Tag Archives: Kacamata

Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Standard
Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Suatu kali saya menghadiri sebuah acara yang diadakan di sebuah Cafe di kawasan Tebet, Jakarta. Di acara itu, selain saya ada beberapa orang rekan kerja dan juga teman teman dari agency periklanan yang datang.

Acara itu cukup panjang dan tanpa terasa malampun tiba. Sementara bergantian mengisi acara dan mensupervisi kegiatan itu, sayapun memesan dan menghabiskan makan malam saya.

Kebiasaan saya jika makan, adalah saya melepas kacamata. Atau saya tenggerkan di atas kepala. Alasannya karena lebih nyaman, dan sebetulnya saya hanya perlu melihat makanan yang jaraknya dekat saja dengan mata saya. Sebagai akibatnya, saya tak begitu jelas jika melihat benda atau object yang letaknya agak jauh.

Seusai makan, masih tetap dengan kacamata di atas kepala saya lanjut bermain hape. Menengok Facebook, Instagram dan WA. Ada banyak chat baru masuk. Saya mulai membaca dan sibuk berkomentar dan membalas chat. Tiba tiba seorang pria berdiri di seberang meja dan mengulurkan tangannya ke saya. “Bu!” Katanya.

Saya yang dari tadi sibuk menenggelamkan diri di hape merasa agak kaget. “Oh, pelayan restaurant” pikir saya. Barangkali mau merapikan meja biar nggak berantakan oleh piring kotor.

Tanpa melihat ke wajah pemilik tangan itu, saya menyodorkan piring kotor saya agar dibawa pergi. Tangan itu tak tampak sigap menyambut piring kotor yang saya ulurkan.

Oops!!!. Saat itulah baru saya sadar bahwa ternyata pemilik tangan itu bukan pelayan restaurant melainkan Vicky, salah satu teman saya dari agency yang rupanya baru datang . Rupanya ia melihat saya, mendekat dan bermaksud menyalami.

Waduuuh… betapa malunya saya. Buru- buru saya minta maaf dan menjelaskan situasinya jika tadi saya tak begitu jelas melihat wajah orang, gegara kacamatanya tidak saya pakai. * sebenarnya alasan lain juga, barangkali saya terlalu tenggelam dalam sebuah chat WA ūüėÄ

Ah…ngggak apa apa kok Bu. Sudah biasa” kata Vicky cengar cengir yang membuat saya makin merasa nggak enak.

Kacamata!.

Bagi pemilik mata rabun seperti saya, kacamata adalah benda mujizat yang saya tak bisa hidup tanpanya. Sungguh!.Jika tak memakai, bumi terasa datar ūüėÄūüėÄūüėÄ. Jadi terpaksa harus saya pakai deh setiap saat. Mau di kantor, mau di dapur, mau di jalan dan di mana saja saya perlu kacamata.

Memakai kacamata sebenarnya melelahkan juga. Itulah sebabnya sebagian orang menggantinya dengan softlens atau sekalian dilasik saja biar mata kembali melihat dunia terang benderang. Tapi saya tak memilih 2 pilihan terakhir itu. Softlens dan Lasik. Mengapa? Saya tak bisa memakai softlens karena saya punya kecenderungan mengucek-ucek mata. Dan Lasik juga bukan pilihan saya mengingat biayanya yang tinggi. Jadi ya…lupakan sajalah.

Nah..jadi bertahanlah saya dengan kacamata saya hingga kini. Kalau lelah, biasanya saya angkat saja ke atas kepala sekalian untuk menahan rambut saya terurai ke depan. Jadi mirip bandana gitu.

Cara lain ya saya lepas sekalian dan letakkan di atas meja misalnya. Cuma jika tidak disiplin, kadang jadi merepotkan juga. Karena lebih sulit mencari kacamata dalam keadaan tanpa kacamata ūüėÄ

Advertisements

Kacamata Baru Dan Trend Terkini.

Standard

kacamataSaya mengantarkan suami saya ke Optik di Bintaro Plaza untuk membeli kacamata baru. Karena gagang kacamatanya  rusak. Menyadari bahwa gagang kacamata saya juga sudah mulai butut dan  kusam, suami saya berkata mengapa saya tidak sekalian saja mengganti kacamata. Saya jadi tergiur mendengar ajakan suami saya itu.

Saya ikut melihat ke dalam etalase untuk mengetahui frame-frame terkini yang sedang trend. ¬†Karena tidak tahu mesti beli yang mana, saya bertanya pada sales girl yang menjaga counter itu , “Mbak, mana sih model yang terakhir?“. ¬†Si Mbak mengambilkan ¬†sebuah kacamata dengan frame yang terlihat lebih lebar dan tebal dari yang saya pakai sekarang. Warnanya hitam pada bagian atasnya dan bening di bagian bawahnya. ¬†Frame bagian atasnya masih agak melengkung – tidak beda jauh dengan frame kacamata kucing yang pernah ngetrend beberapa tahun yang lalu. Gagangnya berwarna hitam dengan sedikit sentuhan metal pada bagian sendinya. Saya membaca merk yang tertatah di gagangnya. Dikeluarkan oleh seorang perancang busana Amerika dan founder dari sebuah global brand yang berfokus pada lifestyle.

Saya lalu mencoba kacamata itu dan melihat wajah saya di cermin. Hhmmm..kok kayanya kurang cocok ya. Wajah saya kelihatan semakin lebar dan tembem dengan kacamata itu. Suami saya melihat dan mengatakan kalau model itu kurang pas di wajah saya yang bulat. “Jadi kelihatan tambah bulat” katanya sambil tertawa. Tapi ia selalu mengolok-olok pipi saya yang tembem. ¬†Jadi saya tidak mau menanggapinya. “Ganti yang lain saja. ¬†Kan masih banyak tuh model yang lain” saran suami saya sambil membantu saya mencarikan model-model yang menurutnya lebih sesuai untuk wajah saya. Tapi saya keukeuh tidak mau. ¬†“Soalnya trend-nya ke arah bentuk ¬†yang begini. Daripada nanti out-dated dan beli lagi yang baru,kan mending beli aja yang ini. Ntar tungguin kalau orang-orang pada pindah ke model begini, jadi nggak perlu beli lagi yang baru…karena sudah ikut trend yang terakhir” kata saya. “Ya sudahlah” kata suami saya mengalah. Walaupun saya melihat wajahnya yang tersenyum geli masih menyimpan rasa kurang setuju dengan pendapat saya. Tapi itulah salah satu hal yang saya sukai dari suami saya. Ia suka memberikan idenya, tapi jika saya tidak sependapat, ia tetap menghormati pilihan saya. Sikap yang sama juga selalu saya upayakan terhadap suami saya.

Lalu saya memeriksa harganya. Berpikir sejenak, apakah budgetnya masuk atau tidak. Akhirnya “Ya..boleh deh Mbak. Saya mau yang ini” kata saya kepada penjaga counter optik itu. Ia lalu memeriksa ulang mata saya dengan alatnya, mencatat ini dan itu, saya menyelesaikan pembayaran dan selesai. Si Mbak memberi informasi bahwa kacamata minus itu akan selesai hari Kamis.

Pada hari Kamis berikutnya, suami saya rupanya sudah mengambil kacamata kami di optik itu. ¬†Saya lalu mencobanya. Anak-anak saya melihat. “Wah.. kacamatanya jelek banget” komentar anak saya yang kecil. “Bukan kacamatanya. Kacamatanya sih bagus. Tapi pipinya kegendutan! ha ha ha… Mama nggak cocok pakai kacamata itu” komentar anak saya yang besar melanjutkan. Mereka tertawa terbahak-bahak. Suami saya hanya tersenyum. Saya mematut-matut diri saya di depan cermin. Memang jelek banget ya? Perasaan, nggak jelek-jelek banget deh…

Hari Jumat saya ke kantor, belum menggunakan kacamata baru itu. Demikian juga hari Senin. Saya masih memakai kacamata yang lama. Suami saya heran, lalu bertanya “Kok kacamata barunya belum dipakai?” tanyanya. ¬†Karena tidak enak pada suami, besoknya hari Selasa, saya pakai kacamata baru itu. ¬†Sesampai di kantor seorang teman berkata “ Wah.. kacamatanya baru ya Bu? ” ¬†Saya mengangguk. “Kacamatanya bagus, tapi kayanya kurang pas ya Bu dengan bentuk wajah ibu? Kelihatannya jadi aneh” katanya lagi. “Oooh gitu ya? Mungkin karena biasa melihat saya dengan kacamata yang sebelumnya ” kata saya menghibur diri.

Berikutnya teman yang lain berkata ” Bu Dani! Kacamatanya baru ya Bu? Kok jelek banget sih Bu?” ¬†hah? jadi serius nih jelek banget? Teman saya mengangguk dan bilang ia lebih suka melihat saya memakai kacamata saya yang lama.Waduuuuh..

Teman berikutnya yang melihat saya lagi” Bu Dani, itu kacamatanya kelihatan tebal dan jadul lho, Bu!” hah? Jadul? Bukannya kata SPG-nya ini justru trend yang terakhir ya? ¬†Semakin lama semakin banyak lagi komentar yang tidak positive.¬† Hingga makan siang, akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang berkata positive tentang kecocokan kacamata itu dengan wajah saya. ¬†Yang paling positive yang saya terima ¬†hanya seperti ini ¬†“Nggak terlalu jelek kok Bu.. ” mungkin maksudnya menghibur saya saja. ¬†Atau ada juga¬† yang nyaris positive “¬†Ya Bu, sesuai kok Bu. Sesuai … dengan umur ibu..ha ha”.

Selain tidak sesuai dengan wajah saya, belakangan saya baru mengetahui bahwa kacamata itu terlalu lebar menutup wajah saya.¬† Sehingga saat berjalan di bawah panas matahari, meninggalkan keringat di bawahnya. Mata saya pun jadi lembab dan kacamatanya berembun. ¬†Selain itu gagangnya juga tidak terlalu pas. Agak kegedean – tapi yang ini mungkin masih bisa saya betulkan.¬† “Memangnya ibu nggak coba dulu ya sebelum membeli?” tanyanya teman saya keheranan. “Sudah sih!...” kata saya, akhirnya menceritakan bagaimana asal muasalnya mengapa kacamata trendy itu bisa saya beli. Teman-teman saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu. “Korban Trend!” katanya. Sayapun ikut tertawa pahit.

Berikutnya, ketika saya berada di bandara akan berangkat ke Surabaya, suami saya meninggalkan pesan di bb saya “Eh, kacamatanya ketinggalan yah?” tanyanya. Saya menciutmembacanya.Mengapa ya saya khawatir suami saya mengungkit-ungkit soal kacamata itu? Bingung mau jawab apa. Mau bilang lupa, tapi sebenarnya kan ¬†bukan lupa. Saya sengaja meninggalkannya. Tapi kalau bilang terus terang, gimana ya nanti reaksi suami saya. Akhirnya saya jawab “ Ha ha..kacamatanya ternyata…“. Suami saya membalas lagi. “Tapi yang lama ¬†bawa kan?” tanyanya khawatir. ¬†Lalu ia menyusulkan icon senyum buat saya. Mungkin ia sudah bisa membaca gelagat saya,¬† kalau saya punya masalah dengan kacamata itu.

Sepulangnya dari Surabaya, ketika suami saya menyinggung kembali soal betapa pelupanya saya akan kacamata itu, saya pun tidak tahan lagi untuk mengaku kepada suami saya tentang cerita yang sebenarnya soal kacamata itu.  Tentang komentar teman-teman saya  dan tentang mata saya yang lembab dan berembun karena keringat.

Ia tertawa terbahak-bahak…

Pesan moralnya:  Pilihlah sesuatu yang cocok untuk diri kita, bukan yang sedang ngetrend .