Tag Archives: Kangkung

Tips Dapur Hidup: Panen Berulangkali Dengan Pengguntingan Yang Tepat.

Standard

Error
This video doesn’t exist
​Pada umumnya jaman sekarang ini kita membeli kangkung di pasar sekaligus sak akar-akarnya (Kangkung Cabut/kangkung darat  = sekali tanam langsung cabut, lalu tanam lagi untuk periode berikutnya).

Nah… berhubung waktu saya untuk mengurus tanaman juga sangatlah  sempit (saya mengerjakannya di sela-sela kesibukan  pekerjaan saya yang super padat), saya memilih menghemat waktu dengan cara sekali tanam panen berkali-kali. 

Caranya bagaimana? Saya menggunakan metode yang dilakukan petani kangkung  jaman dulu. Yakni dengan memotong batang kangkung dan menyisakannya sedikit batangnya agar kelak cabang kangkung bisa bersemi kembali. Hasil dari cara memanen seperti ini disebut dengan Kangkung Potong. Biasanya dilakukan pada tanaman kangkung yang dibudidayakan di air.

​Pemotongan harus dilakukan pada ruas batang yang ke dua atau yang ke tiga. Dengan demikian tunas yang baru bisa tumbuh daru ruas oertama tanaman itu dengan kokoh tanpa goyah karena dekat dengan akar. Selain itu, tanaman tidak perlu membuang-buang energi untuk memelihara batang yang panjang, sehingga bisa fokus untuk membesarkan tunas yang baru tumbuh.Yang paling penting, tanaman harus tersuply dengan air dan mendapatkan sinar matahari yang banyak.  Pemberian nutrisi yang cukup seminggu sekali juga sangat membantu membuat tanaman semakin sehat. 

​Dengan cara ini saya bisa melakukan panen 4-5 x sebelum saya ganti dengan tanaman baru lagi. Hasil panen juga tetap sehat-sehat dengan daun yang lebar-lebar dan batang yang gendut. Tidak kalah jika dibandingkan dengan hasil panen perdananya. 

Hemat waktu. Sangat cocok untuk ibu rumah tangga yang juga harus bekerja di luar. 

Mau mencoba? 

Posisi (Memang Terbukti) Menentukan Prestasi.

Standard

Pasti sudah sering mendengar pepatah ini “Posisi Menentukan Prestasi”. Maksudnya tentulah bahwa prestasi yang dicapai seseorang itu sangat ditentukan oleh bagaimana posisi orang itu  saat melakukan eksekusi.  Semakin bagus posisinya, tentu semakin bagus prestasinya. Oleh karenanya    banyak orang berlomba-lomba mencari posisi yang terbaik.  

Saya sendiri, belum pernah memikirkan pepatah itu baik-baik, walaupun sering mendengarnya juga. Nah sekarang saya teringat, gara-gara melihat kenyataan itu sendiri terjadi di depan mata saya. 

​Saya menanam beberapa box kangkung dengan system hydroponik tanpa listrik. Karana jumlahnya cukup banyak sementara halaman saya sempit, terpikir oleh saya untuk membuat rak bertingkat yang terbuka yang bisa menampung box-box tanaman sayuran termasuk kangkung saya itu. 

Singkat cerita, rak itu sudah jadi dan box box berisi benih  sayuran itupun saya letakkan dengan rapi di dalamnya. Semua sayuran mengalami perlakuan yang sama dalam hal treatment air dan nutrisi. Benih yang kecil mulai tumbuh.

Beberapa hari kemudian, saya melihat terjadi perbedaan yang cukup signifikan atas pertumbuhan tanaman itu dari satu box ke box lainnya. Hmm…mengapa ya? 

​​Tanaman dari box yang diletakkan di sisi yang paling terekspose dengan cahaya matahari mengalami pertumbuhan yang paling pesat. 


​Sedangkan yang diletakkan di posisi lebih ke dalam (lebih jauh dari cahaya matahari) tampak lebih kecil dan lebih lambat pertumbuhannya. Posisi box tempat tanaman ini bertumbuh  sangat menentukan tingkat keberhasilannya dalam bertumbuh. 

Jadi memang benar ya pepatah “Posisi Menentukan Prestasi” itu?. Menurut pendapat saya iya. 
Setiap posisi, di manapun itu tentu memiliki “tetangga sebelah”samping kiri, samping kanan, depan, belakang, atas, bawah. Posisi tertentu, membuat kita terekspose pada tetangga tertentu yang bisa jadi berbeda jika posisi kita berbeda. 

Ibaratnya si tanaman kangkung yang tumbuh pesat karena bertetangga dengan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhannya, seseorang juga sangat mungkin maju pesat karena dia berada di lingkungan orang-orang sukses. Setidaknya usahanya untuk sukses lebih mudah ketimbang orang yang berada di lingkungan orang orang yang gagal. Mengapa? Karena ia mendapatkan pemahaman, dukungan dan motivasi serta networking yang baik dengan pusat-pusat kesuksesan. 

Demikian juga sebaliknya.Jika seseorang tidak terkespose dengan kesuksesan dan lebih banyak berada di lingkungan orang-orang yang gagal, maka usaha yang dikeluarkan agar bisa sukses menjadi lebih berat. Karena tak ada orang yang memberi informasi, dukungan dan pertolongan. Ia harus mencari tahu sendiri, mencoba dan berusaha keras agar sukses. 

Memberi peluang kepada anak-anak dan  orang-orang yang kita sayangi di sekeliling kita untuk terekspose dengan hal-hal positive yang mendukung kesuksesannya di kemudian hari sangatlah penting. 

Biji Kangkung Dan Persemaiannya.

Standard

​​Saya punya sebungkus biji kangkung. Saya beli sekitar tahun lalu. Isinya banyak. Tapi karena lahan saya untuk menanam sangat terbatas hanya di halaman, biji kangkung ini pun belum habis juga. Belakangan saya perhatikan kok yang tumbuh tidak sebanyak dulu ya?.Padahal dulu -dulu rasanya berapapun biji kangkung  yang saya tabur, ya sebanyak itulah yang tumbuh. Jika tidak bisa dibilang semuanya, ya paling tidak sebagian besar pastilah tumbuh.  Apa jangan- jangan sudah kelamaan? Sudah expired?. Buru-buru saya memeriksa kemasannya. Oh!. Ternyata bukan!. Masa expiry datenya masih jauh. March 2017. Jadi apa permasalahannya?. 

Saya mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Apa yang berbeda?.Apa karena cara saya menyemaikan kini berbeda dengan sebelum-sebelumnyanya? Dulu saya menaburkan biji biji di tanah dan memindahkannya ke polybag jika sudah tumbuh. Sekarang saya lebih banyak menanam dengan cara hidroponik. Jadi saya menyemainya di atas rockwool yang basah. Apa barangkali cara menanam saya yang berubah ini yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat persemaian biji kangkung ini ya? 

Daripada penasaran, saya pun melakukan percobaan sederhana dan melakukan pengamatan setiap hari terhadap biji biji kangkung yang saya semai dengan 3 macam perlakuan yang berbeda:

1/. Biji langsung ditabur di tanah dalam pot.

2/.Biji diletakkan di atas rockwool basah.

3/. Biji direndam semalam dalam air lalu ditiriskan di atas wadah saringan. 

Saya nenempatkan ketiga perlakuan ini pada tempat yang sama, bersebelahan satu sama lain untuk meminimalisir pengaruh cahaya dan lingkungan. 

​Biji biji kangkung inipun mulai tumbuh. Saya melakukan penghitungan. Hasilnya:
1/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 1 (langsung di tanah dalam.pot) =27.5%.

2/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 2 (rockwool) = 25%.

3/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 3 (rendam dan semai di atas saringan) = 13.3%. 

Hasilnya tidak terlalu jauh berbeda antara perlakuan 1 &2. Hanya pada perlakuan 3 yang cukup besar perbedaannya. Tapi hasilnya buruk semua. Karena tingkat persemaian sangat rendah di ketiga perlakuan ini.  semuanya jauh di bawah 95%. Belum mampu menjawab rasa penasaran saya dengan baik. 

Saya masih curiga jika bibit ini sedungguhnya sudah mulai kadaluwarsa.Walaupun jemasannya mengatakan tidak. 

 Akhirnya saya pergi ke toko Trubus untuk membeli biji biji baru. Sambil membayar sayapun ngobrol dengan petugasnya. Menceritakan tentang biji kangkung saya yang tingkat persemaiannya menurun. Saya mendapat masukan jika sebaiknya saya menyimpan biji biji sayuran dalam kondisi yang di”seal” rapat rapat kembali. Jangan dibiarkan terlalu lama kontak dengan udara luar. Saya mendengarkan masukan ini untuk pembelajaran saya dalam menanam sayuran. 

Saya mencoba mengingat-ingat. Dari sekian kali membuka dan menabur biji biji kangkung ini, rasanya saya memang tidak selalu disiplin  menyimpannya dengan baik. 

Biji kangkung yang baru saya beli segera saya semaikan di atas rockwool yang basah. Dan tingkat persemaiannya mencapai 99%. 

Jadi pelajarannya dalam mengelola biji biji sayuran buat saya adalah memastikan masa kadaluwarsa adalah satu hal penting.Namun lebih penting lagi adalah bagaimana menangani dan menyimpan benih yang tersisa agar bisa digunakan dengan optimal di kemudian hari. Intisarinya, benih baik yang belum sempat disemai perlu disimpan dengan baik agar tidak kekeringan dan terkontaminasi. 

Dan jika dinalogikan ke dalan kehidupan kita, ini serupa dengan pelajaran bahwa jika kita memiliki benih-benih pemikiran maupun ide ide yang baik yang belum sempat kita utarakan, alangkah baiknya jika kita simpan di tempat yang baik dan rapat kemurniannya agar tidak keburu hilang, menguap ataupun terkontaminasi pemikiran lain yang lebih buruk. Harapannya, suatu saat jika ada kesempatan untuk membukanya, maka ide ide dan pemikiran baik ini akan berguna bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga bagi orang orang di sekeliling kita. 

Urban Farming: Lima Ribu Rupiah Yang Membahagiakan.

Standard

Kangkung

Segenggam kangkung hasil panen perdana.

Tanaman kangkung yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya kini sudah berusia sebulan. Bukan saja tumbuh subur dan segar, tetapi satu dua batangnya mulai ada yang tumbuh sangat panjang bagaikan sulur. Barangkali jenis kangkungnya berbeda dengan yang lainnya. Tidak tahu juga. Selain itu ada juga satu-dua daun paling bawahnya yang sudah mulai tua dan menguning. “Kelihatannya seperti tanda-tanda sudah bisa dipanen” kata anak saya. Jadi kemarin Sabtu, berhubung saya ada di rumah, untuk pertama kalinya saya dan anak saya mulai bisa memanen sayur kangkung hasil tanam sendiri di halaman dalam polybag. Horreeee!. Lumayan, cukup untuk makan siang bersama keluarga.

Kangkung 1Hasilnya mungkin tidak banyak. Hanya cukup buat satu kali masak. Kalau beli di tukang sayur  paling banter harganya hanya Rp 5 000. Barangkali buat sebagian ibu rumah tangga Rp 5 000 sama sekali  tidak ada artinya. Tapi bagi sebagian ibu rumah tangga lain, segenggam kangkung dengan nilai Rp 5 000 juga barangkali sesuatu banget. Saya sendiri sangat senang dan bangga sekali dengan apa yang kami lakukan. Menurut saya nilai Lima Ribu Rupiah ini benar-benar berharga.  Mengapa? Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Menanam kangkung dari limbah sayuran yang tidak terpakai memberi sensasi sendiri karena ternyata kita menemukan fakta bahwa sesuatu yang kita pikir tak berguna sesungguhnya masih bisa di-recycle untuk kita manfaatkan kembali.  Dan kwalitas hasil re-cycle itu tidak selalu harus lebih buruk dari yang aslinya. Saya lihat batang dan daun kangkung yang saya tanam ini sama subur dan hijaunya dengan apa yang saya beli di pasar atau dari tukang sayur.

Menanam kangkung sendiri juga memberi kepastian kepada kita bahwa tanaman terkontrol dari pestisida dengan baik. Karena jumlah tanamannya yang cuma seuprit dan setiap hari saya lihat dan periksa, jadi saya bisa memastikan tidak ada kupu-kupu atau ngengat yang bertelor dan menetas menjadi ulat di sana. Sehingga saya tidak perlu menggunakan pestisida. Selain itu tanaman ini juga sudah bisa dipanen pada umur 4-5 minggu. Sangat singkat. Jadi pestisida memang benar-benar tak perlu digunakan.

Sayur kangkungSetelah ditumis, kangkung yang benar-benar fresh baru dipetik dan langsung dimakan, ternyata jauh lebih manis, renyah, segar dan lebih enak rasanya ketimbang yang sudah dipanen sehari atau bahkan dijajakan setengah layu di tukang sayur. Anak- anak dan suami  saya semuanya berkomentar yang sama dan memuji rasa sayuran segar hasil petik dari halaman sendiri itu.

Hm… sangat menarik sekali. Barangkali jika begitu dipanen langsung disayur, semua zat baik yang ada pada sayuran belum sempat menguap atau hilang dari batang dan daunnya. Semuanya masih tersimpan dengan baik.

Saat memanen, batang kangkung itu hanya saya gunting sedikit diatas ruang batangnya yang pertama. Tidak saya cabut. Karena saya ingin melihat apakah tanaman ini masih bisa direcycle kembali dengan cara begini. Jika ya, maka saya tidak perlu menanam ulang lagi. Bisa memanfaatkan tanah media tanam yang dipolybag itu kembali – dan barangkali hanya perlu menggemburkannya kembali dan menambahkan sedikit media tanam baru untuk memastikan unsur haranya cukup. Menggunakan kembali polybag yang ada, sehingga tidak menambah pencemaran alam dengan plastik.

Memanen kangkung

Memanen kangkung

Keberhasilan kecil kami menanam sayuran dan akhirnya memanennya dalam waktu sebulan,  memberi anak-anak saya contoh nyata yang baik, tentang hubungan antara NIAT- USAHA -SUKSESan. Niat memanfaatkan limbah sayuran – melakukan apa yang kita niatkan itu dan rajin memeliharanya setiap hari –  tanaman yang subur dan panen yang memuaskan. Contoh yang sangat kecil dan sederhana tapi  benar-benar real. Bahwa jika kita bersungguh-sungguh dengan apa yang niatkan, kita lakukan dengan baik dan letakkan semangat kita pada prosesnya, maka dengan pasti kita akan berhasil mendapatkannya dengan baik.

Jadi nilai-nilai yang bisa saya ajarkan kepada anak saya adalah bahwa untuk segala sesuatu, kita bisa mulai dari hal-hal kecil, mudah dan sederhana. Tapi kita kerjakan sendiri, lakukan sendiri, nikmati prosesnya dan berbanggalah atas apa yang kita lakukan dengan baik.

Yuk, ikut saya bertanam sayur dengan memanfaatkan limbah sayuran yang ada!. Bikin dapur hidup. Setahap demi setahap, kita jadi Ibu Rumah tangga yang lebih peduli lingkungan (dan kalau bisa menjadi lebih mandiri). Walaupun sedikit, kita berhemat pengeluaran dan ikut memproduksi oksigen dan menciptakan udara yang lebih bersih di halaman rumah kita sendiri.