Tag Archives: Kerukunan

Kerukunan Di Hari Raya.

Standard
Hantaran Hari Raya

Hantaran Hari Raya

Tetangga saya yang sudah sepuh selalu mengirimkan kue setiap kali hari raya Idul Fitri tiba. Dan biasanya saya juga mengirimkan sesuatu untuk beliau dan keluarganya juga. Melihat kiriman kue-kue itu saya jadi terkenang akan masa kecil saya di Bali dulu.

Keluarga kami tinggal di area dekat dengan kantor-kantor pemerintahan dan perumahan dinas Kabupaten di Bangli, seperti misalnya rumah dinas Bupati, Sekda, DanDim, Jaksa, Kapolres, Kepala Pertanian, Puskesmas, Dokabu dan sebagainya.  Juga berdekatan dengan asrama polisi.

Sebagai rumah penduduk yang terdekat dengan kompleks itu, rumah keluarga saya selalu menjadi titik stop ibu-ibu tetangga yang membutuhkan bantuan atau mencari informasi tentang ini dan itu. Perlu daun sirih, daun pandan, daun suji, daun kelapa, daun pisang, batang bambu, minta bunga dan sebagainya. Karena kebetulan semuanya ada di halaman, biasanya para tetangga ya dipersilakan ambil saja sendiri -sendiri.

Seperti kebanyakan rumah-rumah di Bali, pintu gerbang halaman rumah kami memang  tidak pernah punya pintu penutup. Tentu saja semua orang bisa masuk ke halaman rumah kami karena memang gerbangnya selalu terbuka dan tak berpintu. Demikian juga para tetangga sering datang dan duduk ngadem di halaman.

Banyak dari para tetangga kami itu  yang berpindah-pindah tugas. Paling menetap selama 2 -5 tahun, lalu ganti lagi. Akibatnya, tetangga kami memiliki latar belakang suku dan agama yang beragam. Ada yang Jawa, Batak, Menado, Makasar, Ambon dan lain sebagainya. Selain banyak yang memang asli Bali juga tentunya.  Pokoknya orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke lah. Demikian juga hari rayanya berbeda-beda.  Tapi buat kami, hari raya agama apapun selalu tetap menyenangkan.

Jika menjelang hari raya Galungan & Kuningan, ibu saya selalu membuat kue-kue dan masakan yang lebih banyak agar bisa kami bagikan kepada tetangga-tetangga kami yang beragama lain. Biasanya mereka akan datang berkunjung ke rumah, mengucapkan selamat hari raya dan mengobrol sejenak dengan Bapak dan Ibu saya.

Juga setiap kali hari raya Idul Fitri datang. Keluarga kami pasti menerima pembagian kue-kue dan hasil masakan hari raya Lebaran. Ibu dan bapak saya -kadang anak-anak juga ikut – bersilaturahmi ke rumah tetangga yang merayakan Lebaran. Semuanya berbahagia.

Demikian juga dengan tetangga kami yang merayakan Natal. Sama juga, keluarga kami juga mendapatkan kiriman kue-kue dan masakan hari raya Natal. Kami juga berkunjung  dan semuanya bersuka cita.

Tidak terlalu penting siapa yang merayakan hari besar keagamaan, sama saja, kami selalu bahagia dan senang. Sedemikian damai dan rukunnya kehidupan bertetangga orang tua kami di jaman itu. Dan kami anak-anaknya tentu saja ketularan rukun.

Walaupun kami anak-anak lahir dari orangtua dengan keyakinan yang berbeda-beda, tetapi kami tidak pernah punya masalah. Malahan saling berbagi & bertukar cerita dan pemahaman sesuai dengan apa yang diajarkan orang tua kami masing-masing.  Dan semuanya kok ya terdengar indah dan bagus. Kerapkali kami juga ikut menyerap apa yang diceritakan bagus oleh teman kami.

Saya sangat senang mendengarkan pelajaran agama dan kebaikan-kebaikan yang diceritakan teman-teman saya yang agamanya berbeda. Sehingga rasanya inti kebaikan setiap agama tiada asing lagi bagi saya. Saya mendengarkan kisah-kisah tentang Yesus Kristus dari sahabat karib saya di TK. Juga mendengarkan cerita tentang hari Kiamat versi muslim, tentang Malaikat Jibril,  tentang kebaikan Sholat dan sebagainya dari sahabat saya yang lain lagi saat di SD. Sementara teman-teman saya itu juga kelihatan senang, saat saya bercerita tentang  Dharma, tentang Tri Kaya  Parisudha, Tat Twam Asi, dan berbagai prinsip lain dan kisah-kisah dalam agama Hindu dan Buddha sesuai dengan yang diajarkan kepada saya baik oleh guru maupun orang tua saya. Tentu saja semuanya diceritakan dengan pikiran dan cara bertutur kami yang masih kecil  dan masih sangat bening. Diceritakannya juga  sambil memanjat pohon jambu. Atau duduk-duduk di tepi lapangan habis bersepeda. Atau di pematang sawah sambil melihat capung. Atau saat berteduh menunggu hujan reda. Tidak ada keinginan dan pikiran untuk mengatakan bahwa keyakinan saya lebih bagus dari keyakinan kamu. Tidak juga ada keinginan untuk mempengaruhi.  Hanya senang bercerita dan senang mendengarkan saja. Sudah. Itu saja. Sehingga yang ada dalam keseluruhan hati dan pikiran kita adalah sesuatu yang sangat bersih dan sangat indah.

Sekarang, terus terang saya sering sedih dan kaget setiap kali membaca berita dan status di media sosial orang-orang yang saling menyudutkan agama dan keyakinan orang lain. Saling membenci dan saling menghujat. Saling mengkritik dan saling menyindir. Bahkan untuk saling mengucapkan Selamat Hari Raya pun merasa berat. Kemana ya perginya kerukunan yang dulu? Kemana perginya budaya silaturahmi lintas agama dan keyakinan yang dulu selalu ada?

Hantaran kue-kue kering itu masih menggeletak terdiam di atas meja makan. Saya memandangnya dan merasa terharu.  Senang sekali rasanya. Bukan saja karena menerima kiriman kue Lebaran. Tetapi lebih dari itu, setidaknya saya masih melihat ada seorang Oma yang melanjutkan budaya mengantarkan kue-kue dan makanan kepada tetangganya yang berbeda keyakinan saat hari raya seperti ini.

Hmm…jangan-jangan masih banyak juga keluarga lain yang tetap menggalang kerukunan lintas keyakinan seperti  yang dilakukan Oma tetangga ini. Ah!. Dan  barangkali hanya kebetulan saya saja yang tidak melihatnya. Semoga!.

Saya membuka tutupnya satu per satu dan memanggil anak-anak saya untuk ikut mencicipinya.  Kebahagiaan hari raya, semoga selalu menjadi kebahagiaan semua orang.

 

Sapu Nenek Sihir.

Standard
????????????

Sapu Lidi

Jika sedang berada di kota Sukabumi, saya paling senang makan bubur untuk sarapan pagi. Karena menurut saya bubur ayam di Sukabumi itu sangat enak. Nah suatu pagi saya melihat seorang kakek penjual sapu lidi di depan tukang bubur langganan saya itu. Seketika saya teringat akan sapu lidi pembersih kasur saya yang sudah rusak dimainkan anak-anak. Kelihatannya  perlu membeli penggantinya. Saya memberi isyarat kepada kakek tua itu bahwa nanti  saya akan membeli setelah makan bubur. Maksudnya agar beliau jangan cepat-cepat pergi. Biasanya tukang jualan seperti ini hanya nongkrong sebentar lalu pergi, karena torotoar ini bukan tempat jualan permanen.

Seusai makan bubur, saya menepati janji saya. Melihat-lihat dan memilih sapu yang ingin saya beli. Ada sapu untuk membersihkan tempat tidur. Jumlah batang lidinya paling sedikit diantara semua jenis sapu. Lidinya sendiri berwarna lebih terang. Diameter sapu itu sekitar 3.5 cm. Harganya 10 ribu rupiah.

Lalu ada sapu lidi biasa. Maksudnya sapu lidi untuk lantai dan halaman. Diameternya sekitar 5 cm. Eh..harganya sama lho….10 ribu rupiah juga. Apa nggak salah ya kakek ini? Padahal jumlah lidinya 2x lipat lebih banyak dibanding sapu yang kecil. Pasti salah satu ada yang salah. Mungkin yang kecil kemahalan. Atau yang besar kemurahan. Saat saya konfirmasi apakah kakek ini tidak salah memberikan harga, beliau bilang tidak. “Memang begitu harganya dari sananya Neng” katanya. Beliau juga tidak mengerti mengapa bisa begitu. Hm..barangkali karena warnanya yang agak berbeda. Sapu lidi yang kecil warna lidinya agak lebih terang sedikit (biasanya diambil dari lidi janur alias daun kelapa yang masih muda – Busung – Bahasa Bali) ketimbang warna lidi dari sapu yang besar yang warnanya lebih coklat (biasanya diambil dari lidi daun kelapa yang lebih tua – Selepaan -Bahasa Bali). Saya mencoba mencari pembenaran sendiri atas harga yang kelihatannya janggal itu.

Terus ada lagi sapu lidi yang bertangkai. Saya tahu ini pasti untuk membantu agar pinggang kita tidak sakit karena membungkuk. Harganya menjadi 20 ribu rupiah. Oke, masuk akal jika yang ini harganya lebih mahal.

Saya memilih-milih dan memutuskan untk membeli 2 buah sapu kasur dan 1 buah sapu halaman yang bertangkai. Dan menambahkan satu buah lagi sapu biasa. Jadi semuanya ada 4 buah yang saya beli, Melihat wajah Kakek itu saya tidak tega menawarnya. Lagi pula saya pikir harga sapu ini sangatlah masuk akal . Sementara kwalitasnya sendiri  menurut saya jauh lebih baik dibanding sapu lidi kasur yang saya beli di Jakarta. Sebagai pembanding,  saya coba hitung jumlah lidi sapu kecil jualan si kakek ini ada 169 buah.  Sedangkan yang saya beli di Jakarta paling banter isinya tidak lebih dari 75 batang lidi saja.  Saya lupa harganya berapa yang saya beli di Jakarta ini.

Yang membuat saya tertawa adalah sapu itu ternyata memiliki merk. Dan merknya adalah “SAPU NENEK SIHIR“.  Dilengkapi dengan alamat dan nomor telpon  si Abah pembuatnya di Kampung Gentong Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Sukabumi.  Ha ha.. terutama yang bertangkai panjang itu memang mirip sapunya Nenek Sihir dalam dongeng sih. Jadi cocoklah barangkali bermerk Nenek Sihir. Dikorek-korek sedikit dengan sapu ini, sim salabim! Abrakadabra! Halaman langsung bersih!. Kreatif juga si pembuatnya. Walaupun bagi sebagian orang denger nama Nenek Sihir barangkali takut juga.  Eh.. tapi tiba-tiba saya jadi penasaran juga, sebenarnya sapu nenek sihir dalam dongeng itu sapu ijuk atau sapi lidi sih?

O ya… terlepas dari kaitan sapu lidi dengan Nenek Sihir, ada cerita menarik yang saya ingat tentang Sapu Lidi. Diceritakan oleh guru saya waktu SD. Seorang Bapak memanggil anak-anaknya yang sering sekali bertengkar dan tidak pernah akur satu sama lain. Sang Bapak mengambil lidi lalu menyerahkan ke anak-anaknya masing-masing sebatang lidi. Ia lalu berkata, siapa yang bisa mematahkan batang lidi itu?. Anak-anaknya tentu saja heran akan pertanyaan bapaknya itu. Semua anak bisa mematahkan batang lidi itu dengan mudah.  Sang Bapak lalu mengambil sebuah sapulidi. Sekarang beliau bertanya lagi kepada anak-anaknya. Siapa yang bisa mematahkan  sapu lidi ini? Anak-anaknya secara bergiliran mencoba  mematahkan sapu lidi itu dengan sekuat tenaga, tetapi tidak ada yang berhasil. Sapu lidi itu hanya melengkung, tapi tidak pernah patah. Cerita itu diakhiri dengan pesan Sang Bapak agar anak-anaknya selalu hidup rukun dan saling mendukung agar bisa berhasil. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sapulidi, jika sendirian kita akan mudah patah. Namun jika rukun dan selalu bersama-sama maka kita akan menjadi kuat.

Saya pikir ingin juga saya menceritakan kembali cerita ini kepada anak-anak saya. Agar mereka mengerti arti kerukunan dalam keluarga. Demikian juga arti kerukunan di dalam kelas, dalam bermasyarakat dan kerukunan dalam berbangsa. Tiada gunanya membesar-besarkan perbedaan yang membuat kita justru terpecah belah dan akhirnya lebih mudah dikuasai orang lain, bukan?.

Nah..lumayan juga sapulidi nenek sihir ini mengingatkan saya kembali.