Tag Archives: Keberanian

Berjalan Di Atas Api: Tentang Keberanian & Kemauan.

Standard

???????????????????????????????Pernah suatu kali , saya ikut sebuah kelas  Mindful Leadership  dibawah bimbingan Dr Pramod Tripathi yang diakhiri dengan acara ‘firewalking’ alias berjalan di atas api.  Hah???!!! Berjalan di atas api???  Ya!. Dengan kaki telanjang!. Waduuuh! Kok kaya Debus ya? Atau Kuda Lumping yang makan api? Atau kalau di Bali juga ada kesenian sejenis yang disebut  Tari Sang Hyang Jaran. Para penarinya kesurupan dan bisa berjalan di atas api dengan selamat tanpa sedikitpun melepuh.  Addduuuh, bagaimana mungkin saya akan bisa melakukannya ya? Boro-boro berjalan di atas api, kena percikan minyak panas saat goreng ikan saja sudah melepuh kesakitan.

Saat pertama kali tahu bahwa saya harus menjalaninya, saya sangat terkejut.  Dan sudah pasti merasa sangat khawatir dan takut. Tak bisa membayangkan bagaimana saya akan melakukannya.  Karena tidak punya pilihan lain, maka sayapun berusaha bertanya ke kiri dan ke kanan. Bagaimana sih caranya agar orang bisa selamat jika disuruh berjalan di atas api? .

Rupanya berjalan diatas api ini memang sudah menjadi ritual sejak jaman dulu kala di India.  Dijadikan sebagai alat untuk melakukan test terhadap  Kemauan & Keberanian seseorang.  Juga sebagai alat test terhadap  Kejujuran seseorang.  Oh ya, saya ingat dalam Ramayana, juga dikisahkan bahwa Dewi Sita juga melakukan “Fire Test”  untuk menunjukkan kesucian diri dan kejujurannya terhadap Rama suaminya, setelah sempat dibawa kabur dan disekap oleh Rahwana sang raja raksasa di Kerajaan Alengka. Nah.. tentu saja saya bukan Dewi Sita. Lalu bagaimana saya harus melakukannya?  Karena jika dari penjelasan itu saja, saya belum menemukan penjelasan logis yang memuaskan hati saya.

Seorang teman memberi penjelasan ilmiah dibalik  kemampuan orang-orang yang mampu berjalan dengan selamat di atas bara api. Menurutnya, (belakangan saya mendapat konfirmasi kebenaran dari Om Google) – sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir atau takut jika berjalan di atas bara api kayu.

Pertama, karena bara api dari kayu yang digunakan dalam kegiatan Firewalk itu bukanlah penghantar panas yang baik. Setidaknya daya hantarnya tidak sebaik logam. Jadi sepanjang baranya adalah dari kayu, kita masih ada kesempatan aman berjalan di atasnya,asalkan kita tahu caranya. Jika baranya logam.. nah itu baru berbahaya.

Kedua,  bara api kayu itu sudah disiapkan sedemikian rupa, dimana sedikitnya sudah ada lapisan abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran itu. Dan abu adalah insulator yang baik. Lumayan buat mengurangi kemungkinan terbakar.

Ketiga, teori mengatakan bahwa jika ada dua benda yang memiliki temperatur berbeda bertemu (bara api vs telapak kaki),  benda yang lebih panas (bara api) akan mendingin, sdangkan benda yang lebih dingin (telapak kaki) akan memanas – hingga keduanya mencapai titik suhu yang  equal.  Nah kapan persamaan temperatur itu akan terjadi ?  Rupanya tergantung dari temperatur  masing-masing, tingkat kepadatan benda tersebut dan kemampuan konduktifitasnya.  Kata teman saya,  secara umum suhu equal antara bara dan telapak kaki kita itu akan terjadi dalam waktu 5 detik. Jadi jika kita berjalan biasa saja (jangan terlalu lambat atau terlalu cepat), umumnya kita akan selamat. Karena menurut teman saya itu jika kita berjalan normal, maka saat kaki kita menyentuh tanah itu waktunya kurang dari 5 detik sebelum kita angkat kembali.

Sekarang saya sudah paham penjelasan ilmiah itu. Jadi berjalan di atas api itu sungguh bukan sulap bukan sihir. Bukan pula Debus atau Jaran Kepang maupun Sang Hyang Jaran. Semua orang bisa melakukannya. Asal tahu caranya.  Berjalanlah normal atau sedikit lebih cepat dari biasanya. Jangan letakkan telapak kaki di bara terlalu lama. Maksimum 5 detik, lalu cepat angkat kembali. Sisanya biarkan bara dan abu itu  yang bekerja. Dijamin selamat dan tidak terbakar.

Jangan juga berlari kencang  yang menyebabkan tekanan terhadap bara api meningkat. Karena jika terpeleset, beberapa buah bara api mungkin saja bergeser posisinya atau bahkan naik ke permukaan kaki  yang menyebabkan kaki kita sedikit melepuh pada bagian atas.

Saya sudah tahu semuanya itu. Ketakutan saya rasanya agak berkurang. Namun kenapa saya masih deg-degan juga rasanya? Tetap saja khawatir rasanya. Walaupun memang tidak separah sebelumnya.  Tapi waktu yang tersisa cuma sedikit. Saya benar-benar tak punya waktu lagi untuk ragu -ragu. Tak punya pilihan lain. Simple question: mau atau tidak?.

Mau!!!. Saya harus bisa! Saya harus berani!. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian yang cuma secuil, sayapun menggulung celana panjang saya hingga di atas lutut agar tidak terjilat api, melepas sepatu dan memfokuskan diri saya ke jalur api.  Saya harus bisa melewatinya!. Kemudian saya berlari-lari kecil di tempat, mengambil ancang-ancang ….Ho ho ho!… Ho ho ho!.. Ho ho ho…  saya mendengar teman-teman saya  berteriak memberi semangat . Lalu…yiaaaatt…. sayapun berjalan cepat nyaris berlari di tas api. Yes!!!  Horre. Berhasil! Berhasil!. Teman-teman saya  bertepuk tangan.  Ternyata memang tidak terasa panas, saudara saudara!. Biasa saja, seperti berjalan di atas arang kering yang tidak menyala. Kaki saya tidak terbakar dan tidak melepuh. Jadi, saya membuktikan bahwa teori ilmiah teman saya itu benar.

Lalu mengapa saya setakut itu sebelumnya?

Ketidak tahuan akan sesuatu, membuat kita menjadi takut. Sebelumnya saya tidak tahu bahwa berjalan di atas bara itu cukup aman sepanjang kita hanya membiarkan telapak kaki kontak dengan bara tidak lebih dari 5 detik. Jadi saya sangat takut dan khawatir. Sama dengan hantu. Mengapa kita takut hantu? Karena kita tidak tahu dan tidak kenal dengannya. Tapi seandainya kita tahu, mungkin minimum setengah dari ketakutan itu akan berkurang. Sisanya tinggal bagaimana kita memastikan kemauan kita untuk menghadapinya dan menggalang keberanian kita untuk menuntaskan sisa ketakutan yang ada.  Memusatkan fikiran dan hanya berfokus pada apa yang kita lakukan, juga sangat membantu.

Jadi berjalan diatas api, bukanlah sesautu yang berkaitan dengan mistis, paranormal dan sebangsanya. Bisa dijelaskan secara ilmiah dan sangat logis. Semua orang bisa melakukannya asalkan punya kemauan dan keberanian.

Menemani Anak Bermain SkateBoard: Tentang Keberanian Dan Resikonya.

Standard

Hari Minggu. Saya berjalan pagi dengan Aldo, anak saya yang kecil. Satu kali putaran di perumahan. Saya pikir cukup. Tapi sesampainya kembali di rumah, ternyata anak saya tidak mau berhenti. Ia masih ingin bergerak lagi.  “Main skateboard aja, Ma” bujuknya. Akhirnya saya  menemaninya bermain. Ia meluncur dengan cepat di atas skateboardnya. Yiihhhhaaaaa!!! Sungguh menyenangkan. Walau hari Minggu, secara umum jalanan perumahan sepi, tapi  tetap saja sesekali ada kendaraan yang melintas. Jadi sesekali saya harus berteriak juga, agar anak saya berhenti dan memarkir diri serta skateboardnya di pinggir jalan untuk sementara. Read the rest of this entry

Keyakinan Dan Ketabahan… Petualangan Outbond Anak.

Standard

Seorang sahabat baik saya dari Bali, kebetulan berprofesi sebagai Technical Engineer di sebuah perusahaan  peralatan & pembangunan sarana tempat Outbond sedang berada di Jakarta selama beberapa minggu untuk mensupport pembangunan di sebuah kawasan wisata terkenal di Jakarta. Ia menghubungi saya dan menawarkan waktu agar kami bisa bertemu dan ngobrol. Saya sangat senang menerima telponnya. Segera menyetujui dan berangkatlah saya untuk menengoknya pada akhir pekan dengan kedua anak saya.

Wah.. saya cukup terperangah dengan apa yang ia & teamnya sedang kerjakan. Rumah – rumah pohon yang lucu di ketinggian, yang bisa diakses melalui jaring jaring tali temali. Mengingatkan saya akan masa-masa menjadi pramuka penggalang pada jaman dulu. Saya segera membayangkan betapa tempat ini akan menjadi daya tarik anak-anak yang memiliki naluri petualang untuk memanjat dan menjajal keberaniannya. Kami kemudian mengobrol tentang masa lalu. Tentang teman teman sekolah yang lain dan sedikit perjalanan hidup kami masing-masing selepas SMA dan kesuksesannya sebagai partner beberapa tempat wisata terkenal. Tentu saja saya bangga akan apa yang telah menjadi pilhan hidup sahabat saya itu.

Berhubung rumah pohonnya belum selesai saat itu, ia menawarkan anak-anak saya untuk menjajal outbond dengan tali temali di lokasi yang sudah ready. Tidak jauh dari lokasi rumah pohon itu. Anak-anak seperti biasanya sangat antusias. Berlari dengan cepat ke lokasi. Saya meminta bantuan petugas untuk memastikan keselamatan anak saya. Teman saya juga ikut turun tangan memeriksa keamanan alat-alat bantu yang akan digunakan anak saya. Nah sekarang semuanya sudah siap.

Journey dimulai dari tangga dan terowongan jaring tali temali. Anak saya yang lebih kecil segera menapaki tangga dan melaju dalam terowongan dengan penuh semangat dan antusias. Entah kenapa, sekelebat saya melihat rasa khawatir terpancar dari wajah anak saya yang lebih besar. Walaupun ia juga bergerak menapaki tangga dan masuk ke lorong tali temali. Naluri saya sebagai Ibu seketika tersentuh untuk memberikan fokus perhatian yang lebih banyak kepadanya  saat itu. Anak saya yang kecil  justru terlihat sangat cekatan. Ketika saya check,anak saya yang besar  bilang bahwa  ia ‘Ok’ dengan situasinya. Beberapa langkah ia bergerak lagi, lalu tiba-tiba stop. Terlihat keraguan lagi di matanya. Saya mendekatinya. Kepala saya sekarang ada di bawah badannyanya yang tersangkut di terowongan tali temali yang membentang diantara dua pohon. Anak saya lalu bilang ia ragu, apakah badannya yang bongsor akan bisa lolos atau tidak dari lorong itu. Karena lorong terlihat menyempit dan setiap kali ia bergerak lorong tali temali itu terlihat oleng. Saya mencoba memperkirakan lorong itu dengan ukuran tubuhnya dan saya berpikir ukurannya sedikit lebih besar dari badan anak saya. Dan saya yakin anak saya masih bisa lolos.

“ Lorong itu cukup besar pintunya. Pasti bisa!” kata saya memberi keyakinan. Anak saya lalu bergerak perlahan dengan hati-hati. Lorong tali temali ikut bergoyang goyang seiring dengan gerakan anak saya. Setelah menahan nafas beberapa saat, akhirnya anak saya bisa meloloskan diri dari lorong itu. Terlihat wajahnya mulai lebih lega.

Perjalanan berikutnya adalah beragam pengalaman berjalan di atas tari, bergerak dari satu pohon ke pohon yang lainnya dan anak saya kelihatannya mampu melewatinya dengan baik. Anak saya yang kecil bahkan sudah bergerak sangat maju, penuh semangat dan riang gembira tanpa khawatir satu rintanganpun. Namun makin  lama rintangan semakin sulit dan tali semakin tinggi. Pada pohon yang ke sekian, tiba tiba anak saya yang besar tergelincir dari tali. Ia berusaha bertahan  dengan memegang erat tali pengaman dengan kepala yang sekarang terbalik ada di bawah dan kaki tergantung diatas. Untunglah system keamanan peralatan itu baik dan petugas juga sangat sigap segera meolong anak saya. Tentu saja sebagai Ibu saya sangat khawatir. Saya bertanya apakah ia akan melanjutkan petualangannya atau akan menghentikannya sampai disitu. Sejenak ia terdiam dan parkir di pohon sambil  berpikir. Saya tidak ingin memaksakan untuk mendapat sebuah jawaban ya atau tidak.

Sementara ia belum mengambil keputusan, saya menyodorkan air minum dan mencoba mencari tahu apa yang ia rasakan dan pikirkan sebelum, sesaat dan sesudah kejadian itu. Ia lalu bercerita, bahwa ia sesungguhnya khawatir akan ketinggian dan tidak yakin apakah ia akan sanggup melewatinya atau tidak dan benar saja, saat ia lewat ia merasakan ketegangan itu. Tanah terlihat sangat jauh dan tiba-tiba saja kakinya tergelincir.

Kami lalu melihat pergerakan adiknya yang kecil yang  dengan sangat trengginas sudah bergerak sangat jauh dan kelihatannya tak mengalami masalah sedikitpun. Beberapa anak lain juga kelihatannya bermain dengan penuh semangat. Tiba –tiba anak saya yang besar bangkit dan bilang kepada saya akan mencobanya kembali. Giliran saya yang merasa khawatir, tapi ia meyakinkan saya bahwa ia akan bisa dan akan lebih hati-hati. “ Aku pasti bisa, ma!”. Katanya dengan kepercayaan diri yang tiba-tiba datang entah darimana..  Ia mulai bergerak lagi dan kali ini terlihat lebih lancar dan lebih berani. Saya melihatnya bergerak selangkah demi selangkah meniti tali  hingga akhirnya ia berhasil mendarat dengan baik setelah berseluncur di sebuah tambang dari ketinggian. Akhirnya saya bisa menarik nafas lega melihat senyum di wajah anak saya. Happy ending!

Wah.. sebuah petualangan yang sangat menyenangkan. Karena sudah sore saya dan anak anak segera pamit dan mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya itu. Sepanjang perjalanan pulang, anak-anak berceloteh tentang betapa hebatnya permainan tadi. Tentang betapa tingginya tambang yang harus mereka jalani. Tentang betapa mengerikannya bila harus tergelincir dari tali dan bergantung dengan kaki diatas dan kepala di bawah. Tentang betapa kuatnya system pengamanan yang bisa menahan tubuh saat jatuh, dan sebagainya. Anak- anak sangat memuji dan berkeinginan untuk datang kembali.

Saya mendengarkan  obrolan anak-anak  dan membayangkan kejadian demi kejadian yang dialami oleh anak saya yang besar di atas tambang yang membentang di antara pepohonan itu. Membayangkan keraguan yang terpancar diwajahnya sebelum jatuh dan keyakinan yang tiba-tiba terbangun hingga ia mampu menyelesaikan perjalanannya dengan baik. Ketrampilan dan pengetahuan anak-anak untuk menghadapi situasi di atas temali  memberi peluang yang besar bagi mereka untuk berhasil. Namun ketabahan hati dan keberanian untuk meniti tali temali itu memberi nilai plus terhadap keyakinan mereka untuk berhasil. Dan seterusnya keyakinan diri yang sangat baik pada anak-anak, membuat keberhasilan itu menjadi terealisasi.

Saya rasa demikian juga yang terjadi dalam kehidupan kita  sehari-hari.  Tingkat ketabahan dan keberanian seseorang dalam menghadapi suatu masalah sangat membantu meningkatkan keyakinan dan kepercayaan diri kita.  Dan kesuksesan kita dalam mencapai segala sesuatu sangat ditentukan oleh tingkat keyakinan yang telah terbentuk dalam benak kita. Jika kita yakin pasti bisa, maka kemungkinan keberhasilannya semakin tinggi. Jika kita ragu dan khawatir, dengan sendirinya akan mengurangi tingkat kemampuan kita untuk berhasil. Jadi apapun yang kita pikirkan dan yakini sangat erat kaitannya dengan hasilnya. Your mind  just  like a magnet!