Tag Archives: Lagoon BTDC

Pilih Pilih Bekul, Yang Didapat Buah Bidara.

Standard

Buah Bekul (Bidara) 1Jika kita mendengarkan percakapan orang tua di Bali, terkadang kita mendengar ada pepatah “Pilih pilih bekul, patuh dogen ane bakat” terselip. (terjemahannya: Pilih-pilih buah bekul, sama saja yang didapat).  Atau kadang-kadang  pepatahnya  menjadi agak lebih lengkap ” Pilih-pilih bekul, bakat buah bangiang“. (terjemahannya: pilih-pilih buah bekul, yang didapat malah buah bangiang).Kedua pepatah itu mengandung kiasan yang sama yakni ” Terlalu pemilih, toh akhirnya yang didapat sama saja buruknya, atau malah lebih buruk lagi”.

Itu adalah nasihat orang tua, agar kadang-kadang kita jangan terlalu banyak membuang waktu untuk memilih jika yang dipilih kurang lebih sama kwalitasnya.  Toh bedanya tidak terlalu jauh. Konon bekul (buah bekul) itu kurang lebih sama saja satu sama lain, jadi yang manapun yang kita pilih…ya..kurang lebih samalah rasanya. Itulah sebabnya, percuma saja membuang waktu terlalu lama untuk memilih, toh ujung-ujungnya yang didapat sama saja.  Don’t be too picky!

Buah Bekul (Bidara) 2Kadang-kadang bahkan jika kita terlalu ‘picky’ malah bisa saja yang didapat justru buah bangiang, yang lebih buruk lagi dari yang diharapkan.

Saya sudah sangat paham akan maksud pepatah itu sejak kecil. Sehingga jika ada tetua atau kakak yang mengucapkan pepatah itu, saya tidak akan berani lagi membuang-buang waktu untuk memilih. Harus cepat mengambil keputusan. Tanpa ba bi bu lagi, dengan cepat segera ambil satu dan tak berani menoleh atau berpikir lagi.  Namun masalahnya adalah, saya tidak tahu yang manakah yang dimaksud dengan buah bekul atau buah bangiang itu.  Dua duanya saya tidak tahu.Saya belum pernah melihatnya, hingga siang itu di Lagoon BTDC Nusa Dua.

Saat sedang melihat-lihat burung di hutan mangrove di tepi Lagoon, pandangan saya tertumbuk pada sebuah semak mirip pohon apel, namun berduri. Daun dan batangnya mirip apel, demikian juga buahnya. Mirip apel kecil-kecil. Rasanya saya pernah melihat buah sejenis itu dijajakan di pinggir jalan di Hanoi. Ah! Tapi apa mungkin ya, buah yang sama? Saya mencoba menepis rasa sok tahu saya. Lalu sayapun bergumam “ Pohon apa ini ya?“. Saya tidak berhasil mengidentifikasinya.

Buah Bekul (Bidara) 3“Pohon bekul!” kata adik saya. Hah?! Jawaban adik saya membuat saya terperanjat. Bagaimana ia bisa lebih tahu tentang tanaman liar dibanding saya? Agak aneh. Biasanya saya yang lebih tahu. Saya merasa saya lebih penjelajah alam liar dibanding adik saya. “Ya! Tapi itu waktu kita kecil di Bangli. Saya kurang menjelajah waktu kecil. Tapi setelah di Denpasar, saya menjelajah lebih banyak. Dan karena pohon ini lebih banyak hidup di Badung, Kuta, dan sepanjang Jimbaran, jadi saya lebih tahu” kata adik saya. Saya pikir ia ada benarnya juga.  Buktinya ia yakin sekali akan pohon itu. “Kalau gitu bisa dimakan dong buahnya?”tanya saya.   “Bisa. Coba aja!” katanya. “Nggak mau ah! Takut mati” kata saya.

Rasanya agak kurang manis. Sepet dan agak asem. Makanya ada pepatah ‘pilih-pilih bekul’. Yang manapun yang dipilih ya..rasanya tetap begini. Mau yang muda tau yang tua , rasanya mirip-miriplah” katanya. Adik sayapun memetik  sebuah lalu menggigitnya. Saya menunggu,melihat dan memastikan tidak terjadi apa-apa pada adik saya. Melihat ia tenang-tenang saja, akhirnya sayapun ikut memetik sebuah dan memakannya.

Memang benar, rasanya agak asem dan sepet. Lumayan juga sih dimakan di siang hari yang terik. Enaknya mungkin dirujak ya.

Buah Bekul (Bidara) 4Sepulang dari lagoon maka sayapun mulai melakukan searching di internet dan ketemu bahwa buah bekul ini memang umum dimakan. Nama lainnya adalah Chinee Apple, Indian Plum, Jujube  (Ziziphus mauritania). Dan saya baru nyadar,banyak juga buah bekul yang dikeringkan dijual di negara negara lain dan kadang-kadang saya memang memakan dan membelinya. Tapi asli, saya sungguh tidak tahu namanya sebelumnya. Paling banter ada pedagang  yang pernah bilang itu  small plum. Dan rupanya bahasa Indonesianya adalah Bidara. Ya ampuuun! Saya sering mendengar nama Bidara, tapi malah tidak tahu kalau pohon Bekul itu sama dengan pohon Bidara.

Nah, sekarang  setelah melihat sendiri pohonnya dan juga mendapatkan informasi dari adik saya dan  Wiki, bertambahlah pengetahuan saya hari ini.

Pilih pilih buah Bekul, eeh..ketemunya buah Bidara!.  Sama saja!.

 

Bali: Masih Di Lagoon BTDC Nusa Dua.

Standard

Burung Bangau PutihMasih berada di Lagoon BTDC, pusat pengolahan daur ulang  limbah cair dari hotel-hotel dan resort  di Nusa Dua yang indah dan penuh burung itu, saya mulai berjalan ke arah kolam yang lebih jauh. Ingin tahu ada apa di sana. Sangat penasaran, karena dari arah hutan bakau di pinggirnya saya mendengar nyanyian burung-burung beraneka ragam. Bukan saja burung-burung air, namun juga jenis burung-burung penghuni pohon dan semak.Suaranya bercampur aduk. Setidaknya saya mengenali kicauan burung Kipasan, burung Tekukur, burung Prenjak, burung Madu dan burung Cerukcuk dari kejauhan. Sayapun berjalan. Bau limbah terasa lebih kuat, namun masih dalam batas yang bisa diterima oleh hidung saya.

Sementara bau limbah tercium lebih menyengat,anehnya di sini burung-burung air mulai berkurang. Semakin jauh semakin tidak ada. Hanya ada beberapa ekor yang bertengger di pucuk-pucuk pohon di pulau-pulau di tengah lagoon. Barangkali beristirahat atau mungkin bersarang di sana. Tidak ada seekorpun yang terbang melayang-layang atau menyambar nyambar ikan di permukaan air. Mengapa ya? Saya menduga, karena kolam ini mengandung air yang masih kotor, sehingga ikan-ikan belum bisa hidup di sini. Karena ikan tidak hidup, maka burungpun tidak tertarik datang. Walaupun demikian, saya tertarik untuk menjelajah hutan bakau di sekelilingnya. Sayapun memberi kode kepada adik saya agar ia menyusul saya ke sana.

Burung Punai Kecil (Treron sp).

Burung PunaiSangat menyenangkan bisa melihat jenis burung mirip merpati yang berwarna hijau ini masih berkeliaran bebas di alam.  Walaupun jumlahnya lumayan banyak, sayang sekali, karena warnanya yang hijau sangat mirip dengan warna daun,agak susah bagi kita untuk melihatnya dengan mudah. Untungnya,adik bungsu saya memiliki mata yang terlatih dan awas, sehingga saya bisa terbantu untuk menemukannya.

Sebelumnya saya sempat berpikir, bahwa jenis burung yang banyak saya jumpai di sekitar hutan-hutan pegunungan di Kintamani itu sekarang sudah mulai punah. Ternyata tidak juga. Rupanya masih banyak  juga yang berkeliaran di beberapa tempat. Melihatnya sungguh membuat saya merasa terharu.

Salah satunya adalah apa yang berhasil tertangkap oleh kamera saya sedang nongkrong di puncah pohon bakau. Sepertinya itu adalah burung Punai betina yang berukuran kecil. Warnanya lebih hijau dari jantannya. Seluruh tubuhnya berwarna hijau pupus. Ada sedikit warna kelabu di mahkota dan bagian belakang lehernya. Tepi sayapnya memiliki warna hijau muda dan garis hitam. Matanya berwarna hitam.Demikian juga paruhnya. Kakinya berwarna merah.Bagian bawah ekornya agak sedikit gelap.

Burung Pelatuk Kecil/Caladi Tilik ( Dendrocopos moluccensis)

Burung Caladi TilikKarena di tengah mangrove tampak ada sebatang pohon mati, maka mata sayapun mengarah ke sana dan tertumbuk pada pemandangan seekor burung pelatuk/woodpecker sedang sibuk mengais-ngais serangga di batang pohon mati itu.

Ini adalah jenis burung pelatuk kecil yang sama yang umum saya temukan sedang mengais-ngais serangga di pohon mati di pinggir kali belakang rumah saya di Bintaro. Biasanya ia mencari makan berpasang-pasangan atau kadang bersama rombongannya yang terdiri dari 3-4 ekor.

Ukurannya sangat kecil. Warnanya belang coklat gelap dan putih. yang menarik adalah bagian kepalanya yang berwarna putih dengan belang coklat pada bagian mahkotanya, membuat burung pelatuk ini menjadi terlihat seperti sedang memakai topi.

Burung Srigunting Hitam /Black Drongo (Dicrurus macrocercus).

Burung Srigunting HitamBurung ini saya lihat di kejauhan, sehingga lensa kamera saya tidak mampu mencapainya dengan baik. Ia bertengger di sebuah cabang pohon yang tumbuh di atas pulau kecil di tengah lagoon nun jauh di sana. Namun karena saya sangat jarang berhasil melihat burung ini, walaupun jauh tetap saja saya coba ambil fotonya.

Warna burung ini hitam secara kesuluran.Mulai dari mahkota,kepala, leher, dada, punggung, sayap,ekor semuanya berwrna hitam. Demikian juga dengan paruh, mata dan kakinya. Semuanya hitam.

Yang menarik adalah bentuk ekornya yang panjang dan menyilang sangat mirip dengan bentuk gunting. Bahkan dari jarak jauhpun ekor guningnya terlihat sangat jelas. Itulah sebabnya mengapa burung ini disebut dengan nama Sri Gunting. Walaupun ukurannya relatif kecil, namun burung ini termasuk aggresive. Makanannya adalah serangga, seperti capung, belalang, dan sebagainya. senang melihatnya masih exist di Lagoon.

Burung Madu Kelapa (Anthreptes malacensis).

Burung MaduBurung Madu atau Sun Birds juga terlihat sangat umum di hutan mangrove di tepi Lagoon.  Saya sangat sering melihatnya langsung maupun hanya sekedar mendengar suaranya yang bercerecet di pohon-pohon di sekitar lagoon itu. Kelihatannya ada jenis burung Madu Sriganti dan ada juga jenis burung madu kelapa yang berseliweran di situ.

Burung Madu Sriganti yang jantan memiliki warna kuning yang lebih cerah dari betinanya. Selain itu juga memiliki leher yang berwana biru metalik.

Burung Madu Kelapa hampir serupa dengan burung Madu Sriganti. Hanya saja warna metalik lehernya lebih bervariasi, mulai dari hijau hingga ungu metalik. yang terlihat di gambar ini adalah Burung Madu kelapa.Walaupun gambarnya terlihat kecil dan warna lehernya hanya metalik gelap, namun jika kita perbesar terlihat bahwa lehernya sebenanrnya berwrna ungu metalik.

Burung Cabe ( Dicaeum trochileum)

Burung CabeDimana ada burung Madu,sangat kerap kita juga menemukan Burung Cabe di sekitarnya. Setidaknya itu yang saya perhatikan. Demikian juga ketika berdiri di tepi hutang mangrove dekat lagoon ini. Karena saya melihat sedemikian banyaknya burung Madu terbang berseliweran, maka sayapun merasa pasti sebentar lagi tentu akan ada burung cabe yang akan lewat.  Dan benar saja,ketika saya berteduh sebentar di bawah pohon beringin, tiba-tiba seekor Burung Cabe hingga di sebuah cabang pohon mati di dekat saya.  barangkali karena ke dua burung ini memang menyukai jenis makanan yang sama, sehingga memilih habitat yang sama.

Warna kepala dan lehernya merah terang di bawah sinar matahari. Sangat kontras dengan warna langit yang biru sebagai backgroudnya. Saya melihatnya dan mengambil beberapa  fotonya, hingga burung itu terbang karena diganggu oleh seekor burung lain yang tidak berhasil saya identifikasi.

Burung Tekukur ( Streptopelia chinensis).

Burung Tekukur di Lagoon BTDCLagoon juga merupakan surga bagi burung tekukur. Populasi burung Tekukur di area ini cukup banyak. Walaupun sangat jelas bahwa burung Tekukur bukanlah pemakan ikan yang melimpah di Lagoon ini, namun seperti halnya dengan Burung Punai yang masih saudara dekatnya, Burung Tekukur memakan buah-buahan serta biji-biji tanaman yang banyak tumbuh di sekitar lagoon ataupun di pulau-pulau kecil di tengah Lagoon.

Tek kuk kuurrrr, tek kukkk kuuurrrr, dan seterusnya berulang-ulang, suaranya terdengar sangat damai di pagi hari itu. karena jumlahnya cukupbanayak dan sudah sering juga melihatnya di tempat lain,maka saya tidak terlalu antusias untuk mengambail gambarnya lagi.

Sebenarnya masih ada jenis burung Columbideae yang berhabitat di hutan mangrove itu. Sayang memang tidak semuanya sempat saya potret. Setidaknya saya sempat melihat burung Punai yang berukuran lebih besar, lalu juga burung Dederuk Merah.

Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

Burung CerukcukTerucukan juga merupakan salah satu burung yang sangat mudah  di pulau Bali.Populasinya cukup tinggi. Sama banyaknya dengan Burung Tekukur.

Burung omnivora pemakan serangga dan buah-buahan ini juga mudah kita temukan di Lagoon BTDC.  Suara kicauannya yang merdu, terdengar nyaring dan mengalahkan kicauan burung-burung lain.  Tidak sulit menemukannya di antara cabang-cabang pohon ataupun  pucuk pohon .

warnanya coklat kusam dengan dada putih serta perut belakang berwarna kuning. Yang khas dari burung ini adalah kepalanya yang bergaris coklat dan kadang-kadang ditegakkan ke ats, sehingga terlihat berjambul.

Sebenarnya masih banyak jenis burung lain lagi yang saya lihat berhabitat di Lagoon BTDC ini, seperti misalnya Burung Kipasan, Burung Prenjak, Burung Pipit dan sebagainya. Sayapun melihat ada banyak sarang burung pipit juga di sela-sela tanaman palm,

Intinya, Lagoob BTDC di Nusa Dua Bali ini memang benar-benar tempat yang menyenangkan bagi para burung untuk tinggal. Saya sebagai salah seorang yang punya hobby mengamati burung merasa sangat salut dengan apa yang dilakukan oleh pihak BTDC dalam mengelola limbahnya.  Lingkungan menjadi bersih, hijau, air pun didaur ulang dan dimanfaatkan kembali  seefisien mungkin dan sebagai dampak postive-nya burung-burung pun berdatangan dan dilindungi di sini. Sehingga mereka merasa tetap aman dan senang tinggal di Sanctuary ini.

Sungguh upaya pengelolaan lingkungan yang patut diacungi jempol.

Yuk, kita cintai lingkungan kita dengan lebih baik lagi!

 

 

 

Bali: Mengunjungi Lagoon BTDC, Nusa Dua.

Standard

Lagoon BTDCCuti dan pulang kampung! Adalah hal yang paling menyenangkan buat siapa saja. Termasuk saya.  Banyak acara yang ingin dilakukan. Mulai dari bertemu keluarga, teman-teman, upacara, hingga urusan hobby. Namun kali ini saya ingin memfokuskan diri dalam melihat-lihat burung-burung yang ada di alam. Jadi jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah membuat rencana dengan adik bungsu saya untuk mengunjungi beberapa tempat yang menurut kami mudah melihat burung, antara lain  Hutan Mangrove Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, Dam Estuary Tukad Badung, Petulu, Pulau Serangan, Nusa Penida dan sekitar area Tanah Lot. Namun dalam perjalanannya, tidak semua tempat di dalam list itu bisa kami kunjungi. Dan bahkan, ada sebuah tempat yang tiba-tiba diusulkan oleh adik saya yang tidak ada di dalam list sebelumnya yakni: Lagoon BTDC, Nusa Dua Bali.

Lagoon BTDC (Bali Tourism Development Corporation), atau Laguna BTDC  adalah tempat pengolahan limbah cair (toilet, kamar mandi, kolam renang, pendingin ruangan, laundry, cuci piring, dapur, dan sebagainya) dari hotel-hotel di areal BTDC Nusa Dua. Limbah cair ini disalurkan menuju Lagoon dan diolah dengan menggunakan Waste Stabilization Pond – pengendapam, oksidasi dan filtering – yang kemudian menghasilkan air re-cycle (daur ulang)  yang siap digunakan untuk  menyiram tanam-tanaman dan rumput di taman-taman di sekitar hotel maupun lapangan golf. Karena di kolam ini banyak ditabur ikan-ikan mujair yang dimanfaatkan sebagai indikator biologis utuk mengetahui perubahan kualitas air, maka ribuan burung-burungpun berdatangan untuk berburu ikan-ikan yang banyak berkerimit di kolam itu.

Mengetahui bahwa burung-burung adalah mahluk yang aktif di pagi hari, maka pagi-pagi sekali saya dan adik saya pun berangkat ke sana. Sungguh sangat takjub melihat ribuan burung-burung beterbangan di atas kolam. Ada yang hinggap di ranting-ranting pohon yang bayak tumbuh di pulau-pulau kecil di dalam lagoon, ada yang terbang melayang-layang, ada yang terbang  menyeberangi kolam, ada yang menyambar ikan, ada yang berenang dan ada yang menyelam. Waduuuh banyaknya. Ini benar-benar surga burung. Ada berbagai jenis burung air di situ, mulai dari bangau putih kecil dan besar, kuntul kerbau, pecuk sawah belang, pecuk sawah hitam, pecuk ular, itik liar, trinil, dan sebagainya. Bahkan di sore hari sayapun masih bisa melihat burung kowak juga di sana.

Burung Kuntul Putih Besar (Egretta alba).

Burung Kuntul KerbauBurung Kuntul Putih Besar alias  Great White Heron  (Egretta alba), atau disebut juga dengan nama Burung  Bangau Putih, saya lihat mendominasi permukaan lagoon pagi ini.  Ukurannya agak sedikit lebih besar dibandingkan dengan burung-burung bangau yang lain. Tak terhitung  jumlahnya. Kebanyakan berdiri di pinggir lagoon sambil menunggu ikan mendekat. Sebagian ada juga yang sibuk terbang mengejar ikan yang moncongnya muncul di permukaan. Sambil terbang ia meluruskan kakinya dan menekuk lehernya.  Sangat senang melihat kesibukannya. Warnanya yang putih bersih tampak berkilau di udara pagi.

Burung ini memang memiliki warna bulu tubuh yang putih dari ujung kepala, leher, badan, sayap hingga ekornya. Jika musim kawin, ada bulu panjang hias muncul di tengkuknya yang membuat burung ini menjadi tampak sangat artistik. Lehernya jenjang,kakinya panjang berwarna hitam kelabu.  Kakinya sedikit berselaput.Paruhnya berwarna kuning yang membedakannya dari jenis burung bangau yang lain.

Burung Kuntul Kecil(Egretta garzeta)

Burung-Burung Air di Lagoon 2Burung ini sepintas lalu terlihat sama dengan burung Kuntul Besar. Namun jika kita perhatikan, sebenarnya ukurannya sedikit lebih kecil dan paruhnya juga berwarna hitam. Bukan kuning.

Bulunya sama dengan burung Kuntul Besar,dimana dari ujung kepala,leher, tubuh, sayap dan ekornya berwarna putih bersih. Namun kaki dan paruhnya berwarna hitam kelabu.

Burung bangau kecil ini juga tampak sangat sibuk di pagi  hari. Beterbangan ke sana kemari, sibuk menyambar-nyambar di atas permukaan air lagoon. Beberapa ekor tampak sukses. Berhasil menyambar ikan yang ukurannya ternyata cukup besar juga. Sisanya saya lihat sedang berdiri sabar menunggu ikan lewat di pinggir Lagooon atau menclok di batang pohon. Jumlahnya tidak kalah dengan Burung Bangau besar.

Burung Pecuk Sawah (Phalacrocorax).

Pecuk Padi BelangSelain jenis burung-burung bangau, saya juga melihat banyak jenis burung Pecuk di sana. Yang paling dominant adalah Burung Pecuk Sawah Belang atau disebut juga dengan Burung Pecuk Padi Belang atau Cormorant belang (Phalacrocorax melanoleucos),  yang jumlahnya  sangat banyak memenuhi lagoon ini.

Paling mudah melihatnya ketika mereka bertengger di pucuk-pucuk pohon dan bergerombol. Saking banyaknya bertengger di cabang pohon, saya malah berpikir bahwa pohon-pohon di tengah lagoon itu terlihat seperti sedang berbuah burung.

Burung Pecuk Padi Belang ini, memiliki mahkota, leher bagian atas, punggung, sayap dan ekor yang berwarna hitam. Namun bagian depannya,mulai dari wajah, leher depan,dada dan perut berwarna putih.

Selain yang belang, ada juga beberapa burung pecuk sawah biasa yang berwarna hitam (Phalacrocorax sulcirostris). Jumlahnya tidak sebanyak yang belang. Tampak beristirahat bersama-sama dengan jenis Pecuk Belang.

Burung Cangak Merah (Ardea purpurea).

Cangak MerahCangak ini berukuran sangat besar dan panjang. Hanya terlihat beberapa ekor. Namun karena ukurannya yang besar dan tampilannya yang berbeda, membuatnya menjadi  cukup menarik perhatian saya juga.

Burung ini tampak beberapa kali melintas terbang di sisi lagoon yang agak jauh dari posisi saya berdiri, sehingga  agak sulit memotretnya dengan jelas. Ada juga yang saya lihat sedang berdiri di pucuk pohon kersen menghadap ke timur, seolah sedang menyongsong matahari pagi.

Burung Cangak Merah,alias Purple Heron (Ardea purpurea), sebenarnya warna keseluruhannya adalah abu-abu kemerahan. Iris matanya berwarna kuning. Pada lehernya terdapat garis merah yang khas,  yang membuat kita mudah mengenalinya sebagai Cangak Merah. Paruhnya berwarna coklat kekuningan. Kakinya berwarna coklat kemerahan.

 Burung Raja Udang Biru Putih (Halcyon diops)

Raja Udang BiruBurung pemangsa ikan, udang dan katak  lainnya yang menarik perhatian saya lagi adalah jenis Burung Raja Udang alias  Cekakak.  Menurut keterangan salah seorang karyawan Lagoon yang sedang bertugas di sana, sebenarnya ada sekitar 5 jenis burung raja udang yang berhabitat di lagoon itu. Namun yang sempat saya lihat pagi itu adalah jenis Burung Raja Udang Biru Putih (Halcyon diops).

Awalnya agak sulit terlihat, namun karena suara kencangnya yang mirip orang tertawa ngakak (mungkin itulah sebabnya mengapa jenis burung ini disebut juga  dengan Cekakak), sayapun mendongakkan kepala ke arah pohon kayu pinis darimana suaraitu berasal. Lalu dengan cepat adik saya mengidentifikasi 2 ekor burung cekakak yang baru saja bertengger di sana. Sayang sekali yang seekor terbang masuk ke dalam belukar  mangrove yang ada di dekat lagoon itu.

Burung itu sangat menarik. Memiliki bulu tubuh bagian depan (pipi, leher, dada, peraut berwarna putih bersih. mahkota kepala dan punggung serta sayapnya berwarna biru terang. Ekornya berwarna biru gelap. Sangat kontras warna biru-putihnya di terpa sinar matahari pagi.

Cek kaaak kaaak kaaak kaaak kak…

Burung Kowak Malam (Nycticorax nytcicorax)

Burung KowakMenjawab rasa penasaran Mbak Monda, maka saya coba memasukkan di sini photo Burung Kowak malam yang juga banyak ada di lagoon dan aktif pada malam hari. Namun karena saya tidak menguasai  teknik  memotret yang baik, maka  gambar Burung Kowak ini jadi kabur dan tidak jelas.

Burung-burung Kowak ini saya temukan dalam jumlah yang sangat banyak pada saat saya datang kembali berkunjung ke Lagoon pada sore hari. Mereka terbang di permukaan Lagoon. dan sebagian lagi beristirahat di cabang-cabang pohon yang mana di pagi harinya, cabang-cabang pohon itu dikuasai oleh burung bangau.  Di sana bergabung antara Kowak  Malam muda yang berwarna coklat lurik, Kowak  Malam dewasa yang berwarna putih kelabu  dan bahkan juga Kowak Merah yang berwarna putih kemerah-merahan.