Tag Archives: Kalimantan Selatan

Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Membaca puisi di Minggu Raya Banjarbaru.

Saya penyuka karya sastra. Dan puisi termasuk di dalamnya. Atas kesukaan saya itu, ketika remaja, saya rajin mengikuti forum dan panggung lomba-lomba baca puisi yang diselenggarakan di kota saya. Saya akui bahwa forum dan panggung-panggung sastra seperti itu sangat mendongkrak kemajuan sastra di Bali. Karena minat remaja akan sastra menjadi sangat tinggi. Sayang sekali, aktifitas seperti itu, belakangan saya dengar tidak banyak lagi dilakukan pada saat ini. 
Dengan latar belakang seperti itu, saya tiba tiba terpikir untuk mengajak anak saya yang remaja untuk ikut ke Loksado Writers & Adventure 2017. Tentu dengan catatan jika panitya mengijinkan. Dan ternyata syukurnya memang diijinkan!. Saya senang sekali. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan anak saya dunia sastra dengan cara yang lebih baik lagi *menurut saya* ketimbang hanya dari apa yang ia dapat dari sekolahnya. 

Saya tahu, anak saya tentu mendapat pelajaran sastra dengan cukup baik dari sekolahnya. Tetapi akan sangat berbeda jika ia mendapatkan kesempatan terekspose langsung dengan forum sastra dan bertemu dengan para sastrawan senior di komunitasnya yang tepat. 

Demikianlah ceritanya saya membawa anak saya ikut ke Loksado. Ia sendiri setuju, walaupun ketika diawal ia mau karena tertarik melihat foto orang bermain rakit di sungai Amandit. 

1. Paparan Sastra

Sejak tiba di Bandara Sorkarno-Hatta di Jakarta, anak saya mulai berkenalan dan diterima dengan baik oleh para sastrawan senior yang kebetulan berangkat satu pesawat dengan kami subuh itu. Gap usia yang cukup jauh syukurnya tidak membuat anak saya terasing. Ia kelihatan biasa saja. Bahkan terlihat berusaha ngobrol dan bergaul. Saya cukup lega. Setidaknya ia bisa membawa diri. 

Antologi puisi. Dari Loksado Untuk Indonesia.

Berikutnya, ketika panitya membagikan buku Antologi puisi. Ia melihat sepintas lalu mulai membaca puisi puisi yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ditanya cukup satu buku baca gantian dengan mama, anak saya ingin memiliki buku Antologi puisi itu sendiri. Dan.. ia serius membacanya. Nah..kini saya tahu minimal ia suka. 

Yang lebih penting adalah, karena ini adalah sebuah forum sastra, tentu banyak sekali diskusi dan pembahasan tentang puisi dan karya sastra lain sepanjang acara itu, baik yang formal maupun yang tidak formal. Ia juga mendengar tentang Haiku. Tentang Senryu . Dan tentang format format karya sastra yang lain.  Hal ini tentu menambah khasanah, wawasan dan cara pandang anak saya terhadap karya karya sastra. 

Baca puisi di Loksado Writers & Adventure 2017.

Di forum itu, anak saya juga terekspose dengan pembacaan puisi dengan berbagai gaya yang dilakukan oleh para sastrawan yang hadir di sana. Bisa saya pastikan ini sangat menginspirasi anak saya. Bagaimana membacakan puisi dengan baik, bagaimana berdeklamasi dan bahkan belajar memahami bahwa karya sastra pun bisa berfusi dengan karya seni lain seperti vokal, seni gerak tubuh dan sebagainya. Anak saya terlihat sangat terkesan misalnya saat seniman Isuur Loeweng berkolaborasi dengan Bagan Topenk Dayak membawakan sebuah puisi dengan luar biasa mengesankannya. Tak habis habisnya kami membicarajan dan memujinya. 

Hal lain yang ia pelajari adalah, bahwa puisi tidak hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai sekedar karya sastra yang indah saja, tapi sangat mungkin menjadi media penyalur pesan sosial dan aspirasi masyarakat yang selama ini mungkin buntu atau terpinggirkan. Terlebih ketika ia juga ikut diajak berkunjung dan berbaur dengan masyarakat setempat, dengan sendirinya ia pun belajar. Melihat, mendengar dan menangkap fakta untuk kemudian ia proses dalam alam pikir dan jiwanya untuk kemudian ia sambungkan sendiri dengan puisi. 

2. Pengalaman Sastra

Pak HE Benyamin, sang motivator.

Adalah HE Benyamin, sastrawan Kalimantan Selatan yang berhasil menyentil keberanian anak saya untuk tampil membaca puisi di panggung forum itu. Awalnya saya bujuk -bujuk tidak mau. Tetapi berkat kalimat-kalimat motivasi Pak HE Benyamin yang menyihir, eeh….. anak saya nekat maju ke panggung. Sayapun kaget dan terharu. Luar biasa!. Bayangkan! Di hadapan sekian banyak sastrawan dan seniman sastra baik dari Kal Sel maupun dari berbagai daerah Indonesia itu, anak saya berdiri. Membacakan puisi untuk pertama kalinya. Puisi yang juga baru pertama kali ia lihat dan baca.  Judulnya ” Perempuan Dan Kopi Hutan”. Karya Cornelia Endah Wulandari. 

Membacakan puisi Perempuan & Kopi Hutan. Karya Cornelia Endah Wulandari.

Hasilnya?. Saya harus mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak HE Benyamin untuk proses pergulatan keyakinan diri yang dialami anak saya hingga akhirnya berani maju dan bergata di depan panggung. 

Perempuan & Kopi Hutan. Cornelia Endah Wulandari. Foto milik Agustina Thamrin.

Dan tentu saja pastinya buat Mbak Cornelia Endah Wulandari yang puisinya menjadi batu loncatan pertama bagi anak saya untuk menyebur ke dunia sastra. 

3. Tantangan Dan Ujian Sastra

Berhasil membacakan puisi karya HE Benyamin di Minggu Raya Banjar baru. Bersama Pak HE Benyamin.

Tak selesai sampai di sana, bahwa Loksado telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk terekspose dengan dunia sastra dan sekaligus memberi ‘new experience’ baginya. Menjelang kepulangan kami ke daerah mading-masing, teman teman Kalimantan mengajak kami mampir di Minggu Raya. 
Awalnya saya tak mengerti. Karena tempat itu kelihatannya hanya tempat nongkrong-nongkrong saja di tepi jalan dengan suara deru motor yang meraung raung. Ternyata kembali Pak HE Benyamin memberi tantangan kepada kami semua (termasuk anak saya), untuk menguji nyali. Beranikah dan mampukah membaca puisi di tepi jalan? Di tonton orang yang berlalu lalang? Dan diantara suara kendaraan yang menggelegar?. 

Syukurlah, anak saya pun mau mengambil tantangan itu. Mau, bisa dan berani!. Horeeee!. Akhirnya luluslah ia di forum sastra Kalimantan Selatan yang unik itu. Sesuatu hal yang membanggakan tentunya. Bagi dirinya sendiri dan saya sebagai orangtuanya. 

Aku sudah membaca puisi. Minggu raya Banjar baru.

Anak saya mendapatkan pin tanda kelulusan.  Saya juga ikut membaca dan mendapat pin yang sama. 

Buku Antologi Puisi HE Benyamin. Pohon Tanpa Hutan.

Dan juga hadiah buku Antologi Puisi “Pohon Tanpa Hutan” langsung dari Pak HE Benyamin – penulisnya. Aduuuh…senang & bangganya. 
Nah! Untuk segala apa paparan, pengalaman, tantangan dan ujian sastra yang diterima anak saya yang remaja ini, tentunya saya sebagai orangtua sangat berterimakasih kepada semua rekan rekan sastrawan yang hadir baik dari Kalimantan Selatan maupun dari daerah lain, kepada Pak Budhi dan Mbak Agustine serta masyarakat Loksado. 

Sudah menjadi cita cita kita bersama agar Sastra dan penulisan terus berjaya di negeri kita, dan tentunya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memupuk minat dan kecintaan  anak anak dan remaja kita terhadap sastra sejak dini.  Seperti kata pepatah, jika tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya kita perlu meperkenalkannya dengan baik. 

Besar harapan saya, kecintaan anak saya terhadap sastra dan penulisan, kelak semakin meningkat. Jikapun tidak, maka sebagai ibu saya sudah berusaha meletakkan dasar yang sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. 

Salam Sastra. 

Loksado Writers & Adventure 2017 : Jangan Santan Umbut Kelapa.

Standard

Berkunjung ke Loksado sungguh memberi banyak pengetahuan baru bagi saya. Bukan saja tentang hal yang baru saya lihat, baru saya alami dan rasakan, baru saya dengar dan bahkan baru pertama kali saya kecap. Agak lebay kah saya? Tentu tidak!. 

Jangan Santan Umbut Kelapa.

Serius. Bagi saya Loksado itu ternyata membawa pengalaman baru kuliner juga. Selain Soto Banjar yang kesohor itu, ternyata ada lagi makanan yang sungguh mati saya doyan banget. Namanya Jangan Santan Umbut Kelapa. Nah..ikut penasaran kan?. 
Awalnya saya menyangka itu Sayur Lodeh biasa. Bukan. Kata Ibu yang masak. Namanya “Jangan Santan” katanya. Oh. Oke. Buat saya malah lebih mudah. Karena kata Sayur pun dalam bahasa Bali halus disebut dengan “Jangan” juga. Jadi Jangan Santan = Sayur Santan. Oke. Oke. Ini gampang buat saya mengingat.

Kemudian saya melihat ada irisan benda putih putih di dalamnya. Apa itu? Rebung bambu kah? . Saya cicip. Waah… enak banget. Bukan rebung. Lebih enak dari rebung malah. Tapi apa ini? 

Ini namanya Umbut Kelapa. Saya tetap heran dan penasaran. Umbut Kelapa ? Apa itu? Lalu saya dijelaskan oleh ibu itu bahwa Umbut Kelapa adalah pucuk pohon kelapa yang akan tumbuh jadi daun daun kelapa. Biasanya diambil dari pohon kelapa yang ditebang. Ooh!. Saya terkejut bukan alang kepalang. Waduuh… agar bisa diambil umbutnya, sebuah pohon kelapa harus ditebang dulu ya. Pasti sangat mahal harganya. “Ya..memang mahal. Sekilonya bisa lima puluh ribu atau lebih” jelas ibu itu.  Saya manggut manggut. 

Lalu memasaknya gimana? Rupanya serupa juga dengan Sayur Lodeh biasa. Bawang merah, bawang putih, terasi, garam diulek. Lalu digeprek lengkuas, sereh dan daun salam. Dan tentunya Santan ya…buat kuahnya. 

Sungguh. Sayur ini enak banget. Habis sepiring oleh saya. Terasa kurang. Bolehkah saya nambah ya? Sebenarnya tak ada yang melarang. Tapi ini bersantan. Apa-apa nggak ya jika makan sayur santan ini banyak? Terlalu banyak lemak nggak ya? 

Lalu saya melirik ke piring dokter Handrawan Nadesul yang kebetulan duduk di samping saya. Kelihatannya beliau juga sangat menikmati sayur bersantan itu. Anteng menyuap dan mengunyah dengan pelan.  Sayapun merasa tenang. 

Kalau beliau yang seorang dokter ahli kesehatan yang umurnya dibatas saya,  terlihat baik-baik dan santai saja menikmati apapun yang dihidangkan tanpa terlihat berpantang, mungkin nggak apa-apa juga barangkali buat saya makan Jangan Santan Umbut Kelapa ini sedikit agak banyak. 

Hiyaaa… mari kita nambah 😍😍😍😍😍

Yuk kita wisata Kuliner ke Kalimantan Selatan. Cintai masakan Indonesia!. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami diterima dengan baik oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan beserta ibu, keluarga dan warga setempat. Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu Penghulu adat dan putrinya. Ngalor ngidul tentang banyak hal, terasa sangat menyenangkan. Sementara Bapak bapak mengobrol dengan Bapak Penghulu Adat.

Berbincang dengan Bapak Penghulu Adat Haruyan.

Dari tempat kami ngobrol, saya memandang sekeliling. Senang berada di tempat ini. Pemukiman itu terdiri atas beberapa rumah di halaman yang sangat luas dengan Balai Adat Haruyan terletak di tengah tengahnya. Berupa bangunan persegi terbuat dari kayu. Berada di atas panggung dengan pintu masuk bertangga juga terbuat dari kayu. Di sekelilingnya rumah-rumah penduduk yang sebagian masih berbahan kayu dan sebagian lagi sudah menggunakan material modern. Balai adat itu kelihatan sepi karena pada saat itu sedang tidak ada upacara. 

Balai Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Menurut Ibu Penghulu Adat rata rata mereka mengadakan upacara 2x setahun. Yang pertama adalah saat  padi mulai berisi dan yang ke dua adalah saat panen terakhir tahun itu yang disebut dengan upacara Aruh Ganal. Upacara adat itu merupakan ungkapan rasa terimakasih dan rasa syukur atas keberhasilan panen padi. Hanya setelah diupacarai,  barulah padi hasil panen itu boleh dikonsumsi. 

Semua padi padi hasil panen itu disimpan di lumbung.  Bahkan padi dari hasil panen 10 tahun yang lalu pun masih ada. Luar biasa. Saya mendapat penjelasan, bahwa mereka tidak menjual padi/beras, sekalipun panen nereka melimpah dan mereka memiliki persediaan padi yang banyak. Semua hanya untuk konsumsi warga saja.  Mengapa demikian?. Karena mereka perlu memastikan tetap memuliki bahan pangan bahkan saat panen gagal. Walaupun demikian, mereka tidak keberatan untuk berbagi dengan orang luar, dan bahkan sangat senang jika ada  warga luar kampung yang ikut pesta adat nereka.  Saya kagum dengan prinsip mereka ini dalam memastikan ketahanan pangan. 

Lalu bagaimana caranya menopang keperluan hidup sehari hari jika tidak menjual padi?. Oh..rupanya penduduk masih bisa mendapatkan penghasilan dari usaha lain seperti misalnya dari kayu manis, bertanam cabe, palawija dll. Menarik sekali.

Kami diijinkan melihat ke dalam balai adat dan melihat contoh gerakan tari traditional suku Dayak yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal dilangsungkan. Namun sebelum memasuki balai adat, kami dipersyaratkan untuk memakai tutup kepala yang jika untuk pria disebut dengan Laung, sementara untuk wanita disebut dengan Salungkui. 

Bersama Ibu Penghulu Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Ibu Penghulu Adat memasangkan salungkui di kepala saya. Dibentuk dari kain/tapih yang dilipat dan ujungnya diarahkan ke belakang lalu dirapikan. Saya senang sekali. Praktis dan bentuknya menarik. Salungkui ini tentu sangat berguna untuk melindungi kepala dari panasnya sinar matahari, debu maupun kotoran lainnya.  Ini mirip juga dengan “tengkuluk” yang biasa dipakai di kampung saya. 

Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung.

Sementara saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat, Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung pada tamu-tamu pria. Setelah itu barulah kami diajak memasuki Balai Adat. 

Balai Adat Haruyan itu ukurannya cukup luas. Saya membayangkan seluruh penghuni kampung itu barangkali bisa ditampung sekaligus jika masuk semuanya. Lantainya terbuat dari papan kayu yang kuat dengan tiang tiang penyangga yang sangat kokoh. 

Di tengah tengah bangunan terdapat tempat upacara bertiang tinggi dengan lantai yang sedikit lebih rendah di selilingnya. Tampak janur mengering sisa perayaan yang telah usai. Ini tempat suci. 

Memanjatkan doa untuk keselamatan kita semua.

Bapak Penghulu Adat dan seorang pemuka adat yang lain memanjatkan doa untuk memohon ijin serta memohonkan keselamatan bagi semua yang hadir di situ,   warga Dayak dan termasuk juga kami yang bertamu ke sana. Saya mendengarkan doa doa itu dengan khidmat dan rasa haru. Betapa jalinan rasa persaudaraan itu dengan mulus menjalar ke hati kami.  Lalu dalam hati saya ikut menyatukan doa saya bersama untuk kesejahteraan, keselamatan dan kemajuan masa depan warga Haruyan. 

Bapak Penghulu Adat menunjukkan gerakan tarian Kanjar

Setelah doa-doa selesai, Bapak Penghulu Adat bersedia menunjukkan kepada kami gerakan gerakan tarian Kanjar yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal. 

Ikut nenari Kanjar.

Para tamu priapun diajak ikut serta bakanjar. Dengan diiringi alat musik tunggal sebagai contoh, semuanya menari mengelilingi tempat upacara. Gerakannya simple dan mudah ditiru, sehingga setiap orang bisa ikut riang gembira menari Kanjar bersama sama. Sebagai refleksi hati yang penuh syukur atas anugerah panen yang luar biasa. 
Seusai para pria menarikan tarian Kanjar, Ibu Penghulu Adat mengajari saya menari Babangsai. Rupanya tari Babangsai ini adalah versi wanita dari tari Kanjar. Saya dan para wanita yang lain pun segera turun ikut menari dengan senang. Mengayunkan tangan dan mengatur gerakan kaki mengikuti ketukan musik. Menariknya, tari Babangsai ini juga ada 2 versi lagi. Yakni versi cepat dan versi lambat. Ibu Penghulu Adat menunjukkan keahliannya menari kedua duanya. Saya hanya mengikuti. 

Tak terasa matahari menanjak naik. Tiba tiba sudah tengah hari. Kami harus segera kembali ke Loksado untuk mengikuti acara berikutnya. Sayapun pamit dan kembali berada di atas motor. Menyusuri jalanan Haruyan -Malaris yang berliku, menanjak dan menukik. 

Haruyan, Loksado. Daerah ini memiliki potensi pariwisata  tinggi yang  belum tergali dengan baik. Alamnya, adat istiadatnya, budayanya, makanannya. Semuanya menarik untuk dilihat dan dikunjungi.

Berharap pemerintah segera membantu memperbaiki akses  yang ada, agar roda perekonomian berputar dengan lebih cepat. Dan tentunya akan lebih mudah lagi bagi para wisatawan untuk datang berkunjung. 

Di seberang desa Malaris, di tepi sungai Amandit saya turun. Membawa kenangan saya akan Haruyan.  Rasanya masih tertinggal hati saya di sana. Suatu saat saya ingin mendapatkan jesempatan untuk berkunjung kembali ke tempat ini. 

Yuk kita berkunjung ke Haruyan! Kita cintai tanah air kita.

Loksado Writers & Adventure 2017: Menuju Balai Adat Haruyan.

Standard

Setelah malam harinya  saya berkesempatan mengikuti diskusi hangat dalam temu muka para penyair dengan  para tetua adat suku Dayak Meratus, ketertarikan saya untuk mengunjungi pemukiman suku Dayak Meratus semakin meningkat. Walaupun saya belum pernah mengenal dekat suku Dayak sebelumnya, entah kenapa saya merasa sangat nyambung. Hati saya serasa terjalinkankan oleh sesuatu. 

Diskusi para peserta Loksado Writers dengan tetua adat Dayak Meratus. Foto milik Yulian Manan.

Saya coba memberi alasan logis kepada diri saya sendiri. Entah karena ada sebegitu banyak kosa kata dalam Bahasa Dayak yang diucapkan oleh para tetua adat itu yang sangat serupa dengan bahasa kampung saya. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya merasa tersambung. 

Alasan yang lain, mungkin juga karena apa yang mereka paparkan, pengalaman, persoalan, peluang pariwisata serta kesulitan dan harapan yang mereka sampaikan serasa deja vu bagi saya yang lahir dan besar di daerah tujuan wisata. Serasa saya pernah berada di situasi itu. 

Malam itu ketika penyelenggara menawarkan pilihan untuk mengunjungi balai adat Malaris yang dekat dan mudah dijangkau, atau balai adat Haruyan yang berada di ujung dengan medan tempuh yang terjal serta tak bisa dilalui kendaraan roda empat, saya memilih untuk mengunjungi balai adat Haruyan.  Karena saya pikir saya akan lebih mudsh mengunjungi Malaris suatu saat nanti karena letaknya lebih dekat. 

Demikianlah esok paginya, kami berkendara dari Loksado melewati Loklahung menuju desa Malaris. Tepat di seberang desa Malaris kami turun, sebagian teman teman memilih menyeberang jembatan ke Malaris. Saya numpang ojek menuju Balai Adat Haruyan. Ada Pak Handrawan Nadesul, Pak Roymon Lemosol, Pak Hengky, Pak Trip Umiuki, Aldo (siapa lagi ya?). 

Jembatan gantung sempit di atas sungai Amandit dari arah sebaliknya. Pak Roymon Lemosol sedang menyeberang dengan motor. Foto milik Roymon Lemosol.

Perjalanan menuju Haruyan sungguh sangat berkesan. Pertama kami harus menyeberang Sungai Amandit melalui sebuah jembatan sempit yang melengkung ke atas. Tak bisa papasan. Yang lewat harus gantian. Ketika motor lewat, jembatan itupun ikut berguncang-guncang. Huaaa…rasanya ingin memejamkan mata, membayangkan yang tidak tidak. Bagaimana jika motornya limbung, mungkinkah saya nyebur ke sungai? * Ooh pikiran kerdil dan negative, pergilah menjauh dariku!. Di saat begitu, saya hanya punya satu pilihan: pasrahlah dan percayakan pada sang pengemudi. 
Selepas jembatan, jalanan agak datar dan cukup nyaman dilalui, walaupun tidak rata, agak rusak dan bergelombang. Ada jembatan kayu kecil yang terlihat mulai merapuh. Saya melihat dua orang tourist manca negara yang melihat lihat di sekitar. 

Kami melewati pemukiman penduduk dan ladang-ladang hingga ke tepi hutan.  Setelah itu mulailah petualangan yang sesungguhnya. 

Bunga kacang kacangan yang sangat cantik dari hutam pegunungan Malaris. Photo milik He Benyamin.

Pemukiman lenyap digantikan pepohonan bambu, meranti,  pakis-pakisan, kayu manis, jahe jahean, cucurbitaceae, dsb. Ada juga pohon luwak (sejenis fig) yang buahnya super lebat memenuhi batang, dahan dan rantingnya. 

Juga ada banyak bunga liar yang indah di sana. Bunga kacang kacangan yang cantik berwarna putih dengan bercak merah di tengahnya. Bunga jahe jahean yang berearna merah diseling putih. Alangkah indahnya. Lalu bunga-bunga keluarga labu hutan yang kuning benderang menyongsong matahari. Bermunculan di tepi hutan dan semak. Rasanya saya ingin turun dan mengamatinya sejenak. Tapi sayang, saya mengejar waktu. Khawatir tertinggal oleh teman teman yang lain. 

Hanya bisa berdecak kagum akan kayanya bumi Kalimantan. 

Jalanan sungguh membuat jantung berkali kali ingin meloncat dari posisinya. Betapa tidak, naiiiiik, lalu turuuuuuuuun. Datar sebentar lalu naiiiiiiiiik lagi dan beloookk dengan terjalnya. Lalu turuuuuuuun lagi. Dan itu harus kami lalui dalam kondisi jalan yang banyak bopeng bopengnya. Terlebih lagi dengan berat badan saya yang nggak kira kira ini, kasihan abang pengemudinya jadi kepencet oleh tubuh saya setiap kali menurun. Saya berusaha menahan dengan bantuan kedua tangan saya…tapi tetap saja 😥😥😥 . 

Saya membayangkan kesulitan yang dihadapi penduduk setempat yang harus melewati jalan ini setiap harinya. Berharap pemerintah setempat memberi akses yang lebih baik bagi penduduk setempat dan juga para wisatawan yang ingin berkunjung ke sini. 

Untuk mengimbangi kecemasan saya selama di perjalanan, saya ngobrol ngalor ngidul dengan sang pengemudi. Tentang adat istiadat, tentang kehidupan, tentang masalah sosial  dan sebagainya. Banyak hal hal menarik dan baru yang saya dapatkan dari percakapan itu. 

Secara umum saya menangkap bahwa keinginan masyarakat untuk maju di sana sesungguhnya cukup tinggi. Hanya saja dibutuhkan perhatian dan akses yang lebih baik dari pemda setempat selain juga motivator pembangunan yang memahami dengan baik adat istiadat serta budaya setempat sehingga keberlangsungan pembangunan daerah itu bisa berjalan dengan sebaik-baiknya tanpa harus melemahkan adat istiadat dan budaya setempat. Mungkin sejenis Sustainable Development program yang kira-kira yang bisa menjamin kebersinambungan perkembangan daerah itu secara paralel bersama dengan adat istiadat dan budayanya sekaligus. 

Saking serunya ngobrol, sehingga tak terasa tibalah kami di balai adat Haruyan setelah melalui beberapa lagi jalanan terjal. 

Bapak Penghulu Adat Haruyan menerima kunjungan peserta Loksado Writers 2017. Foto milik Roymon Lemosol.

Kami disambut oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan dan ibu beserta keluarganya. Kami berbincang bincang sebentar. 

Berbincang dengan Penghulu Adat Haruyan, Dayak Meratus Bapak Aeni. Foto milik Roymon Lemosol.

Bapak-bapak mengobrol dengan Bapak Aeni Penghulu adat Haruyan.  

Ibu penghulu adat Haruyan, Dayak Meratus.

Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu penghulu adat dan putrinya tentang keluarga, upacara adat, kegiatan para wanita, perawatan kebersihan wanita sehari hari hingga tanaman dan hasil panen. Obrolan yang penuh tawa canda seolah kami ini sudah bersahabat bertahun tahun.  

Senangnya berada di Haruyan. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Amandit River Lodge.

Standard

Suami saya mengirim pesan. Tentu yang pertama ditanyakan adalah anaknya. Bukan istrinya. Lalu setelah itu”Nginep di mana?”.  “Amandit River Lodge” jawab saya. “Di mana itu?” Tanyanya lagi. “ Di Loksado” saya menjawab lagi “Coba share posisi ” pintanya. Agaknya suami saya tidak jelas di mana saya berada. Sayapun segera melakukan searching Google Map. Nah…muncullah posisi Loksado di peta itu.

Loksado adalah sebuah perkampungan yang terletak di Hulu Sungai Selatan,  kurang lebih 4 jam perjalanan darat dari Banjarmasin. Kurang lebih sekitar 45 menit lah dari kota Kandangan. Jauh ya?. Sebetulnya nggak juga sih. Terutama jika kita tahu apa yang bisa kita lihat di sana. 

Loksado memiliki alam yang sangat indah. Jika dilihat topografinya, Loksado berada diantara lereng Pegunungan Meratus dengan puncak-puncaknya yang terkadang berselendang kabut dan Sungai Amandit yang mengalir jernih di bawahnya. 


Nah, Amandit River Lodge, alias Graha Wisata Sungai Amandit itu berada tepat di sisi Sungai Amandit.  Penginapan kecil ini kelihatannya dikelola oleh pemda setempat. Jumlah kamarnya tidak banyak, saya kira tidak lebih dari 20 buah. Setiap ruangan dilengkapi dengan tempat tidur yang digelar di atas lampit, kamar mandi dan kipas angin. Suhu di sana tidak terlalu panas, walaupun tidak dingin juga. Lumayan agak sejuk. 
Bangunan, sebagai kebanyakan bangunan di daerah itu terbuat dari kayu dan berdiri tinggi di atas panggung. Selain kamar kamar, penginapan ini juga memiliki fasilitas ruangan pertemuan sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. 

Walaupun sederhana, saya menyukai tempat ini karena masih banyak pohon pohon besar di sekelilingnya, yang membuat tempat itu tetap sejuk dan nyaman. Suara burung pun sangat medu. Terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, atau berjingkat-jingkat di tepi sungai. Suaranya terkadang ditingkah suara cycada memeriahkan senja. Terasa sangat riang dan damai. 

Amandit River Lodge


Di halaman belakang, terbentang rerumputan yang hijau hingga ke tepi  Sungai Amandit yang mengalir tenang. Sesekali penduduk setempat melintas di sungai dengan rakitnya. Membuat saya penasaran dan ngiler juga ingin mencoba berakit rakit di sungai itu. 

Di latar belakang tampak puncak puncak pegunungan Meratus yang sebentar sebentar di peluk kabut. Puncak yang tampak tertinggi itu diberi nama Puncak Kantawan. 
Ah! Rasanya tak perlu kemana-mana. Hanya dengan diam atau berbaring di rerumputan ini saja, keindahan dan kedamaian itu hadir begitu saja ke hati kita. 

Seekor burung prenjak tampak berlompatan di dahan sambil ribut memanggil manggil. Saya mendongak. Sekumpulan bunga anggrek merpati rupanya sedang bermekaran tinggi di atas dahan. Oh cantiknya.Sungguh tempat yang sangat indah untuk melupakan sejenak kepenatan ibukota. 

Yuk mampir ke Loksado!

Loksado Writers & Adventure 2017: Empat Jam Menuju Loksado.

Standard

Sekitar pukul 8 pagi kami tiba di bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin. Semua peserta yang berangkat bersama saya pagi itu adalah orang-orang yang baru saja saya kenal subuh tadi di bandara Soetta di Jakarta. Kecuali Aldo, anak saya tentunya. Ada Pak Rachmat Ali beserta Bu Kartini istri beliau, yang tiba paling pagi karena takut terlambat. Lalu ada Pak Adri yang tadi subuhnya membagi-bagikan ticket untuk kami. Lalu Bang Salimi dan Bu Gantina, Pak Trip Umiuki, Bang Yahya, Pak Kurniawan Junaedhi dan Ibu Evi Manalu. Sejak awal pertemuan saya merasakan kekompakan team ini. Walaupun saya dan Aldo baru mengenal mereka. Keramahannya, kesetiaannya untuk  saling menunggu dan saling mengingatkan, juga kebersamaannya, semuanya memberi kesan yang mendalam di hati saya. 

Untuk beberapa saat kami menunggu bagasi keluar. Bang Salimi menyarankan agar saya dan Aldo bergantian saja ke rest room untuk menyegarkan diri. Semua ibu-ibu yang lain juga mengambil kesempatan untuk membersihkan diri. Udara terasa panas. Saya membuka jacket saya.  Tak sabar rasanya ingin cepat cepat bertemu dengan Mbak Agustine Thamrin. Orang yang mengundang saya datang ke Loksado Writers & Adventure 2017 ini. 

Tiba di Banjarmasin -foto Agustine Thamrin

Selepas pemeriksaan bagasi, akhirnya bertemulah saya dengan Mbak Agustine yang menyambut kami semua dengan sangat ramah. Wanita cantik bertubuh tinggi langsing itupun menyalami dan memeluk saya dengan akrab. Seolah kami sudah bersahabat bertahun tahun. Padahal saya baru bertemu dengannya pagi itu. Lega rasanya. Kesan saya Mbak Agustine ini memang memang sangat ramah dan baik, dan rupanya memang sudah mengenal dekat teman teman penyair dalam rombongan saya itu. 
Setelah pintu keluar, saya diperkenalkan dengan Pak Budhi Borneo sang penggagas acara Loksado Writers & Adventure 2017, juga dengan Mbak Lena seorang peserta lain dari Yogya yang rupanya tadi satu pesawat dengan kami dari Jakarta. Juga di luar menunggu  Pak dr Handrawan Nadesul (Pak Hans) yang sudah lebih dulu mendarat dengan pesawat lain. 

Dari sana Pak Budhi lalu mengatur keberangkatan. Saya dan Aldo ikut rombongan Pak Budhi bersama dengan Mbak Lena dan Pak Hans. Kami bermaksud mengisi perut dulu di warung Soto Banjar tak jauh dari airport. Walaupun dekat, ternyata rombongan yang lain sempat agak lewat juga. Ha ha…terlambatlah mereka tiba di tempat sarapan. Memang pekerjaan mengatur orang banyak itu tidaklah mudah. Dan tentunya merepotkan. Tapi saya lihat para peserta dan panitya semangat sekali. Membuat saya merasa senang bertemu dengan mereka. 

Soto Banjar.

Soto Banjar

Warung Soto Banjar dekat bandara itu pada dasarnya menyajikan 2 menu yakni Soto Banjar yang disajikan dengan ketupat, dan Rawon Sapi yang disajikan dengan nasi putih. Saya sendiri memesan Soto Banjar. Alasannya karena selain saya memang tidak mengkonsumsi daging sapi, saya sudah pernah makan Soto Banjar sebelumnya dan saya menyukainya. Lagipula Soto Banjar, sesuai dengan namanya adalah makanan khas Kalimantan Selatan. Ngapain pula sudah jauh-jauh ke sini tidak menikmati masakan khasnya? 
Bagi yang penasaran seperti apakah Soto Banjar? Saya cerita sedikit ya..     

Soto Banjar  serupa tampilannya dengan soto lain. Terdiri atas soun (glass noodle) yang direbus, suiran daging ayam dengan bumbu kuah. Yang beda, kuahnya agak manis dan biasanya dihidangkan dengan ketupat. Bukan nasi. Sempat saya bertanya kepada tukang warung tentang bumbunya, rupanya selain bawang merah, bawang putih, lada, kapulaga dan pala juga dilengkapi dengan kayu manis dan cengkeh. Oh..pantesan rasanya agak lebih berempah ya. Tapi enak dan segar. 

Di tempat itu kamipun diperkenalkan dengan Isuur dan teman teman penyair dari komunitas Kalimantan Selatan. Bersama sama kami berangkat menuju Loksado. Beriring-iringan. Akan tetapi karena ada rombongan yang  juga menjemput Ibu Sulis Bambang dan Roymon di penginapan maka kamipun berpisah  dan berjanji bertemu di Haur Kuning. 

Haur Kuning & Kemegahan Namanya. 

Di manakah Haur Kuning? Penasaran dong ya. Menurut Pak Budhi Haur Kuning adalah tempat yang biasa untuk janjian jika mau bepergian bersama ke suatu tempat. Sejenis ‘meeting point ‘ begitulah kira kira. Mengapa Haur Kuning? Ya karena lokasi itu mudah dijangkau dan semua penduduk Banjarmasin tahu letaknya. Kami mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Pak Budhi. Saya membayangkan sebuah tempat dengan tugu besar berwarna kuning yang mudah terlihat oleh semua orang. 

Setiba di Haur Kuning ternyata tak terlihat oleh saya adanya  tugu besar berwarna kuning. Sayapun bertanya dalam hati. Tak seberapa lama saya dengar Pak Hans bertanya kepada Pak Budhi, “Yang mana haur kuningnya?”.  Pak Budhi menjawab “Yang itu, Pak” sambil menunjuk dua rumpun bambu kecil di pinggir jalan.  * haur kuning = bambu kuning.  Nyaris tak terlihat oleh mata. Oalah…ya ampuun. Hanya dua rumpun bambu kuning kecil, tapi namanya sangat terkenal. Lalu mengapa bambu sekecil itu bisa menjadi sangat terkenal?. Saya rasa karena bambu kuning tidak umum ditanam di tepi jalan. Dan orang-orang memanfaatkan ketidak-umumannya ini sebagai penanda tempat. Mudah dikenali karena ia berbeda. Namanya lebih tenar dari pohonnya sendiri.  Nah…pelajaran moralnya adalah kecil bukan berarti harus membuat kita minder dan patah arang.  Walaupun kecil, jika kita bisa membuat diri kita unik dan tidak biasa biasa saja, maka akan lebih mudah bagi kita untuk membuat hidup kita menjadi bermakna. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya berangkatlah kami menuju Loksado melalui kota Martapura. Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan yang indah. Pohon pohon yang hijau, sungai sungai yang mengalir, rumah rumah penduduk yang berdiri macam panggung,  lahan lahan yang luas banyak yang belum tergarap dengan baik. Oh..alangkah luasnya pulau Borneo ini. Dan alangkah kaya rayanya. Hati saya sangat bangga dan terharu. Indahnya tanah airku. 

Sepanjang jalan kami mengobrol. Mulai dari soal durian hingga ke pohon jengkol. Juga tentang sungai sungai yang mengalir dan  intan yang didulang dari sungai tertentu. Lalu tentang jalur khusus pertambangan yang terlihat berliku di bawah sana. Saya menyimak baik-baik cerita Pak Budhi. Juga cerita Pak Hans. Tentang masa mudanya, bagaimana beliau berkarya dan berkumpul dengan penyair penyair senior seperti Putu Wijaya, Sutardji, Pak Adri dan sebagainya. Membuat puisi, prosa dan artikel untuk menghidupi dirinya. Cerita jaman dulu saat semua karya harus diketik dan diserahkan sendiri ke kantor redaksi. Lalu bagaimana beliau menyelenggarakan kegiatan sastra Negeri Poci di Tegal setiap tahunnya. Saya sangat terkesan dengan pengalaman beliau itu. Walaupun menjadi dokter yang terkenal, tetapi beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk sastra. Sungguh saya merasa salut. Pak Budhi tetap menyetir sambil sesekali ngobrol. Sementara Mbak Lena sibuk dengan hapenya lalu kemudian tertidur. Demikian juga Aldo yang duduk di belakang. 

Kami sempat mampir sebentar di Banuang untuk membeli Neo Remacyl guna berjaga jaga karena kaki saya sering kramp. Agak aneh juga, di provinsi sebesar ini ternyata jumlah Apotik yang kami lihat tidaklah banyak. Selain itu sebagian juga tutup karena kebetulan hari itu tanggal merah, karena hari Waisak. 

Mampir di Kota Kandangan.

Di sebuah rumah makan di kota Kandangan – photo Yulian Manan.

Pukul 2 siang kami tiba di kota Kandangan. Mampir di sebuah rumah makan setelah sempat tersesat dan berputar jalan akibat salah petunjuk. Hari panas terik. Tak heran karena dekat dengan garis katulistiwa. 

Bersama Abah Arsyad, Dr Handrawan Nadesul dan Isuur Loeweng

Di rumah makan ini saya dan Aldo berkenalan dengan Abah Arsyad beserta istri. Menurut cerita teman teman yang lain, Abah ini adalah penyair yang sangat eksentrik dengan penampilannya yang selalu bikin heboh penontonnya. Dulunya juga selalu rajin menghadiri acara temu sastra di manapun di seluruh Indonesia. Hanya saja belakangan ini beliau lebih banyak jaga kandang saja di Kal Sel. Juga di tempat ini saya berkenalan dengan Mbak Cornelia Wulandari yang sajaknya pernah saya baca di timelinenya Mbak Agustine Thamrin. Juga sempat ngobrol panjang lebar dengan penyair Isuur Loeweng tentang usaha penggemukan sapi. Sayang sekali ada satu kendarasn yang membawa rombongan Pak Rahmat Ali dan ibu serta Bang Yahya yang rupanya langsung menuju Loksado tanpa sempat mampir di Kandangan. 

Makanan yang disajikan di rumah makan ini enak sekali. Ada ayam, itik dan ikan yang disajikan dengan sambel lalapan daun ubi rebus, timun dan kacang panjang. Nikmat sekali. 

Setelah kenyang dan beristirahat sebentar, barulah kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Loksado. 

Kali ini udara mulai menyejuk. Kiri kanan mulai tampak pohon pohon besar. Rumah rumah penduduk pun berkurang. Kami mulai memasuki kawasan hutan pegunungan Meratus. Jalanan sangat sepi. 

Salah satu pemandangan Loksado. Hijau royo royo.

Pemandangan yang luarbiasa. Puncak puncak bukit Meratus terkadang tampak dikelilingi kabut. Di sekelilingnya hutan menghampar hijau. Pohon kayu manis, pohon durian, pohon pakis, pohon luwak, pohon jahe jahean melengkapi vegetasi hutan itu. Suara nyanyian cycada menyambut sore ditingkahi suara burung hutan. Alangkah indahnya alam pegunungan Meratus. Hati saya terasa riang dan bahagia berada di tempat itu. Sayang saya hanya bisa memotret dari balik jendela kendaraan yang melaju. 

Amandit River Lodge

Tak terasa setengah jam telah berlalu. Pak Budhi terus menyetir, membawa kami ke jalan yang semakin sepi dan semakin jauh memasuki kawasan hutan Meratus. Akhirnya tibalah kami di Amandit River Lodge, tempat kami menginap di tepi Sungai Amandit. 

Lama perjalanan yang dibutuhkan dari Banjarmasin ke Loksado seharusnya cuma 4 jam. Tetapi rupanya kami menempuhnya dengan lebih lama karena kami singgah singgah untuk sarapan, menunggu di Haur Kuring, lalu mampir di Apotik dan lama ngobrol di Kandangan. Namun demikian perjalanan tetap terasa menyenangkan.