saya, berbahasa Indonesia dengan selipan bahasa asing di sana sini, bukan berarti saya bermaksud kebarat-baratan. Atau jika saya menyelipkan beberapa kata bahasa daerah, bukan berarti saya sedang membangun primordialisme. Juga jika saya memasukkan satu dua kata gaul bukan berarti saya menjadi Alay.  Menggunakan bahasa dengan ragam yang tak baku terjadi karena kita menyerap kosa kata-kosa kata baru , baik yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing serta bahasa gaul yang lebih nyaman serta relevan digunakan. Hal yang sangat umum terjadi yang menandakan bahwa bahasa itu hidup. Dan punya kehidupan.

Bahasa, seperti halnya mahluk hidup memiliki kehidupan.  Ia tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan jaman. Ia hidup ketika masyarakatnya membicarakannya, dan mati jika masyarakatnya tidak membicarakannya. Ia tumbuh dan berkembang jika terjadi dinamika di dalam kosa katanya, dan ia menjadi mandek jika tidak ada pergerakan di dalam kosa katanya. Bahasa ibaratnya pohon,  dan daun adalah kosa katanya. Jika pohon itu berkembang, tentu akan selalu ada daun baru yang tumbuh dan tak pelak tentu ada juga daun kuning yang layu dan berguguran. Semuanya silih berganti. Demikian juga  kosa kata pada bahasa yang berkembang.  Akan selalu ada kosa kata baru, dan mungkin juga ada kosa kata lama yang terlupakan dan tak digunakan lagi oleh pembicaranya. Itulah hidup.

Tengoklah  Bahasa Indonesia kita tercinta! Darimanakah ia berasal? Secara resmi dikatakan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Namun bagaimanakah ia berkembang? Tak terkira banyaknya kosa kata bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Sansekerta, bahasa Inggris, Mandarin,Portugis, Tamil, Hindi, bahasa daerah dan sebagainya di dalamnya. Itu menandakan bahwa Bahasa Indonesia berkembang dan sangat dinamis. Nah jika kita pernah terbuka dan berkembang sebelumnya, mengapa kita harus menutup diri kedepannya?  Terbukalah. Biarkanlah kosa kata- kosa kata baru masuk dan memperkaya Bahasa kita sesuai dengan kenyamanan penuturnya. Karena demikianlah ia seharusnya hidup dan dituturkan oleh penuturnya. Bahasa yang dinamis.

Karena ini bulan Oktober, biarlah saya merenungkan Bahasa Indonesia saya.  Saya menengok kembali isi Sumpah Pemuda kita yang dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 itu:

Pertama:Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
 Kedoea:Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
 Ketiga:Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihatlah! Ada pergerakan yang telah terjadi dalam ejaan kita. Itu cukup membuktikan bahwa Bahasa kita memang dinamis. Dan dengan segala kedinamisannya hingga detik ini saya tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia!

I Love You, Indonesia!

Aksara Dalam Mata Uang India.

Standard

Indian RupeeSaya mengamat-amati lembaran uang kertas Rupee . Indian Rupee.  10 Rupee, 20 Rupee, 500 Rupee, 1000 Rupee, semua ada gambar Mahatma Gandhi-nya.  Seperti umumnya mata uang asing lain, sebagian yang saya mengerti hanyalah angka, kalimat dalam bahasa Inggris dan berhuruf latin. Mungkin juga gambar-gambarnya. Selebihnya saya tidak mengerti.

Yang sangat menarik perhatian saya adalah adanya sebuah  kotak yang berisi berbagai macam jenis tulisan yang berbeda-beda. Sepintas lalu saya melihat ada huruf yang serupa dengan aksara Bali. Walaupun tidak sama, tapi mirip-mirip. Saya berusaha keras untuk menerka apa bacaannya, namun tetap saja saya tidak bisa membacanya.  Aksara di dalam kotak di lembaran uang kertas itupun menjadi teka-teki yang  tak terjawab oleh saya.

Entah sebuah kebetulan,pada suatu malam saya berkesempatan hadir dalam sebuah Cultural Night, dimana diperkenalkan sejarah, budaya dan segala hal tentang India dan Bangalore khususnya. Dalam acara itu saya mendapatkan informasi mengenai tulisan dalam uang Rupee itu.

Penduduk yang Beragam, Bahasa yang Beragam, Aksara Yang Beragam.

Jika di Indonesia, kita memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” – walaupun berbeda-beda,namun tetap satu – demikian juga rupanya di India. India juga memiliki sangat banyak suku bangsa yang berbicara dalam beragam bahasa yang dibicarakan oleh kurang lebih 1,27 Bahasa Dalam Indian RupeeMilyar penduduknya. Ada bahasa Telugu,Urdu, Hindi, Sanskrit, Kannada, Malayalam, Gujarati, Bengali, Tamil, Kashmiri dan sebagainya masih sangat banyak lagi. Atas perbedaan ini, maka diambil keputusan untuk menetapkan Bahasa Hindi sebagai bahasa resmi negara.

Sangat mirip dengan kita di tanah air.  Kita memiliki berbagai macam suku, bahasa dan tulisan, ada Aceh,Batak, Minang, Nias, Sunda, Jawa, Sasak, Dayak, Bugis dan sebagainya – namun akhirnya memutuskan untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sekaligus bahasa pemersatu bangsa.

Namun sayangnya, walaupun bahasa resmi yang digunakan adalah Hindi, saya mendapatkan penjelasan ternyata tidak semua orang bisa berbahasa Hindi.  Entah apa sebabnya.

Mungkin permasalahan keberagamannya lebih kompleks dibanding kita. Hal ini tentu membuat kesulitan dalam berkomunikasi. Contohnya misalnya jika seorang penduduk Bangalore pergi ke daerah Maharashtra, rupanya ia tidak bisa berkomunikasi karena bahasanya berbeda.  Demikian juga aksara yang digunakan di jalan-jalan pun berbeda. Nah lho??

Sebagai akibat, maka di dalam mata uangpun terpaksa dimasukkan penjelasan dalam 15 sub bahasa India. Ada aksara Assamese, Bengali, Gujarati, Kannada, Kashmiri, Konkai, Malayalam, Marathi, Nepali, Oriya, Punjabi, Sanskrit, Tamil, Telugu dan Urdu.  Dengan demikian,diharapkan banyak orang akan lebih mudah mengerti akan mata uang tersebut.

Saya juga  mendengar bahwa seorang pemasar di India, jika ingin melakukan kampanye produknya di beberapa negara bagian/provinsi, mau tidak mau terpaksa membuat  film iklan dalam beberapa bahasa jika mau penjualannya lancar. Waduuuh…repot juga ya… Penduduk yang berpendidikan baik,  akhirnya banyak yang menggunakan Bahasa Inggris untuk memudahkan berkomunikasi.

Tulisan yang Mirip.

Aksara BaliHal lain yang menarik perhatian saya, adalah bentuk bentuk tulisan yang ada kemiripannya satu sama lain.  Termasuk kemiripannya dengan aksara Bali dan Jawa.  Seolah-olah memang semuanya berasal dariinduk aksara yang sama. Sayapun penasaran, dari manakah tepatnya kira-kira aksara Bali yang sekarang, dahulunya berasal?.  Benarkah daerah India Timur?

Saya pernah mendengar bahwa aksara Jawa, Bali  dan aksara suku-suku lain yang ada di Indonesia maupun aksara-aksara yang ada di negara-negara Asia Tenggara berinduk pada aksara Brahmi yang dibawa dari India, ribuan tahun yang lalu. Sayangnya saya tidak melihat ada aksara Brahmi dalam uang kertas itu. Barangkali aksara Brahmi itu juga sudah punah sekarang dan meninggalkan anak cucu serta cicit aksara yang menyebar. Untungnya, walaupun punah namun masih tetap meninggalkan keturunan yang masih hidup dan berevolusi hingga saat ini. Nah, bagaimana jika aksara ini punah tanpa meninggalkan jejak ?

Saya merenung. Jika semua orang tidak lagi menggunakan aksaranya sendiri, tentu lama kelamaan akan punah. Demikian juga aksara Bali. Jika tidak digunakan, tentu suatu saat akan punah juga. Syukurnya aksara ini masih cukup sering digunakan secara pasive dalam berbagai kegiatan di Bali.

Hmm..mengingat itu, saya jadi teringat pada diri saya sendiri. Sudah lama saya tidak pernah menggunakan huruf Bali lagi dalam kegiatan saya sehari-hari.  Karena semuanya ada dalam huruf Latin.  Maka saya pun mencoba mengingat-ingat dan berlatih menulis lagi.

Saya mencoba menulis nama saya sendiri kembali dalam Aksara Bali.