Tag Archives: inspirasi

BERTENGKAR UNTUK APA?

Standard
Pertengkaran Kucing

Sepulang dari berjalan pagi, di dekat lapangan olah raga sebelah rumah saya melihat seekor kucing cukup besar berwarna orange sedang duduk di pojok lapangan yang ketinggiannya sekitat 1 meter dari jalanan. Terlihat santai dan sangat menikmati hari. Enjoy life!

Belum sempat memperhatikan lebih banyak, tiba-tiba saya melihat seekor kucing orange lain yang lebih muda dan kecil, mengintip dan mengendap-endap bersiap untuk menyerang Kucing orange yang sedang bersantai itu. Astaga! Kucing besar yang lebih tua itu tidak sadar dirinya akan diserang.

Belum sempat saya berpikir, kucing muda itu sudah melompat dengan sigap, berdiri depan kucing yang tua dan langsung mengerang mengancam. Mau tidak mau ia terpaksa bangkit dari duduknya dan menghadapi penyerangnya yang lebih muda itu.

Saya jadi ingin tahu, apa yang akan terjadi. Mengeluarkan hape dari saku dan merekam.

Mulailah adegan seringai menyeringai dan ancam mengancam dari kedua ekor kucing orange itu. Saya sendiri bingung, apa ya yang dipertengkarkan?

Setelah keduanya saling bentak, saling mengancan dan saling bertahan sambil mengadukan kepalanya, saya melihat kucing yang lebih besar mengalah. Pandangannya beralih ke tempat lain. Perlahan ia memindahkan kakinya, lalu melangkah pergi dengan gagah. Pelan pelan tapi pasti. Sesekali ia menoleh ke belakang ke arah kucing muda itu. Lalu menghilang di balik gardu listrik.

Saya lihat kucing muda itu sekarang mengambil alih pojok lapangan tempat kucing besar itu bersantai. Ia mencium lantai tempat kucing besar itu tadi duduk dan mulai melingkarkan badannya di situ.

Ooh… rupanya memperebutkan pojok lapangan, lokasi untuk bersantai. Saya mulai sedikit paham.

Tapi beberapa detik kemudian, ia bangkit lagi lalu berjalan meninggalkan pojok lapangan itu dengan santai. Kembali saya tidak paham.

Lho??!! Kok ditinggal? Lalu tadi itu bertengkar untuk apa?

Saya heran melihatnya. Kalau memang pojok itu tidak akan dipakai, mengapa harus diperebutkan dan dipertengkarkan? Dasar kucing!

Saya berhenti merekam. Kejadian itu berlangsung sekitar 11 setengah menit. Sungguh saya jadi penasaran , apa sesungguhnya motivasi kucing muda itu mengajak kucing yang lebih tua bertengkar?

Apakah memang ingin memperebutkan lokasi duduk di pojokan lapangan ? Atau ingin menjajal kemampuan bertengkar? Ataukah hanya sekedar mendapat pengakuan, bahwa teritori itu miliknya? Atau mau membuktikan slogan “kecil-kecil cabe rawit?”. Tak paham saya. Untung saja kucing besar itu baik hati dan mengalah. Kalau ia mau, saya yakin dengan mudah ia bisa membanting dan menggigit kucing muda itu hingga babak belur. Tapi tidak ia lakukan.

Apakah kisah serupa begini terdengar familiar diantara kita? Wk wk wk 🤣🤣🤣🤣.

Mempertengkarkan sesuatu, yang sebetulnya nggak benar-benar ingin kita gunakan juga? Yang penting menang. Perkara nanti yang diperebutkan itu kita pakai atau nggak kita pakai, itu urusan belakangan.

Ego, terkadang membuat kita mengedepankan nafsu serakah dan keinginan berkuasa kita dengan tidak menghargai dan menghormati hak-hak orang lain yang sesungguhnya mungkin lebih butuh ketimbang kita.

CELAMITAN

Standard

Salah satu hal paling menarik yang bisa saya nikmati setiap kali berjalan pagi di perumahan adalah melihat-lihat tanaman tetangga. Bunga-bunga yang indah warna warni, buah-buahan yang ranum menggelantung di pohonnya, sayur-sayuran segar hidroponik yang dipajang di luar pagar. Semuanya bikin ngiler.

Seperti pagi ini, pandangan saya tertuju pada deretan kangkung, pakcoy dan bayam singapur, di instalasi hidroponik tetangga yamg dipajang di depan rumahnya. Seger banget. Kebayang segarnya hidangan sayuran hijau di meja makan, yg diolah dari sayuran baru petik.

Lalu berikutnya ada pohon mangga manalagi yang berbuah banyak dan rendah sejangkauan tangan. Tinggal loncat dikit rasanya nyampai itu. Rasanya pengen meminta & pengen memetik.

Manusia memang dibekali bakat “celamitan” dari sononya. Jangankan sayur, buah dan bunga. Wong rumput tetangga saja yg terlihat lebih hijau dipengeni.

Tetapi sebenarnya sadar nggak sih saya , bahwa untuk membuat rumput itu menjadi sedemikian hijau segar dan rapi, juga untuk membuat tanaman hias itu tumbuh subur berbunga warna-warni mewangi, dibutuhkan kerja keras pemiliknya untuk menanam, merawat, menyiram, memupuk, menyiangi???. Itu butuh modal, waktu dan kerja keras woiiii…

Demikian juga sayuran hidroponik dan mangga yang bikin ngeces itu. Semua ditanam dan dirawat oleh pemiliknya dengan sepenuh hati dan sepenuh pengharapan.

Lha, lalu siapa saya ini yang hanya sekedar seorang tetangga yang kebetulan lewat tanpa pernah berkontribusi apa-apa kok tiba-tiba menginginkan sayuran dan mangga tetangga itu ? Ingin meminta dan memetik…

Tak jauh dari pohon mangga itu, saya lihat ada Mbak asisten rumah tangga di rumah tetangga saya itu sedang menyapu. Sayapun berkomentar,

“Wow. Banyak sekali buah mangganya Mbak” .

Si Mbak dengan nada kurang ramah
“Ya Bu. Tapi masih pada hijau”

Rupanya si Mbak tahu soal jiwa celamitan saya. Langsung ketus. Padahal saya nggak bilang minta lho.

KEEMPATAN SEPAKBOLA

Standard

Belajar Fleksibilitas Dari Anak-Anak.

Suatu pagi seusai berolah raga di taman perumahan, saya melanjutkan lari kecil di lapangan di sebelah rumah. Kira kira baru dapat sekitar 500 langkah, dua orang anak kecil datang, memarkir sepedanya lalu ikut masuk ke dalam lapangan. Disusul oleh dua orang temannya lagi. Jadi totalnya sekarang ada empat orang anak kecil. Mereka bermain bola dengan riang.

Saya tetap berlari mengelilingi lapangan multifungsi yang kadang menjadi lapangan futsal, kadang jadi lapangan bulu tangkis, kadang lapangan basket, lapangan volley dan bahkan arena jogging. Tergantung situasi.  Beberapa kali bola itu tertendang ke arah saya. Mau tidak mau saya jadi meladeni anak-anak dengan ikut menendang bola untuk mengembalikan bola ke arah mereka.

Lama-lama saya jadi ikut memperhatikan apa yang mereka lakukan juga. Sepakbola yang umumnya dimainkan oleh 2 kesebelasan dengan total pemain 22 orang, sekarang ini hanya dimainkan oleh empat orang pemain. Bahkan untuk bermain Futsal dengan jumlah total pemain yang lebih sedikitpun (total 11 orang) tetap tidak cukup.


Yang tentunya jika berhadapan terdiri atas dua orang vs dua orang anak. Lalu bagaimana caranya mereka bermain?

Karena cuma berempat,  semua pekerjaan dirangkap-rangkap. Penjaga Gawang alias Goal Keeper merangkap sebagai  Pemain Belakang dan sekaligus juga sebagai Gelandang dan sesekali juga menjadi Penyerang.  Atau jika di Futsal, pemain anchor merangkap sebagai pemain flank juga sebagai pivot dan keeper.

Demikian juga anak yang awalnya saya lihat menjadi Penyerang,  juga merangkap sebagai Gelandang dan Bek. Hanya jadi Keeper yang tidak dilakukannya. Kelihatannya  untuk posisi Penjaga Gawang memang tidak ditukar-tukar.

Jadi jelas ini bukan “Kesebelasan Sepak Bola”.  Tapi “Ke-empatan Sepak Bola” atau malah “Ke-dua-an Sepak Bola”.

Walau cuma berempat, saya lihat anak-anak itu tetap bermain dengan semangat dan seru. Sesekali bertengkar ringan, berbeda pendapat, lalu berdamai dan bermain kembali dengan riang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Saya merasa sangat senang melihat anak-anak itu. Semangat dan kecepatannya dalam menyesuaikan diri dengan situasi sangat tinggi.

Yang sangat menarik untuk dipelajari dari anak-anak ini adalah Fleksibilitasnya dalam bermain.

Anak-anak memilih untuk tetap bermain, walaupun jumlah pemain sangat tidak mencukupi. Tidak ada yang merasa keberatan jika harus melakukan tugas rangkap-rangkap, entah jadi keeper, bek, gelandang maupun penyerang, tidak masalah. Fleksibilitas membantu anak-anak bisa tetap bermain. Karena jika harus menunggu teman sejumlah 22 orang untuk bermain bola atau 11 untuk bermain Futsal tentu akan sulit. Bisa-bisa tidak jadi bermain.

Walaupun tidak sempurna, tetapi fleksibilitas juga membuat anak-anak belajar multi tasking dan memahami permainan dengan lebih baik. Anak-anak tidak hanya berlatih di satu posisi, tetapi juga di posisi lain.

Saya rasa dalam kehidupan orang dewasa, fleksibilitas seperti ini sesungguhnya juga sering dibutuhkan. Memahami situasi dan fleksible, mampu menyesuaikan dengan keadaan akan sangat membantu saat kita menghadapi kendala kehidupan, sehingga tidak harus membuat kita semakin terpuruk.

Hal yang menarik lagi adalah cara anak-anak bertengkar dan berbaikan kembali dengan cepat. Seolah-olah tidak mau membuang waktu untuk menyimpan amarah dan dendam. Ada hal lain yang mereka kejar dan anggap lebih penting dari sekedar bertengkar, yaitu kegembiraan, pertemanan dan kebersamaan.

Dunia kanak-kanak, dunia yang indah. Dunua yang fleksibel, tidak kaku dan tidak dicemari dengan amarah dan dendam.

SEGENGGAM DAUN KELOR.

Standard

Di sebuah Group Chat di WA, teman-teman saya sedang asyik mengobrol tentang Sate Kambing, dan tukang Sate Kambing yang sangat terkenal enak dekat kantor kami yang lama. Tentu banyak teman yang kangen dan memberikan emoticon ngiler . Tapi ada beberapa orang juga yang bilang nggak tertarik, karena emang nggak doyan daging kambing.

Saya termasuk salah satunya yang tidak ngiler. Selain memang tidak suka, kebetulan tekanan darah saya sedang terdeteksi terlalu tinggi. Tentunya Sate Kambing bukanlah pilihan yang tepat dalam keadaan seperti ini.

Teman-teman kaget mengetahui tekanan darah saya yang memang sedang tinggi-tingginya. Lalu pembicaraanpun beralih ke seputar  Hypertensi. Seorang teman memberi informasi bahwa daun Kelor membantu menurunkan tekanan darah.

Udah makan daun kelor, rebus 300 g, kasih bawang, makan pake sambel, 2 hari pagi siang sore, udah pasti turun.”

Oh ya?  Memang sering denger sih jika Daun Kelor ini bermanfaat. Bahkan kalau di Bali, tanaman ini dipercaya sebagai penolak niat jahat.  Tapi saya baru denger soal manfaat Daun Kelor ini untuk hypertensi. Wah…saya pengen banget nyobain, karena kebetulan saya juga suka rasa daun Kelor.  Tapi nyarinya di mana ya ?

Tidak ada dijual di tukang sayur. Dan saya juga tak punya pohonnya di halaman. Terus terang  ini adalah tanaman yang belum sukses saya tanam. Sudah pernah mencoba 3 x menanam  namun gagal terus. Bahkan pernah dikasih batangnya dari Bali oleh seorang adik sepupu, tetapi tetap saja tidak sukses tumbuh.

Seorang teman menyarankan membeli online saja. Seorang teman yang lain mengatakan jika ibunya pernah menanam pohon Kelor tapi sudah dicabutin Bapaknya. Ooh…sayang sekali. Tapi tak berapa lama teman saya itu japri, mengabarkan jika pohon Kelor di rumahnya masih ada. Dan ia ingin mengirimkan daunnya ke rumah serta minta alamat saya.

Esok paginya, daun -daun Kelor muda itu sampai di rumah saya. Cepet banget. Gratis pula. 

Sayapun memetik daunnya satu per satu, melepas dari tangkainya agar tidak keras saat dimakan. Sambil membersihkan daun Kelor ini saya terkenang akan teman-teman saya di Group Chat itu. Para sahabat yang sangat akrab, bagaikan saudara sendiri.

Para sahabat yang saya ajak dalam suka dan duka saat kami masih bekerja bersama dalam naungan perusahaan yang sama. Para sahabat saat menikmati masa muda, dan juga yang juga akan menua bersama saya. Para sahabat yang sangat peduli akan kesehatan saya, perhatian dan sangat sayang.

Sahabat yang selalu menjapri,
Daaannn…. semoga segera sembuh dan sehat kembali ya…
Jangan stress Dan. Paling gampang memicu tekanan darah. Coba meditasi. Sambil tiduran aja, atur napas. Insya Allah membantu. Aku bantu doa ya. Peluuukkk”.

Tanpa terasa air mata saya meleleh. Terharu dan bahagia berada diantara para sahabat yang peduli dan penyayang.

Daun Kelor mungkin bisa bisa saya dapatkan dengan cara lain. Mungkin bisa memesan dari tukang sayur, atau membeli online.Tetapi persahabatan dan kasih sayang adalah sesuatu yang sangat berharga, tidak bisa diperjualbelikan, dan tidak bisa didapatkan dengan mudah kecuali dengan ketulusan hati.

Saya menghapus air mata saya perlahan. Segenggam Daun Kelor ini sudah siap untuk dimasak Sayur Bening. Semoga menyembuhkan.

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya 😊.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia 😀😀😀.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.

Membuat Sendiri: Telor Asin.

Standard

Telor Asin!. Siapa yang suka telor asin?. Saya sering terpikir ingin membuat sendiri telor asin. Tapi belum pernah sempat belajar bagaimana cara membuatnya. Sungguh beruntung, ketika sedang ke pasar bersama, Mbak yang bekerja di rumah saya bercerita bahwa ia bisa membuat. Wah, pucuk dicinta ulam tiba!. Saya bisa belajar dari si Mbak.

Seketika saya membeli bahan -bahan yang dibutuhkan. Diantaranya 10 butir telor bebek, 1 bungkus abu bakar dan sebungkus garam dapur.

Ayo! Mari kita coba bikin.

1/. Cuci bersih telor bebek. Gunakan kawat cuci untuk menggosok permukaan telor agar benar benar bersih dan pori- pori cangkangnya terbuka dengan baik.

2/. Campur abu gosok dengan garam. Lalu tambahkan sedikit air. Aduk aduk agar garam merata dan membentuk adonan.

Error
This video doesn’t exist

3/. Balurkan adonan abu gosok asin ke sekeliling telor. Tempatkan pada talam atau box. Dan diamkan selama 2 minggu.

4/ . Setelah 2 minggu, telor asin bisa dipanen. Caranya dengan melepas baluran abu gosok dan mencucinya dengan air.

5/. Setelah telor bersih kembali, kita rebus sampai matang.

Lihatlah!. Kita sekarang memiliki telor asin dengan kwalitas yang bagus. Kuning telornya memerah dan berminyak, putih telornya menepung dengan baik. Tingkat rasa asin ditentukan oleh banyaknya jumlah garam yang kita campurkan ke dalam abu.

Nah… seandainya kita sedang nggak punya pekerjaan, mungkin membuat telor asin bisa kita jadikan salah satu usaha untuk mengais rejeki. Caranya gampang dan peralatan dan bahan bakunya juga sangat sederhana.

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.

Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Standard
Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Awal tahun ini saya ada di rumah ortu di Bangli. Mengetahui saya libur, kakak saya mengajak bermain ke Mahapraja, sebuah tempat wisata baru yang sedang naik daun di Bangli. Wow! Penasaran dong saya ya… apa itu Mahapraja dan di mana pula letaknya?. Ikuuuut…

Mahapraja, letaknya di Banjar Puraja, desa Peninjoan, kecamatan Tembuku – Bangli. Di Bali. Jadi kalau dari Bangli, kita mengarah ke timur menuju kecamatan Tembuku. Di Tembuku kita menuju arah timur laut dengan mengikuti jalan raya Besakih hingga ke desa Undisan. Nah dari desa Undisan lalu kita mengarah ke utara. Ketemulah desa Peninjoan, dan selanjutnya dari sana kita mencari Banjar Puraja dimana tempat wisata Mahapraja ini berlokasi.

Kami memarkir kendaraan tak jauh dari jalan raya, lalu menuju gerbang Mahapraja yang di kiri kanannya adalah kebun jeruk 🍊🍊🍊 yang sedang berbuah lebat. Jadi ngiler melihat buah buah segar bergelantungan di pohonnya yang rendah. Belakangan saya dengar, ternyata kita juga bisa berwisata memetik buah-buahan di kebun sekeliling Mahapraja. Bahkan buksn hanya jeruk lho… ada pepaya, manggis, salak, duren…Waah…tau gitu tentu saya sangat bersemangat ikut memetik-metik 😀.

Sebuah pintu gerbang dengan aling aling Ganesha menyambut kami di Mahapraja.

Mahapraja Br Puraja desa Peninjoan, Tembuku Bangli.

Ganesha sering ditempatkan sebagai aling aling dalam pekarangan rumah di Bali sebagai permohonan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai pelindung dari kesulitan dan masalah (Ganesha). Demikian juga di dekat pintu masuk Mahapraja. Sehingga dengan memasang Ganesha di pintu masuk, pemilik rumah mendoakan keselamatan bagi semua orang yang berkunjung ke tempat itu.

Dari Ganesha ini kita bisa langsung ke hamparan tanah luas berumput hijau segar yang tepinya menurun dibatasi oleh pohon pohon kayu 🌳🌳🌳 yang rindang dan sungai Puraja. Ada balai balai bambu tempat duduk dan bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Di seberangnya tampak hamparan rumput hijau yang cukup luas juga. Wow!. Tiba tiba seluruh tubuh, mata dan kepala terasa sangat segar. Sebuah tempat untuk me-recharge energy yang sangat menawan. Hijau royo royo🍃🍃🍃 dengan udara sejuk yang menyegarkan. Sangat tenang dan damai. Jauh dari keriuhan dan kepengapan kota. Beda banget dengan Jakarta.

Saya lihat ada 4 bungalow bambu sederhana beratap ilalang berjejer di sebelah kiri. Kayaknya asyik juga jika bisa menginap di sini menikmati suasana alam yang benar benar alami. Nanti deh…kalau dapat libur lagi saya pengen juga nginep di sini.

Mari kita lupakan sejenak kesibukan kota yang berbulan bulan menguras energy kita. Lupakan sejenak polusi dan kebisingannya. Duduklah di sini. Lepaskan kepenatan. Lupakan meeting dan target penjualan sejenak 😀. Dengarkan hanya suara angin dan nyanyian burung🐦🕊. Dan wangi rerumputan. Tidak ada TV dan kalau perlu nggak ada jaringan internet. Hanya ada kita dan alam. Sehingga kita benar-benar tahu yang artinya menyepi dan mengisi energy kembali dari kekosongan.

Melamun begitu sambil menyeruput es kelapa muda dengan jeruk nipis, saya pikir, cocoknya tempat ini bernama Mahapraja Hide Away saja he he 😊. Tempat melarikan diri dari kepenatan kota.

Ternyata selain untuk menyepi dan menikmati suasana alam, tempat ini adalah sebuah Camping Ground yang lumayan juga. Bisa digunakan untuk acara outing dengan daya tampung +/- 600 orang pengunjung. Kalau gitu bisa dipakai untuk perusahaan kelas menengah dengan jumlah karyawan 400 – 600 orang ya…

Saya diberi informasi jika ingin menginap, Mahapraja memiliki 58 tenda camping 🏕 dengan daya tampung max 4 orang/ tenda. Nanti kalau saya balik ke Jakarta, saya info deh perusahaan tempat saya bekerja, kali kali aja mau mengadakan acara outing di tempat ini *muka penuh harap 😀.

Fungsi lain lagi… ternyata di tepi sungai di bawah tempat ini juga digunakan untuk mereka yang senang bermeditasi. Saya nggak sempat turun ke sungai , mengingat gerimis turun dan saya lupa bawa payung. Jadi saya hanya sempat melongok tangga turunnya doang.

Hari itu saya melihat cukup banyak juga orang yang berkunjung. Rata rata membawa keluarganya. Suatu saat saya pengen juga mengajak anak saya ke sini.

Nah…. siapa yang mau ikuttt???.

Cuci Mata: Tas Renda Cantik Dari Yogyakarta.

Standard

Pikiran positive akan selalu menghasilkan hal yang positive“.

*****

Tas Crochet 7

Dalam perjalanan ke Yogyakarta, teman duduk di sebelah saya bercerita “Bu, sekarang yang lagi happening banget  di Yogyakarta itu tas renda, Bu. Nanti kalau ada waktu saya pengen mampir melihat-lihat tas untuk istri saya” katanya.  Sebagai seorang penggemar karya-karya kerajinan crochet, saya jadi tertarik untuk mengekor teman saya itu ikut melihat-lihat tas crochet yang dimaksud.  Lebih baik petang ini saja selagi bukan jam kantor. Akhirnya berangkatlah kami menuju workshopnya di Jl Deresan I no 5, Yogyakarta.

Wah.. senangnya berkunjung ke workshop itu ya seperti ini. Ada banyak produk yang baru saja selesai atau bahkan yang masih belum jadi.  Berbagai macam model. Ada  yang bentuknya persegi, ada yang seperti box, ada yang setengah lingkaran. Ada yang tali panjang, tali pendek. Ada yang besar ada yang kecil. Berbagai macam warna. Ada yang hitam,  coklat tua, beige, biru, hijau,ungu, belang-belang dan sebagainya. Demikian juga motif crochet-nya. Berbagai rupa.  Whuaaa!!!! Saya senang sekali. Dan pastinya… harganya pun lebih miring dibanding jiia kita beli di boutique resmi  di hotel.

Saya sendiri tertarik untuk membeli tas yang modelnya lebih firm, dengan rusuk-rusuk yang kuat. Sudah ketemu sih sebenarnya. Ada 2-3 alternative dan sudah sempat saya foto-foto. Tetapi kemudian ketika melihat tas lain dengan lapis dalam berbahan suede, entah kenapa saya jadi mulai galau dan bingung memilih. Kadang-kadang kalau kebanyakan pilihan, kita malah jadi bingung sendiri. Semuanya bagus. Ha ha..

Dibalik semua karya-karya crochet yang bagus itu, sebenarnya saya lebih tertarik lagi dengan semangat dua orang wanita dibalik brand tas crochet yang bernama TULIP ini, yaitu Mbak Linda dan Mbak Tutut.   Kebetulan keduanya saat itu sedang ada di workshop. Jadi kesempatan banget deh buat saya ngobrol dengan mereka berdua.

Mbak Tutut & Mbak Linda dari TULIP tas rajut

Saya baru tahu kalau ternyata nama TULIP itu sendiri adalah gabungan nama dari 2 orang wanita kreatif itu, yakni singkatan dari “TUtut & LInda Production”.  Owalaaa….keren banget!.

Saya jadi penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa memulai bisnisnya berdua?

Mbak Linda bercerita kalau pada awalnya mereka adalah Ibu Rumah Tangga biasa yang berteman gara-gara bertemu saat mengantar dan menunggu anak-anak mereka di Sekolah. Dari sini mereka menjadi bersahabat. Daripada mengisi waktu dengan ngerumpi yang kurang produktif atau menjadikan pertemuan ibu-ibu sebagai ajang pamer kekayaan, mereka memutuskan untuk mengisi persahabatannya dengan sesuatu yang positive. Merekapun mulai membuat batik  dan menggunakannya sendiri. Eh..ternyata para ibu-ibu yang lain pada menyukainya dan memesan. Lalu selanjutnya mereka mencoba membuat tas. Ibu-Ibu yang lainpun menyukainya juga. Lalu rame-rame memesan. Demikian seterusnya mereka memproduksi tas rajut/renda dan dompet, selain juga tas/dompet yang berbahan kulit dan berbahan kain batik.  Memasarkannya dari mulut ke mulut. Bahkan ketika anak-anak sudah tidak sekolah lagi di sana, mereka meneruskan kegiatannya dan mendirikan usaha dengan merk TULIP ini. Wah…luarbiasa!. Positive banget.  Saya sangat terkesan.

Lalu apa bedanya dengan tas rajut merk lain yang ada di kota itu? Mereka memiliki koleksi dengan design -design bagus yang mereka rancang sendiri. Bahkan saat saya di sana, saya juga dipersilakan misalnya jika ingin memesan dengan motif yang begini tapi design yang begitu juga boleh (tentunya perlu beberapa hari ya untuk mengerjakannya). Mereka juga menyediakan tas-tas dengan handle berbahan kulit asli dengan lapisan dalam suede yang berbeda dengan pengrajin lainnya  karena kebanyakan pengrajin menggunakan bahan plastik sebagai handle-nya.

 

Yang jelas, karya ke dua Ibu-Ibu muda ini telah berhasil memperkaya kota Yogyakarta dengan memberikan option lain bagi pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh ataupun kerajinan khas Yogyakarta yang bermutu bagus, selain batik, gudeg, bakpia ataupun wingko.  Dan tentunya itu sangat penting bagi kota Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Saya rasa apa yang dilakukan oleh kedua wanita ini juga bisa memberi inspirasi bagi kita, para wanita agar lebih positive dalam menjalani hidup. Lebih kreatif dan tentunya lebih produktif.

Yuk kita main ke Yogyakarta! Banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan nikmati di sini.