Tag Archives: Kepercayaan

KETIBAN CECAK.

Standard

Aduuh…tadi saya ketiban cecak jatuh” cerita Siti kepada saya. “Apa ya Bu kira-kira artinya?” Lanjutnya bertanya dengan wajah agak khawatir. Saya nggak langsung menjawab karena sedang mengunyah buah.

Awalnya saya mau bilang, cecak jatuh kan wajar-wajar saja. Diantara sekian ekor cecak yang merayap di dinding atau di langit-langit sesekali kan pasti ada yang terpeleset dan jatuh juga. Terutama saat berlari atau meloncat mencoba menangkap nyamuk atau serangga kecil lainnya.  Sesuatu yang sangat wajar dan tidak usah terlalu dipikirin.

Tetapi kemudian saya ingat, jika di Bali cecak dipercaya sebagai lambang ilmu pengetahuan. Lambang  berkah dari Sang Hyang Aji Saraswathi, sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai penguasa Ilmu Pengetahuan.  Jika ketiban cecak ya artinya akan beruntung mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Akan tambah pintar   atau akan mengetahui sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan diri sendiri, keluarga ataupun masyarakat.

Juga sebagai lambang kebenaran informasi. Misalnya jija seseorang sedang menceritakan sesuatu kepada orang lain yang belum jelas kebenarannya dan tiba-tiba seekor cecak berbunyi “cek cek cek cek”, maka seketika bunyi cecak itu meningkatkan level kepercayaan si pendengar akan kebenaran dari cerita itu. Jadi, cecak memiliki posisi yang cukup tinggi di Bali. Tidak ada hal mengkhawatirkan tentang cecak. Semuanya baik.

Sayapun menceritakan kepercayaan Orang Bali tentang cecak ini. Sayangnya Siti tetap murung, walaupun sudah saya ceritakan tentang hal baik ini.
“Tetapi kalau di Jawa, orang percaya kalau kejatuhan cecak itu alamat buruk, Bu. Akan ada musibah yang menimpa” katanya semakin murung.  Saya jadi tertegun mendengarnya. Ooh sedihnya.  Bagaimana cara saya menghibur Siti kalau begini ya?. Saya sendiri bukan orang Jawa yang memahami kebudayaan dan kebiasaannya dengan baik.

Mengapa berbeda banget ya antara kepercayaan masyarakat di Jawa dengan di Bali tentang cecak?. Padahal binatangnya ya cuma itu-itu saja. Sama -sama cecak. Bukan kadal. Bukan buaya.

Cecak, hanyalah seekor binatang kecil pemburu serangga yang bernama latyn Hemidactylus frenatus, masuk ke dalam family Gekkonidae, Ordo Squamata, Class Reptilia dan Phylum Chordata – demikian jika dilihat dari sudut pandang seorang ahli taksonomi hewan. Ia berubah menjadi sebuah lambang ilmu pengetahuan dan kebenaran jika dilihat dari sudut pandang saya yang lahir dan besar di Bali. Dan berubah sebagai pembawa tanda musibah jika dilihat dari sudut pandang Siti, yang lahir dari keturunan Jawa dan besar di Jawa. Weeehhhh… binatang yang sama, tapi bisa beda-beda ya.

Semakin saya mikirin tentang cecak yang memiliki sudut pandang dan kepercayaan yang berbeda-beda ini, semakin banyak saya menemukan hal-hal lain yang juga memiliki perbedaan persepsi dan image, antara di pulau Jawa dengan di pulau Bali.

Contohnya adalah Bunga Kamboja. Jika di Jakarta, Bunga Kamboja sangat erat kaitannya sebagai Bunga Kuburan. Karena pohon Kamboja banyak ditanam di kuburan. Bunga kesedihan. Dan dianggap seram. Siti pun yang besar di Jawa mengatakan sama. “Bunga yang membuat takut”, katanya.

Sedangkan di Bali, bunga Kamboja dianggap sebagai bunga kebahagiaan hati. Justru ditanam di rumah atau di tempat suci. Bukan di kuburan. Sehingga tidak heran jika kita ke Bali, kita bisa melihat banyak wanita Bali dengan riang gembira menyelipkan bunga Kamboja di telinganya atau untuk menghiasi rambutnya. Selain dipakai sebagai hiasan rambut, bunganya dipakai sembahyang, untuk menari dan juga untuk pengharum ruangan. Bunga yang penuh dengan hal-hal positive.

Contoh lain lagi adalah bunga Kenanga.  Saya sering mendengar teman-teman di Jakarta mengaitkan bunga Kenanga dengan hal-hal yang berbau mistis. Sedangkan di Bali, bunga ini dianggap sebagai perlambang wanita cantik yang bersikap baik sepanjang usianya. “Selayu-layu-layune miyik” -walau selayu/setua apapun tetap cantik dan harum namanya. Tidak ada kaitannya dengan dunia mistik sama sekali. Sedangkan di mata ahli parfum, bunga ini adalah penghasil ekstrak essential oils Cananga Odorata bahan pembuat parfum yang sangat mahal harganya.

Sebaliknya ada hal yang di Bali dihindari, di budaya lain dianggap biasa saja atau normal. Misalnya, orang Bali selalu menghindarkan menjemur pakaian tinggi-tinggi. Apalagi lewat di bawah jemuran. Itu benar-benar dianggap TABU.  Demikian juga meletakkan bantal di kaki, atau menginjak bantal. Itu sangat Tabu. Mengapa? Karena bantal adalah tempat meletakkan kepala. Dan kepala sendiri bagi orang Bali adalah sangat sakral sifatnya. Selain karena pusat pengendali pikiran ada di kepala, kepala dianggap sebagai hulu, dengan cakra Sahasrara di ubun-ubun yang memungkinkan keterhubungan dengan alam semesta dan Sang Maha Pencipta. Karenanya kepala dianggap sangat suci. Jangan sampai kesuluban jemuran. Apalagi jemuran pakaian dalam. BIG NO! NO!

Kalau kita gali, tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dimana suatu hal/ benda bisa dipersepsikan positive di sekelompok masyarakat tertentu, tetapi dipersepsikan negative di kelompok masyarakat yang lain. Dan sebaliknya. (Tidak hanya terbatas di Jawa & Bali saja, tetapi juga mungkin suku dan bangsa lain yang berbeda). Lalu kelompok manakah yang lebih benar ?

Terus terang saya jadi tidak tahu jawabannya. Karena semua itu hanya kepercayaan saja. Kepercayaan lokal yang dibentuk barangkali oleh pengalaman, pengetahuan ataupun persepsi yang dibentuk oleh masyarakat lokal selama bertahun-tahun, puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun. Bisa jadi berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Kepercayaan. Namanya juga kepercayaan ya, hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya saja. Jika tidak percaya, ya otomatis itu bukan kepercayaan lagi namanya. Dan kita ini mahluk bebas merdeka. Boleh percaya boleh tidak. Believe it or not.

Perbedaan tidak harus membuat kita tercerai berai. Cukup kita tahu dan hormati kepercayaan orang lain.
Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangeruwa.

Shiiro Dan Kurumi – All About The Trust.

Standard

 

Diantara tempat-tempat favorit saya, adalah tepi pantai Sanur di Bali. Pantai landai itu tidak langsung menghadap ke Samudera Hindia, karena selain posisinya yang tidak menghadap ke Selatan, juga terhalang oleh Nusa Penida sehingga memiliki ombak yang lebih bersahabat bagi pencinta pantai biasa.Pagi ini saya menyempatkan berjalan-jalan di sana. Banyak kegiatan yang dilakukan orang-orang di sana. Mulai dari petugas pembersih pantai yang sedang menyapu kotoran  yang dihempaskan ombak ke pantai, para wisatawan yang menunggu terbitnya matahari, pejalan kaki, orang yang olah raga, anak-anak yang nyebur di air atau mencari kulit lokan dan kelomang, hingga yang asyik memotret ataupun hanya sekedar duduk-duduk saja. Saat itu saya melihat seorang pria sedang menggembalakan dua ekor anjingnya  berjalan-jalan di tepi pantai. Read the rest of this entry