Tag Archives: Inspiration

SEGELAS AIR PUTIH.

Standard

Belakangan ini, matahari bersinar sangat terik setiap hari di Jabodetabek. Membuat jadi malas keluar rumah.

Ingin membersihkan daun-daun teratai yang menguning di halaman depan, rasanya kok malas sekali. Pipi rasanya gosong. Demikian juga saat ingin membereskan tanaman kailan yang menua di instalasi hidroponik, rasanya juga malas banget. Mau masak malas, mau cuci piring apalagi.

Seandainya saja ada Kompetisi Kemalasan Nasional dan misalnya saya jadi pemenangnya, barangkali untuk mengambil pialanya saja pun saya enggan, saking malasnya 😀. Sungguh. Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Sungguh sinar matahari ini sangat terik dan membuat lelah.

Terlebih ketika saya merasa kurang enak badan, kepala belakang sedikit nyeri dan nggak nyaman. Kebetulan libur, jadi saya hanya berbaring saja di tempat tidur. Leyeh-leyeh saja. Sambil lihat-lihat Sosmed dan chat di WA.

Pas lagi bermalas-malasan begitu, seorang teman melemparkan ide di chat, untuk menggunakan hiasan topi papua – ikat kepala cantik yg dibuat dari bulu-bulu unggas saat besoknya mau ikut lomba 17 Agustusan. Wah… saya pikir idenya boleh juga ini.

Seketika saya melakukan searching topi papua dan menemukan sebuah toko yang menjual dan bisa mendeliver dengan cepat. Okay, saya setuju untuk membayar lebih agar bisa terdeliver hari ini. Lokasinya di Bekasi. Saya menyelesaikan pembayaran dengan cepat dan yes!. Tinggal tunggu barangnya datang.

Beberapa jam kemudian, seseorang mengetok pintu depan. Saya mengintip dari jendela. Rupanya seorang pria dari bagian pengiriman mengantarkan topi bulu yang saya order.

Buru-buru saya mengenakan masker, lalu keluar dan meminta pria itu meletakkan barang orderan saya itu di salah satu kursi di teras depan. Saya berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya. Buat jaga-jaga saja, mengingat saya ini penyandang co-morbid dan belum divaksin pula. Tak pernah ada yang tahu, secepat apa penularan bisa terjadi dan bisa saja dari orang-orang yang tak menunjukkan gejala yang sempat kontak dengan kita.

Pria itupun meletakkan barang itu seperti permintaan saya. Maksud saya, nanti setelah ia pergi, pembungkus barangnya akan saya semprot dulu dengan Maxkleen disinfectant spray, barulah akan saya buka.

Saya mengucapkan terimakasih. Tetapi pria itu tampak terdiam di dekat pagar.
Saya menunggunya pergi. Beberapa saat ia hanya terdiam. Sayapun ikut terdiam.

Tetapi saya memperhatikan wajahnya. Tampak pucat. Keringat bercucuran di dahi dan lehernya. Kelihatannya ia kurang sehat. Tangannya agak gemetar.

“Ibu, boleh saya minta air putih” katanya agak tersendat.

Ooh… orang ini kayaknya mengalami dehidrasi. Mengapa saya tidak sensitive dari tadi ya. Bukannya menawarkan minum, malah menunggu sampai orang itu meminta. Betapa tidak pekanya saya ini.

Seperti diingatkan, saya buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil air putih. Lalu menyodorkan kepadanya. Ia meminumnya dengan gemetar. Saya merasa trenyuh melihatnya.

Ia pun bercerita tentang perjalanannya dari Bekasi di ujung timur ke Tangerang Selatan yang letaknya di wilayah barat dibawah terik matahari. Kepanasan dan kehausan, dan ia belum sempat makan, hingga merasa sakit kepala dan limbung.

Sebenarnya ingin hati saya menyuruhnya masuk ke dalam, mengingat halaman depan saya cukup panas. Mungkin jika ia saya suruh istirahat di dalam setidaknya udara ruangan yang sejuk karena AC akan membantunya lebih cepat pulih kembali.

Tetapi kali ini saya agak ragu. Pertama karena musim pandemi begini, saya harus sangat berhati-hati jika kontak dengan orang lain. Siapakah yang tahu orang ini bebas dari virus atau tidak. Sementara saya beresiko tinggi jika sampai tertular.

Selain itu saya hanya sendirian di rumah. Apakah cukup aman jika saya membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah saat tidak ada satupun orang lain di rumah. Siapa yang tahu orang ini berniat baik atau bisa saja punya niat tersembunyi.

Tapi orang ini terlihat sangat kelelahan dan menderita. Sejenak saya bimbang. Bathin saya bertengkar. Saya merasa sangat iba, tapi di sisi lain, saya juga harus waspada. Saya ingat pesan Bapak saya untuk selalu berhati-hati, di manapun berada. Karena hanya kewaspadaanmu sendirilah yang akan berhasil menyelamatkan dirimu sendiri.

Akhirnya saya sarankan agar ia istirahat di teras depan saja. Toh angin juga mulai bertiup dan membawa udara segar melintas.

Ia menjawab, “Terimakasih Ibu. Tidak usah. Ijinkan saya berteduh di bawah pohon ini saja sebentar dulu” katanya, sambil menepi di bawah pohon kersen.

Ooh…dia malah bilang tidak usah di teras pun. Mungkin orang baik-baik.

Lalu saya ingat, jika tadi ia ada bilang belum sempat makan. Saya mengambilkan beberapa buah pear dari atas meja makan , mencucinya dan memberikan untuknya, agar bisa langsung dimakan. Sayang saya sedang tidak punya makanan lain. Gara-gara tadi tidak memasak. Mudah-mudahan bisa membantunya.

Sesaat kemudian orang itu pamit. “Terimakasih ya Ibu. Gelasnya saya taruh di atas pagar” katanya sambil melambaikan tangannya. Sayapun membalas lambaian tangannya.

Saya mengambil gelas air putih di atas pagar di bawah pohon kersen itu.

Angin menggerakkan dahan-dahan pohon kersen. Udara mengalir dengan sangat baik. Sesungguhnya udara di halaman saya ini tidak terlalu panas ketimbang di udara jalanan.

Namun anehnya, segitu aja saya tadi sempat mengeluh, tidak melakukan apa-apa dan bermalas-malasan. Padahal ini sungguh tidak ada apa-apanya ketimbang keadaan Bapak pengantar barang tadi itu yang harus berjuang di bawah terik matahari, menahan lapar dan haus demi bisa mengantarkan “topi papua” itu ke rumah.

Sementara udara sesungguhnya tidak terlalu panas di halaman karena ada pohon penaung. Saya masih bisa beristirahat di ruangan yang ber-AC. Masih bisa makan dan minum dan bersantai.

Dimanakah rasa syukur saya, atas segala kemudahan dan kenikmatan hidup yang saya miliki.

Segelas Air Putih ini, seolah mengingatkan.

Synopsis Buku 100 Cerita Inspiratif.

Standard
100 Cerita Inspiratif . Ni Made Sri Andani

Buku 100 Cerita Inspiratif ini berisi tentang kisah kisah inspiratif yang disarikan dari kejadian sehari- hari, yang memberikan perenungan diri, ide ide, dan gagasan untuk pengembangan diri yang lebih baik.

Dimulai dari cerita pertama  Ketika Pedas Ketemu Air Hangat, berkisah  tentang bagaimana rasa pedas yang berkurang setelah diminumin air hangat memberi inspirasi untuk memecahkan masalah sehari hari dengan cara membagikan kesedihan dan kegelisahan hati kita dengan orang orang terdekat, ketimbang terus bermurung diri dalam kesendirian yang beku, yang malah tidak memecahkan masalah apapun. Jadi saat hidup kita terasa pedas, carilah kehangatan dari orang-orang yang kita percayai. Tentu sangat menolong.

Cerita berikutnya, Ada Sambal Di Telpon Genggamku, terinspirasi oleh telpon genggam yang tercelempung ke sambal saat makan siang. Tanpa disadari cairan sambel yang mengering, menutup lubang suara dan menyebabkan suara telpon semakin lama semakin mengecil, sehingga sangat mengganggu. Kejadian ini memberi pelajaran, bahwa sesuatu yang buruk kadang terjadi karena keteledoran kecil yang tidak kita sadari, akhirnya membuat masalah besar dalam kehidupan kita.

Cerita-cerita berikutnya juga memiliki nilai-nilai yang baik yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Misalnya cerita tentang Kebingungan Tukang Ketoprak memberi pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita berkomunikasi agar tidak menimbulkan kebingungan pada orang lain.

Lalu cerita Isah, Pembantu Rumah Tangga Yang Tinggal Selama Semingu memberi renungan bahwa tidak semua rejeki yang kita terima adalah milik kita. Sekian % dari rejeki itu mengandung hak orang lain yang mungkin dititipkan oleh Tuhan lewat kita.  Barangkali orang itu tidak berhasil menemukan pintu rejekinya, dan barangkali kitalah yang ditugaskan untuk membukakannya.

Lalu berikutnya  ada cerita tentang Nyala Api & Pemantiknya. Dari cerita ini, kita mendapatkan inspirasi bahwasanya setiap orang membutuhkan pemicu semangat agar tetap bertahan hidup dan terus berkarya, ibaratnya api yang hanya mungkin berkobar jika ada pemantiknya. Sebuah renungan yang mengajak kita untuk menjadi penyemangat bagi orang orang yang kita sayangi. 

Cerita menarik lainnya untuk disimak adalah cerita tentang Keramik Yang Retak. Kisah ini memberi pelajaran agar kita memelihara hubungan baik dengan orang lain, karena jika sampai retak, maka susah untuk membuatnya mulus kembali.

Dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang memberi pelajaran tentang bagaimana kita mengembangkan pribadi kita dengan lebih baik, seperti misalnya bagaimana kita bisa memberi dengan keikhlasan hati yang penuh, bagaimana kita menjaga kwalitas diri yang baik,  memperbaiki kesalahan berulang yang kita lakukan, bagaimana mengelola rasa kesal dan benci karena semua itu adalah musuh yang ada di dalam diri kita sendiri,  bagaimana menurunkan ketinggian hati, bagaimana memperbesar kebahagiaan diri, melakukan refleksi diri, tentang kejujuran, tentang keberanian dan kemauan, tentang ketabahan hati, tentang kesederhanaan,  tentang harapan dan sebagainya.

Buku ini juga membantu kita mendapatkan inspirasi tentang bagaimana kita menempatkan diri kita dalam hubungan dengan orang lain. Misalnya bagaimana kita bisa menerima keadaan dan tidak memaksakan diri bahwa kita harus selalu menjadi pemeran utama di setiap kejadian, bagaimana cara bertengkar yang sehat dengan menurunkan volume suara dan memperkuat argumentasi,  bagaimana kita lebih terbuka dan tidak hanya mengutamakan sudut pandang kita sendiri,  atau bagaimana kita jangan menjadi parasit  bagi orang lain dan sebagainya.

Juga memuat kisah kisah yang membantu meningkatkan profesionalisme kita dalam bekerja dan mengembangkan karir kita, seperti  tentang leadership,  tentang bagimana kita mengutamakan pelanggan, menerapkan profesionalisme, service excellent, meningkatkan kreatifitas, meningkatkan fokus dan lain-lain.

Demikianlah setiap cerita memberikan renungan dan pelajaran yang bisa kita petik pelajarannya dan implementasikan dalam kehidupan kita sehari- hari.

Menariknya, banyak pelajaran dan inspirasi yang kita dapatkan di buku ini, dipetik dari kejadian sehari hari ketika berinteraksi dengan sekitar, misalnya saat mengamati tingkah laku atau sikap orang lain, dari mengamati burung burung, bekicot, tanaman dan alam, seperti gelombang air laut, gunung, bintang-bintang dan sebagainya.

Buku 100 Kisah Inspiratif  ini, ditutup dengan kisah petualangan yang sangat inspiratif, baik sebagai perjalanan fisik, pikiran dan jiwa, yang mengantarkan kita pada kesadaran makro dan mikrokosmik. Bahwa pada kesadaran makrokosmik tertentu, kita ini hanyalah setitik debu dari setitik debu dalam setitik debu dalam semesta raya yang maha besar dan tak mampu terpikirkan keagungannya ini. Dan pada kesadaran mikrokosmik tertentu, akhirnya kita ini adalah sekumpulan partikel sub-atomik yang tiada bedanya dengan air, kayu, udara dan unsur unsur penyusun alam semesta lainnya.

Kita adalah semesta itu sendiri. 

 

Kisah Si Belalang. Dikasih Hati Minta Jantung.

Standard

Kapan hari saya ada bercerita tentang 2 ekor belalang di halaman rumah saya. Saya membiarkannya tinggal di halaman, karena saya pikir ia cuma mengambil sebagian kecil saja dari tanaman sayuran saya. Memberikan sedikit bagian dari yang saya miliki, toh tidak akan membuat saya jatuh miskin juga.

Dan sayapun bukan termasuk ke dalam golongan mahluk yang merasa berderajat tinggi yang tidak mau memakan sisa mahluk lain. Saya tidaklah keberatan untuk memakan sayuran sisa hasil gerogotannya. Yang penting nanti dicuci bersih dan bebas kuman.

Jadi santai-santai saja ya. Relax.

Tapi siang ini, lagi iseng-iseng lihat tanaman sayuran yang hampir habis masanya, tiba-tiba saya melihat puluhan anak belalang menclok di pucuk-pucuk pohon bayam dan kangkung. Astaga!!!. Mereka asyik menggerogoti daun-daun sayuran. Jadi pada bolong dan rusak. Ada beberapa puluh ekor. Sehingga kerusakan tanaman sayuran itu pun mulai terasa. Karena ada 7 ekor merusak di sini, 5 ekor merusak di sana dan di sana, 3 ekor di sana, di sana dan di sini, ada juga yg cuma 2 ekor tapi di mana-mana. Banyaaak sekali.

Saya membayangkan beberapa hari ke depan, setelah puluhan anak-anak belalang ini membesar. Apa yg akan terjadi ?. Mungkin tak cukup sayuran tersedia dari tanaman yang saya tanam di pekarangan yang sempit ini.

Belalang yang tadinya cuma dua ekor, dikasih tinggal di kebun dan disediakan sumber makanan yang cukup, sekarang malah beranak pinak sedemikian banyak dan meninggalkan tanda-tanda kerusakan kebun yang semakin nyata. Belalang ini namanya “dikasih hati malah minta jantung”. Tak sanggup saya menanggung hidup puluhan belalang di kebun halaman saya yang sempit ini.

Kadang jika terlalu baik sama orang lain, bisa jadi masalah “dikasih hati minta jantung” seperti ini menimpa kita juga.

Misalnya nih ya, melihat orang lain kesusahan atau kesulitan keuangan, kita berusaha menyisihkan uang dengan mengirit-irit pengeluaran dan mengorbankan keperluan kita demi bisa membantunya. Sekali kita kasih. Dua kali kita kasih lagi. Lama-lama dia menyangka kita ini banyak duit dan dengan entengnya minta uang lagi untuk ini dan itu dan memberikan list keperluannya pada kita. Lah ?!

Padahal waktu kemarin anak kita minta dibelikan sepatu baru gara-gara jempolnya sudah mentok dan membuat lubang di ujung sepatunya masih kita suruh sabar dulu. Atau saat adik kita minta bantuan kekurangan buat bayar SPP anaknya, kita malah nyuruh sabar nunggu waktu gajian dulu.

Saya jadi merenung. Kembali melihat ke anak-anak belalang yang jumlahnya sangat banyak ini. Mungkin satu-satunya cara adalah memindahkan anak-anak belalang ini ke tanah kosong di belakang rumah. Di mana di sana ada banyak rumput liar yang tumbuh. Biarlah anak-anak belalang ini berusaha mencari penghidupannya sendiri.

Dengan cara ini, tidak saja saya membantu membuat kebun kecil saya tetap sehat, tetapi juga membuat anak-anak belalang itu terlatih mencari rejekinya sendiri.

Seperti orang tua jaman dulu bilang, “Merthane nak mesambeh, Ning.” , artinya sesungguhnya rejeki itu tersebar di mana-mana. Yang dibutuhkan hanya usaha dan kerja keras kita untuk mendapatkannya.

VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong 😀.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama 😀) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😢😢😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.

SERIBU TULISAN. Perjalananku Sebagai Seorang Penulis.

Standard

Kemarin ketika saya mempublished tulisan saya tentang “Games Dalam Adat Pernikahan Punjabi“, saya mendapat notifikasi dari WordPress bahwa tulisan itu adalah tulisan saya yang ke seribu yang saya upload ke internet dengan bantuan WordPress.

Tentu saja saya terkejut dan terharu dengan apa yang telah saya capai dari sisi kwantitas selama ini. Seribu tulisan!. Banyak juga ya. Saya sangat senang, karena saya tak pernah membayangkan bahwa saya bisa menulis sebanyak itu dalam hidup saya.

Jumlah Tulisan.

Saya menulis di blog untuk pertama kalinya pada tanggal 9 Desember 2010. Jadi hingga kini, sudah 8 tahun lamanya saya menulis.

Hampir setiap bulan saya mempublikasi sekitar 10 buah tulisan. Kadang lebih dan kadang kurang.

Pernah juga sih dalam sebulan saya tidak menulis sama sekali ha ha 😀. Biasanya karena saya sedang ada kesibukan lain yang menyita waktu. Atau jika kemalasan sedang melanda. Atau semangat saya sedang hilang.

Di saat lain jika semangat saya sedang nenggebu gebu, atau lagi banyak ide dan hal nenarik di sekitar yang saya temukan, saya bisa mempublish belasan bahkan di atas 20 an tulisan per bulan.

Apa Yang Saya Tulis.

Pada awalnya saya ingin mengisi blog saya dengan content- content yang berkaitan dengan marketing dan brand. Tapi kemudian saya berpikir ulang, tulisan sejenis itu akan menyerempet pekerjaan saya sebagai pemasar.

Bisa jadi tanpa sadar saya kebablasan menulis strategy pemasaran yang sedang saya kerjakan dan jalankan dalam kehidupan nyata. Dan jika ini saya publikasikan, tentu saya akan bermasalah dengan perusahaan tempat saya bekerja. Waduw… bisa bisa dapur saya berhenti berasap jika begitu.

Biarlah saya menulis tentang keseharian hidup saya sebagai ibu rumah tangga yang bekerja. Macam macamlah isinya. Hal hal yang menarik, menyenangkan dan membahagiakan. Mulai tentang pendidikan anak, tentang kebun, tentang dapur dan masakannya, tentang hewan, tentang lukisan dan karya seni, cerita perjalanan atau travelling, renungan dan pelajaran hidup, dan tentunya sedikit tentang pemasaran umum yang tidak tabu untuk dipublikasi.

Ya..itulah isinya semua. Gado gado. Merefleksikan keseimbangan hidup saya yang memiliki banyak faset kehidupan dalam meraih kebahagiaan hidup. Saya menulis dengan bahagia. Maka tajuk blog sayapun saya kasih nama “Balanced Life. A Journey for Happiness “.

Saat ini saya bukanlah penulis berbayar. Ngeblog hanya untuk menyalurkan hobby saya saja. Hingga kini saya tidak berusaha memonitize blog saya. Saya ikut Wordpess saja. Nggak perlu pusing untuk memikirkan design ataupun melindungi blog saya dari hacker atau tukang spam, karena WordPress membantu saya melakukan semua itu. Thanks to WordPress!

Pengunjung dan Pembaca.

Saat ini, saya memiliki lebih dari 4 500 orang followers yang melakukan subscribe ke blog saya sehingga menerima dengan teratur setiap postingan baru saya lewat e-mail. Dan tulisan tulisan saya mendapatkan lebih dari 2 900 000 views. Dengan kunjungan ke blog per bulan saat ini sekitar 30 000 kali. Saat ini kunjungan ke blog saya agak menurun dibanding sebelumnya yang bisa mencapai 50 000 – 60 0000 per bulan. Saya sadari penyebabnya adalah karena saya lebih jarang menulis dan membuat berita baru untuk pembaca tulisan saya. Selain itu saya juga jarang bersosialisasi alias blogwalking yang berdampak juga pada kunjungan ke blog saya. Yap…nanti saya perbaiki lagi. Masih untung karena blog saya memuat cukup banyak tulisan, masih ada saja pembaca yang datang berkunjung setiap hari.

Tulisan Berkwalitas vs Tulisan Ringan.

Dalam menulis, ada 2 hal yang mungkin saya tulis. Pertama adalah tulisan tulisan yang menurut saya berkwalitas baik, yakni yang mengandung pemikiran, perenungan atau analisa dan makna kehidupan yang dalam. Tulisan berat.

Yang Ke dua adalah tulisan ringan. Tentang keseharian, obrolan ke barat dan ke timur, tulisan lucu dan menghibur. Cerita perjalanan atau reportase biasa. Saya pribadi menilai tulisan seperti ini kurang kwalitasnya dibanding jenis yang pertama.

Tapi coba lihat, bagaimana response pembaca tentang ke dua jenis tulisan ini. Ternyata tulisan- tulisan yang saya anggap bagus dan berkwalitas justru mendapat views atau shared jauh lebih sedikit dibandingkan tulisan tulisan saya yang menurut saya kwalitasnya hanya ringan dan ecek ecek.

Nah… sebagai penulis sekarang saya berpikir, mana lebih baik menulis tulisan berat dengan sedikit viewers atau tulisan ringan dengan lebih banyak viewers?. Keputusan ini akan membentuk kwalitas blog kita.

Seberapa Viralkah Tulisan Saya?

Salah satu cara mengukur popularitas tulisan selain melihat dari jumlah pembaca specific untuk artikel/ tulisan itu, adalah dengan melihat sebanyak apa tulisan itu dishare oleh orang lain.

Nah …untuk ini saya sebenarnya belum sempat nge-check dengan baik. Tapi apa yang sempat saya lihat, dari 1000 buah tulisan saya itu, sharing levelnya sangat, sangat bervariasi. Ada yang dushare 0 kali alias tidak ada yang nge-share 😭, ada juga yang dishare belasan kali atau puluhan kali atau ratusan kali. Sebagai contoh, tulisan saya tentang seekor ayam bernama Lucky itu dishare di facebook sebanyak 113 kali. Cukup banyak juga ya 😍.

Nah…begitulah cerita saya tentang blog ini. Semoga pencapaian penulisan saya yang ke 1000 ini menjadi motivator saya untuk terus dan terus menulis. Saya akan terus menulis hingga akhir hayat saya.

Forever writing!.

Lupa.

Standard

Sebulan ini kesibukan saya agak meningkat. Pasalnya ada meeting penting yang harus kami jalani berturut turut selama 3 hari. Sementara minggu sebelumnya juga sangat banyak agenda, sehingga saya agak keteteran. Beberapa presentasi yg disiapkan team saya last minute belum sempat saya periksa.

Di tengah serunya meeting, seorang teman yg duduk di sebelah saya berkata” Bu, jangan lupa nanti kalau ibu sudah sempat, tolong periksain presentasi saya ya Bu. Mohon masukan kali-kali ada yang perlu direvisi, ditambahkan atau dikurangi”. Teman saya ini akan presentasi esok hari pukul 9 pagi.

Ya. Nanti malam ya. Setelah pulang kerja” jawab saya. Teman saya mengangguk setuju. Ya lah. Nanti saja. Sekarang kan lagi di tengah meeting. Tentu tak sopan jika saya mengoprek material lain di luar yang dididkusikan di meeting.

Sepulang kerja, saya makan, beresin sedikit urusan anak, rumah dan dapur, lalu mandi. Setelah itu barulah saya membuka laptop. Membuka email. Saya mau memeriksa presentasi teman saya. Tapi oh….ternyata belum masuk. “Mungkin dia sedang makan malam, jadi belum sempat ngirim ” pikir saya. Sementara menunggu email masuk, sayapun mengerjakan hal lain.

Beberapa saat kemudian saya check email lagi. Belum masuk juga. “Ooh…mungkin masih dikerjakan“, pikir saya. Saya menunggu dengan sabar.

Setelah 3 – 4 kali melihat dan tetap belum ada email yang masuk, lalu saya mengirim pesan kepada teman saya melalui Whatsap. Menanyakan kepadanya mengapa presentasinya belum dikirim?. Kalau belum dikirim bagaimana saya bisa menerima?😀 Dan jika belum saya terima bagaimana cara daya mereview?.😀😀

Teman saya tidak membalas WA saya. Saya tunggu beberapa saat, ternyata belum dibaca juga pesan saya. Waduuuh…jangan jangan dia sudah tidur. Saya baru nyadar ternyata ini sudah tengah malam. Lewat jam 12 malam.

Ah…mungkin saja ia masih memperbaiki presentasinya. Jadi belum sempat membaca pesan saya. Saya mencoba berpikir positive.

Beberapa saat kemudian, jarum jam di dinding melewati angka satu. Saya memeriksa email dan WA. Tak ada tanda tanda kalau teman saya itu masih terjaga, mengerjakan dan akan segera mengirimkan presentasinya ke saya. Ingin menelpon, tapi rasanya nggak sopan banget ya nelpon malam malam begini. Lagipula seandainya dia sudah tidur kan kasian juga dibangunin. Ah.. biarlah. Besok pagi tentu dia sudah membuka pesan di WA dan pasti akan mengirimkan filenya ke saya. Dua anak tang baik dan biasanya rajin.

Mendekati pukul setengah dua malam, akhirnya saya tinggal tidur.

Tapi saya percaya teman saya itu sudah mempersiapkan presentasinya dengan kualitas content yang baik. Dan ia juga sangat percaya diri membawakannya.

Esok paginya, usai mempersiapkan bekal makanan untuk anak saya, mandi dan sarapan saya membuka laptop saya lagi. Ngecheck barangkali email teman saya sudah masuk. Eh.. ternyata belum juga!. Waduuuh…bagaimana ini???.

Sambil mengunyah sarapan tiba tiba saya teringat….

Oooh, bukankah teman saya sudah memberikan file presentasinya kepada saya lewat flash disc? Dan saya sudah mengcopy-nya ke laptop saya? .

Astaga!!!!. Pantesan emailnya saya tunggu berjam-jam sampai begadang tiada kunjung tiba 😀😀😀.

Di mana kesalahannya ini???. Waduuuh… faktor U!!!.

**************

Faktor U alias faktor umur yang makin meningkat seringkali dijadikan kambing hitam atas berbagai kejadian yang berkaitan dengan lupa atau pikun.

Tapi sebenarnya jika mau mengakui, bahwa sebenarnya di luar faktor U juga ada masalah lain yang menjadi penyebabnya yang perlu diberikan perhatian dan diperbaiki ke depannya.

Seringkali itu berurusan dengan cara kita memberi perhatian terhadap apa yang kita lakukan setiap saat. Lupa disebabkan karena kita tidak meletakkan perhatian yang penuh terhadap apa yang kita kerjakan. Hanya sepintas lalu. Tidak sepenuh pikiran. Sehingga ingatan kitapun tak mampu menahan kejadian itu. Ia menguap dan berlalu begitu saja dengan cepat.

Itulah lupa. Saat memory tak bertahan lagi di sel-sel ingatan kita.

Saya tidak menaruh perhatian pada saat teman saya memberikan flash disc-nya ke saya, karena perhatian saya sedang tertuju penuh ke layar saat itu. Dan saat mengcopy filenya pun saya lakukan sambil pikiran saya sibuk dengan presentasi yang sedang berlangsung. Sehingga kejadian itu tidak terekam dengan baik dalam ingatan saya.

Itulah barangkali sebabnya, mengapa kita diminta agar selalu tetap fokus fokus dan fokus akan apapun yang sedang kita kerjakan. Sehingga kita selalu menyadari dengan baik apapun yang kita lakukan. Dan seterusnya memory kita bisa menyimpannya dengan baik.

Selamat pagi teman teman pembaca!.

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku buku📚, laptop 🖲dan gitar🎸 di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? 🙄🙄🙄

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah 😃. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?😁” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??😀.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.