Tag Archives: Jakarta

Ondel-Ondel,

Standard

Jalur saya dari kantor ke rumah, adalah jalur perkampungan Betawi. Dengan demikian, saya menjadi beruntung karena hampir setiap malam sepulang kerja ada saja Ondel-Ondel yang saya lihat melintas di jalur itu.

Malam kemarin juga. Saat hendak mengisi bensin, saya lihat ada Ondel-Ondel sedang menari-nari di pomp bensin. Karena sangat dekat, saya berniat untuk menonton dan sekalian ngasih sumbangan. Sayapun turun dan mulai memotret sang Ondel-Ondel. Niat saya juga ingin merekam Ondel – Ondel ini. Walaupun gerakannya sederhana dan tanpa pakem, hanya maju, goyang ke kiri, goyang ke kanan atau beputar putar, tarian Ondel-Ondel ini cukup jenaka juga.

Baru saja sempat sekali menjepret sang Ondel-Ondel itu, seorang perempuan berlari sambil menunjukkan kaleng sambil memberi kode kepada saya agar saya segera memberi sumbangan uang.

Saya melihat ke arah perempuan itu dan berpikir, mungkin ini istri dari pria yang berada di balik Ondel Ondel itu. Dan ia setia ikut suaminya berjalan jauh untuk mencari nafkah.

“Ah!. Saya nggak mau ngasih uang sekarang, ntar kalau saya kasih uang pasti Ondel-Ondelnya langsung kabur, Mbak. Wong saya mau memvideokan Ondel Ondel ini” kata saya.

Si Mbak tertawa mendengar komentar saya. Lalu ia memanggil sang Ondel-Ondel dan menyuruhnya menari di dekat saya.

Waah… lumayan leluasa saya memotret dan memvideokannya. Karena sang Ondel Ondel sekarang mau menari dengan baik. Bukan menari ala kadarnya dan kabur.

Setelah cukup, lalu saya memberikan sumbangan kepada si Mbak. Dia tersenyum. Dan betul saja, begitu uangnya diterima, mereka langsung pergi. Berjalan lagi.

Saya tertawa. Nah inilah yang seharusnya disadari oleh teman teman seniman jalanan kita untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

Mengamen di jalanan, menurut saya adalah sebuah pilihan profesi juga. Akan tetapi, untuk meningkatkan minat orang menonton dan mengapresiasi serta membayar, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan:

1/. para seniman jalanan meningkatkan kwalitas pertunjukannya agar lebih baik dan menarik, misalnya dengan menciptakan gerakan baru, melatih gerakan dan lebih menyrimbangkan dengan musik yang dipilih.

2/. Melakukan pertunjukan dengan bersungguh sungguh hingga selesai, barulah meminta sumbangan/ bayaran dari masyarakat yang menonton. Jangan hanya menari ala kadarnya, lalu buru buru minta sumbangan dan segera kabur setelah uang diberi.

Advertisements

Ceritaku Di Kereta Api.

Standard

Kereta ApiSelama ini Kereta Api, adalah alat transportasi yang paling kurang familiar buat saya. Masalah utamanya adalah karena tidak ada kereta api di kampung saya di Bali sana. Jadi saya tidak pernah naik kereta api semasa kecil. Pertama kali naik kereta terjadi saat saya SMA. Waktu itu saya mau ikut perkemahan Pramuka di Cibubur. Dari Bali kami menumpang bis. Lalu menyebrangi Selat Bali dengan kapal laut ke Banyuwangi. Kemudian kembali naik bis sampai ke Surabaya. Barulah dari Surabaya saya naik kereta api. Saya ingat kala itu naiknya dari Stasiun Gubeng.

Setelah itu saya memang pernah naik kereta api keluar kota beberapa kali lagi. Tapi sangat jarang. Belum pernah menggunakannya sebagai alat angkut ke kantor. Barangkali karena ada alat angkutan alternatif yang bisa saya pakai sehari-hari. Selain itu jalur lintasan Kereta api yg ada tidak praktis juga ke arah kantor saya. Nah bagaimana kalau sekarang saya mencoba menjadikan kereta api sebagai alat transportasi alternatif?

Gara-garanya, saya tertarik mendengar cerita teman saya yang pulang kerja naik kereta api. Kedengarannya seru. Saya memutuskan untuk ikut mencoba.  Ternyata memang sebuah pengalaman yang sangat menarik buat saya. Teman-teman saya langsung menebak..”Pasti ntar ditulis  di blog...” kata mereka. “Pasti ntar blognya penuh dengan tulisan tentang Kereta Api” kata yang lain.  Hi hi…Ya iyalah. Kan setiap pengalaman yang menarik perlu ditulis. Termasukperjalanandengan kereta api ini. Biar nanti bisa saya kenang atau ambil intisari pelajarannya.

Transportasi Super Duper Murah.

Hari pertama saya naik Kereta Api, saya ikut teman-teman. Naik dari Stasiun Sudirman (Duku Atas), lalu mengganti kereta di Stasiun Duri dan turun di Stasiun Poris. Kurang lebih sejam lamanya perjalanan. Dari Stasiun Sudirman, kereta yang saya tumpangi sangat bagus dan bersih. Dinginnya AC terasa.  Penumpangnya kebanyakan para karyawati kantor yang masih bersih dan cukup wangi. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Jadi saya bisa duduk. Tapi begitu bertukar kereta di Stasiun Duri, bedanya jauuuh banget. Empet-empetan berdiri sampai sulit mencari ruang untuk berpegangan.  Tapi saya tak perlu khawatir akan jatuh jika tak berpegangan. Karena saking padatnya penumpang, jika misalnya pun keretanya ngerem mendadak, saya yakin saya tidak akan jatuh tapi tetap berdiri.  Mengapa?Ya… karena badan saya sudah terjepit dengan pas dari depan, dari belakang, dari samping kiri, samping kanan. Seperrti di-press begitu. Bagaimana mungkin jatuh ya?

Ya okelah soal berdiri himpit-himpitan. Tapi yang benar-benar menakjubkan adalah ongkosnya!. Saya membeli karcis di Stasiun Sudirman seharga Rp 12 000. Setelah keluar dari Stasiun Poris, ternyata karcis saya itu bisa dire-fund Rp 10 000.  Lah?! Jadi ongkosnya cuma Rp 2 000? Sejauh itu? Melintas berapa stasiun itu ya?. Nggak salah inih? Serius, hitungannya saya cuma bayar Rp 2 000. Padahal jarak tempuhnya sejauh itu ya? Coba bandingkan dengan naik taxi yang mungkin jika perjalanannya panjang begini bisa habis beberapa ratus ribu rupiah sekali naik. Top banget deh.  Sebaiknya jumlah Kereta Api ditambah dong, biar lebih memadai dan tak perlu berhimpit-himpitan.

The Beauty of Being…Gendut.

Kemaren adalah hari ke dua.  Pulang melakukan urusan kerjaan di daerah Jatinegara, saya naik kereta lagi. Berangkat dari Stasiun Manggarai, ganti kereta di Stasiun Tanah Abang lalu turun di Stasiun JurangMangu. Dari Stasiun Manggarai saya berangkat dengan seorang teman saya. Tapi saya turun untuk mengganti kereta di Stasiun Tanah Abang, sementara teman saya meneruskan perjalanannya hingga ke Stasiun Duri. Jadi yang ini lebih keren ya. Pertama kali lewat jalur ini dan seorang diri!.

Karena ini pengalaman pertama, saya memutuskan untuk ikut arus saja sambil bertanya ke petugas yang ada, bagaimanakah caranya jika saya ingin pergi ke Bintaro.? Ternyata saya disarankan mengambil platform no 5 atau 6 dan berhenti di Stasiun Jurang Mangu yang lokasinya berdekatan dengan Bintaro X-Change.

Kereta Api di plaform no 6 ternyata sangat penuh sekali. Saya memutuskan untuk mengambil yang di platform 5 saja. Kereta baru saja berhenti menurunkan sebagian penumpang. Saya menunggu di depan pintu Gerbong pertama.  Sangat sesak. Orang-orang pada berebut dan berdesakan. Baik yang mau naik maupun yang mau turun sama aggresif-nya. Pria dan wanita sama gagahnya kalau sudah memperjuangkan posisi berdiri di kereta.

Seorang wanita muda yang berbadan kekar mendorong orang-orang di sekitarnya dengan menggunakan sikunya. Sangat percaya diri, berani dan terkesan galak. Saya hanya bisa melihatnya dengan takjub. Orang-orang yang lainpun ikut mendorong-dorong juga. Nggak mau kalah.  Tiba-tiba siku anak perempuan itu mengenai perut saya tanpa sengaja. Refleks saya melindungi diri dengan melintangkan tangan di depan perut dan dada saya. Ia melihat saya dan tiba-tiba mukanya yang tadinya sangar berubah menjadi pucat pasi seketika.

Aduuuuh.. maaf ya Bu..maaf ya Bu…. Nggak sengaja.” katanya dengan gugup. Hmmm??##!?# Saya sendiri bingung. Mengapa tiba-tiba ia sepucat dan sugugup itu?. Mengapa ia meminta maaf kepada saya? Bukankah ia menyikut semua orang lain juga? Kenapa meminta maafnya hanya kepada saya?. Dan lebih aneh lagi, kerumunanpun tiba-tiba terasa agak mengendor. Saya bengong.

Mudah-mudahan nggak apa-apa perutnya, Bu?” tanya seorang Ibu lain di sebelah saya. “Hati-hati, Bu” nasihat yang lainnya. Saya kaget.  Lalu tertawa sendiri di dalam hati. Huaa ha ha..sekarang saya mengerti. Rupanya orang itu menyangka saya sedang hamil muda. Ya ampuuun..rupanyanya saya segendut itu sampai orang-orang menyangka saya sedang hamil. Dan kombinasi tubuh yang gendut dan sikap refleks melindungi perut ketika didesak, semakin memperkuat dugaan bahwa saya memang sedang hamil.  Hualaa….

Ibu-ibu di sebelah kiri dan kanan memberikan saya  jalan dan ikut membantu saya naik ke kereta duluan. Saya tidak apa-apa mengantri. Saya ngaku aja kepada mereka jika saya tidak sedang hamil kok. Cuma memang gendut saja.. Sebenarnya agak malu juga sih mengaku begitu. Tapi ya..mau bagaimana lagi ya….Memang begitu sih keadaannya.  Dan kembali lagi kalau lihat dari sisi positive-nya saja…. ya.. justru itulah the beauty of being gendut. Disangka hamil dan diberikan prioritas oleh penumpang lain.. Ha ha…!.

Tapi saya senang dampaknya. Orang-orang sekarang lebih tenang dan tertib mengantri. Tidak seperti di awal tadi.

Penemuan saya dari kejadian kecil itu adalah, bahwa ternyata masih banyak warga Jakarta yang peduli terhadap sesama. Dan terutama peduli terhadap wanita hamil yang dianggap lemah dan tak berdaya.

 

Sang Pencari Cahaya & Sang Pembuat Cahaya.

Standard

When you see the road...

JakartaKemarin saya ada urusan di tengah kota.  Berangkatnya cukup lancar, tapi pulangnya itu. Lalu lintas macettttt. Cettt. Cettt.  Parah deh. Tak banyak yang bisa saya lakukan, kecuali memandang ke luar jendela kendaraan di tengah kemacetan.

Seorang perempuan muda keluar dari sebuah gedung perkantoran. Perempuan itu berjalan menunduk, seolah kepalanya diganduli oleh berkilo-kilo beban. Bahu kirinya menyandang sebuah tas. Sementara tangan kanannya tampak menjinjing tas lap top.  Saya memperhatikannya. Langkahnya tampak lesu. Barangkali pulang kerja. Lelah. Begitulah kesan yang saya tangkap. Ia berjalan dalam keremangan cahaya pinggir jalan. Sesaat kemudian saya tidak bisa melihatnya lagi karena sudah jauh.

Mata saya beralih pada gedung-gedung yang menjulang tampak megah. Kokoh laksana penguasa kota yang perkasa. Penuh dengan lampu terang benderang. Sebagian sudah padam. Namun sebagian besar lainnya masih menyala terang. Cayanya ada yang putih lembut, seperti perak, kuning, jingga terang dan bahkan ada juga cahaya biru ataupun merah dan hijau. Tampak indah. Inilah yang namanya Jakarta.  Jakarta yang tak pernah tidur cepat.

Entah berapa banyaknya gedung pencakar langit yang bertebaran di kota ini. Puluhan? Ratusan? Siapa yang mencatat jumlahnya? Saya berhitung kasar di kepala saya. Satu gedung entah terdiri atas berapa lantai. Dua belas? Lima belas? Dua puluh lima?Tiga puluh? Bervariasi, tentunya. Jika setiap gedung sedikitnya menampung satu  kantor per lantainya, berapa jumlah kantor atau perusahaan di Jakarta ini?  Seberapa banyak bisnis yang bergulir dari gedung-gedung tinggi ini? Seberapa banyak tenaga kerja yang bisa diserap di sini? Tak mengherankan berbondong-bondong tenaga kerja datang ke kota ini. Mencari kerja.

“Sedemikian banyaknya lowongan kerja di Jakarta ini,  masak satupun diantaranya tidak ada yang mau menerima saya bekerja?” barangkali itulah yang ada di dalam pikiran optimist para pemburu kerja dari seluruh Indonesia ini ke Jakarta. Termasuk diri saya. Datang ke Jakarta, laksana laron di musim hujan yang tertarik terbang mendatangi sumber cahaya.

Namun siapakah pemilik  sumber-sumber  cahaya yang banyak bertebaran itu? Siapakah para pemilik perusahaan yang kantornya terang benderang di gedung-gedung pencakar langit itu? Sangat banyak jumlahnya. Dan tentu saja saya tidak kenal orangnya. Saya hanyalah seorang karyawan. Seorang pekerja yang tertarik mendekat ke sumber rejeki di gedung-gedung yang banyak itu. Hanya seekor laron diantara jutaan laron yang terbang ke arah cahaya. Namun saya bukanlah sang pemilik cahaya. Lalu siapakah mereka itu? Siapakah mereka para sang pemilik cahaya?.

Sang pemilik cahaya adalah mereka, orang-orang super smart yang menemukan jalan bagaimana caranya membuat api dan cahaya. Bagaikan orang -orang purba menggosok keras bilah kayu dan menampung percikan apinya di atas dedaunan kering yang mudah tersulut, mereka berpikir dan berkreatifitas hebat di atas modal usaha yang mereka miliki. Mereka melihat jalan untuk menemukan modal usaha, layaknya mereka menemukan dedaunan kering. Mereka melihat jalan bagaimana cara menggosok dua bilah kayu kering agar terpercik api dan menyulut dedaunan kering itu. Mereka melihat jalan yang orang lain tidak melihatnya.

Sekali mereka menemukan jalan bagaimana cara membuat cahaya, maka mereka akan membuat dan membuat cahaya lagi di tempat lain. Sehingga mereka memiliki beraneka cahaya putih, perak, kuning, jingga, bahkan biru, hijau ataupun merah. Cahaya yang menarik para laron untuk terbang mendekat. Demikianlah sang pemilik cahaya bekerja.

Saya terkagum-kagum takjub sendiri memikirkan itu. Lalu apakah bedanya antara laron sang pencari cahaya dengan mereka sang pemilik cahaya? Apa yang menyebabkan mengapa segelintir orang bisa sukses di Jakarta, sementara sebagian besar lainnya tidak sukses, sehingga harus bekerja pada orang lain yang mau membayar upah atas pekerjaan, ide-ide dan kreatifitasnya?. Kapankah laron akan berhasil menciptakan cahayanya sendiri? Sehingga ia tidak perlu lagi terbang menyabung nyawa untuk menguber cahaya ?

Para laron tidak melihat jalan untuk membuat cahaya. Ia hanya melihat jalan bagaimana caranya menuju cahaya. Itulah sebabnya mengapa ia menjadi laron. Ia mungkin pernah mendengar bagaimana api diciptakan, tapi ia tidak tahu dimana mencari dedaunan kering yang mudah tersulut. Atau ia tahu di mana dedaunan kering banyak berada, namun ia tidak tahu cara memantik api. Atau barangkali ia pernah mencoba memantik api sendiri, namun tidak cukup kuat menggosoknya. Sehingga ujung-ujungnya ia memilih terbang ke arah cahaya. Saya jadi teringat kepada gadis muda yang berjalan di keremangan tadi.  Ia serupa dengan diri saya. Ia mirip laron yang melihat jalan untuk terbang ke arah cahaya, namun belum menemukan jalan untuk membuat cahaya.

Lalu jika ada laron, apakah nun jauh di bawah sana, di dalam lubang-lubang tanah yang pengap ada juga para rayap pekerja yang tidak melihat cahaya?  Ya…tentunya. Jika kita ibaratkan masyarakat kita serupa dengan koloni rayap, maka di sana banyak juga saudara-saudara kita yang bahkan tidak menemukan jalan bagaimana caranya terbang ke arah cahaya. Mereka belum mampu menemukan sumber rejeki. Masih menjadi pengangguran. Sehingga mereka masih berkutat dengan kemiskinan.

Jika hari ini kita melihat cahaya, tidak ada salahnya kita berusaha semampunya membantu orang lain yang berada di kegelapan agar ikut melihat cahaya dan melihat jalan bagaimana mencapai cahaya. Sambil barangkali berusaha mencari jalan untuk menciptakan sendiri cahaya. Sehingga semakin banyak lagi cahaya-cahaya yang bisa terlihat dan semakin banyak lagi orang-orang yang bisa melihat jalan menunju cahaya.

Selamat pagi teman-teman. Semoga selalu sukses dan terang benderang dipenuhi cahaya.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya.

 

Menonton Peragaan Busana “The Rising” Di Jakarta Fashion & Food Festival.

Standard

Vitalis Eau De Cologne 4Ini sebenarnya cerita minggu yang lalu, namun baru sempat saya tulis hari ini. Tak apa-apalah ya..sedikit agak telat. Walau agak telat, saya ingin tetap menulisnya karena menurut saya ini sangat menarik.  Nah minggu yang lalu itu saya berkesempatan hadir di Hotel Harris, kelapa Gading dalam peragaan busana “The Rising”oleh 9 top designers yang sedang naik daun yang disponsori oleh Vitalis Eau De Cologne. Tentu sangat menyenangkan berada diantara para undangan dan pemerhati fashion ibukota. Saya bisa melihat trend fashion terakhir dan tentunya yang bakalan ngetop ke depannya. Sangat beruntung saya dapat tempat duduk di depan, sehingga bisa memperhatikan bagaimana para model itu membawakan karya-karya sang perancang dengan sangat baik.

Nah, acaranya sendiri di buka dengan peragaan yang dipersembahkan oleh Vitalis Eau De Cologne. Sangat mudah dimengerti, karena dunia Fashion sangat erat kaitannya dengan fragrance. Fashion sangat dekat dengan wanita. Demikian juga Fragrance, sangat dekat dengan wanita. Terutama untuk saat ini, hampir tidak ada wanita yang keluar rumah tanpa wewangian. Dan tentunya untuk penampilan sempurna, busana yang baik tidak bisa dipisahkan dengan fragrance yang baik.

Vitalis Eau De Cologne

Vitalis Eau De Cologne

Dalam acara ini Vitalis memperkenalkan kepada audience, empat fragrance Eau De Cologne yang sedang ‘happening’ banget di pasaran. Vitalis Eau De Cologne Haute Couture, wewangian dari Vitalis yang merupakan perpaduan Bulgarian Rose, Musk dan Woody yang sangat mewah, dibawakan oleh model dalam balutan busana Haute Couture berwarna merah nan anggun. Lalu Vitalis Eau De Cologne Diva yang dibawakan oleh model dengan busana pink yang romantis memiliki top note Bergamot, Pear dan Orange Blossom yang dipadu dengan Rose dan White Flowers yang feminin. Berikutnya model dengan busana biru membawakan Vitalis Eau De Cologne Femme Chic dengan wangi Fruity florals yang segar dikombinasi dengan Musk -Vanilla yang memikat. Terakhir model dengan busana ungu membawakan Vitalis Eau De Cologne Magnifique yang wanginya merupakan perpaduan wangi segar Orange, Mandarin dengan Jasmine , Vanilla, Musky. Sangat menarik sekali.

Seusai pengenalan fragrance ini kepada audience, barulah peragaan busana dari 9 Designers di mulai. Masing-masing designer membawa rancangannya dengan thema-nya sendiri-sendiri. Ke 9 Designers itu adalah:

1/. Rudy Chandra

Dengan thema “Retro Romance” membawakan rancangannya yang didominasi warna-warna merah burgundy kecoklatan,abu-abu dan hitam. Kelihatan sangat anggun, mewah dan elegan.

2/. Defrico Audy.

Dengan thema ” The Art of Gaisha”. Sesuai namanya, rancangan designer ini sangat kental dengan suasana Jepang. Terlebih dengan disajikannya pemandangan alam Jepang di latar belakang, semakin mebuat penonton hanyut ke negeri matahari terbit itu.

3/.Feronica Kristoofer.

Dengan thema “Lovina First” yang merupakan busana-busana ready to use. Terasa lebih ringan dan ceria. Serasa sedang menikmati liburan. Karya-karyanya didominasi warna biru, peach dan hitam.

4/. Erdan.

Dengan thema “Rainbow Splash”membawakan  rancangan busananya yang kelihatannya banyak terisnpirasi dari pakain daerah Indonesia. Terlebih dengan diperdengarkannya musik traditional sebagai pengiring, semakin perasaan kita hanyut pada kekayaan budaya kita.

5/. Daydo Andre.

Hadir dengan rancangannya yang unik yang berbahan batik yang berthema “Miss Rukinem”. Material, warna serta bahan dasar yang digunakan Daydo mengingatkan kita akan suasana tempo doeloe, yang dipermodern. Di sini Daydo juga memanfaatkan lement-element lain seperti tas anyaman, payung hingga ke balon untuk memperkuat rancangannya.

6/. Mety Choa.

Menghadirkan rancangan-rancangan busananya yang terlihat sangat anggun dan elegan dalam dominasi warna coklat dan krem. Rancangannya kali ini adalah pakain-pakaian ‘ready to wear’ yang praktis bisa digunakan untuk keluar rumah, acara-acar resmi ataupun ke kantor yang berjudul “Ensemble” karena merupakan 2-3 pieces yang bisa dimix& match. Selama ini Mety Choa dikenal dengan karya-karya Haute Couture-nya.

 

7. Annare.

Menghadirkan rancangan-rancangan bridal yang diberi thema ‘Love”. Warna-warna yang dipilih sangat mendukung  thema dan designnya. Semuanya berwrna pastel tunggal atau kombinasinya, sehingga overall peragaannya terasa sangat romantis. Terlebih dengan imagery yang ditampilkan di layar latar belakang, kesan soft & feminine semakin terasa.

8/. Rasyid Salim.

Perancang busana ini menampilkan karya-karyanya yang bertajuk ” The Aristocrat” yang memang kelihatan banget kesan bangsawan-nya.  Semua karya kelihatan dirancang sedemikian rupa dan dikerjakan dengan sangat hati-hati dan teliti sehingga terlihat sangat rapi dan wah banget.

9/. Ririn Rinura.

Karya-karyanya yang berjudul “Empire of the darkness” sangat terkesan unik dan nggak biasa. Penonon dikejutkan dengan rancangan gaun yang mengingatkan akan binatang melata, menyengat ataupun berbisa. Namun anehnya, walaupun demikian tetap terlihat cantik dan keren juga. Sangat kreatif!.

Demikianlah peragaan busana hasil karya dari 9 top designers. Saya merasa sangat kagum dan ikut bangga akan kreatifitas dan hasil karya mereka.  Semoga ke depannya Fashion Indonesia semakin maju dan semakin cemerlang serta semakin diperhitungan di dunia International. Tangguh bersaing dengan  rancangan-rancangan busana dari negeri lain.

Kesabaran Dan Pemahaman Situasi.

Standard

MacetSaya harus berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Karena ada schedule conference call pukul 7.30 pagi. Rencana saya, jika tiba lebih pagi, sisa waktu akan saya gunakan untuk membaca materi yang akan saya diskusikan sebelum conference call. Sempat terpikir, apakah sebaiknya masuk tol saja?. Hmmm.. Belum lama ini saya sempat lewat jalan tol, tapi apes banget. Saat itu tol malah lebih macet dari jalan biasa dan saya telat nyampai ke kantor. Kali ini saya tidak mau mengambil resiko.

Akhirnya saya menempuh jalan biasa. Lewat Pondon Aren -Ciledug – Cipondoh- Poris lalu masuk Daan Mogot. Lumayan lancar hingga keluar dari pertigaan Ciledug. Selepas itu, lalu lintas ternyata sangat padat.Antrian panjang sekali, sehingga laju kendaraan lambat. Beberapa kali harus berhenti. Makin lama lalu lintas makin macet, bahkan  sebelum jembatan Kali Angke, lalu lintas berhenti bergerak. Bergerak sedikit-lalu berhenti lama. Bergerak sedikit lagi, lalu berhenti lama lagi dan seterusnya. Saya melihat jam. Tanpa terasa sudah setengah jam kami di sini. Kemacetan ini mungkin masih akan berlangsung lama. Bisa jadi kami baru akan bisa melewatinya setengah jam lagi dari sekarang.  Sisa waktu yang tadinya saya pikir ada untuk membaca materi di kantor kini hilang. Pak Supir menawarkan apakah sebaiknya kami mencari jalan alternatif lewat Pondok Bahar saja?  Saya setuju saja karena sayapun mulai merasa tidak sabar lagi.

Memasuki jalur Pondok Bahar, jalanan terasa lancar. Namun sekitar lima menit kemudian, lalu lintas di jalur inipun semakin padat. Makin lama makin padat dan …macet lagi.  Waduuh. Bagaimana ini ya?. Saya berharap agar kemacetan menjadi cair. Namun alih-alih lancar, lalu lintas malah semakin semrawut dan akhirnya macet total!. Lebih  parah lagi karena jalanan di jalur ini sangat sempit ketimbang jalur Ciledug-Cipondoh. Menit-menit berlalu. Saya tidak bisa maju dan juga tidak bisa mundur ataupun memutar. Sekarang saya sadar bahwa saya benar-benar tidak akan bisa tiba di kantor tepat pada saat call terjadi. Saya coba hubungi kantor dan menginformasikan keterlambatan saya. Akhirnya Conference Call ditunda 45 menit, karena menunggu saya datang. Aduuh..jadi nggak enak hati ini.

Lalu lintas makin buruk. Jauh lebih buruk dari yang di Ciledug tadi. Saya memutuskan untuk naik ojek saja. Pak Supir memarkir kendaraannya di depan sebuah toko yang masih tutup, lalu turun mencoba mencarikan saya tukang ojek. Tidak saya duga, ternyata sangat sulit mencari tukang ojek di daerah itu. Entah karena memang jumlahnya sedikit atau barangkali karena kemacetan, semua tukang ojek sudah menerima order dari orang lain. Pak supir tak berhasil mendapatkan satu orangpun. Setelah setengah jam lewat tanpa hasil, akhirnya ada seorang tukang ojek datang. Tapi tukang ojek ini tidak membawa helmet dan kaget jika harus mengantarkan sejauh itu ke Daan Mogot. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Saya pikir  mungkin lebih baik saya kembali ke Ciledug dan mengantri di sana lagi. Setidaknya tingkat kemacetannya tidak separah di sini.  Pak Supir mencoba memutar haluan dan sungguh tantangannya sangat berat sekali. Bukan saja karena jalanannya sangat sempit, namun juga karena ukuran kendaraan yang saya gunakan sangat jumbo. Sehingga untuk memutar haluanpun sudah menimbulkan kemacetan baru tersendiri. Orang-orang melihat kami dengan wajah tidak senang. Aduuuh…maafkan saya ya.

Akhirnya saya kembali di antrian kemacetan Ciledug.  Saya hitung-hitung, sebenarnya sudah memakan waktu 1 jam sejak saya meninggalkan hingga saya kembali lagi ke titik di Ciledug ini. Jadi sebenarnya saya telah mebuang waktu saya selama 1 jam dengan percuma. Kemacetan sedikit lebih ringan. Tapi saya tahu kalau saya bahkan tidak akan bisa memenuhi waktu yang dijanjikan. Kembali saya menelpon kalau saya belum berhasil lolos. Conference Call ditunda 15 menit lagi.

Syukurnya kali ini saya bisa melewati antrian dengan lebih cepat.lalu selepas Ciledug Indah, jalanan sangat lancar. Akhirnya saya tiba di kantor. Semua orang di ruang meeting memandang saya dengan wajah cemas bercampur kasihan. Conference call pun dimulai. Saya meminta maaf atas apa yang terjadi.

It’s OK. Don’t worry. But if I fall asleep  now, I’ll blame you, Dani…” kata sebuah suara di seberang bercanda. O ya beda waktu yang cukup tajam di beberapa negara dengan di sini. Tentu sudah semakin malam sekarang di sana.  Saya tertawa kecut. Walaupun hanya bercanda dan semuanya bisa mengerti keadaan saya, tapi saya benar-benar merasa nggak enak.

*******

Saya pikir apa yang saya alami pagi itu pada dasarnya adalah akibat dari kegamangan saya dalam pengambilan keputusan.

Pertama adalah soal kesabaran. Kadang-kadang kita kurang sabar dan telaten untuk menangani masalah yang kita hadapi dan cenderung mengambil jalan pintas yang kita pikir lebih baik untuk menyelesaikannya. Padahal jika saja kita bisa sedikit lebih sabar dan telaten, barangkali kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan lebih baik tanpa harus mencari jalan pintas yang lain. Sama dengan kesabaran saya saat menghadapi keacetan Ciledug. Saya pikir jalur pintas Pondok Bahar akan memberi saya alternative yang lebih baik. Ternyata tidak. Bahkan lebih buruk.

Kedua, adalah pemahaman situasi yang parah. Pemetaan situasi yang buruk, sering membuat kita tergelincir dalam pengambilan keputusan. Kita tidak yakin dengan strategy yang kita ambil dan tidak paham pula dengan pilihan strategy yang tersedia. Serupa dengan pemahaman saya yang rendah akan situasi kemacetan di Ciledug, sementara saya pun tidak paham akan tingkat kemacetan yang mungkin terjadi di jalur Pondok Bahar. Belakangan saya tahu ternyata di sanapun ada Sekolah dan tempat keramaian lain sementara jalannnya sangat sempit. Entah kenapa sayapun lupa untukmendengarkan informasi jalan raya dari radio atau mencoba mencari berita dari internet.

Dua hal itu – Kesabaran dan Pemahaman Situasi –  menjadi pelajaran penting bagi saya di pagi hari  ini.

Pak Ogah Jalanan. Membantu atau Menyusahkan?

Standard

jalananSaya dalam perjalanan balik ke kantor dari makan siang. Beramai-ramai , nebeng teman yang membawa kendaraan. Cuaca sangat panas di luar. Debu dan uap jalanan bertebaran di udara. Lalu lintas tidak terlalu padat.Karenanya kendaraan melaju cukup cepat, akhirnya tibalah kami di putaran jalan. Seorang Pak Ogah berdiri di putaran itu, mengangkat ke dua tangannya, memanggil-manggil pengemudi untuk melaju dengan gerakan tangannya, lalu merapat ke pintu pengemudi. Teman saya  terlihat agak kikuk, lalu membuka kaca jendela mobil, memberikan uang kepada Pak Ogah itu lalu menutup kacanya kembali. Kendaraanpun melaju ke arah yang berlawanan dengan arah darimana kami datang sebelumnya.

Bagi yang dikotanya tidak mengenal istilah Pak Ogah jalanan, saya jelaskan sedikit bahwa  “Pak Ogah” yang saya maksudkan  ini adalah orang-orang (biasanya laki-laki, umur bervariasi- dari belasan tahun hingga setengah baya) yang berada di putaran jalan membantu memuluskan jalan bagi pengemudi yang ingin memutar haluan, dengan cara memberhentikan atau memperlambat arus lalu lintas yang sedang melaju. Dengan demikian, pengemudi yang  sedang memutar haluan kendaraannya bisa melakukannya dengan baik tanpa mengalami kesulitan lalu lintas yang berarti . 

Untuk jasanya ini, biasanya mereka meminta imbalan dari para pengemudi yang bersangkutan,  oleh sebab itulah mereka dinamakan dengan Pak Ogah. Diambil dari nama salah satu tokoh pengangguran di film Si Unyil yang terkenal dengan  kalimatnya “Cepek dulu dong  !” setiap kali membantu orang lain. Kadang Pak Ogah jalanan ini juga disebut  dengan istilah “Polisi Cepek”.

“Lah,  orang itu kan tidak menolong kita. Sebenarnya tidak perlu diberi uang” Celetuk seorang teman. Rupanya ia memikirkan hal yang nyaris sama dengan yang saya pikirkan. Sebenarnya Pak Ogah yang ini  memang tidak menolong sama sekali. Malah membuat ribet dan kagok teman saya yang mengemudi.

Pertama, karena kenyataannya lalu lintas relatif sepi. Tidak ada kepadatan yang berarti. Sebenarnya pengemudi bisa lewat di putaran itu dengan normal. Tanpa perlu bantuan siapapun, termasuk dari Pak Ogah.

Kedua, Pak Ogah itu berdiri di depan sisi kanan, dekat pintu supir. Ia tidak membantu mengentikan laju lalu lintas yang berada di sisi kiri. Mengapa ia berdiri di situ dan malah menghalangi lajunya kendaraan? Bukankah jika ia mau menolong seharusnya ia berdiri di pintu kiri? Agar bisa memberhentikan laju lalulintas dari arah kiri? “Karena kalau berdiri di kanan, ia takut tidak kebagian uang dari supir“kata teman saya yang lain. Hmm.. mungkin saja sih. Masuk akal juga.

Teman -teman yang lain ramai-ramai bercerita tentang pengalamannya dengan Pak Ogah yang rata-rata menurutnya tidak membantu, malah membikin ribet.  Ada yang bercerita bahwa seorang teman kami yang lain  bahkan pernah berani membentak Pak Ogah di tikungan ” Pergi kamu! Kamu tidak berguna berdiri di situ!. Bikin saya susah saja!” cerita teman saya ketika  teman kami itu nyaris menabrak orang lain gara-gara seorang Pak Ogah sibuk meminta imbalan di sisi kanan tanpa sedikitpun membantunya  mengatur kepadatan lalu lintas di sisi kiri. Saya tertawa mendengar ceritanya. Karena setahu saya rata-rata pengemudi wanita umumnya memberi uang kepada Pak Ogah, terlepas apakah sebenarnya ia dibantu atau tidak. Entah karena takut, merasa nggak enak,segan, malu , dsb jika tidak memberi uang. Kalau ada yang berani sampai membentak Pak Ogah, tentu itu sebuah prestasi.

Kesimpulannya beramai-ramai, Pak Ogah yang berdiri di sisi pintu supir memang tidak membantu. Mereka hanya mengutamakan imbalan dari pengemudi.

Lalu apakah  Pak Ogah itu sebenarnya diperlukan atau tidak? Apakah ada Pak Ogah yang memang benar-benar membantu dan berguna? Ramai-ramai teman saya menjawab bahwa Pak Ogah itu kadang dibutuhkan juga keberadaannya. Tidak semuanya menyusahkan!. Terutama pada saat tidak ada petugas polisi lalu lintas yang mengatur kepadatan (barangkali karena jumlah polisi lalu lintas terbatas, atau mereka sedang istirahat,dll). Pak Ogah sangat dibutuhkan dan bisa jadi sangat berguna.

Pak Ogah yang berdiri di sebelah pintu kiri supir, yang benar-benar bekerja memberhentikan atau memperlambat laju kendaraan yang lewat itulah yang memang benar-benar membantu. Itulah yang sebenarnya layak diberi imbalan.  Tapi masalahnya ia berdiri di pintu jauh? Lalu bagaimana pengemudi bisa memberikannya imbalan? Kecuali ia mendekat dengan cepat. Jika tidak tentu ia ditinggal oleh pengemudi yang harus bergegas memutar stir kendaraannya.  Kasihan Pak Ogahnya.

Jadi menurut teman-teman saya, yang ideal itu, di setiap tikungan yang padat dan berpotensi membuat kemacetan sebaiknya ada polisi. Atau jika tidak, dibutuhkan dua orang Pak Ogah. Pak Ogah1 fokus tugasnya adalah  membantu mengatur lalu lintas, harus berdiri di sisi jauh dari pengemudi dan tidak perlu memikirkan uang. Dan pak Ogah2 berdiri di sisi dekat pengemudi tugasnya menampung uang dari pengemudi atas  kerja yang dilakukan oleh pak Ogah1. Pada  akhir kegiatan, uang itu harus dibagi berdua sesuai dengan kesepakatan (sebaiknya Pak Ogah1 yang menerima bagian yang lebih banyak dong ya.., karena kan resikonya lebih tinggi dan pekerjaannya lebih sulit, dibanding dengan yang hanya berdiri , mengangkat tangan dan meminta uang).

Saya mengingat-ingat, di beberapa putaran jalan rasanya cukup sering juga saya melihat Pak Ogah beraksi dengan temannya. Berdua atau bertiga. Barangkali mereka telah memikirkansebelumnya  hal-hal yang dipikirkan oleh para pengemudi.

 

 

Ikan Sapu-Sapu Yang Meloncat Di Permukaan Air Kali.

Standard

Ikan Sapu-Sapu Meloncat Di Permukaan Sungai.Ketika mengamat-amati tingkah laku burung-burung liar di pinggir kali di belakang rumah, pandangan saya terpaku pada ikan-ikan  yang naik dan turun di permukaan air sungai. Saya pikir itu ikan lele, karena warnanya hitam dan saya tidak bisa melihat bentuknya dengan lebih jelas. Gerakannya sangat lincah dan berulang-ulang kali,sehingga menimbulkan percikan, juga riak dan gelombang kecil pada permukaan sungai yang mengalir.  Jumlahnya sangat banyak. Silih berganti. Mirip pertunjukan akrobat. Saya lalu memberi tahu anak saya yang kecil akan kejadian itu. “Itu ikan sapu-sapu, Ma.” Kata anak saya dengan yakin. “Tahu dari mana? “ tanya saya. “Pernah lihat ada orang yang menangkap ikan yang meloncat-loncat  itu di sungai dekat lapangan basket. Kelihatan jelas bentuknya”. Jawab anak saya. Ooh.. bisa jadi sih. Read the rest of this entry

Mutiara – Setetes Embun Dalam Asuhan Sinar Rembulan.

Standard

Mengenal Mutiara Asli Dan Palsu.Mutiara! Semua wamita tentu menyukai mutiara. Bukan saja karena keindahannya,namun juga karena keistimewaannya. Tidak seperti batu permata lainnya yang baru menunjukkan keindahan optimalnya setelah dipotong, diasah dan digosok-gosok, mutiara sudah terlihat kemilau mempesona sejak diketemukan dari dalam kerang di alam, tanpa perlu mendapatkan perlakukan tambahan apapun dari manusia. Tidak perlu dipotong, tidak perlu digosok atau dipolish. Sudah begitu adanya. Indah dan berkilau.  Itulah sebabnya banyak sekali cerita, legenda ataupun mythos yang pernah didengar manusia tentang mutiara ini. Ada yang mengatakan bahwa mutiara adalah tetes airmata ikan duyung yang tertangkap di dalam kerang. Ada juga cerita yang mengatakan bahwa mutiara adalah tetesan air liur naga yang tertangkap oleh tiram. Ada lagi cerita yang mengatakan bahwa mutiara adalah tetesan embun yang mengembang dalam asuhan sinar rembulan. Masih banyak lagi cerita yang lainnya seputaran mutiara. Read the rest of this entry

Tiga Jam Di Pintu Ciawi II.

Standard

Penunjuk jalanGerimis mulai berkurang, beberapa orang lelaki  lengkap dengan helpnya mengacung-acungkan tangannya. Awalnya saya agak bingung. Apa yang dilakukan oleh orang-rang itu?Mengapa ia mengetok-ngetok jendela pengemudi dan memberi tanda dengan telunjuknya? Akhirnya saya ingat, bahwa mereka adalah orang-orang yang  membujuk pengendara agar mau mengikuti mereka melalui jalan pintas menuju Puncak. Tentu saja dengan maksud agar mendapat upah sebagai penunjuk jalan. Profesi baru yang muncul akibat kemacetan. Kami tidak mau. Terutama karena sebelumnya kami pernah mencoba jalur itu, bahkan lebih parah macetnya ketimbang jalan besar yang lebih resmi. Ujung-ujungnya kami sampai di Puncak  setelah hampir lima jam berjuang di jalan sempit yang penuh dengan para Pak Ogah yang meminta uang di setiap tikungan. Jadi tak ada gunanya juga mengikuti mereka.  Toh hasilnya tidak akan lebih baik juga. Read the rest of this entry

Tiga Jam Di Pintu Ciawi I.

Standard

Macet Di CiawiLong weekend.  Saya bermaksud menghabiskan waktu di kota Sukabumi bersama suami dan anak-anak. Udara yang dingin dan sejuk, serta air yang mengalir. Selalu membuat saya merasa segar setiap kali mengingatnya. Sayangnya perjalanan ke kota itu, kali ini benar-benar melelahkan. Macetnya luarbiasa!. Berangkat pukul 10 pagi lewat tol JakartaBogor, kami baru bisa mendekati pintu Ciawi pada pukul 12 siang. Dan harus bengong tak bergerak selama tiga jam di Pintu Ciawi, karena jalur Puncak baru dibuka pada pukul 3 sore. Perjalanan keluar pintu Ciawi yang biasanya ditempuh selama satu jam itu kini harus ditempuh dalam waktu lima jam! Sungguh T E R L A L U !. Prestasi buruk yang luar biasa. Read the rest of this entry