Tag Archives: Kreatifitas

Mengapa Kreatifitas Kita Berhenti?

Standard

KreatifitasSuatu kali, sepulang saya dari kantor anak saya yang kecil berkata “Ma… aku besok ada tugas dari Ibu Guru untuk membuat prakarya dari flanel“. Saya meletakkan tas kantor dan laptop saya di atas meja belajar. Hari sebenarnya sudah agak malam. “Terus, sudah bikin?” tanya saya. Saya ingat kami masih punya tumpukan flanel warna warni yang cukup banyak. Jadi ia tidak usah membeli lagi.  “Belum! Bikinnya besok di sekolah”katanya. Ooh..jadi tidak perlu terburu-buru ya. “Pengen latihan bikin dulu sekarang. Sama mama aja. Aku takut kalau sendiri nanti nggak bisa” katanya. Ya ampyuuuuun!. Hari sudah malam begini. Menunggu saya yang pulang malam, itu sebenarnya sama saja memangkas waktu untuk berkreatifitas. Padahal bikin, bikin aja dulu. Nanti  kalau ada yang kurang sreg kan bisa dibetulkan lagi.  Walaupun setelah saya katakan begitu,akhirnya anak saya bikin sendiri juga.

Pernah juga di lain kesempatan, seorang teman yang bekerja di sebuah Agency periklanan mengeluh jenuh dengan pekerjaannya. Belakangan ia sering merasa buntu idea. Setiap idea yang keluar terasa garing. Nggak ada sedikitpun kreatif-kreatifnya. Ia pun mulai menyalahkan banyaknya batasan yang diberikan berkenaan dengan positioning Brand yang dikelolanya. Ujung-ujungnya ia merasa kreatifitasnya mandek.

Kalau kita perhatikan, banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang merasa kering kreatifitas. Macet dan tak tahu lagi bagaimana harus mencairkannya kembali. Mulai dari blogger yang mengeluh kehabisan idea menulis, pelukis yang catnya mengering sendiri karena lama tak dipakai lagi, pemasar yang kehabisan ide promosi,  dsb hingga ibu rumah tangga yang kehabisan idea memasak. Nah pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah, “Mengapa kreatifitas kita berhenti?”. Saya mencoba memikirkannya. Dan ini adalah beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya.

Pertama, adalah takut tidak bisa. Seperti dalam kasus anak saya. Ia berhenti berkreatifitas karena merasa takut tidak bisa (menjahit). Daripada mencari ide dan mencobanya sendiri dulu, ia lebih memilih menunggu mamanya pulang. Menunggu dan tidak melakukan apa-apa dalam rentang waktu tertentu, sudah pasti membuat kita tidak produktif. Nah..itu semuanya gara-gara perasaan takut tidak bisa. Takut hasilnya salah. Takut hasilnya kurang keren. Perasaan takut akan ‘tidak bisa’ ini sering membuat kita jadi ragu dan akhirnya benar-benar membuat kita tak mampu. Itulah sebabnya banyak yang memberi tahu kita sebagai orang tua untuk mengajarkan anak bahwa ia pasti bisa. Karena dengan mengubah keyakinan anak bahwa ia pasti bisa dalam melakukan sesuatu, akan membantu menumbuhkan semangat dan kepercayaan dirinya bahwa ia sesungguhnya bisa dan hasilnya memang pasti benar-benar bisa. Ayo, kamu pasti bisa!

Kedua, adalah kepercayaan yang salah. Contohnya adalah pemahaman salah bahwa anak lelaki tidak bisa memasak. Anak perempuan tidak bisa memperbaiki atap rumah. Anak perempuan tidak bisa membetulkan kendaraan. Dan sebagainya ‘judgment masyarakat’ yang premature dan bisa jadi salah. Kalau kita percaya pada hal-hal seperti ini, besar kemungkinan akan melimitasi kreatifitas kita. Sebagai perempuan kita cenderung melimitasi diri kita sendiri untuk belajar urusan mesin mobil, karena merasa diri tidak berbakat atau tidak umum perempuan jago otomotif. Bagaimana pula mau disuruh kreatif ya? Wong kita sudah mencap diri kita sejak awal bahwa perempuan tidak berbakat di bidang otomotif? Nah..ujung-ujungnya jadi beneran deh itu kita tidak bisa.  Nah … kepada kedua anak laki-laki saya, saya tidak pernah mau anak saya berpikir bahwa anak laki-laki itu tidak bisa menjahit atau anak laki-laki itu tidak bisa memasak itu biasa. Harus belajar menjahit! Harus bisa memasak. Tidak ada urusan gender di sini.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab matinya kreatifitas adalah rasa khawatir dianggap nyeleneh bin aneh. Takut menjadi pencilan. Khawatir dikatakan sebagai anti-main stream. Datang dengan ide baru yang berbeda yang tidak biasa terkadang membuat seseorang merasa nggak nyaman sendiri dengan kreatifitasnya. Padahal cuek saja. Toh ide kreatif tidak akan membuat kita masuk penjara, sepanjang kreatifitas kita itu tidak melanggar hukum negara, norma agama dan tidak merugikan orang lain.

Atau ada pula teman saya yang sangat reluktan jika diminta membangun ide di atas ide orang lain yang sudah ada. Atau ide di atas idenya sendiri yang sudah dikeluarkan sebelumnya.  Ia merasa hasil kreatifitasnya kurang afdol. Padahal memang demikianlah mekanisme peradaban manusia itu bekerja. Banyak kreatifitas baru yang dibuat untuk memperbaiki kreatifitas yang sudah ada sebelumnya. Demikian juga banyak penemuan dan theory baru dibangun di atas theory lama yang barangkali sudah tidak relevan atau perlu diperbaiki.  Mencontek, menjiplak atau mengcopy ide/kreatifitas orang lain tentu itu tidak ethis. Tetapi jika kita datang dengan ide-ide dan kreatifitas baru yang lebih baik, atau merupakan perbaikan dari ide /kreatifitas orang lain tentu itu syah syah saja.

Ada satu lagi nih…yang menurut saya juga membuat limitasi terhadap kreatifitas kita. Yakni jika kita terlalu “terikat” akan sesuatu . Misalnya terikat akan aturan-aturan design tertentu, atau misalnya brand code – tidak boleh pakai warna tertentu tapi harus warna ini, ini dan itu saja.  Otomatis kreatifitas kita berkurang. Atau di perusahaan tertentu, sangat terikat akan kepercayaan tertentu. Dilarang menggunakan angka yang berakhir dengan 13, karena itu artinya sial atau angka 4 karena erat kaitannya dengan kata mati. Waduuhhh… nah kalau sudah begini, kita menjadi was-was duluan. Takut salah. Bagaimana pula mau menjadi kreatif dalam keadaan takut dan terbatas begini? Atau ada juga misalnya, keterikatan dengan kesuksesan masa lampau. “Dulu sukses lho waktu pakai iklan begini. jadi jangan rubah!“. Lah..tapi kan pasar berubah? Dunia berubah? Masyarakat berubah? Kita tidak bisa selalu memaksakan semua yang sukses di masa lalu. Karena apa yang sukses di masa lalu belum tentu tetap diterima pasar dengan baik saat ini juga.

Mungkin masih ada banyak penyebab mandeknya kreatifitas kita yang belum sempat keluar dari kepala saya. Tapi intinya, yuk kita move on! Terus berkreasi dan gali terus ide-ide baru!. Jangan biarkan segalaketakutan dan kekhawatiran itu membatasi kreatifitas kita.

Selamat pagi, teman-teman! Selamat berkreatiftas. Semoga sukses setiap hari!.

Kreatifitas Anak – Pot Keemasan Untuk Tempat Pensil.

Standard

Jar“Mama, lihat! Aku membuat  pot hias dari botol bekas dan koran bekas” Seru anak saya suatu pagi sambil menarik tangan saya.  Ia ingin kreasinya dilihat oleh saya. Sayapun mengikuti anak saya ke halaman belakang.  Oh..sebuah pot hias  yang sangat lucu. Terbuat dari potongan koran bekas yang dipilin-pilin menjadi sebuah tali, lalu direkatkan pada permukaan luar botol plastik bekas air mineral . “Aku pake lem fox” jelas anak saya. Sayapun mengambil benda itu. Mengamat-amatinya sebentar dan memuji kerapian pekerjaan anak saya. “Nanti bisa kita pake untuk menyimpan pinsil atau pulpen. Bisa juga untuk vas bunga” Kata saya. Anak saya tertawa senang. Read the rest of this entry

Daun Selada Untuk Apa?.

Standard

Saya diberikan seikat besar daun selada oleh seorang teman. Oleh-oleh dari ladang. Karena jumlahnya cukup banyak, maka selada itupun saya bagi-bagikan lagi kepada kerabat dan tentangga saya yang lain. Sisanya masih tetap cukup banyak. Wah, kalau tidak dimakan, tentu selada-selada segar ini akan segera layu.

Seperti kita ketahui, daun selada biasanya dimanfaatkan sebagai lalapan yang dimakan dengan sambal terasi ataupun jenis sambal yang lainnya. Setidaknya begitu pengetahuan saya selama ini. Tapi daun selada sebanyak ini, tentu tak bisa saya habiskan hanya dengan memanfaatkannya sebagai lalapan saja.  Oleh karenanya, saya lalu bertanya kepada kakak ipar saya dan menantunya  yang sedang masak di dapur “Daun selada  bisa dipakai  untuk apa?”. Serempak keduanya menjawab “ Untuk lalapan!!!”.  Kalau itu saya sudah tahu. Tadinya saya pikir barangkali ada yang menjawab lain.  Ternyata tidak. Read the rest of this entry