Tag Archives: Lampung

Bandar Lampung: Ragam Motif Sulam Benang Emas Pada Kain Tapis.

Standard

Tidak ada hal  yang lebih menyenangkan bagi saya dari melihat-lihat kerajinan dan benda-benda seni di berbagai wilayah tanah air. Bagi saya, benda-benda seni itu selalu berbicara mengenai alam pikir dan imajinasi para seniman di masa lalu yang diwariskan secara turun temurun.  Demikian juga ketika mengunjungi Lampung. Saya ingin sekali dapat kesempatan untuk melihat motif-motif ukiran maupun tenunan yang diaplikasikan pada benda-benda adat Lampung. Namun apa daya, waktu kunjungan saya sungguh sangat pendek. Dan tentunya karena ini adalah kunjungan kerja, waktu yang sempit itu juga memang semata dihabiskan untuk mengurus pekerjaan.

Namun memang seperti kata pepatah, “Di mana ada niat di sana ada jalan”, akhirnya saya berhasil juga mengintip sedikit motif-motif sulaman benang emas yang diaplikasikan pada kain tapis.  Kain Tapis Lampung, sebagaimana halnya kain-kain tenunan tangan di wilayah lain di Indonesia, di dominasi oleh warna-warna gelap yang dulunya dibuat dari bahan pewarna alam seperti kulit pohon salam, buah pinang, kulit kayu mahoni,kunyit dan sebagainya. Yang menarik tentunya adalah ragam hias aplikasi benang emas yang dilakukan dengan teknik sulam atau cucuk.

Secara umum,ragam hias ini banyak menggunakan pengulangan motif, yang menyebabkan kain ini jadi kelihatan sangat rapi dan teratur. Motif yang paling umum adalah motif garis zigzag  yang banyak digunakan sebagai border dari kotif utamanya. Motif utama di tengah,ada yang menggunakan motif  serupa stitch penuh, ada juga yang menggunakan motif kait dan kunci dan sebagainya. Terkadang motif yang sama, jika diaplikasikan pada kain tapis dengan warna dasar yang berbeda, misalnya merah,hitam atau biru,  akan memberi kesan motif yang sangat beragam.

Memandang design kain ini, saya merasa sangat senang dan bangga akan kekayaan tanah air kita.  Akan keindahan dan keragamannya. Sayang, saya belum bertemu dengan seseorang yang bisa menceritakan kepada saya lebih detail mengenai motif motif pada kain Tapis Lampung ini. Nama motif dan filosofi di baliknya.

Bandar Lampung : Bukit Kunyit Yang Putih Berkilau.

Standard

Bagi siapa saja yang pertama kalinya menginjakkan kaki di Bandar Lampung, tentu akan terperangah melihat pemandangan tidak biasa sebuah bukit di daerah Teluk Betung yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Bukit Kunyit. Bukit batu kapur itu tampak berbeda dari bukit-bukit yang lainnya karena bentuk dan tampilannya. Dari kejauhan, sebagian punggung bukit itu tampak tergerus memperlihatkan isi perutnya yang putih bersih berkilau. Terang ditimpa cahaya matahari pagi. Sangat indah dengan latar belakang bukit-bukit lain yang tampak hijau abu-abu di kejauhan,laut biru dan langit biru yang cerah.  Memandangnya membuat kita serasa sedang berada di negara antah berantah yang memiliki pemandangan bukit-bukit putih karena salju. Tapi pemandangan ini kita lihat nyata di Indonesia. Di Lampung.Karena keindahan dan keunikannya, sayapun mengambil foto bukit ini berkali-kali. Memandangnya dan mengagumi keindahan komposisi warnanya.

Ketika kebetulan lewat di dekatnya, saya pun mengambil gambar bukit itu kembali. Kali ini dari dekat dengan menggunakan lensa normal. Dari dekat, detail bukit ini tampak lebih jelas. Warnanya tidak lagi terlihat putih bersih, namun bercampur coklat kekuningan. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak gersang, kering kerontang dan bahkan sebagian mati. Batu-batu hasil penambangan liar tampak bergelimpangan di sana-sini. Jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, sekarang tidak ada lagi keindahan yang tersisa.  Kemarau panjang yang memanggang dan penggalian telah merusak bukit yang konon dulunya sangat luas ini.

Menurut teman saya yang memang lahir dan besar di Lampung, pengikisan bukit itu sudah dilakukan sejak lama sekali. Bahkan semenjak ia kecil.  Menurut iformasi lain, dulunya bukit ini sangat luas. Saking luasnya bahkan hingga menjorok ke pantai.  Karena lokasi dan ketinggiannya, bukit ini dulunya berfungsi sebagai benteng alam yang melindungi Bandar Lampung dari tsunami besar saat Gunung Krakatau meledak tahun 1883 ini.  Sekarang paling tinggal hanya sekitar 30%nya saja. Oh, sayang sekali ya.  Saya merasa sangat sedih mengetahui cerita itu. Semoga ada pihak yang perhatian dan mengambil tindakan penyelamatan lingkungan ini tanpa mengabaikan masalah sosial yang ada.

Tadinya apa yang kita lihat indah rupawan dari kejauhan, ternyata menyimpan cerita yang menyedihkan ketika kita tahu lebih dekat. Jadi teringat akan sebuah sesonggan (peribahasa) Bali yang mengatakan “Buka bukite, johin katon rawit” .   Terjemahannya ‘ Ibaratnya bukit, dari kejauhan tampak indah’.  Semua bukit selalu tampak indah dan rapi dari jauh. Namun, ketika kita dekati,  bukit yang terlihat indah itu ternyata memiliki jurang yang dalam, dinding yang terjal, semak belukar yang berduri, permukaan yang bopeng dan sebagainya yang tak tampak ketika kita melihatnya dari kejauhan.

Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang kita pikir mudah, ternyata ketika kita pahami dan kerjakan dengan detail ternyata tidak semudah apa yang kita pikir sebelumnya. Demikian juga apa yang kita pikir sebagai sebuah kehidupan yang enak. Belum tentu seenak apa yang kita bayangkan. Kita menyangka kehidupan teman kita A itu sungguh sangat enak, namun begiti kita mengetahuinya lebih lanjut ternyata barangkali lebih tidak enak daripada kehidupan yang kita jalani.

Serupa dengan Bukit Kunyit yang tampak indah putih berkilau  dari kejauhan ini. Setelah kita dekati, ternyata menyimpan berbagai pemandangan dan cerita yang memprihatinkan juga.