Tag Archives: Kintamani

Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Standard
Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Jika pulang ke Bali, biasanya saya hanya tinggal di rumah orang tua saya saja di Bangli. Rumah masa kecil yang selalu memberi rasa nyaman. Sesekali saya juga mampir ke rumah ibu saya di Banjar Pande atau ke rumah kakek saya di tepi danau Batur, atau bertemu keluarga ataupun teman yang ngajak saya mampir ke rumahnya. Sangat jarang kami pergi ke tempat wisata. Sebagai akibat, anak-anak saya tidak begitu nyambung jika teman-temannya bercerita tentang tempat- tempat wisata di Bali. “Rumah di Bali kok nggak tahu tempat wisata di Bali?”. Ya…karena kalau di Bali biasanya cuma di rumah saja.

Liburan kali ini saya mengajak anak anak jalan-jalan. Ke mana sajalah, termasuk salah satunya ke Toya Devasya, salah satu tempat wisata air panas di tepi danau Batur di Kintamani. Natural Hotspring!.

Toya Devasya ini bisa kita tempuh kurang lebih dalam 1.5 jam dari Denpasar. Arahnya ke utara, ke Kintamani. Naik teruuus… hingga kita tiba di Penelokan, di tepi kaldera gunung raksasa purba.

Penelokan. Sesuai namanya Penelokan (asal kata dari ” delok” artinya lihat/ tengok; Penelokan = tempat melihat pemandangan), dari sini kita bisa memandang ke dalam kaldera yang di dalamnya terdapat danau Batur dan Gunung Batur yang sungguh sangat indah.

Nah dari sana itu kita menuruni jalan yang ada menuju tepi danau. Tiba di desa Kedisan, kita berbelok ke kiri. Kembali menyusuri jalan sambil melihat-lihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Di kanan adalah danau biru dan bukit bukit yang menghijau. Lalu di sebelah kiri, gunung Batur dengan landscape batu batu lahar gunung berapi. Kira kira limabelas menit perjalanan, tibalah kita di Toya Bungkah, nama tempat di mana Toya Devasya ini berlokasi.

Walaupun sudah agak sore, Toya Devasya tampak ramai. Parkiran hampir penuh dengan kendaraan tamu-tamu yang entah menginap, sekedar makan di restaurant ataupun berenang. Saya dan 5 orang anak keponakanpun masuk ke sana.

Anak-anak dan keponakan yang kecil segera berenang. Ada 6 buah kolam renang di sana. Besar dan kecil. Melihat kolam renang sebanyak itu dan semuanya ramai, saya pikir besar kemungkinan orang-orang datang ke sini memang untuk berwisata air.

Keponakan saya yang lain sibuk hunting foto dan bermain drone di dekat danau.

Saya sendiri dan anak saya yang besar, melihat-lihat pemandangan sekitar. Dari anjungan Kintamani Coffee Housenya saya bisa melihat danau luas yang menghampar berdinding bukit. Di atasnya awan awan putih menutup Gunung Agung di belakangnya. Angin danau berhembus sejuk. Sungguh tenang, damai dan permai di sini. Tempat yang nyaman untuk hanya sekedar menikmati senja, membaca buku, ngopi-ngopi hingga bermain drone.

Kompleks Toya Devasya ini kelihatannya cukup luas. Dan terakhir kali saya kesini barangkali telah lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi penasaran juga, ingin tahu ada fasilitas apa saja di tempat wisata yang lagi naik daun di Danau Batur ini.

Mengikuti rasa ingin tahu, saya dan anak sayapun turun dari anjungan kopi, melihat lihat berkeliling sambil nunggu anak-anak selesai berenang. Kaypooo lah dikit ya ūüėÄ

Persis di bawah anjungan, ada kolam renang yang rupanya lebih banyak diminati oleh wisatawan asing. Patung patung gajah segala rupa menghiasi areal ini termasuk kolam renangnya. Yang menarik adalah, diantara sekian kolam renang yang ada, dua diantaranya berada persis di tepi danau. Memungkinkan kita untuk menikmati pemandangan danau sambil berenang ataupun berendam di air panas.

Tak jauh dari sana saya melihat counter untuk snack dan barbeque. Wah…ini penting, karena biasanya habis berenang renang perut terasa lapar ūüėÄūüėÄūüėÄ. Tapi saya membayangkan tempat ini juga bakalan penting jika kita bikin acara bakar bakaran bersama teman teman ataupun keluarga. Misalnya pas acara malam tahun baru gitu.

Saya berjalan lagi. Rupanya bagi yang ingin menghabiskan malam di tempat indah ini, Toya Devasya juga menyediakan Villa -villa yang dilengkapi dengan private hotspring pool.

The Ayu Villa. Waduuuh… keren ya.

Saya ditawarkan untuk menginap. Dan anak-anak juga pengen banget. Tapi sayang, besok paginya kebetulan ada acara adat yang harus kami ikuti. Jadi kami tak bisa menginap. Lain kali deh. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menginap di sana.

Disisi barat tak jauh dari kolam renang, saya melihat ruangan restaurant yang juga dilengkapi degan fasilitas untuk ruang meeting dan bahkan panggung indoor.

Selain berenang dan menginap, Toya Devasya juga dilengkapi tempat melakukan Yoga dan Spa yang berfokus pada methode Ayurveda dengan menggunakan bahan-bahan alam. Saya sempat melongokkan kepala saya ke sana. Ada beberapa kamar therapy yang kelihatannya nyaman juga.

Tempat ini rupanya luas juga. Saya melihat ada tempat khusus untuk camping dengan tenda tenda yang disediakan (lupa motret). Saya membayangkan malam tahun baru yang seru di tempat ini. Lalu ada anjungan untuk olah raga air di danau seperti kayaking ataupun tour di danau.

Ada panggung terbuka di sana, yang biasa dipakai untuk pertunjukan pada malam malam istimewa.

Nah…tibalah kami di spot foto yang paling sering saya lihat diupload oleh orang-orang di sosmed. Saya tentu tak mau ketinggalan. Lalu ikut-ikut berphoto di sana. Sebetulnya ada beberapa photo yang diambil sih. Sayangnya sudah terlalu sore dan langit mulai redup. Jadi hasil fotonya tak ada yang bagus he he ūüėÄ.

Matahari terbenam. Malampun tiba. Pak Ketut Mardjana, sang pemilik Toya Devasya beserta istri, mengajak kami makan malam bersama di anjungan Coffee Shop.

Hidangan khas Kintamani yang selalu ngangenin. Ikan Mujair Nyatnyat, Telor Goreng Crispy, Kacang Tanah Goreng, Soup Ikan Kecut… wah…mantap sekali. Makanannya sangat enak. Semua makan dengan lahap. Apalagi anak-anak yang baru habis berenang.

Malam semakin larut, kamipun pamit membawa kenangan indah akan tepi danau Batur dan Toya Devasya.

Terimaksih banyak Pak Ketut dan ibu atas keramahannya. Lain kali kami berkunjung lagiūüėä.

Advertisements

Songan, Kampung Halamanku Ketika Aku Pulang.

Standard

image

Ini sebetulnya hanya catatan kecil dari acara pulang kampung sehari. Sangat singkat. Sangat padat.  Tak sempat mampir ke mana-mana. Hanya pulang ke desa Songan di Kintamani, Bangli. Jadi sebenarnya tidak ada sesuatu yang aneh dan baru bagi saya.

Walaupun demikian, begitu memasuki wilayah kaldera dan menyaksikan hamparan danau biru nan luas beserta gunung Batur di sebelahnya, tetap saja saya merasa takjub terkagum-kagum akan keindahannya.

Berdiri di hulu danau dan melihat pemandangan desa yang sangat memukau, membuat saya berkali kali mengucapkan rasa syukur atas anugerahNYA. Ikan-ikan kecil berkerumun di bawah permukaan air dekat tepian danau.  Sesekali meloncat dengan riangnya, membuat cipratan kecil yang berkilau diterpa sinar matahari.

2016-01-13-07.50.09.jpg.jpegBurung -burung bangau beterbangan dan hinggap di atas flora mengambang di permukaan danau sambil mencari makan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Lalu ada keramba ikan. Nelayan yang asyik di atas perahunya. Dan ladang ladang sayur yang subur. Pemandangan danau dengan latar belakang bukit bukit yang hijau di satu sisi dan atau Gunung Batur yang kemerahan, membuat desa saya itu sedemikian indah bak lukisan dari negeri entah di mana. Saya mengambil beberapa kali gambar dengan kamera ponsel saya untuk mengenang wajah desa  ketika saya pulang kali ini.

Di sini kehidupan terasa berjalan tenang dan damai. Tanah yang begitu subur, diperkaya dengan berbagai mineral dan nutrisi yang dihadiahkan oleh debu vulkanik Gunung Batur membuat daerah itu menjadi kawasan pertanian sayur mayur dengan hasil yang melimpah di setiap musimnya. Tinggal sedikit usaha menyingsingkan lengan baju, olah tanah dan rawat tanaman, hasil panen pasti akan segera menghapus kelelahan. Begitu suburnya tanah di area ini, walaupun di sana-sini juga dihiasi dengan batu lahar hasil letusan Gunung.

image

Begitu juga danau yang biru. Seolah tak rela penduduknya kelaparan, tak hentinya menyediakan ikan yang berlimpah. Jika lapar, tak punya lauk untuk di masak, tinggal ambil pancing atau jala. Kami menangkap ikan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Demikianlah danau dan gunung Batur menyayangi orang-orang di kampung kami. Semoga setiap orang menyadari dan hanya mengambil secukupnya dari apa yang dianugerahkan tanpa harus merusak lingkungan sekitarnya.

image

Setiap orang memiliki kampung halaman dan mencintainya. Demikian juga saya. walau akhirnya tinggal jauh, rasanya memang tiada tempat yang lebih damai selain di kampung halaman sendiri. Semoga desaku selalu tenang dan damai.

Danau Batur: Burung Kokokan.

Standard

Bangau Danau BaturAdakah yang lebih indah dari pemandangan tepi danau di pagi hari? Duduk memandang segarnya Danau Batur selalu memberi saya keteduhan jiwa yang tak bisa saya  gantikan dengan apapun. Di pagi hari, air danau selalu kelihatan lebih  tenang dan hanya beriak kecil. Sinar matahari memantul keemasan dari permukaannya yang mirip cermin raksasa itu. Sementara bukit-bukit hijau menjulang memagari danau. Di  sebelahnya Gunung Batur  berdiri tegak menjadi penyeimbang atas kedalamannya. Saya memandangnya dengan decak kagum. Di tepi danau penduduk tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mencari ikan, ada yang mencangkul, menyiram ladang dan banyak juga yang membersihkan ladangnya dari rumput liar. Kesibukan pagi yang indah.

Bangau Danau Batur 1

Setelah nyaris setengah abad perjalanan hidup saya, saya masih tetap mencintai kampung halaman saya. Walaupun nasib telah membawa langkah kaki saya berjalan ribuan kilometer, namun kampung halaman selalu menjadi magnet yang menarik saya untuk selalu pulang  dan pulang kembali. Laksana burung-burung Kokokan yang pergi terbang jauh entah kemana, namun ada waktunya akan pulang kembali ke sarangnya.

Bangau Danau Batur 2

Hmm.. Burung Kokokan!  Saya berdiri di dermaga kayu yang letaknya di Kedisan. Tak jauh dari sana tampak rumput-rumput danau tumbuh berkelompok membentuk koloni-koloni yang mirip rakit-rakit kecil tempat burung-burung air bertengger. Beberapa ekor kokokan tampak berdiri diam menunggu. Sesekali mematuk sesuatu di air danau. beberapa ekor Kokokan yang lain terbang  dari gundukan rumput ke rumput yang lainnya.

Bangau Danau Batur 3

Kokokan alias Burung Blekok Sawah, alias Javan Pond Heron (Ardeola Speciosa), adalah salah satu burung air yang keberadaannya cukup banyak di perairan Indonesia. Hidupnya terutama di badan-badan air yang banyak ikannya seperti danau, rawa maupun persawahan. Makanannya adalah ikan,  udang, kodok dan sebagainya.  Bagi saya burung ini sangat menarik karena keindahan bentuk tubuhnya. Langsing dengan leher dan paruh yang panjang.

Bangau Danau Batur 4

Berukuran cukup besar, sehingga cukup mudah dikenali dari kejauhan. Burung Kokokan memiliki paruh berwarna kuning dengan ujung hitam, sedangkan di pangkal paruh, warnanya  biru hijau mirip pelangi. Kepala dan tengkuknya berwarna coklat terang kekuningan. Leher dan dadanya berwarna putih dengan garis garis coklat terang. Punggungnya berwarna coklat tua dan sisa tubuh yang lainnya serta sayapnya berwarna putih. Sehingga, jika ia terbang, warna dominant yang terlihat hanyalah putih.

Bangau Danau Batur 5

Pada sore hari, saya lihat burung-burung Kokokan ini bersitirahat di sebatang pohon Beringin yang tak jauh dari tepi danau.

Danau Batur: Burung Layang-Layang Asia.

Standard

burung Layang-Layang AsiaSuatu pagi ketika saya akan pergi ke Desa Trunyan, perjalanan kami  terputus akibat pohon tumbang. Sambil menunggu petugas membereskan pohon itu, saya mengajak adik saya untuk berhenti di ujung Desa Kedisan saja. Ada apa di sana? Saya bercerita kepada adik saya bahwa saat melintas sebelumnya saya melihat kawanan Burung Layang-Layang Asia terbang mencari makan di sekitar area itu. Mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan mengamati tingkah lakunya.

burung Layang-Layang Asia 3

Burung-burung itu tampak sibuk terbang menyambar-nyambar di atas permukaan air danau, atau di atas lahan-lahan yang sedang diolah dan dipupuk kotoran sapi.  Mereka sedang berburu serangga yang banyak terdapat di sana. Melimpahnya jumlah serangga di tepi danau membuat  burung -burung itu tampak betah di sana. Saya sangat menyukai gerakan rerbangnya. Mengepakkan sayapnya, melayang, menyambar, berputar-putar,melingkar. Gesit sekali. Dan bentuk tubuhnya sangat indah dan aerodynamics. Beberaapaa ekor yang kelelahan tampak berisitirahat dengan bertengger di kawat listrik di atas ladang di tepi jalan. Mereka tak tampak terganggu oleh lalulintas atau bahkan suara mesin pompa air yang digunakan saat petani menyiram tanaman tomat di bawahnya.

burung Layang-Layang Asia 2

Burung Layang-Layang Asia atau Barn Swallow ( Hirundo rustica) adalah jenis burung Layang-layang dari keluarga hirundinidae dan masih sangat dekat tampilannya dengan saudaranya Burung Layang-Layang Batu (Hirundo tahitica) yang sering saya tulis di sini,di sini dan di sini. Tampilannya pun sangat mirip. Sepintas lalu agak susah membedakannya. Ukuran tubuhnya sama. Demikian pula warna bulu dominantnya. Nyaris sama. Namun mata yang terlatih akan bisa melihat bahwa burung ini memang bukan Burung Layang-Layang Batu.

Burung layang-layang.

Pertama yang sangat jelas adalah ekornya yang panjang dan menggunting. Lebih panjang dari ekor burung layang-Layang Batu. Burung Layang Layang Batu tidak memiliki dua tangkai bulu ekor ini.  Ynag ke dua, warna putih dada burung layang-layang Asia jauh lebih bersih ketimbang warna putih kotor burung layang-Layang Batu. Ke tiga, burung Layang-Layang Asia memiliki garis biru metalik yang sangat  jelas di batas dada dengan lehernya yang tidak dimiliki oleh jenis burung layang-Layang Batu. Pada Burung Layang-Layang Batu, warna di daerah ini hanya coklat karat saja.

burung Layang-Layang Asia 4

Kalau saya deskripsikan, burung ini berwarna biru metalik pada bagian kepala, punggung hingga ekornya. rahang bawah hingga lehernya berwarna coklat karat. Dada, perut dan ekor bagian bawahnya berwarna putih, dengan tanda biru metalik pada batas dada dan lehernya. Paruh dan matanya berwarna hitam. Demikian juga kakinya.

Menurut catatan, burung ini termasuk burung migrant yang datang ke Indonesia  pada bulan September РNovember. Menarik bagi saya untuk mengamatinya lebih jauh. Dan sangat kebetulan memang,bulan ini adalah bulan Oktober.

 

 

Barong Brutuk Di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Standard

Barong Brutuk2Saya diajak adik saya pergi ke Desa Trunyan, yang letaknya di tepi Danau Batur di Kintamani, Bangli. Ada upacara Ngusaba Kapat di Pura Pancering Jagat. Dalam rangkaian upacara ini akan diadakan pementasan Barong Brutuk, yakni salah satu bentuk kesenian Bali Kuno yang sudah sangat lama sekali tidak pernah dipentaskan. Mengingat langkanya  pementasan ini, tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakannya.

Walau harus menghadapi sedikit halangan di jalan berupa pohon dan tiang listrik tumbang, pagi-pagi saya sudah sampai di Desa Trunyan.  Keramaian tampak di sekitar desa, terutama di areal Pura Pancering Jagat. Kami diterima dengan baik oleh pemuka adat setempat dan diberi penjelasan singkat mengenai upacara dan pementasan Barong Brutuk ini serta tata tertib yang harus kami patuhi selama acara berlangsung. Walaupun sebelumnya saya sudah pernah mendengar keberadaan Barong Brutuk ini, namun terus terang saya baru pertama kali melihatnya langsung dengan mata saya sendiri.

Barong Brutuk, adalah tarian Barong yang sangat kuno dan hanya ada di Desa Trunyan yang sejak ratusan tahun lalu dihuni oleh warga Bali asli. Tarian ini menggambarkan kehidupan para leluhur di jaman dulu. Menurut sebuah sumber konon Barong Brutuk ini adalah unen-unen (anak buah) dari leluhur orang Trunyan, yakni Ratu Sakti Pancering Jagat dengan istrinya Ratu Ayu Dalem Pingit Dasar.

Tidak seperti tarian Barong lain di Bali yang busananya biasanya sangat penuh dengan motif hiasan, busana Barong Brutuk ini sangat sederhana. Tidak ada ukiran, tidak ada potongan kaca, apalagi cat prada keemasan. Hanya ¬†kumpulan daun pisang kering (Keraras), yang konon hanya boleh dipetik dari Desa Pinggan. ¬†Tidak ada yang tahu mengapa harus dari Pinggan. Ketika saya tanyakan, beberapa orang penduduk hanya mengatakan ” Memang sudah begitu dari dulunya“.

 

Demikian juga topeng yang digunakan. Terlihat sangat sederhana dan berbeda dengan jenis barong-barong lainnya di Bali. Namun demikian, topeng-topeng itu tampak sangat berkarakter. Sebuah topeng misalnya digambarkan memiliki karakter wajah yang tegas dan kuat, sedangkan topeng lainnya memiliki karakter lebih feminine. Ada juga yang berkarakter tua, dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun yang bisa menjawab ketika saya bertanya, siapakah pembuat topeng itu. Mereka sudah menemukannya seperti itu. Turun temurun.

Bahkan menurut seorang penduduk yang menemani saya ngobrol, jumlahnya pun berubah-ubah setiap kali mereka membuka tempat penyimpanannya. Jika hari ini mereka membuka tempat penyimpanan itu menemukan 21 topeng, maka besoknya bisa jadi topeng itu akan berjumlah 23 buah. Kebetulan pada hari saya di sana, jumlah topeng yang ditarikan ada sebanyak 19 buah. Menurutnya, berapapun jumlah topeng yang ditemukan per hari itu, maka harus dipentaskan semuanya. Dan para Teruna (remaja pria) yang memakai topeng itu harus bisa memainkan peranannya.¬† Hmm…sangat menarik.

Yang berbeda lagi dengan Barong biasa, Barong Brutuk ini tidak diiringi dengan musik. Brutuk hanya berjalan-jalan di halaman atau mengelilingi Jeroan Pura sambil membawa cambuk. ¬†Sehingga sebenarnya agak sulit kalau dibilang menari, karena memang hanya sembahyang,¬† berjalan berkeliling dan melecutkan cambuk. Tidak banyak penduduk diperkenankan masuk untuk menghindari lecutan cambuk. Banyak penduduk terlihat menonton dari balik pagar, ada juga beberapa yang nekat di pintu Jeroan. Beberapa kali nampak penduduk mengambil daun kraras dari barong Brutuk ini dan menyelipkan di telinganya. “Untuk apa?” tanya saya.

Penduduk mempercayai bahwa potongan daun kraras dari Barong Brutuk itu membawa keselamatan dan berkah. Demikian juga lecutan cambuknya. Dipercaya memberi kesembuhan (tamba) bagi yang sakit. Beberapa orang anak-anak memanggil-manggil dan menggoda Barong Brutuk agar mencambuk ke arah mereka. “Ratu!! meriki Ratu!” (Ratu! Ke sini Ratu!) atau “Malih Tu! Malih Tu! Nunas Tamba, Tu!” (lagi Ratu! Minta Obat). Namun ketika ¬†Barong Brutuk itu mendekat dan mencambuk, anak-anak itu pada berlarian dan tertawa senang. Ada beberapa orang yang sempat terkena lecutan juga. Bahkan ada seorang penduduk yang tampak sedang sakit malah bersimpuh memohon dicambuk, dan ketika dicambuk bukannya kabur namun malah menyerahkan diri – karena ia percaya akan khasiat pengobatan dari lecutan Barong Brutuk itu. Selain itu bebrapa kali saya lihat Barong Brutuk itu melemparkan buah-buahan dari banten ke penonton. Dan orang-orang berebut untuk mendapatkannya,karena juga dipercaya sebagai berkah dan obat.

Pementasan ini sangat panjang. Pagi hari hanya di halaman Jeroan Pura, lalu setelah istiahat sejenak dilanjutkan ke areal Jaba Pura (bagian luar /areal Pura yang lebih rendah). Sore harinya dipentaskan bagaimana pria dan wanita Trunyan pada jaman dulu mencari pasangannya, yang disebut dengan acara metambak-tambakan. Barong Brutuk dengan topeng raja dan ratu menarikan tarian percintaan ini. Mereka sama -sama menari dengan aggresif-nya, hingga akhirnya merasa cocok dan menikah. Saya dijelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Trunyan, bahwa urusan mencari jodoh bukanlah hanya urusan pria saja yang harus aggresif menyeleksi dan menentukan pilihan hidupnya, namun para wanita pun layak sama aggresifnya dalam menentukan pilihannya sendiri.

 

Seorang penduduk mengatakan bahwa tarian sakral ini sudah tidak pernah dipentaskan sebagaimana seharusnya sejak  dua puluh tahun lebih, walaupun pernah diperagakan di Pesta Kesenian Bali. Namun seorang ibu lain mengatakan bahwa seingatnya tarian ini pernah dipentaskan pada tahun 2002.  Sayapun jadi penasaran, kapan seharusnya tarian ini dipentaskan? Jika tidak dipentaskan,apa sebabnya? Dan jika sekarang dipentaskan lagi, tentu ada penyebab juga. Sayang sekali saya tidak mendapatkan jawaban yang conclusive atas pertanyaan di kepala saya ini. Walaupun ada yang mengatakan Tarian sakral ini dipentaskan dalam rangka untuk memohon kesuburan.

Menurut seorang penduduk, Barong Brutuk seharusnya dipentaskan setiap dua tahun sekali, pada upacara Ngusaba Pura Pancering Jagat yakni pada Purnama Kapat. Purnama Kapat (bulan Purnama ke-empat dalam penanggalan Bali)  itu sendiri oleh penduduk diberi kode Kapat Lanang dan Kapat Wadon. Barong Brutuk hanya dimainkan pada Kapat Lanang oleh para Teruna (remaja pria). Tahun berikutnya, saat Kapat Wadon, Barong Brutuk tidak dipentaskan. Pada Ngusaba di Kapat Wadon ini, yang aktif adalah para Daa Bunga  (remaja puteri). Mereka akan mengisi kegiatan upacara dengan menenun kain suci. Itulah sebabnya secara natural, Barong Brutuk hanya dipentaskan setiap dua tahun sekali. Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti kepada saya mengapa tarian ini tidak dipentaskan. Hanya sebuah cerita singkat bahwa pada tahun 2007, terjadi bencana tumbangnya pohon Beringin besar yang tumbuh di Pura itu, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pementasan. Lalu apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya?

Masih banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala saya. Namun karena hari sudah semakin sore, maka sayapun berpamitan kepada para pemuka desa Trunyan untuk pulang ke Bangli.

 

Balinese Traditional Painting at Songan: Art, Nature And Spirituality.

Standard

Menyimak lebih jauh karya lukis Jro Mangku Kuat.

Berdiri beberapa saat di hadapan lukisan-lukisan karya Jro Mangku Ketut Kuat di bengkel seninya yang terletak di lembah Hulun Danu Batur di desa Songan, Kecamatan Kintamani di  Bangli, saya merasakan keindahan dan kedamaian dan juga sekaligus gejolak energy yang berbeda-beda dari satu lukisan ke lukisan yang lainnya.

Seperti halnya sebagian besar goresan tangan di atas kanvas di Bali, lukisan Jro Mangku Kuat memiliki gaya lukis yang tidak jauh-jauh dari aliran besar induknya yakni gaya lukisan tradisional Bali. Banyak mengambil thema-thema keseharian kehidupan yang penuh seni di Bali (misalnya tari Jauk, topeng, wanita Bali, dsb) serta legenda-legenda yang hidup di kalangan masyarakat Bali seperti misalnya kisah Sang Hyang Ratih dan Kala Rau, Dewi Sitha, dsb. Demikian juga pattern-pattern lukis yang digunakan, teknik pewarnaan dan jenis-jenis spektrum warna yang digunakan, serta pemanfaatan bidang dan ruangnya, banyak menggunakan¬† standard gaya yang digunakan pada lukisan-lukisan tradisional Bali lainnya. Itulah sebabnya, mengapa jika kita pandang sepintas lalu, kita akan melihat karya lukisan-lukisan ini hanya sebagai ‚Äújust another traditional Balinese paintings‚ÄĚ. Seni yang sudah terpolakan mengikuti standard keindahan yang berlaku sejak jaman dulu kala di Bali. Read the rest of this entry

Jro Mangku Kuat, Pelukis Traditional di Hulun Danu Batur di Songan.

Standard

Jika kita menelusuri jalanan yang melintas batu-batu cadas di tepian danau Batur sampai ujungnya habis di desa Songan, Kintamani di Kabupaten Bangli,  maka kita akan berhenti di halaman sebuah pura Kahyangan Jagat yang sangat penting keberadaannya di Bali, yakni Pura Hulundanu.  Berbagai kalangan masyarakat dari segala penjuru Bali berbondong-bondong datang untuk melakukan persembahyangan di sana.

Pura Hulundanu itu sendiri berlokasi di  sebuah lembah di hulu danau Batur sesuai dengan namanya yakni; hulun (hulu) dan danu (danau). Lembah  yang indah itu dipagari oleh bukit yang sangat hijau oleh pepohonan yang sangat subur bahkan dimusim kemarau. Hanya beberapa ratus meter jaraknya dari tepi danau. Sehingga jika kita berdiri di halaman Pura itu, kita bisa memandang ke arah danau yang indah itu dengan leluasa. Tidak heran, tempat itupun menjadi  tujuan para pelancong juga, selain masyarakat yang memang datang untuk melakukan persembahyangan. Read the rest of this entry

Serial Kampung Halaman ‚Äď Songan, Desaku Yang Permai.

Standard

Ketika  Mbak Evi, seorang sahabat blogger saya  berkisah tentang kampung halamannya, saya juga jadi tergerakk untuk menulis tentang kampung halaman saya.  Sebenarnya dalam kenyataannya saya memiliki dua kampung halaman.  Yang pertama adalah Desa Songan. Desa darimana saya berasal dan  merupakan lokasi rumah kakek saya yang bermarga Kayu Selem  (=Kayu Hitam, Blackwood). Dan yang kedua adalah Kota Bangli. Kota kecil dimana saya menghabiskan masa kanak-kanak saya hingga remaja. Di sanalah letak rumah ayah-ibu saya (keduanya telah tiada). Dan tak jauh dari sana, sekitar 2-3 km, terdapat rumah kakek saya dari pihak ibu yang bermarga Pande (= marga tukang emas,perak,besi; gold&silver smith). Jarak ke dua tempat ini sekitar 35 km. Namun kali ini saya akan menceritakan mengenai Desa Songan saja. Read the rest of this entry

Real Country Story: Sebuah Ladang di Banjar Paketan, Sukawana -Kintamani.

Standard
Real Country Story: Sebuah Ladang di Banjar Paketan, Sukawana -Kintamani.

Beberapa saat yang lalu saya & saudara-saudara saya mampir di lahan pertanian & peternakan milik seorang keluarga kami di banjar Paketan, desa Sukawana, Kintamani – Bangli. Kebetulan keluarga saya itu sedang sakit. Saat saya datang, beliau sedang berbaring di pembaringan dekat tungku menyala yang berfungsi ganda sekaligus sebagai perapian untuk mengusir hawa dingin Kintamani yang menusuk tulang. Read the rest of this entry

Catatan Perjalanan ‚Äď Kisah Tentang Pengabdian Masyarakat.

Standard

Saat saya sedang ada di Bangli, adik lelaki saya yang nomer empat menelepon dari Denpasar dan menawarkan apakah saya berminat untuk ikut pulang kampung ke desa Songan di Kintamani atau tidak, karena kebetulan ia ada urusan di desa. Saya segera menyetujui dengan senang hati karena memang sudah lama saya tidak pulang kampung. Siapa tahu nanti sempat mengunjungi sanak keluarga atau bertemu dengan kerabat. Atau hanya sekedar menengok rumah kakek saya yang kosong. Saya pun  menyiapkan perlengkapan saya untuk mengantisipasi udara dingin akibat kabut yang umumnya turun sore hari. Rupanya adik saya yang nomer empat ini juga sudah janjian dengan adik saya yang nomer tiga. Kamipun lalu berangkat ke desa bertiga. Saya merasa sangat senang duduk di belakang sendiri, sementara kedua adik lelaki saya  duduk di depan. Semuanya mengingatkan saya saat kedua orangtua kami masih ada.  Perjalanan yang menyenangkan, menanjak menuju Penelokan lalu turun menyusuri jalan berkelok ke tepi danau dan selanjutnya melaju diantara batu batu cadas yang menyuguhkan pemandangan luar biasa. Cara paling menyenangkan untuk menikmatinya adalah dengan membuka jendela kendaraan dan membiarkan angin yang dingin menerpa kulit dan menerbangkan rambut kita. Read the rest of this entry