Tag Archives: Kids Education

Menonton Andri Concert Di Indonesia Young Musician Performance 2015.

Standard

Indonesia Young Musician Performance 2015 - AndriSaya hampir melupakan moment ini untuk ditulis. Padahal ini moment yang penting buat anak saya yang besar. Dan tentunya moment yang sangat penting juga bagi saya sebagai seorang Ibu yang selalu mengharapkan pertumbuhan positif anaknya. Jadi nggak apa apa ya..  agak telat sedikit , tapi tetap saya tulis  sekarang di sini buat catatan bagi saya sendiri dan anak saya tentang apa yang telah ia lakukan dalam kehidupan masa kecilnya.

Ini ceritanya Sabtu, 19 September yang lalu. Andri Titan Yade, anak saya yang besar mendaftarkan diri untuk ikut Concert Bersama Nasional  ini yang diselenggarakan  oleh Majalah Stacatto di Yamaha Concert Hall Jakarta. Kebetulan kakak saya sedang ada di Jakarta juga. Jadi sekalianlah saya ajak ikut menonton keponakannya konser.

Saya senang melihat anak-anak bisa tampil dalam panggung seperti ini, di mana mereka bisa bermain dengan optimal tanpa perasaan tertekan. Karena panggung ini bukan panggung kompetisi. Jadi mereka bisa mengambil benefits dari performance dengan baik, sehingga bisa lebih berani dan percaya diri menghadapi sorotan penonton. Itulah sebabnya, walaupun kali ini anak saya sebenarnya kurang punya waktu untuk latihan – berhubung jam sekolahnya sekarang sangat panjang – saya tetap mengijinkannya untuk ikut concert. Saya pikir nggak apa-apalah jika misalnya ia kurang hapal atau ada salah-salah sedikit karena kurang latihan. Yang penting berani tampil saja dulu, menurut saya itu sudah bagus. Jadi saya harus memberikannya dukungan.

Anak saya masuk di umur yang sesuai untuknya. Walaupun karena postur tubuhnya yang sangat bongsor, rasanya penonton hari itu sulit untuk mempercayai jika umurnya baru mau akan masuk 15 tahun.

Indonesia Young Musician Performance 2015

Andri bermain Solo Piano membawakan “Reverie” yang artinya a state of dreamy meditation karya composer Perancis Claude-Achille Debussy. Bagi saya yang awam, musik ini terdengar indah. Tapi belakangan saya mendengar komentar dari penyelenggara yang mengulas permainan anak saya, bahwa karya-karya Debussy, termasuk Reverie ternyata adalah karya-karya yang terkenal sangat sulit dimainkan. Sangat terkenal karena sensory content-nya dan sering menggunakan atonality.  Itulah sebabnya menurut penyelenggara, mengapa tidak banyak musician yang percaya diri memainkan karya composer itu. Dan saya mendengar penyelenggara mengucapkan terimakasih kepada anak saya atas keberaniannya memainkan karya itu di panggung Indonesia Young Musician Performance 2015. Wah.. terharu juga saya mendengar ulasan itu.

Menurut saya,  pengalaman manggung sangat penting artinya bagi perkembangan seorang anak. Karena dengan melatih anak berada di atas manggung, di bawah sorotan cahaya lampu dan tatapan mata penonton setidaknya anak akan terbiasa dengan keadaan ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih percaya diri saat kelak harus menghadapi orang banyak.

Selain itu, menurut saya memainkan musik akan membantu melatih kepekaan jiwa anak.  Mengisi jiwa anak dengan keindahan dan keharmonisan akan membantunya mengidentifikasi dan memilah hal-hal yang baik dan harmonis dalam hidup dari hal-hal yang yang kurang baik dan kurang harmonis.

Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap”

= Kahlil Gibran =

 

 

 

A for Average, B for Baaaaaaad…..

Standard

Asian ParentsSuatu malam, saya mengobrol dengan suami saya sambil melihat bulan purnama sedang mengambang.  Kedua anak saya sedang di kamar. Entah mereka bermain games atau menonton. Sambil tertawa-tawa cekikikan mereka memanggil-manggil  “Mama! Mama! Sini deh….” katanya. Saya tidak segera beringsut masuk.

Akhirnya anak saya yang kecil menyusul saya ke halaman dan mengajak saya masuk. Di kamar anak saya yang besar sudah menyiapkan  sebuah video di youtube untuk saya lihat. “Mommy, you have to see this… ” katanya sambil tersenyum bandel, diikuti oleh adiknya yang cekakak-cekikik.  Sebuah video yang berjudul ” Asian Immigrant Parents vs Western Parents”.  Mereka memilihkan dan memutarnya untuk saya. Nah..sekarang saya tahu siapa otaknya. Sayapun ikut menonton.

Career Choice Western Parents bilang : mereka mengatakan mendukung apapun pilihan career anaknya kelak, mau itu jadi Bill Gate, mau jadi President..intinya mereka tetap bangga akan anaknya. Asian parents juga serupa, membebaskan anaknya untuk memilih menjadi apa saja, Engineer, Docter, Lawyer atau apapun.

Kelihatannya tak terlalu jauh nih bedanya..Saya menyimak dengan baik apa yang dikatakan.

Falling In Love – Western parents umumnya ikut senang jika anaknya menyampaikan kalau ia falling in love dan malahan bertanya, kaya apa sih orangnya? Cakep nggak?. Sementara Asian Parents marah-marah jika anaknya mengatakan ia falling in love pada seseorang ” You think you in love? You crazy! You are too young..”ia menyarankan agar anaknya tetap fokus pada sekolah dulu, belajar keras, dapatkan pekerjaan dulu baru menikah.

Saya tetap menonton.

Sleep overs  – Western parents umumnya membolehkan anaknya menginap dan berharap agar anaknya bisa menikmati acara menginap di rumah orang lain. Tapi Asian parents biasanya tidak mengijinkan dan khawatir mereka menyusahkan orang lain. Toh juga mereka punya tempat tidur sendiri yang bagus,  ngapain harus menginap di rumah orang lain..

Sports – Western parents sangat mendukung anakanya aktif dalam Sport, bahkan bangga. jika menjadi team Sepakbola. Asian parents menganggap ikut Sports hanya membuang-buang waktu saja.Kalau memang ingin ikut Club, ikut saja Klub matematika…

Aah… Nggak seperti itulah!.  “Kan Mama juga sangat mendukung kalian untuk aktif Sport. Oke aja kan kalau mau ikut klub sepakbola atau mau ikut Merpati Putih. Juga nggak keberatan kalau memang mau nginep di rumah teman” kata saya berkeberatan jika anak-anak menganggap saya typical Asian parents yang seperti itu.  “Tunggu!. Mama harus denger yang berikutnya”saran anak saya.  Sayapun duduk kembali.

Grades –  Jika mendapat nilai B+ di sekolah, Western Parents akan tetap bangga atas pencapaian anaknya. Sedangkan bagi Asian parents nilai B+ itu sungguh sangat tidak membanggakan. You know what? B is Baaaaaadddd… 

Ha ha ha… Saya nyengir mendengar itu. Anak-anak memperhatikan reaksi saya.  “Nah! itu Mama banget!!!”  kata anak saya. Lalu kedua-duanya mulai membully saya. Mengatakan bahwa saya sangatlah typical Asian Parents yang menetapkan Standard terlalu tinggi untuk nilai yang harus mereka capai di Sekolah. “Bagi Mama, A is  for Average! And B is for Baaaaaaddddd – just like Asian Mom in this video!” kata anak saya yang besar meledek sambil tertawa-tawa. Rupanya ia bermaksud melakukan protes dengan memanfaatkan Video itu sehingga ia tidak perlu bersusah payah lagi menjelaskan kepada saya.  Ha ha.. cerdik juga caranya.

Video itu  menggambarkan gaya orangtua dalam mendidik anaknya. Berbeda beda. Ada typical Western Parents dan Asia Parents.  Dan  saya pikir gaya saya mendidik anak-anak lebih mirip Western Parents ketimbang Asian Parents dalam kebanyakan hal. Hanya dalam masalah  Grades saja barangkali saya lebih mirip Asian Parents. Anak-anak setuju.

Saya lalu menjelaskan kepada anak saya. Sangat wajar orangtua mengharapkan anaknya berprestasi dengan baik di Sekolah.  Itulah sebabnya mengapa mereka selalu mendorong dan mendukung anaknya untuk mencapainya. Tapi kalau urusan target, sebenarnya mereka sendiri yang bisa mengatur. Bukan harus dari saya.

Saya mengajak mereka berpikir sejenak. “Lupakan harapan Mama. Mama tidak menetapkan target. Coba kalau kalian sendiri berpikir. Kalian maunya bagaimana?” tanya saya menanyakan, apa sebenarnya yang mereka inginkan.  Apakah mereka tertarik untukmenjadi anak yang berprestasi atau tidak, jika seandainya saya tidak mendorong mereka.

Ketika ditanya seperti itu, anak saya mengatakan mereka ingin menjadi murid yang terbaik, terlepas apakah saya memintanya begitu atau tidak. Ya, OK – kata saya. Kalau ingin menjadi yang terbaik, caranya ya kita harus mendapatkan  score terbaik untuk setiap mata pelajaran di sekolah, plus prestasi yang juga membanggakan di luar  mata pelajaran. Anak saya setuju. “Kalau yang namanya score terbaik itu berapa?” tanya saya.  ” Ya..nilai A. atau 100” jawab anak saya. “Nah! Itu kalian sendiri yang menjawab. Bukan B+ atau 90 atau 80 kan?. Tapi A. Atau 100. “tanya saya sambil menegaskan. Anak anak setuju dan tertawa. “Bukan Mama lho yang bilang begitu. Kalian sendiri” kata saya. Anak saya mengangguk. “Jadi target A itu adalah dari diri kalian sendiri, bukan dari mama“kata saya mengakhiri. Anak saya terdiam dan tidak mempermasalahkan video itu lagi.

Seketika saya menyadari bahwa betapa pentingnya saya membuat “Target perolehan nilai mata pelajaran yang mereka harus capai” sebagai target yang mereka Set sendiri, usahakan sendiri dan evaluasi sendiri. Bukan target dari saya. Sehingga mereka merasa Target itu memang miliknya. Mereka yang akan mengejarnya dan mencapainya. Bukan karena saya yang menetapkan.

Saya bukan penentu hidup mereka. Sebagai orangtua saya hanya bertugas sebagai Coach dalam kehidupan mereka.

” ….You are the bows from which your children as living arrows are sent forth. The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
 Let your bending in the archer’s hand be for gladness; For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable”  – Kahli Gibran on Children –

 

Mencerna Ilmu, Mencerna Makanan.

Standard

Piza

Seorang teman anak saya pernah bercerita tentang kesulitannya mendapat nilai yang baik di sekolah. Saya mendengarkan cerita dan keluhannya dengan baik. Lalu saya memberi saran agar berusaha lebih memperhatikan penjelasan guru dengan lebih baik. Dan jangan pernah meninggalkan ruangan kelas, sebelum mengerti apa yang diajarkan oleh guru di hari itu juga. Karena menurut saya, pemahaman yang baik akan tersimpan lama di memory kepala kita ketimbang hapalan yang baik yang tersimpan sementara di otak kita.

Jika kita paham,pasti kita akan bisa menjelaskan kembali. Tapi jika kita tidak paham dan hanya mengandalkan diri pada hapalan, belum tentu kita bisa menjelaskannya kembali dengan baik.Jadi pertama, pastikan kalau kita mengerti dulu,baru nanti kita hapalkan detailnya.” saran saya. Itulah sebabnya mengapa ada banyak anak-anak yang cerdas, bahkan malas belajar namun skor-nya di Sekolah selalu tinggi.Karena ia paham dengan baik. Sebaliknya ada banyak anak-anak yang sangat rajin namun skor-nya tidak mampu mengimbangi temannya yang cerdas namun pemalas itu. Mengapa?karena ia tidak memahami permasalahannya.Ia hanya rajin menghapal. “Ya! Itulah masalahnya Tante…aku sering tidak langsung paham apa yang disampaikan guru. Rasanya sulit sekali mencerna” keluhnya.

Walaupun obrolan dengan anak itu sangat pendek, namun saya terhenti sejenak untuk memikirkannya. Saya menyukai anak itu dan keterbukaannya.Jadi sungguh tidak keberatan untuk ikut memikirkan hal yang dianggapnya menjadi masalah.

Jadi, sebenarnya masalahnya adalah bagaimana mencerna dengan baik. Mencerna ilmu.Bukan mencerna makanan!. Tapi urusan cerna mencerna pada prinsipnya sama saja bukan? Jika makanan adalah untuk seluruh tubuh kita, maka ilmu adalah makanan untuk otak kita. Menurut saya prinsipnya sih sami mawon.

Yuk coba kita lihat bagaimana kita mencerna makanan dengan baik…

Semua tentu familiar dengan konsep makanan harus dikunyah dengan baik agar mudah dicerna oleh tubuh kita. Bahkan orangtua atau guru kita di sekolah mengajarkan agar sebaiknya kita mengunyah makanan 24x kunyahan sebelum menelannya. Maksudnya tentu agar makanan yang kita telan itu sudah benar-benar hancur dan menjadi serpihan kecil oleh gigi dan geraham kita,sehingga usus kita tidak perlu lagi bekerja keras karenanya. Karena tugas usus, bukanlah untuk menyobek atau memotong makanan menjadi kecil-kecil. Selain itu,dengan mengunyah makanan lebih sering sebeum ditelan, juga memberikan kesempatan kepada enzym-enzym  yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, yakni merubah amylum menjadi glukosa (enzym ptialin) maupun sakarida yang lebih sederhana (enzym amilase). Nah kemudian hasil kerjasama gigi dan kelenjar ludah inilah yang kita telan untuk dicerna lebih jauh di dalam usus kita, sebelum semua intisarinya siap diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh pembuluh darah.

Kalau kita perhatikan,bagaimana kita bisa mencerna dengan baik di tahap pertama,tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memberikan kesempatan untuk gigi melakukannya berkali-kali (24 x mengunyah) dan memberi waktu untuk enzym-enzym itu bekerja. Jadi 2 kata kuncinya adalah waktu (time) dan berulang-ulang (repetition).  Ya..time & repetition!.

Saya pikir, dua hal ini sangat applicable dalam cara pembelajaran guru dan murid, untuk membantu murid agar lebih mudah mencerna ilmu yang diajarkan. Memberikan penjelasan yang berulang kepada murid. Jika sekali dijelaskan belum mengerti, barangkali penjelasan ke dua akan lebih mudah dipahami? Demikian seterusnya? Ibarat mengunyah, 24 x baru sempurna.  Atau setidaknya memberikan contoh-contoh yang beragam agar murid menangkap inti pelajarannya dengan lebih mudah.

Jika guru tidak melakukannya, anak juga sebenarnya bisa mengacungkan tangan dan mengatakan dengan terusterang bahwa ia belum paham dan meminta tolong guru untuk menjelaskannya kembali hingga ia benar-benar paham.

Penejelasan yang berkali-kali juga memberikan waktu bagi otak si anak untuk mencerna apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh guru.Informasi yang didapat akan disangkutkan ke sel otaknya satu per satu. Sehingga jika suatu saat nanti harus dikeluarkkan kembali saat Ulangan Umum maupun Ujian, pemahaman itu masih tersimpan dengan baik dan sangat mudah untuk dikeluarkan kembali untuk menjawab soal-soal ujian.

Interpretasi Yang Membantu.

Standard

Anak saya sedang bermain di saluran air kolam di halaman. “Ma,lihat!. Ini anak kodok apa anak ikan? “ serunya memperlihatkan beberapa ekor mahluk air kecil  berukuran beberapa mili yang berenang di dalam gelas plastik bekas air mineral. “Oh, itu anak ikan” kata saya. “Mengapa bukan anak kodok?” tanyanya memastikan bahwa jawaban saya benar. “Anak kodok bentuknya bulat berekor dengan warna lebih gelap.. Anak ikan lebih langsing dan warnanya biasanya lebih terang. Mudah dibedakan.Yang agak mirip adalah antara anak kodok dengan anak lele. Itupun masih bisa dibedakan dari ekornya.Ekor anak kodok lebih kaku sedangkan ekor anak lele lebih gemulai. Selain itu anak lele juga sudah punya calon kumis” Jelas saya.  Sambil mengudek-udek ke dalam kolam mencoba menemukan anak kodok  atau anak lele yang saya maksudkan sebagai pembuktian. Anak saya memandang saya dengan heran. “Darimana mama tahu?” tanyanya. Saya tertawa. Read the rest of this entry