Tag Archives: Kehidupan

Jejak Kaki Kucing.

Standard

20150401_063735Ada jejak kucing tampak di sebuah tanah yang lembek di tepi jalan. Jejaknya tampak cukup dalam dan memikat hati saya.  Kaki-kaki kucing itu sungguh mungil dan lucu. Saya mengamatinya sepintas. Ada jejak bantalan telapak kakinya yang kelihatan agak membulat, lalu ada empat buah jari kaki di masing-masing jejak telapak kaki itu.  Saya rasa, kucing itu sedang mengembangkan cakarnya saat ia berdiri di situ, karena  jari-jari kaki itu tampak tajam dan runcing di ujung-ujungnya.

Ada empat buah. Tentunya itu kaki depan, kaki belakang yang kiri dan yang kanan. Saya mencoba mencari jejak kaki kucing yang lain. Tidak ada lagi. Hanya empat buah itu saja. Padahal tanah lembek itu cukup luas. Bagiamana ia bisa meninggalkan jejak di tengah-tengah begitu?  Aha! Saya tahu jawabannya.Tentulah ia melompat ke sana dari arah jalan yang beraspal, mendarat dan meninggalkan jejaknya sekali, lalu melompat lagi ke rerumputan. Bukan berjalan santai. Karena jika ia memang berjalan ke sana, tentu jejak kakinya ada lebih dari 4 buah. Fakta lain adalah bahwa jejak kaki kucing itu sangat dalam. Jejak sedalam itu hanya mungkin dibuat oleh kucing yang berbobot badan sangat berat, atau…ditinggalkan oleh kaki yang sedang melompat, dimana gaya tekan yang bekerja di tanah lembek itu cukup besar. Mungkin ia berlari kencang dan melompat.

Fakta lain yang menarik lagi adalah ternyata jejak kaki-kaki kucing itu berada dalam posisi tidak normal. Kedua kaki kirinya yang depan dan belakang berada pada titik yang sangat berdekatan, Sementara jarak kedua kaki kanan yang depan dan belakang lebih jauh. Saya jadi membayangkan, tentulah kucing itu berada dalam posisi badan yang melengkung saat mendarat di tanah lembek itu. Kucing berlari kencang -melompat-badannya melengkung- cakarnya keluar.   Apa yang terjadi semalam saat kucing itu meompat dan berlari di sana? Mungkin ia sangat semangat. Tentulah ia mengejar sesuatu. Tikus? Atau malah ketakutan? Jangan-jangan dikejar sesuatu? Anjing?  Saya mencoba mencari-cari jejak yang lain untuk mendukung pikiran saya. Barangkali ada jejak tikus atau anjing di sekitar itu.

20150401_063836Dan… yes! Benar saja, di belakang jejak itu tampak sebuah jejak kaki anjing. Mirip jejak kaki kucing tapi ukurannya jauh lebih besar. Tidak terlalu jelas. Hanya sebuah kaki, karena tanah lembek di tempat anjing itu berdiri hanya sedikit. Jejak 3 buah kakinya yang lain tidak terlihat. Jejak itu tampak lebih ringan dan dangkal ketimbang jejak kaki kucing tadi. Saya rasa anjing ini berada dalam posisi yang di atas angin, lebih santai. Sementara si kucing sedang berada di posisi yang terancam. Tegang dan ketakutan.

Entah kenapa saya jadi merasa bisa membayangkan apa yang terjadi semalam saat kucing itu melompat dan berlari di sana. Saya bisa merasakan ketakutan kucing itu. Naluri untuk menyelamatkan diri yang menekan kepalanya dan memerintahkan anggota tubuhnya untuk berlari sekencang dan  sejauh mungkin serta melompat agar terhindar dari anjing itu. Gambaran itu berputar di kepala saya seolah saya sedang melihat sendiri kejadian itu. Walah! Mungkin sebagian teman saya akan berpendapat bahwa saya terlalu lebay. Jejak kaki kucing aja kok dipikirin. Kurang kerjaan.  Ha ha ha.. barangkali saya terlalu banyak membaca buku Old Shatterhand atau Trio Detektif dan Lima Sekawan waktu kecil. Atau kebanyakan berpetualang mencari jejak waktu menjadi anggota Pramuka jaman dulu.

Tapi sungguh, bagi saya membaca jejak itu bisa menjadi hal yang menarik dan menyenangkan juga. Karena sebenarnya setiap mahluk itu memiliki dan meninggalkan jejak dalam hidupnya. Jejak yang ia tinggalkan untuk setiap hal yang ia lakukan dalam hidupnya. Jejak yang mendalam maupun jejak yang samar. Jejak yang baik ataupun jejak yang buruk. Jejak yang hanya bisa terbaca dalam jangka waktu pendek maupun jejak yang akan tetap abadi dan tetap terbaca bahkan ketika ia telah meninggalkan dunia ini dan kembali kepadaNYA.

Tentunya kita semua ingin meninggalkan jejak yang baik dalam hidup kita.

Advertisements

Silakan Masuk Duluan!

Standard

???????????????????????????????Saya baru saja meninggalkan pintu pesawat Malaysia Airlines di bandara di Kuala Lumpur. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari lokasi tandas alias toilet terdekat. Begitu ketemu, saya lega. Walaupun ada yang mengantri, tapi antriannya tidak begitu panjang. Sambil menunggu, saya melihat ke cermin di dinding. Wajah dan mata saya kelihatan lelah dan agak kucel. Maklum sudah terlalu malam. Dan saya belum sempat istirahat sejak tadi pagi. Saking asyiknya berkaca, tanpa terasa antrian sudah menipis. Hanya tinggal satu orang wanita kulit putih saja di depan saya.

Suara pintu terbuka dari salah satu bilik itu.  Seorang  ibu keluar, lalu membasuh tangannya sambil berkaca. Saya memperhatikan caranya membasuh tangan. Tiba-tiba wanita kulit putih yang tadi di depan saya mempersilakan saya masuk duluan sambil tersenyum ramah.  “Aiiih.. kok bule ini ramah banget ya?” Pikir saya dalam hati. Sepengetahuan saya, tidak biasanya ada bule mempersilakan orang yang ngantri belakangan untuk masuk duluan. Biasanya mereka lebih disiplin soal antri mengantri. Tidak mau menyerobot dan juga tidak mau diserobot. Tapi bule satu ini kok beda ya.

Karena dipersilakan, sayapun masuk duluan. Tentu setelah membalas senyumnya dan mengucapkan terimakasih. Begitu masuk, … neng nong!. Ooo….pantesan! Seketika saya mengerti, mengapa bule itu mempersilakan saya masuk duluan. Rupanya bilik yang ini menggunakan Closet Jongkok!. Ia sendiri kembali menunggu antrian di bilik sebelah yang menggunakan Closet duduk.   Closet duduk, membuatnya tidak terbiasa lagi dengan closet jongkok.

Perubahan pembangunan dan teknologi membawa perubahan besar terhadap peradaban manusia. Demikian juga terhadap kebiasaan dan kemampuan manusia. Closet duduk membuat nyaman, rileks dan santai,  karena tidak lagi harus berjongkok. Padahal menurut saya, berjongkok setiap hari membantu kita melatih otot-otot di betis dan paha juga lutut agar lebih kuat melakukan fungsinya. Dengan tidak berjongkok, kita jadi mengurangi latihan alami pada otot gastrocnemius di betis. Juga tidak ada lagi latihan alami terhadap otot biceps femoris di paha belakang.  Akibatnya, otot-otot di betis dan paha bagian belakang menjadi cepat letih saat kita memaksanya bekerja di luar kebiasaan. Ototpun mudah cramp.

Kalkulator membuat kita tidak terbiasa lagi berhitung dengan otak ataupun dengan bantuan jari tangan. Ketika kecil, proses penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pangkat, dan kwadrat berlangsung dengan cepat di kepala kita. Dalam hitungan menit atau terkadang bahkan detik, kita sanggup mengangkat tangan ketika Bapak Ibu Guru menanyakan sebuah pertanyaan matematika. Tapi sekarang? Ketika kita tumbuh, seiring dengan semakin sulitnya pelajaran matematika, (mulai ada Sinus, Cozinus, Tangen dsb), Bapak dan Ibu guru mengijinkan kita menggunakan kakulator sebagai alat bantu. Eh..lama-lama untuk membagi, mengali, menambah dan mengurangi pun kita juga memanfaatkan kalkulator. Semakin lama, otak kita semakin tidak terlatih untuk berhitung. Otak lebih sering istirahat. Rest. Rest. Rest.  Sehingga ketika kalkulator tidak ada, kita tak sanggup lagi berhitung dengan cepat. Lambat dan terkadang bahkan buntu.  Berapakah  364 x 756?. Hayooo!

Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu memberi manfaat setara bagi semua aspek kehidupan manusia. Air Conditioner membuat kita tidak terbiasa lagi dengan kipas angin baling-baling. Juga membuat kita tidak tahan lagi dan rentan terhadap panasnya udara alami di luar ruangan. Kita menjadi cepat lelah, letih dan lesu jika harus berada di ruang tanpa Ac. Rice Cooker membuat kita tidak terbiasa lagi memasak nasi dengan dandang dan kukusan. Kendaraan membuat kita tidak terbiasa lagi menempuh jarak dengan berjalan kaki. Sekali berjalan..aduuuh..capeknya. Dan sebagainya.

Tentu saja saya bukan orang yang anti terhadap kemajuan teknologi. Saya hanya berpikir, ketika kita terbiasa dengan cara hidup tertentu yang kita anggap lebih maju dan lebih memudahkan, terkadang kita melupakan cara-cara lama yang menurut kita sudah kuno dan tak layak pakai lagi. Lalu akibatnya apa? Ketika benda-benda itu tidak ada, mendadak kita akan merasa panik, kehilangan  dan bahkan langsung bodoh dan lumpuh karenanya.

Bukan hanya itu, sejarah evolusi menunjukkan bahwa setiap bagian tubuh mahluk hidup yang tidak digunakan, tentu akan semakin mengecil dan menyusut alias mengalami rudimenter. Dan setelah beberapa periode waktu tentu akan hilang. Seperti halnya tulang ekor dan usus buntu yang sudah tidak kita gunakan lagi. Atau kaki pada ular.

Saya membayangkan, apakah yang terjadi pada kita ketika benda-benda peradaban baru itu lenyap dari depan kita? Bagaimana jika tiba tiba jaringan internet tidak ada?  Atau listrik pembangkit listrik mati dan tak bisa dibetulkan dalam waktu yang cukup lama? Waduuuh..kok rasanya ngeri membayangkannya ya.  Saya mungkin tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya dengan baik lagi. Saya juga tidak bisa ngeblog lagi. Itu dampak kecilnya saja. Dampak besarnya, tentu jauh lebih mengerikan dari itu. Ketika manusia memasuki dunia maya dan mendedikasikan seluruh hidupnya di dunia itu, maka kehidupan manusia di dunia nyata barangkali pada suatu saat akan mengalami rudimenter dan tidak akan exist lagi. Saya berusaha membuang jauh pikiran buruk saya.

Sangat jelas, teknologi sangat membantu dan membawa kebaikan pada peradaban manusia. Namun di sisi lain, kita juga perlu menyadari dampak negative-nya terhadap keberadaan kita sebagai manusia.  Lalu apa yang harus kita lakukan?

Terpikir di kepala saya, setidaknya untuk saat ini, bahwa yang terbaik adalah tetap membalance-kan hidup kita. Gunakan kalkulator, namun sesekali perlu juga memanfaatkan otak kita untuk berhitung. Baca e-book, tetapi sesekali baca juga buku cetakan. Gunakan kendaraan, tapi sesekali cobalah berjalan kaki . Gunakan rice cooker atau microwave tapi sesekali gunakanlah dandang atau kukusan. Berada di gedung-gedung pencakar langit di kota yang penuh polusi, sesekali berjalankah keluar. Hirup udara segar, nikmati kehijauan dedaunan, langit yang biru, sungai yang gemericik, air terjun yang gemuruh. Dan sebagainya…

Gunakan Closet duduk, tapi sesekali gunakan jugalah closet jongkok. Atau setidaknya sesekali berjongkoklah untuk melatih kekuatan betis dan paha kita. Sehingga kaki kita tidakmudah cramp dan ketika harus masuk ke bilik dengan closet jongkok seperti ini,  kita masih mampu bertahan…

Malam semakin larut. Saya bergegas keluar karena harus segera mengambil bagasi saya dan meninggalkan airport secepatnya.

 

 

Apa Yang Kau Cari ???

Standard
Lihatlah tanaman ini. Jika kita meletakkan fokus pada bunganya,  maka bunga itu akan terlihat jelas, terang dan detail, sedangkan element lain di sekitarnya tampak blur, buram dan tidak jelas.

Lihatlah tanaman ini. Jika kita meletakkan fokus pada bunganya, maka bunga itu akan terlihat jelas, terang dan detail, sedangkan element lain di sekitarnya tampak blur, buram dan tidak jelas.

Sebelumnya saya bercerita tentang Bunga Merah Kacang Ucu Liar yang saya ambil fotonya di pinggir jalan di Pariaman, Sumatera Barat. Ketika teman saya melihat hasil jepretan saya, ia ikut kagum akan kecantikan bunga itu.  Dan bertanya dengan heran, bagaimana saya bisa menemukan bunga indah itu hanya dengan memandang dari jendela kendaraan yang sedang melaju. Sementara ia sendiri yang sejak lahir sudah berada di Sumatera Barat dan berkali-kali melewati jalur itu tak pernah tahu akan keberadaan bunga itu di sana. “Kok bisa ya?” tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya.

Itulah salah satu bukti  atas berlakunya hukum semesta. Bahwa apa yang kita dapatkan, sesungguhnya adalah apa yang kita cari dengan konstan “ kata saya  tersenyum sambil menepuk bahunya. Jika kita mencari bunga liar dengan konstan, maka beraneka bunga liar akan muncul di depan mata kita. Jika kita mencari ilmu dengan konstan, maka kita akan menemukan pelajaran di dalam setiap hal yang kita alami. Ha ha! Teman saya tertawa nyengir mendengar theori yang saya katakan itu.

Malam sebelumnya, ketika kami makan malam, saya sempat mengedepankan theori ini  kepada teman saya itu, ketika saya menceritakan kegemaran saya bermain di alam bebas dan selalu berusaha mengambil intisari pelajarannya untuk membantu saya menjalani kehidupan. Saya belajar banyak dari sungai yang mengalir di belakang rumah, dari pohon-pohon yang daunnya berdesau di tiup angin, dari burung-burung yang berkicau menyambut pagi, dari bunga-bunga yang bermekaran menebarkan wangi ke udara, dari danau, dari laut, dari gunung, dari kabut dan sebagainya. Juga dari orang-orang di sekeliling saya, dari atasan, dari teman sejawat, dari bawahan, dari office boy, dari supir, dari tukang ojek, dari tukang parkir, tukang bubur dan sebagainya.  Saya selalu memetik makna dan instisari kehidupan yang disodorkan oleh alam kepada indera saya.

Teman saya setuju dengan pendapat saya. Bahwa alam dan sekitar kita adalah guru yang terbaik. Bukankah jika pelajaran itu bisa dipetik oleh seseorang, maka sebenarnya orang lainpun bisa memetiknya? Tentu saja bisa, asalkan ia mau melakukannya. Bagaimana bisa burung-burung, bunga-bunga, pohon-pohon , sungai atau bahkan gunung yang bisu itu bisa memberi pelajaran kepada seseorang?   Teman saya bertanya, bagaimana saya bisa menemukan guru-guru itu di alam? Saya selalu menemukan guru di alam, karena dengan konstan saya memang mencari guru untuk jiwa saya.

Kita akan menemukan hal yang kita cari dalam hidup, jika kita sangat  konstan mencarinya. Mengapa? Karena jika kita konstan mencari sesuatu, maka kita akan menjadi sangat fokus terhadapnya. Ibaratnya lensa kamera, fokus artinya membuat element yang kita tuju menjadi lebih jelas,lebih terang dan lebih detail, sedangkan element lain di sekitarnya akan menjadi blur, buram dan kurang terlihat. Jika kita dengan konstan mencari intisari pelajaran dari setiap hal yang kita temui, maka kita akan menjadi sangat fokus terhadapnya.Dan oleh karenanya kita akan sangat mudah menemukannya, karena intisaripelajaran itu kini menjadi terlihat sangat jelas, besar dan terang di depan mata kita. Sementara hal-hal yang tidak kita cari akan menjadi blur dan buram sebagai latar belakangnya.

Teman saya tampak terdiam dan merenung. Saya lalu bertanya, apa kendaraan yang ia gunakan saat ini? Ia menjawab “Xenia!” sambil tampak bingung kemana arah pembicaraan saya.  Lalu saya menyuruh ia mengingat-ingat jumlah kendaraan Xenia yang ia lihat di jalan, saat sebelum ia memutuskan untuk membeli Xenia dibandingkan dengan saat ia mulai tertarik dan memutuskan akan membeli Xenia. “Iya. Tiba-tiba saya melihat lebih banyak jumlah Xenia berlalu lalang di jalan raya saat saya berpikir akan membeli Xenia” katanya dengan wajah berseri.  Benar! Itu karena pikiran kita terfokus pada merek kendaraan itu. Oleh karenanya,kita berusaha mencari dan memperhatikan setiap kali ada Xenia yang lewat atau parkir disekitar kita.

Demikian juga jika kita memutuskan untuk membeli VW Kodok, Mitsubishi Pajero, Toyota Altis, Honda Accord, BMW dan sebagainya. Tiba-tiba merek kendaraan yang menarik hati kita itu terlihat lebih jelas muncul di depan mata kita. Teman saya yang lain membenarkan dan menceritakan pengalaman pribadinya ketika berpikir  untuk membeli sebuah kendaraan tertentu. Ia selalu memperhatikan jenis kendaraan itu  yang melintas di hadapannya dan seketika ia melihat jumlahnya jauh lebih banyak dibanding saat sebelum ia berniat untuk membeli kendaraan itu.

Sekarang ia mulai memahami apa yang saya maksudkan. Itu hanya sebuah analogi dalam keinginan untuk membeli kendaraan.  Demikian juga yang terjadi pada hal-hal lain.

Kita akan menemukan apa yang kita cari secara konstan di dalam hidup kita.  Kita akan lebih mudah menemukan guru jika secara konstan kita mencari guru. Kita akan lebih mudah menemukan sahabat jika secara konstan kita mencari sahabat. Kita akan lebih mudah menemukan uang jika kita secara konstan mencari uang. Kita akan lebih mudah menemukan karir jika kita secara konstan mencari karir. Demikian seterusnya. Tergantung pada apa yang kita cari di dalam hidup ini.

Mendayung Melawan Arus

Standard

BerperahuMelihat orang bermain perahu di tengah danau sungguh mengasyikkan.  Anak saya yang kecil  ingin ikut mencoba berperahu. Mendayung sendiri. Saya mengiyakan dan segera mencari informasi mengenai biaya naik perahu. “Tujuh ribu rupiah per orang” kata tukang perahu. Nanti tukang perahu akan membantu mendayungkan.  Saya setuju.

Anak saya ingin mendayung sendiri.  Iapun segera berlari masuk ke perahu dan mengambil dayung.  Saya ikut masuk ke dalam perahu dan mengambil dayung lain yang tersedia di sana.

Memngambil posisi di sebelah kanan dan mulai menggerakkan dayung dari  rah depan ke belakang. Anak saya duduk di sebelah kiri dan mengikuti gerakan saya dengan  menggerakkan dayungnya dari depan ke belakang.

Row  row  row your boat, gently down the stream….. merrely merrely merrely merrely , life is but a dream!”.

Huuuuahhh alangkah indahnya hari!. Pagi hari yang menyenangkan. Sinar matahari yang hangat memantul di atas permukaan air danau. Perahu bergerak ke depan dengan mudah. Saya menggerakkan dayung dengan lebih semangat lagi, anak saya mengikut. Tujuan kami adalah berperahu mengelilingi danau yang luasnya kurang lebih 11 hektar itu. Pertama kami mengarah ke ujung danau di seberang, di mana terdapat pintu air yang mirip jembatan.  Mendayung terasa sangat mudah. Perahu bergerak cepat.  Anak saya sangat senang.  Saya melihat kegembiraan yang meluap di wajahnya.

Tak lama kemudian kami  berada di ujung danau di dekat pintu air itu, lalu membelokkan arah perahu sedikit untuk menyusuri tepi danau ke arah yang menjauh dari pintu air itu. Saya berharap agar bisa menemukan burung air liar di sekitar tempat itu, Sayang  tak seekorpun tampak. Sempat terdengar suara Burung Raja Udang, namun binatangnya entah di mana.

Ada sebah benda mengambang di permukaan danau tak jauh dari posisi perahu kami.”Apa itu?“tanya anak saya. Saya melihat. Agak silau. Ooh rupanya sekumpulan daun-daun teratai yang berwarna hijau kecoklatan sedikit ungu.  Menurut tukang perahu, itu adalah teratai gunung yang banyak diburu orang untuk diambil sebagai bahan obat.  Dulunya banyak tumbuh di sekitar situ. Tapi sekarang sudah nyaris hilang. Ooh.. saya manggut-manggut mendengar cerita itu.    Sayang juga kalau sampai punah. Penasaran pengen melihat bunganya. Sayang jaraknya agak jauh, saya tidak bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dan memang sedang tidak ada bunganya.

Kami mendayung lagi  dan mendayung lagi. Perahu membelok menuju ke tempat pemberangkatan kami tadi.  Bergerak melambat. Dayung terasa sedikit lebih berat. Anak saya rupanya menyadari itu,lalu bertanya. ” Lho?! Kok perahunya tambah lambat?” tanyanya terheran-heran. Mungkin ia merasakan dayungnya tambah berat,sementara perahu melaju tidak secepat sebelumnya. Itu karena kita mendayung melawan arus air danau” kata saya.  Wajahnya kelihatan menunggu penjelasan lebih jauh. Sambil terus mendayung, dengan senang hati, sayapun mulai mendongeng kepada anak saya.

Ketika air mengalir menuju suatu tempat lain  yang umumnya berada di tempat yang lebih rendah, maka akan terjadi pergerakan. “Gerakan-gerakan itu disebut dengan Arus. Arus air! ” kata saya. Jika airnya banyak, maka gerakannya pun semakin kencang dan disebut bahwa ” arusnya  semakin kencang”. Jika air yang mengalir sedikit, maka arusnya pun mengecil. Selain itu, arus air juga ditentukan oleh permukaan tempat ia mengalir. Semakin miring, semakin mudah ia meluncur. Maka arusnyapun semakin kencang. ” Seperti yang terjadi di danau ini. Air bergerak dari tempat kita tadi naik perahu menuju ke pintu air di sana. Jadi arusnya mengarah ke sana.” kata saya menunjuk pintu air.

Saya lalu menjelaskan, bahwa arus ini memiliki tenaga dorong yang besar menuju tempat ia mengalir. Jika ada benda-benda yang berada di air, maka dengan sendirinya benda itu  akan  ikut terdorong oleh tenaga air itu ke arah yang sama. “Demikian juga perahu ini. Sebenarnya sejak tadi ia didorong oleh arus air. Itulah sebabnya ketika kita mendayung ke arah pintu air, kita merasa dayungnya sangat ringan.Sedikit saja kita mendayung, maka perahu akan bergerak dengan cepat. karena bantuan dorongan air”. Anak saya manggut-manggut. Setuju dengan apa yang saya ceritakan.  Perahu yang bergerak seiring dengan arus, akan bergerak dengan sangat mudah dan cepat.

Sebaliknya perahu yang bergerak melawan arus akan bergerak lambat dan lebih susah. Membutuhkan energy untuk bisa melawan arus. Semakin besar  arus yang harus kita lawan, maka semakin besar pula energy yang kita butuhkan untuk mendayung. Jika energy kita lebih lemah dari arus, maka perahu akan bergerak lambat atau tidak bergerak sama sekali. Bahkan jika kita sangat lemah sekali, bisa-bisa  kita akan terseret dibawa arus. “Jadi kita harus mendayung dengan lebih kuat lagi” ajak saya kepada anak saya.

Sambil berkata demikian kepada anak saya, sayapun  berpikir-pikir . Bukankah dalam kehidupan sehari- hari juga begitu? Tak ada yang salah atau benar soal arus. Memilih menjalankan kehidupan  seiring dengan  arus  ataupun sebaliknya melawan arus, adalah hak kita. Namun yang jelas, kita perlu menyadari dan waspada. Bahwa berjalan melawan arus,  membutuhkan energy yang lebih banyak ketimbang dengan jika kita memilih berjalan seiring dengan arus.

Selamat mendayung biduk kehidupan!

 

 

 

Kisah Sebatang Pohon Kersen.

Standard

pohon kersenDi halaman depan sebuah toko bahan bangunan  hiduplah sebatang pohon kersen (Muntingia calabura) yang rindang. Toko bahan bangunan itu berada di jalan kecil yang sering saya lewati jika saya memotong jalan dari Sektor IX  ke arah Graha Bintaro. Pohon yang juga sering disebut dengan pohon cherry itu *padahal bukan pohon cherry* terlihat  jelas dari jalan raya.  Dan memang sangat menarik.

Batangnya cukup besar, dahannya juga rindang dan daunnya banyak. Demikian juga bunganya yang putih kecil-kecil sangat banyak menyembul dari dedaunan yang hijau.  Itulah sebabnya banyak kupu-kupu, kumbang  dan burung madu datang ke sana untuk menghisap nektar.  Dan yang lebih menarik lagi adalah buahnya yang kecil-kecil dan  banyak sekali. Mulai dari yang berwarna hijau, kuning, jingga hingga merah dan maroon.  Mengundang burung-burung pemakan buah berdatangan.

Karena berkali-kali lewat, maka sayapun jadi memperhatikan ketika selembar daun benalu pada suatu hari menyembul diantara kerimbunan dedaunannya. Walaupun tak mudah terlihat,  namun bagi saya yang sering memperhatikan pohon itu – tetap saja terlihat. Karena daun benalu lebih lebar dan lebih halus permukaannya dibandingkan daun kersen. Bentuknya pun lebih membulat.

Rupanya ada sebatang pohon benalu yang mulai numpang hidup di sana. Barangkali tumbuh dari biji benalu yang terbawa tanpa sengaja oleh burung ke sana. Biji benalu memang agak lengket. Jika misalnya tanpa sengaja tersentuh  oleh burung yang bertengger, maka iapun akan menempel pada burung dan  terbawa ke pohon berikutnya. Pohon benalu itu tumbuh dengan subur. Tentu saja ia menancapkan akar-akarnya ke batang pohon kersen itu dan mengisap sari-sari makanannya untuk pertumbuhannya sendiri.  Makin lama iapun semakin besar.

Kali berikutnya lewat di sana, saya melihat lagi sebuah pohon benalu lain muncul di dahan yang lain dari pohon kersen itu.  Jadi sekarang ia punya dua buah pohon benalu di tubuhnya yang mengisap sari-sari makanan yang dikumpulkannya. Kedua benalu itu makin lama makin besar dan bahkan mulai bercabang-cabang serta berbunga. Namun pohon kersen itu tampak sehat-sehat saja. Daunnya tetap masih banyak dan dahannya rindang. Semakin banyak lagi kupu-kupu dan berbagai burung mampir ke sana.  Tak terlihat jika ia terganggu oleh kehadiran benalu itu. Ia seolah tak berkeberatan dan tetap memberinya makan tanpa mengeluh.

Lalu berikutnya sayapun melihat benalu yang ke tiga,ke empat dan seterusnya bermunculan di  dahan-dahan pohon kersen itu. Makin lama makin banyak. Dan makin lama makin besar. Lalu saya melihat pohon kersen itu mulai agak mengurus.  daun-daunnya mulai lebih jarang. .  Sehingga pohon benalu dengan bonggol-bonggolnya yang gendut itu malah lebih terlihat jelas. Daun-daun benalu tampak mengkilap, sehat, gendut membulat dan hijau segar. Sementara daun kersen di sekitarnya  tampak kusam, kurus lancip  dan menguning. Satu per satu daunnya gugur.

Makin lama pohon kersen itu makin kurus, dan dahan serta rantingnya yang banyak dan kering itupun jadi tembus pandang, karena tidak ada banyak daun lagi yang menutupi. Hanya satu dua. Itupun mulai kuning pula.  Benar-benar mengenaskan.  Sebatang pohon kersen yang nyaris mati. Yang dominan hanya beberapa bonggol benalu dengan daunnya yang subur, hijau segar dan sehat.  Saya merasa sangat kasihan pada pohon kersen itu.

Hari Sabtu kemarin, saya lewat kembali di jalan itu setelah cukup lama tidak lewat. Pohon kersen itu saya lihat sudah mati. Batangnya terlihat menghitam dan agak gosong terpanggang matahari. Pohon-pohon benalu yang numpang hidup di dahannya pun sekarang mengecil dan kurus. Ikut menderita  dan menjadi tidak sehat karena pohon semangnya sudah mati dan tak mampu lagi mensuplay-nya dengan nutrisi yang baik.  Saya seperti melihat sebuah drama kehidupan yang berakhir menyedihkan.

Pohon itu telah memberi dengan semaksimal mungkin. Sedemikian banyaknya mahluk yang datang kepadanya dan hanya mengambil darinya. Tanpa sedikitpun mengembalikan.  Pohon itu hanya memberi dan memberi. Tak seorangpun yang peduli ketika ia juga kekurangan nutrisi untuk dirinya sendiri karena habis dibagikan kepada orang lain.  Tak seorangpun yang peduli ketika akhirnya ia sakit. Dan mati. Tidak benalu itu.  Tidak juga kupu-kupu ataupun burung-burung yang biasanya singgah ke sana. Tak ada seekorpun yang mampir lagi. Bahkan orang-orang yang berlalu lalang  tak ada yang tampak peduli. Ia mati dalam kesendiriannya. Walaupun pada akhirnya benalu itupun akan ikut mati juga karena tak ada yang memasokya dengan makanan lagi.

Saya menarik nafas saya dengan penuh kesedihan. Memikirkan nasib pohon itu.

Namun barangkali juga, sebenarnya saya sedang diberi kesempatan yang baik untuk menyaksikan secara langsung, sebuah demonstrasi  keikhlasan dalam menjalani hidup yang sebaiknya dilakukan.

Pohon kersen itu, sepanjang hayatnya telah memberikan kehidupan, bukan saja kepada dirinya sendiri, namun juga kepada banyak mahluk lain seperti kupu-kupu, kumbang, lebah, tawon, semut, burung-burung dan tentunya pohon benalu.  Atau bahkan manusia yang ikut memakan buahnya yang manis itu. Memberi hingga mati – seolah menjadi swadharma dalam hidupnya. Barangkali demikianlah semesta telah memberinya tugas dan fungsi dalam menyokong kehidupan lain di bumi ini. Mengambil nutrisi  dari tanah, sang ibu pertiwi dengan akar-akarnya. Lalu membantu mengolah zat hidup itu agar bisa dimanfaatkan oleh mahluk hidup lain yang tak mampu mengambil dan mengolahnya sendiri dari dalam tanah.  Barangkali pohon itu justru sekarang sedang berbahagia. Karena ia telah menjalankan tugasnya di dunia dengan baik. Dengan penuh keikhlasan hati tanpa pamrih.  Barangkali rohnya telah kembali ke sorga dan menyatu denganNYA. Pohon itu telah berbahagia.

Sambil melintas di depannya, maka sayapun memberikan penghormatan saya kepada  pohon kersen yang telah memberi  saya pelajaran berharga tentang arti sebuah keikhlasan pagi itu. Saya melirik ke bawah batang pohon itu . Barangkali biji-biji buah kersen akan segera keluar dari dalam tanah dibantu hujan, dan muncul sebagai anak-anak pohon kersen yang sehat di halaman toko bangunan itu

Menghilangkan Rasa Cemburu.

Standard

Tulisan ini masih dalam rangka memberi jawaban dan pendapat atas pertanyaan seorang keponakan tentang bagaimana caranya menghilangkan rasa cemburu.

Andani- Dahlia Merah Padam2Cinta dan cemburu sangat umum dianggap sebagai dua hal yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Dimana ada cinta, di sana cemburu datang menemani. Jika kita jatuh cinta pada seseorang, kemungkinan besar kita akan cemburu kepada orang lain yang juga pernah, sedang atau berpotensi jatuh cinta pada orang yang kita cintai itu.

Namun jika kita perhatikan dengan lebih cermat, cinta dan cemburu itu adalah dua hal yang sebenarnya sangat berbeda. Dan bahkan pada suatu titik bisa saling bertentangan satu sama lain. Contohnya:

–  Bagaimana rasanya jika kita mencintai ? Hati rasanya senang, bahagia, bawaannya riang, penuh tawa dan senyuman, semua beban terasa ringan, masa depan seolah terbuka lebar, langit terasa cerah dan sebagainya.

– Namun bagaimana rasanya cemburu? Sedih, sakit, marah, benci, iri, kesel, manyun, kemrungsung, mendung kelabu, dunia terasa sesak dan sempit dan sebagainya.

Nah lho?! Beda dan terbalik 180°.  Ya.. jelaslah bahwa cinta itu tidak sama dengan cemburu. Ia hanya menempel saja di situ. Ini adalah kesadaran pertama yang harus kita ingat baik-baik. Bahwa cinta dan cemburu itu adalah tidak sama!. Lalu mengapa mereka selalu bersama-sama? Dan darimana datangnya si cemburu itu?

Menurut pendapat saya,cemburu itu datangnya dari rasa ke”aku”an alias ego yang ada di dalam diri kita dan berkembang mengikuti perasaan cinta yang  ada di dalam hati kita. Ego yang tinggi mengakibatkan kita ingin memiliki dan menguasai hal-hal yang kita sukai. Termasuk orang yang kita cintai. Untuk memahaminya lebih lanjut, kita juga perlu mengingat-ingat kembali dan berusaha memahami mengapa kita jatuh cinta dan merasa terikat kepada seseorang? Mungkin karena salah satu atau gabungan dari beberapa hal yang ada di bawah ini?

– Fisik & Sexual? – misalnya kita menyukai wajahnya yang rupawan, bodynya yang sexy, kulitnya yang  exotis, dsb.

– Materi? – misalnya kita menyukainya karena ia anak orang kaya, duitnya banyak, pakaiannya keren, papanya jendral, ke kampus bawa mobil trend yang terkini?

– Emotional? -kita merasa ia sangat memahami perasaan kita,memberikan perhatian saat kita kesedihan, memberikan bantuan saat kita kesulitan, membuat kita tertawa, memuja kita dan membuat kita merasa tersanjung dsb.

-Skill & Intellegencia? -kita memujanya karena ia pintar, ia berbakat dan berprestasi. Kita menyukai gagasan-gagasannya, cara berpikirnya yang menurut kita yahud banget, pemikiran-pemikirannya yang brilliant, atau karya-karya seninya, dsb.

-Atau karena ikatan Spiritual? ia memberikan pencerahan, motivasi dan inspirasi bagi hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut Ketuhanan, ibadah, agama dan kasih sayang serta pelayanan terhadap sesama mahluk.

Mengapa kita perlu memahami ini? Karena akar cinta ini sangat erat kaitannya dengan keinginan  dan ego kita untuk menguasai si dia. Ketertarikan pada seseorang karena faktor fisik, materi dan emotional memicu rasa ego yang sangat jauh lebih tinggi dibandingkan  dengan jika kita jatuh cinta karena faktor skill & intelegencia ataupun karena faktor spiritual. Mengapa? Karena fisik, materi dan emotional  adalah tiga hal yang mungkin akan di’share’ oleh seseorang kepada orang lain. Memungkinkan si pencinta untuk berharap akan mendapatkan sebagian (atau banyak?) hal fisik, materi, perhatian yang dimiliki oleh orang yang dicintainya untuk bisa ia nikmati juga atau menjadi miliknya juga. Rasa ingin memiliki yang akhirnya berkembang serakah menjadi rasa “ingin memiliki sendiri”. Exclusively. Nggak mau orang lain ikut berbagi.Kita takut body sexynya dikuasai orang lain. Kita takut hartanya diberikan kepada orang lain. Kita takut perhatiannya diberikan kepada orang lain. Kita nggak mau orang lain juga diperhatikan. Kita  mau yang diperhatikan hanya diri kita  sendiri saja. Itulah ego. Ego yang memicu rasa cemburu.

Sedangkan dua hal yang belakangan – ketertarikan karena faktor Skill & Intellegencia dan faktor Spiritual, umumnya tidak terlalu banyak memancing ego untuk menguasai. Karena dua faktor itu jika memang benar kwalitasnya baik, akan tetap ada di situ dan tidak akan pernah berkurang, sekalipun dishare juga kepada orang lain. Jadi si pencinta tidak akan pernah merasakan cemburu sehebat apa yang dirasakan oleh orang yang mencinta karena 3 faktor yang sebelumnya (fisik, materi dan emotional).

Pada kenyataannya kita mungkin jatuh cinta pada seseorang karena gabungan dari beberapa faktor di atas. Misalnya,  ia bukan saja ganteng dan sexy, namun juga  seorang ketua senat yang sangat kharismatik dan romantis. Leadershipskill-nyatak perlu dipertanyakan lagi. Atau ia bukan saja cantik dan penuh perhatian serta keibuan, namun juga seorang yang sangat cerdas dan berprestasi. Gila! IP-nya empat!. Nah akhirnya sulit bagi kita untuk menggali darimana rasa cemburu itu datang. Namun kita tetap bisa menganalisanya dengan cukup baik, jika kita mau.

Lalu langkah apa yang harus kita lakukan, setelah kita tahu bagaimana asal muasal rasa cemburu, ego dan ingin menguasai itu datang?

1/. Berhenti menganggap bahwa orang yang kita cintai adalah milik kita. Dan mulai berpikir bahwa setiap orang adalah milik dirinya sendiri. Dan tak seorangpun berhak menguasai orang lain kecuali Sang Pencipta. Tidak kita. Tidak juga orang yang kita cemburui itu.

2/. Menyadari bahwa tidak ada yang perlu dipaksa dalam cinta. Biarkan saja seperti apa adanya. Kenapa? Karena jika memang cinta itu ada, maka ia tetap akan ada di situ. Seberapa jauhpun ia melangkah keliling dunia, cinta untuk kita akan tetap ada di hatinya. Atau seberapa lamapun waktu telah dilewatinya, cinta untuk kita juga akan tetap di situ. Dan selalu akan ada di situ hingga akhir jaman. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mau ia katakan atau tidak, mau diakui atau tidak, ya tetap ada di situ.  Jadi tidak perlu mencemburui orang lain. Karena cintanya untuk kita tidak akan pernah berubah. Kalaupun ia share sedikit kepada orang lain dalam bentuk pertemanan, perhatian kecil dan sebagainya  – itu tidak akan menghilangkan rasa cintanya kepada kita juga. Jadi jangan dipikirkan.

Sebalikya jika cinta itu telah hilang, telah lewat atau tidak ada sama sekali, maka tak ada orang yang bisa memaksanya datang. Jika orang yang kita cintai ternyata  memilih orang lain dan bukan diri kita, ya  memang sudah jodohnya begitu. Memang ia berhak dicintai. Mengapa? Karena ia memberikan senyum, kebahagiaan, rasa senang, kata-kata yang sopan, memotivasi dan menyenangkan, dunia yang cerah dan sebagainya?

Sedangkan kita si pencemburu, apa yang kita berikan padanya? Kekesalan hati, wajah yang manyun, tidak bersahabat, kata-kata yang tidak menyenangkan dan atau mungkin menyakitkan ? Sangat wajar jika ia memilih orang lain yang memberikan hal yang lebih baik.  Jadi  segera bebaskanlah diri kita dari wajah yang manyun, senyum yang asam dan kata-kata buruk yang tidak menyenangkan itu.

Tak ada gunanya berkeras kepala memaksa orang untuk mencintai kita. Karena jikapun ia mau, maka ia hanya akan melakukannya karena merasa nggak enak hati, takut dibilang tidak bertanggung jawab, khawatir dibilang tidak setia,atau karena kasihan kepada kita. Namun sebenarnya ia memang tidak mencintai kita? Lalu apakah kita lebih menyukai cinta yang pura-pura? Cinta yang dipaksakan ada padahal sebenarnya tidak ada? Tentu kita tidak mau bukan?

Jadi sudahlah! Tidak usah marah-marah atau memaksa lagi. Terima kenyataan.Tidak perlu pula memaki atau melontarkan kegalauan hati kepadanya.Karena sesungguhnya iapun tidak mau berada di situasi itu.  Walaupun ia ingin mencintai, tapi ia memang tidak memiliki cinta untuk kita. Mau diapakan? Mau disuruh jungkir balikpun memang ia tidak punya cinta.  Ia tentu tidak bisa memaksa dirinya juga bukan?  Jadi kasihanilah dia. Bebaskan dia dari perasaan yang tidak nyaman terhadap kita. Biarkan ia bahagia dengan apa adanya.  Lalu bagaimana dengan kita?

Alihkan perhatian kepada hal-hal lain yang menyenangkan dan membuat kita tertawa bahagia.  Santai saja. Lanjutkan hidup kita dan temukan orang yang memang benar-benar mencintai kita.

Cintai seseorang dengan seluruh ketulusan hati dan jiwamu dan biarkan ia melakukan hal yang sama untukmu – jika ada.  Jika tidak ada? Menjomblo juga bukan pilihan buruk. Kadang-kadang juga malah lebih menyenangkan.  Dunia belum kiamat, bukan?.

Nikmati hidup yang ringan dan bahagia  tanpa dibebani rasa cemburu.

Itu pendapat saya. Ada yang ingin memberika tambahan ide?

Terang Di Dalam Kegelapan.

Standard

Seorang  teman mengisahkan kesulitan hidup yang dideritanya belakangan ini. Suaminya mengalami gangguan jantung yang ???????????????????????????????menyebabkannya harus menjalani operasi dan perawatan rumah sakit yang cukup lama. Ia menemani suaminya di Rumah sakit, sementara pekerjaan di kantor juga menumpuk. Walhasil, ia ikut jatuh sakit dan terpaksa dirawat inap juga di rumah sakit. Sementara dua anaknya yang masih kecil yang menjadi kurang terurus, ikut-ikut pula jatuh sakit dan akhirnya dirawat di rumah sakit juga. Saya mendengarkan sambil ikut merasakan jika saya berada di posisinya. Alangkah berat rasanya penderitaan itu.

Dan tentunya  masih ada lagi penderitaan finansial dibalik musibah yang berturut-turut itu.  Berobat tentu tidak ada yang gratis bukan?  Mahal pula. “Gelap sekali rasanya,Bu!” Kata teman saya dengan wajah yang sendu.

Seorang teman yang lain berkisah tentang keadaannya yang sangat sulit karena merasa terjebak di sebuah perusahaan di mana politik kantor terasa sangat garang.  Sementara ia sendiri merasa tidak suka  dan tidak bisa ikut berpolitik di kantor. Juga tidak ingin keluar, karena iamerasa tidak ada yang salah dengan kantornya. Hanya orang-orangnya saja ada yang berpolitik.  Saya juga tidak suka dan tidak bisa berpolitik di kantor. prinsip saya ya kerja saja dengan  baik dan lurus hati.   “Rasanya buntu!. Tidak menemukan jalan keluar”.  kata teman saya.

Sayapun ikut membayangkan jika saya yang berada di posisinya. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya akan mampu melewatinya dengan baik? Atau malah mati didera oleh badai politik itu?

Terima suka dan duka dengan ikhlas,  sebagaimana kita menerima siang dan malam.

Masih banyak lagi kisah-kisah derita yang diceritakan orang-orang kepada saya, yang menyebabkan dunia terasa buntu dan gelap. Membuat saya terpancing untuk mengkompilasinya,  mencari benang merahnya satu sama lain dan merenungkan maknanya.

Saya pikir setiap manusia yang lahir di planet bumi ini sudah ditakdirkan untuk menerima keadaan gelap dan terang dengan kurang lebih seimbang. Walaupun tentu saja porsinya setiap saat tergantung dari lokasi kita dan tingkat kecondongan axis bumi terhadap matahari. Namun secara umum, gelap terang itu pasti terjadi. Dan mau tidak mau harus diterima. Gelap dan Terang. Siang dan Malam. Tak ada orang yang mampu mengelakkannya kecuali  jika kita berada di luar dari system.  Artinya, jika saat ini kita mengalami gelap, suatu saat terang  pasti akan datang sebagai sebuah keniscayaan.  Mau tidak mau. Ikhlas tidak ikhlas. Demikian juga dengan terang. Jika saat ini kita sedang mengalami terang, maka suatu saat gelap pun akan datang juga sebagai sebuah kepastian. Tanpa usaha apapun dari kita. Alam sudah mengaturnya sedemikian rupa.

Orang Bali mengatakan Siang-Malam dan Gelap-Terang ini sebagai “Rhwa Bhineda” alias dua hal berbeda yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan melambangkannya dengan “Kain Poleng “alias Kain Hitam Putih. Memasang kain ini di pohon-pohon, di bangunan suci, di rumah dan sebagainya, sebagai pertanda akan kesadaran dan pengakuan  akan adanya hukum alam ini.

Dalam  kehidupan sehari-hari, masa masa sulit bisa kita andaikan dengan masa gelap. Dan masa -masa mudah bisa kita andaikan dengan masa terang. Jadi penghiburan sederhana yang bisa saya katakan pada diri saya sendiri saat harus menjalani masa sulit adalah “ Tenanglah! Sabarlah!  Lakukan segala sesuatunya dengan cara yang sebaik-baiknya yang bisa kita lakukan.  Karena dunia itu berputar. Cepat atau lambat, suatu saat masa terang pasti datang”.   Toh kita semua tahu, sejak jaman dulu manusia telah mempelajari tentang hukum siang malam ini  dan menerima kenyataan itu dengan baik.

Pelita membantu kita melewati malam dengan lebih mudah.

Ketika nenek moyang kita mulai belajar ikhlas menerima siang dan malam, lalu berikutnya mereka menemukan pelita untuk membantu mengatasi kesulitan saat malam tiba. Tentu saja  pelita ini tidak mampu memberhentikan rotasi bumi sehingga tidak ada lagi siang dan malam.  Namun setidaknya, pelita membantunya menjalani masa gelap dengn lebih baik.   Apakah hal ini tidak bisa kita implementasikan juga pada kehidupan kita sehari-hari?

Jika kita tahu bahwa kita harus menjalani masa sulit dari kehidupan kita, dan kita merasa sangat tertekan untuk menjalaninya, maka carilah pelita segera.  Di mana?   Ya di mana saja.

Dari dalam diri sendiri, dengan cara mengoptimalkan akal budi kita dengan sebaik-baiknya. Terkadang tanpa kita sadari, sebenarnya pemecahan masalahnya ada di kepala kita. Cuma kita saja yang belum menemukannya sejak awal.  Kenapa kita tak pernah tahu sebelumnya? Kadang-kadang hanya karena kita tak pernah memaksa  pikiran kita untuk bekerja lebih keras lagi. Kita terlalu memanjakan otak kita, sehingga malas untuk menghadapi tantangan.

Atau dari luar diri kita. Cari bantuan! Pertolongan!  Atau sekedar cari teman untuk sharing, sehingga rasa gelap yang menyelimuti sedikit terasa berkurang. Dengan usaha proaktif,  akan membuka kemungkinan untuk mendapatkan ide-ide dan cara-cara yang membuat kita terasa dimudahkan dalam menjalani masa sulit. Barangkali di sekeliling kita ada yang mempunyai pelita dan bersedia membaginya sedikit dengan kita?

Sesungguhnya dunia ini penuh dengan orang baik. Tengoklah sekeliling kita, dan fokus untuk menemukan kebaikan dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Pasti sangat banyak jumlahnya.

Saya merenungkan hal itu kembali, pada suatu malam, ketika saya memandang foto lilin ini.

The Banyan Tree – Living Life To The Fullest.

Standard

Pohon BanyanAda sebuah pohon yang selalu membuat saya penasaran karena saya sering mendengar namanya, namun tidak pernah melihatnya seumur hidup saya. Konon menurut cerita, itu adalah pohon yang terbesar yang mungkin ada di permukaan bumi. Dahannya rindang, akar gantungnya banyak, yang kemudian semakin berkembang membentuk batang-batang baru yang membesar. Sedemikian perkasanya pohon itu, sehingga dikatakan sebagai rajanya pohon. Bahkan beberapa sumber merefer pohon itu sebagai Kalpataru,walaupun beberapa sumber lain menyatakan bukan. Pohon itu adalah Pohon Banyan (Ficus bengalensis).

Setelah usia saya mendekati setengah abad, akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk melihat tanaman itu hidup-hidup.  Walaupun dari jarak beberapa meter saja, karena sore telah menjelang malam. Awalnya saya mengira bahwa pohon Banyan itu sama dengan pohon Beringin (Ficus benyamina). ternyata bukan.  Rupanya cuma bersaudara saja. Daunnya kelihatannya berbeda. Daun Beringin biasanya kecil-kecil, agak kaku dan berbentuk ellips. Namun daun pohon Banyan kelihatannya sedikit lebih besar dan mengkilat, walaupun bentuknya juga ellips.  Batang dan akarnya kelihatan mirip, namun kalau diteliti, rupanya batang pohon Banyan biasanya lebih banyak dari pohon Beringin.  Kenapa demikian? Usut punya usut ternyata perbedaan ini ada sebab musababnya.

Pohon Beringin biasanya tumbuh sebagai batang tunggal yang tumbuh dan membesar, lalu mulai mengembangkan akar-akar gantungnya untuk bernafas dan mencari makan di udara agar bisa tumbuh dengan lebih cepat. Akar-akar gantung ini biasanya tetap menggantung dengan ukuran relatif kecil dibanding batang utamanya. Jarang ada yang sangat membesar. Kalaupun ada, biasanya hanya satu dua dan jaraknya tidak jauh  dari batang utamanya. Sehingga jika kita perhatikan, pohon Beringin biasanya memiliki batang yang sangat besar, dahan yang rimbun penuh dedaunan serta akar yang menggantung banyak dan kecil-kecil.

Pohon Banyan rupanya sedikit berbeda.  Ia mulai tumbuh sebagai pohon kecil, seringkali di sela-sela batang pohon hidup yang lain.  Barangkali karena bijinya disebarkan oleh burung dan jatuh di sana. Ia mulai membesar lalu memiliki akar-akar gantung yang banyak. Nah akar gantungnya ini ada yang tumbuh membesar, melilit tanaman induknya, ada juga yang kemudian tumbuh membesar ke bawah  menyaingi batang utamanya dalam ukuran. Tumbuhnya pun agak beberapa jauh dari batang utamanya.  Sehingga pohon Banyan akan terlihat memiliki banyak sekali batang dan dahan.  Iapun bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang luas. Kebetulan yang saya lihat di tempat itu adalah pohon yang masih muda.  Jadi akarnya yang telah menjadi batang belum terlalu banyak. Namun saya sudah bisa melihat, beberapa diantaranya sudah cukup besar diameternya.

Mengapa saya sangat tertarik ingin melihat pohon ini dengan mata saya sendiri adalah karena cerita yang saya dengar bahwa pohon ini bisa tumbuh menjadi sedemikian besarnya menaungi wilayah lebih dari 1.5 hektar dengan sedemikan banyak batangnya. Sehingga jika kita bayangkan, pohon Banyan yang dibiarkan besar, satu pohon bisa membentuk hutan tersendiri. Cukup untuk menaungi kehidupan satwa liar di bawahnya. Selain itu, pohon Banyan ini juga memiliki banyak kisah, selain merupakan salah satu pohon yang disakralkan di India.

Memandang pohon ini, melihat bagaimana akarnya yang berubah menjadi batang tumbuh dari atas ke bawah (bukan hanya dari bawah ke atas seperti umumnya batang  pohon) membuat kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang diajak berpikir “out of the box ‘ oleh sang pohon. Bahwa dunia ini bukan hanya bisa berjalan seperti bagaimana aturan yang umum berjalan. Namun juga menyediakan berbagai pilihan lain yang selama ini belum berhasil kita lihat.  Kita perlu men’challenge’ diri kita dengan lebih keras lagi untuk mencari pendekatan-pendekatan alternatif yang beda dari biasanya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari.

Untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, pohon Banyan ini telah melakukan upaya hidup yang sepenuhnya. Telah menjalankan segala kemungkinan cara tumbuh baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Jungkir balik tanpa peduli. Jalani hidup yang sepenuhnya. Secara maksimal. Living life to the fullest!. Itulah sebabnya ia menjadi sedemikian digjaya. Sedemikian perkasa diantara pepohonan.

Matahari sore bergerak turun. Meninggalkan desauan angin yang seolah bertanya. Apakah kita sudah menjalankan kehidupan kita dengan maksimal? Mengerahkan segala upaya kita? Sudah jangkir balik? Kaki ke tas kepala ke bawah? Habis-habisan? Sebelum kita merasa puas dengan pencapaian kita. Atau bahkan sebelum kita menyerah dengan mengatakan bahwa  hanya sebatas ini kemampuan kita. Jika belum jungkir balik, ikhtiarkanlah lebih kuat lagi. Sehingga semua potensi yang ada pada diri kita termanfaatkan dengan baik. jangan cepat merasa puas akan pencapaian kita, karena mungkin saja masih banyak potensi yang belum kita gali dengan optimal. Dan hanya baru mengatakan menyerah dan tak sanggup ketika kita memang benar-benar telah menjalani semuanya dengan semaksimal mungkin namun tetap tak berhasil.

Saya menoleh sekali lagi kepada pohon Banyan di Vassanthanahalli itu. Mengucapkan terimakasih di dalam hati saya.  Lalu melangkah pergi.

Membangun Kebiasaan Baik.

Standard

Pak SupirSaya sedang ada jadwal mengawasi sebuah pekerjaan yang lokasinya agak keluar kota. Sebenarnya masih agak mengantuk, karena malam hari sebelumnya saya begadang. Namun demi pekerjaan, saya pun memaksakan bangun dan bersiap karena tidak ingin terlambat. Tepat pukul 05.00 pagi, supir yang menjemput saya tiba rumah. Saya masuk ke kendaraan dan langsung berangkat.

Jalanan gelap dan terasa lengang. Kendaraan melaju dengan tenang dan leluasa. Karena tidak ada yang saya lakukan selain hanya berdiam diri dan memandang ke kegelapan di luar jendela, maka saya pun megobrol dengan Pak Supir yang kelihatannya sudah sangat sepuh. Saya menadapat kesan pertama bahwa bapak tua ini sangat santun sikapnya. Ternyata, selain sangat santun,  Bapak Supir tua  ini juga sangat ramah dan rupanya teman mengobrol yang sangat menyenangkan.

Walaupun baru pertama kali bertemu, kami mengobrol seolah-olah sudah saling mengenal lama.   Lama kelamaan obrolan lalu bergeser menjadi ajang curhat si Bapak, dimana saya berperan sebagai  pendengarnya.  Curhatnya terutama berkaitan dengan puteri tertuanya yang menurutnya sudah jauh di atas ambang umur untuk menikah, namun tak kunjung jua menetapkan pilihannya.  Dan adik-adiknya semua mengikuti jejak kakaknya.

Menurut Bapak itu, puterinya lebih senang  menghabiskan waktu dan penghasilannya untuk berpergian keluar kota. Ke gunung, ke laut ataupun ke hutan, memuaskan hobi fotografinya daripada untuk memikirkan pasangan hidup. Sang Bapak sangat mengkhawatirkan masa tua puteri -puterinya, jika sampai akhir nanti tetap juga memilih untuk melajang. “Padahal banyak pria yang mau lho, Mbak. Tapi dia tetap memilih hidup sendiri. Katanya tidak mau nanti hidupnya diatur-atur sama orang laki.”   Terdengar nada khawatir  dan sedih dalam suaranya.

Saya mendengarkan penuturannya dengan baik, tanpa berusaha mencekokinya dengan pendapat saya sendiri.  Saya pikir si bapak hanya ingin didengarkan saja. Bukan digurui. Jadi cukuplah saya dengarkan saja ceritanya sepanjang jalan itu. Saya merasa cukup beruntung juga mendapatkan kesempatan mendengarkan ceritanya. Setidaknya ada hal-hal  yang menarik hati saya dari penuturannya di luar kesedihannya itu. Contohnya adalah tentang  kedisiplinan diri dalam berkomitmen terhadap orang lain dan cara yang ia ambil dalam mendidik puterinya.

Karena hobinya berjalan-jalan membutuhkan biaya cukup tinggi, sering juga  puterinya kehabisan uang di luar kota.

Tiba-tiba saja Mbak, dia itu bisa menelpon dari dekat Gunung Bromo minta dikirimkan uang. Ya, saya sih tidak apa-apa. Tapi bahasanya itu seringnya bukan meminta. Tapi meminjam. Pinjam dulu Pak. Tiga ratus saja!.  Saya kirimkan. Saya tidak mau anak saya kesusahan”  Sang bapak bercerita bahwa setelah itu anaknya lupa mengembalikan.

Saya sering mendengar cerita seperti ini. Orang-orang yang meminta uang, namun mengatakan “meminjam”,  tapi ujung-ujungnya tidak mengembalikan.  Atau awalnya memang hanya ingin meminjam, tapi karena merasa hubungannya sangat dekat, lalu menganggap soal pinjam meminjam itu hanya masalah remeh yang tak perlu dipikirkan. Biasanya itu terjadi dalam kasus pinjam meminjam antar anggota keluarga ataupun teman dekat.  Dan biasanya yang meminjamkan juga mengikhlaskan begitu saja.

Saya sering marah pada anak saya. Kalau yang namanya meminjam itu kan harus mengembalikan. Kalau meminta ya…lain lagi. Tidak perlu dikembalikan. Tapi bilangnya harus meminta, bukan meminjam”.  Ya…saya setuju dengan pendapat bapak itu.

Saya marah bukan karena saya itung-itungan pada anak saya.  Tapi untuk mendidik anak saya dengan baik.  Agar jangan menganggap remeh jika meminjam kepada seseorang. Walaupun itu kepada Bapak sendiri. Nanti ia menjadi terbiasa dengan sikap ini. Meminjam dan tidak mengembalikan. Menganggap remeh lalu melakukan hal yang sama di masyarakat. Kepada teman-temannya ataupun kepada orang lain”. Bapak itu menghentikan kendaraan di depan lampu merah.

 

“Hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan kita saat bergaul di masayarakat, itu dimulai dari keluarga. Kejujuran, kebaikan, ketulusan, kebohongan, kejahatan dan sebagainya yang terjadi di masyarakat itu semuanya berawal dari kebiasaan kecil yang tidak diperhatikan terjadi di keluarga” lanjutnya panjang lebar.

Wah… saya terkesan mendengarkan cerita si Bapak. Sangat mungkin terjadi. Saya mencoba memutar ulang kalimat bapak itu yang saya rekam dalam otak saya.  Mendengarkannya kembali, dan mencernanya dalam pikiran saya.  Kebiasaan kecil dalam keluarga yang menentukan sikap dan sifat kita dalam bermasyarakat!.

Soal kebiasaan kecil, si Bapak Supir tua ini juga mencontohkan kepada saya, bahwa beliau selalu ngelap kendaraannya  minimal dua kali sehari. Juga setiap kali keciprat kotoran maupun setiap kali habis hujan. “Biar tidak kotor. Kalau hujan turun lima kali, ya saya lap lima kali. Saya tidak pernah tunda ngelapnya nanti saja atau dibesokin. Saya tidak mau kebiasaan menunda ngelap kendaraan itu akhirnya menimbulkan masalah dan kerusakan yang lebih parah di kemudian hari.”.   Ceritanya. Entah kenapa saya menjadi semakin termenung . Cerita Bapak itu seperti berputar berulang-ulang di kepala saya.

Kerjakan sekarang apa yang bisa kita kerjakan sekarang dan jangan menunda masalah, sebelum akhirnya menjadi besar dan parah”.

 

Dan ketika saya turun di tempat tujuan. Saya melirik kepada kendaraan si bapak yang dipakai untuk menjemput saya itu. Memang terlihat sangat bersih, kinclong dan berkilau.  Sayapun mengucapkan terimakasih.  Dan Pak tua itu mengucapkan selamat bekerja kepada saya sambil tersenyum sumringah.

Sebuah kisah pagi yang sulit saya lupakan…

Kematian Dan Cyclus Kehidupan…

Standard

Bunga-bunga berguguran1Semester pertama tahun ini,  saya lalui dengan beberapa peristiwa duka. Selain kehilangan Persia – kucing kesayangan keluarga kami, saya juga kehilangan seorang bibi (adik perempuan bapak) di Bali dan seorang ipar (kakak tertua suami) di belahan lain dari kota Jakarta.  Kedua-duanya adalah wanita yang sangat saya cintai dan dekat sekali dengan kehidupan saya.

Saya merasa hubungan dengan bibi saya ini adalah salah satu hubungan “Bibi-Keponakan” terbaik yang saya tahu dalam hidup saya. Di mata saya, bibi saya adalah wanita hebat yang sangat banyak menyuntikkan nilai-nilai kehidupan ke dalam diri saya. Menjadi pendamping orang tua dalam membimbing saya menjalani hidup ini. Tempat saya mengeluh dan mengadukan persoalan kehidupan saya. Dan ketika saya dewasa,  membuat diri saya merasa berarti dengan menjadikan saya sebagai tempatnya berbicara dan berbagi cerita. Bahkan ketika kedua orang tua saya telah tiada, bibi  membuat saya merasa tetap memiliki orangtua yang  setiap saat menunggu kedatangan saya pulang kampung.

Demikian juga dengan kakak ipar saya. Saya juga merasa bahwa ini adalah salah satu hubungan “Kakak-Adik Ipar” yang terbaik  yang saya pernah ketahui. Di mata saya, kakak ipar saya memiliki keseimbangan yang sangat tinggi antara kemampuan memberikan perhatian dan kasih sayang, dengan kemampuan untuk bersikap cuek dan tidak mencampuri urusan yang bukan menjadi urusannya. Ia selalu terbuka dan tahu persis kapan harus memberikan perhatian dan kapan harus berhenti. Ia juga tahu persis, bagian mana yang harus diperhatikan dan dieksplorasi, serta bagian mana yang bersifat sensitif dan sebaiknya jangan diungkit. Hal ini membuat hubungan kami selalu berada dalam kondisi prima. Sungguh beruntung saya menjadi adik iparnya.

Kedekatan ini tentu saja memberikan pukulan emosi yang tak bisa saya hindarkan dan sedikit tidaknya mempengaruhi hari-hari saya dalam bulan-bulan terakhir ini. Banyak sekali kenangan yang melintas ke dalam pikiran saya. Suka dan duka. Saya membayangkan, kedukaan ini tentu akan lebih berat lagi bagi anak-anak, suami dan saudara kandungnya. Saya bisa merasakan betapa beratnya, karena pernah mengalami sebelumnya, saat kedua orangtua saya meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu. Kematian orang yang kita cintai selalu meninggalkan kesedihan yang mendalam. Rasa duka seolah tak pernah lupa hadir ke dalam hati kita. Seolah mengikuti, kemanapun kaki kita melangkah.

Perasaan duka itu tetap menggelayut di pikiran saya, hingga pagi hari kemarin…

Saya melihat ada  banyak bunga-bunga bertebaran di halaman. Bunga-bunga itu sudah tua, lepas dari tangkainya dan jatuh ke tanah satu per satu. Demikian juga daun-daun yang coklat dan mati. Lepas dari batangnya dan lalu jatuh diterbangkan angin. Keduanya memberikan gambaran yang jelas kepada saya, bahwa baik bunga dan daun itu telah mengalami proses yang telah digariskan oleh alam. Lahir sebagai kuncup, berkembang optimal untuk melaksanakan fungsinya masing-masing, lalu menguning, coklat layu dan akhirnya lepas berguguran dihempaskan angin ke bumi. Sebuah kematian.

Apakah pohon-pohon merasa terpukul oleh kedukaan? Ia tampak berdiri tenang dan tetap kokoh di sana. Melanjutkan hidupnya dengan normal, tanpa sedikitpun terlihat terpengaruh oleh kematian dari sebagian bunga-bunga dan dedaunannya. Ia tetap  mencari makan dan mengumpulkan air dari akarnya, menyalurkannya lewat batang lalu memprosesnya pada daun dengan bantuan sinar matahari dan memanfaatkannya untuk tumbuh dan berkembang. Daun baru dan bunga baru. yang kemudian tumbuh berkembang dan akhirnya layu dan mati juga.

Kematian bagi pohon-pohon hanyalah sebuah siklus kehidupan biasa. Siklus standard yang sudah diatur oleh alam. Lahir – Tumbuh – Mati.  Semuanya harus diterima dengan baik. Untuk setiap kelahiran yang ada,  niscaya akan dilanjutkan oleh pertumbuhan dan selanjutnya pasti akan disusul oleh kematian.

Bagi alam, tidak ada ‘yang mana lebih baik dari yang mana’ antara kelahiran dan kematian. Tidak ada pemenang dan tidak ada pecundang. Yang ada hanyalah Tahapan Kehidupan yang harus dilalui. Karena dalam menjaga keberlangsungan hidupnya, bagi alam kelahiran sama pentingnya dengan kematian. Tanpa kematian, tidak akan ada tempat yang cukup untuk kehidupan baru.

Pohon-pohon yang berdiri kokoh di halaman,  seolah menunjukkan kepada saya bahwa  mereka sangat memahami siklus ini dan menerimanya dengan penuh penghayatan. Itulah sebabnya mereka tetap melanjutkan kehidupan, tanpa terpengaruh oleh bunga-bunga dan dedaunan yang berserakan di sekitarnya, hingga tiba gilirannya sendiri untuk menapakkan dirinya dengan damai ke dalam tahapan kematian itu.

Demikian juga  bagi setiap manusia.  Memahami, menerima dan menghayati siklus  kehidupan yang telah diatur oleh alam ini, akan sangat membantu kita untuk  membebaskan diri dari kedukaan. Karena kematian sesungguhnya bukanlah kekalahan yang harus diisak-tangisi, namun sebuah tahapan kehidupan yang harus dijalani oleh semua mahluk hidup dalam perjalanannya menuju Sang Pencipta.