Tag Archives: Inspiration

Bakpia Yang Tak Utuh.

Standard

Suatu kali, di tengah malam saya merasa agak lapar. Mau makan buah melon dan mangga potong yang ada di kulkas, tapi rasanya kok perut saya agak dingin ya. Jadi saya mencari alternatif lain.

Nah… ketemu box kertas bakpia pathok. Walaupun disimpan di kulkas juga, mungkin yang ini bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena tak berair.

Saya ambil box bakpia itu. Berharap masih ada 1-2 buah isinya yang tersisa. Tidak dihabiskan oleh anak-anak. Lalu saya buka. Astaga!!!. Betapa terkejutnya saya melihat isinya.

Bakpia tidak utuh dan kelihatan seperti bekas gigitan lalu dimasukan kembali ke dalam box. Tidak bundar seperti seharusnya. Sebagian tak beraturan, sebagian mirip bulan sabit🙄🙄🙄

Aduuuh… siapakah yang melakukan perbuatan ini?. Iseng banget. Mungkinkah anak-anak? Tapi mengapa mereka melakukan hal konyol ini? Sekarang mereka sudah besar-besar, sudah tumbuh remaja. Masak begitu ya?. Kalau dulu waktu masih play group mereka begitu saya mungkin bisa mengerti. Tapi kalau sekarang? Hadeuuuh…

Saya tidak bertanya apa-apa karena kedua anak saya sudah tidur nyenyak. Sayapun lalu ikut tidur.

Esok paginya saya bertanya kepada anak saya mengapa ada bakpia yang terpotong potong bekas tergigit dimasukkan kembali ke dalam boxnya di kulkas? The moon crescent cake?.

Anak saya yang kecil segera mengatakan tidak. Bukan ia pelakunya. Dan ia juga ikut heran, mengapa ada kue bekas gigitan disimpan kembali di kulkas.

Lalu anak saya yang besar keluar dari kamar. “The explanation is….” katanya

Sebelumnya ada semut yang masuk ke dalam box bakpia itu. Untuk memastikan kalau semutnya tidak menginvestasi ke dalam kue, jadinya kuenya kupecah pecah. Aku periksain satu per satu. Tapi karena semutnya nggak ada, kupikir kuenya masih bisa dimakan. Jadi, kumasukkanlah lagi ke dalam box dan kutaruh di kulkas” kata anak saya.

Oalah…😀😀😀. Jadi itu ya penjelasan tentang kue terpotong-potong itu. Ya…masuk akal juga sih. Tapi tanpa penjelasan itu tentu tak seorangpun mau memakan potongan-potongan kue itu karena menyangka itu kue bekas gigitan. Untung saja kue itu tidak saya buang ke tong sampah semalam.

Ya ya!. Memahami keseluruhan permasalahan itu sangat penting gunanya agar kita tidak salah mengambil kesimpulan dan tidak salah mengambil tindakan.

Kayanya sering terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari ya? Seringkali kita melihat sesuatu, agak aneh menurut pandangan kita. Tanpa bertanya, entah karena enggan, malu atau tidak tahu bagaimana caranya bertanya atau kepada siapa bertanya, kita jadi cenderung menduga-duga sendiri apa yang terjadi.

Walaupun ketika kita tahu keseluruhan ceritanya, ternyata sangat jauh dari apa yang kita pikirkan atau sangkakan sebelumnya.

Kita jadi sering under-estimate orang lain atau over-estimate orang lain. Kadang berburuk sangka pada hal yang sebenarnya baik. Atau kebalikannya, terlalu berbaik sangka pada apa yang terlihat sangat indah padahal sebenarnya banyak motivasi buruk dibaliknya.

Selamat hari Minggu siang, teman-teman semuanya.

Advertisements

Panahan: Antara Logika & Rasa.

Standard

Kembali lagi ke lapangan Panahan bersama 2 anak saya. Memberi kesempatan tubuh untuk terpapar penuh oleh sinar matahari. Kali ini tanpa Pak Heydar yang bisa saya temui untuk berkisah lagi tentang Leadership. Rupanya beliau sedang sibuk memberikan pelatihan di tempat lain.

Setelah 2 minggu sebelumnya saya hanya menjadi penonton, pemantau dan pendengar, sekarang saya memutuskan untuk maju selangkah. Mencoba!. Jadi status saya naik ya dari pasif menjadi aktif😀😀😀.

Saya menemui Pak Azmi dan ditemani Mas Ido. Jadi bagaimana caranya untuk memulai?.

Pertama, kata Mas Ido saya harus memakai pelindung lengan bawah. Maksudnya agar nggak kejepret tali busur. Bisa merah. Saya menurut.

Lalu Mas Ido memberikan saya busur ukuran 18. Katanya yang ukurannya kecil dan enteng. Untuk wanita. Jadi tidak sama dengan yang diberikan ke anak-anak saya yaitu ukuran 22 dan 20 yg jauh lebih besar dan berat. Baiklah. Saya akan coba.

Berikutnya saya diberitahu bagaimana caranya memegang busur dengan tangan kiri dan posisi genggamannya. “Genggaman harus kuat tapi tak perlu kaku atau terlalu erat”. Mas Ido menunjukkan busur yang terpegang dengan baik, sudah pasti tidak akan jatuh, tetapi tidak erat, jadi busur masih bisa bergoyang sesuai situasi. Lalu menempatkan anak panah dan menarik tali busur.

Gunakan 3 jari (telunjuk, jari tengah, jari manis) yang diposisikan sedemikian rupa di tengah di dekat pangkal anak panah dengan jari tertekuk di ruas pertama. Lengan kanan ditarik ke belakang melalui bawah dagu dan ujung siku tarik ke atas. Tangan saya rasanya gemetar… dan busur bergoyang hebat. Tahan kurang lebih selama 3 detik daaan…. lepasss!!!!.

Whua… anak panahnya nyungsep di bawah kotak sasaran. Gagal!.😣😣😣

Ternyata keras juga ya. Cukup terasa berat bagi saya untuk menarik tali busur itu kuat-kuat sehingga busurnya bergoyang. Mas Ido melihat kondisi itu, lalu mencarikan saya busur yang lebih kecil. Bentangan busur saya terlalu lemah rupanya. “Nggak apa-apa. Ibu baru pertama kali. Mungkin juga karena jarang olah raga ya?. Nanti kalau sering latihan juga akan kuat” katanya menghibur.

Saya lalu mencoba busur yang lebih kecil dan yang lebih enteng. Busur untuk anak-anak 😀. Waduuh… antara rasa senang dan sedih rasanya. Senang karena akan memulai dengan yang “mungkin” terlebih dahulu, sehingga saya bisa berpikir lebih positive karena saya melihat ada harapan di sana. Tapi sedihnya ketika menyadari dan mengakui bahwa betapa lemahnya tubuh saya saat ini. Salah satunya karena jarang berolah raga. Kesalahan saya sendiri juga.

Masak setua ini bisanya hanya menggunakan busur ukuran anak kecil sih 😢😢😢.

Tapi baiklah, demi kesuksesan ke depannya mari kita lupakan bagian yang menyedihkannya itu. Kita hanya ingat bagian yang memberi harapannya saja ya 😀😀😀

Singkat cerita, berlatih lah saya hari itu. Belum sekalipun saya sukses bisa membidik titik kuning tepat di bagian tengah sasaran. Biro boro lingkaran kuning, anak panah saya bahkan kerap kali melayang di atas papan sasaran atau nyungsep sekalian di bawahnya.

Masalah yang lain adalah, Mas Ido mengatakan teknik saya membidik belum benar. Posisi tubuh saya dan tarikan tangan kanan saya belum benar. Objectivenya bukan hanya sekedar berhasil membidik yang kuning. Tapi bagaiman membidik yang kuning dengan cara yang tepat dan benar.

Semakin saya mencoba membidik yang kuning, kok malah semakin meleset ya. Padahal saya sudah letakkan pandangan saya baik-baik pada ujung mata panah dan saya arahkan ke titik kuning itu.

Turunkan lagi Bu, turunkan lagi”. Waduuh!. ???????. Kok diturunkan terus ya? Padahal jelas jelas terlihat ujung panah itu mengarah jauh di bawah titik kuning. Tapi sudahlah… tanpa nendebat sayapun menurunkan bidikan saya dan…lepasss!!. Hasilnya? Jauh di atas titik kuning dan miring pula 😀😀😀.

Kenapa bisa begitu ya? Saya menggaruk garuk kepala saya yang tak gatal. Penjelasannya adalah karena letak mata kita lebih tinggi dari titik sasaran. Jafi logikanya, tangan harus kita turunkan. O ya? Tapi kan saya sudah menurunkan posisi tangan agar ujung anak panah mengarah ke bawah titik kuning itu? Rasanya kok nggak masuk akal ya. Saya coba berkali kali lagi dan hasilnya gagal maning, gagal maning.

Akhirnya saya kira-kirain saja. Dan ajaibnya, kalau nggak pakai teori dan hanya memakai feeling kok malah semakin dekat dengan titik sasaran. Walaupun tidak tepat di titik kuning, tetapi paling tidak, beberapa kali akhirnya saya berhasil menancapkan anak panah di lingkaran merah. Sudah mendekati sasaran. Lumayan. Better daripada yang tadi.

Anak-anak saya yang keduanya telah berhasil membidik lingkaran kuning sebanyak 4-5 x mendekati saya dan memberi dukungan. “Mama! Ayo lepas! jangan ragu-ragu!“.

Jadi panahan ini rupanya membutuhkan kombinasi logika dan feeling. Barangkali logika yang dibungkus oleh rasa sebagai persepsi tubuh atas apa yang tertangkap oleh panca indera kita. Rasa yang menyangkut genggaman tangan kita pada busur panah, bentangan tali busur, tentang jarak sasaran, arah ujung anak panah, kekuatan tangan kita dan lain sebagainya. Dibutuhkan rasa yang lebih menyatu dengan busur dan anak panah itu sendiri. Seorang pemanah tidaklah boleh menjadi “stranger” bagi busur dan anak panahnya sendiri.

Sampai di titik ini saya belum berhadil. Saya masih ingin terus berlatih.

Selamat Tahun Baru 2017.

Standard

​Tahun berganti lagi. Tak terasa kita sudah berada di tahun 2017. Saya sendiri tidak kemana-mana. Hanya di rumah bersama anak-anak. Tidak ada kembang api dan tidak ada perayaan apapun. Awalnya sih niat mau bakar-bakar jagung, dan sudah beli pula jagung dan arangnya. Tapi berhubung tidak ada yang berminat, akhirnya batal juga. Semuanya memilih kegiatannya masing masing. Ada yang kembali ke laptop, bermain games, leyeh-leyeh dan ada juga yang masih ngotot nggak mau diganggu  dengan prakaryanya. 

Tapi bagi saya tidak apa-apa juga. Karena menurut saya,  for the best benefits, melakukan sesuatu itu harus dengan hati senang. Saya sendiri sempat tertidur hingga anak saya masuk membuka pintu kamar  dan berujar “mommy… happy new year” katanya melihat saya terbangun. Rupanya tepat jam 12.00 malam. 

Sayapun duduk dan tiba -tiba terpikir. Ini sudah masuk tahun 2017. Dan sangat bersyukur saya ada di sini. Berarti saya masih diberi kesempatan hidup guna memperbaiki perbuatan saya. Mendadak pikiran saya jadi melayang kemana-mana. 

Jika setiap tahun baru kita anggap sebagai sebuah milestone alias tonggak kilometer seperti yang ada di pinggir jalan,  maka ini adalah milestones yang ke 52 yang pernah saya lalui. Lumayan sudah agak panjang juga ya perjalanan saya? Walau tentu jawabannya relatif. Karena sebenarnya tak pernahlah kita tahu berapa banyak milestones lagi yang akan kita lalui hingga akhirnya menemui batas akhir perjalanan hidup ini. Ketika maut menjemput dan membawa kita kembali kepadaNya. Mungkin saja hanya  tinggal sedikit lagi, atau mungkin juga masih sangat panjang atau bahkan lebih panjang dari apa yang telah kita lewati. Who knows? 

Walau jumlah milestones yang di sisa perjalanan mungkin berbeda,  namun semua kehidupan tujuan akhirnya adalah sama yakni kembali kepada Sang Maha Pencipta. Menyatu kembali kepadaNya.  Dumogi amor ring Acintya -semoga kembali kepada Ia Yang Maha Tak Terpikirkan -demikian orang Bali biasanya berkata.

Jika tujuan akhirnya ujung-ujungnya sama dan jelas, maka yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita bisa membuat perjalanan dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas?. Berkwalitas maksud saya disini adalah perjalanan hidup yang  lebih bahagia dan yang menurut kita lebih bermakna. 

Ada yang merasa bahagia ketika sebagian besar hasrat indra fisiknya terpenuhi.Memiliki sesuatu yang indah untuk dilihat dan didengar, sesuatu yang wangi untuk dicium, sesuatu yang enak untuk dirasakan dan  sesuatu yang nyaman untuk disentuh. Yang kemudian diterjemahkan sebagai hasrat makan, hasrat untuk minum, hasrat sexual dan sebagainya.

Ada  yang merasa bahagia ketika mampu meningkatkan strata sosialnya dengan mengumpulkan dan membangun kekayaan materi dan kekuasaan. Entah semata untuk dirinya atau juga sebagian untuk menyenangkan keluarganya atau orang lain. 

Ada juga yang merasa bahagia ketika setiap saat mampu tetap melangkah di jalan dharma. Selalu bisa berbuat baik  dan membantu sesama mahluk ciptaanNYa. 

Dan ada lagi yang merasa bahagia dalam pencarian makna hidup dan spiritual dalam perjalanannya untuk kembali kepadaNya. 

Walaupun pada kenyataannya mungkin ada orang yang kebahagiaannya lebih ditrigger oleh hanya salah satu aspek saja, sementara  aspek yang lain tak mampu membuatnya tergetar, namun sesungguhnya kebahagiaan yang dipicu oleh pemenuhan hasrat duniawi dan materi  sifatnya hanya sesaat dan tidak kekal.  Sementara kebahagiaan yang ditrigger oleh pemenuhan diri dalam menjalankan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama mahluk ciptaanNya serta dalam upaya mendekatkan diri kepadaNYa selalu lebih long last dan abadi. 

Di sinilah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa mencapai kebahagiaan yang lebih kekal atau sedikitnya mem”balanced” kebahagiaan itu sehingga setiap saat dalam perjalanan kita dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas. 

Selamat tahun baru 2017!.

Spirit of Wipro Run 2016: Jakarta

Standard

​Musim berlari telah tiba. Musim bagi karyawan Wipro dan keluarga atau teman-temannya untuk ikut dalam event tahunan  Spirit of Wipro Run 2016  yang diadakan pada tanggal 25 September ini serentak di berbagai kota di seluruh dunia antara lain Bangalore, Ottawa, Bucharest, Istambul, Dubai, Pittsburgh, Adelaide, Singapore, Kuala lumpur dan sebagainya. Sementara di Indonesia sendiri Wipro Run diadakan di Jakarta dan Salatiga. Rasanya takjub juga nemikirkan itu. Bayangkan, ada sedemikian banyak orang berlari (karyawan Wipro plus keluarga dan teman-temannya), di sejumlah kota (saya hitung ada 110 kota) seperti yang diprint di bagian punggung  kaos di bawah ini, semuanya berlari  tanpa memandang suku bangsanya, agamanya, gendernya, pangkat dan jabatannya. Semuanya berlari bersama-sama pada tanggal yang sama. As one!.

​​Di Jakarta, acara Wipro Run diadakan di Taman Mini Indonesia Indah dengan mengambil anjungan Taman Budaya Tionghoa sebagai pangkalan berangkat dan garis finish. Lumayan 5 km. 

​Acara berlari dimulai dari pukul 7.00 pagi dibuka oleh Mr. Neeraj Khatri, President Director dari PT Unza Vitalis -salah satu perusahaan dari group Wipro yang ada di Indonesia. Saya tidak mendapatkan jumlah pasti pesertanya, tepi saya duga di Jakarta diikuti oleh sekitar 700 orang, dan di Salatiga sekitar 750 orang. 

​Di Jakarta, lari dilakukan dengan jarak 5 km. Ditempuh  dengan melalui 3 check point. Di setiap check point disediakan minuman dan gelang Wipro Run 2016 berbeda warna. Jadi agar bisa sah berlari kita harus melewati ke tiga check point itu dan mengumpulkan ketiga gelang dari setiap  Check point yang berbeda. 

​Sebagai salah seorang Wiproite (karyawan dari group perusahaan Wipro) bangga dong ya saya bisa ikut menjadi pesertanya dan berhasil mencapai garis finish * walaupun barangkali tiba dengan nomer terakhir.. ha ha. 

Tak apa… Dengan keterbatasan kondisi kaki yang saya miliki (bekas keseleo beberapa tahun lalu yang kambuh lagi dan kambuh lagi), memang awalnya membuat saya ragu untuk ikut. Tapi mengingat bahwa moment ini hanya datang setahun sekali maka saya putuskan untuk mencoba dulu lah. Saya pikir seandainya ada hal buruk terjadi pada kaki saya, nanti saya akan berhenti. Anak saya yang besar agak kurang setuju dengan apa yang saya rencanakan dengan menganggap saya agak ambisius menempuh jarak 5km dengan kondisi kaki seperti ini. Saya hanya tersenyum dan menunjuk tajuk dari Wipro Run tahun ini yang tertera di kaosnya “Powered by ambition”. Anak saya tertawa. Dia sudah hapal betul dengan kekerasan kepala ibunya. Ia pun seperti biasa akhirnya  menemani saya juga. Sementara anak saya yang kecil sudah melesat  lari di depan bersama papanya. Anak saya yang besar berlari (eh…kebanyakan berjalannya deh..) di sebelah saya sambil sesekali bertanya. “Mom, are you ok?”. Atau.. “Ayo Mam, istirahat sebentar. Don‘t push yourself!”. Saya pun mengikuti kata katanya. Jika terasa lelah dan kaki saya sakit, maka saya berhenti sejenak. Sambil melihat-lihat ke sekitar. Inilah untungnya mengadakan acara ini di Taman Mini Indonesia Indah. Sambil berlari atau berjalan, kita bisa melihat bagian depan anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Mulai dari anjungan yang paling dekat dari garis start yaitu anjungan Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan seterusnya anjungan-anjungan daerah lain seluruh Nusantara. Sungguh indah dan mengagumkan melihat arsitek dan lambang-lambang budayanya yang beraneka ragam itu. Rasanya ingin masuk ke setiap anjungan itu lagi (terakhir saya masuk ke semua anjungan-anjungan itu sekitar 33 tahun yang lalu. Setelah itu saya hanya pernah beberapa kali masuk ke anjungan Bali saja -karena kebetulan ada perlu. Dan satu dua dari anjungan daerah lain yang ada). Alangkah kayanya Indonesia. 

​Juga ada berbagai macam tempat ibadah dari agama-agama yang diakui di Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangeruwa”. 

Check point demi check point saya lalui. Tentu dengan kelelahan dan kehausan.  Serta rasa panas dan sakit yang terasa neningkat di dekat pergelangan kaki kiri. 4 km lagi jarak yang harus saya tempuh. Kemudian 3 km lagi. Dua kilo meter lagi. Semakin dekat. 

​Seorang petugas  yang rupanya melihat saya sangat kelelahan, menawarkan apakah saya masih sanggup berjalan melalui jalur yang seharusnya atau menyerah. Karena di sana ada jalan pintas menuju Taman Budaya Tionghoa.

Saya pikir tinggal 1.5 km lagi. Saya tidak mau menyerah di titik ini. Tanggung!. Walau kaki semakin sakit, tapi saya harus makin semangat. Akhirnya tibalah saya di check point 3. Menerima gelang merah. Dan setelah itu….tiba di titik 1 km lagi.

Bukti saya melewati check point 3 dan 1 km to go.

​Selfie dulu ah… Siapa tahu ada yang mempertanyakan. Benarkah saya bisa sampai di titik ini..ha ha.  

Saya berjalan pelan-pelan. Kali ini kaki saya rasanya sudah mau copot. Tak terperikan sakitnya di bagian yang pernah keseleo dulu itu. Anak saya sangat mengkhawatirkan saya, tapi ia terus mendukung saya. Ia tertawa bagaimana saya berkeras dengan ambisi saya agar bisa mencapai garis finish di jalur yang benar dan tanpa bantuan. 

Anak saya yang besar yang selalu mendukung dan nendampingi saya “berlari”.Big thanks, son!.

​Beberapa saat kemudian sayapun mencapai garis FINISH. Horee!. 

Setiba di sana. Rupanya pengumuman pemenang sudah mulai dibacakan. Pemenang untuk karyawan wanita, karyawan pria, peserta non karyawan pria, non karyawan wanita dan peserta anak-anak pria dan wanita. Ketahuan kan…betapa terlambatnya saya tiba di garis finish? 

Ya. Yang jelas dan pasti, tidak mungkinlah saya yang menjadi juaranya. Pasti para pelari-pekari sejati itu yang akan naik ke panggung, menerima medali, penghargaan dan hadiah. 

Tapi saya pikir saya juga telah memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri. Saya telah menang bertarung dengan rasa malas dan rasa mengasihani diri sendiri dengan alasan kaki sakit akibat bekas keseleo. Saya telah berjuang melawan rasa enggan itu. Rasa menyerah sebelum bertarung. Dan saya berhasil membuktikan, rasa sakit yang terjadi itu sebenarnya tidak sebesar apa yang saya bayangkan sebelumnya.  Saya berhasil menembus batasan yang ada di kepala saya. The excellence emerges when you exceed your limit

Nah..itulah yang membuat Wipro Run ini berbeda dengan tahun yang sebelum-sebelumnya. Selain itu, kali ini Spirit of Wipro Run juga ikut berpartisipasi mendukung Sahabat Anak dengan mengajak karyawan dan keluarganya menyumbang (uang, buku bekas atau mainan anak) agar bisa membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah. 

Senang sekali kali ini. Saya mencari tempat duduk untuk berteduh. Dan lamat-lamat saya memandang ke depan…eh… ada anak saya yang kecil sedang berdiri di antara 5 orang pemenang yang di atas panggung itu.  

Anak saya yang kecil. Lumayan menerima hadiah sebagai pemenang Wipro Run. Walaupun nomer 5.

​Rupanya ia menang dalam berlari, walaupun  nomer 5. Lumayanlah. Bangga dong ibunya. 

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa. 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

​Kerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

​Berkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.

Hidup Adalah Tentang (Berusaha) Mewujudkan Mimpi.

Standard

*Dapur Hidup: Stacking, Menyiasati Pekarangan Sempit*.

​​Ketika kecil, saya sering bermimpi. Mimpi tinggal di sebuah rumah kecil yang di kelilingi ladang luas penuh buah-buah tomat yang merah ranum,  kentang, labu parang, semangka dan berbagai sayuran yang hijau segar. Serta kandang ayam petelor dengan kokok ayam jago yang membangunkan tidur saya di pagi hari. Rumah  ladang impian saya  itu dihiasi dengan bunga mawar pagar yang mekar super banyak berwarna pink dan wanginya semerbak  ke mana-mana. Romantis banget kan impian saya itu? 

Ketika saya dewasa, sebagian impian itu menjadi kenyataan. Saya tinggal di sebuah rumah kecil. Sama ya dengan mimpinya?. Juga dikelilingi tanaman sayuran. Sama juga dengan mimpi saya. 
Tapi bedanya, rumah saya dikelilingi halaman yang sempit (bukan ladang yang luas) yang tentunya tidak muat untuk menampung semua tanaman sayuran impian itu. Boro-boro kandang ayam petelor. Jauhlah dari mimpi. Dan bunga bunga mawar pagar yang pink romantis? Mmmm… lupakan lah itu, karena mimpi kanak-kanak saya tak pernah menjelaskan bahwa mawar pagar hanya tumbuh di ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Hanya ada di kampung saya di Kintamani sana dan daerah pegunungan lainnya. Sementara sekarang saya tinggal di Jakarta (eh… sebenarnya TangSel deh…) di mana udaranya panas dan sudah pasti mimpi tentang bunga mawar pagar itu sudah terbang entah kemana. Sudah pernah saya tanam (Waktu itu batangnya saya ambil dari Puncak, Bogor). Tapi hanya batangnya saja yang memanjang dan gendut. Bunganya tiada kunjung muncul. Aah… tidak ada romantis-romantisnya amat tanaman ini ketika dibawa ke kota. 

Dengan kenyataan dunia ini,  apakah saya harus berhenti bermimpi? Oww…tentu tidaakkkk!!!!. Saya harus berusaha menikmati hidup sedekat mungkin dengan mimpi masa kecil saya itu. *Kedengeran agak keras kepala, agak ngeyel dan sedikit sombong ya?  

Ha ha… tentu saja karena kenyataannya lahan pekarangan saya sangat sempit saat ini (itu harus saya terima dengan penuh syukur), tapi saya harus mikir bagaimana caranya mengoptimalkan setiap centimeter pekarangan itu agar menghasilkan bahan makanan Sebanyak mungkin.

Saat ini hampir semua permukaan  terbuka di halaman saya tidak ada yang kosong. Full dengan tanaman.Mau diletakkan di ruangan, tanaman tidak dapat sinar matahari. Pertumbuhannya terganggu. Kerdil dan ‘nyalongcong’ kata teman saya yang orang Sunda. Tinggi langsing dan pucat pasi.  Jadi bagaimana akal? satu-satunya areal yang kosong adalah di udara!.  Ya…di udara adalah tempat yang paling memungkinkan bagi saya 2vesaat ini. 

Akhirnya saya berpikir untuk melakukan penumpukan box box tanaman itu ke atas saja selain menggantungnya di udara. Stacking!. Bisa menggunakan rak atau bisa juga memasang paku dan papan penyangga di dinding.

Stacking 4-5 tingkat ke atas, rasanya cukup banyak dan saya letakkan pada dinding. Dengan cara ini memungkinkan saya untuk memberi peluang yang sama kepada setiap tanaman untuk terpapar sinar matahari. Nah …setidaknya saya bisa memproduksi lebih banyak sayuran dengan cara begini. 

Rak ini memuat 3 box kangkung, 3 box selada. 3 box pak choi dan 1 box kailan dan 1 box tanaman sawi jenis lainnya. Lumayan banget ya buat Dapur Hidup berlahan sempit. 

Impian saya untuk hidup di tengah tanaman sayuran, sekarang satu langkah lebih mendekat. Walaupun lahan sangat sempit.

Hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Jangan pernah mau menyerah pada keterbatasan. Jika kenyataan hidup memberi banyak keterbatasan, cari cara agar impian kita semakin mendekat. Minimal mirip-miriplah.Yuk kita terus berusaha!!!.

Apa mimpimu, kawan? 

Red Carpet of Happiness.

Standard

*Cerita senja dari sudut  Taipei*.

​​Suatu sore saya sedang berada di kota Taipei untuk sebuah urusan. Tentu saja mumpung lagi di sana, sekalian saya ambil kesempatan untuk melihat dan merasakan sekitar. 

Orang orang melintas. Ada yang berjalan sendiri, berpasangan atau bergroup. Ada yang bergandengan tangan, sambil ngobrol dan bahkan ada yang menyedot minumannya sambil berjalan. Semuanya terlihat riang. Entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Jalanannya bersih. Penduduknya baik dan ramah. 

Saya lalu berjalan menyusuri pertokoan pinggir jalan. Tanpa terasa keluar dari jalan utama dan masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Hi! Ada karpet merah digelar di sini. Hm…Ada apa ya? Orang-orang berkerumun di kiri kanan. Semua terlihat bergembira. Tertawa riang, tersenyum dan menengok ke kiri dan kanan. Semuanya sibuk dengan hapenya dan mengambil ancang-ancang untuk mengambil foto. 

Di ujung sebelah sana, terlihat sebuah panggung dengan poster film besar. Dengan tulisan berhuruf mandarin. Saya tak bisa membacanya. 

Hm…serasa akan ada celebrity yang lewat. Siapa ya? Siapa ya? Mungkin bintang film itu. Tentu saja saya tidak tahu. Semua orang kelihatan sangat antusias. Saya ikut merasa senang. Menyeruak di tengah keramaian orang dan berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan bentangan karpet merah itu. Lalu ikut-ikut mengeluarkan hape dan mengambil ancang-ancang untuk memotret. 

Teman seperjalanan saya juga sama. Ia bahkan naik ke bangku di tepi jalan agar bisa lebih leluasa mengambil foto dari ketinggian. Setidaknya di atas kepala orang-orang yang berkerumun. Walaupun sama tidak pahamnya dengan saya, ia juga tetap memasang pose siap membidik seandainya ada sesuatu yang  bergerak di atas karpet merah. Tetap bergembira.

​Suasana semakin seru ketika acara dibuka. Serombongan   pendekar memperagakan ilmunya di atas karpet merah. Orang -orang bertepuk tangan. Bergembira. Ha!. Rupanya akan ada “Meet n Greet” dengan bintang utama sebuah film Kungfu dari China yang sukses di Taiwan. Karena tak lama setelah itu, turunlah para bintang film itu ke Red Carpet. Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya. Orang orang memotret dan saya juga. Rasanya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegembiraan itu. Ingin ikut memanggil, tapi saya tidak tahu namanya. Ha ha. 

​Tapi kalau dipikir-pikir ini aneh juga. Kami tidak tahu bintang film itu. Siapa dia? Apa pencapaiannya? Bagaimana reputasinya? Tidak pula nenonton filmnya. Juga tidak mengerti bahasanya. Jadi sebenarnya kami sedang bergembira dan mengelu-elukan sesuatu yang kami tidak tahu. Ha ha. ha.. saya jadi tertawa geli memikirkannya. 

Tapi mengapa kami sedemikian gembiranya?  Padahal kan sebenarnya tidak tahu apa-apa?. Hmmm…saya baru ngeh. Ternyata kegembiraan itu bisa datang ke dalam diri kita bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Lalu dari mana sesungguhnya kegembiraan itu datang? 

Dari kerumunan di sekitar Red Carpet itu!. Dari orang-orang di sekeliling kita!. Ya!. Saya pikir manusia menangkap gelombang kegembiraan dan kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Lewat senyum, pancaran cahaya mata dan tingkah laku. Ketika kita menangkap pesan kebahagiaan itu dengan receptor yang ada dalam diri kita, seketika itu kita terstimulasi untuk ikut menyesuaikan pada gelombang kebahagiaan yang sama. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang-orang lain, walaupun secara logika kita tidak mengerti apapun tentang penyebabnya. 

Karena kebahagiaan itu menular, berada di sekitar orang-orang berbahagia memungkinkan kita menerima gelombang kebahagiaan yang melimpah. Temukanlah karpet merah-karpet merah lain yang penuh dengan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidup kita, sehingga hidup kita pun terbawa arus dan gelombang yang sama. 

Posisi (Memang Terbukti) Menentukan Prestasi.

Standard

Pasti sudah sering mendengar pepatah ini “Posisi Menentukan Prestasi”. Maksudnya tentulah bahwa prestasi yang dicapai seseorang itu sangat ditentukan oleh bagaimana posisi orang itu  saat melakukan eksekusi.  Semakin bagus posisinya, tentu semakin bagus prestasinya. Oleh karenanya    banyak orang berlomba-lomba mencari posisi yang terbaik.  

Saya sendiri, belum pernah memikirkan pepatah itu baik-baik, walaupun sering mendengarnya juga. Nah sekarang saya teringat, gara-gara melihat kenyataan itu sendiri terjadi di depan mata saya. 

​Saya menanam beberapa box kangkung dengan system hydroponik tanpa listrik. Karana jumlahnya cukup banyak sementara halaman saya sempit, terpikir oleh saya untuk membuat rak bertingkat yang terbuka yang bisa menampung box-box tanaman sayuran termasuk kangkung saya itu. 

Singkat cerita, rak itu sudah jadi dan box box berisi benih  sayuran itupun saya letakkan dengan rapi di dalamnya. Semua sayuran mengalami perlakuan yang sama dalam hal treatment air dan nutrisi. Benih yang kecil mulai tumbuh.

Beberapa hari kemudian, saya melihat terjadi perbedaan yang cukup signifikan atas pertumbuhan tanaman itu dari satu box ke box lainnya. Hmm…mengapa ya? 

​​Tanaman dari box yang diletakkan di sisi yang paling terekspose dengan cahaya matahari mengalami pertumbuhan yang paling pesat. 


​Sedangkan yang diletakkan di posisi lebih ke dalam (lebih jauh dari cahaya matahari) tampak lebih kecil dan lebih lambat pertumbuhannya. Posisi box tempat tanaman ini bertumbuh  sangat menentukan tingkat keberhasilannya dalam bertumbuh. 

Jadi memang benar ya pepatah “Posisi Menentukan Prestasi” itu?. Menurut pendapat saya iya. 
Setiap posisi, di manapun itu tentu memiliki “tetangga sebelah”samping kiri, samping kanan, depan, belakang, atas, bawah. Posisi tertentu, membuat kita terekspose pada tetangga tertentu yang bisa jadi berbeda jika posisi kita berbeda. 

Ibaratnya si tanaman kangkung yang tumbuh pesat karena bertetangga dengan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhannya, seseorang juga sangat mungkin maju pesat karena dia berada di lingkungan orang-orang sukses. Setidaknya usahanya untuk sukses lebih mudah ketimbang orang yang berada di lingkungan orang orang yang gagal. Mengapa? Karena ia mendapatkan pemahaman, dukungan dan motivasi serta networking yang baik dengan pusat-pusat kesuksesan. 

Demikian juga sebaliknya.Jika seseorang tidak terkespose dengan kesuksesan dan lebih banyak berada di lingkungan orang-orang yang gagal, maka usaha yang dikeluarkan agar bisa sukses menjadi lebih berat. Karena tak ada orang yang memberi informasi, dukungan dan pertolongan. Ia harus mencari tahu sendiri, mencoba dan berusaha keras agar sukses. 

Memberi peluang kepada anak-anak dan  orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita untuk terekspose dengan hal-hal positive yang mendukung kesuksesannya di kemudian hari sangatlah penting. 

Cangkang Yang Membatasi Pertumbuhan

Standard

​Kemarin ini ceritanya saya sedang memeriksa biji biji tanaman kangkung yang saya semaikan di atas media rockwool.Sudah pada tumbuh.Angka persemaiannya nyaris 100%. Tampak sehat-sehat.Sebagian besar sudah mulai menunjukkan 4 lembar daun. Sudah di stage yang siap dipindahkan. Tapi beberapa ada juga yang daunnya masih 2 lembar, ada yang  masih kelihatan seperti kecambah saja, ada juga yang daunnya belum keluar semua, ujungnya masih terbalut cangkang bijinya.Saya membantu melepaskan cangkang itu satu per satu biar daunnya mengembang, dengan harapan agar tanaman ini bisa melakukan fotosintesis lebih cepat sehingga pertumbuhannya pun lebih cepat. Sslangatlah mudah melepaskan cangkang biji kangkung ini. Tinggal tarik, daunnya langsung mengembang dengan mulus.

Tapi dari sekian banyak yang saya bantu, ada satu tanaman kangkung  yang tampak aneh. Tangkai daunnya sudah sangat panjang, tapi cangkang bijinya masih melekat erat. Dibilang kecambah bukan, tapi jika disebut pohon Kangkung juga belum layak. Saya coba bantu lepaskan tapi  keras.Waduuh!. Akhirnya saya pecahkan cangkangnya dan paksa sedikit agar daunnya bisa keluar. Bisa sih… tapi daunnya kelihatan keriting dan kurus, karena terlalu lama terlipat dan digencet cangkangnya sendiri. Padahal daun teman-teman di sebelahnya jauh lebih besar dan lebar serta tetap teratur bentuknya walaupun sudah tidak diatur oleh cangkang. 

Jadi tanaman ini sebenarnya terlambat tumbuh akibat terbelenggu cangkangnya sendiri. 

Saya jadi membayangkan embrio ayam yang berada didalam cangkang telurnya. Embrio ini mengalami pertumbuhan dari hari ke hari. Semakin membesar setiap hari. Hingga ketika pertumbuhannya sudah optimal di hari ke 21 ia harus memecahkan cangkangnya sendiri agar bisa keluar menjadi anak ayam dan selanjutnta berkembang menjadi ayam dewasa. Karena cangkangnya sendiri sudah tidak muat. Apa yang terjadi jika embrio ayam ini tidak memecahkan cangkangnya ? Niscaya ia tidak akan bisa tumbuh lagi dan lama lama tentu akan mati. 

Alam rupanya sudah menetapkan mekanisne “jika ingin tumbuh pesat,  harus berani memecahkan cangkang sendiri”  itu untuk semua mahluk hidup. Berlaku untuk kangkung, berlaku untuk ayam dan bahkan menurut saya berlaku untuk semua mahluk hidup termasuk manusia.

Cangkang! Adalah icon alam untuk segala yang membatasi. 

Pandangan yang sempit adalah cangkang yang membatasi kita untuk melihat dunia kehidupan dengan lebih baik. Kita pikir apa yang terlihat oleh kitalah yang paling indah, hanya karena kita tak bisa melihat kehidupan yang indah lainnya di luar jarak pandang kita. 

Pikiran yang sempit adalah cangkang yang membatasi kita untuk memahami bahwa sesungguhnya sedemikian luasnya ilmu pengetahuan di luar sana yang belum terpikirkan oleh kita. 

Kefanatikan terhadap sesuatu, juga adalah cangkang yang membelenggu keyakinan kita yang membuat kita menyangka bahwa apa yang kita yakini adalah yang paling benar tanpa memberi kesempatan diri kita untuk mengetahui bahwa di luar sana sedemikian luasnya kebenaran yang tak tertangkap oleh mata bathin kita. 

Kekhawatiran dicap sok tahu dan menggurui, adalah cangkang yang membuat kita tak berani mengemukajan pendapat dan gagasan-gagasan kita. 

Ketakutan  untuk gagal, kekhawatiran akan diomongkan orang lain, kebiasaan mengandalkan orang lain dan sebagainya masih banyak lagi, adalah jenis-jenis cangkang dalam kehidupan sehari-hari  yang membatasi kita untuk berkembang. 

Laksana cangkang pada telor ayam dan pada biji tanaman, cangkang kehidupan  selalu  kita butuhkan di tahap awal untuk melindungi dan membantu kita semua agar lebih disiplin dan tertib. Namun begitu mencapai tingkat pertumbuhan dan pemahaman yang kuat, kita perlu memberanikan diri untuk memecahkan cangkang yang membelenggu diri dan pemikiran kita agar bisa berkembang lebih lanjut. Karena jika tidak, maka kita hanya akan berakhir di sini dengan keadaan seperti saat ini. 

Lepaskan cangkang yang membelenggu, buka peluang yang luas bagi diri kita sendiri untuk mampu berkembang sebaik-baiknya.