Tag Archives: Liburan

Sehari di Kota Nara, Bisa Lihat Apa Saja?

Standard

Kota Nara, terkenal sebagai kota tua dengan banyak sekali memiliki peninggalan sejarah peradaban Jepang, terutama kuil-kuil Budhist.

Saking banyaknya tempat tempat menarik yang bisa dikunjungi di Nara, sesungguhnya kunjungan sehari ke kota ini tidaklah cukup untuk melihat semuanya. Jadi kita harus memilih yang mana yang memungkinkan kita kunjungi dalam sehari.

Kami memilih Nara Park dan area sekitarnya (area yang berwana hijau di peta di atas) untuk kami kunjungi dalam sehari. Karena menurut Nara Sightseeing Map yang saya dapatkan Kintetsu – Nara Station Tourist Information Center, ada cukup banyak tempat menarik dengan lokasi yang berdekatan di tempat itu.

Kami berangkat dari Osaka sekitar jam 9 pagi dan tiba di Kintetsu Station di Nara setengah jamnya kemudian. Lalu apa saja yang bisa kami lihat dalam sehari di Nara?:

1/. Kofukuji Temple.

Kofukuji Temple adalah sebuah kompleks Kuil Budha yang luas yang terdiri atas beberapa bangunan antara lain sebuah Pagoda bertumpang lima yang merupakan simbol dari kota Nara. Dibangun di abad ke 7. walaupun pernah direkonstruksi beberapa kali misalnya pada tahun 1426.

2/. Taman Rusa.

Ada beberapa tempat di Nara Park ini yang dipenuhi dengan rusa. Mulai dari sekitar Kofukuji Temple , tak jauh dari Nara National Museum hingga sekitar Todaiji Temple.

3/. Yoshikien Garden.

Taman cantik yang dulunya merupakan cabang dari Kofukuji Temple ini menyajikan pemandangan taman khas jepang dengan memasukkan unsur kolam, bunga Azalea, Pinus Jepang , kerikil dan lumut.

4/. Todaiji Temple.

Ini adalah kuil yang samgat terkenal di mana ditempatkan sebuah patung Budha Vairocana yang sangat besar yang dikenal dengan Daibutsu (Great Budha).

5/. Nandaimon.

Nandaimon adalah Gerbang Selatan dari Todaiji Hall yang ukurannya sangat luar biasa. Dan merupakan gerbang terbesar yang ada di Jepang.

Sebenarnya masih banyak sekali yang belum sempat kami kunjungi di Nara, seperti misalnya Kasuga Taisha Shrine yang lokasinya sebenarnya masih di sekitar Nara Park juga, tapi karena keburu sore ksmi tak sempat mampir.

Lalu ada Isuien Garden, Heijo Palace, The Garden of Kasuga, Taisha Shrine, Nara City Museum of Art, Toshodaiji Temple, Yakushiji Temple, Naramachi Traditional Townhouse, Gongoji Temple, Nara National Museum, Narakogei-kan Craft Museum. Sugioka Kason Calligraphy Museum, Naramachi Toy Museum, dan sebagainya masih banyak lagi.

Kelihatannya perlu tinggal beberapa hari agar bisa melihat berbagai tempat menarik di kota tua ini.

Advertisements

Nandaimon.

Standard

Bangunan yang menarik hati saya saat mengunjungi Todai-ji Temple di Nara adalah sebuah pintu gerbang raksasa yang disebut dengan Nandaimon. Jika diterjemahkan artinya adalah Gerbang Besar Selatan (Great South Gate). Disebut begitu karena pintu gerbang yang besar ini memang merupakan pintu gerbang selatan dari Todaiji temple. Dan saya mendapat informasi bahwa Nandaimon ini adalah pintu gerbang yang terbesar yang ada di Jepang.

Terbuat dari kayu yang sangat kokoh, gerbang ini memiliki 3 pintu yang sama ukurannya.

Di bagian kiri kanan pintu ini ditempatkan 2 patung raksasa dari dewa pelindung yang disebut Kongorikishi.

Walaupun umurnya sangat tua, gerbang kayu tua ini terlihat sangat antik dan tetap gagah.

Mengunjungi Todai-ji Temple di Nara.

Standard

Selepas menikmati keindahan taman di Yoshikien Garden, kami melangkah keluar menyusuri jalan di perumahan di kota Nara untuk menuju ke Todaiji Temple.

Menurut peta, harusnya letaknya tidak terlalu jauh dari Yoshikien Garden ini. Jadi kami yakin bisa ke sana tanpa tersesat.

Setelah berjalan kira kira 15 menit, sampailah kami di gerbang kuil Todaiji ini. Sempat melihat-lihat dari luar. Keponakan saya ragu apa kita perlu masuk atau tidak. Setelah dicheck ternyata ticketnya tak seberapa mahal. 500 yen per orang jika hanya ingin mengunjungi Templenya saja. Atau 800 yen jika ingin mengunjungi Temple + Museum.

Karena sudah agak sore, kami memutuskan untuk berkunjung ke templenya saja.

Saya berjalan ke arah Budha Hall, mampir ke tempat air untuk membersihkan tangan dan wajah saya, lalu ke tempat pedupaan dan menyalakan dupa sebentar sebelum memasuki ruangan.

Templenya sendiri berupa satu ruangan yang sangat besar di mana sebuah patung Budha Vairocana ditempatkan di sana. Sehingga ruangan itu sering juga disebut dengan Budha Hall atau Daibutsuden.

Patung Budha ini sungguh sangat besar. Berdasarkan informasi beratnya 550 ton. Tingginya ada sekitar 15 meter. Di sekeliling belakang kepalanya terdapat lingkaran cahaya emas.

Ditempatkan di atas kelopak bunga Padma (lotus)

Saya menyempatkan diri untuk merenung dan berdoa sejenak di tempat itu.

Selain patung Budha yang sangat besar ini, di kiri kanan Budha juga ditempatkan 2 buah patung Dewa, yakni Kokuzo Bosatsu (Dewa Ruang).

Dan satunya lagi adalah Nyoirin Kannon ( Dewa Keberuntungan).

Jika kita berjalan mengelilingi aula, di bagian samping agak pojok belakang, kita juga menemukan 2 buah patung raksasa yang merupakan dewa dewa penjaga.

Dewa dewa ini diyakini menjaga Budha dari hal hal yang buruk.

Mereka adalah Koumokutan ( Dewa Barat).

Dan Tenmontan ( Dewa Utara). Patung dewa dewa ini terbuat dari kayu balok yang diukir dengan sangat indahnya.

O ya, hampir lupa bercerita, di dekat patung Dewa Tenmontan ini terdapat sebuah pilar denganlubang di tengahnya. Kelihatannya sangat sempit, tetapi saya lihat ternyata ada beberapa orang yang bisa lolos masuk ke dalamnya. Baik anak kecil maupun orang dewasa.

Yoshikien Garden di Nara.

Standard

Ada banyak sekali Garden di Nara. Yoshikien Garden adalah salah satu yang sempat saya kunjungi. Garden ini sangat indah, terdiri dari 3 bagian, yakni taman yang ada kolamnya, bangunan tempat minum teh dan taman lumut.

Awalnya saya pikir kami akan membayar jika masuk ke garden ini. karena itu yang saya tangkap di plang depan taman ini. Kami juga diminta untuk menunjukkan passpor kami kepada petugas. Tetapi entah kenapa, mereka tidak memungut bayaran dari kami.

Ooh…tentu saja kami sangat berterimakasih kepada petugas itu. Kamipun masuk ke dalamnya melalui sebuah tangga kecil.

Begitu masuk terlihat pemandangan menakjubkan dari sebuah kolam yang posisinya agak dibawah.

Dikelilingi oleh bunga bunga Azalea yang cantik dan pohon pinus jepang yang bentuknya sangat artistik. Seorang petugas gardening kelihatan sedang memangkas tanaman dan merapikan taman.

Saya sungguh merasa takjub dengan pohon pinus di situ. Mirip bonsai yang dibentuk tangan manusia, tetapi dalam ukuran besar.

Hujan turun gerimis. Saya berteduh sebentar di emperan bangunan sambil melongokkan kepala melihat melalui jendela kaca.

Selembar kertas tertempel di situ. Rupanya jendela kaca bangunan itu terbuat secara traditional dari hadmade glass. Bukan kaca pabrikan. Waaah!!!. Luarbiasa ya.

Di pojok taman ada sebuah parit yang cukup dalam dan di seberangnya tampak sebuah pagoda bertumpang 13 yang menurut saya sangat mirip dengan meru. Keseluruhan landscape taman itu tampak sangat cantik dan menarik.

Setelah reda, saya berjalan menyusuri jembatan kecil dan jalan setapak yang menanjak.

Ada sebuah bangunan kecil di atas sana. Kelihatannya tempat orang minum teh. Jika kita memandang tepat ke pintunya, di seberang sana tampak sebuah taman lain yang indah. Sayang pengunjung tidak diperkenankan masuk ke sana.

Didepannya ada sebuah tempat air. Mungkin sebelum masuk ke ruangan suci itu, tamu diharapkan mencuci tangan atau kaki di sana.

Saya mengambil jalan memutar untuk sampai ke taman di seberang sana. Tempat yang sangat indah. sejuk. dan terasa sangat tenang dan damai.

Sebagai catatan, sesuai dengan yang tertera di pintu gerbang, di taman Yoshikien ini rupanya pada suatu masa adalah lokasi dari cabang Kofukuji Temple yang disebut dengan “Manishuin”. Ini menurut mereka berdasarkan foto lama dari Kofukuji Temple. Namun ketika Jepang memasuki periode Meiji (1868 – 1912), tempat ini dimiliki oleh perorangan. Setelah konstruksi dari bangunan dan taman tang sekarang pada tahun 1919, tempat ini kemudia sering dimanfaatkan untuk menerima tamu tamu VIP dari perusahaan swasta. Pada tahun 1980, Nara Perfecture mengambil alih tempat ini dan dibuka untuk publik.

Sebagai informasi, taman ini terbuka untuk umum dari jam 9 pagi hingga jam 17.00. Pintu masul terbuka hingga pukul 16. 30. Jadi kalau teman teman pembaca ada yang ingin berkunjung ke sini, jangan terlalu sore.

Mengunjungi Kofukuji Temple di Nara.

Standard

Hari ke dua di kota Osaka, saya bangun agak kesiangan, karena kelelahan akibat kemarinnya seharian menghabiskan waktu di Universal Studio hingga malam. Padahal keponakan saya sudah mewanti wanti kami akan berangkat pagi-pagi ke Nara. Takut keburu hujan.

Setelah bergegas mandi berangkatlah kami semua dengan menumpang kereta ke Stasiun Kintetsu. Perjalanan menuju ke Nara dari Osaka kurang lebih setengah jam. Sungguh beruntung, rupanya lokasi Kofukuji Temple itu tidak terlalu jauh dari Stasiun. Cukup berjalan kaki saja, sekitar 15 menit sampai deh.

Kofukuji Temple ini rupanya cukup kompleks. Saya lihat ada beberapa bangunan.

Kofukuji Temple di Nara.

Tapi kayaknya bangunan utananya adalah Pagoda tingkat 5, yang menurut saya terligat sangat mirip dengan Meru Tumpang Lima di Bali. Belakamgan saya baru tahu jika Pagoda ini rupanya dijadikan lsmbang kota Nara. Pantesan saja di beberapa tempat di luar temple ini juga banyak dijajakan souvenir dengan bentuk Pagoda tumpang lima ini.

Di sebelahnya terdapat bangunan Balai Timur.

Lalu di sebelah utaranya terdapat lagi bangunan besar berwarna merah yang dusebut Central Golden Hall. Saya sendiri sih tidak masuk ke area ini.

Lalu, sebenarnya di dekat pintu masuk tadi, saya lihat ada juga sebuah bangunan oktagonal yang disebut dengan Octagonal Hall.

Saya sendiri ikut membersihkan diri dan memanjatkan doa di kuil Octagonal itu.

Menurut cerita , kuil Budha ini usianya sudah sangat tua. Dibangun pada tahun 710 masehi oleh kelyarga Fujiwara dan pernah berkali kali rusak dan dibangun kembali. Dan termasuk sebagai salah satu kuil yang utama. Luar biasa !.

Night Parade di USJ – The Best Of Hollywood.

Standard

Berkeliling di Universal Studio Japan seharian tentu sangat melelahkan. Tapi entah kenapa anak dan para keponakan saya sepertinya tidak mengenal lelah sama sekali. Setelah itu mereka malah bilang akan stay di situ hingga malam karena jam 8.00 malam waktu setempat akan ada Universal Spectacle Night Parade – The Best of Hollywood. Astaga !!!!

Jadi kami akan stay di sini nih hingga malam. Mana angin dingin mulai diam diam bertiup. Saya bergegas mengenakan jacket saya. Untungnya Night Parade yang ditunggu tunggu itu memang sebuah pertunjukan yang luar biasa. Jadi nggak rugi juga nungguin.

Jadi intinya ini adalah parade film film terbaik dari Hollywood.

The Best of Hollywood. Night Parade USJ.

Parade dibuka dengan pertunjukan Minions di lapangan terbuka yang jalan di pinggirnya dihadikan lalu lintas arak- arakan dan peragaan dari the best of Holywood.

1/. Harry Potter.

Parade rupanya dimulai dengan Harry Potter.

Waah… senang sekali saya. Karena sangat kebetulan, saya adalah penggemar berat Harry Potter. Bukan saja filmnya, tetapi buku bukunya juga.

Parade Harry Potter ini dilengkapi dengan Kereta Api yang menuju Hogwarts, lengkap dengan gerbong yang mana kita bisa meligat Harty Potrer, Hermione ada di dalamnya. Lalu ada bendera Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw dan Hufflepuff. He ge he… tentu saja saya penggemar team Gryffindor.

2. Transformers.

Siapa penggemar Transformers?

Nah Parade ini pasti akan sangat membuat histeris para penggemar Transformers.

Betapa tidak, karena kita bisa melihat secara langsung bagaimana robot raksasa ini berubah menjadi mobil dan sebaliknya. Sesuatu yang kita lihat di film, tetapi ini nyata dan persis di depan mata kita.

Ada 2 robot yang lewat malam itu, yaitu Bumblebee, robot berwarna kuning yang malam itu menjadi maskotnya Transformers. Lalu disusul dengan Optimus Prime yang warnanya Biru dan Merah.

3. Jurasic Park.

Berikutnya adalah Parade Jurasic Park yang membawa penonton ke masa silam. Berbagai dinosaurus kita bisa lihat di sini.Ada jenus Raptor, Parasaurolophus, Stegosaurus dan lainnya.

Tetapi jagoannya tentu T- Rex sang pemakan daging yang mengerikan.

4. Minions.

Arak-arakan malam itu ditutup dengan parade yang cukup panjang dari dunia Minions.

Keseluruhan parade itu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sungguh sangat mengesankan.

Kami pulang ke tempat penginapan dengan kaki super pegal dan perut mulai keroncongan.

Mengunjungi Harry Potter di Universal Studio Japan.

Standard

Hari pertama di kota Osaka, saya mengunjungi Universal Studio – Japan. Yaa… namanya juga ngikut keponakan. Tentu banyak yang bisa dilihat di sana. Mulai dari Minion, Spiderman, Jurasic Park, Snoopy, Peanuts, dan sebagainya. Tapi dari semua itu, saya paling tertarik pada Harry Potter.

Kisah dunia sihir ini memang sangat menyihir perhatian saya. Dan keponakan saya seperti nauin aja kalau tantenya ini penggemar serial Harry Potter. Kami pun sepakat bermain ke wahana itu.

Kereta Api yang akan mengantarkan ke Hogwarts Castle

Begitu sampai di gerbang, wow! pemandangannya memang sudah langsung memukau dan membuat saya lupa kalau saya sebenarnya seorang “mugle” 😀. Gimana tidak, kereta dengan gerbong 5972 yang akan mengantarkan saya ke Sekolah Sihir Hogwarts sudah di depan pintu dengan uap yang mendesis siap berangkat. Seorang pemandu berdiri di depannya.

Berikutnya pemandangan desa Hogsmeade, desa Sihir yang letaknya tak jauh dari sekolah Hogwarts.

Saya sangat senang di sini.

Melihat atap atap rumah yang tertutup salju. Tak ada bosan bosannya berkeliling di sini.

Kantor Pos Sihir dengan OWL POST menggunakan tenaga burung hantu untuk mengantarkan surat dan barang.

Di sebuah aula, saya melihat sebuah kantor pos yang langit-langit bangunannya dipenuhi dengan berbagai jenis burung hantu. Tentunya burung burung hantu itu yang bertugas untuk mengantarkan segala surat dan barang di dunia sihir 😊. Sayapun mendongak mengamati jenis-jenis burung hantu itu satu per satu.

Toko alat sihir.

Ada juga berbagai toko alat alat sihir yang menarik untuk dikunjungi, yang tentunya berisi berbagai souvenir.

Di depan Hogwarts USJ.

Setelah puas berkeliling barulah kami memutuskan untuk ikut bermain di wahana utama di Hogwarts. Antriannya lumayan panjang. 100 menit !!!. Tapi nggak apa apalah. Mumpung ada di sini.

Hogwarts.

Saya sangat kagum akan tempat pariwisata ini. Pengunjungnya sungguh membludak. Mereka rela mengantri berdiri dan berpanas panasan demi masuk ke dalam wahana ini. Padahal harga ticket masuk ke Universal Studio Japan ini juga nggak murah – murah amat. Buat contekan nih, ticket masuk ke USJ untuk orang dewasa adalah 7 900 Yen atau sekitar 1 jt rupiah per orang. Tapi pengunjung tetap saja membludak.

Sungguh sebuah kesuksesan pemasaran brand Harry Potter yang luar biasa.

Kesuksesan besar dari buah pikir J. K. Rowling sang penulis novel serial ini pada awalnya. Bagaimana ia menterjemahkan khayalan di dalam ruang pikirnya ke dalam rangkaian kalimat demi kalimat yang membentuk cerita. Lalu seseorang menterjemahkan karya sastra itu ke dalam bentuk film. Dan seseorang yang lain menterjemahkannya ke dalam bangunan fisik berupa wahana ini.

Saya memasuki wahana permainan sihir dan menikmatinya bersama anak saya. Lumayan seru juga, tapi sesungguhnya saya lebih banyak memejamkan mata saya ha ha 😀😀😀. Setelah selesai lalu saya keluar ke sebuah ruangan tempat menjual berbagai pernak pernik Hogwarts. Tidak membeli apa apa, dan hanya melihat lihat saja, lalu keluar lagi.

Memandang bangunan Sekolah Sihir Hogwarts yang kelihatan kokoh berwarna kelam itu, lengkap dengan menara menaranya, saya berpikir apakah bangunan seperti ini yang ada di dalam pikiran J. K. Rowling sejak awalnya? Atau ini sudah bercampur dengan khayalan yang ada dalam pikiran sang para sutradara Chris Columbus dan kawan kawan?. Demikian juga bangunan fisik lainnya seperti desa Hogsmeade, kantor post dan lain lain beserta detail-detailnya. Tak habis habisnya saya berdecak kagum.

Tapi apapun itu, yang jelas dari sebuah ide di kepala sang penulis, berkembang menjadi sebuah cerita yang diwujudkan dalam berbagai bentuk bisnis yang baik, dari buku, film, cinderamata, wahana permainan. Nah… kapan kita bisa punya ide yang secemerlang itu ? 😀.

Sesuatu tidak akan punya cerita sukses jika tidak ada ide dalam pikiran. Tetapi ide saja akan tetap tinggal ide, jika tidak mampu kita gambarkan atau tuangkan dalam tulisan ataupun cerita.

Lalu cerita? Ya … cerita akan tambah hidup jika kita film-kan. Dan semakin membooming ketika diterjemahkan dalam berbagai souvenir dan pernak pernik.

Ngebolang ke Negeri Matahari Terbit.

Standard

Liburan kali ini, mendadak saya punya keinginan untuk mengikuti rencana lama kakak saya untuk ngebolang ke Jepang. Berhubung hanya pendompleng, maka saya mengikuti saja agenda yang sudah diatur oleh para keponakan saya. Hanya ticket saja yang harus saya beli sendiri untuk saya dan anak saya. Lumayan mahal juga sih, karena saya nge-booknya last minute, sementara kakak saya dan anak-anaknya sudah ngebook ticket sejak lama. Tentu saja perbedaan harganya sangat jauh. Untuk pelajaran saja, lain kali jika niat bepergian, kita harus menjadwalkan perjalanan kita jauh jauh hari sebelumnya.

Untuk penginapan dan travelling cost selama di sana, keponakan saya yang ngatur. Saya hanya sharing cost saja.

Keponakan saya bilang, untuk menurunkan cost ia memilih menggunakan layanan Air BNB untuk penginapan, dan selama di sana kami akan lebih banyak berjalan kaki, menggunakan kereta ataupun bus. “Jadi jangan berharap hotel mewah” katanya. “Oke” kata saya.

Lalu iapun kirim foto foto tempat penginapan. ” Kamar mandinya juga sharing. Nggak apa-apa ya?” tanyanya. “Nggak apa apa” jawab saya. Saya mempercayakan perjalanan ini padanya karena ia sudah pernah berada di sana dan tentunya lebih tahu ketimbang saya.

Sesuai plan, pada hari H – nya, saya dengan anak dan keponakan berangkat dari Jakarta dan mencapai negara matahari terbit ini melalui Osaka.

Sempat transit beberapa jam di Kuala Lumpur sambil menunggu pesawat yang datang dari Denpasar membawa kakak saya bersama suami dan keponakan saya yang lain.

Tak banyak yang bisa kami lakukan di bandara di KL, selain hanya kuliner. dan diduk duduk ngantuk di kursi yang ada. Untunglah pukul 14. 00 siang akhirnya pesawat berangkat juga.

Setelah penerbangan sekitar 7 jam, pukul 11.00 malam kami tiba di Osaka.

Karena belum sempat makan, kami berhenti dulu di jalan untuk mengisi perut. Kami bertemu rumah makan cepat Sukiya yang buka hingga larut malam. Kamipun memesan makanan dengan cepat.

Saya sendiri memilih menu salad sayuran dan soup miso yang hangat. Lalu bergegas membayar setelah kami semua menghabiskan pesanan kami masing masing.

Saya baru pertama kali menggunakan layanan Air BnB. Pengalaman pertama ini jadi menarik juga buat saya. Karena saya baru tahu jika rumah tempat kami menginap itu kosong dan tuan rumah memberikan informasi di mana kunci diletakan berikut dengan kode rahasianya melalui WA. Jadi mirip pramuka yang sedang mencari jejak 😀😀😀.

Setelah mencari cari dan mencocokkan sejenak, pendek cerita akhirnya kami bisa masuk ke rumah. Sebenarnya rumahnya kecil, tapi karena ditata dengan baik dan apik, lumayan terasa lapang juga. Ada 3 ruang yang bisa dimanfaatkan untuk ruang tidur, 1 kamar mandi, 1 wc, dan 1 pantry serta ruang untuk menjemur cucian terpisah. Lumayan untuk tempat kami tinggal selama beberapa hari sebelum kami pindah ke Tokyo.

Malam itu setelah membersihkan diri saya langsung beristirahat, agar besok terasa segar dan siap untuk berkeliling kota Osaka.

Golden Temple of Amritsar,Tempat Suci Dimana Kemanusiaan dan Persamaan Diutamakan.

Standard
Golden Temple of Amritsar,Tempat Suci Dimana Kemanusiaan dan Persamaan Diutamakan.

Golden Temple di kota Amritsar, Punjab, India adalah salah satu tempat yang ingin saya kunjungi. Selain karena sangat terkenal, Golden Temple merupakan tempat suci Sikh India terbesar, sangat tua dan utama, dimana puluhan hingga ratusan ribu peziarah dan tourist berkunjung ke tempat ini setiap harinya. Golden Temple dalam bahasa setempatnya bernama Harmandir Sahid atau Darbar Sahid, hanya karena bangunan utama Temple ini dilapisi emas murni, sehingga oleh pengunjung disebut dengan Golden Temple.

Saya tiba di Golden Temple sekitar pukul 11 siang di sebuah parkiran rooftop. Lalu berjalan kaki menyelusuri jalanan bebas kendaraan yang dikiri -kanannya penuh dengan toko kerajinan India. Susah untuk memaksa mata agar tidak menoleh kiri dan kanan melihat berbagai kain sulaman India dan sari dipajang.

Setelah berjalan kaki beberapa saat, akhirnya tibalah kami di gerbang selatan dari Golden Temple. Melihat gerbangnya saja, saya sudah terkagum-kagum. Temple ini sangat besar sekali. Sayang kubah gerbang pintu selatannya sedang direnovasi. Merupakan salah satu peninggalan dengan gaya arsitektur jaman Mugal , Golden Temple dibangun oleh Guru Arjan (Guru ke 5 Sikh) dan diselesaikan oleh Guru Ram Das pada tahun 1577, di tempat di mana Guru Nanak (Guru pertama Sikh) bermeditasi dahulunya. Saat dibangun temple ini belum berlapis emas. Kemudian Maharaja Ranjit Singh melapisinya dengan emas.

Lepas Sepatu dan Pakai Tutup Kepala Bagi Semua Orang.

Di pojok sebelum memasuki gebang, penjaga memberi tahu bahwa kami tidak diperkenankan menggunakan alas kaki dan diwajibkan untuk menutup kepala. Berlaku sama, baik untuk pria maupun wanita. Sayapun segera menitipkan sepatu pada penjaga lalu bergegas menutup kepala saya dengan selendang.

Bertelanjang kaki saya berjalan ke arah gebang yang jaraknya lumayan jauh juga dari tempat penitipan sepatu. Sebelum memasuki gerbang, ada tempat pembersihan diri. Saya membasuh muka dan tangan saya. Lalu saya berjalan menerobos parit air yang dimaksudkan untuk mencuci kaki pengunjung yang masuk ke dalam Temple itu.

Temple di Tengah Danau.

Begitu memasuki gerbang, WOW!!!!. Saya terpesona oleh pemandangan di depan saya yang sangat menakjubkan. Di dalam bangunan bergerbang empat yang sekarang terlihat seperti benteng itu terdapat sebuah danau. Sebuah Temple warna emas berdiri dengan anggun di tengah sebuah danau buatan itu yang diberi nama Amrit Sarovar (Danau Amerta, atau Kolam Sari Nektar).

Sangat ramai sekali. Antrian untuk masuk ke dalam bangunan temple itu sendiri sangat berjejal dan panjang sekali. Ribuan orang banyaknya. Masalahnya yang hadir di sini bukan hanya umat yang ingin sembahyang tetapi juga banyak tourist yang datang untuk mengagumi keindahan Golden Temple ini. Perbandingan antara peziarah dan tourist saya dengar mencapai 75% vs 35%.

Saya berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa masuk ke bangunan itu dan berdoa di sana. Tapi akhirnya saya urungkan niat, karena pasti akan memakan waktu yang sangat lama. Bisa bisa sampai sore baru kebagian.

Sementara di luar bangunan, saya lihat orang orang yang datang seketika membungkuk memberi penghormatan lalu bersimpuh dan bersujud memanjatkan doa. Sayapun ikut bersimpuh di tepi kolam dan berdoa di sana saja.

Menerima Berkah Makanan.

Sekitar pukul 12.30 kami diajak makan siang di Temple. Saya dijelaskan bahwa Temple menyediakan makan untuk siapa saja yang berkunjung ke Golden Temple, tidak memandang apapun agama ataupun suku bangsanya. Dikasih semua. Atas dasar kemanusiaan, persaudaraan dan persamaan. Dan GRATIS !!!!!. Wow!!😮😮😮 Bagaimana bisa ya? Kan jumlah pengunjung temple ini ada puluhan ribu jumlahnya setiap hari?. Sungguh sebuah Kedermawanan tingkat tinggi yang sedang ditunjukkan kepada saya, salah seorang pengunjungnya. Tak ada tempat suci lain yang seperti ini.

Akhirnya saya ikut arus ribuan orang yang bertelanjang kaki menuju dapur umum. Di sana kami mencuci kaki lagi dan tangan kami. Lalu menerima pembagian piring dan mangkuk untuk tempat air.

Saya memasuki ruangan besar beralaskan semen. Dimana orang orang duduk berbaris rapi menikmati hidangan yang dibagikan petugas. Mereka makan dengan tertib. Lalu berdiri dan berbaris keluar ketika sudah selesai. Meninggalkan barisan kosong yang segera diisi oleh orang lain yang baru masuk dengan tertib.

Saya duduk bersila di barisan yang panjang. Petugas menuangkan bubur putih dan dal, sejenis bubur yang terbuat dari kacang kacangan. Ada 3 jenis menu di piring saya. Saya pun makan dan minum dengan nikmat. Setelah usai, saya keluar.

Ada petugas lain lagi yang menerima piring dan sendok yang kotor . Saya sungguh tercengang melihat dan mengalami semua itu.

Pelayanan, Keikhlasan dan Ketulusan Hati.

Untuk melayani ribuan pengunjung yang datang ke sana, ada puluhan atau mungkin ratusan orang yang menyumbangkan tenaganya untuk mengupas bawang, mengolah kacang, memasak , melayani membagikan piring, membagikan makanan, membagikan air, mengumpulkan peralatan makan yang kotor, dan mencucinya. Semuanya swadaya. Dan menurut seorang yang mengabdikan tenaganya di situ, walau sebanyak apapun pengunjung yang datang, selama ini tak pernah ada yang tidak kebagian makanan. Bahkan pada saat ada perayaan pun di mana 200 000 peziarah datang untuk sembahyang di sana, makanan tetap cukup. Luar biasa !.

Saya pulang dengan rasa kagum dan hormat yang tinggi. Bahagia sekali karena sudah diberi kesempatan untuk berkunjung dan berdoa di sana. Lebih bahagia sekali karena melihat dan mengalami sendiri, bagaimana di tempat suci itu, asas kemanusiaan dan persamaan lebih diutamakan di atas hal lain. Sungguh tidak ada ego dan fanatisme agama yang berlebih. Yang ada hanya ketulusan dalam memberi, keikhlasan dalam menerima kunjungan dan persamaan dalam menangani pengunjung tanpa memandang agama, suku maupun gendernya. Semua dilayani sama.

Di jalan, banyak sekali saya menemukan orang- orang yang sudah sepuh membawa buntelan (mungkin isinya pakaian dan barang keperluan sehari hari lain) kelihatannya datang dari jauh dengan berjalan kaki guna bisa berdoa di sana. Haru!.

Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Standard
Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Awal tahun ini saya ada di rumah ortu di Bangli. Mengetahui saya libur, kakak saya mengajak bermain ke Mahapraja, sebuah tempat wisata baru yang sedang naik daun di Bangli. Wow! Penasaran dong saya ya… apa itu Mahapraja dan di mana pula letaknya?. Ikuuuut…

Mahapraja, letaknya di Banjar Puraja, desa Peninjoan, kecamatan Tembuku – Bangli. Di Bali. Jadi kalau dari Bangli, kita mengarah ke timur menuju kecamatan Tembuku. Di Tembuku kita menuju arah timur laut dengan mengikuti jalan raya Besakih hingga ke desa Undisan. Nah dari desa Undisan lalu kita mengarah ke utara. Ketemulah desa Peninjoan, dan selanjutnya dari sana kita mencari Banjar Puraja dimana tempat wisata Mahapraja ini berlokasi.

Kami memarkir kendaraan tak jauh dari jalan raya, lalu menuju gerbang Mahapraja yang di kiri kanannya adalah kebun jeruk 🍊🍊🍊 yang sedang berbuah lebat. Jadi ngiler melihat buah buah segar bergelantungan di pohonnya yang rendah. Belakangan saya dengar, ternyata kita juga bisa berwisata memetik buah-buahan di kebun sekeliling Mahapraja. Bahkan buksn hanya jeruk lho… ada pepaya, manggis, salak, duren…Waah…tau gitu tentu saya sangat bersemangat ikut memetik-metik 😀.

Sebuah pintu gerbang dengan aling aling Ganesha menyambut kami di Mahapraja.

Mahapraja Br Puraja desa Peninjoan, Tembuku Bangli.

Ganesha sering ditempatkan sebagai aling aling dalam pekarangan rumah di Bali sebagai permohonan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai pelindung dari kesulitan dan masalah (Ganesha). Demikian juga di dekat pintu masuk Mahapraja. Sehingga dengan memasang Ganesha di pintu masuk, pemilik rumah mendoakan keselamatan bagi semua orang yang berkunjung ke tempat itu.

Dari Ganesha ini kita bisa langsung ke hamparan tanah luas berumput hijau segar yang tepinya menurun dibatasi oleh pohon pohon kayu 🌳🌳🌳 yang rindang dan sungai Puraja. Ada balai balai bambu tempat duduk dan bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Di seberangnya tampak hamparan rumput hijau yang cukup luas juga. Wow!. Tiba tiba seluruh tubuh, mata dan kepala terasa sangat segar. Sebuah tempat untuk me-recharge energy yang sangat menawan. Hijau royo royo🍃🍃🍃 dengan udara sejuk yang menyegarkan. Sangat tenang dan damai. Jauh dari keriuhan dan kepengapan kota. Beda banget dengan Jakarta.

Saya lihat ada 4 bungalow bambu sederhana beratap ilalang berjejer di sebelah kiri. Kayaknya asyik juga jika bisa menginap di sini menikmati suasana alam yang benar benar alami. Nanti deh…kalau dapat libur lagi saya pengen juga nginep di sini.

Mari kita lupakan sejenak kesibukan kota yang berbulan bulan menguras energy kita. Lupakan sejenak polusi dan kebisingannya. Duduklah di sini. Lepaskan kepenatan. Lupakan meeting dan target penjualan sejenak 😀. Dengarkan hanya suara angin dan nyanyian burung🐦🕊. Dan wangi rerumputan. Tidak ada TV dan kalau perlu nggak ada jaringan internet. Hanya ada kita dan alam. Sehingga kita benar-benar tahu yang artinya menyepi dan mengisi energy kembali dari kekosongan.

Melamun begitu sambil menyeruput es kelapa muda dengan jeruk nipis, saya pikir, cocoknya tempat ini bernama Mahapraja Hide Away saja he he 😊. Tempat melarikan diri dari kepenatan kota.

Ternyata selain untuk menyepi dan menikmati suasana alam, tempat ini adalah sebuah Camping Ground yang lumayan juga. Bisa digunakan untuk acara outing dengan daya tampung +/- 600 orang pengunjung. Kalau gitu bisa dipakai untuk perusahaan kelas menengah dengan jumlah karyawan 400 – 600 orang ya…

Saya diberi informasi jika ingin menginap, Mahapraja memiliki 58 tenda camping 🏕 dengan daya tampung max 4 orang/ tenda. Nanti kalau saya balik ke Jakarta, saya info deh perusahaan tempat saya bekerja, kali kali aja mau mengadakan acara outing di tempat ini *muka penuh harap 😀.

Fungsi lain lagi… ternyata di tepi sungai di bawah tempat ini juga digunakan untuk mereka yang senang bermeditasi. Saya nggak sempat turun ke sungai , mengingat gerimis turun dan saya lupa bawa payung. Jadi saya hanya sempat melongok tangga turunnya doang.

Hari itu saya melihat cukup banyak juga orang yang berkunjung. Rata rata membawa keluarganya. Suatu saat saya pengen juga mengajak anak saya ke sini.

Nah…. siapa yang mau ikuttt???.