Tag Archives: Kebun Sayuran

Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Standard
Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Pohon Katunya batangnya sudah nyampai ke atap. Sudah mulai mengganggu” tegur suami saya ketika kami sedang duduk-duduk di halaman belakang. Saya mendongak. Ya. Bener juga. Daun daun Katu itu tampak menyentuh langit-langit beranda. Juga menutupi tanaman Pakchoy putih dan Spearmint saya dan membuatnya terhalang sinar matahari. “Besok saya panen” janji saya. Dan begitulah…..

Hari ini saya memangkas pohon katu yang tinggi itu. Hasilnya lumayan juga setelah dipilah-pilah dan dipilih-pilih. Walaupun lebih banyak yang ketuaan atau menguning. 

Sebaiknya saya memangkas tanaman ini atau mengambil daunnya secara berkala. Misalnya sebulan sekali atau 2 bulan sekali. Nah…saya luput melakukannya. Tapi nggak apa-apalah. Lebih baik telat daripada sama sekali tidak. 

Nah..selagi memilah milah itulah tiba tiba saya sadar saya telah ikut memutus satu tangkai pohon Cincau Hijau saat memangkas batang pohon Katu. Rupanya pohon Cincau itu ada yang melilit batang pohon Katu  jadi ikut terpotong deh saat ditarik. Kasihan amat. 

Sejenak saya terdiam. Hati saya kelu. Tapi akhirnya saya pikir selagi  terpotong tanpa sengaja, biarlah saya manfaatkan saja daun-daunnya. Saya petiki daun-daunnya satu per satu. Nanti akan saya buat minuman Cincau saja.  Segar juga!. Pikir saya.

Sementara daun Katu bisa dimasak dengan berbagai cara. Direbus dicocol sambal terasi, dimasak bening, ditumis atau dibyat campuran Bubur Kalimoto. 


Dan batangnya saya potong-potong, siap untuk ditanam kembali agar kelak semakin banyak daun Katu yang bisa dipetik dari halaman. 

Sedikit untuk mengenang sejarah keberadaan tanaman ini di rumah, saya mendapatkan stek batangnya pertama kali dari papanya Wilsa. Kebetulan saat itu saya diajak mampir ke rumah papanya oleh Wilsa teman saya itu. Papanya itu penggemar tanaman. Dan memenuhi halaman depannya dengan tabaman tanaman bermanfaat. Salah satunya adalah tanaman Katu ini. Terimakasih papa Wilsa. 

Dapur Hidup: Cerita Saya Tentang Lobak Lalap.

Standard

Lobak Lalap

Tentunya semua tahu yang namanya Lobak kan? Itu lho sayuran umbi yang mirip wortel tapi warnanya putih. Masih sekeluarga sama beet. Biasanya saya lihat dijadikan campuran soto.  

Saya sendiri sebenarnya kurang menyukai rasa umbi lobak. Tapi begitu mendengar daun lobak untuk lalap, saya mendadak menjadi suka. Nah saya mau cerita tentang tanaman lobak saya. 

Benih lobak saya lupa dapat dari mana. Rasanya sih beli online. Makanya saya hanya punya beberapa biji saja. 

Biji lobak ukurannya agak besar ketimbang rata rata biji sesawi. Tumbuh cukup mudah juga, walaupun saya tidak punya banyak. Paling banter ada 8 pohon yang saya punya. Saya tanam di polybag.

Tumbuh dengan subur. Daunnya banyak dan hijau royo royo. Senang melihatnya. 

Pangkal akar Lobak sudah mulai terlihat menggembung.

Saya melihat pangkal akarnya juga mulai menggembung. Terlihat putih membenam di tanah.  Wah.. tak sabar rasanya menunggu. Pengen tahu.  

Tanaman Lobak sedang berbunga.

Saya membiarkan tanaman ini tumbuh. Tak berapa lama mulailah bunganya bermunculan. 

Bunga Lobak.

Cantik. Kecil kecil berwarna ungu. Mahkota bunganya ada 4. Mirip bunga sawi sih. Tapi kalau sawi biasanya bunganya kuning. Lobak ini bunganya ungu pucat. Saya senang sekali. Dan berniat membiarkannya hingga menjadi buah.

Buah Lobak.

Sebenarnya proses menjadi buahnya cepat. Tapi saya ingin menunggu buahnya menjadi tua dan kering. 

Nah kemarin saat hujan deras, tiba tiba saya keingetan akan tanaman lobak saya. Sayapun menengoknya. Rupanya sudah layu. Sebelum membusuk segera saya cabut tanamannya dan penasaran melihat umbinya.

Lobak

Tada!!. Beginilah umbinya. Kok kecil banget ya?  Hi hi… ternyata hasilnya jauh dari bayangan saya. Mungkin ada yang salah dari cara saya merawatnya. Atau jangan jangan jenis yang saya tanam itu memang yang jenis berumbi kecil?. Saya menghibur diri.

Tapi nggak apa apa. Saya tetap semangat. Saya petik buahnya.

Buah Lobak

Saya ingin mengambil biji bijinya untuk saya semai kembali. 

Biji Lobak

Saya akan coba tabur lagi di halaman. Siapa tahu bisa tumbuh kembali. 
Selalu semangat untuk berdapur hidup.