Tag Archives: Jawa Barat

Oncom Hitam Sukabumi.

Standard

image

Oncom!. Pertama kali tahu makanan bernama oncom ini di rumah seorang sahabat di Singaraja yang kebetulan papanya orang Sunda. Saat itu saya disuguhi keripik oncom. Sungguh mati saya tidak menyukai tampang dan juga rasanya. Gimana ya…rasanya rada rada ajaib dan nggak menarik begitu menurut saya, tapi karena tidak enak hati kepada tuan rumah saya berusaha menghabiskannya juga sepotong.

Namun dengan berjalannya waktu dan semakin seringnya saya bergaul dengan oncom, lama lama saya suka juga sama si oncom. Dan sekarang malah termasuk salah seorang penggemarnya. Mungkin itu apa yang disebut orang sebagai “witing tresno jalaran soko kulino”. Ketagihan oncom!.

Kalau di Jakarta sehari harinya yang kita temukan adalah oncom berwarna orange. Tapi jika di Sukabumi, yang umum saya temukan di jual di pasar dan tukang sayur adalah oncom hitam.

Bedanya apa ya? Menurut keterangan yang saya dapat, oncom orange dibuat dari ampas kedelai saat orang mau bikin tahu dan difermentasi dengan kapang Neurospora intermedia yang berwarna merah jingga. 

Sedangkan oncom hitam dibuat bukan dari ampas tahu, tapi dari kacang tanah segar dan difermentasi dengan jamur Rhyzopus oligosporus, kapang yang sama yang juga dipakai untuk memfermentasi tempe. Kalau begitu, ya menurut saya secara teknis, oncom hitam itu sama dengan tempe hanya saja beda di bahan baku. Tempe menggunakan kacang kedelai, sedangkan oncom hitam menggunakan kacang tanah. Jadi sebenarnya oncom hitam = tempe kacang tanah.

Bagaimana mengolahnya? Serupa dengan oncom orange, oncom hitam umumnya dimasak dengan cara ditumis, dipepes atau dibikin keripik. Rasanya? Ya seperti yang saya ceritakan tadi… ngangenin!. Kalau saya ditanya sekarang, jawaban saya pasti enak walaupun dulu saat awal awal rada bingung juga soal rasa oncom ini. Apalagi jika ditumis pedas…. wah.. mantap deh. Sekarang, setiap kali jika saya dari Sukabumi pasti saya membawa oncom hitam ini ke Jakarta.

Yuk kenali dan cintai makanan traditional kita!

Sukabumi: Mengenal Iket Sunda.

Standard

Iket SundaMasih bagian dari obrolan saya dengan Andri dan Fonna Meilana dari Lokatmala.

Ketika awalnya saya masuk ke rumah pasangan ini karena melihat tulisan “Komunitas Iket Sunda” di dekat pintu depan rumahnya. Seketika saya ingat akan Ikat kepala Sunda yang pernah dikenakan oleh beberapa orang teman saya, antara lain Miming Jumiarto dalam profile picture-nya di Facebook.  Dan juga sahabat blogger saya yang asal Sukabumi, Kang Titik Asa. Sayapun bertanya, komunitas apakah gerangan itu? Apakah benar ada kaitannya dengan ikat kepala traditional Sunda ? Dan apakah mereka juga yang mendirikannya?

Andri menjelaskan bahwa itu adalah komunitas non kemersial dari orang-orang yang cinta  dan ingin memperkenalkan kembali serta mengembangkan iket kepala traditional Sunda. Didirikan di Bandung dan Andri mengatakan bahwa ia bukan pendirinya namun saat ini merupakan bagian dari Komunitas Iket Sunda itu juga. Dan ia lebih fokus dengan Iket Sunda yang umum digunakan di Sukabumi saja. Setiap wilayah memiliki gaya ikatnya masing-masing, yang bisa saja berbeda satu sama lain. Ya..saya teringat saat bermain ke gunung Padang, saya juga melihat para guide di situ mengenakan iket dengan gaya yang berbeda dari yang pernah saya lihat di tempat lain. Saya sangat tertarik untuk mengenalnya.

Iket Sunda Sukabumi biasanya berupa kain persegi dengan empat sudut. Dimana motifnya biasanya memiliki motif tepi yang disebut pagar dan motif di tengah-tengah yang disebut dengan modang.  Secara umum, cara/gaya mengikat iket itu bisa dibedakan menjadi Iket Buhun dan Iket Kiwari. Iket Buhun adalah Iket dengan style yang sudah  digunakan sejak jaman dulu hingga kini. Warisan leluhur.  Sedangkan Iket kiwari adalah iket yang diciptakan dan banyak digunakan di masa sekarang ini.

Menurut Andri, di Sukabumi ada 5 jenis Iket Buhun  dasar yang biasa digunakan yakni; Parekos Jengkol, Parekos Gedang, Julang Ngapak, Parekos Nangka dan Barangbang Seumplak  Sisanya yang lain adalah hasil pengembangan dari 5 jenis Iket ini. Atau jika tidak, merupakan kreasi generasi belakangan.

1/. Parekos Jengkol.

Parekos JengkolParekos dalam Bahasa Sunda artinya adalah lipatan yang dilakukan sambil memutar. Parekos Jengkol = Lipatan Jengkol.

Parekos Jengkol dipakai dengan cara melipat Iket segi empat menjadi segi tiga terlebih dahulu, kemudian melipat kembali dasar segitiga sebanyak 2 lipat, lalu memasangkannya dengan cara melilit pada kepala.  Cara memasangnya adalah dengan memastikan bagian atas kepala tertutup kain, ujung salah satu kain ditarik ke depan dan diselipkan di bawah lilitan, sehingga terlihat muncul tepat di tengah-tengah dahi . Ikatan dilakukan di bagian belakang dengan ujung ikatan dibiarkan lepas menggelantung.

Gaya Iket Parekos Jengkol ini sering kita lihat dipakai  oleh beberapa tokoh Sunda,  misalnya tokoh Cepot dalam Wayang Sunda.

 

2/. Parekos Gedang.

Parekos Gedang.Gedang dalam Bahasa Sunda berarti Pepaya. Jadi Parekos Gedang = Lipatan Pepaya. Mungkin disebut demikian karena setelah jadi, ikatan ini bentuknya mirip pepaya.

Menurut saya, Parekos Gedang ini sangat mirip cara pemakaiannya dengan Parekos Jengkol. Mulai dengan melipat kain segi empat menjadi segi tiga lalu melilitkannya di kepala dengan cara yang sama dengan Parekos Jengkol. Hanya saja ujung ikat kepala tidak ditarik sebanyak di Parekos Jengkol. Ujung kain di dahi itu cukup ditiban di bawah lilitan kain, sehingga tidak ada ujung kain ikat yang muncul di tengah dahi.

Juga di bagian belakang, ikatannya dirapikan dan dimasukkan ke dalam lilitan belakang, sehingga tidak ada sisa ujung ikatan yang terlihat lepas.

3/. Julang Ngapak.

Julang Ngapak.Julang berasal dari kata Manuk Julang, nama dalam Bahasa Sunda untuk Burung Enggang.  Sedangkan Ngapak artinya membentangkan sayapnya lebar-lebar. Jadi Julang Ngapak = Burung Enggang yang merentangkan sayapnya. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa burung Julang dikagumi  karena konon memiliki ethos kerja yang sangat baik.

Iket Julang Ngapak ini terlihat cukup unik, karena memiliki dua ujung yang diatrik ke samping mirip jambul burung hantu.

Iket Julang Ngapak ini sebenarnya agak mirip dengan Parekos Jengkol, tetapi pada bagian kain yang menutup kepala bagian atas, ditarik ke samping kiri dan kanan, hingga menyerupai sayap burung Julang.

4/. Parekos Nangka.

Parekos NangkaDari namanya, Iket ini mudah dimengerti maksudnya. parekos = lipatan. Sedangkan nangka artinya sama dengan nangka dalam bahasa Indonesia.

Parekos Nangka memiliki tampilan unik, karena penutup kepala bagian atas yang pada Parekos Jengkol dan parekos Gedang berada di bawah lilitan kain di bagian dahi, namun pada Parekos nangka ini, ujung kain tidak ditiban. Alih alih ditiban, ujung kain di bagian depan malah dilepas dan dibiarkan mengantung ke di depan dahi.

 

5/ Barangbang Seumplak.

Barangbang Semplak.Barangbang adalah kata dalam Bahasa Sunda untuk Pelepah Daun Aren atau juga pelepah kelapa. Kita tahu bahwa di daerah pasundan sangat banyak tumbuh pohon aren.  Sedangkan Seumplak artinya adalah nyaris jatuh (tapi masih menempel di batangnya), misalnya akibat sudah layu  atau patah tertiup angin. Jadi Barangbang Seumplak artinya Pelepah Daun Aren yang nyaris jatuh/patah.

Iket Barangbang Seumplak ini tidak menutupi kepala bagian atas.  Sehingga kalau udara sedang panas lembab, kelihatannya tidak membuat kepala berkeringat. Iket dilakukan dengan cara melipat kain segi empat menjadi segitiga, lalu dililitkan di kepala dengan meletakkan bagian ujung segitiga kain di bagian belakang. Ikatan dilakukan pada bagian belakang.

Di luar 5 Iket dasar Buhun ini, masih banyak lagi jenis Iket yang lain yang diciptakan belakangan. Andri sendiri juga sempat menciptakan beberapa jenis Iket masa kini. Rupanya setiap wilayah memiliki gaya mengikat yang tidak selalu persis sama. Sehingga jika dihitung di seluruh tanah Pasundan, banyak sekali jenis Iket yang ada.  Sayang sekali jika Iket ini sampai hilang karena tidak banyak lagi orang menggunakannya dalam aktifitasnya sehari-hari.

Saya salut kepada orang-orang di Komunitas Iket Sunda yang dengan sabar dan tekun terus menerus berusaha mengenalkan kembali Iket Sunda, tata cara berbusana ala Sunda sesuai dengan warisan leluhur.

 

 

Batik Sukabumi, Motif, Filosofi Dan Pewarna Alam.

Standard

Batik SukabumiKetika mendengar nama Batik Sukabumi disebut, tentu penasaran dong. Apa itu Batik Sukabumi? Apa bedanya dengan batik-batik yang lain, misalnya batik Cirebon, atau batik Pekalongan atau batik Jogja dan sebagainya? Apakah ada motif tertentu atau pakem-pakem tertentu  yang menjadi ciri khasnya? Pertanyaan itu mendapat respon yang baik ketika saya berkesempatan ngobrol dengan pasangan pencinta budaya Sunda,  Fonna Melania dan Andri dari komunitas Lokatmala  -yang kebetulan juga pengrajin batik.

Menurutnya, yang dimaksudkan dengan Batik Sukabumi bisa dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni:1/. Batik yang menggunakan motif-motif khas Sukabumi, diciptakan dan dikerjakan  di Sukabumi. 2/. Batik yang dibuat dengan motif-motif khas Sukabumi tapi dikerjakan di luar daerah Sukabumi, misalnya Cirebon, Pekalongan dll.

Lalu apa motif khas batik Sukabumi yang membuatnya berbeda dengan batik daerah lain? Dari sana saya mendapat penjelasan bahwa motif batik yang diakui secara resmi sebagai motif khas Sukabumi sebenarnya ada 4 yaitu Pala, Paku Jajar, Pisang Kole dan Bunga Lily.  Mengapa motif-motif itu dianggap motif khas? Alasannya sangat simple, karena tanaman-tanaman itu sangat melimpah keberadaannya di Sukabumi.  Apakah alasan itu cukup unik untuk membuat sebuah batik bisa diklaim sebagai Batik khas Sukabumi? Bukannya tanaman itu juga ada banyak di tempat lain di Indonesia? Jika orang di daerah lain juga membatik dengan menggunakan motif itu, tentu ke-khasan Batik Sukabumi akan berkurang. Karena tidak unik lagi.

MembatikJauh sebelum pertanyaan ini muncul di benak saya, rupanya Fonna sudah memikirkannya. Dibutuhkan alasan yang jauh lebih mendasar jika ingin menggunakan element sebagai motif khas. Untuk itulah ia berusaha menggali hal-hal yang lebih mendasar dan spesifik kaitannya dengan budaya lokal Sukabumi ataupun hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Sukabumi, untuk diangkat ke dalam design batiknya guna meningkatkan ke”genuin’an dan kekhasannya.

Salah satunya ia bercerita tentang keberadaan dua buah Kendi di depan Masjid Agung yang menjadi salah satu landmark kota Sukabumi. Kendi itu memiliki kaitan sejarah dengan peristiwa heroik Bojong Kokosan. Sat itu sebelum para pejuang berangkat ke medan perang guna mempertahankan wilayahnya dari serbuan Belanda, mereka dimandikan terlebih dahulu dengan air dari 2 kendi itu yang sebelumnya sudah didoakan oleh ulama. Dan diciprat dengan menggunakan bunga wijaya kusuma. Sehingga ia terpikir untuk mengangkat element Kendi, Bunga Wijaya Kusuma dan Air dalam design batiknya. Karena element-element ini lebih spesifik dan  bisa dikaitkan dengan sejarah Sukabumi.

Kendi, bisa dikaitkan dengan kendi di depan Masjid Agung dan kisah Bojong. Demikian juga dengan Bunga Wijaya Kusuma. Selain itu Bunga Wijaya Kusuma juga menjadi symbol bagi sesuatu yang mekar,wangi dan cemerlang menerangi kegelapan. Dan Air, sangatlah erat dengan Sukabumi dan sejarahnya.  Secara umum Sukabumi memang memiliki sangat banyak air, sawah dan sungai sungai yang jernih. Kita tahu bahkan Balai Besar Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar berada di kota ini. Bahkan kalau diperhatikan ada jalan di Sukabumi yang bernama Ciwangi alias Air Harum  (Ci=Air, Wangi = harum). Mereka yakin akan keberadaan mata air wangi ini di sekitar hulu jalan Ciwangi sekarang. Itulah sebabnya mengapa ada gang yang diberi nama Gang Tirtha.

Manuk JulangHal lain yang ia sempat gali lagi adalah cerita-cerita rakyat dan legenda lama yang menyebar di kalangan masyarakat Sukabumi. Contohnya adalah Manuk Julang. Manuk Julang adalah kata dalam bahasa Sunda untuk Burung Enggang. Manuk Julang ini diyakini sebagi burung yang memiliki ethos kerja yang sangat tinggi. Konon burung ini akan berusaha terus mencari makanan/air dan tidak akan berhenti sampai ia dapat. Ia bahkan bersedia mati terbang dalam usahanya mencari sesuatu, ketimbang harus istirahat saat ia belum menemukan apa yang ia cari. Symbol Julang Ngapak (burung Julang yang sedang merentangkan sayapnya) misalnya bisa kita temukan digunakan dalam salah satu Iket Sunda ataupun diterapkan pada atap rumah Sunda traditional jaman dulu.

Nah, Manuk Julang inipun ia masukkan ke dalam element designnya. Sama halnya dengan design kucing Candramawat yang ia ambil dari cerita Nini Anteh dan   Ikan Leungli dari cerita Puteri Rangrang. Wah..kaya dan kreatif sekali idenya ya? Saya pikir apa yang ia lakukan sangat masuk akal. Mengaitkan sejarah, cerita rakyat dan filosofinya ke dalam element design untuk meng’enhance’ kekhasannya dan keterhubungannya dengan Sukabumi.

pala DesignLalu apa yang ia lakukan dengan motif-motif yang sudah dipatentkan sebagai motif khas Sukabumi? Ia tidak kehabisan akal. Melihat bagaimana buah pala utuh bulat lengkap dengan daunnya tidak selalu compatible dengan setiap design,maka ia membery style pada buah pala itu. “Bagaimana coba jika ujug-ujug ada buah pala pada design yang bercerita tentang air dan ikan? Buah pala lengkap pula dengan daunnya? Nggak nyambung kan?” katanya. Oleh karena itu ia membuat versi stylirasi yang lebih masuk akal dan lebih nyambung. Ketimbang buah pala utuh, ia mengambil biji dan selaput bijinya (fuli) yang memang terlihat jauh lebih cantik dan lebih nyambung kemana-mana. Bahkan kalau diletakkan berdekatan dengan motif airpun sekarang terasa tetap nyambung saja.

Pewarna alam.

Pewarna alamBudaya membatik sudah sangat tua di daerah Priangan. Bedanya, jika di Jawa menggunakan wax alias lilin untuk membantu proses penghambatan warna, di Sunda digunakan ketan.  Sedangkan pewarna jaman dulu tentunya diambil dari alam sekitarnya. Fonna berusaha melakukan proses membatik sedekat mungkin dengan apa yang dilakukan nenek moyang jaman dulu. Untuk beberapa batik tulisnya, Fonna juga menggunakan bahan-bahan pewarna alam yang dibuat dari daun pala, daun melinjo, daun alpukat, jengkol dan sebagainya. ternyata banyak juga ya bahan pewarna alam ini. Dan hasilnya ternyata sangat cantik.Warnanya kelihatan kalm dan teduh. Dan tentunya pewarna alam ini jauh lebih aman dan sebenarnya lebih mudah dicari dari lingkungan di sekitar kita. Back to Nature!.

Ia sangat menyukai batik dan menikmati pekerjaannya. Menurutnya nilai batik itu ada pada prosesnya. “Membatik adalah sebuah proses. Kalau kita tidak bisa menghargai prosesnya, ya gunakan saja kain printing” .

Bandung: Mengunjungi Museum Geologi II.

Standard

Sebelumnya saya sudah menceritakan tentang kunjungin saya dan anak-anak ke Museum Geologi di Bandung – namun lebih pada benda-benda yang tersimpan di lantai dasarnya. Karena Museum itu terdiri atas dua lantai, maka saya dan anak-anak pun mengeksplore apa saja yang ada di lantai II ini.

Di sayap kanan, isinya ternyata lumayan menarik juga.  Karena di sana ada penjelasan tentang jenis-jenis batu-batuan dan kapan manusia mulai memanfaatkannya. Rupanya pada jaman Mesolitik, sejak manusia memanfaatkan gua-gua sebagai tempat tinggal, merekapun mulai memanfaatkan batu sebagai peralatan dan batu mulia sebagai perhiasan. Contoh batu yang disebutkan antara lain batu Andesit, Agate, Obsidian, Kalsedon, Jasper dan Basal. Lalu pada jaman Neolitik mereka sudah mulai memanfaatkan Tanah Liat untuk membuat gerabah, serta memanfaatkan bongkahan batu besar sebagai sarana upacara (kebudayaan Megalitik).

Di sana di pajang jenis batu-batu yang digunakan pada masa itu. Ada batu Jasper yang berwarna kemerahan mirip hati ayam, ditemukan di Tasikmalaya dan Batu Jasper Coklat di Garut. Jaman dulu dimanfaatkan untuk membuat Kapak Genggam, kapak Perimbas, Beliung dan Serpih. Lalu ada Batu Carnellian yang coklat berbercak bercak kelabu dari Jawa Tengah, dulunya dimanfaatkan untuk membuat Beliung dan Mata Panah.  Lalu saya juga meliat batu Obsidian yang hitam pekat dan berkilat yang ditemukan di Bandung dimanfaatkan untuk membuat serpih, untuk mengiris ataupun memotong. Lalu ada Archa Pradjnaparamita yang menggunakan batu Andesit ditemukan di Mojokerto. Batuan lain yang djuga ada di sana adalah Lempung Kaolinit dan Belerang  dan benda-benda masa kini yang tetap menggunakan bahan itu.

Yang menarik lagi adalah Bijih Timah yang ditemukan di Bangka dan Bijih Tembaga di Toraja – nenek moyang kita telah lama mencampur 2 jenis logam ini dan  menjadikannya sebagai Perunggu. Contoh benda-benda perunggu  yang dipamerkan di sana adalah Nekara yang ditemukan di Pulau Alor, NTT dan alat pertukaran uang pada jaman kolonial. Terus ada juga bijih besi yang ditemukan di Papua, dimanfaatkan banyak untuk pembuatan senjata seperti misalnya Keris dan Tombak yang ditemukan di Trowulan, Jawa Timur. Ada juga campuran logam lain, yakni Kuningan yang merupakan percampuran antara Tembaga dan Seng, salah satu contohnya adalah Wadah Air dari Kuningan yang ditemukan di Aceh. Berikutnya ada logam Nikel yang digunakan sebagai koin juga pada masa kerajaan dan kolonial.  Logam lain adalah  bijih emas yang ditemukan di Jawa Barat serta contoh-contoh pemanfaatannya. Juga Mangan.

Simulator gempa bumiBerikutnya ada penjelasan tentang gunung berapi dan letusannya serta contoh-contoh barang yang hangus akibat letusan Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu. Saya merasa sangat sedih melihatnya. Dan tiba-tiba seolah diingatkan bahwa letusan bisa datang kapan saja dan di mana saja di wilayah tanah air kita.  Bukan karena dosa, bukan pula karena kutukan siapa -siapa seperti yang beberapa orang ucapkan, tapi karena wilayah kita memang berdiri  di atas jaringan cincin api.  Di sana juga dijelaskan upaya -upaya apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi bahaya letusan gunung api. Saya sangat mengapresiasi hal ini, karena sangat penting.

Di pojok ruangan ada simulator gempa bumi. Anak saya ingin mencoba simulator itu dan ingin merasakan bagaimana efek gempa bumi. Ia mengajak saya untuk ikut masuk ke simulator  dan tentu saja saya tidak mau karena saya sudah berkali-kali merasakan gempa bumi hebat sejak kecil, baik goncangan gempa bumi yang vertikal maupun goncangan horizontal. Jadi saya tidak perlu lagi mencoba. Saya sarankan ia masuk sendiri saja, supaya tahu rasanya.

Di ruang atas sayap kanan, memberikan kita gambaran tentang bebatuan secara umum yang tidak dikaitkan langsung dengan sejarah. Design dan lay out ruangan ini membuat saya sangat terkesan karena terasa berada di sebuah ruangan museum yang modern dan bersih. Benda-benda dipajang dengan baik dan rapi dan penjelasan diletakkan di dinding kaca di sekeliling ruangan. Saya tertarik pada bagian batu batu mulia. Penjelasan tentang jenis, bagaimana terbentuknya, di lapisan mana batu mulia didapatkan, tingkat kekerasan, jenis-jenis yang disukai di Indonesia dan sebagainya.

Ada contoh Batu Pirus atau yang dalam bahasa internationalnya di sebut dengan Turquoise yang warnanya biru ditemukan di Persia dengan tingkat kekerasan 5-6 skala Mohs. lalu ada Fluorit, Giok Jawa, Kalsedon Ungu, Garnet, Sunstone,Krisopal, rainbow Obsidian, Calceodo, Jasper Hijau, Amethyst.

Di dinding berikutnya ada penjelasan tentang minyak dan gas, apa itu hidrokarbon , bagaimana proses pemisahan minyak dan gas dilakukan, bagaimana minyak dan gas bumi terbentuk serta syarat-syaratnya, pengolahan gas, batubara. Berikutmya kita bisa membaca tentang Panas Bumi dan energi terbarukan dan diujung ruangan ada sedikit penjelasan tentang Sumber Daya Air.

Di tengah ruangan juga dipajang contoh batu-batuan, lalu ada penjelasan tentang nama jenis batu, lokasi penemuan dan penjelasan singkat tentang apa dan bagaimana pemanfaatannya. Misalnya ada batu yang disebut dengan Magnetit, ditemukannya di Subun-Subun, Tapanuli Selatan- Sumatera Utara. Lalu penjelasannya, sebagai bijih utama besi, bahan utama pembuatan besi dan baja. Penjelasan yang lumayan untuk orang awam seperti saya. Paling tertarik tentu memperlihatkan kepada anak saya, bagaimana bentuk bijih emas saat ditemukan di alam.

Secara keseluruhan, kunjungan ke Museum Geologi Bandung ini sangat menyenangkan. Banyak informasi dan ilmu pengetahuan.

Yuk kiat mengunjungi Museum geologi,Bandung!

 

Bandung; Mengunjungi Kawah Gunung Tangkuban Perahu.

Standard

Kawah Ratu, G Tangkuban PerahuSaat liburan sekolah nyaris habis, akhirnya saya bisa meluangkan waktu untuk membawa anak-anak bermain ke Bandung. Seperti biasanya, sepanjang perjalanan, saya mengambil kesempatan untuk memberikan introduction mengenai tempat yang akan kami tuju kepada anak-anak. Tentang hal-hal yang berkaitan dengan kota Bandung, terutama yang ada kaitannya dengan pelajaran sekolah, dengan cara melemparkan pertanyaan dan mengingatkan kembali. Misalnya tentang peristiwa Bandung Lautan Api di tahun 1946, kepahlawanan M. Toha, Konferensi Asia Afrika di tahun 1955, tokoh wanita Dewi Sartika dan sebagainya sampai anak saya yang kecil akhirnya kelelahan dan berkata “Ayolah, Ma. Ini kan masih liburan. Pengennya rileks. Jangan ditanya-tanya pelajaran terus. Kayanya cuma mama aja deh yang libur-libur juga ngejelasin pelajaran sekolah ”  katanya protes. Ha ha…ya ada benarnya juga. Mereka kan sedang liburan. Sebaiknya saya jangan terlalu menjejalinya dengan material pelajaran.

Tapi anak saya yang besar malah membela saya ” Aku suka cara mama mengajarkan kita. Diajak melihat dan mengalami sendiri, sambil dijelaskan hubungannya dengan pelajaran sekolah. Itu justru membuat kita sangat mudah mengingat. Nggak perlu harus bersusah payah belajar dan ngapalin. Karena akan hapal sendiri” katanya kepada adiknya. Horee! Testimonial yang sangat baik dari anak saya yang besar. Saya senang.  Tapi ia juga membenarkan sebagian kalimat adiknya, bahwa  ia belum pernah melihat ada mama lain yang menerapkan metode pembelajaran  seperti yang saya aplikasikan pada anak -anak saya. “Temanku mamanya juga seorang dokter. Tapi mamanya tidak explain ini- explain itu, atau test ini test itu,  setiap kali melihat sesuatu. Nggak kaya mama” jelasnya.  Ooh begitu. Akhirnya saya memutuskan untuk  sedikit mengerem pertanyaan-pertanyaan saya.

Ada beberapa tempat yang saya tawarkan kepada keluarga untuk dipilih seperti Observatorium Boscha, Kampung Gajah, Situ Lembang, Gunung Tangkuban Perahu, Museum Geologi dan Trans Studio, namun sayang tidak semua tempat itu bisa kami kunjungi.  Dari semua option itu, anak saya yang besar lebih memilih Observatorium Boscha, Museum Geologi dan melihat kawah Gunung Tangkuban Perahu. Sedangkan yang kecil lebih penasaran akan Kampung Gajah karena melihat gambar-gambar permainan outdoor yang disajikan di dunia maya dan menyangka bahwa di sana benar-benar ada gajah sungguhan. Saya sendiri ingin melihat kawah Gunung Tangkuban Perahu, dan Situ Lembang. Suami saya juga ingin mengajak kami melihat kawah Gunung Tangkuban Perahu. Trans Studio tidak dijadikan pilihan utama kali ini.

Kawah Ratu, G Tangkuban Perahu1Sayang sekali,setelah saya search di internet, Observatorium Boscha yang biasanya terbuka untuk umum di hari Sabtu, kali ini ditutup mengingat bulan puasa. Anak-anak kecewa. Apa boleh buat, mungkin lain kali kami perlu datang kembali. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat kawah.

Kami menuju Lembang. Menyusuri jalanan yang menanjak,memasuki hutan pinus dan terus mendaki akhirnya sampailah di kawah Gunung Tangkuban Perahu. Karena jarak sangat dekat dan bahkan kami berada di atas gunung itu, tentu saja tidak bisa melihat bentuk Gunung itu yang mirip perahu panjang yang tertelungkup.

Udara sangat dingin dan gerimis turun sebentar-sebentar. Saya mengajak anak-anak melongokkan kepala untuk melihat kawah. Wow! pemandangan di sini sangat indah.  Bau gas belerang sesekali tercium menyengat dan menyebar dihembuskan angin. Namun tidak menyurutkan rasa ingin tahu  anak-anak. Di dasar kawah tampak genangan air berwarna hijau biru pucat keputihan. Ada dua titik di dasar kawah yang mengepulkan asap putih ke atas. Menandakan gunung itu masih dalam keadaan aktif.

Melihat itu, anak saya yang kecil mulai banyak  berceloteh dan bertanya serta mengkonfirmasi ciri-ciri gunung aktif. Jenis mineral dan batu-batuan yang dikeluarkan akibat letusan. Juga tentang berbagai jenis bentang alam.  Nah, dia membahas sendiri pelajaran sekolahnya!. Bukan saya yang memulai.

Lalu ia bertanya tentang jenis batu-batuan yang ada di sana. Apakah ini mengandung belerang? Apakah ini mengandung emas? Dan bebagai pertanyaan lain yang tentunya tidak semua bisa saya jawab. Saya hanya tahu bahwa mineral yang pasti terkandung adalah belerang alias sulphur. Dan jika itu ada pada batuan, tentunya berwarna kuning. Tapi bukan berarti itu emas. Membedakannya tentu sulit,karena tidak ada pembanding. Pastinya emas akan lebih keras, karena metal. Saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi. Ia tampak kecewa dan merasa bahwa ternyata mamanya tidak sepintar yang ia harapkan. Lalu saya ingatkan kepadanya, bahwa saya memang tidak ahli tentang batu-batuan karena tidak belajar di bangku kuliah. Lalu ia bertanya, fakultas apa yang mengajarkan ilmu itu? Saya menjawab “ Itu bisa dipelajari di Fakultas Geologi“.   Lalu ia berkata dengan yakin ” Kalau gitu, aku mau kuliah di Fakultas Geologi kalau nanti sudah besar” katanya. Saya tertawa.  Tentu saja saya pasti mendukung. Apapun pilihannya.

Gerimis turun. Kami berteduh di warung-warung kosong yang tutup karena bulan puasa.  Seorang pedagang topi dan tas bulu menawrkan dagangannya kepada kami.Saya tidak membeli, tapi mengajaknya ngobrol sambil menunggu hujan reda.  Menurutnya gunung ini, memiliki 12 kawah semuanya. (catatan: sebelumnya saya mendapat informasi dari sumber lain bahwa jumlah kawah di sini ada 9).  Tapi Bapak itu sangat meyakinkan dan berkata  bahwa dari 12 kawah itu hanya 4 yang dibuka untuk umum, yakni kawah Ratu, kawah Domas, kawah Upas dan kawah Baru. Yang lain ditutup karena gas yang dikeluarkannya masih berada di level yang membahayakan pengunjung. Kawah yang kami kunjungi ini, bernama kawah Ratu.

1830 mMenurut informasi resmi Gunung ini memiliki ketinggian 2 804 m di atas permukaan laut (dpl), tapi saat berada di kawah Ratu, saya melihat angka 1830 m di pahat di batu. Saya jadi bertanya-tanya, apakah maksudnya bahwa tempat ini bukan yang paling tinggi ya?. Atau apakah terdapat kekeliruan informasi?  Dan tempat ini ternyata sudah masuk wilayah Subang. Ada tulisannya gede-gede di situ. Bukan lagi Bandung – bagian ini barangkali bisa saya pahami karena bisa jadi kawah ini berada di perbatasan Subang – Bandung.

Bapak itu lalu bercerita bahwa pada bulan Oktober 2013,  kawah ini meletus untuk kesekian kalinya dan kawasan ini sempat ditutup sementara. Beliau lalu bercerita tentang bagaimana situasi pada saat itu. Orang-orang dan para pedagang yang berlarian turun menyelamatkan diri. Anak-anak saya mendengarkan dengan penuh perhatian cerita Bapak itu. Saya hanya mengangguk-angguk sambil memikirkan perbedaan informasi yang saya terima.  Namun demikian, tetap saja kunjungan kali ini memberikan pengalaman dan pengetahuan baru baik bagi anak-anak maupun bagi saya sendiri.

Gerimis datang dan pergi. Namun kabut datang dengan lebih pasti. Kami pun turun selagi jarak pandang masih cukup baik.

Ke Situ Gunung, Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Standard

Taman Nasional Gunung Gede PangrangoAkhir pekan, setelah sebelumnya ngobrol dengan temannya, suami saya tiba-tiba punya ide untuk mengajak saya ke Situ Gunung.  “Tempatnya sangat indah dan sejuk. Selain itu, banyak burung-burung liar lho di situ. Pasti menyenangkan bisa mengambil photo-photo burung di situ” katanya. Tentu saja saya senang alang kepalang. Saya pikir suami saya sekarang sangat memahami dan mulai mendukung kecintaan saya akan alam.  Saya belum pernah ke sana. Tapi sebelumnya pernah diajakin teman-teman untuk camping di sana. Selain itu juga ada seorang teman photographer yang pernah mengambil photo-photo di situ dan menunjukkan keindahannya kepada saya. “Ajak anak-anak juga. Siapa tahu mau” kata saya. Ternyata anak-anak juga menyambut dengan antusias.

Hari Minggu pagi, kami berangkat.  Lokasinya sekitar setengah jam perjalanan dari  rumah kami di Sukabumi. Kalau di tempuh dari Jakarta,  dan seandainya perjalanan lancar, kurang lebih akan memakan waktu sekitar 3-4 jam menuju ke arah Sukabumi. Sebelum sampai kota Sukabumi, kita akan tiba di daerah Cisaat.  Dari sana kita mengambil arah ke kiri, ikuti jalan menanjak ke atas  terus hingga tiba di desa Gede Pangrango. Secara umum jalanan cukup bagus, kecuali di bagian ujung, jalanan mulai rusak dan berlubang-lubang. Situ Gunung lokasinya berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.   Setelah melewati pintu pos penjagaan dan membayar 10 000 per orang untuk memasuki kawasan itu, kami tiba di tempat parkiran I. Di sana kami bisa memilih, apakah akan menuju ke danau (Situ Gunung)  atau ke air terjun (Curug Sawer).  Kami memutuskan untuk menuju ke danau saja.  Jalanan menembus hutan sedikit menanjak lalu menurun dan sedikit berkelok. Sekitar 1 kilometer dari parkiran I lalu kami tiba di parkiran ke II. Dari sana ada jalanan kecil menuju danau yang jaraknya sekitar 20o meter ke bawah, bisa ditempuh dengan jalan kaki atau pakai motor.

Karena masih pagi, suara burung terdengar riuh.  Namun sangat sulit untuk menemukannya. Suaranya saja yang heboh, namun burungnya entah dimana. Tidak terlihat. Menclok di antara dahan-dahan pohon Damar yang tingginya melebihi gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Saya mulai menyadari bahwa tidak akan banyak photo burung yang bisa saya dapatkan di sini, mengingat jenis jenis burung yang banyak di sini tentunya yang memiliki habitat di kanopi hutan.  Lalu apa yang bisa kita nikmati di Situ Gunung?

Menikmati Berjalan Kaki  Ke Situ Gunung.

Berjalan ke Situ GunungWalaupun tak berhasil memotret burung, saya tetap sangat menikmati perjalanan ke danau di tengah hutan  ini.  Jalanan terbuat dari batu-batu. Mungkin dulunya pernah rapi,namun sayang belakangan sudah banyak yang rusak dan berlubang. Menuruninya sedikitnya membuat kita berkeringat. Itung-itung sekalian ber- olah raga kecil.

Sambil berjalan, saya bisa melihat-lihat keragaman tumbuh-tumbuhan yang ada di sana.  Jika ada yang menarik, kami berhenti sebentar. Lalu saya menerangkan apa yang saya tahu tentang tumbuhan itu kepada anak saya yang besar.  Tentang nama tanaman itu, kebiasaan hidupnya, kegunaannya bagi manusia jika ada dan sebagainya.

Anak saya terlihat sangat tertarik.  Mungkin ia merasa masih nge-link dengan pelajaran di sekolahnya tentang klasifikasi tanaman. Beberapa kali bertanya kepada saya, apakah ada dari jenis Gymnospermae yang ia bisa lihat di sana.

Pohon MatiSaya pun berusaha mencari-cari barangkali saya bisa menemukan pohon melinjo, conifer ataupun cycas di sana. Setidaknya saya bisa menemukan pohon pinus untuk saya tunjukkan pada anak saya.

Belajar tanaman sambil melihat contohnya langsung di alam ternyata sangat memudahkan. Pelajaran bisa diterima dengan cepat dan terintegrasi, dengan cara mendengar apa yang saya katakan, melihat apa yang saya tunjukkan dan bahkan merasakan dengan cara menyentuhnya ataupun mencium baunya sendiri jika ia mau.

Kita bisa mengenal jenis-jenis pakis dengan cepat. Melihat jahe-jahean, melihat lumut, jamur dan sebagainya. Mulai dari tanaman yang besar, kecil, tinggi, rendah, yang tegak, yang miring bahkan yang tumbang.

Perjalanan turun itupun terasa menyenangkan dan sama sekali tidak terasa lelah.

Di Danau.

Situ GunungBeberapa menit kemudian sampailah kami di tepi danau. Rupanya danau kecil saja. Luasnya sekitar 11 hektar menurut tukang perahu. Dulunya danau ini lenih luas, sekitar 15 hektar, namun belakangan airnya menyusut.  Namun demikian, danau ini tampak sangat tenang. Dikelilingi oleh bukit dan hutan alami. Di tengahnya ada dua pulau kecil-kecil yang hanya terdiri atas beberapa pohon dan tanaman saja. Memandangnya terasa membawa kedamaian dan kesejukan ke dalam hati kita.

Kamipun duduk-duduk di atas tikar memandang ke danau. Menonton orang memancing. Di kejauhan tampak orang sedang berperahu berkeliling danau. Ada juga yang sedang menangkap kijing menggunakan rakit.  Saya memandang burung layang-layang yang beterbangan menangkap seranga di tepi danau.

Bermain Perahu.

BerperahuMemandang aktifitas di danau itu, anak saya yang kecil mengajak kami naik perahu. karena tak ada seorangpun yang mau, akhirnya saya menemani anak saya bermain perahu berkeliling danau. Tukang perahu memberi tahukan bahwa ongkosnya adalah Rp 7 000 per orang.  Sudah termasuk tukang dayung, sehingga kalau mau kami tidak usah mendayung sendiri. Saya setuju.

Tapi anak saya rupanya sangat ingin memegang dayung sendiri.  Berada di perahu kecil begini, mengingatkan saya akan kampung halaman saya di tepi danau Batur. Apa yang dilakukan anak saya sekarang ini, sama dengan yang saya lakukan ketika saya kecil dulu. Mendayung dan mendayung sambil belajar mengarahkan perahu ke depan, ke kiri ataupun ke kanan.

Saya melihat ia sangat menikmatinya. Mungkin kapan-kapan akan saya ajak pulang ke danau Batur, agar ia bisa mendayung di atas danau yang jauh lebih besar ukuran dan ombaknya.

Memancing   

MemancingSelepas bermain perahu, anak saya ingin memancing.Maka sayapun bertanya kepada tukang perahu apakah ada yang menyewakan  alat pancing di situ.  Tukang perahu seketika memberi anak saya dua buah joran pancing untuk dipinjam.  Juga umpan berupa udang kecil-kecil yang ditangkap dari danau itu.

Saya memeriksa sebentar alat pancing itu sebelum memberikannya kepada kedua anak saya. Agak aneh juga karena tidak ada pelampung yang dijadikan pertanda apakah umpannya dimakan ikan atau tidak. Alasan tukang perahu, ia sengaja tidak memasang pelampung karena danau itu sangat berangin dan tidak mau pelampungnya didorong angin. Hmm…begitu ya. Saya tidak begitu yakin akan alasannya.

Tapi baiklah, daripada tidak ada alat pancing sama sekali. Menjelang tengah hari, kamipun pulang dengan menelusuri kembali jalanan yang tadi.  Yang penting anak saya menikmati akhir pekannya dengan cara yang menyenangkan, walaupun hanya setengah hari.

Saya baru terinformasi rupanya danau ini adalah danau buatan. Pantas saja ada beberapa sisa bangunan batu (barangkali taman) di sekitarnya.