Tag Archives: Kesenian

Ondel-Ondel,

Standard

Jalur saya dari kantor ke rumah, adalah jalur perkampungan Betawi. Dengan demikian, saya menjadi beruntung karena hampir setiap malam sepulang kerja ada saja Ondel-Ondel yang saya lihat melintas di jalur itu.

Malam kemarin juga. Saat hendak mengisi bensin, saya lihat ada Ondel-Ondel sedang menari-nari di pomp bensin. Karena sangat dekat, saya berniat untuk menonton dan sekalian ngasih sumbangan. Sayapun turun dan mulai memotret sang Ondel-Ondel. Niat saya juga ingin merekam Ondel – Ondel ini. Walaupun gerakannya sederhana dan tanpa pakem, hanya maju, goyang ke kiri, goyang ke kanan atau beputar putar, tarian Ondel-Ondel ini cukup jenaka juga.

Baru saja sempat sekali menjepret sang Ondel-Ondel itu, seorang perempuan berlari sambil menunjukkan kaleng sambil memberi kode kepada saya agar saya segera memberi sumbangan uang.

Saya melihat ke arah perempuan itu dan berpikir, mungkin ini istri dari pria yang berada di balik Ondel Ondel itu. Dan ia setia ikut suaminya berjalan jauh untuk mencari nafkah.

“Ah!. Saya nggak mau ngasih uang sekarang, ntar kalau saya kasih uang pasti Ondel-Ondelnya langsung kabur, Mbak. Wong saya mau memvideokan Ondel Ondel ini” kata saya.

Si Mbak tertawa mendengar komentar saya. Lalu ia memanggil sang Ondel-Ondel dan menyuruhnya menari di dekat saya.

Waah… lumayan leluasa saya memotret dan memvideokannya. Karena sang Ondel Ondel sekarang mau menari dengan baik. Bukan menari ala kadarnya dan kabur.

Setelah cukup, lalu saya memberikan sumbangan kepada si Mbak. Dia tersenyum. Dan betul saja, begitu uangnya diterima, mereka langsung pergi. Berjalan lagi.

Saya tertawa. Nah inilah yang seharusnya disadari oleh teman teman seniman jalanan kita untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

Mengamen di jalanan, menurut saya adalah sebuah pilihan profesi juga. Akan tetapi, untuk meningkatkan minat orang menonton dan mengapresiasi serta membayar, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan:

1/. para seniman jalanan meningkatkan kwalitas pertunjukannya agar lebih baik dan menarik, misalnya dengan menciptakan gerakan baru, melatih gerakan dan lebih menyrimbangkan dengan musik yang dipilih.

2/. Melakukan pertunjukan dengan bersungguh sungguh hingga selesai, barulah meminta sumbangan/ bayaran dari masyarakat yang menonton. Jangan hanya menari ala kadarnya, lalu buru buru minta sumbangan dan segera kabur setelah uang diberi.

Kebudayaan Daerah Dan Alih Generasinya.

Standard

 

Sekaha-Barong-Truna-Bangbang-alih-generasi.

Sekaha-Barong-Truna-Bangbang-alih-generasi.

Seorang sahabat saya, Dewa Gede Putra Adnyana yang sehari harinya adalah  seorang Arsitek sekaligus Engineer di Treetop Adventure yang merancang design dan mengawasi tempat-tempat wisata Outbound di daerah-daerah di Indonesia bahkan hingga ke mancanegara, kerap kali mengup-load foto-foto anak-anak yang sedang berlatih memainkan alat-alat musik traditional Bali. Rupanya di tengah kesibukannya itu, ia masih sempat-sempatnya mengabdikan waktunya untuk masyarakat sekitar dengan aktif membina kelompok kesenian anak-anak  ini.

Setiap kali ia berada di Bali, sesibuk apapun sudah dipastikan ia akan meluangkan waktunya beberapa saat dengan kelompok kesenian anak-anak ini di kampungnya di desa Bangbang, kecamatan Tembuku di Bangli. Berusaha ikut membantu melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan traditional daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.  Bahkan yang sering saya lihat, seni musik yang dimainkannya itu adalah dari jenis yang sudah langka seperti  Gambang, Selonding, Caruk – yang merupakan Bebali yang hampir punah (Bebali = Seni Tradisi pelengkap upacara), yang  jika tidak ada yang melestarikannya sekarang tentu akan benar-benar punah. Itu yang membuat kami teman-temannya merasa salut padanya.

Pertama tentunya karena  di jaman sekarang ini, tidak banyak anak-anak yang punya minat pada kesenian traditional. Mereka lebih suka membuang waktunya dengan bermain games online. Membuat anak-anak hanya sekedar “bersedia”untuk belajar kesenian traditional saja sudah sulit. Apalagi untuk membuat mereka menjadi tertarik dan bangga akan kesenian daerahnya- tentu jauh lebih sulit lagi. Membutuhkan effort yang tidak mudah. Slonding cilik yg menggelitik(1) Kedua, karena  tidak banyak orang dewasa yang perduli akan keberlangsungan kesenian dan kebudayaan daerahnya, sehingga tidak ada effort untuk meng’estafet’kannya kepada generasi penerusnya. Bagaimana mau meneruskan, wong ia sendiri juga tidak mengerti. Jadi melihat ia begitu kami semua merasa bangga dengan apa yang ia lakukan.

Suatu kali ia mengupload sebuah gambar pementasan  sekeha Gong anak-anak itu.  Ia bertanya kepada kami. Ada element kegembiraan dan kegelisahan di sana. Ada yang bisa menebak, apa itu? katanya. Saya pikir ia ia ingin mengatakan bahwa diantara kegembiraan anak-anak yang akan tampil, ada kegelisahan dan kehawatiran akan basah kuyup, karena photo itu kelihatannya diambil saat mendung menggelayut di langit.  Sebentar lagi tentu akan turun hujan, pikir saya. Ternyata bukan. Bukan itu yang menjadi kegelisahannya. Inilah gamelan Caruk pelengkap upacara selain Slonding...yg membanggakan adalah generasi muda Bangbang(1) Ia kemudian menceritakan kegalauan hatinya.  Sejumput pertanyaan akan bagaimana kelak nasib kelompok kesenian anak-anak ini dengan berlalunya waktu. Mereka tentu akan sekolah dan bekerja mengikuti alur nasibnya sendiri-sendiri dan mungkin akan keluar desa dan sukses di tempat lain. Berpencar dan tak semuanya bisa kembali ke desa. Saat itu tentu apa yang ia bina tidak akan terlihat lagi bentuknya. Karena masa depan anak-anak ini bukan hanya Sekeha Gong. Dewa Bali Treetop Saya terhenyak dengan keprihatinannya itu. Teman-teman memberikan pendapatnya masing-masing. Ada yang menenangkan. Ada yang memberi masukan. Semuanya sangat berguna.  Kesenian, sebagai salah satu bentuk hasil pemikiran dan perasaan manusia tentunya hanya akan hidup jika masyarakatnya menjalaninya. Dan untuk menjalaninya perlu kesenangan hati, minat dan semangat. Karena pada prinsipnya,kesenian adalah ungkapan hati. Jika kita senang melakukannya maka sudah dipastikan akan menghasilkan bentuk karya yang terindah. Namun jika hati kita tidak di situ, dan kita melakukannya hanya karena kita harus begitu..atau dengan motivasi lain, tentu karya yang dihasilkanpun menjadi tanggung nilainya. Kurang sempurna.

Akan halnya anak-anak – saya rasa kita sebagai orangtua hanya perlu memberinya kesempatan  dan wadah untuk menumbuhkan minat, rasa cinta dan semangatnya untuk berkesenian. Jika itu sudah kita lakukan, selanjutnya terserah masing-masing anak. Karena pada kenyataannya,  jika minat dan cinta akan kesenian itu memang sudah tumbuh,maka di manapun dan kapanpun orang akan berusaha mencari jalan untuk mengekspresikannya. Anak-anak itu akan pulang pada keseniannya, walau kemanapun perjalanan hidup membawanya. Setidaknya teman saya ini sudah melakukan sesuatu.

Jikalaupun mereka kelak tidak kembali berkesenian, mungkin saja anak-anak itu tetap bisa memanfaatkan dan mengimplementasikan pengalamannya dalam bentuk lain. Karena pengalaman berkesenian juga sangat membantu anak-anak mengasah kemampuannya untuk percaya diri dan berani tampil. Juga menyeimbangkan kemampuan emotional dan kepekaan hati.  Tentu saja kelak akan berguna dalam menjalankan tugas ke depannya entah itu sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat biasa.

Generasi muda akan tumbuh dan tunas baru akan susul menyusul menggantikan.Selama kita konsisten melakukan peralihan generasi, semoga kebudayaan dan kesenian daerah kita tidak punah.

Bravo Dewa Putra Adnyana! Semoga sukses dengan apa yang dilakukan untuk masyarakat. Semoga semakin banyak lagi orang orang yang mau berbuat sesuatu untuk mengembangkan kebudayaan daerahnya masing-masing. Walaupun kecil.