Tag Archives: Kuliner

Loksado Writers & Adventure 2017 : Jangan Santan Umbut Kelapa.

Standard

Berkunjung ke Loksado sungguh memberi banyak pengetahuan baru bagi saya. Bukan saja tentang hal yang baru saya lihat, baru saya alami dan rasakan, baru saya dengar dan bahkan baru pertama kali saya kecap. Agak lebay kah saya? Tentu tidak!. 

Jangan Santan Umbut Kelapa.

Serius. Bagi saya Loksado itu ternyata membawa pengalaman baru kuliner juga. Selain Soto Banjar yang kesohor itu, ternyata ada lagi makanan yang sungguh mati saya doyan banget. Namanya Jangan Santan Umbut Kelapa. Nah..ikut penasaran kan?. 
Awalnya saya menyangka itu Sayur Lodeh biasa. Bukan. Kata Ibu yang masak. Namanya “Jangan Santan” katanya. Oh. Oke. Buat saya malah lebih mudah. Karena kata Sayur pun dalam bahasa Bali halus disebut dengan “Jangan” juga. Jadi Jangan Santan = Sayur Santan. Oke. Oke. Ini gampang buat saya mengingat.

Kemudian saya melihat ada irisan benda putih putih di dalamnya. Apa itu? Rebung bambu kah? . Saya cicip. Waah… enak banget. Bukan rebung. Lebih enak dari rebung malah. Tapi apa ini? 

Ini namanya Umbut Kelapa. Saya tetap heran dan penasaran. Umbut Kelapa ? Apa itu? Lalu saya dijelaskan oleh ibu itu bahwa Umbut Kelapa adalah pucuk pohon kelapa yang akan tumbuh jadi daun daun kelapa. Biasanya diambil dari pohon kelapa yang ditebang. Ooh!. Saya terkejut bukan alang kepalang. Waduuh… agar bisa diambil umbutnya, sebuah pohon kelapa harus ditebang dulu ya. Pasti sangat mahal harganya. “Ya..memang mahal. Sekilonya bisa lima puluh ribu atau lebih” jelas ibu itu.  Saya manggut manggut. 

Lalu memasaknya gimana? Rupanya serupa juga dengan Sayur Lodeh biasa. Bawang merah, bawang putih, terasi, garam diulek. Lalu digeprek lengkuas, sereh dan daun salam. Dan tentunya Santan ya…buat kuahnya. 

Sungguh. Sayur ini enak banget. Habis sepiring oleh saya. Terasa kurang. Bolehkah saya nambah ya? Sebenarnya tak ada yang melarang. Tapi ini bersantan. Apa-apa nggak ya jika makan sayur santan ini banyak? Terlalu banyak lemak nggak ya? 

Lalu saya melirik ke piring dokter Handrawan Nadesul yang kebetulan duduk di samping saya. Kelihatannya beliau juga sangat menikmati sayur bersantan itu. Anteng menyuap dan mengunyah dengan pelan.  Sayapun merasa tenang. 

Kalau beliau yang seorang dokter ahli kesehatan yang umurnya dibatas saya,  terlihat baik-baik dan santai saja menikmati apapun yang dihidangkan tanpa terlihat berpantang, mungkin nggak apa-apa juga barangkali buat saya makan Jangan Santan Umbut Kelapa ini sedikit agak banyak. 

Hiyaaa… mari kita nambah ūüėćūüėćūüėćūüėćūüėć

Yuk kita wisata Kuliner ke Kalimantan Selatan. Cintai masakan Indonesia!. 

Oncom Hitam Sukabumi.

Standard

image

Oncom!. Pertama kali tahu makanan bernama oncom ini di rumah seorang sahabat di Singaraja yang kebetulan papanya orang Sunda. Saat itu saya disuguhi keripik oncom. Sungguh mati saya tidak menyukai tampang dan juga rasanya. Gimana ya…rasanya rada rada ajaib dan nggak menarik begitu menurut saya, tapi karena tidak enak hati kepada tuan rumah saya berusaha menghabiskannya juga sepotong.

Namun dengan berjalannya waktu dan semakin seringnya saya bergaul dengan oncom, lama lama saya suka juga sama si oncom. Dan sekarang malah termasuk salah seorang penggemarnya. Mungkin itu apa yang disebut orang sebagai “witing tresno jalaran soko kulino”. Ketagihan oncom!.

Kalau di Jakarta sehari harinya yang kita temukan adalah oncom berwarna orange. Tapi jika di Sukabumi, yang umum saya temukan di jual di pasar dan tukang sayur adalah oncom hitam.

Bedanya apa ya? Menurut keterangan yang saya dapat, oncom orange dibuat dari ampas kedelai saat orang mau bikin tahu dan difermentasi dengan kapang Neurospora intermedia yang berwarna merah jingga. 

Sedangkan oncom hitam dibuat bukan dari ampas tahu, tapi dari kacang tanah segar dan difermentasi dengan jamur Rhyzopus oligosporus, kapang yang sama yang juga dipakai untuk memfermentasi tempe. Kalau begitu, ya menurut saya secara teknis, oncom hitam itu sama dengan tempe hanya saja beda di bahan baku. Tempe menggunakan kacang kedelai, sedangkan oncom hitam menggunakan kacang tanah. Jadi sebenarnya oncom hitam = tempe kacang tanah.

Bagaimana mengolahnya? Serupa dengan oncom orange, oncom hitam umumnya dimasak dengan cara ditumis, dipepes atau dibikin keripik. Rasanya? Ya seperti yang saya ceritakan tadi… ngangenin!. Kalau saya ditanya sekarang, jawaban saya pasti enak walaupun dulu saat awal awal rada bingung juga soal rasa oncom ini. Apalagi jika ditumis pedas…. wah.. mantap deh. Sekarang, setiap kali jika saya dari Sukabumi pasti saya membawa oncom hitam ini ke Jakarta.

Yuk kenali dan cintai makanan traditional kita!

Onion Rings – Cincin Renyah Kesukaan Anak.

Standard

Hujan-hujan di rumah. Enaknya ngapain ya? Ngemil. Anak saya yang besar sudah merencanakan cemilannya sendiri saat saya ajak turun ke Supermarket. Kebetulan rice cooker di rumah rusak. Jadi mau nggak mau harus diganti. “Aku pengen onion rings” kata anak saya lalu minta ijin memilih bawang bombai dari rak sayuran.¬† Saya mengangguk setuju.2016-01-02-12.50.54.jpg.jpeg

 

Selanjutnya karena saya lagi agak malas masak, saya pikir ada baiknya membeli tepung berbumbu yang siap pakai saja. Nah…cari tepung bumbu yang crispy hasil gorengannya.

Bawang bombai, adalah salah satu bumbu dapur  yang baik untuk disiagakan di dapur. Selain baik untuk dijadikan bumbu nasi goreng, buat teman acar, salad, omelette, dan berbagai masakan lainnya,  juga sangat enak  digoreng cincin seperti onion ring ini. Anak anak sangat menyukainya.

Cara membuatnya juga gampang.

1/. Bawang bombai dibersihkan dari kulit luarnya ysng berwarna coklat kemerahan.
2/. Iris bawang bombai melintang sehingga membentuk bidang lingkaran. Yang jika dilepas lapisannya satu per satu akan membentuk gelang atau cincin.
3/. Siapkan tepung bumbu.  Bagi dua. Setengahnya dilarutkan dengan air buat bumbu celup. Setengahnya lagi dibiarkan kering.
4/. Siapkan wajan. Masukkan minyak dan panaskan. Setelah panas kecilkan api kompor.
5/. Celupkan cincin bawang itu satu persatu pada adonan cair. Lalu gulingkan di tepung bumbu yang kering.
6/. Goreng cincin bawang hingga kekuningan  dan matang. Angkat dan tiriskan.
7/. Hidangkan dengan cocolan saus cabe atau saus tomat. Bisa juga dihidangkan dengan cocolan mayonaise.

Enak buat cemilan keluarga sambil menunggu hujan reda. Apalagi ditemani dengan teh hangat. Wah..mantap deh.

Telor Dadar Bangli.

Standard

image

Ngobrol di group teman teman SMA Bangli selalu menyenangkan. Banyaklah yang diobrolkan. Mulai dari kabar teman-teman, keluarga, acara dan upacara, pingpong, joke hingga ke masakan.

Nah sore tadi entah bagaimana mulainya kami ngobrol soal masakan traditional Bali. Bukan rahasia lagi kalau kaum pria di Bali banyak yang lebih jago masak ketimbang para wanitanya. Dan sudah pasti diantara para pria teman-teman kami yang  ada di grup itu ada yang jago masak.

Saya memanfaatkan kesempatan untuk dibimbing membuat sate lilit yang enak. Secara kedua anak saya adalah penggemar sate lilit Bali. Namun sayangnya teman saya itu hanya mengatakan kuncinya ada pada cara mengadonnya. Dan agar menempel baik di tangkai sate, tekanan tangan saat menempelkan bahan sate harus pas sehingga hasil dan bentuknya indah dan mulus. Wah…saya masih tetap tidak tahu clue-nya.

Lalu ia memberi resep sederhana telor dadar/telor goreng yang enak. Sepintas lalu rasanya tidak ada yang baru. 2 butir telor dikocok dengan rajangan halus bawang merah (4 siung), bawang putih (1 siung), 1 batang daun seledri, sekuku jahe, selembar daun jeruk, cabe rawit nerah yang dibuang bijinya (4 buah) dan garam secukupnya. Lalu apanya yang berbeda? Penggunaan rajangan jahe dan daun jeruk. Itu yang membuatnya berbeda.

Merajang bahan-bahan ini harus halus. Dan telor dikocok agak lama hingga benar benar tercampur.

Panaskan sedikit minyak dalam wajan, gerakkan ke seluruh permukaan penggorengan untuk mencegah lengket. Sebenarnya sih terserah mau digoreng atau didadar. Tergantung selera. Intinya masak di atas api kecil hingga matang dan kekuningan.  Angkat telor. Hidangkan di atas piring saji.

Nah… saya pikir ini sesuatu yang mudah dan cepat dibuat. Mengapa tidak dibuat saja? Saya lalu memeriksa apa saja yang ada di dapur. Semuanya ada. Kecuali daun jeruk.¬† Baiklah untuk kali ini saya tidak pakai daun jeruk dulu. Tapi saya ada jahe.

Ternyata setelah saya coba enak banget. Bahkan wanginya saat mendadar saja sudah menggoda. Rasanya agak hangat-hangat khas begitu. Mungkin karena pengaruh sedikit jahe di dalamnya. Juga mengingatkan akan rasa telor dadar masa lalu di kampung halaman saya di Bangli. Makan dengan nasi hangat-hangat tentu lebih enak lagi.

Nah…saya kasih lah masakan ini dengan nama Telor Dadar Bangli.

Itulah salah satu guna teman. Berbagi resep masakan. Terimakasih ya teman…

Yogyakarta: Jamur-Jamur Yang Cantik.

Standard

Jamur adalah salah satu tanaman yang menarik perhatian saya sejak kecil. Saya suka mengamatinya tumbuh di halaman rumah, di kebun, dekat tanaman,dekat sarang laron, di batang pohon yang membusuk dan sebagainya. Terkadang saya juga belajar mengidentifikasi mana yang beracun dan tidak dari ibu saya. Sayangnya sampai sekarang saya masih belum hapal juga yang mana saja jenis jamur yang ‘edible’dan mana yang tidak. ¬†Tetap saja ragu jika melihat jamur di alam, apakah bisa dimakan atau tidak.

Beberapa waktu yang lalu, ketika berkunjung ke kota Yogyakarta, saya mampir di sebuah rumah makan yang semua menunya terdiri atas jamur. Berbagai jenis jamur – yang semuanya bisa dimakan tentunya.

Sebenarnya pernah membaca tentang rumah makan ini sebelumnya dari tulisan teman-teman blogger lainnya. Namun begitu melihat sedemikian banyaknya jenis hidangan dari¬† jamur ¬†yang tersedia di sana (dan…enak semuanya), saya jadi merasa sangat takjub!. Selama ini saya hanya mengolah jamur menjadi pepes, tumis, sup ataupun gorengan. Tapi ternyata di luar itu, jamur bisa juga di sate. Di bikin rendang, ¬†asam manis, oseng-oseng, lumpia, peyek, dan sebagainya…hingga minumanpun bisa dibuat dengan jamur. Walah… Kita bisa belajar kreatif dari restaurant ini.

Selain itu, di sebuah pojok  restaurant disediakan display berbagai jenis jamur hidup yang membantu kita untuk mengetahui berbagai jenis jamur yang bisa dimakan ataupun dijadikan obat. Ada berbagai macam. Warnanya cerah dan bentuknya cantik-cantik dan artistik. Sangat cocok dijadikan penghias ruangan. Walaupun tidak sedang membawa kamera, saya merasa sangat beruntung jaman sekarang kita bisa menggunakan telpon genggam untuk mengabadikan apa yang kita lihat.

Ade beberapa yang masih saya ingat namanya, walaupun sebagian lupa juga. Setidaknya di sana ada jamur Lingzhi yang diyakini berkhasiat menyembuhkan beberapa jenis penyakit tertentu. Lalu ada jamur tiram yang cantik. Warnanya putih dan bentuknya seperti tiram. Namun ada juga jenis jamur tiram merah yang warnanya sungguh sangat indah. Lalu saya juga melihat ada jenis jamur kuping. Terus jamur kancing. Lalu ada jenis jamur besar yang mirip King oyster.  Kemudian ada lagi jenis jamur yang entah apa namanya, warnanya hitam legam. Jamur-jamur itu ditata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik sebagai penghias pojok ruangan.

Yuk, kita berkunjung  ke Yogya !

Jukut Bulung, Sayur Rumput Laut Untuk Kesehatan dan Kecantikan.

Standard

Kalau ada yang bertanya kepada saya, kira-kira masakan khas Bali apa yang akan saya jagokan sebagai masakan yang layak ditampilkan dalam festival makanan unik nusantara? Maka ¬†salah satu yang akan saya nominasikan ¬†adalah “Jukut Bulung”. Hah? Jukut Bulung?Apa itu? Tentu akan banyak yang bertanya-tanya.

Jukut Bulung Boni

Bulung adalah kata dalam bahasa Bali untuk “Rumput Laut” alias Sea Weed. Terminologi yang sangat umum bagi penduduk pulau kecil yang dikelilingi laut dimana-mana itu. Karena laut ada dimana-mana di setiap penjuru mata angin, maka hasil laut merupakan sumber¬† makanan yang sangat penting di Bali. Bukan hanya ikan, udang, kepiting atau cumi-cumi, yang umum dijadikan lauk pauk teman makan nasi, tetapi rumput laut juga memegang peranan penting sebagai sayuran yang umum kita temukan dimana-mana, terutama di daerah pesisir pantai.

Sejak berabad-abad  masyarakat Bali memetik rumput laut untuk dijadikan sayuran segar. Para wanita di Bali percaya, sayur rumput laut alias Jukut Bulung, bukan hanya menyehatkan karena mengandung berbagai jenis mineral laut,   juga dipercaya merawat kecantikan dan menjaganya agar lebih awet,  sehingga tetap terlihat muda lebih lama. Oleh karenanya, Jukut Bulung muncul sebagai salah satu sayuran traditional favorit untuk dicamil oleh para wanita di Bali, diluar Jukut Plecing Kangkung, Jukut Santok dan Jukut Seromotan.  Karena saya sudah mengunjungi cukup banyak kota di Indonesia dan tidak mudah menemukan sayuran ini dijual di pasar umum, maka saya pikir masakan ini mungkin bisa dikategorikan sebagailumayan unik keberadaannya  di Bali.

Catatan” Sebenarnya bahan mentah rumput laut pernah saya temukan (saya beli dan saya bawa ke Jakarta juga sih) dijual di sebuah pasar Traditional di Makasar beberapa tahun yang lalu. ¬†Hanya saja saya tidak tahu bagaimana saudara kita di Makasar biasanya memasak rumput laut ini sebagai sayuran. ¬†

Pemahaman akan betapa berharganya rumput laut ini bagi kesehatan dan kecantikan, membuat nelayan semakin semangat untuk memetik atau sengaja membudidayakan tanaman ini di pantai. Berikutnya sekaligus  menarik pihak lain untuk membeli  rumput laut yang dibudidayakan di Bali. Umumnya rumput laut ini di eksport ke Jepang untuk menunjang industri kecantikan dan obat-obatan.   Salah satu tempat di bali yang sangat terkenal dengan pembudidayaan rumput lautnya adalah Nusa Penida dan nusa-nusa di sekitarnya (Nusa Ceningan, Nusa Lembongan) dan juga di Pulau Serangan.

Ada beberapa jenis rumput laut yang dibudidayakan dan dijadikan bahan makanan, namun untuk “Jukut Bulung” ada 2 jenis rumput yang paling umum digunakan, yakni Bulung Putih dan Bulung Boni.

Bulung Putih

Bulung Putih  sangat umum dijadikan sayuran dan paling sering dijual di pasar-pasar traditional.  Kita bisa menemukannya dijual umum setiap hari dengan mudah. Warnanya putih agak krem. Bentuknya  mirip bihun. Rasanya enak, agak kenyal.

Bulung Boni

Bulung Boni, berwarna hijau dan lebih  jarang didapat. Daunnya lucu,menggemaskan.  Umumnya ada dijual di pasar-pasar saat bulan purnama. Rasanya lebih kenyal lagi dan lebih empuk dibanding Bulung Putih.

Rumput laut umumnya dimasak dengan cara direbus. Seperti makan plecing, umumnya bumbu dipisahkan dan hanya dicampur saat menjelang makan saja. Bumbunya terdiri atas 2 bagian, yakni bumbu kelapa parut dan bumbu kuah. Bumbu kelapa parut terdiri atas kelapa bakar dan Laos  yang diparut . Sedangkan untuk bumbu kuah bumbunya biasanya ulekan cabe rawit dan terasi bakar serta sedikit garam yang dicampur dengan kaldu ikan (bahasa Bali = Kuah Pindang). Cara menghidangkannya biasanya Bulung ditata di atas piring saji, ditaburi dengan bumbu kelapa parut lalu disiram dengan bumbu kuah pindang. Tampilannya agak mirip dengan sayur Urap versi laut.

Nyam nyam.. wah..jadi kangen. Pengen pulang…

Mencicipi Masakan Lombok.

Standard

Ke Lombok, tentu tidak lengkap tanpa menikmati kulinernya. Demikianlah ketika saya dan seorang teman kebetulan ada urusan di  Lombok. Sebenarnya saya agak buru-buru, namun seorang sahabat saya drh I Ketut Wetrana yang tinggal di Lombok berkata bahwa tidak adil jika saya ke Lombok tapi tidak sempat menemuinya. Saya pikir ada benarnya juga. Sudah sangat lama saya tidak bertemu dengan sahabat semasa kuliah yang sudah seperti saudara sendiri itu.  Mungkin ada baiknya saya menemuinya di perjalanan ke bandara. Ia meminta saya mampir di sebuah rumah makan khas Lombok -sayang saya lupa namanya.  Ia akan menunggu di sana.

Masakan Lombok

Masakan Lombok

Sesuai dengan janji, di perjalanan saya pun mampir bersama dengan 2 orang teman saya. Rupanya kolega saya itu sudah memesankan makanan untuk kami nikmati sore itu. Makanan Lombok tentu saja. ¬†Satu paket yang terdiri atas sekitar 11 jenis. Mulai dari Ayam panggang, Lebui, Ikan Bakar, Tengkong, Pelecing Kangkung, Beberok Terong, Ikan dibumbu kuah, pepes ikan, ikan teri kacang, telor dadar, hingga tahu dan tempe. Waduuuh! Walaupun porsi masing-masing jenis masakan itu tidak terlalu besar untuk kami berempat, namun yang jelas jenisnya itu banyak sekali. Jadi keseluruhannya,judulnya…makanannya banyak sekali.

Melihat masakan itu, saya merasa kembali ke alam pedesaan. Sangat alami, apalagi dinikmati di saung lesehan beralaskan bambu di rumah makan yang terlihat sangat asri dengan pemandangan sawah dan kolam kangkungnya.

Masakan Lombok terkenal pedas dan enak. Itu barangkali sebabnya kenapa pulau itu disebut dengan Pulau Lombok. Barangkali karena cabenya yang memang selalu menghiasi masakannya. Jenis masakan yang terhidang itu mungkin sudah familiar bagi sebagian orang,namun bagi sebagian orang lain lagi barangkali belum tahu. Nah inilah sebagian dari jenis masakan Lombok yang saya sukai.

1. Lebui.

lebui

Lebui adalah Kacang Hitam yang di dalam Bahasa Balinya disebut dengan  Undis, atau dalam Bahasa Jawanya disebut dengan Gude. Cara yang umum memasak Lebui adalah dengan menjadikannya Sayur Kuah alias Sop, dengan bumbu traditional bawang merah dan putih, kunyit, jahe,lengkuas, kencur, garam,cabe dan daun lengkuas. Sayur bisa ditambah dengan daun-daunan hijau seperti bayam ataupun kacang panjang, tergantung selera. Kuahnya biasanya hitam. Menurut saya, sayur Lebui ini enak sekali.

2/. Tengkong.

Tengkong

Tengkong adalah Jamur dalam Bahasa Lombok. Jamur yang dihidangkan dimasak tumis. Namun Tumis Jamur alias Tengkong ini sangat enak. Saya cukupsering menumis Jamur Tiram seperti ini, tapi biasanya rasanya lebih hambar dibanding ini. Lagi-lagi saya tidak tahu apakah penyebabnya karena cabe Lombok itu memang beda dan lebih enak dari tempat lain? Saya tidak tahu. Yang jelas Tengkong ini sangat enak dan bumbunya meresap, terutamabagi penggemar masakan pedas.

3/. Pelecing Kangkung.

Pelecing

Nah kalau yang ini sih kelihatannya sudah banyak yang tahu. Pelecing Kangkung adalah masakan sehari-hari di Bali dan Lombok. Walaupun demikian Pelecing Kangkung di kedua pulau itu memiliki gaya yang berbeda-beda.  Pelecing adalah sayuran yang direbus dengan bumbu pedas. Bahan utamanya biasanya kangkung, lalu ditambah dengan sayuran lain seperti rebusan kacang panjang dan tauge,lalu ditabur dengan urap kelapa dan sambal merah (atau kadang sambal kacang pedas)  plus kacang tanah.

4/. Beberok Terong.

Beberok Terong

Beberok terong adalah masakan asli Lombok,dengan bahan dasar Terong mentah yang dipotong-potong (kadang dicampur dengan kacang panjang mentah yang diiris-iris) dan diberi bumbu pedas dan tomat. Walaupun tidak sama persis (baik bahan-bahannya maupun bumbunya), namun tingkat kementahannya mengingatkan saya akan masakan “Jukut Serombotan” kalau di Bali.

Jenis masakan lainnya tidak saya bahas di sini, karena saya pikir bahwa masakan-masakan yang lain itu (seperti misalnya ayam panggang, tahu tempe atau telor dadar,dsb) juga umum di daerah-daerah lain di Indonesia.

Saya menikmati masakan-masakan itu, sambil mengobrol kiri kanan dengan sahabat saya itu. Obrolan tentang keluarganya, pasiennya, kasus-kasus kesehatan hewan yang dihadapinya hingga berbagai jenis operasi  untuk membantu upaya peningkatan kesehatan hewan yang dilakukannya sehari-hari. Sebenarnya kalau saja punya waktu luang, saya ingin sekali mengunjungi Klinik tempat prakteknya. Ingin mendengar lebih banyak lagi cerita-cerita darinya.  Namun sayang memang, waktu saya sangat terbatas.

Akhirnya sehabis makan, buru-buru saya pamit agar tak ketinggalan pesawat karena hari sudah mulai gelap. Tentunya tidak lupa mengucapkan terimakasih atas makanannya yang menurut saya sangat enak.  Lain kali saya juga  ingin mampir kembali ke rumah makan itu.

 

 

Delicious Ugly Mushroom.

Standard

Saya membeli sebungkus jamur Shiitake di pasar. Menggorengnya dengan tepung dan menyajikannya untuk camilan buat anak-anak saya. Untuk teman minum teh. Melihat camilan itu terhidang¬† di atas meja, anak saya bertanya ‚ÄĚApa itu ,ma?‚ÄĚ tanyanya heran. ‚ÄúJamur Shiitake Goreng Tepung‚ÄĚ Kata saya.¬† Seketika berkomentar ‚Äú Yaiks!!! Ugly mushroom!!!‚ÄĚ katanya menolak. Tentu saja saya kecewa. Tapi tak mau menyerah. Saya lalu membujuknya untuk mencoba dulu, sebelum mengatakan tidak suka. ¬†Karena jamur ini sesungguhnya enak. Tapi anak saya tidak suka tampangnya. Coklat, kehitaman dan memang agak buruk rupa. Read the rest of this entry