Tag Archives: inspirasi

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya 😊.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia 😀😀😀.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.

Advertisements

Membuat Sendiri: Telor Asin.

Standard

Telor Asin!. Siapa yang suka telor asin?. Saya sering terpikir ingin membuat sendiri telor asin. Tapi belum pernah sempat belajar bagaimana cara membuatnya. Sungguh beruntung, ketika sedang ke pasar bersama, Mbak yang bekerja di rumah saya bercerita bahwa ia bisa membuat. Wah, pucuk dicinta ulam tiba!. Saya bisa belajar dari si Mbak.

Seketika saya membeli bahan -bahan yang dibutuhkan. Diantaranya 10 butir telor bebek, 1 bungkus abu bakar dan sebungkus garam dapur.

Ayo! Mari kita coba bikin.

1/. Cuci bersih telor bebek. Gunakan kawat cuci untuk menggosok permukaan telor agar benar benar bersih dan pori- pori cangkangnya terbuka dengan baik.

2/. Campur abu gosok dengan garam. Lalu tambahkan sedikit air. Aduk aduk agar garam merata dan membentuk adonan.

3/. Balurkan adonan abu gosok asin ke sekeliling telor. Tempatkan pada talam atau box. Dan diamkan selama 2 minggu.

4/ . Setelah 2 minggu, telor asin bisa dipanen. Caranya dengan melepas baluran abu gosok dan mencucinya dengan air.

5/. Setelah telor bersih kembali, kita rebus sampai matang.

Lihatlah!. Kita sekarang memiliki telor asin dengan kwalitas yang bagus. Kuning telornya memerah dan berminyak, putih telornya menepung dengan baik. Tingkat rasa asin ditentukan oleh banyaknya jumlah garam yang kita campurkan ke dalam abu.

Nah… seandainya kita sedang nggak punya pekerjaan, mungkin membuat telor asin bisa kita jadikan salah satu usaha untuk mengais rejeki. Caranya gampang dan peralatan dan bahan bakunya juga sangat sederhana.

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.

Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Standard
Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Awal tahun ini saya ada di rumah ortu di Bangli. Mengetahui saya libur, kakak saya mengajak bermain ke Mahapraja, sebuah tempat wisata baru yang sedang naik daun di Bangli. Wow! Penasaran dong saya ya… apa itu Mahapraja dan di mana pula letaknya?. Ikuuuut…

Mahapraja, letaknya di Banjar Puraja, desa Peninjoan, kecamatan Tembuku – Bangli. Di Bali. Jadi kalau dari Bangli, kita mengarah ke timur menuju kecamatan Tembuku. Di Tembuku kita menuju arah timur laut dengan mengikuti jalan raya Besakih hingga ke desa Undisan. Nah dari desa Undisan lalu kita mengarah ke utara. Ketemulah desa Peninjoan, dan selanjutnya dari sana kita mencari Banjar Puraja dimana tempat wisata Mahapraja ini berlokasi.

Kami memarkir kendaraan tak jauh dari jalan raya, lalu menuju gerbang Mahapraja yang di kiri kanannya adalah kebun jeruk 🍊🍊🍊 yang sedang berbuah lebat. Jadi ngiler melihat buah buah segar bergelantungan di pohonnya yang rendah. Belakangan saya dengar, ternyata kita juga bisa berwisata memetik buah-buahan di kebun sekeliling Mahapraja. Bahkan buksn hanya jeruk lho… ada pepaya, manggis, salak, duren…Waah…tau gitu tentu saya sangat bersemangat ikut memetik-metik 😀.

Sebuah pintu gerbang dengan aling aling Ganesha menyambut kami di Mahapraja.

Mahapraja Br Puraja desa Peninjoan, Tembuku Bangli.

Ganesha sering ditempatkan sebagai aling aling dalam pekarangan rumah di Bali sebagai permohonan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai pelindung dari kesulitan dan masalah (Ganesha). Demikian juga di dekat pintu masuk Mahapraja. Sehingga dengan memasang Ganesha di pintu masuk, pemilik rumah mendoakan keselamatan bagi semua orang yang berkunjung ke tempat itu.

Dari Ganesha ini kita bisa langsung ke hamparan tanah luas berumput hijau segar yang tepinya menurun dibatasi oleh pohon pohon kayu 🌳🌳🌳 yang rindang dan sungai Puraja. Ada balai balai bambu tempat duduk dan bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Di seberangnya tampak hamparan rumput hijau yang cukup luas juga. Wow!. Tiba tiba seluruh tubuh, mata dan kepala terasa sangat segar. Sebuah tempat untuk me-recharge energy yang sangat menawan. Hijau royo royo🍃🍃🍃 dengan udara sejuk yang menyegarkan. Sangat tenang dan damai. Jauh dari keriuhan dan kepengapan kota. Beda banget dengan Jakarta.

Saya lihat ada 4 bungalow bambu sederhana beratap ilalang berjejer di sebelah kiri. Kayaknya asyik juga jika bisa menginap di sini menikmati suasana alam yang benar benar alami. Nanti deh…kalau dapat libur lagi saya pengen juga nginep di sini.

Mari kita lupakan sejenak kesibukan kota yang berbulan bulan menguras energy kita. Lupakan sejenak polusi dan kebisingannya. Duduklah di sini. Lepaskan kepenatan. Lupakan meeting dan target penjualan sejenak 😀. Dengarkan hanya suara angin dan nyanyian burung🐦🕊. Dan wangi rerumputan. Tidak ada TV dan kalau perlu nggak ada jaringan internet. Hanya ada kita dan alam. Sehingga kita benar-benar tahu yang artinya menyepi dan mengisi energy kembali dari kekosongan.

Melamun begitu sambil menyeruput es kelapa muda dengan jeruk nipis, saya pikir, cocoknya tempat ini bernama Mahapraja Hide Away saja he he 😊. Tempat melarikan diri dari kepenatan kota.

Ternyata selain untuk menyepi dan menikmati suasana alam, tempat ini adalah sebuah Camping Ground yang lumayan juga. Bisa digunakan untuk acara outing dengan daya tampung +/- 600 orang pengunjung. Kalau gitu bisa dipakai untuk perusahaan kelas menengah dengan jumlah karyawan 400 – 600 orang ya…

Saya diberi informasi jika ingin menginap, Mahapraja memiliki 58 tenda camping 🏕 dengan daya tampung max 4 orang/ tenda. Nanti kalau saya balik ke Jakarta, saya info deh perusahaan tempat saya bekerja, kali kali aja mau mengadakan acara outing di tempat ini *muka penuh harap 😀.

Fungsi lain lagi… ternyata di tepi sungai di bawah tempat ini juga digunakan untuk mereka yang senang bermeditasi. Saya nggak sempat turun ke sungai , mengingat gerimis turun dan saya lupa bawa payung. Jadi saya hanya sempat melongok tangga turunnya doang.

Hari itu saya melihat cukup banyak juga orang yang berkunjung. Rata rata membawa keluarganya. Suatu saat saya pengen juga mengajak anak saya ke sini.

Nah…. siapa yang mau ikuttt???.

Cuci Mata: Tas Renda Cantik Dari Yogyakarta.

Standard

Pikiran positive akan selalu menghasilkan hal yang positive“.

*****

Tas Crochet 7

Dalam perjalanan ke Yogyakarta, teman duduk di sebelah saya bercerita “Bu, sekarang yang lagi happening banget  di Yogyakarta itu tas renda, Bu. Nanti kalau ada waktu saya pengen mampir melihat-lihat tas untuk istri saya” katanya.  Sebagai seorang penggemar karya-karya kerajinan crochet, saya jadi tertarik untuk mengekor teman saya itu ikut melihat-lihat tas crochet yang dimaksud.  Lebih baik petang ini saja selagi bukan jam kantor. Akhirnya berangkatlah kami menuju workshopnya di Jl Deresan I no 5, Yogyakarta.

Wah.. senangnya berkunjung ke workshop itu ya seperti ini. Ada banyak produk yang baru saja selesai atau bahkan yang masih belum jadi.  Berbagai macam model. Ada  yang bentuknya persegi, ada yang seperti box, ada yang setengah lingkaran. Ada yang tali panjang, tali pendek. Ada yang besar ada yang kecil. Berbagai macam warna. Ada yang hitam,  coklat tua, beige, biru, hijau,ungu, belang-belang dan sebagainya. Demikian juga motif crochet-nya. Berbagai rupa.  Whuaaa!!!! Saya senang sekali. Dan pastinya… harganya pun lebih miring dibanding jiia kita beli di boutique resmi  di hotel.

Saya sendiri tertarik untuk membeli tas yang modelnya lebih firm, dengan rusuk-rusuk yang kuat. Sudah ketemu sih sebenarnya. Ada 2-3 alternative dan sudah sempat saya foto-foto. Tetapi kemudian ketika melihat tas lain dengan lapis dalam berbahan suede, entah kenapa saya jadi mulai galau dan bingung memilih. Kadang-kadang kalau kebanyakan pilihan, kita malah jadi bingung sendiri. Semuanya bagus. Ha ha..

Dibalik semua karya-karya crochet yang bagus itu, sebenarnya saya lebih tertarik lagi dengan semangat dua orang wanita dibalik brand tas crochet yang bernama TULIP ini, yaitu Mbak Linda dan Mbak Tutut.   Kebetulan keduanya saat itu sedang ada di workshop. Jadi kesempatan banget deh buat saya ngobrol dengan mereka berdua.

Mbak Tutut & Mbak Linda dari TULIP tas rajut

Saya baru tahu kalau ternyata nama TULIP itu sendiri adalah gabungan nama dari 2 orang wanita kreatif itu, yakni singkatan dari “TUtut & LInda Production”.  Owalaaa….keren banget!.

Saya jadi penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa memulai bisnisnya berdua?

Mbak Linda bercerita kalau pada awalnya mereka adalah Ibu Rumah Tangga biasa yang berteman gara-gara bertemu saat mengantar dan menunggu anak-anak mereka di Sekolah. Dari sini mereka menjadi bersahabat. Daripada mengisi waktu dengan ngerumpi yang kurang produktif atau menjadikan pertemuan ibu-ibu sebagai ajang pamer kekayaan, mereka memutuskan untuk mengisi persahabatannya dengan sesuatu yang positive. Merekapun mulai membuat batik  dan menggunakannya sendiri. Eh..ternyata para ibu-ibu yang lain pada menyukainya dan memesan. Lalu selanjutnya mereka mencoba membuat tas. Ibu-Ibu yang lainpun menyukainya juga. Lalu rame-rame memesan. Demikian seterusnya mereka memproduksi tas rajut/renda dan dompet, selain juga tas/dompet yang berbahan kulit dan berbahan kain batik.  Memasarkannya dari mulut ke mulut. Bahkan ketika anak-anak sudah tidak sekolah lagi di sana, mereka meneruskan kegiatannya dan mendirikan usaha dengan merk TULIP ini. Wah…luarbiasa!. Positive banget.  Saya sangat terkesan.

Lalu apa bedanya dengan tas rajut merk lain yang ada di kota itu? Mereka memiliki koleksi dengan design -design bagus yang mereka rancang sendiri. Bahkan saat saya di sana, saya juga dipersilakan misalnya jika ingin memesan dengan motif yang begini tapi design yang begitu juga boleh (tentunya perlu beberapa hari ya untuk mengerjakannya). Mereka juga menyediakan tas-tas dengan handle berbahan kulit asli dengan lapisan dalam suede yang berbeda dengan pengrajin lainnya  karena kebanyakan pengrajin menggunakan bahan plastik sebagai handle-nya.

 

Yang jelas, karya ke dua Ibu-Ibu muda ini telah berhasil memperkaya kota Yogyakarta dengan memberikan option lain bagi pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh ataupun kerajinan khas Yogyakarta yang bermutu bagus, selain batik, gudeg, bakpia ataupun wingko.  Dan tentunya itu sangat penting bagi kota Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Saya rasa apa yang dilakukan oleh kedua wanita ini juga bisa memberi inspirasi bagi kita, para wanita agar lebih positive dalam menjalani hidup. Lebih kreatif dan tentunya lebih produktif.

Yuk kita main ke Yogyakarta! Banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan nikmati di sini.

Menyelamatkan Tanaman.

Standard

LedebouriaGara-gara kesibukan sebelumnya dan musim kemarau yang mengeringkan, sepulang dari luar kota saya menemukan banyak tanaman saya yang meranggas karena tidak ada yang mengurus. Kering, coklat dan layu. Bahkan sebagian ada juga yang mati. Salah satu tanaman di pot yang saya lihat sudah sangat sekarat, adalah sejenis tanaman  hias bawang-bawangan yang sering disebut dengan Silver Squill (Ledebouria sp). tanaman ini masih sekeluarga dengan bunga Hyacinth. Tanahnya sangat kering, berbongkah-bongkah terpanggang matahari, sehingga kalaupun digoreng saya rasa akan mengembang dan garing mirip kerupuk. Daunnya sangat layu dan umbinya muncul di permukaan tanah tapi terlihat sangat lemas.

Hampir saja saya memutuskan untukmembuang tanaman itu. Sambil mencoba menarik umbinya, saya tekenang akan keindahan bunganya yang mini. Putih bersih  mirip lonceng yang bereret. Mirip bentuk bungan Lily of the Valley, tapi dalam skala yang sangat kecil. Daunnya hijau keperakan berbintik-bintik hijau gelap. Saya tidak sering menemukan tanaman ini di tukang tanaman. Pun tidak ingat di mana awalnya saya mendapatkan bibit tanaman ini. Berpikir-pikir begitu, rasanya sedih banget. Mengapa tanaman ini harus mati kekeringan?  Saya menyesal sekali tidak merawatnya dengan baik.

Saat menarik umbinya dari tanah, perasaan saya mengatakan jika sebenarnya tanaman ini masih bisa diselamatkan. Seandainya saya dikasih kesempatan untuk melihatnya hidup lagi saya akan mencoba menyelamatkannya. Akhirnya saya membatalkan niat saya untuk membuangnya ke tempat sampah.

Esok harinya saya mampir ke toko Trubus. Saya ingin membeli media tanam. Lalu mulailah saya mencoba mem-pot-kan kembali tanaman Ledebouria saya. Karena umbinya lumayan banyak, saya pecah dari awalnya satu pot menjadi 3 pot.  Daun-daun kering dan bekas bunganya saya siangi dan buang.  Saya berikan tanah baru yang lebih segar lalu saya siram.  Saya rawat 2x sehari, pagi dan sore hari. Hari pertama, belum terlihat pergerakan. Daunnya yang layu masih kelihatan layu dan patah. Hari kedua saya sudah mulai melihat adanya tanda-tanda kehidupan.

Saya takjub. Umbi tanaman ini mirip bawang. Walaupun sudah layu, di dalamnya kehidupan masih tersimpan dengan baik. Menunggu kesempatan kembali untuk hidup seandainya lingkungan sekitarnya memungkinkan. Tanpa saya duga, pada hari ke lima, sebuah calon bunga muncul dari sela-sela daunnya yang sekarang mulai segar. Dan pada hari ke tujuh, saya sekarang melihat benar-benar dengan takjub. Tanaman ini serius berbunga. Luar biasa!. Dan hari ini bunganya yang imut-imut mulai mekar.  Tak terkira terharunya hati saya.

Sungguh!. Tanaman ini menunjukkan keceriaannya di depan mata saya, yang membuat hati saya sangat bahagia dan penuh semangat.

Saya percaya, seberapapun kasih sayang yang mampu kita berikan kepada mahluk lain di sekitar, semuanya akan berpulang kembali ke hati kita dalam bentuk kebahagiaan. Alam merespon kasih sayang kita dengan sangat baik.

 

 

Sapu Nenek Sihir.

Standard
????????????

Sapu Lidi

Jika sedang berada di kota Sukabumi, saya paling senang makan bubur untuk sarapan pagi. Karena menurut saya bubur ayam di Sukabumi itu sangat enak. Nah suatu pagi saya melihat seorang kakek penjual sapu lidi di depan tukang bubur langganan saya itu. Seketika saya teringat akan sapu lidi pembersih kasur saya yang sudah rusak dimainkan anak-anak. Kelihatannya  perlu membeli penggantinya. Saya memberi isyarat kepada kakek tua itu bahwa nanti  saya akan membeli setelah makan bubur. Maksudnya agar beliau jangan cepat-cepat pergi. Biasanya tukang jualan seperti ini hanya nongkrong sebentar lalu pergi, karena torotoar ini bukan tempat jualan permanen.

Seusai makan bubur, saya menepati janji saya. Melihat-lihat dan memilih sapu yang ingin saya beli. Ada sapu untuk membersihkan tempat tidur. Jumlah batang lidinya paling sedikit diantara semua jenis sapu. Lidinya sendiri berwarna lebih terang. Diameter sapu itu sekitar 3.5 cm. Harganya 10 ribu rupiah.

Lalu ada sapu lidi biasa. Maksudnya sapu lidi untuk lantai dan halaman. Diameternya sekitar 5 cm. Eh..harganya sama lho….10 ribu rupiah juga. Apa nggak salah ya kakek ini? Padahal jumlah lidinya 2x lipat lebih banyak dibanding sapu yang kecil. Pasti salah satu ada yang salah. Mungkin yang kecil kemahalan. Atau yang besar kemurahan. Saat saya konfirmasi apakah kakek ini tidak salah memberikan harga, beliau bilang tidak. “Memang begitu harganya dari sananya Neng” katanya. Beliau juga tidak mengerti mengapa bisa begitu. Hm..barangkali karena warnanya yang agak berbeda. Sapu lidi yang kecil warna lidinya agak lebih terang sedikit (biasanya diambil dari lidi janur alias daun kelapa yang masih muda – Busung – Bahasa Bali) ketimbang warna lidi dari sapu yang besar yang warnanya lebih coklat (biasanya diambil dari lidi daun kelapa yang lebih tua – Selepaan -Bahasa Bali). Saya mencoba mencari pembenaran sendiri atas harga yang kelihatannya janggal itu.

Terus ada lagi sapu lidi yang bertangkai. Saya tahu ini pasti untuk membantu agar pinggang kita tidak sakit karena membungkuk. Harganya menjadi 20 ribu rupiah. Oke, masuk akal jika yang ini harganya lebih mahal.

Saya memilih-milih dan memutuskan untk membeli 2 buah sapu kasur dan 1 buah sapu halaman yang bertangkai. Dan menambahkan satu buah lagi sapu biasa. Jadi semuanya ada 4 buah yang saya beli, Melihat wajah Kakek itu saya tidak tega menawarnya. Lagi pula saya pikir harga sapu ini sangatlah masuk akal . Sementara kwalitasnya sendiri  menurut saya jauh lebih baik dibanding sapu lidi kasur yang saya beli di Jakarta. Sebagai pembanding,  saya coba hitung jumlah lidi sapu kecil jualan si kakek ini ada 169 buah.  Sedangkan yang saya beli di Jakarta paling banter isinya tidak lebih dari 75 batang lidi saja.  Saya lupa harganya berapa yang saya beli di Jakarta ini.

Yang membuat saya tertawa adalah sapu itu ternyata memiliki merk. Dan merknya adalah “SAPU NENEK SIHIR“.  Dilengkapi dengan alamat dan nomor telpon  si Abah pembuatnya di Kampung Gentong Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Sukabumi.  Ha ha.. terutama yang bertangkai panjang itu memang mirip sapunya Nenek Sihir dalam dongeng sih. Jadi cocoklah barangkali bermerk Nenek Sihir. Dikorek-korek sedikit dengan sapu ini, sim salabim! Abrakadabra! Halaman langsung bersih!. Kreatif juga si pembuatnya. Walaupun bagi sebagian orang denger nama Nenek Sihir barangkali takut juga.  Eh.. tapi tiba-tiba saya jadi penasaran juga, sebenarnya sapu nenek sihir dalam dongeng itu sapu ijuk atau sapi lidi sih?

O ya… terlepas dari kaitan sapu lidi dengan Nenek Sihir, ada cerita menarik yang saya ingat tentang Sapu Lidi. Diceritakan oleh guru saya waktu SD. Seorang Bapak memanggil anak-anaknya yang sering sekali bertengkar dan tidak pernah akur satu sama lain. Sang Bapak mengambil lidi lalu menyerahkan ke anak-anaknya masing-masing sebatang lidi. Ia lalu berkata, siapa yang bisa mematahkan batang lidi itu?. Anak-anaknya tentu saja heran akan pertanyaan bapaknya itu. Semua anak bisa mematahkan batang lidi itu dengan mudah.  Sang Bapak lalu mengambil sebuah sapulidi. Sekarang beliau bertanya lagi kepada anak-anaknya. Siapa yang bisa mematahkan  sapu lidi ini? Anak-anaknya secara bergiliran mencoba  mematahkan sapu lidi itu dengan sekuat tenaga, tetapi tidak ada yang berhasil. Sapu lidi itu hanya melengkung, tapi tidak pernah patah. Cerita itu diakhiri dengan pesan Sang Bapak agar anak-anaknya selalu hidup rukun dan saling mendukung agar bisa berhasil. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sapulidi, jika sendirian kita akan mudah patah. Namun jika rukun dan selalu bersama-sama maka kita akan menjadi kuat.

Saya pikir ingin juga saya menceritakan kembali cerita ini kepada anak-anak saya. Agar mereka mengerti arti kerukunan dalam keluarga. Demikian juga arti kerukunan di dalam kelas, dalam bermasyarakat dan kerukunan dalam berbangsa. Tiada gunanya membesar-besarkan perbedaan yang membuat kita justru terpecah belah dan akhirnya lebih mudah dikuasai orang lain, bukan?.

Nah..lumayan juga sapulidi nenek sihir ini mengingatkan saya kembali.

Sarang, Adalah Rumah Bagi Burung-Burung.

Standard

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 4Di halaman rumah, ada sebatang pohon bunga Asoka putih (Ixora sp.). Bunganya yang mirip jarum cukup banyak mekar hari ini. Mengundang berbagai jenis kupu-kupu untuk mampir. Dari sela-sela daunnya yang rimbun, saya mendengar suara cericit burung pipit. Saya mendekat. Dua ekor burung pipit (Lonchura leucogastroides) tampak bertengger di dahannya yang agak tinggi. Di dekatnya sebuah sarang tampak tersangkut. Pintu sarang berada tepat di arah saya berdiri. Sehingga saya bisa melihat ke arah pintunya,walaupun posisinya agak tinggi. Kelihatan kosong. Barangkali sarang itu milik ke dua ekor burung pipit itu. Sesaat kemudian kedua ekor burung pipit itupun terbang.

Sekitar pukul dua siang saya menengok sarang burung itu lagi. Tampak seekor induk burung pipit sekarang sedang berada di dalamnya. Kepalanya kelihatan menyembul keluar. Kepalanya hitam, demikian juga paruh atasnya. Paruh bawahnya berwarna kelabu pucat nyaris putih. Dadanya putih. Saya pikir barangkali ia sedang mengerami telornya. Tapi tak lama kemudian saya melihat seekor anak burung pipit mendekati sarang. Ooh… rupanya burung itu tidak sedang mengeram. Anaknya sudah lahir dan bahkan sudah bisa terbang. Walau demikian, ia tetap pulang menemui induknya di sarangnya.

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 1Saya memperhatikan anak-anak burung pipit itu yang terbang jarak pendek. Kadang menclok di dahan bunga Kenanga, kadang di kawat listrik, kadang di dahan pohon Srikaya. Lalu kembali ke dahan pohon Asoka dan masuk ke sarangnya. Demikian saya mengamatinya di pagi hari, siang hari dan sore hari setiap hari selama saya liburan.

Anak saya ingin memasang jaring dan menangkap burung-burung itu.”Untuk apa?” tanya saya. Ia ingin memilikinya dan memasukkannya ke kandang. Sayapun melarang dan memberinya pengertian bahwa burung-burung itu lebih suka hidup di alam bebas. dDn kita tidak punya hak untuk merampas kebebasannya.

Betapapun enaknya makanan yang kita sediakan, betapapun mudahnya ia mendapatkan makanan, gratis dan tinggal suap saja,  burung-burung tetap lebih suka hidup di alam bebas mencari makanannya sendiri,walaupun harus bekerja keras.   Kandang yang kita sediakan mungkin lebih besar dari sarangnya, tetapi burung-burung lebih suka tidur dan bersitirahat di sarangnya sendiri. Walaupun lebih sederhana, walaupun lebih sempit.

Dua ekor anak burung pipit 1Sarang, adalah rumah bagi burung-burung. Adalah tempat untuk berlindung dari hujan, dari terik matahari, dari tiupan angin kencang. Juga tempat berlindung dari dari gangguan pemangsa dan dari orang iseng yang berbuat jahat. Rumah adalah tempat yang paling aman di dunia.

Serupa dengan kita, rumah adalah tempat untuk pulang. Titik di mana kita jadikan pangkalan untuk kembali setelah bepergian ke tempat yang dekat maupun jauh. Tempat di mana kita tidak pernah tersesat, karena kita hapal semua sudut dan bahkan kolong-kolongnya.

Rumah adalah tempat untuk beristirahat dari kelelahan, setelah seharian mencari makan dan mengais rejeki di luar rumah. Rumah memberi suntikan energi yang memulihkan semangat untuk berjuang kembali esok hari.

Sebagaimana sarang yang merupakan tempat bagi burung-burung untuk menetaskan telur dan membesarkan anak-anaknya, rumah bagi kita adalah tempat di mana kita dibesarkan dengan penuh kehangatan dan cinta. Rumah adalah tempat untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi suka dan duka.

Sekecil apapun rumah kita, dan sesederhana apapun, rumah yang hangat diselimuti penuh dengan perhatian dan cinta para penghuninya, akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman di dunia.

Burung Pipit di sarangnya10Saya mengajak anak saya melihat lebih dekat ke sarang burung itu melalui lensa tele. Tampak 3 ekor burung, seekor induk dan dua ekor anaknya sedang duduk berdesak-desakan di sana. Mereka kelihatan bahagia dan nyaman.  Walaupun sempit, tetapi burung-burung itu tetap lebih suka tinggal berdesak-desakan begitu di sana. Padahal anak-anaknya sebenarnya sudah besar dan bisa terbang, tapi tetap saja mereka lebih suka tinggal bersama di sarang itu. Itu membuktikan bahwa sarang itu bukan saja nyaman dan aman,namun juga hangat karena dipenuhi kasih sayang keluarga burung itu. Kehangatan itulah yang tidak akan pernah bisa kita gantikan sekalipun dengan kandang mewah berharga puluhan juta rupiah. Jadi, biarkanlah burung-burung itu tetap berada di sarangnya sendiri.

Saya mengambil beberapa foto. Anak saya sekarang sibuk mengamat-amati foto-foto burung pipit yang sedang berada di sarangnya itu. Tampak ia senang dan mulai bisa memahami apa yang saya katakan kepadanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil burung-burung itu dari sarangnya. Semoga ia mengerti apa arti rumah bagi setiap mahluk hidup, termasuk artinya bagi dirinya sendiri.

Keping Keberuntungan Gober Bebek.

Standard

Uang logam

Pernah suatu ketika, saya berjalan kaki  bersama seorang teman. Saya melihat ke bawah. Ada sekeping uang logam busuk terlantar di tepi jalan. Sudah aus kena injak orang yang berlalu lalang dan warnanya tak jelas, kotor nyaris sama dengan tanah. Lebih aus lagi daripada photo uang logam di gambar ini.  Tak kelihatan lagi tulisan dan gambarnya. Mungkin sepuluh rupiah.

Melihat saya berhenti melangkah, teman saya bertanya heran. “Apa itu, Dan?“tanya teman saya. “Keping Keberuntungan Gober Bebek“kata saya menahan senyum. “Hah??! Mana ada? Ngarang lu!“sergahnya. Ha ha. Tentu saja saya ngarang.

Donald Bebek!. Bebek yang paling malang sekota bebek.  Pasti banyak diantara kita adalah penggemarnya. Dan saya salah satunya. Tokoh itu selalu menyita perhatian saya ketika kecil dulu. Dan tetap menyita perhatian bahkan setelah saya menjadi dewasa dan tua.  Selain Donald yang merupakan tokoh sentral komik itu, ada banyak tokoh lain yang juga menarik, yakni Trio Kwek Kwik Kwak, Desi Bebek, Professor Lang Ling Lung, Gerombolan Si Berat, Si Mimi Hitam dan… Paman Gober!.  Nah ini dia.

Semua orang tahu kalau Paman Gober adalah paman dari Donald yang kaya raya namun pelit. Hobbynya berenang di gudang uangnya. Dari manakah kekayaannya itu berasal? Tentunya hasil dari berbagai jenis perusahaan yang ia miliki. Intinya Paman Gober adalah seorang konglomerat. Namun dalam episode yang entah mana, saya ingat bahwa nasib Gober Bebek tak lepas dari mujizat sekeping uang logam yang membuatnya selalu beruntung, yang di komik disebut dengan “Keping Keberuntungan Gober Bebek” Itu sebabnya Gober Bebek merasa sangat penting memiliki uang logam itu.  Jangan sampai hilang. Karena jika hilang, tentu nasibnya akan tidak mujur lagi. Bisa bisa kekayaannya menyusut.

Oleh sebab itu Gober Bebek mati-matian berusaha mempertahankannya. Terlebih dengan adanya tokoh Mimi Hitam yang selalu berusaha mencurinya dengan niat untuk dilebur di Gunung Vesuvius agar ia mendapatkan mujijat “Sentuhan Midas’  dimana setiap benda yang disentuh akan menjadi emas. He he..semua pasti tahu cerita itu kan? Dan semua juga pasti tahu bahwa Keping Keberuntungan Gober Bebek itu pasti hanya khayalan si pengarangnya saja.

Ya. Walaupun tahu begitu, tapi tetap saja saya senang membaca cerita komik itu. Sangat menghibur.

*****

Saya ingat cerita itu gara-gara pagi ini saya juga melihat ada keping uang logam yang sudah aus di tepi jalan. Saya lalu ingat akan cerita Keping Keberuntungan Gober Bebek itu lagi. Tapi kalau direnungkan, seperti yang dikatakan teman saya itu, mana ada sih di dunia nyata ini keping keberuntungan seperti itu?.Yang jelas, keping keberuntungan seperti itu hanya Gober Bebek yang punya. Dan kita tahu bahwa Gober Bebek hidup hanya di dunia khayal. Sehingga sangat jelas bahwa Keping Keberuntungan itupun hanya ada di dunia khayal manusia.

Jadi didunia nyata ini, jika saya mengharapkan rejeki yang nyata, saya harus memberi tahu diri saya sendiri, bekerja keraslah seperti Gober Bebek, tetapi  jangan pernah berharap mendapat keberuntungan extra dari sebuah keping.  Ingat ingat bahwa keping keberuntungan itu hanya ada di dunia khayal saja. Artinya  jika kita ingin mendapatkan extra rejeki, maka kita perlu bekerja ekstra smart, extra keras.  Rejeki akan datang menemui setiap orang yang  bekerja keras dan berusaha dengan cara yang baik dan cerdas untuk mendapatkannya. Namun jika kita sudah merasa bekerja cukup keras dan cukup extra cerdas melakukannya dan rejekinya tetap hanya segitu segitu saja, ya mungkin memang hanya cukup sedemikian jatah yang disediakan oleh semesta untuk kita. Kita tetap menerimanya dengan penuh syukur dan terimakasih.

Dan tentunya satu hal lagi yang tak perlu diadopsi dari Gober Bebek adalah pelit. Terkadang kita merasa bahwa rejeki ini kan hasil kerja keras kita sendiri, mengapa kita harus bagi kepada orang lain yang tidak ikut bekerja keras dengan kita? Kita tidak menyadari bahwa ada mekanisme lain yang mengatur di atas semua yang kita lakukan dalam mendapatkan rejeki kita  yang sama sekali bukan atas kerja keras kita. Segala sesuatu yang kita pikir itu sebagai kebetulan dan nasib. Ooh kebetulan saya melihat iklan di koran pas saya butuh pekerjaan, Ooh..kebetulan pesaing saya sedikit saat saya interview, atau Ooh..kebetulan ada investor yang ingin invest saat saya punya ide cemerlang, dan sebagainya. Segala bentuk nasib baik dan kebetulan kebetulan itu tentunya ada mengatur. Tidak tersedia begitu saja dan tinggal pungut.  Ada mekanisme di luar kuasa kita yang telah membantu kita berada pada nasib kita itu selain memang atas upaya dan kerja keras kita sendiri.

Oleh karena itu tidak ada salahnya kita berbagi dengan orang lain di sekitar kita yang memang layak dibantu. Karena sesungguhnya rejeki yang kita terima tidak seratus persen atas kerja keras kita saja, namun juga tidak terlepas dari bantuan beliau Yang Maha Kuasa salah satunya lewat mekanisme nasib baik yang serba kebetulan itu. Barangkali juga kita yang lebih beruntung ditunjukkan pintu rejeki, bukan hanya untuk diri kita sendiri, namun juga sebagian memang titipan bagi orang lain yang belum beruntung menemukan pintu rejekinya masing-masing.

Jika Gober Bebek memiliki 3 kata kunci atas rejekinya: Keping KeberuntunganPelitKerja Keras; maka bagi kita barangkali 3 kata kunci atas rejeki kita adalah : Kerja Keras & UsahaBersyukur & Berterimakasih Berbagi kepada orang lain yang belum beruntung memukan pintu rejekinya.

Selamat pagi teman-teman! Semoga hari ini dilimpahi kebahagiaan dan kesuksesan.

 

 

Jejak Kaki Kucing.

Standard

20150401_063735Ada jejak kucing tampak di sebuah tanah yang lembek di tepi jalan. Jejaknya tampak cukup dalam dan memikat hati saya.  Kaki-kaki kucing itu sungguh mungil dan lucu. Saya mengamatinya sepintas. Ada jejak bantalan telapak kakinya yang kelihatan agak membulat, lalu ada empat buah jari kaki di masing-masing jejak telapak kaki itu.  Saya rasa, kucing itu sedang mengembangkan cakarnya saat ia berdiri di situ, karena  jari-jari kaki itu tampak tajam dan runcing di ujung-ujungnya.

Ada empat buah. Tentunya itu kaki depan, kaki belakang yang kiri dan yang kanan. Saya mencoba mencari jejak kaki kucing yang lain. Tidak ada lagi. Hanya empat buah itu saja. Padahal tanah lembek itu cukup luas. Bagiamana ia bisa meninggalkan jejak di tengah-tengah begitu?  Aha! Saya tahu jawabannya.Tentulah ia melompat ke sana dari arah jalan yang beraspal, mendarat dan meninggalkan jejaknya sekali, lalu melompat lagi ke rerumputan. Bukan berjalan santai. Karena jika ia memang berjalan ke sana, tentu jejak kakinya ada lebih dari 4 buah. Fakta lain adalah bahwa jejak kaki kucing itu sangat dalam. Jejak sedalam itu hanya mungkin dibuat oleh kucing yang berbobot badan sangat berat, atau…ditinggalkan oleh kaki yang sedang melompat, dimana gaya tekan yang bekerja di tanah lembek itu cukup besar. Mungkin ia berlari kencang dan melompat.

Fakta lain yang menarik lagi adalah ternyata jejak kaki-kaki kucing itu berada dalam posisi tidak normal. Kedua kaki kirinya yang depan dan belakang berada pada titik yang sangat berdekatan, Sementara jarak kedua kaki kanan yang depan dan belakang lebih jauh. Saya jadi membayangkan, tentulah kucing itu berada dalam posisi badan yang melengkung saat mendarat di tanah lembek itu. Kucing berlari kencang -melompat-badannya melengkung- cakarnya keluar.   Apa yang terjadi semalam saat kucing itu meompat dan berlari di sana? Mungkin ia sangat semangat. Tentulah ia mengejar sesuatu. Tikus? Atau malah ketakutan? Jangan-jangan dikejar sesuatu? Anjing?  Saya mencoba mencari-cari jejak yang lain untuk mendukung pikiran saya. Barangkali ada jejak tikus atau anjing di sekitar itu.

20150401_063836Dan… yes! Benar saja, di belakang jejak itu tampak sebuah jejak kaki anjing. Mirip jejak kaki kucing tapi ukurannya jauh lebih besar. Tidak terlalu jelas. Hanya sebuah kaki, karena tanah lembek di tempat anjing itu berdiri hanya sedikit. Jejak 3 buah kakinya yang lain tidak terlihat. Jejak itu tampak lebih ringan dan dangkal ketimbang jejak kaki kucing tadi. Saya rasa anjing ini berada dalam posisi yang di atas angin, lebih santai. Sementara si kucing sedang berada di posisi yang terancam. Tegang dan ketakutan.

Entah kenapa saya jadi merasa bisa membayangkan apa yang terjadi semalam saat kucing itu melompat dan berlari di sana. Saya bisa merasakan ketakutan kucing itu. Naluri untuk menyelamatkan diri yang menekan kepalanya dan memerintahkan anggota tubuhnya untuk berlari sekencang dan  sejauh mungkin serta melompat agar terhindar dari anjing itu. Gambaran itu berputar di kepala saya seolah saya sedang melihat sendiri kejadian itu. Walah! Mungkin sebagian teman saya akan berpendapat bahwa saya terlalu lebay. Jejak kaki kucing aja kok dipikirin. Kurang kerjaan.  Ha ha ha.. barangkali saya terlalu banyak membaca buku Old Shatterhand atau Trio Detektif dan Lima Sekawan waktu kecil. Atau kebanyakan berpetualang mencari jejak waktu menjadi anggota Pramuka jaman dulu.

Tapi sungguh, bagi saya membaca jejak itu bisa menjadi hal yang menarik dan menyenangkan juga. Karena sebenarnya setiap mahluk itu memiliki dan meninggalkan jejak dalam hidupnya. Jejak yang ia tinggalkan untuk setiap hal yang ia lakukan dalam hidupnya. Jejak yang mendalam maupun jejak yang samar. Jejak yang baik ataupun jejak yang buruk. Jejak yang hanya bisa terbaca dalam jangka waktu pendek maupun jejak yang akan tetap abadi dan tetap terbaca bahkan ketika ia telah meninggalkan dunia ini dan kembali kepadaNYA.

Tentunya kita semua ingin meninggalkan jejak yang baik dalam hidup kita.