Tag Archives: Kucing

Jejak Kaki Kucing.

Standard

20150401_063735Ada jejak kucing tampak di sebuah tanah yang lembek di tepi jalan. Jejaknya tampak cukup dalam dan memikat hati saya.  Kaki-kaki kucing itu sungguh mungil dan lucu. Saya mengamatinya sepintas. Ada jejak bantalan telapak kakinya yang kelihatan agak membulat, lalu ada empat buah jari kaki di masing-masing jejak telapak kaki itu.  Saya rasa, kucing itu sedang mengembangkan cakarnya saat ia berdiri di situ, karena  jari-jari kaki itu tampak tajam dan runcing di ujung-ujungnya.

Ada empat buah. Tentunya itu kaki depan, kaki belakang yang kiri dan yang kanan. Saya mencoba mencari jejak kaki kucing yang lain. Tidak ada lagi. Hanya empat buah itu saja. Padahal tanah lembek itu cukup luas. Bagiamana ia bisa meninggalkan jejak di tengah-tengah begitu?  Aha! Saya tahu jawabannya.Tentulah ia melompat ke sana dari arah jalan yang beraspal, mendarat dan meninggalkan jejaknya sekali, lalu melompat lagi ke rerumputan. Bukan berjalan santai. Karena jika ia memang berjalan ke sana, tentu jejak kakinya ada lebih dari 4 buah. Fakta lain adalah bahwa jejak kaki kucing itu sangat dalam. Jejak sedalam itu hanya mungkin dibuat oleh kucing yang berbobot badan sangat berat, atau…ditinggalkan oleh kaki yang sedang melompat, dimana gaya tekan yang bekerja di tanah lembek itu cukup besar. Mungkin ia berlari kencang dan melompat.

Fakta lain yang menarik lagi adalah ternyata jejak kaki-kaki kucing itu berada dalam posisi tidak normal. Kedua kaki kirinya yang depan dan belakang berada pada titik yang sangat berdekatan, Sementara jarak kedua kaki kanan yang depan dan belakang lebih jauh. Saya jadi membayangkan, tentulah kucing itu berada dalam posisi badan yang melengkung saat mendarat di tanah lembek itu. Kucing berlari kencang -melompat-badannya melengkung- cakarnya keluar.   Apa yang terjadi semalam saat kucing itu meompat dan berlari di sana? Mungkin ia sangat semangat. Tentulah ia mengejar sesuatu. Tikus? Atau malah ketakutan? Jangan-jangan dikejar sesuatu? Anjing?  Saya mencoba mencari-cari jejak yang lain untuk mendukung pikiran saya. Barangkali ada jejak tikus atau anjing di sekitar itu.

20150401_063836Dan… yes! Benar saja, di belakang jejak itu tampak sebuah jejak kaki anjing. Mirip jejak kaki kucing tapi ukurannya jauh lebih besar. Tidak terlalu jelas. Hanya sebuah kaki, karena tanah lembek di tempat anjing itu berdiri hanya sedikit. Jejak 3 buah kakinya yang lain tidak terlihat. Jejak itu tampak lebih ringan dan dangkal ketimbang jejak kaki kucing tadi. Saya rasa anjing ini berada dalam posisi yang di atas angin, lebih santai. Sementara si kucing sedang berada di posisi yang terancam. Tegang dan ketakutan.

Entah kenapa saya jadi merasa bisa membayangkan apa yang terjadi semalam saat kucing itu melompat dan berlari di sana. Saya bisa merasakan ketakutan kucing itu. Naluri untuk menyelamatkan diri yang menekan kepalanya dan memerintahkan anggota tubuhnya untuk berlari sekencang dan  sejauh mungkin serta melompat agar terhindar dari anjing itu. Gambaran itu berputar di kepala saya seolah saya sedang melihat sendiri kejadian itu. Walah! Mungkin sebagian teman saya akan berpendapat bahwa saya terlalu lebay. Jejak kaki kucing aja kok dipikirin. Kurang kerjaan.  Ha ha ha.. barangkali saya terlalu banyak membaca buku Old Shatterhand atau Trio Detektif dan Lima Sekawan waktu kecil. Atau kebanyakan berpetualang mencari jejak waktu menjadi anggota Pramuka jaman dulu.

Tapi sungguh, bagi saya membaca jejak itu bisa menjadi hal yang menarik dan menyenangkan juga. Karena sebenarnya setiap mahluk itu memiliki dan meninggalkan jejak dalam hidupnya. Jejak yang ia tinggalkan untuk setiap hal yang ia lakukan dalam hidupnya. Jejak yang mendalam maupun jejak yang samar. Jejak yang baik ataupun jejak yang buruk. Jejak yang hanya bisa terbaca dalam jangka waktu pendek maupun jejak yang akan tetap abadi dan tetap terbaca bahkan ketika ia telah meninggalkan dunia ini dan kembali kepadaNYA.

Tentunya kita semua ingin meninggalkan jejak yang baik dalam hidup kita.

Selamat Datang Kehidupan Baru.

Standard

Selamat DatangTangal 5 Maret kemarin merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Cudly. Siapa Cudly? O ya, saya belum pernah bercerita. Setelah kematian Persia, anak saya mengadopsi kembali seekor anak kucing liar betina yang ia beri nama Cudly. Anak kucing itu ia pelihatra dengan baik dan Cudly sekarang sudah dewasa dan hamil semenjak 2 bulan lalu. Memang sudah waktunya buat Cudly melahirkan. Sebelumnya saya sudah menyuruh anak saya menyiapkan box bekas dan kain/handuk/baju bekas untuk dijadikan sarang saat kucing itu beranak.

Malam itu saya bekerja sampai agak larut di kantor. Anak saya menelpon “Ma, cepat pulang. Cudly melahirkan. Bayi kucingnya ada satu. Lucu sekali“. Saya girang bukan main dan bergegas pulang. Ini pengalaman melahirkan pertama kali bagi Cudly. Pasti sangat menyakitkan dan melelahkan. Saya harus menemaninya.

Ketika sampai di rumah, saya melihat Cudly terbaring lemah. Seekor bayi kucing berwarna belang tampak di sebelahnya. Saya pun menunggu kelahiran bayi-bayi berikutnya. Ia mungkin akan melahirkan 1-2 ekor anak lagi. Untungnya Cudly cukup pintar memilih tempat untuk melahirkan. Ia memilih kandang yang biasa ia gunakan jika saya bawa ia bepergian. Anak saya meletakkan handuk dan baju bekasnya sendiri di dekat kucing itu. Begitulah malam itu saya menemaninya berjuang menahan kesakitan saat melahirkan bayi-bayinya. Ia sangat kelelahan. Saya mengusap-usap kepalanya untuk memberinya support.  Akhirnya dekat tengah malam selesailah semuanya. Semuanya ada 3 ekor anak kucing.

Barangsiapa yang mengamati sebuah proses melahirkan, maka ia akan menyadari betapa besarnya pengorbanan seorang Ibu demi kehidupan anak-anaknya. Kesakitan, kecemasan, kelelahan, ketakutan, bahkan kesulitan yang tidak mustahil mengancam nyawa semuanya bercampur aduk. Dan seorang Ibu harus tetap menghadapinya dengan berani. Berani demi keberlangsungan hidup spesiesnya.

Selamat datang bayi kucing! Selamat datang kehidupan baru…

 

 

Kisah Pagi – Seekor Anak Kucing Liar Yang Ketinggalan Induknya.

Standard

Anak kucing1Pagi ini cuaca cerah. Saya berjalan pagi keluar perumahan dengan anak saya yang kecil. Menyusuri perkampungan yang dihuni oleh penduduk asli Betawi. Di sebuah tikungan kami berhenti sejenak. Seekor anak kucing mengeong dan mendekat. “Anak kucing!” seru anak saya kegirangan. Tampangnya sangat lucu dan menggemaskan. Kelihatan agak kurus. Kasihannya. Dimana induknya ya?  Anak kucing itu mengeong-ngeong terus dan menciumi kaki anak saya. Anak saya berjongkok dan mengelus-elus kepala anak kucing itu.

Bawa aja  kucingnya pulang!!” seru seorang Bapak dari halaman rumahnya. Anak saya meminta persetujuan ingin membawanya pulang.  Saya berpikir sejenak. “Memang kucing ini punya siapa, Pak?” tanya saya. “Kagak ada yang punya. Liar. Ngerusuh bae!” katanya.

Sebenarnya sayapun ingin membawanya pulang, tapi tidak semudah itu. Di rumah sudah ada kucing liar lain yang diadopsi anak saya sebelumnya. Suami saya pasti tidak akan setuju ada kucing liar lain lagi di rumah.  Selain itu induknya mungkin akan mencari-cari. “Jangan!” kata saya. “Nanti induknya mencari” kata saya lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan.

Anak kucing itu mengikuti langkah kaki kami. Kakinya yang kecil-kecil sibuk berlari mengikuti dan mencoba mendahului. “Awas keinjek kucingnya Ma” seru anak saya. Saya berhenti. Anak kucing itu ikut berhenti.  Saya berjalan lagi, anak kucing itu ikut berlari lagi mendahului saya. Saya berhenti lagi. Iapun ikut berhenti juga. Demikian  berkali-kali. Waduuh! Repot juga nih kalau begini.  “Kasihan kucingnya. Pasti kecapean” anak saya menggendongnya sambil berjalan. “Jangan!” kata saya. “Itu sama dengan membawanya pulang” kata saya. “Biarkan saja dia jalan. Barangkali dia tahu di mana induknya” kata saya. Akhirnya anak kucing itu mengikuti kami terus.

Tak lama kemudian, ada seekor kucing dewasa melintas. Anak kucing itu tampak tertegun melihat kucing dewasa  itu. “Apa itu induknya ya?“.Kelihatannya bukan sih. Wajahnya sangat jauh berbeda. Mumpung anak kucing itu sedang bengong melihat kucing dewasa, saya menggunakan kesempatan untuk meninggalkannya di sana. Anak saya protes. “Wah..kasihan! Jangan ditinggal. Nanti dia tersesat” kata anak saya khawatir. “Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk bertemu induknya” kata saya. Saya yakin induknya berada tak jauh di sekitar sini. Anak saya tampak tidak yakin. Wajahnya murung. Ketika berikutnya ia melihat seekor anak kucing liar yang sangat kurus dan kotor, ia berkata kepada saya “Nah..ini yang aku takut. Kalau kita nggak bawa pulang, anak kucing itu nanti pasti kaya gini jadinya“.

Saya lalu memberi pengertian kepada anak saya. Bahwa jumlah mahluk hidup yang menderita kelaparan itu sangat banyak. Bukan hanya kucing, tapi mahluk lain juga termasuk manusia. Kita memang perlu menolong semampu kita. Tetapi saat ini, kemampuan kita terbatas. Tidak mungkin kita mengumpulkan semua kucing kelaparan itu dan memeliharanya di rumah. Karena rumah kita kecil dan kemampuan kita memberi makan juga terbatas. Selain itu, sebelum didomestikasi manusia, kucingpun dulunya memang binatang liar yang hidup di alam bebas. Jadi kita tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Syukurnya anak saya mulai tampak mengerti permasalahannya. Akhirnya ia mulai melupakan anak kucing itu.

Tiba di tepi sungai yang merupakan hulu dari sungai di belakang rumah saya, saya mengajak anak saya untuk berhenti dan melihat-lihat. Air sungai tampak beriak dengan suaranya yang menyejukkan telinga. Pertanda kalau di bagian ini, sungai sangat dangkal. Sementara di bagian hilirnya yang lebih dalam, air sungai tampak lebih tenang. Sambil menyusuri aliran sungai, sayapun menjelaskan pengaruh kedangkalan sungai dengan riak yang ditimbulkannya.  “Air beriak tanda tak dalam” kata saya mengutip pepatah lama itu. Kami mengamati dua ekor anak biawak yang berenang terbawa arus. Senang sekali melihatnya. Setelah sempat khawatir kalau biawak di sungai ini habis karena diburu orang, setidaknya sekarang saya melihat ada 2 ekor anaknya berenang pagi ini. Sayang saya sedang tidak membawa kamera. Anak saya yang tahu kalau saya menaruh perhatian sangat besar pada kehidupan satwa liar di tepi sungai, mencoba mengabadikannya dengan kamera hape. Sayang kwalitasnya tidak begitu bagus.

Puas bermain di tepi sungai, saya mengajak anak saya menyeberang jembatan. Melihat-lihat sebentar dari atas jembatan, lalu berbelok ke ladang-ladang sayur di tepi sungai itu. Mengobrol dengan seorang petani yang baru saja usai membersihkan ladangnya. Obrolan ngalor-ngidul mulai dari urusan panen sayuran bayam yang bisa dilakukan dalam waktu dua puluh hari,  urusan tanah garapan yang makin menyempit, urusan ternak kambing dan penyakitnya hingga urusan maling ternak yang tak kenal takut. Matahari mulai meninggi. Saya pamit kepada petani itu untuk meneruskan perjalanan saya.

Di tepi sungai tempat kami masuk ke ladang tadi, ada onggokan sampah. Saya melihat seekor induk kucing dengan 2 ekor anaknya sedang mengais-ngais makanan di sana. Wajahnya sama dengan anak kucing yang ingin diadopsi anak saya tadi pagi. Saya mendekat. Induk kucing itu nampak sangat awas dan curiga.Mungkin dia pikir saya akan mengganggu anaknya. Tak berapa lama, anak kucing kecil yang tadinya mengikut kami  datang tergopoh-gopoh. ya ampuuun…jauh juga ia berjalan.  Ooh..rupanya ia menyusul induknya ke sini. “Tuhhh kan?Akhirnya ia berhasil menemukan induk dan saudara saudaranya” kata saya lega. Anak sayapun tampak lega.

Alam selalu menyediakan pemecahan masalah bagi mereka yang sepenuh hati mencarinya. Bahkan untuk kucing liar sekalipun.

 

Tentang Keraguan.

Standard

KolamkuSaya sedang mengamat-amati serangga di cabang Pohon Bintaro di depan rumah, ketika terdengar suara cipratan air kolam.  Saya menengok sebentar. Ternyata suara dari gerakan-gerakan anak-anak ikan mas yang berkumpul dan bercanda di permukaan air berebut oksigen. Ikan-ikan itu terlihat menarik. Warnanya yang merah jingga terlihat sangat cemerlang, kontras dengan warna air kolam yang mulai sedikit keruh. Kebetulan pompa air sedang agak rusak, jadi perputaran air kolam tidak maksimal.

Suara kecipak air karena ikan-ikan kecil itu bukan hanya menarik perhatian saya. Tapi juga kucing liar yang  diadopsi anak saya. Ia  tampak berdiri di depan kolam memandang ke arah ikan-ikan. Apa yang akan dilakukan oleh si kucing ? Karena penasaran, saya memutuskan untuk mengamat-amati kelakuan kucing itu sambil menyandarkan punggung di pagar dan mengurangi gerakan saya agar si Kucing tidak merasa terganggu.

Kucing

Ia berdiri di depan kolam. Matanya lurus ke depan ke arah ikan-ikan yang sedang berenang tanpa berkedip sedikitpun. Saya pikir ia ngiler melihat ikan-ikan itu. Kucing biasanya doyan ikan. Dan saya membayangkan otak kriminal kucing itu sedang bekerja keras bagaiamana caranya menangkap calon mangsanya itu.  Lalu perlahan ia menaikkan kedua kaki depannya ke dinding kolam yang rendah. Menonton gerakan-gerakan ikan dengan penuh perhatian. Lama ia berdiri dengan posisi seperti itu. namun entah apa sebabnya, tiba-tiba ia menarik mundur kembali ke dua kakinya dan berdiri kembali di paving block depan kolam. Tampak seolah sedang berpikir.  Entah apa yang ada di dalam pikiran kucing itu.

Kucing 1

Tak seberapa lama kemudian ia mengangkat kembali ke dua kaki depannya dan melongokkan lagi kepalanya dengan penuh perhatian. Sungguh saya geli melihat kelakuan si kucing. Ia tampak sedemikian ngiler terhadap ikan dan sama sekali tidak “ngeh”akan apa yang terjadi di sekitarnya. Saya rasa ia akan segera menyergap ikan-ikan dipermukaan air itu. Namun tak kunjung ia lakukan juga.Lama saya perhatikan, ia tetap berada di posisi itu. Hanya menonton dengan sikap ancang-ancang mau meloncat. Keplanya sedikit dimajukan ke depan, atau ditarik sedikit kebelakang. Di ulang lagi.  Rupanya ia ragu. Terlihat dari raut wajahnya yang tak pasti. Iapun menurunkan kembali ke dua kaki depannya.  Duduk ladi di bawah. Lalu menaikkan kedua kakinya lagi. Terus turun lagi. Demikian terjadi berulang-ulang.Membuat saya semakin penasaran. Ttak kunjung ia berani juga.

Kucing 3

Hingga akhirnya tibalah saatnya barangkali ia menetapkan hatinya. Ia menaikkan ke dua kaki depannya, lalu disusul dengan kedua kaki belakangnya. Mata lurus ke depan dan posisi siap menyergap.  Saya menunggu dengan tegang. Satu…dua….tiga….empat…. tidak terjadi apa-apa.  Eh… tiba-tiba kucing itu membalikan badannya dan turun. Ngibrit!. Loh? Kok nggak jadi? Kok malah turun?

Kucing 4

Sekarang saya melihat  kegalauan di wajahnya. Ia cuma duduk bengong di dekat pot teratai dan memandang ke sisi  samping kolam. Apayang terjadi? Merasa penasaran,akhirnya saya mendekat. Oooh… rupanya ia takut pada Kura-Kura. Di kolam kami, saat ini tinggal 2 ekor kura-kura bernama Galapago & Sicilia.  Padahal tentu saja kura-kura jinak  itu tidak akan menyerang kucing.  Kura-kura itupun saya lihat hanya anteng-anteng saja di situ. Entah kenapa kucing itu kok keder duluan.  Barangkali karena ukuran kura-kura itu lumayan gede juga. Kucing itu jadi ragu-ragu dalam bertindak. Ragu bertindak yang membuat upaya kucing itu  jadi gagal berantakan. Ragu terhadap keberanian dan kemampuannya sendiri hanya gara-gara melihat kura-kura yang mungkin ia sangka akan menyerangnya atau setidaknya menjegal usahanya dalam menangkap ikan. Keraguan itulah yang pada akhirnya membawa kegagalan bagi kucing ini.

“KERAGUAN DALAM BERTINDAK, MENGURANGI PELUANG KITA UNTUK SUKSES”

Memikirkan kalimat itu,  kok rasanya sangat familiar ya?  Apakah ada yang merasa familiar juga dengan kalimat itu? Yap! Saya rasa kalimat ini tidak hanya berlaku untuk Kucing saja.  Berlaku juga untuk kita manusia. Kita sering gagal, akibat kita tidak terlalu yakin akan apa yang kita lakukan. Akibat perasaan ragu-ragu yang mengganjal.

Kita tidak yakin apakah jalan yang kita tempuh sudah merupakan yang jalan yang tepat atau tidak. Kita tidak yakin apakah keputusan yang kita ambil sudah yang terbaik diantara pilihan yang ada atau tidak. Dan sebagainya. Sehingga sambil menjalankannya, kita masih membayangkan jalan lain atau option lain yang kita pikir seharusnya masih bisa kita pertimbangkan dan pilih. Kita merasa ragu-ragu. Pikiran kita terpecah. Akibatnya kita menjadi kurang fokus dalam eksekusi. Dengan sendirinya, pekerjaan yang dilakukan tanpa fokus tentu hasilnya tidak sebaik jika kita melakukannya dengan tingkat fokus yang lebih tinggi.

Akan menjadi sangat berbeda ketika kita yakin akan apa yang kita lakukan adalah hal yang tepat atau terbaik. Pikiran kita menjadi jauh lebih simple. Dan tidak ada alternatif  lain yang harus kita pikirkan lagi, sehingga pikiran kita benar-benar terfokus dalam menjalankannya. Pikiran dan perasaan kita tercurah seluruhnya untuk menjalankan keputusan itu.Sebagai akibat dari fokus, tentu hasil pekerjaan kita juga akan lebih baik.

Hal lain yang kadang membuat kita ragu adalah kurangnya pemahaman kita akan hal-hal yangberkaitan dengan keputusan yang kita jalankan.   Serupa dengan kura-kura jinak di kolam itu. Hanya gara-gara ukurannya yang besar, kucing itu salah impresi mengira kura-kura itu ganas dan akan menyerangnya. Akibatnya ia ngibrit dan menghentikan usahanya untuk menangkapikan. Ia tidak memperhatikan bahwa sebenarnya kura-kura itu sangat jinak dan bersahabat.  Selain itu pandangan mata kura-kura juga tidak begitu cemerlang. Tidak secemerlang mata kucing. Kalaupun ia melihat kucing itu menangkap ikan di kolam, ia tak akan bisa berbuat apa-apa juga. Jika ia paham, tentu ia tidak akan sekhawatir itu.

Serupa dalam  kehidupan kita, jika kita merasa ragu akan sesuatu, barangkali ada baiknya kita teliti dan pahami dengan baik hal-hal yang membuat kita menjadi ragu. Apakah benar apa yang membuat kita ragu itu adalah hal yang memang seharusnya kita khawatirkan? Atau jangan-jangan hanya sesuatu yang tampaknya saja sulit, tampaknya saja besar padahal sebenarnya  kecil, dan mudah ?

Dengan demikian, hanya jika apa yangkita khawatirkan itu memang benar sesuatu yang besar dan sulit, setidaknya keraguan kita kini lebih terjawab dan berubah menjadi sebuah kepastian.

Saya harap saya bisa  lebih yakin dalam setiap pilihan hidup dan keputusan yang telah dan akan saya ambil.

 

Mengenai Perikebinatangan.

Standard

Kucing AnonimousHari Minggu pagi, saya mengajak anak saya yang kecil berpetualang kembali di pinggir kali di belakang rumah.  Petualangan yang sangat menyenangkan, walaupun pulang-pulang kulit pada bentol-bentol digigit nyamuk. Ketika kembali berada di belakang rumah, saya mendengar anak saya yang besar berteriak  dari halaman rumah memanggil-manggil nama saya.  Suaranya terdengar panik. Ada apa ya?Saya jadi ikutan panik. Tak biasanya anak saya yang besar sudah bangun sepagi ini pada hari Minggu.

“Mama!  Mama! Tolong kucingnya Ma. Lehernya dijerat orang!” Kata anak saya.   Sayapun bergegas pulang.

Astaga!!!. Kucing liar (saya tidak tahu siapa pemiliknya) yang sering datang berkunjung ke rumah saya itu lehernya terjerat tali plastik. Anak saya mengetahui kalau leher kucing itu terjerat, ketika melihatnya datang ke rumah meminta makan.  Mungkin sudah lebih dari sebulan kucing itu selalu datang ke rumah untuk meminta makanan.  Sangat jinak dan manja. Saya pikir mungkin sebenarnya kucing itu bukan kucing liar. Hanya barangkali pemiliknya tidak terlalu perduli padanya saja. Sehingga ia tampak kurus dan kurang terpelihara. Karena tak tahu nama dan pemiliknya, maka saya sebut saja kucing itu Si Anonimous.

Sekarang kucing itu terlihat sangat lemas tak berdaya. Tentu sangat sulit bernafas. Boro-boro bisa makan.

Tali Rafia Yang Dipakai menjerat leher kucingRupanya Si Mbak dan anak saya di rumah sudah berusaha membantu melepaskan tali plastik berwarna yang menjerat leher kucing itu. Namun karena tali itu terlalu ketat dan  mereka takut usahanya akan semakin mencekik leher kucing itu, maka merekapun menghentikan usahanya.

Melihat itu, saya tak punya pilihan lain lagi. Saya minta anak saya memegang kucing itu agar tidak bergerak. Lalu dengan sedikit menekan tubuhnya dan mengangkat tali itu, saya berusaha keras menyelipkan ujung gunting diantara kulit kucing dan tali plastik itu. Semuanya menahan nafas, karena sekarang kucing itu pasti sangat tercekik dan tidak bisa bernafas.  Saya coba gunting tali itu, namun tidak berhasil.  Keras juga rupanya. Atau barangkali terlalu menempel di kulit kucing itu?.  Saya coba sekali lagi menggunting tali itu dengan tenaga yang lebih kuat dan lebih cepat.  Lalu… kresss… kresss.

Mhhh..hah!!! Syukurlah! Akhirnya tali itupun putus dan kucing Anonimous itu bisa bernafas lega kembali.  Kedua anak saya dan Si Mbakpun ikut bernafas lega. Anak saya lalu memberinya makanan. Karena tempat makanannya tidak ada, maka ia hanya meletakkannya di lantai halaman saja.

Memberi makan kucingYang saya bingung adalah, kok ada ya orang bisa setega itu terhadap binatang?. Tidak habis pikir rasanya. Apa yang ada di pikiran orang itu ketika melakukan perbuatan yang tak mengenal kasih  terhadap sesama mahluk?

Saya bisa mengerti, mungkin sebagian orang ada yang memang tidak menyukai kucing.  Entah karena suaranya yang manja, atau terlalu ribut saat musim kawin. Atau entah karena takut sama bulunya, atau karena pernah melihat kucing mencuri makanan di dapurnya dan entah karena masalah lain.  Tapi tentunya hal itu tidak cukup memberi alasan kepada kita manusia untuk boleh saja seenaknya melakukan perbuatan kejam yang sama sekali tidak terpuji itu terhadap seekor kucing, bukan?. Jika kita tidakmenyukainya, mungkin cukup hanya dengan mengusirnya dan melarang kucing itu masuk ke rumah kita. Dan bukan menjerat lehernya hingga kucing itu megap-megap kehabisan nafas.

Sama seperti kita, kucing juga mahluk hidup ciptaan Tuhan yang punya nyawa, punya rasa takut, sedih dan marah. Kucing juga mengenal trauma jika pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh manusia.

Banyak yang mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang lebih mulia dibandingkan dengan binatang. Namun jika kita menjerat leher kucing karena hanya ingin menyakitinya saja, sementara kucing tidak pernah menjerat leher kita, apakah kita layak mengaku diri lebih mulia?  Sungguh sebuah hal yang perlu direnungkan.

Semoga semakin banyak manusia yang bersikap baik pada binatang.

Selamat Jalan Persia…

Standard

Andani - Kucingku Persia 1

Kematian adalah perjalanan baru  menuju cahaya

Di mana tidak ada lagi kegelapan dan malapetaka.

Kematian adalah perjalanan baru menuju kedamaian

Di mana tidak ada lagi pertarungan memperebutkan kekuasaan.

Kematian adalah perjalanan menuju kenyamanan yang melegakan.

Dimana tidak ada lagi kesakitan dan derita.

Selamat Jalan Persia… Read the rest of this entry

Persia Pulang Dari Klinik- Perkelahian Kucing Jantan Dan Abses Yang Ditimbulkannya.

Standard

Mengangkat PersiaHari Minggu! Ini hari ke-lima Persia di opname di Klinik Hewan Veterina Satwa di Sektor IX Bintaro. Sesuai dengan perkiraan yang disampaikan oleh drh Yosep Sukarji yang menanganinya. Sebagaimana halnya kucing jantan yang mulai menanjak dewasa,Persia terlibat perkelahian dengan seekor kucing jantan lain yang mengakibatkan dirinya menderita luka. Luka akibat cakaran kuku kucing liar itu rupanya meninggalkan abses yang cukup parah di bagian dadanya. Berkali kali ia tampak meringis menahan sakit di dadanya. Persia pun demam dan lemas tak berdaya. Selain itu ia kedapatan muntah-muntah, yang mengakibatkannya semakin dehidrasi dan lemah.Itu terjadi pada hari selasa yang lalu. Saya tidak mempunyai obat dan peralatan, dan selain itu juga tidak punya waktu untuk merawatnya, karena harus segera berangkat dinas ke luar kota. Read the rest of this entry

Animal Behaviour – Kisah Kepahlawanan Seekor Kucing.

Standard

Andani - Persia & La Kitty 7Anak saya memiliki 2 ekor kucing yang diberi nama La Kitty dan Persia. La Kitty berwana putih dengan belang coklat abu-abu, sedangkan Persia berwarna putih dengan belang hitam. Keduanya adalah anak kucing liar yang didomestikasi di rumah kami. Namun keduanya ternyata memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Walaupun sama-sama kucing jantan dan sama-sama berasal dari kehidupan liar ternyata mereka memiliki karakter yang berbeda.  La Kitty tumbuh menjadi seekor kucing yang pendiam, serius dan  seekor petarung yang tak kenal kata menyerah. Suaranya keras dan jelas kalau sedang mengeong. Sebelumnya saya sudah pernah bercerita bagaimana La Kitty dengan tak kenal lelahnya bertarung dengan seekor kucing jantan berwarna hitam untuk mempertahankan sesuatu yang ia pikir harus pertahankan. Sementara Persia adalah seekor kucing yang manja, lucu dan periang. Suaranya pun terdengar sangat manja dan lucu. Read the rest of this entry

Persia, The Cutest Morning Alarm.

Standard

Animal behaviour.

Andani- Persia

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah bercerita tentang Persia, anak kucing liar yang membuntuti anak saya terus. Karena setelah melapor ke Satpam dan minta cross-ceck, ternyata tetap tidak ada seorangpun yang memilikinya, maka anak kucing liar  itu akhirnya menjadi anggota keluarga kami. Sekarang sudah lebih dari 3 bulan ia bersama kami. Anak saya memelihara dan merawatnya dengan sangat baik. Memberinya makan dan memandikannya dengan telaten.Juga menemaninya bermain di saat-saat senggang. Sebagai akibatnya kucing kecil ini menjadi sangat manja dan selalu menyenangkan. Wajahnya sangat lucu, cantik dan menggemaskan. Read the rest of this entry

Welcome, Persia…

Standard

Pulang kantor saya melihat anak saya  bermain di teras depan. Agak mengherankan. Pertama karena hari sudah malam. Seharusnya ia ada di kamar mengerjakan PR atau belajar.  Kedua karena tidak biasanya ia seperti itu.  Ada apa? Saya mendekat. Ooh, rupanya ia sedang menunggui seekor kucing kecil yang diletakkannya di dalam keranjang. “Mama, kita  punya kucing baru” kata anak saya. Waaww! Tambah heran saya.  Kucing baru? Berarti mulai sekarang kami akan memiliki dua ekor kucing. Bagaimana bisa? Darimana ia  mendapatkan  kucing? Apakah ayahnya sudah setuju? Mengingat suami saya sama sekali tidak menyukai kucing. Satu kucing saja sudah membuatnya bete,apalagi dua ekor kucing. Read the rest of this entry