Tag Archives: Leadership

Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Standard
Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Hi! Saya mau berbagi cerita lagi nih. Cerita menarik hasil saya ikut nguping dari lapangan panahan minggu lalu ūüėÄūüėÄūüėÄ.

Teman-teman pembaca pernah nguping nggak? Mendengarkan pembicaraan orang lain diam-diam. Ihhh….itu kan tidak sopan ya?. Ya memang. Tetapi kadang-kadang kita terjebak dalam situasi dimana kita terpaksa jadi ikut nguping juga karena kepepet ūüėÄ.

Itu terjadi pada saya. Bukan karena niat nguping sih… tapi ya…awalnya nggak sengaja, tapi karena percakapan itu sungguh menarik, saya pun meneruskan kegiatan menguping itu hingga selesai.

Hari Sabtu yang lalu saya menemani anak-anak saya yang ingin mencoba bermain panahan di BSD Archery. Dikasih kontak oleh Mbak Pimpim, seorang teman baik, sayapun bertemu dengan Pak Azmi dan Pak Heidar yang mengelola tempat latihan panahan itu.

Anak-anak ikut berlatih ūüéĮūüéĮūüéĮdan mencoba dengan penuh semangat. Saya sendiri hanya menonton dan sesekali mengabadikan kegiatan anak saya dengan kamera hape. Mereka belajar meletakkan anak panah, merentangkan busur dan membidik sasaran. Mulanya meleset banyak. Tapi karena dicoba dan dicoba terus, anak-anak kelihatannya mulai dapat ‘feels’ nya.

Ini adalah kali pertama saya melihat peralatan panah yang benar dari dekat. Sebelumnya yang pernah saya lihat hanyalah panah mainan saja ūüėÄ. Jadi saya tertarik juga untuk memperhatikannya.

Serupa dengan panah mainan, peralatan panah terdiri atas Anak Panah dan Busur.

Kalau anak panah sih sudah sangat jelas ya. Terdiri atas batang, mata panah yang tajam dan pangkal panah yang mirip bulu ayam.

Busur, jika diperhatikan terdiri atas bagian yang melengkung ke atas dan bawah yang disebut dengan limb dan tali panah.

Lalu di bagian tengah limb, saya melihat ada bagian dari bahan kayu tempat pegangan tangan yang disebut dengan riser.

Di atas lekuk pegangan tangan, rupanya terdapat celah kecil tempat meletakkan anak panah. Dan sedikit lagi di atasnya terdapat celah bidik atau visir.

Saya memperhatikan Pak Azmi dan Pak Heidar memperagakan bagaimana cara memegang busur panah yang benar. Para peserta pun mulai mencoba, berlatih dan terus berlatih membidik ke sasaran yang sudah ditetapkan.

Latihan berjalan santai ditingkahi obrolan kiri kanan dan curhatan oleh peserta lain tentang kerjaan kantor yang entah bagaimana awalnya, kemudian berakhir dengan topik ‘Leadership’. Semakin seru karena tiba tiba Pak Heidarpun ikut nimbrung dan membagikan ilmu dan pengalamannya dalam hal ‘Leadership’ kepada sekelompok peserta latihan itu.

Sayangnya saya belum kenal dengan kelompok itu, jadi nggak bisa ikut nimbrung ya. Selain itu anak-anak saya masih meneruskan latihan walaupun panas makin terasa menghentak. Jadi sambil mengawasi dan memotret anak-anak, sebelah telinga saya ikut mendengar dan saya ikut menyimak pembicaraan Pak Heidar yang menarik itu. Begitulah asal muasalnya mengapa saya jadi ikut menguping *mencari pembenaranūüėÄ.

Menurut Pak Heidar, menguasai ilmu memanah, juga membuat kita memperbaiki kemampuan leadership kita. Bagaimana?. Nah ternyata ada ceritanya nih teman-teman pembaca….

Jika kita perhatikan bagaimana orang memanah, kita akan mengetahui sang pemanah akan menggenggam busurnya tepat di tengah pada riser.

Saya melirik sekilas, Pak Heidar menjelaskan bahwa bagian riser dari tengah ke bawah berfungsi sebagai pengendali. Bagian ini kurang lebih porsinya 60%.

Sedangkan bagian riser dari tengah ke posisi celah bidik berfungsi sebagai pembidik. Kurang lebih porsinya 40%.

Jika sebagai seorang pemanah, kita memfokuskan diri pada bagian “Pengendali” yang porsinya 60 % tadi, maka kita akan cepat merasa lelah dan hasil bidikanpun belum tentu tepat mengenai target.

Hal yang sama akan terjadi jika hal itu kita lakukan sebagai seorang pemimpin. Kadang-kadang karena kekhawatiran yang berlebih, sebagai pemimpin kita cenderung sibuk mengawasi, meneriksa, mengontrol semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bawahan kita (bahkan jika perlu membantu) hanya untuk memastikan semua sudah dikerjakan dengan baik. Sebagai akibatnya, kita akan merasa lelah sendiri. Karena bagian ini adalah bagian dengan porsi yang lebih besar yang seharusnya kita lepaskan kepada team untuk mengerjakannya. Sehingga kita bisa lebih fokus pada bagian lain yang lebih penting.

Sebaliknya jika sebagai pemanah kita memfokuskan diri pada bagian “Pembidik” yang porsinya cuma 40% tadi itu, maka kita tidak akan merasa terlalu lelah. Dan kemungkinan terbidiknya target sasaranpun semakin besar.

Sebagai leader pun demikian. Jika kita lebih memfokuskan diri pada membidik target dan mengarahkan team untuk mencapainya, maka kemungkinan untuk tercapainya objective menjadi lebih besar. Dan sebagai leaderpun pekerjaan kita menjadi tidak terlalu berat. Karena bagian detail yang merupakan porsi besar dari pekerjaan itu sendiri, telah kita percayakan pada team kita. Dan mereka akan baik-baik saja.

Wow! Analogi yang sangat bagus. Saya pikir itu sebuah tips yang sangat berguna bagi siapapun yang memegang posisi sebagai leader. Sungguh beruntung saya berada di situ dan jadi ikut mendengar dengan tanpa sengaja (nguping maksudnya ūüėÄ).

Selain itu, memanah juga mengajarkan ketahanan dan spirit yang bagus. Menurutnya lagi, diantara bala tentara kerajan jaman dulu, para pemanah adalah yang dianggap sebagai armada yang paling berbahaya. Karena mereka sangat tangguh dan memiliki mental baja. Itulah sebabnya pula, mengapa jika seseorang ingin menaklukan sebuah kerajaan lain maka armada pemanahnyalah yang dibabat habis untuk memastikan pemberontakan bisa diredam.

Hmm.. obrolan yang sungguh menarik. Terimakasih sharingnya Pak Heidar.

Advertisements

Mengapa Kutilang Bertengger Di Pucuk Pohon?

Standard

Semua tentu ingat lagu kanak-kanak yang diciptakan Ibu Soed ini.

“Di pucuk pohon ¬†Cempaka. Burung Kutilang berbunyi. Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu. Mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili“. Burung Kutilang 2Nah, kenapa Burung Kutilang harus bertengger di pucuk pohon cempaka? Pertanyaan tolol itu saya ajukan kepada diri saya sendiri. Walaupun saya setuju 100% dengan lagu itu. Saya setuju bahwa Burung Kutilang memang hobbynya bertenggernya di pucuk pohon.

Kutilang atau yang dikenal juga dengan sebutan Sooty Headed Bulbul (Pycnonotus aurigaster) sangat banyak berkeliaran di wilayah Bintaro dan sekitarnya. Kita bisa menemukannya dengan mudah di taman-taman sektor IX, taman  sektor VIII, dan sebagainya hingga ke pohon-pohon di pinggir kali. Karena sering mengamati burung Kutilang, saya jadi tahu bahwa burung Kutilang ini memang punya kesenangan  nangkring di puncak pohon. Burung Kutilang Tidak seperti burung-burung lain yang malah sering berlindung di balik dahan tersembunyi,  Kutilang suka akan tempat terbuka. Sehingga tidak heran, sangat mudah bagi kita untuk melihat Burung Kutilang bahkan dari jarak yang cukup jauh.

Berada di puncak pohon,akan membuat burung Kutilang berada pada ketinggian yang baik. Dimana ia bisa memandang sekeliling tanpa halangan yang berarti. Ia bisa melihat dimana letak pepohonan berbuah yang memberinya makanan berlimpah untuk musim itu. Ia juga bisa melihat dengan mudah, dimana pasangan dan keluarganya sedang bertengger. Bahkan ia pun bisa melihat dengan baik jika ada burung Rajawali yang berniat menyambar anaknya. Namun jika ia membutuhkan pandangan yang lebih jelas, di mana letak dahan yang memiliki buah yang ranum, tentu Burung Kutilang dengan leluasa bisa turun kembali dan masuk menyelusup ke dalam pohon untuk memeriksa dahan dan ranting.

Memikirkan kebiasaan Burung kutilang ini saya jadi teringat akan proses “Zoom In” dan “Zoom Out” kamera. Jika kita ingin melihat gambaran besar sebuah kejadian, maka ¬†kita tinggal men”Zoom Out” photo. Sedangkan jika kita ingin melihat gambaran kecil dan detailnya, kita tinggal memencet tombol “Zoom In”. Demikian juga yang dilakukan oleh Burung Kutilang ini. Jika ia ingin mengetahui gambaran detail dari ¬†sebuah tempat, ia tinggal masuk ke dalam pohon. Zoom In!. Sebaliknya jika ia ingin mendapatkan gambaran besar tentang lingkungannya berada, ia tinggal terbang dan menclok di pucuk yang tinggi. Zoom Out!.

Burung Kutilang

Kemampuan untuk ber’Zoom In’ dan ber “Zoom Out” inipun tentunya dibutuhkan oleh setiap pemimpin. Karena pemimpin perlu selalu mampu melihat gambaran besar suatu masalah tanpa harus kehilangan pandangan detail.

Ketinggian penglihatan sangat dibutuhkan bagi fungsi leadership dan strategic thinking. Memiliki ketinggian pandangan, akan membantu seorang pemimpin untuk melihat dengan jelas berbagai masalah ataupun peluang yang mungkin ada dengan cara yang lebih baik. Karena dari ketinggian,akan memungkinkan bagi sang pemimpin untuk melihat permasalahan secara utuh  sebagai suatu kesatuan tanpa harus tersegment-segment.

Demikian juga seorang pemimpin sangat perlu membaur  dan masuk ke dalam  untuk memahami  titik-titik permasalahan dengan lebih detail.

Dengan menguasai pemahaman atas keduanya, maka pemimpin akan terbantu untuk mengambil keputusan dengan lebih baik.

 

 

Berjalan Di Atas Api: Tentang Keberanian & Kemauan.

Standard

???????????????????????????????Pernah suatu kali , saya ikut sebuah kelas¬† Mindful Leadership ¬†dibawah bimbingan Dr Pramod Tripathi yang diakhiri dengan acara ‘firewalking’ alias berjalan di atas api. ¬†Hah???!!! Berjalan di atas api??? ¬†Ya!. Dengan kaki telanjang!. Waduuuh! Kok kaya Debus ya? Atau Kuda Lumping yang makan api? Atau kalau di Bali juga ada kesenian sejenis yang disebut ¬†Tari Sang Hyang Jaran. Para penarinya kesurupan dan bisa berjalan di atas api dengan selamat tanpa sedikitpun melepuh. ¬†Addduuuh, bagaimana mungkin saya akan bisa melakukannya ya? Boro-boro berjalan di atas api, kena percikan minyak panas saat goreng ikan saja sudah melepuh kesakitan.

Saat pertama kali tahu bahwa saya harus menjalaninya, saya sangat terkejut.  Dan sudah pasti merasa sangat khawatir dan takut. Tak bisa membayangkan bagaimana saya akan melakukannya.  Karena tidak punya pilihan lain, maka sayapun berusaha bertanya ke kiri dan ke kanan. Bagaimana sih caranya agar orang bisa selamat jika disuruh berjalan di atas api? .

Rupanya berjalan diatas api ini memang sudah menjadi ritual sejak jaman dulu kala di India. ¬†Dijadikan sebagai alat untuk melakukan test terhadap ¬†Kemauan & Keberanian seseorang. ¬†Juga sebagai alat test terhadap ¬†Kejujuran seseorang. ¬†Oh ya, saya ingat dalam Ramayana, juga dikisahkan bahwa Dewi Sita juga melakukan “Fire Test”¬† untuk menunjukkan kesucian diri dan kejujurannya terhadap Rama suaminya, setelah sempat dibawa kabur dan disekap oleh Rahwana sang raja raksasa di Kerajaan Alengka. Nah.. tentu saja saya bukan Dewi Sita. Lalu bagaimana saya harus melakukannya? ¬†Karena jika dari penjelasan itu saja, saya belum menemukan penjelasan logis yang memuaskan hati saya.

Seorang teman memberi penjelasan ilmiah dibalik  kemampuan orang-orang yang mampu berjalan dengan selamat di atas bara api. Menurutnya, (belakangan saya mendapat konfirmasi kebenaran dari Om Google) Рsebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir atau takut jika berjalan di atas bara api kayu.

Pertama, karena bara api dari kayu yang digunakan dalam kegiatan Firewalk itu bukanlah penghantar panas yang baik. Setidaknya daya hantarnya tidak sebaik logam. Jadi sepanjang baranya adalah dari kayu, kita masih ada kesempatan aman berjalan di atasnya,asalkan kita tahu caranya. Jika baranya logam.. nah itu baru berbahaya.

Kedua,  bara api kayu itu sudah disiapkan sedemikian rupa, dimana sedikitnya sudah ada lapisan abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran itu. Dan abu adalah insulator yang baik. Lumayan buat mengurangi kemungkinan terbakar.

Ketiga, teori mengatakan bahwa jika ada dua benda yang memiliki temperatur berbeda bertemu (bara api vs telapak kaki),  benda yang lebih panas (bara api) akan mendingin, sdangkan benda yang lebih dingin (telapak kaki) akan memanas Рhingga keduanya mencapai titik suhu yang  equal.  Nah kapan persamaan temperatur itu akan terjadi ?  Rupanya tergantung dari temperatur  masing-masing, tingkat kepadatan benda tersebut dan kemampuan konduktifitasnya.  Kata teman saya,  secara umum suhu equal antara bara dan telapak kaki kita itu akan terjadi dalam waktu 5 detik. Jadi jika kita berjalan biasa saja (jangan terlalu lambat atau terlalu cepat), umumnya kita akan selamat. Karena menurut teman saya itu jika kita berjalan normal, maka saat kaki kita menyentuh tanah itu waktunya kurang dari 5 detik sebelum kita angkat kembali.

Sekarang saya sudah paham penjelasan ilmiah itu. Jadi berjalan di atas api itu sungguh bukan sulap bukan sihir. Bukan pula Debus atau Jaran Kepang maupun Sang Hyang Jaran. Semua orang bisa melakukannya. Asal tahu caranya.  Berjalanlah normal atau sedikit lebih cepat dari biasanya. Jangan letakkan telapak kaki di bara terlalu lama. Maksimum 5 detik, lalu cepat angkat kembali. Sisanya biarkan bara dan abu itu  yang bekerja. Dijamin selamat dan tidak terbakar.

Jangan juga berlari kencang  yang menyebabkan tekanan terhadap bara api meningkat. Karena jika terpeleset, beberapa buah bara api mungkin saja bergeser posisinya atau bahkan naik ke permukaan kaki  yang menyebabkan kaki kita sedikit melepuh pada bagian atas.

Saya sudah tahu semuanya itu. Ketakutan saya rasanya agak berkurang. Namun kenapa saya masih deg-degan juga rasanya? Tetap saja khawatir rasanya. Walaupun memang tidak separah sebelumnya.  Tapi waktu yang tersisa cuma sedikit. Saya benar-benar tak punya waktu lagi untuk ragu -ragu. Tak punya pilihan lain. Simple question: mau atau tidak?.

Mau!!!. Saya harus bisa! Saya harus berani!. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian yang cuma secuil, sayapun menggulung celana panjang saya hingga di atas lutut agar tidak terjilat api, melepas sepatu dan memfokuskan diri saya ke jalur api. ¬†Saya harus bisa melewatinya!. Kemudian saya berlari-lari kecil di tempat, mengambil ancang-ancang ….Ho ho ho!… Ho ho ho!.. Ho ho ho… ¬†saya mendengar teman-teman saya¬† berteriak memberi semangat . Lalu…yiaaaatt…. sayapun berjalan cepat nyaris berlari di tas api. Yes!!! ¬†Horre. Berhasil! Berhasil!. Teman-teman saya¬† bertepuk tangan. ¬†Ternyata memang tidak terasa panas, saudara saudara!. Biasa saja, seperti berjalan di atas arang kering yang tidak menyala. Kaki saya tidak terbakar dan tidak melepuh. Jadi, saya membuktikan bahwa teori ilmiah teman saya itu benar.

Lalu mengapa saya setakut itu sebelumnya?

Ketidak tahuan akan sesuatu, membuat kita menjadi takut. Sebelumnya saya tidak tahu bahwa berjalan di atas bara itu cukup aman sepanjang kita hanya membiarkan telapak kaki kontak dengan bara tidak lebih dari 5 detik. Jadi saya sangat takut dan khawatir. Sama dengan hantu. Mengapa kita takut hantu? Karena kita tidak tahu dan tidak kenal dengannya. Tapi seandainya kita tahu, mungkin minimum setengah dari ketakutan itu akan berkurang. Sisanya tinggal bagaimana kita memastikan kemauan kita untuk menghadapinya dan menggalang keberanian kita untuk menuntaskan sisa ketakutan yang ada.  Memusatkan fikiran dan hanya berfokus pada apa yang kita lakukan, juga sangat membantu.

Jadi berjalan diatas api, bukanlah sesautu yang berkaitan dengan mistis, paranormal dan sebangsanya. Bisa dijelaskan secara ilmiah dan sangat logis. Semua orang bisa melakukannya asalkan punya kemauan dan keberanian.

Satu Rupiah Yang Bermakna…

Standard

Kesalahan merupakan hal yang umum terjadi dalam upaya mencapai kesuksesan. Sehingga melakukan kesalahan seringkali dianggap wajar, sepanjang kita belajar dari kesalahan itu dan berusaha memperbaikinya. Pernah suatu kali, team pemasaran saya melakukan kesalahan berturut-turut dalam waktu yang berdekatan. Seorang lalai memperpanjang nomor registrasi produk. Seorang lagi salah mencantumkan barcode produk. Dan seorang lagi tidak mengantisipasi perubahan design untuk research. Akibatnya, bukan saja membutuhkan kerja tambahan untuk memperbaikinya. Namun juga melibatkan biaya dan bahkan ancaman denda dari pihak agency.  Kesalahan-kesalahan itu membuat saya merenung. Read the rest of this entry

Are You With Me?

Standard

Seorang teman bercerita di telpon kepada saya tentang pekerjaan barunya.  Wah! Tempat kerja baru. Atasan  baru. Teman baru. Bawahan baru.  Suasana kerja juga baru. Semuanya sangat menyenangkan. Namun disela-sela ceritanya yang sangat menyenangkan itu, ia ada mengeluhkan kepada saya tentang rekan kerjanya yang menurutnya agak sulit ditebak. Apakah rekannya itu sebenarnya memahami  apa yang ia sampaikan atau tidak, ia tidak tahu. Karena menurutnya, ia curiga bahwa  rekannya itu sebenarnya tidak terlalu paham  dan sering tidak menyimak percakapan mereka  dengan baik .  Tentu saya tidak bisa memberikan advise yang baik atas keluhan ini, karena saya tidak mengenal rekan teman saya itu.  Selain seperti biasanya hanya merenung dan mencoba merefleksikan kembali hal-hal yang pernah saya alami sebelumnya  yang memiliki situasi  serupa dengan kejadian yang diceritakan rekan saya itu. Barangkali ada hal-hal yang bisa saya pelajari darinya dalam usaha saya untuk  membantu meringankan massalah teman saya itu. Read the rest of this entry

BALTO – Cerita Leadership Dari Film Kartun Kanak-Kanak..

Standard
Statue of Balto, the lead dog on the last rela...

Image via Wikipedia

Suatu hari sepulang dari kantor, saya menemukan anak-anak saya  sedang memutar ulang film kartun lama di kamarnya. Terlihat sangat asyik dan sulit diganggu, saya jadi terbawa ikut menikmati. Film  kartun yang diproduksi oleh StevenSpielberg’sAnimation Studio  itu bertutur tentang kisah nyata si Balto, seekor anjing yang telah menjadi pahlawan menyelamatkan nyawa seorang anak perempuan  kecil dari serangan difteri. Balto adalah seekor anjing peranakan serigala yang tinggal di kampung di Alaska. Ia memiliki 3 teman yaitu seekor angsa dan dua ekor beruang.  Suatu hari di kampung itu ada lomba pacuan anjing, dimana  jagoannya adalah seekor  anjing jumawa bernama Steele yang sangat ditakuti. Semua penduduk kampung keluar menonton pacuan, termasuk Balto dan teman-temannya. Dalam dunia pacuan anjing,peranakan serigala seperti Balto tidaklah dianggap berbakat. Bukan jenis anjing berkelas.  Saat menonton pacuan itulah Balto mengenal seorang gadis kecil bernama Rossy dan anjing betinanya yang bernama Jenna.   Read the rest of this entry

Berharap Guntur Di Langit, Air Di Tempayan Dicurahkan

Standard

Seorang teman¬† menelpon saya dan berkeluh kesah tentang betapa susahnya mencari karyawan berkwalitas dengan budget yang terbatas. ‚ÄúBanyak yang baru masuk. Sudah mahal, performancenya juga amburadul‚ÄĚ Katanya berapi-api. ‚ÄúTahu gitu, gue pertahanin yang lama. Gue kasih gajinya naik 2 x lipat aja, tetap gajinya lebih kecil dari pada yang baru ini. Tapi kwalitasnya jauh lebih bagus‚ÄĚ. Lanjutnya lagi sembari menyesali apa yang telah terjadi. Saya mendengarkan dari seberang telpon. Tidak tahu, apakah ini memang kenyataan yang persis apa adanya ia hadapi, ataukah ia sedikit meng-exagerate pernyataannya untuk mempertajam poinnya dia. Read the rest of this entry

Cerita Kepemimpinan Dari Ruang Lulur Salon.

Standard

Pada suatu hari Minggu yang menyenangkan, saya memutuskan untuk pergi ke salon. Terus terang saya jarang ke salon, namun sekali ini saya merasa membutuhkan perawatan dipijat dan dilulur karena saya merasa kulit saya mulai kusam, kotor dan gosong oleh sinar matahari. Mungkin bila dilihat di bawah mikroskop barangkali kulit saya telah penuh dengan kumpulan sel-sel kulit mati pada permukaannya. Karena hari Minggu, tempat luluran di Salon yang terdiri atas ruang-ruang kecil yang disekat kain gorden mirip ruang perawatan di rumah sakit itu penuh dengan pelanggan. Cukup beruntung saya masih mendapatkan sebuah ruang, walaupun tempat berbaringnya agak langsung kena AC.

Setelah menjalani sauna singkat, sang therapist mengajak saya untuk berbaring dan memulai session pijat dan lulurannya.¬† Sambil memijat, sang therapist mengajak saya ngobrol dengan ramah. Mulai dari ‚Äúibu tinggalnya dimana, putranya berapa, asal dari mana, kerja dimana dsb hingga ke urusan hobby dan kesukaan saya‚ÄĚ.¬† Karena keramahannya, saya menjadi sangat senang juga ngobrol dengannya. Namun barangkali karena dipijit dengan enak, saya merasa mengantuk dan setengah tertidur.¬† Mengetahui itu sang therapist menghentikan obrolannya dengan saya. Sesaat sepi dan hening. Kemudian saya mulai mendengar ia berbicara kepada therapist lain yang juga sedang bekerja di ruang sebelah yang hanya disekat gorden itu. ¬†Dan seorang therapist lagi yang sedang menunggu clientnya menjalani sauna juga ikut nimbrung dalam obrolan itu.

Mula-mula saya tidak tertarik mendengarkan percakapan antar mereka, namun lama-lama entah kenapa telinga saya sulit untuk diajak jangan mendengar. Mungkin itulah barangkali orang bilang, wanita memang pada dasarnya suka mencuri dengar percakapan orang lain dan bergossip ria. Sebagai wanita, sayapun rupanya tidak luput dari instink alamiah itu. Diam-diam saya menyimak percakapan mereka walaupun saya tak kenal baik dengan mereka. Dari kalimat-kalimatnya saya tahu ia sedang membicarakan pihak ketiga yang bisa jadi temannya atau mungkin atasannya.  Semakin lama semakin jelas bagi saya yang sedang menjadi tokoh gossip hari itu rupanya adalah Supervisor Salon yang merupakan atasan mereka.

Therapist yang terlibat dalam percakapan itu terdengar sangat dongkol akan atasannya yang menurutnya (dan diamini oleh rekannya) berwatak kasar, pemarah, jutek, bossy, kerjanya hanya bisa menyuruh orang lain saja, sementara dirinya sendiri tidak bisa bekerja dan banyak sekali predikat yang kurang positive lainnya dilekatkan oleh anak buahnya. Pada sebuah kalimat yang dicetuskan, saya mendengar mereka menilai bahwa pemimpinnya itu mirip kodok. Pengen melompat ke atas, ia harus menekan ke bawah dan menjilat ke atas, katanya. Oh! Saya sangat terkejut dengan pernyataannya itu. Mengapa bisa terjadi  seorang pemimpin sedemikian dibenci oleh bawahannya?

Belum lepas keheranan saya, tiba-tiba ruangan mendadak sepi. Seorang therapist lain datang memberi kode. Pembicaraanpun seketika berubah topik. Seperti yang saya tebak,  benar saja rupanya sang Supervisor yang menjadi bintang hari itu muncul. Saya juga jadi semakin tertarik mengikuti perkembangan suasananya. Terdengar sang supervisor menegur seorang therapist yang dilihatnya menganggur untuk segera turun ke lantai bawah untuk mengerjakan perawatan Creambath. Mereka kekurangan therapist untuk Creambath,  yang dijawab oleh sang therapist bahwa ia bukannya sedang bengong, tapi sedang menunggu clientnya yang sedang sauna. Saya memang merasakan nada agak kasar dan kurang bersahabat dalam suara Supervisor itu, yang memberi tekanan pada therapist yang ditegur tadi, sehingga cenderung membela diri dengan rasa tidak senang. Sang Supervisorpun turun. Seketika pembicaraan tentang dirinya berkembang lagi. Para therapist yang lain tertawa mengetahui adegan itu.

Saya sempat membagi cerita yang saya dengarkan di ruang salon itu dengan seorang kawan yang kebetulan memiliki posisi cukup tinggi di sebuah perusahaan swasta. ¬†‚Äú Wah.. menggossipkan atasan sih memang makanan empuk para bawahan setiap harinya! Nggak perduli sebagus apapun atasannya itu‚ÄĚ katanya¬† dengan nada enteng. ‚ÄúGue sih nggak heran. Mungkin kitapun selalu dijadikan topic gossip setiap hari oleh para bawahan kita. Mana kita tahu?‚ÄĚ Katanya menambahkan. Yah.. saya juga tidak bisa menyangkal bahwa ‚Äėdibicarakan di balik punggung kita‚Äô bisa terjadi pada siapa saja yang menjadi pemimpin. Dan mungkin memang sulit dihindarkan. Namun entah kenapa saya tetap percaya bahwa pembicaraan negative para bawahan tentang atasannya¬† bisa dikurangi (kwalitas dan kwantitasnya) dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam beberapa aspek kepemimpinan yang diterapkan.

Saya jadi teringat akan kata-kata seorang atasan saya belasan tahun silam mengenai Managerial Skill & Leadership Skill yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menduduki posisi penting dalam sebuah perusahaan, bahwa ‚ÄúYang bisa menilai anda adalah sorang Good Manager atau bukan adalah atasan anda. Sedangkan yang bisa menilai bahwa anda adalah seorang Good Leader atau bukan adalah bawahan anda ‚ÄĚ. Saya renungkan sangat benar adanya. Ya. Kepemimpinan kita dinilai oleh bawahan kita. Jadi, untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, tentu ada baiknya kita memahami apa yang menjadi complain bawahan terhadap diri kita.

Jika kita simak apa yang menjadi complain utama para therapist di Salon itu terhadap atasannya yang bisa kita jadikan pelajaran dalam hidup kita antara lain menyangkut masalah:

1. Sikap & Tingkah Laku (jutek, kasar, pemarah, bossy).

Bagaimana kita bersikap terhadap bawahan kita sangatlah menentukan hubungan kita dengan bawahan. Pemilihan kata-kata yang baik, terutama dalam menyampaikan suatu masalah atau memberi perintah sangatlah penting. Perkataan yang baik, selalu akan mendapatkan sambutan yang baik pula. Sebaliknya perkataan dan sikap yang jutek, kasar dan pemarah akan mendapatkan sambutan yang kurang ramah. Betapapun ruwet masalah yang sedang kita hadapi, betapapun ketatnya deadline ataupun besarnya target yang harus kita penuhi, namun jika kita mampu menyampaikan dengan baik dan sopan,  tentu komitment dari bawahan kita akan lebih mudah kita dapatkan.

Bawahan adalah manusia biasa juga, sama halnya dengan diri kita, yang membutuhkan penghargaan & pengakuan setara sebagai manusia. Sehingga sikap yang bossy dan memandang rendah orang lain sama sekali tidak dibutuhkan dalam hal ini.

2. Kemampuan (bisanya menyuruh saja, sementara ia sendiri tidak pandai).

Banyak atasan yang dicemoohkan bawahannya karena masalah kemampuan yang dianggap tidak lebih baik dari bawahannya. Untuk mengatasi hal ini, mungkin mengasah selalu kemampuan kita merupakan hal  yang sangat baik dilakukan. Jangan pernah berhenti belajar. Belajar bsa dari mana saja, dari kursus, sekolah lagi, ikut seminar, training, baca buku, internet, diskusi dengan teman.

Kadang seorang pemimpin ada juga yang sangat pelit ilmu pada bawahannya, karena khawatir bawahannya lebih pintar dari dirinya dan posisinya terancam. Namun dalam hemat saya, pelit membagi ilmu sesungguhnya akan membuat kita dijauhi bawahan kita dan munngkin bawahan kita  bahkan menutup informasi terhadap kita, padahal sesungguhnya jika kita mau membuka diri, rajin melakukan diskusi dengan mereka, dari bawahanpun seringkali kita bisa belajar dan mendapatkan informasi serta pengetahuan baru.

Hal lain yang juga membuat bawahan menghargai kita adalah dengan melibatkan diri lebih jauh dalam setiap aktifitas dan proyek. Sehingga tidak pernah lagi akan keluar penilaian bahwa kita biasanya hanya menyuruh saja.

3. Integritas & Kejujuran (menekan ke bawah, menjilat ke atas).

Diumpamakan sebagai kodok yang meloncat dengan cara menekan ke bawah dan menjilat ke atas, bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin bagus buat kita merefleksi diri, apakah kita benar seperti itu?  Jangan terlalu khawatir jika kita tidak melakukan hal itu. Namun jika hati kecil kita mengakui, maka ada baiknya kita segera merubah diri. Menjadi lebih terbuka dan jujur pada diri sendiri, pada bawahan, pada rekan kerja dan pada atasan kita. Mengatakan hal yang kita lakukan dan berusahalah untuk selalu melakukan hal yang kita katakan. Betapapun sulitnya.

Bersikap transparent dan konsisten terhadap siapa saja, membuat langkah kita menjadi lebih ringan. Apapun yang kita lakukan tak menjadi beban, karena kita tak pernah memiliki agenda lain yang tersembunyi. Semuanya kita lakukan untuk suatu hal yang positive dan jelas.

Gossip dari salon ini, bisa kita ambil pelajarannya untuk kita jadikan benchmark, sebaik apa kepemimpinan kita dalam sebuah organisasi. Walaupun memang tidak ada yang menjamin bisa menghilangkan 100% pembicaran buruk di balik punggung kita ini, namun setidaknya dengan memahami dan berusaha menghindarkan hal-hal serupa yang menjadi complain para therapist Salon ini, maka kemungkinan kita dibicarakan buruk akan berkurang sebesar x%. Selain itu hubungan kita dengan bawahan juga akan semakin membaik dan pekerjaan akan menjadi lebih ringan dan menyenangkan.