Tag Archives: Jawa Tengah

Kisah Burung Perkutut Dan Supir Taksi.

Standard

Perkutut 1Burung Perkutut oleh banyak orang dipercaya membawa keberuntungan. Perkutut Katuranggan – konon istilahnya.  Orang bilang itu hanya sebuah mitos. Saya pikir, setidaknya bagi penangkar burung  dan penjualnya tentu saja burung ini membawa rejeki – wong namanya juga barang dagangan.  Kalau dijual ya ngasilin duitlah ya. Keuntungan dari hasil jual beli itulah rejekinya.

Saya sendiri  tidak suka memelihara burung. Tapi saya suka mengamati burung di alam bebas sebagaimana halnya binatang liar lainnya. Tanpa mengait-ngaitkannya dengan mitos bahwa binatang ini membawa rejeki atau malah pembawa sial. Tapi  jika ada yang bercerita mitos tentang binatang tertentu, biasanya saya ikut menyimak.  Menjadi pendengar yang baik. Salah satunya adalah cerita  yang diceritakan kembali oleh salah seorang kawan kepada saya. Ini cerita kawan saya, lho!.

Kawan saya berlibur bersama suaminya di sebuah kota di Jawa Tengah. Mereka naik taxi menuju Hotel tempat mereka menginap. Di perjalanan, suaminya menyapa sang supir taxi yang terlihat sangat kalem dan pendiam.

“Sudah lama narik taksi, Mas?” tanya suaminya. Sang supir taksi mengatakan ia baru menarik taksi. Lalu pekerjaan sebelumnya apa dong? Ditanya seperti itu tiba-tiba sang supir taksi menangis sesenggukan. Kawan saya dan suaminya heran, bingung dan merasa tidak enak, lalu meminta maaf karena telah membuat supir taksi itu sedih karena pertanyaannya. Supir taksi itu bukannya berhenti menangis. Malah tangisannya semakin menjadi-jadi.  Pertama kalinya mereka  mengalami kejadian seperti ini. Supir taksi menangis tersedu-sedu saat ditanya apa pekerjaannya sebelum menjadi supir taksi. Maksud meraka hanya untuk ngobrol dan mencairkan suasana. Namun ternyata pertanyaan itu sangat sensitive bagi sang supir taksi.

Kawan saya akhirnya meminta supir taksi agar menepikan kendaraannya. Istirahat sejenak dan memberikan kesempatan kepada sang supir taksi untuk melepaskan kesedihannya. Sang supir taksi pun menangis tersedu-sedu. Kawan saya lalu  memberikan supir taksi itu minum agar ia lebih tenang.

Setelah  tenang, supir taksi itu bercerita  bahwa sebelumnya ia adalah seorang kontraktor bangunan yang sukses. Hidup bahagia dengan seorang istri dan anak-anak yang sangat dicintainya.Namun sekarang usahanya sudah bangkrut dan ia menderita hanya gara-gara seekor burung. Hah? Hanya  gara-gara seekor burung?  Bagimana ceritanya?  Saat kawan saya bercerita, saya menyangka mungkin kontraktor ini menggunakan modal usahanya untuk berbisnis burung dan usahanya itu bangkrut. Ceritanya ternyata jauh dari dugaan saya.

Supir taksi itu bercerita, bahwa suatu kali  ia membeli seekor burung perkutut dengan harga yang cukup mahal. Karena saat itu ia cukup sukses secara finansial, maka harga burung itu tidak menjadi masalah baginya. Dibawalah burung itu ke rumah dan dipeliharanya.  Tak berapa lama setelah itu, seorang anaknya sakit lalu meninggal.  Usahanyapun mengalami kemunduran.  Ia merasa sangat sedih atas kepergian anaknya.Tak lama kemudian, istrinya juga sakit lalu meninggal. Usahanya semakin lama semakin mundur. Hingga terakhir, anaknya yang lain pun ikut sakit dan juga meninggal. Tinggallah ia seorang diri. Dan usahanya yang semakin mundur akhirnya mengalami kebangkrutan. Ketika semuanya sudah hilang dan habis, dan ia berada diambang putus asa, seseorang memberitahu padanya bahwa semua malapetaka yang ia alami itu disebabkan oleh “sesuatu” yang dipeliharanya dirumah.  Iapun mencoba mengingat -ingat, apa itu? Ia tidak memelihara apa-apa, kecuali seekor Burung Perkutut yang dipeliharanya sejak setahun terakhir.

Saking penasarannya, ia menelusuri siapakah pemilik burung ini sebelumnya. Menurutnya ia menemukan bahwa ternyata si pemilik burung yang sebelumnyapun juga mengalami nasib buruk yang serupa dengan dirinya.  Keluarganya habis dan usahanya bangkrut. Dan walaupun ia telah menjual burungnya itu ke orang lain, tetap tidak bisa mengembalikan kesialannya itu. Setelah mengetahui kejadian dan nasib buruk si pemilik burung yang sebelumnya itu, maka iapun akhirnya memutuskan untuk melepas burung itu ke alam bebas.  Dan melanjutkan hidupnya kembali dari nol dengan menjadi supir taksi hingga saat ini.

Kawan saya terheran-heran mendengar cerita itu. Demikian juga saya ketika kawan saya itu menceritakannya kembali kepada saya. Aneh dan sulit dipercaya ya? Banyak pertanyaan menggelantung di kepala saya.  Apa ya benar itu kejadian nyata? Memang anak-anak dan istri supir taksi itu sakit apa? Sayang kawan saya lupa menanyakannya. Lalu kenapa usahanya mundur dan mengalami kebangkrutan? Apakah karena sebelumnya ia melakukan pekerjaan dengan kwalitas yang kurang bagus?  Atau kehabisan modal karena miss -management?  Mungkin penyebabnya  sebenarnya tak ada hubungannya dengan burung itu? Barangkali cuma kebetulan saja? Jadi dianggap membawa sial? Atau burung itu membawa strain virus flu burung yang mematikan? Tapi harusnya ia mati duluan ya sebelum menulari manusia ya? Ah..saya tak mampu memecahkannya.

Tapi menurut kawan saya, supir taksi itu benar-benar percaya dan yakin bahwa penyebab kesialan yang menimpanya itu adalah burung yang pernah dipelihara itu.  Ia pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menghibur supir taksi itu dan memberinya kalimat-kalimat yang menyemangati agar supir taksi itu lupa akan kesedihannya.  Jika seseorang telah sangat percaya akan sesuatu, tentu sulit untuk merubahnya agar menjadi tidak percaya. Demikian juga bagi yang tidak percaya untuk merubahnya menjadi  percaya – tentu bukan pekerjaan mudah.

Saya juga ikut berdoa semoga supir taksi itu cepat keluar dari kesedihannya dan bisa kembali bangkit semangatnya dalam menjalani fragmen kehidupannya yang baru lagi.

Dan saya pikir selalu  lebih baik melepas burung itu ke alam bebas, terlepas apakah burung itu dianggap membawa sial atau membawa berkah. Burung adalah milik alam, maka biarkanlah ia kembali ke alamnya.