Tag Archives: Inspiration

Lupa.

Standard

Sebulan ini kesibukan saya agak meningkat. Pasalnya ada meeting penting yang harus kami jalani berturut turut selama 3 hari. Sementara minggu sebelumnya juga sangat banyak agenda, sehingga saya agak keteteran. Beberapa presentasi yg disiapkan team saya last minute belum sempat saya periksa.

Di tengah serunya meeting, seorang teman yg duduk di sebelah saya berkata” Bu, jangan lupa nanti kalau ibu sudah sempat, tolong periksain presentasi saya ya Bu. Mohon masukan kali-kali ada yang perlu direvisi, ditambahkan atau dikurangi”. Teman saya ini akan presentasi esok hari pukul 9 pagi.

Ya. Nanti malam ya. Setelah pulang kerja” jawab saya. Teman saya mengangguk setuju. Ya lah. Nanti saja. Sekarang kan lagi di tengah meeting. Tentu tak sopan jika saya mengoprek material lain di luar yang dididkusikan di meeting.

Sepulang kerja, saya makan, beresin sedikit urusan anak, rumah dan dapur, lalu mandi. Setelah itu barulah saya membuka laptop. Membuka email. Saya mau memeriksa presentasi teman saya. Tapi oh….ternyata belum masuk. “Mungkin dia sedang makan malam, jadi belum sempat ngirim ” pikir saya. Sementara menunggu email masuk, sayapun mengerjakan hal lain.

Beberapa saat kemudian saya check email lagi. Belum masuk juga. “Ooh…mungkin masih dikerjakan“, pikir saya. Saya menunggu dengan sabar.

Setelah 3 – 4 kali melihat dan tetap belum ada email yang masuk, lalu saya mengirim pesan kepada teman saya melalui Whatsap. Menanyakan kepadanya mengapa presentasinya belum dikirim?. Kalau belum dikirim bagaimana saya bisa menerima?๐Ÿ˜€ Dan jika belum saya terima bagaimana cara daya mereview?.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Teman saya tidak membalas WA saya. Saya tunggu beberapa saat, ternyata belum dibaca juga pesan saya. Waduuuh…jangan jangan dia sudah tidur. Saya baru nyadar ternyata ini sudah tengah malam. Lewat jam 12 malam.

Ah…mungkin saja ia masih memperbaiki presentasinya. Jadi belum sempat membaca pesan saya. Saya mencoba berpikir positive.

Beberapa saat kemudian, jarum jam di dinding melewati angka satu. Saya memeriksa email dan WA. Tak ada tanda tanda kalau teman saya itu masih terjaga, mengerjakan dan akan segera mengirimkan presentasinya ke saya. Ingin menelpon, tapi rasanya nggak sopan banget ya nelpon malam malam begini. Lagipula seandainya dia sudah tidur kan kasian juga dibangunin. Ah.. biarlah. Besok pagi tentu dia sudah membuka pesan di WA dan pasti akan mengirimkan filenya ke saya. Dua anak tang baik dan biasanya rajin.

Mendekati pukul setengah dua malam, akhirnya saya tinggal tidur.

Tapi saya percaya teman saya itu sudah mempersiapkan presentasinya dengan kualitas content yang baik. Dan ia juga sangat percaya diri membawakannya.

Esok paginya, usai mempersiapkan bekal makanan untuk anak saya, mandi dan sarapan saya membuka laptop saya lagi. Ngecheck barangkali email teman saya sudah masuk. Eh.. ternyata belum juga!. Waduuuh…bagaimana ini???.

Sambil mengunyah sarapan tiba tiba saya teringat….

Oooh, bukankah teman saya sudah memberikan file presentasinya kepada saya lewat flash disc? Dan saya sudah mengcopy-nya ke laptop saya? .

Astaga!!!!. Pantesan emailnya saya tunggu berjam-jam sampai begadang tiada kunjung tiba ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Di mana kesalahannya ini???. Waduuuh… faktor U!!!.

**************

Faktor U alias faktor umur yang makin meningkat seringkali dijadikan kambing hitam atas berbagai kejadian yang berkaitan dengan lupa atau pikun.

Tapi sebenarnya jika mau mengakui, bahwa sebenarnya di luar faktor U juga ada masalah lain yang menjadi penyebabnya yang perlu diberikan perhatian dan diperbaiki ke depannya.

Seringkali itu berurusan dengan cara kita memberi perhatian terhadap apa yang kita lakukan setiap saat. Lupa disebabkan karena kita tidak meletakkan perhatian yang penuh terhadap apa yang kita kerjakan. Hanya sepintas lalu. Tidak sepenuh pikiran. Sehingga ingatan kitapun tak mampu menahan kejadian itu. Ia menguap dan berlalu begitu saja dengan cepat.

Itulah lupa. Saat memory tak bertahan lagi di sel-sel ingatan kita.

Saya tidak menaruh perhatian pada saat teman saya memberikan flash disc-nya ke saya, karena perhatian saya sedang tertuju penuh ke layar saat itu. Dan saat mengcopy filenya pun saya lakukan sambil pikiran saya sibuk dengan presentasi yang sedang berlangsung. Sehingga kejadian itu tidak terekam dengan baik dalam ingatan saya.

Itulah barangkali sebabnya, mengapa kita diminta agar selalu tetap fokus fokus dan fokus akan apapun yang sedang kita kerjakan. Sehingga kita selalu menyadari dengan baik apapun yang kita lakukan. Dan seterusnya memory kita bisa menyimpannya dengan baik.

Selamat pagi teman teman pembaca!.

Advertisements

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku buku๐Ÿ“š, laptop ๐Ÿ–ฒdan gitar๐ŸŽธ di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? ๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah ๐Ÿ˜ƒ. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?๐Ÿ˜” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??๐Ÿ˜€.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Bakpia Yang Tak Utuh.

Standard

Suatu kali, di tengah malam saya merasa agak lapar. Mau makan buah melon dan mangga potong yang ada di kulkas, tapi rasanya kok perut saya agak dingin ya. Jadi saya mencari alternatif lain.

Nah… ketemu box kertas bakpia pathok. Walaupun disimpan di kulkas juga, mungkin yang ini bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena tak berair.

Saya ambil box bakpia itu. Berharap masih ada 1-2 buah isinya yang tersisa. Tidak dihabiskan oleh anak-anak. Lalu saya buka. Astaga!!!. Betapa terkejutnya saya melihat isinya.

Bakpia tidak utuh dan kelihatan seperti bekas gigitan lalu dimasukan kembali ke dalam box. Tidak bundar seperti seharusnya. Sebagian tak beraturan, sebagian mirip bulan sabit๐Ÿ™„๐Ÿ™„๐Ÿ™„

Aduuuh… siapakah yang melakukan perbuatan ini?. Iseng banget. Mungkinkah anak-anak? Tapi mengapa mereka melakukan hal konyol ini? Sekarang mereka sudah besar-besar, sudah tumbuh remaja. Masak begitu ya?. Kalau dulu waktu masih play group mereka begitu saya mungkin bisa mengerti. Tapi kalau sekarang? Hadeuuuh…

Saya tidak bertanya apa-apa karena kedua anak saya sudah tidur nyenyak. Sayapun lalu ikut tidur.

Esok paginya saya bertanya kepada anak saya mengapa ada bakpia yang terpotong potong bekas tergigit dimasukkan kembali ke dalam boxnya di kulkas? The moon crescent cake?.

Anak saya yang kecil segera mengatakan tidak. Bukan ia pelakunya. Dan ia juga ikut heran, mengapa ada kue bekas gigitan disimpan kembali di kulkas.

Lalu anak saya yang besar keluar dari kamar. “The explanation is….” katanya

Sebelumnya ada semut yang masuk ke dalam box bakpia itu. Untuk memastikan kalau semutnya tidak menginvestasi ke dalam kue, jadinya kuenya kupecah pecah. Aku periksain satu per satu. Tapi karena semutnya nggak ada, kupikir kuenya masih bisa dimakan. Jadi, kumasukkanlah lagi ke dalam box dan kutaruh di kulkas” kata anak saya.

Oalah…๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€. Jadi itu ya penjelasan tentang kue terpotong-potong itu. Ya…masuk akal juga sih. Tapi tanpa penjelasan itu tentu tak seorangpun mau memakan potongan-potongan kue itu karena menyangka itu kue bekas gigitan. Untung saja kue itu tidak saya buang ke tong sampah semalam.

Ya ya!. Memahami keseluruhan permasalahan itu sangat penting gunanya agar kita tidak salah mengambil kesimpulan dan tidak salah mengambil tindakan.

Kayanya sering terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari ya? Seringkali kita melihat sesuatu, agak aneh menurut pandangan kita. Tanpa bertanya, entah karena enggan, malu atau tidak tahu bagaimana caranya bertanya atau kepada siapa bertanya, kita jadi cenderung menduga-duga sendiri apa yang terjadi.

Walaupun ketika kita tahu keseluruhan ceritanya, ternyata sangat jauh dari apa yang kita pikirkan atau sangkakan sebelumnya.

Kita jadi sering under-estimate orang lain atau over-estimate orang lain. Kadang berburuk sangka pada hal yang sebenarnya baik. Atau kebalikannya, terlalu berbaik sangka pada apa yang terlihat sangat indah padahal sebenarnya banyak motivasi buruk dibaliknya.

Selamat hari Minggu siang, teman-teman semuanya.

Panahan: Antara Logika & Rasa.

Standard

Kembali lagi ke lapangan Panahan bersama 2 anak saya. Memberi kesempatan tubuh untuk terpapar penuh oleh sinar matahari. Kali ini tanpa Pak Heydar yang bisa saya temui untuk berkisah lagi tentang Leadership. Rupanya beliau sedang sibuk memberikan pelatihan di tempat lain.

Setelah 2 minggu sebelumnya saya hanya menjadi penonton, pemantau dan pendengar, sekarang saya memutuskan untuk maju selangkah. Mencoba!. Jadi status saya naik ya dari pasif menjadi aktif๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Saya menemui Pak Azmi dan ditemani Mas Ido. Jadi bagaimana caranya untuk memulai?.

Pertama, kata Mas Ido saya harus memakai pelindung lengan bawah. Maksudnya agar nggak kejepret tali busur. Bisa merah. Saya menurut.

Lalu Mas Ido memberikan saya busur ukuran 18. Katanya yang ukurannya kecil dan enteng. Untuk wanita. Jadi tidak sama dengan yang diberikan ke anak-anak saya yaitu ukuran 22 dan 20 yg jauh lebih besar dan berat. Baiklah. Saya akan coba.

Berikutnya saya diberitahu bagaimana caranya memegang busur dengan tangan kiri dan posisi genggamannya. “Genggaman harus kuat tapi tak perlu kaku atau terlalu erat”. Mas Ido menunjukkan busur yang terpegang dengan baik, sudah pasti tidak akan jatuh, tetapi tidak erat, jadi busur masih bisa bergoyang sesuai situasi. Lalu menempatkan anak panah dan menarik tali busur.

Gunakan 3 jari (telunjuk, jari tengah, jari manis) yang diposisikan sedemikian rupa di tengah di dekat pangkal anak panah dengan jari tertekuk di ruas pertama. Lengan kanan ditarik ke belakang melalui bawah dagu dan ujung siku tarik ke atas. Tangan saya rasanya gemetar… dan busur bergoyang hebat. Tahan kurang lebih selama 3 detik daaan…. lepasss!!!!.

Whua… anak panahnya nyungsep di bawah kotak sasaran. Gagal!.๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ

Ternyata keras juga ya. Cukup terasa berat bagi saya untuk menarik tali busur itu kuat-kuat sehingga busurnya bergoyang. Mas Ido melihat kondisi itu, lalu mencarikan saya busur yang lebih kecil. Bentangan busur saya terlalu lemah rupanya. “Nggak apa-apa. Ibu baru pertama kali. Mungkin juga karena jarang olah raga ya?. Nanti kalau sering latihan juga akan kuat” katanya menghibur.

Saya lalu mencoba busur yang lebih kecil dan yang lebih enteng. Busur untuk anak-anak ๐Ÿ˜€. Waduuh… antara rasa senang dan sedih rasanya. Senang karena akan memulai dengan yang “mungkin” terlebih dahulu, sehingga saya bisa berpikir lebih positive karena saya melihat ada harapan di sana. Tapi sedihnya ketika menyadari dan mengakui bahwa betapa lemahnya tubuh saya saat ini. Salah satunya karena jarang berolah raga. Kesalahan saya sendiri juga.

Masak setua ini bisanya hanya menggunakan busur ukuran anak kecil sih ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข.

Tapi baiklah, demi kesuksesan ke depannya mari kita lupakan bagian yang menyedihkannya itu. Kita hanya ingat bagian yang memberi harapannya saja ya ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Singkat cerita, berlatih lah saya hari itu. Belum sekalipun saya sukses bisa membidik titik kuning tepat di bagian tengah sasaran. Biro boro lingkaran kuning, anak panah saya bahkan kerap kali melayang di atas papan sasaran atau nyungsep sekalian di bawahnya.

Masalah yang lain adalah, Mas Ido mengatakan teknik saya membidik belum benar. Posisi tubuh saya dan tarikan tangan kanan saya belum benar. Objectivenya bukan hanya sekedar berhasil membidik yang kuning. Tapi bagaiman membidik yang kuning dengan cara yang tepat dan benar.

Semakin saya mencoba membidik yang kuning, kok malah semakin meleset ya. Padahal saya sudah letakkan pandangan saya baik-baik pada ujung mata panah dan saya arahkan ke titik kuning itu.

Turunkan lagi Bu, turunkan lagi”. Waduuh!. ???????. Kok diturunkan terus ya? Padahal jelas jelas terlihat ujung panah itu mengarah jauh di bawah titik kuning. Tapi sudahlah… tanpa nendebat sayapun menurunkan bidikan saya dan…lepasss!!. Hasilnya? Jauh di atas titik kuning dan miring pula ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€.

Kenapa bisa begitu ya? Saya menggaruk garuk kepala saya yang tak gatal. Penjelasannya adalah karena letak mata kita lebih tinggi dari titik sasaran. Jafi logikanya, tangan harus kita turunkan. O ya? Tapi kan saya sudah menurunkan posisi tangan agar ujung anak panah mengarah ke bawah titik kuning itu? Rasanya kok nggak masuk akal ya. Saya coba berkali kali lagi dan hasilnya gagal maning, gagal maning.

Akhirnya saya kira-kirain saja. Dan ajaibnya, kalau nggak pakai teori dan hanya memakai feeling kok malah semakin dekat dengan titik sasaran. Walaupun tidak tepat di titik kuning, tetapi paling tidak, beberapa kali akhirnya saya berhasil menancapkan anak panah di lingkaran merah. Sudah mendekati sasaran. Lumayan. Better daripada yang tadi.

Anak-anak saya yang keduanya telah berhasil membidik lingkaran kuning sebanyak 4-5 x mendekati saya dan memberi dukungan. “Mama! Ayo lepas! jangan ragu-ragu!“.

Jadi panahan ini rupanya membutuhkan kombinasi logika dan feeling. Barangkali logika yang dibungkus oleh rasa sebagai persepsi tubuh atas apa yang tertangkap oleh panca indera kita. Rasa yang menyangkut genggaman tangan kita pada busur panah, bentangan tali busur, tentang jarak sasaran, arah ujung anak panah, kekuatan tangan kita dan lain sebagainya. Dibutuhkan rasa yang lebih menyatu dengan busur dan anak panah itu sendiri. Seorang pemanah tidaklah boleh menjadi “stranger” bagi busur dan anak panahnya sendiri.

Sampai di titik ini saya belum berhadil. Saya masih ingin terus berlatih.

Selamat Tahun Baru 2017.

Standard

โ€‹Tahun berganti lagi. Tak terasa kita sudah berada di tahun 2017. Saya sendiri tidak kemana-mana. Hanya di rumah bersama anak-anak. Tidak ada kembang api dan tidak ada perayaan apapun. Awalnya sih niat mau bakar-bakar jagung, dan sudah beli pula jagung dan arangnya. Tapi berhubung tidak ada yang berminat, akhirnya batal juga. Semuanya memilih kegiatannya masing masing. Ada yang kembali ke laptop, bermain games, leyeh-leyeh dan ada juga yang masih ngotot nggak mau diganggu  dengan prakaryanya. 

Tapi bagi saya tidak apa-apa juga. Karena menurut saya,  for the best benefits, melakukan sesuatu itu harus dengan hati senang. Saya sendiri sempat tertidur hingga anak saya masuk membuka pintu kamar  dan berujar “mommy… happy new year” katanya melihat saya terbangun. Rupanya tepat jam 12.00 malam. 

Sayapun duduk dan tiba -tiba terpikir. Ini sudah masuk tahun 2017. Dan sangat bersyukur saya ada di sini. Berarti saya masih diberi kesempatan hidup guna memperbaiki perbuatan saya. Mendadak pikiran saya jadi melayang kemana-mana. 

Jika setiap tahun baru kita anggap sebagai sebuah milestone alias tonggak kilometer seperti yang ada di pinggir jalan,  maka ini adalah milestones yang ke 52 yang pernah saya lalui. Lumayan sudah agak panjang juga ya perjalanan saya? Walau tentu jawabannya relatif. Karena sebenarnya tak pernahlah kita tahu berapa banyak milestones lagi yang akan kita lalui hingga akhirnya menemui batas akhir perjalanan hidup ini. Ketika maut menjemput dan membawa kita kembali kepadaNya. Mungkin saja hanya  tinggal sedikit lagi, atau mungkin juga masih sangat panjang atau bahkan lebih panjang dari apa yang telah kita lewati. Who knows? 

Walau jumlah milestones yang di sisa perjalanan mungkin berbeda,  namun semua kehidupan tujuan akhirnya adalah sama yakni kembali kepada Sang Maha Pencipta. Menyatu kembali kepadaNya.  Dumogi amor ring Acintya -semoga kembali kepada Ia Yang Maha Tak Terpikirkan -demikian orang Bali biasanya berkata.

Jika tujuan akhirnya ujung-ujungnya sama dan jelas, maka yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita bisa membuat perjalanan dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas?. Berkwalitas maksud saya disini adalah perjalanan hidup yang  lebih bahagia dan yang menurut kita lebih bermakna. 

Ada yang merasa bahagia ketika sebagian besar hasrat indra fisiknya terpenuhi.Memiliki sesuatu yang indah untuk dilihat dan didengar, sesuatu yang wangi untuk dicium, sesuatu yang enak untuk dirasakan dan  sesuatu yang nyaman untuk disentuh. Yang kemudian diterjemahkan sebagai hasrat makan, hasrat untuk minum, hasrat sexual dan sebagainya.

Ada  yang merasa bahagia ketika mampu meningkatkan strata sosialnya dengan mengumpulkan dan membangun kekayaan materi dan kekuasaan. Entah semata untuk dirinya atau juga sebagian untuk menyenangkan keluarganya atau orang lain. 

Ada juga yang merasa bahagia ketika setiap saat mampu tetap melangkah di jalan dharma. Selalu bisa berbuat baik  dan membantu sesama mahluk ciptaanNYa. 

Dan ada lagi yang merasa bahagia dalam pencarian makna hidup dan spiritual dalam perjalanannya untuk kembali kepadaNya. 

Walaupun pada kenyataannya mungkin ada orang yang kebahagiaannya lebih ditrigger oleh hanya salah satu aspek saja, sementara  aspek yang lain tak mampu membuatnya tergetar, namun sesungguhnya kebahagiaan yang dipicu oleh pemenuhan hasrat duniawi dan materi  sifatnya hanya sesaat dan tidak kekal.  Sementara kebahagiaan yang ditrigger oleh pemenuhan diri dalam menjalankan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama mahluk ciptaanNya serta dalam upaya mendekatkan diri kepadaNYa selalu lebih long last dan abadi. 

Di sinilah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa mencapai kebahagiaan yang lebih kekal atau sedikitnya mem”balanced” kebahagiaan itu sehingga setiap saat dalam perjalanan kita dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas. 

Selamat tahun baru 2017!.

Spirit of Wipro Run 2016: Jakarta

Standard

โ€‹Musim berlari telah tiba. Musim bagi karyawan Wipro dan keluarga atau teman-temannya untuk ikut dalam event tahunan  Spirit of Wipro Run 2016  yang diadakan pada tanggal 25 September ini serentak di berbagai kota di seluruh dunia antara lain Bangalore, Ottawa, Bucharest, Istambul, Dubai, Pittsburgh, Adelaide, Singapore, Kuala lumpur dan sebagainya. Sementara di Indonesia sendiri Wipro Run diadakan di Jakarta dan Salatiga. Rasanya takjub juga nemikirkan itu. Bayangkan, ada sedemikian banyak orang berlari (karyawan Wipro plus keluarga dan teman-temannya), di sejumlah kota (saya hitung ada 110 kota) seperti yang diprint di bagian punggung  kaos di bawah ini, semuanya berlari  tanpa memandang suku bangsanya, agamanya, gendernya, pangkat dan jabatannya. Semuanya berlari bersama-sama pada tanggal yang sama. As one!.

โ€‹โ€‹Di Jakarta, acara Wipro Run diadakan di Taman Mini Indonesia Indah dengan mengambil anjungan Taman Budaya Tionghoa sebagai pangkalan berangkat dan garis finish. Lumayan 5 km. 

โ€‹Acara berlari dimulai dari pukul 7.00 pagi dibuka oleh Mr. Neeraj Khatri, President Director dari PT Unza Vitalis -salah satu perusahaan dari group Wipro yang ada di Indonesia. Saya tidak mendapatkan jumlah pasti pesertanya, tepi saya duga di Jakarta diikuti oleh sekitar 700 orang, dan di Salatiga sekitar 750 orang. 

โ€‹Di Jakarta, lari dilakukan dengan jarak 5 km. Ditempuh  dengan melalui 3 check point. Di setiap check point disediakan minuman dan gelang Wipro Run 2016 berbeda warna. Jadi agar bisa sah berlari kita harus melewati ke tiga check point itu dan mengumpulkan ketiga gelang dari setiap  Check point yang berbeda. 

โ€‹Sebagai salah seorang Wiproite (karyawan dari group perusahaan Wipro) bangga dong ya saya bisa ikut menjadi pesertanya dan berhasil mencapai garis finish * walaupun barangkali tiba dengan nomer terakhir.. ha ha. 

Tak apa… Dengan keterbatasan kondisi kaki yang saya miliki (bekas keseleo beberapa tahun lalu yang kambuh lagi dan kambuh lagi), memang awalnya membuat saya ragu untuk ikut. Tapi mengingat bahwa moment ini hanya datang setahun sekali maka saya putuskan untuk mencoba dulu lah. Saya pikir seandainya ada hal buruk terjadi pada kaki saya, nanti saya akan berhenti. Anak saya yang besar agak kurang setuju dengan apa yang saya rencanakan dengan menganggap saya agak ambisius menempuh jarak 5km dengan kondisi kaki seperti ini. Saya hanya tersenyum dan menunjuk tajuk dari Wipro Run tahun ini yang tertera di kaosnya “Powered by ambition”. Anak saya tertawa. Dia sudah hapal betul dengan kekerasan kepala ibunya. Ia pun seperti biasa akhirnya  menemani saya juga. Sementara anak saya yang kecil sudah melesat  lari di depan bersama papanya. Anak saya yang besar berlari (eh…kebanyakan berjalannya deh..) di sebelah saya sambil sesekali bertanya. “Mom, are you ok?”. Atau.. “Ayo Mam, istirahat sebentar. Don‘t push yourself!”. Saya pun mengikuti kata katanya. Jika terasa lelah dan kaki saya sakit, maka saya berhenti sejenak. Sambil melihat-lihat ke sekitar. Inilah untungnya mengadakan acara ini di Taman Mini Indonesia Indah. Sambil berlari atau berjalan, kita bisa melihat bagian depan anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Mulai dari anjungan yang paling dekat dari garis start yaitu anjungan Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan seterusnya anjungan-anjungan daerah lain seluruh Nusantara. Sungguh indah dan mengagumkan melihat arsitek dan lambang-lambang budayanya yang beraneka ragam itu. Rasanya ingin masuk ke setiap anjungan itu lagi (terakhir saya masuk ke semua anjungan-anjungan itu sekitar 33 tahun yang lalu. Setelah itu saya hanya pernah beberapa kali masuk ke anjungan Bali saja -karena kebetulan ada perlu. Dan satu dua dari anjungan daerah lain yang ada). Alangkah kayanya Indonesia. 

โ€‹Juga ada berbagai macam tempat ibadah dari agama-agama yang diakui di Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangeruwa”. 

Check point demi check point saya lalui. Tentu dengan kelelahan dan kehausan.  Serta rasa panas dan sakit yang terasa neningkat di dekat pergelangan kaki kiri. 4 km lagi jarak yang harus saya tempuh. Kemudian 3 km lagi. Dua kilo meter lagi. Semakin dekat. 

โ€‹Seorang petugas  yang rupanya melihat saya sangat kelelahan, menawarkan apakah saya masih sanggup berjalan melalui jalur yang seharusnya atau menyerah. Karena di sana ada jalan pintas menuju Taman Budaya Tionghoa.

Saya pikir tinggal 1.5 km lagi. Saya tidak mau menyerah di titik ini. Tanggung!. Walau kaki semakin sakit, tapi saya harus makin semangat. Akhirnya tibalah saya di check point 3. Menerima gelang merah. Dan setelah itu….tiba di titik 1 km lagi.

Bukti saya melewati check point 3 dan 1 km to go.

โ€‹Selfie dulu ah… Siapa tahu ada yang mempertanyakan. Benarkah saya bisa sampai di titik ini..ha ha.  

Saya berjalan pelan-pelan. Kali ini kaki saya rasanya sudah mau copot. Tak terperikan sakitnya di bagian yang pernah keseleo dulu itu. Anak saya sangat mengkhawatirkan saya, tapi ia terus mendukung saya. Ia tertawa bagaimana saya berkeras dengan ambisi saya agar bisa mencapai garis finish di jalur yang benar dan tanpa bantuan. 

Anak saya yang besar yang selalu mendukung dan nendampingi saya “berlari”.Big thanks, son!.

โ€‹Beberapa saat kemudian sayapun mencapai garis FINISH. Horee!. 

Setiba di sana. Rupanya pengumuman pemenang sudah mulai dibacakan. Pemenang untuk karyawan wanita, karyawan pria, peserta non karyawan pria, non karyawan wanita dan peserta anak-anak pria dan wanita. Ketahuan kan…betapa terlambatnya saya tiba di garis finish? 

Ya. Yang jelas dan pasti, tidak mungkinlah saya yang menjadi juaranya. Pasti para pelari-pekari sejati itu yang akan naik ke panggung, menerima medali, penghargaan dan hadiah. 

Tapi saya pikir saya juga telah memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri. Saya telah menang bertarung dengan rasa malas dan rasa mengasihani diri sendiri dengan alasan kaki sakit akibat bekas keseleo. Saya telah berjuang melawan rasa enggan itu. Rasa menyerah sebelum bertarung. Dan saya berhasil membuktikan, rasa sakit yang terjadi itu sebenarnya tidak sebesar apa yang saya bayangkan sebelumnya.  Saya berhasil menembus batasan yang ada di kepala saya. The excellence emerges when you exceed your limit

Nah..itulah yang membuat Wipro Run ini berbeda dengan tahun yang sebelum-sebelumnya. Selain itu, kali ini Spirit of Wipro Run juga ikut berpartisipasi mendukung Sahabat Anak dengan mengajak karyawan dan keluarganya menyumbang (uang, buku bekas atau mainan anak) agar bisa membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah. 

Senang sekali kali ini. Saya mencari tempat duduk untuk berteduh. Dan lamat-lamat saya memandang ke depan…eh… ada anak saya yang kecil sedang berdiri di antara 5 orang pemenang yang di atas panggung itu.  

Anak saya yang kecil. Lumayan menerima hadiah sebagai pemenang Wipro Run. Walaupun nomer 5.

โ€‹Rupanya ia menang dalam berlari, walaupun  nomer 5. Lumayanlah. Bangga dong ibunya. 

You’ve Broken My Heart…

Standard

โ€‹โ€‹โ€‹Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

โ€‹โ€‹Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. โ€‹Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

โ€‹

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

โ€‹

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

โ€‹Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

โ€‹Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

โ€‹Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa.ย 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

โ€‹Kerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

โ€‹Berkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.