Tag Archives: Kesehatan

Keselek Tulang Ikan Patin.

Standard

Saya ikut acara makan malam bersama yang diselenggarakan kantor di sebuah restaurant di daerah Sentul, Bogor. Untuk mempercepat waktu, teman panitya mengedarkan daftar menu sebelum kami berangkat, sehingga kita bisa memesan lebih awal. Saya sendiri memesan Ikan Gurami bakar hasil mencontek dari teman sebelah.

Jam 19.15 kamipun berangkat menuju restaurant yang dimaksud. Karena jumlah kami banyak, restaurant itu tetap saja keteteran. Ada pesanan yang dihidangkan lebih cepat dan ada juga yang lama. Orderan saya termasuk yang lama datangnya.

Karena sudah lapar, dan pesanan belum datang, maka teman-teman yang pesanannya sudah datang menawarkan untuk berbagi saja. Semua makanan yang ada di atas meja kita sharing saja. Di depan saya terhidang sebuah makanan unik “Ikan Patin dalam Bambu”. Orderan teman yang duduk di depan saya.

Waah… hidangan apa ini ya?. Saya tidak tahu banyak tentang Ikan Patin. Pernah sih diajak makan pindang Ikan Patin oleh teman saat sedang kunjungan kerja ke daerah Sumatera.

Masakan Patin dalam bambu ini lebih mirip dengan pepes. Banyak bumbu rempahnya, dibungkus daun pisang dan dimasak dalam bambu. Sayapun mencoba sesendok. Enak!. Karena ikan gurami pesanan saya sendiri sudah datang, maka saya lanjutkan makan dengan ikan gurami bakar. Sambil saya sharing juga ke teman teman lain.

Karena masih banyak, teman saya yang di sebelah menawarkan lagi ikan patinnya. Dia juga ngorder ikan patin dengan bumbu yang sama di dalam bambu.

Menurut saya, sebenarnya yang bikin enak adalah bumbunya. Ikannya sih biasa saja, jadi saya ambil bagian yang dekat ekornya dimana bumbunya kelihatan tebal dan menumpuk. Saya ambil sesendok dan pindahkan ke piring saya.

Oooh!. Saya baru nyadar ikan patin ini ada banyak durinya juga. Duri berupa tulang ikan yang kecil dan tipis. Sebelumnya saya tidak tahu kalau Ikan Patin ini memiliki duri banyak. Terbersit dalam pikiran saya jika duri tertelan dan nyangkut, pasti bakalan repot banget deh. Jadi saya singkirkan durinya dan makan sedikit dagingnya serta bumbunya.

Saat menelan suapan pertama tiba tiba saya sadari, ada duri ikan nyangkut di kerongkongan saya. Waduww!. Kok secepat ini kejadiannya ya?. Baru saja saya bayangkan, tiba tiba saja sudah terjadi dalam hitungan menit atau bahkan mungkin detik. Tulang ikan nyangkut di kerongkongan saya!. Makanya, jangan suka berpikir buruk. Konon otak kita bekerja seperti magnet raksasa. Ia menarik apapun yang kita pikirkan ūüėÄ.

Terus terang saya panik. Berusaha batuk untuk mengeluarkan duri itu. Tapi duri tidak bergerak. Saya rasa dia nancap di pangkal tenggorokan saya. Saya minum teh hangat banyak banyak. Tapi tidak menolong.

Teman teman yang melihat kejadian itu berusaha menolong dan menyarankan makan nasi bulat bulat tanpa dikunyah. Saya ikuti. Tapi tak berhasil. Yang ada saya malah mual mual.

Akhirnya saya ke toilet. Mau melihat di kaca dengan bantuan senter hape. Siapa tahu tulangnya bisa kelihatan dan bisa saya ambil. Ternyata tidak kelihatan apa apa. Saya terus berusaha batuk- batuk dan muntah, siapa tahu tulangnya bisa bergerak keluar. Tapi ternyata tidak bisa. Dia tetap di situ dan sangat sakit. Saya pikir kerongkongan saya mulai terluka sekarang.

Saya kembali ke teman teman saya. Dan coba lagi cara- cara yang disarankan oleh teman teman saya. Banyak – banyakin minum yang panas, telan nasi bulat bulat. Tetap tidak berhasil. Kerongkongan saya makin sakit.

Setelah berembug dengan teman teman, akhirnya saya diantar ke UGD rumah sakit terdekat di Bogor. Perawat dan dokter di sana menerima saya dengan sangat ramah. Menanyakan kasus saya dan mulai pemeriksaan dengan seksama. Tapi dokter UGD tudak menemukan tulang di area kerongkongan yang bisa terlihat. Hanya iritasi dan kemerahan karena luka. Apakah durinya sudah nggak ada? Tapi kok masih terasa mengganjal dan sakit ya?. Mungkin posisi duri ikannya agak turun saja, tapi masih tetap di situ. Dokter UGD cuma bilang, jika besok masih terasa sakit sebaiknya saya ke dokter specialist THT. Dan beruntung banget saya tidak dikasih bayar di UGD bahkan satu rupiahpun tidak. Jadi saya melenggang ke luar dengan penuh terimakasih pada dokter dan perawat UGD rumah sakit itu.

Di hotel saya terus berusaha mendorong tulang ikan itu dengan pisang dan minum banyak banyak. Rasa sakit terus menyerang setiap kali saya menelan ludah atau menengok ke kanan. Leher saya terasa mulai menghangat temperaturnya.

Lelah dengan usaha itu, saya mulai berdoa. Semoga Tuhan meringankan penderitaan saya dan mengangkat keluar duri ikan itu. Oh ya.. sekarang saya baru ingat bahwa tadi sebelum makan, saya lupa berdoa agar apapun yang saya makan menyehatkan tubuh saya dan tidak menjadikan saya sakit.

Saya juga lupa berterimakasih pada ikan patin itu yang telah mengorbankan nyawanya sendiri demi kelangsungan hidup mahluk lain. Yaitu saya. Ooh….maafkan saya ikan.

Siang ini saya ke dokter THT. Entah keajaiban datang dari mana, sementara menunggu dokter tiba-tiba rasa mengganjal di kerongkongan saya hilang. Rasa sakit masih tetap ada, tapi rasa ganjal menusuk itu sudah tak ada. Ooh…saya merasa sangat bersemangat. Semoga tulang itu sudah turun ke usus saya. Dan rasa sakit itu hanya dari luka goresan. Dan setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti, dokterpun mengkonfirmasi bahwa sudah tidak ada lagi benda asing di sekitar tenggorokan saya. Jadi harusnya saya aman.

Terimakasih Tuhan. Atas perlindungan dan keselamatan yang Engkau berikan.

Saya hanya bisa menasihati diri saya sendiri:

1. Berhati- hatilah kalau makan.

2. Kenalilah dengan baik apa yang engkau makan.

3. Berterimakasihlah kepada setiap mahluk yang telah mengorbankan nyawanya demi keberlangsungan hidup kita dan merelakan dirinya menjadi bagian dari tubuh kita sang pemakannya.

4. Berterimakasihlah kepada Tuhan atas makanan yang kita makan. Dan berdoalah semoga makanan ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh kita dan tidak menjadi penyakit.

Advertisements

Get Well Soon!!!

Standard

Get well soonSeorang teman berpamitan pulang lebih cepat dari biasanya. Alasannya karena ia sedang memanggil tukang untuk membongkar pagar rumahnya, sementara tidak ada siapa-siapa di rumah selain mamanya yang sudah sepuh.  Keesokan harinya saya mendapat kabar kalau teman saya itu kakinya bengkak ketiban pagar, sehingga tidak bisa berjalan. Waduuh. Saya tidak bisa membayangkan seberapa parahnya.

Tadi siang ia datang terseok-seok ¬†dengan kaki kanan yang dibebat. Berusaha menahan sakit setiap kali harus menggunakan kaki kanannya itu untuk bertumpu. Miris juga melihatnya. Teman-teman pada mendoakan kesembuhan buat kakinya. Lalu entah bagaimana asal mulanya – saya tidak jelas dari mana ide kreatifnya datang – tiba-tiba pada rame-rame menuliskan doa kesembuhan dan¬† membubuhkan tanda tangan di atas bebat kakinya itu.¬† “Cepat sembuh ya…” atau “Get well soon ya..” atau “Gua doain deh biar kaki lo cepet sembuh…. “. Wah..ada ada saja!. Barangkali demikianlah yang namanya seniman Creative, ¬†walaupun meringis, ia masih tetap bisa bercanda dalam kesakitannya. Wajahnya cerah walaupun kakinya sakit. Saya tertawa geli melihatnya. Tak lama setelahnya, saya melihat ia sudah pulih dan bisa berjalan normal kembali. ¬†Syukurlah.

Walaupun hanya sebuah kejadian kecil,  di kepala saya kejadian itu sekarang mirip seperti sebuah ide cemerlang.

Sakit. Menderita. Kesusahan. Walaupun tidak ada diantara kita yang menginginkannya, sayangnya tanpa bisa dihindari  semua dari kita pernah mengalaminya.  Termasuk saya sendiri.

Saat sakit, adalah saat dimana kita merasa tak berdaya dan membutuhkan pertolongan orang lain. Entah untuk menghilangkan rasa sakit, mengurangi rasa sakit, mengurangi kecemasan hati dan kekhawatiran akibat sakit yang kita derita, atau hanya sekedar untuk menemani kita saja.  Atau mengertiin kalau kita sedang sakit dan mungkin tidak bisa tampil atau berkreatifitas dengan optimal seperti saat kita sehat. Demikian juga saat kita menderita dan kesusahan karena tertimpa masalah. Entah masalah rumah tangga, masalah keluarga, masalah asmara, masalah pertemanan,  masalah keuangan, masalah pekerjaan dan sebagainya.  Seringkali membuat kita merasa tak berdaya. Kita merasa sedih dan cenderung menutup diri serta larut dalam kesedihan kita.

Sebenarnya jika dipikir-pikir, membiarkan diri berlama-lama dalam kesedihan tidak ada gunanya juga. Toh kesembuhan dan perbaikan tidak akan terjadi begitu saja. Dalam kebanyakan kasus, proses pemulihan dan kebangkitan semangat lagi biasanya muncul agak lama, setelah kita berhasil menerima kenyataan dan menumbuhkan tekad diri untuk melakukan perbaikan.  Tapi apakah ada hal yang bisa membantu mengakselerasi proses penyembuhan dan  pembangkitan semangat itu lagi?

Saya pikir salah satu jawabannya dimiliki oleh teman saya itu. Yaitu hadapi kesakitan, penderitaan ataupun kesusahan dengan hati riang. Hah?! Kelihatannya agak tidak nyambung ya? Bagaimana bisa orang sedang sakit, sedang susah atau menderita kok disuruh riang? Imposibble lah rasanya ya..

Ya. Sepintas lalu kedengarannya tidak masuk akal, karena orang sedang sakit atau susah biasanya pasti bersedih dan murung.  Tapi sebenarnya ketika pikiran sedang kusut, sulit bagi kita untuk mencari dan menemukan ide-ide baru bagi pemecahan masalah yang kita hadapi. Sebaliknya jika hati senang, tubuh kita memproduksi hormon serotonin dengan baik membuat kita merasa lebih nyaman dan mudah berkonsentrasi mencari ide-ide baru untuk memecahkan masalah yang kita hadapi dan bahkan sekaligus mempercepat proses penyembuhan.

Jadi idenya adalah lakukan hal-hal yang membuat kita tertawa, senang dan bahagia setiap kali kita sedang sakit, mengalami kesusahan ataupun penderitaan.  Bagaimana jika kita tidak punya ide yang bisa membuat kita tertawa senang? Barangkali kita bisa mulai dengan mencoba mengingat-ingat hal yang pernah membuat hati kita bahagia. Mengingat sesuatu yang pernah membahagiakan hati juga lumayan membantu tubuh mengeluarkan hormon serotonin yang membantu proses penyembuhan lebih cepat dan semangat kita membaik kembali.

Demikian juga kalau kita punya teman, saudara atau keluarga yang sedang sakit, kesusahan atau sedang menderita, tidak ada salahnya juga kita membantu memberikan penghiburan.

Selamat berakhir pekan teman-teman. Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan berbahagia.  Jikapun ada yang sedang sakit saat ini, semoga cepat sembuh.

 

 

 

Keladi Dan Tentang Rasa Nikmat.

Standard

tales2Gara-gara berat badan yang berlebihan, saya mulai mendapat sedikit gangguan kesehatan. Hasil lab menunjukkan ada indikasi kesehatan yang kurang baik. Jika tidak cepat-cepat dicegah, takutnya nanti menjadi masalah serius. Saya disarankan untuk berusaha mengurangi berat badan minimal 3 kg per bulan selagi masih dini. Saya mencoba diet. Ternyata sangat sulit. Mungkin karena tidak tahu caranya yang tepat, sudah setengah mati rasanya kelaparan…eh berat badan saya hanya bisa turun 1.8 kg dalam sebulan. Sama sekali tidak sukses. Hasil lab sayapun tidak menunjukkan perkembangan yang membaik. ¬†Dokter menganggap saya tidak serius menangani masalah saya. Untungnya beliau kepikiran untuk merujuk saya ¬†ke dokter lain yang ahli gizi.

Dokter itu memberi saran bagaimana mengatur pola makan yang tepat dengan memperhatikan asupan karbohydrat, protein, vitamin dan mineral dengan baik, dari makanan sehari-hari. Saya mengikuti sarannya dengan senang hati.  Karena sama sekali tidak merasa kelaparan. Malah rasanya makan lebih banyak dan lebih sering dari biasanya. Hanya porsi dari jenis makanannya saja yang berubah.  Saya juga berolah raga pagi selama 1/2 jam setiap hari.

Hasilnya sungguh menakjubkan! Berat badan saya turun 4.8kg dalam 4 minggu. Walaupun masih gendut juga sih. Hasil pemeriksaan lab pun menunjukkan kemajuan yang sangat luar biasa. Darah saya mulai lebih bersih. Cholesterol saya normal, Gula saya normal, ureum saya juga normal. Saya terbebas dari nyaris semua indikasi buruk itu. Nah sekarang yang lebih penting bagi saya adalah bagaimana saya bisa menjaga dan mempertahankan ini semua ke depannya.

Suatu pagi saya bertemu dengan seorang teman lama. Kamipun mengobrol seputaran kesehatan kami masing-masing. Dan saya cerita dong soal perubahan pola makan saya dan hasilnya yang menakjubkan itu. Tentang betapa hati-hatinya saya sekarang mengkonsumsi sesuatu. Semuanya saya timbang dan takar terlebih dahulu. Contohnya karbohydrat. Makan siang saya tetap makan nasi, namun hanya sekitar 100g. Pagi dan malamnya, sumber karbohydrat saya ambil dari kentang, jagung, singkong, labu, keladi, ubi dan sebagainya. Tapi yang lebih sering adalah keladi alias talas, karena itu yang banyak tersedia di tukang sayur.

Ooh..talas. Kan rasanya sangat tawar” pendapat teman saya. Ya. Saya mengiyakan. Memang sangat tawar. “Dan juga nggak enak kan?” tanyanya. Saya agak tidak sependapat dengan pernyataan keduanya. “Hm..tapi menurut saya, lama -lama keladi kampung itu terasa sangat enak” kata saya. Teman saya tertawa.”Kok bisa sih lama-lama menjadi sangat enak?” Saya tidak menjawab lagi, tapi memikirkan kata-katanya itu.

Jika pernyataan ini saya dengar beberapa waktu yang lalu, barangkali saya juga setuju, kalau keladi yang tawar rasanya dan kadang malah bikin tenggorokan gatal itu, memang relatif agak kurang enak dikonsumsi ketimbang makanan lain. Tapi sejak menjalani diet ini, sekarang saya sangat menyukai rasa keladi itu. Apa yang menyebabkan terjadinya “shifting rasa” dari kurang enak menjadi enak? Bahkan sangat enak?¬† Darimana persepsi tentang rasa makanan itu datang?

Ketika kita dewasa dan bekerja, kita memiliki cukup uang untuk mencoba berbagai jenis makanan. Cicip ini cicip itu. Semuanya kita coba. Yang enak-enak. Yang gurih, asin, sedap, manis, segar dan sebagainya. Dari seluruh nusantara, bahkan berbagai jenis masakan negara lainpun kita jajal.  Kita meningkatkan standard rasa enak kita menjadi lebih tinggi. Apa yang dulu enak, sekarang terasa kurang enak, karena kita sudah sering memakannya dan bosan karenanya.  Bukan karena rasa makanan itu sendiri yang berubah. Juga karena kita sudah mengenal rasa enak yang lain dari jenis makanan lain. Kita menenal berbagai jenis bumbu dan rasa yang lain. Sehingga kita mempunyai pembanding yang banyak. Makanan kampung kita pun harus berkompetisi dengan makanan lain di lidah kita.  Sehingga bisa jadi, makanan kampung kita yang sederhana menjadi tersingkir dari daftar makanan favorit kita.

Ada banyak pilihan makanan, dan ada cukup uang untuk membeli. Kombinasi itu membuat kita cenderung memilih makanan-makanan yang kita sukai saja, dan menyingkirkan yang tidak kita sukai. Bukan memilih apa yang cocok untuk kesehatan kita.

Ketika kita sakit, makanan yang boleh kita konsumsi menjadi terbatas. Tanpa gula, tanpa garam, tanpa kelapa ataupun bumbu dan hiasan lainnya. Umbi-umbian dikukus/direbus, sayuran dikukus, buah-buahan segar seperti apa adanya yang disajikan oleh alam kepada kita. Kita hanya diberi dua pilihan: Nikmati apa  adanya seperti yang tersaji atau tidak usah menikmatinya.

Jika kita memilih untuk menikmatinya, saat itulah kita menjadi lebih menghargai cita rasa asli dari makanan yang sudah dianugerahkan sehat olehNYA untuk kita konsumsi. Tiba-tiba keladi kukus yang tadinya terasa tawar dan agak gatal di tenggorokan, sekarang terasa sangat enak di lidah. Karena sekarang kita fokus hanya menikmati apa yang tersajikan di depan mata kita saja.  Tuhan mengembalikan kesadaran kita untuk berterimakasih pada makanan yang disediakan oleh alam.

Saya membayangkan, jika suatu saat saya tidak lagi mampu bekerja dan tidak lagi memiliki uang, tentu pilihan saya menjadi sangat terbatas. Ketika kita miskin, kita tidak punya pilihan apa-apa untuk kita makan. Apapun yang bisa kita dapatkan dengan cara yang baik untuk bisa dimakan hari ini adalah nikmat yang tak terkira. Kita menikmati suap demi suap makanan sederhana yang kita miliki. Kita mensyukuri teguk demi teguk air bersih yang mampu kita dapatkan. Semuanya terasa enak dan nikmat.

Jadi rasa sebenarnya adalah masalah persepsi yang ditimbulkan oleh lidah kita yang dicampuri oleh sikap kita dalam menghargai makanan tertentu pada suatu kondisi tertentu. Bukan soal  singkong atau keju. Dua-duanya sama nikmatnya ketika kita mampu berterimakasih dan bersyukur. Dan dua-duanya sama tidak enaknya ketika kita tak mampu berterimakasih dan bersyukur.

 

 

 

Berkawan Dengan Air.

Standard

Ada hal yang paling saya takuti saat melakukan perjalanan jauh. Yaitu Sakit. Terutama jika perjalanan itu harus saya lakukan seorang diri. Walaupun pada akhirnya di tempat tujuan saya pasti akan ditemani oleh orang lain, namun tentu saja menjadi tidak mengenakkan jika kita harus membebani teman dengan keluhan kita. Oleh karenanya, saya benar-benar takut sakit. Read the rest of this entry

Cerita Seputar HIV Infections.

Standard

AIDS(Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang disebabkan oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan salah satu infeksiberbahaya menular yang  sangat ditakuti belakangan ini, terutama karena peranannya dalam melemahkan system pertahanan dan kekebalan tubuh manusia. Sehingga penderita menjadi sangat rentan akan serangan berbagai penyakit. Bahkan flue biasa pun akan menjadi masalah yang sangat besar bagi orang yang sudah terinfeksi. AIDS seakan menghantui masyarakat kita akibat penyebarannya yang diam-diam,  namun cukup cepat seperti hantu pembunuh (silent killer). Saya membayangkannya mirip dementor dari Azkaban dalam  cerita Harry Potter. Begitu mengerikan dan menakutkannya bagi masyarakat awam. Namun, jika kita mendapatkan informasi yang cukup dan mengenalnya dengan lebih baik, tentu ketakutan itu tidak akan sedemikian besarnya. Read the rest of this entry

Tentang Kepedulian Terhadap Sesama.

Standard

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis di Villa Bintaro Regency.

‚ÄúToo often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around.‚ÄĚ ¬†(Leo F. Buscaglia).


Kesibukan yang super padat  agar bisa bertahan dari kehiruk-pikukan metropolitan, membuat kita terkadang merasa penat, lelah dan tertekan.  Jam kerja yang panjang, kemacetan yang semakin hari semakin tak terkendali, tekanan pekerjaan dan berbagai masalah hidup, semuanya terasa ikut memacu kehidupan menjadi lebih soliter, lebih individualistis, gersang dan bahkan mulai kehilangan sisi humanisnya. Read the rest of this entry