Tag Archives: Life

Bakpia Yang Tak Utuh.

Standard

Suatu kali, di tengah malam saya merasa agak lapar. Mau makan buah melon dan mangga potong yang ada di kulkas, tapi rasanya kok perut saya agak dingin ya. Jadi saya mencari alternatif lain.

Nah… ketemu box kertas bakpia pathok. Walaupun disimpan di kulkas juga, mungkin yang ini bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena tak berair.

Saya ambil box bakpia itu. Berharap masih ada 1-2 buah isinya yang tersisa. Tidak dihabiskan oleh anak-anak. Lalu saya buka. Astaga!!!. Betapa terkejutnya saya melihat isinya.

Bakpia tidak utuh dan kelihatan seperti bekas gigitan lalu dimasukan kembali ke dalam box. Tidak bundar seperti seharusnya. Sebagian tak beraturan, sebagian mirip bulan sabitπŸ™„πŸ™„πŸ™„

Aduuuh… siapakah yang melakukan perbuatan ini?. Iseng banget. Mungkinkah anak-anak? Tapi mengapa mereka melakukan hal konyol ini? Sekarang mereka sudah besar-besar, sudah tumbuh remaja. Masak begitu ya?. Kalau dulu waktu masih play group mereka begitu saya mungkin bisa mengerti. Tapi kalau sekarang? Hadeuuuh…

Saya tidak bertanya apa-apa karena kedua anak saya sudah tidur nyenyak. Sayapun lalu ikut tidur.

Esok paginya saya bertanya kepada anak saya mengapa ada bakpia yang terpotong potong bekas tergigit dimasukkan kembali ke dalam boxnya di kulkas? The moon crescent cake?.

Anak saya yang kecil segera mengatakan tidak. Bukan ia pelakunya. Dan ia juga ikut heran, mengapa ada kue bekas gigitan disimpan kembali di kulkas.

Lalu anak saya yang besar keluar dari kamar. “The explanation is….” katanya

Sebelumnya ada semut yang masuk ke dalam box bakpia itu. Untuk memastikan kalau semutnya tidak menginvestasi ke dalam kue, jadinya kuenya kupecah pecah. Aku periksain satu per satu. Tapi karena semutnya nggak ada, kupikir kuenya masih bisa dimakan. Jadi, kumasukkanlah lagi ke dalam box dan kutaruh di kulkas” kata anak saya.

Oalah…πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi itu ya penjelasan tentang kue terpotong-potong itu. Ya…masuk akal juga sih. Tapi tanpa penjelasan itu tentu tak seorangpun mau memakan potongan-potongan kue itu karena menyangka itu kue bekas gigitan. Untung saja kue itu tidak saya buang ke tong sampah semalam.

Ya ya!. Memahami keseluruhan permasalahan itu sangat penting gunanya agar kita tidak salah mengambil kesimpulan dan tidak salah mengambil tindakan.

Kayanya sering terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari ya? Seringkali kita melihat sesuatu, agak aneh menurut pandangan kita. Tanpa bertanya, entah karena enggan, malu atau tidak tahu bagaimana caranya bertanya atau kepada siapa bertanya, kita jadi cenderung menduga-duga sendiri apa yang terjadi.

Walaupun ketika kita tahu keseluruhan ceritanya, ternyata sangat jauh dari apa yang kita pikirkan atau sangkakan sebelumnya.

Kita jadi sering under-estimate orang lain atau over-estimate orang lain. Kadang berburuk sangka pada hal yang sebenarnya baik. Atau kebalikannya, terlalu berbaik sangka pada apa yang terlihat sangat indah padahal sebenarnya banyak motivasi buruk dibaliknya.

Selamat hari Minggu siang, teman-teman semuanya.

Advertisements

Catatan Dari Malioboro: Dika dan Gitar Tuanya.

Standard

Malam itu saya menyelusuri jalanan di Malioboro. Ikut arus orang banyak, lalu mampir di sebuah angkringan. Memesan sebungkus Nasi Sambal Teri beserta lauknya dan segelas es teh. Saya mencari tempat yang nyaman untuk ‘ndeprok’ di pinggir trotoar. Lalu mulai makan.

Sembari makan saya ngobrol dengan teman teman saya. Seorang seniman menawarkan kepada kami jasanya membuat silhouette. Lalu seorang lain juga menawarkan jasa penyewaan motor atau mobil yang barangkali kami butuh.

Kota ini memang tidak ada duanya. Kehidupan berdegup di sini dalam kebersahajaan. Penuh pengunjung tanpa harus menjunjung hedonism. Tetap bergeliat dalam kerendah-hatian. Saya sangat menyukainya.

Seorang anak kecil mendekat. Duduk berjongkok di dekat saya dan langsung bernyanyi tanpa diminta. Jemari mungilnya memetik senar gitar kecil bersnar tiga dengan penuh semangat. Suaranya seperti menguap di udara. Di tingkah suara group pengamen dewasa yang menyanyi di dekat angkringan sebelah dengan lebih keras dan lebih profesional. Saya tertawa melihat semangatnya.

Dika namanya. Ia mengaku kelas 4 SD dan setiap malam mengamen di situ hingga pukul 10 malam. Jika malam akhir pekan atau menjelang libur lainnya ia pulang pukul 12 malam. Tak ada kekhawatiran sedikitpun di wajahnya.

Menurutnya, sebagai pengamen jalanan penghasilannya tidak menentu. Tetapi paling seringnya sekitar Rp 50 000 setiap malamnya. Uangnya ia kumpulkan. Sebagian untuk jajan. Sebagian untuk membayar uang sekolah.

Dika belajar menyanyi dan bermain gitar sendiri tanpa ada yang mengajari, ceritanya sambil wajanya memandang gitar kecil itu tetapi kelihatannya matanya menerawang jauh. Seolah ada yang ia kenang. Saya pikir ia sedang mengingat seseorang atau sebuah kenangan yang cukup berarti dalam hidupnya.

Sayapun bertanya siapa pemilik gitar itu?. “Orang yang sudah meninggal”. Katanya dengan ekspressi datar. Oooh. Tentu seseorang yang berperanan penting dalam hidupnya. Saya mulai berhati-hati dengan pertanyaan saya. Takutnya menyinggung hal-hal yang sensitif bagi perasaannya yang masih muda belia. Akhirnya saya hanya menunggu ia bercerita tentang siapa pemilik gitar tua itu tanpa melontarkan pertanyaan baru.

“Mertuaku” katanya tiba-tiba . Hah???!!!. Saya kaget. Masa mertua sih? Kok kecil-kecil sudah punya mertua?. Lalu ia tertawa berderai. Merasa salah nyebut. “Eh salah!. Salah!. Maksudnya.. Mbahku. Mbahku” katanya. Sayapun ikut tertawa. Anak ini lucu sekali.

Dika bercerita bahwa pemilik gitar itu adalah Mbahnya yang sudah meninggal. Mbahnya sebetulnya ada banyak sih. Ia menyebut beberapa tempay di Yogya dan juga di Wonogiri. Tapi yang punya gitar ini adalah Mbahnya yang dulu tinggal bersamanya. Mbahnya dulu juga pengamen. Ibunya juga pengamen. Dan semua keluarganya mengamen secara turun temurun.

Saya mendengarkan dengan baik. Ia punya seorang bapak dan seorang ayah. Ooh.. saya bisa memahami maksudnya. Maksudnya adalah bahwa kedua orangtuanya bercerai, lalu masing-masing menikah lagi. Bapaknya seorang tukang becak yang juga sesekali mengamen. Dan ia ikut ibunya yang menikah lagi dengan seorang satpam. Mereka tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari situ.

Kamipun bercakap cakap lebih jauh. Tentang sekolahnya, mata pelajarannya, hobby dan cita-citanya menjadi pemain sepakbola. Saya senang melihat cahaya matanya yang berpendar-pendar ketika ia menceritakan permainan sepakbola dengan teman-teman sepermainannya. Dan menurutnya ia adalah yang paling jago mencetak goal. Ceritanya dengan bangga. Saya jadi ikut membayangkan kebahagiaan hatinya itu. Menjadi yang terbaik di kelasnya adalah impian setiap orang.

Saya memandang ke mata kanak-kanaknya yang bening. Ia tersenyum. Lalu menari-nari kecil ketika musik dari angkringan sebelah terdengar lagi. “Kamu bisa menari ya, Dika?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak bisa!. Joget baru bisa” katanya penuh senyum. Lalu ia menggerak-gerakkan tangannya kembali mengikuti irama musik.

Lalu ia bilang ” Saya mau menyanyi lagi” katanya. Kembali memetik gitarnya dan menyanyi kencang kencang. Tanpa beban. Tanpa peduli suaranya bagus atau tidak. Ia melakukannya saja. Saya tersenyum dibuatnya. Seusai menyanyi, ia berkata bahwa kali ini ia ingin membeli layangan dari kelebihan hasil ngamennya. Ia ingin bermain. Seperti anak kecil lainnya.

Ia pun pamit sambil menggendong gitar tuanya itu.

Saya menyukai anak itu. Semangatnya yang tinggi. Ketenangannya dalam mengatasi beratnya beban kehidupan. Ia jalani kehidupan apa adanya. Tetap berusaha tanpa menyerah. Ia reguk kebahagiaan di mana ia bisa dapatkan tanpa harus menjadi larut dalam kesulitan. Seolah -olah ia berkata “Seberat apapun itu beban, jika kita tak memandangnya sebagai beban, tentu tak akan pernah terasa berat”.

Bagai Membeli Apel Dalam Busa.

Standard

Teman teman pembaca tentu tidak asing lagi dengan pepatah, “Bagaikan membeli kucing dalam karung”. Dari luar terdengar suara kucingnya mengeong dengan sangat merdu, sehingga melambungkan impian sang pembeli akan seekor kucing cantik yang bersih, terawat dan menggemaskan. Ketika sudah dibeli dan dibayar, karung dibuka, eh….ternyata yang keluar kucing kotor buruk rupa yang budukan pula kulitnya. Kecewalah pembeli ya?

Itu pula yang terjadi pada saya kemarin sore saat membeli apel di pasar. Saya lihat hamparan buah apel yang merah ranum tampak segar-segar menyembul dari busa styrofoam pembungkusnya. Saya tertarik untuk membeli sekilo. Biasanya jika membeli, saya membuka pembungkus itu satu per satu dan memeriksa isi buahnya dengan teliti. Takut ada yang busuk.

Kemarin pun saya melakukan hal yang sama. Membuka pembungkus buah itu satu persatu.

Nah…sampai di rumah saya baru tahu, ternyata saya telah memilih satu buah apel busuk di antaranya. Lho, kok bisa?

Rupanya saat memeriksa buah apel itu, saya hanya melihat sepintas dan jika kelihatannya oke, langsung saya masukkan ke dalam plastik. Saya kurang teliti dan tidak memutar-mutar buahnya untuk memastikan tidak ada bagian yang cacat ataupun busuk. Dan bagian busuk itu rupanya tersembunyi di bawah, sedangkan saya hanya melihat permukaannya saja dan merasa diri sudah cukup mengamati. Padahal sebetulnya pengamatan saya sama sekali jauh belum cukup. “Saya terburu-buru karena anak saya menunggu” itu jawaban pembenaran saya atas keteledoran saya ini.

Sound familiar? Ya…itu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya bagi ibu rumah tangga dalam merekrut pembantu rumah tangga, bagi calon pekerja dalam melamar masuk ke sebuah perusahaan, bagi perusahaan dalam merekrut karyawannya, bagi calon suami dalam mencari calon istrinya, dan lain sebagainya.

Terutama jika itu menyangkut pemilihan akan hal yang sangat penting artinya dalam perjalanan hidup kita, kita benar-benar harus super teliti dalam melakukan seleksi. Kita mesti luangkan waktu yang cukup untuk itu. Mesti letakkan fokus perhatian kita untuk memeriksa secara menyeluruh segala sesuatu yang seharusnya bisa kita periksa. Periksa lebih jauh lagi jika ada indikasi yang kurang baik.

Begitulah teman-teman, pelajaran kehidupan yang bisa saya petik buat diti saya sendiri dari kasus apel busuk ini.

Selamat menjalani kehidupan dan menetapkan pilihan yang tepat dalam setiap persimpangan jalan 😊

Panahan: Antara Logika & Rasa.

Standard

Kembali lagi ke lapangan Panahan bersama 2 anak saya. Memberi kesempatan tubuh untuk terpapar penuh oleh sinar matahari. Kali ini tanpa Pak Heydar yang bisa saya temui untuk berkisah lagi tentang Leadership. Rupanya beliau sedang sibuk memberikan pelatihan di tempat lain.

Setelah 2 minggu sebelumnya saya hanya menjadi penonton, pemantau dan pendengar, sekarang saya memutuskan untuk maju selangkah. Mencoba!. Jadi status saya naik ya dari pasif menjadi aktifπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya menemui Pak Azmi dan ditemani Mas Ido. Jadi bagaimana caranya untuk memulai?.

Pertama, kata Mas Ido saya harus memakai pelindung lengan bawah. Maksudnya agar nggak kejepret tali busur. Bisa merah. Saya menurut.

Lalu Mas Ido memberikan saya busur ukuran 18. Katanya yang ukurannya kecil dan enteng. Untuk wanita. Jadi tidak sama dengan yang diberikan ke anak-anak saya yaitu ukuran 22 dan 20 yg jauh lebih besar dan berat. Baiklah. Saya akan coba.

Berikutnya saya diberitahu bagaimana caranya memegang busur dengan tangan kiri dan posisi genggamannya. “Genggaman harus kuat tapi tak perlu kaku atau terlalu erat”. Mas Ido menunjukkan busur yang terpegang dengan baik, sudah pasti tidak akan jatuh, tetapi tidak erat, jadi busur masih bisa bergoyang sesuai situasi. Lalu menempatkan anak panah dan menarik tali busur.

Gunakan 3 jari (telunjuk, jari tengah, jari manis) yang diposisikan sedemikian rupa di tengah di dekat pangkal anak panah dengan jari tertekuk di ruas pertama. Lengan kanan ditarik ke belakang melalui bawah dagu dan ujung siku tarik ke atas. Tangan saya rasanya gemetar… dan busur bergoyang hebat. Tahan kurang lebih selama 3 detik daaan…. lepasss!!!!.

Whua… anak panahnya nyungsep di bawah kotak sasaran. Gagal!.😣😣😣

Ternyata keras juga ya. Cukup terasa berat bagi saya untuk menarik tali busur itu kuat-kuat sehingga busurnya bergoyang. Mas Ido melihat kondisi itu, lalu mencarikan saya busur yang lebih kecil. Bentangan busur saya terlalu lemah rupanya. “Nggak apa-apa. Ibu baru pertama kali. Mungkin juga karena jarang olah raga ya?. Nanti kalau sering latihan juga akan kuat” katanya menghibur.

Saya lalu mencoba busur yang lebih kecil dan yang lebih enteng. Busur untuk anak-anak πŸ˜€. Waduuh… antara rasa senang dan sedih rasanya. Senang karena akan memulai dengan yang “mungkin” terlebih dahulu, sehingga saya bisa berpikir lebih positive karena saya melihat ada harapan di sana. Tapi sedihnya ketika menyadari dan mengakui bahwa betapa lemahnya tubuh saya saat ini. Salah satunya karena jarang berolah raga. Kesalahan saya sendiri juga.

Masak setua ini bisanya hanya menggunakan busur ukuran anak kecil sih 😒😒😒.

Tapi baiklah, demi kesuksesan ke depannya mari kita lupakan bagian yang menyedihkannya itu. Kita hanya ingat bagian yang memberi harapannya saja ya πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Singkat cerita, berlatih lah saya hari itu. Belum sekalipun saya sukses bisa membidik titik kuning tepat di bagian tengah sasaran. Biro boro lingkaran kuning, anak panah saya bahkan kerap kali melayang di atas papan sasaran atau nyungsep sekalian di bawahnya.

Masalah yang lain adalah, Mas Ido mengatakan teknik saya membidik belum benar. Posisi tubuh saya dan tarikan tangan kanan saya belum benar. Objectivenya bukan hanya sekedar berhasil membidik yang kuning. Tapi bagaiman membidik yang kuning dengan cara yang tepat dan benar.

Semakin saya mencoba membidik yang kuning, kok malah semakin meleset ya. Padahal saya sudah letakkan pandangan saya baik-baik pada ujung mata panah dan saya arahkan ke titik kuning itu.

Turunkan lagi Bu, turunkan lagi”. Waduuh!. ???????. Kok diturunkan terus ya? Padahal jelas jelas terlihat ujung panah itu mengarah jauh di bawah titik kuning. Tapi sudahlah… tanpa nendebat sayapun menurunkan bidikan saya dan…lepasss!!. Hasilnya? Jauh di atas titik kuning dan miring pula πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Kenapa bisa begitu ya? Saya menggaruk garuk kepala saya yang tak gatal. Penjelasannya adalah karena letak mata kita lebih tinggi dari titik sasaran. Jafi logikanya, tangan harus kita turunkan. O ya? Tapi kan saya sudah menurunkan posisi tangan agar ujung anak panah mengarah ke bawah titik kuning itu? Rasanya kok nggak masuk akal ya. Saya coba berkali kali lagi dan hasilnya gagal maning, gagal maning.

Akhirnya saya kira-kirain saja. Dan ajaibnya, kalau nggak pakai teori dan hanya memakai feeling kok malah semakin dekat dengan titik sasaran. Walaupun tidak tepat di titik kuning, tetapi paling tidak, beberapa kali akhirnya saya berhasil menancapkan anak panah di lingkaran merah. Sudah mendekati sasaran. Lumayan. Better daripada yang tadi.

Anak-anak saya yang keduanya telah berhasil membidik lingkaran kuning sebanyak 4-5 x mendekati saya dan memberi dukungan. “Mama! Ayo lepas! jangan ragu-ragu!“.

Jadi panahan ini rupanya membutuhkan kombinasi logika dan feeling. Barangkali logika yang dibungkus oleh rasa sebagai persepsi tubuh atas apa yang tertangkap oleh panca indera kita. Rasa yang menyangkut genggaman tangan kita pada busur panah, bentangan tali busur, tentang jarak sasaran, arah ujung anak panah, kekuatan tangan kita dan lain sebagainya. Dibutuhkan rasa yang lebih menyatu dengan busur dan anak panah itu sendiri. Seorang pemanah tidaklah boleh menjadi “stranger” bagi busur dan anak panahnya sendiri.

Sampai di titik ini saya belum berhadil. Saya masih ingin terus berlatih.

Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Standard
Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Suatu kali saya menghadiri sebuah acara yang diadakan di sebuah Cafe di kawasan Tebet, Jakarta. Di acara itu, selain saya ada beberapa orang rekan kerja dan juga teman teman dari agency periklanan yang datang.

Acara itu cukup panjang dan tanpa terasa malampun tiba. Sementara bergantian mengisi acara dan mensupervisi kegiatan itu, sayapun memesan dan menghabiskan makan malam saya.

Kebiasaan saya jika makan, adalah saya melepas kacamata. Atau saya tenggerkan di atas kepala. Alasannya karena lebih nyaman, dan sebetulnya saya hanya perlu melihat makanan yang jaraknya dekat saja dengan mata saya. Sebagai akibatnya, saya tak begitu jelas jika melihat benda atau object yang letaknya agak jauh.

Seusai makan, masih tetap dengan kacamata di atas kepala saya lanjut bermain hape. Menengok Facebook, Instagram dan WA. Ada banyak chat baru masuk. Saya mulai membaca dan sibuk berkomentar dan membalas chat. Tiba tiba seorang pria berdiri di seberang meja dan mengulurkan tangannya ke saya. “Bu!” Katanya.

Saya yang dari tadi sibuk menenggelamkan diri di hape merasa agak kaget. “Oh, pelayan restaurant” pikir saya. Barangkali mau merapikan meja biar nggak berantakan oleh piring kotor.

Tanpa melihat ke wajah pemilik tangan itu, saya menyodorkan piring kotor saya agar dibawa pergi. Tangan itu tak tampak sigap menyambut piring kotor yang saya ulurkan.

Oops!!!. Saat itulah baru saya sadar bahwa ternyata pemilik tangan itu bukan pelayan restaurant melainkan Vicky, salah satu teman saya dari agency yang rupanya baru datang . Rupanya ia melihat saya, mendekat dan bermaksud menyalami.

Waduuuh… betapa malunya saya. Buru- buru saya minta maaf dan menjelaskan situasinya jika tadi saya tak begitu jelas melihat wajah orang, gegara kacamatanya tidak saya pakai. * sebenarnya alasan lain juga, barangkali saya terlalu tenggelam dalam sebuah chat WA πŸ˜€

Ah…ngggak apa apa kok Bu. Sudah biasa” kata Vicky cengar cengir yang membuat saya makin merasa nggak enak.

Kacamata!.

Bagi pemilik mata rabun seperti saya, kacamata adalah benda mujizat yang saya tak bisa hidup tanpanya. Sungguh!.Jika tak memakai, bumi terasa datar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi terpaksa harus saya pakai deh setiap saat. Mau di kantor, mau di dapur, mau di jalan dan di mana saja saya perlu kacamata.

Memakai kacamata sebenarnya melelahkan juga. Itulah sebabnya sebagian orang menggantinya dengan softlens atau sekalian dilasik saja biar mata kembali melihat dunia terang benderang. Tapi saya tak memilih 2 pilihan terakhir itu. Softlens dan Lasik. Mengapa? Saya tak bisa memakai softlens karena saya punya kecenderungan mengucek-ucek mata. Dan Lasik juga bukan pilihan saya mengingat biayanya yang tinggi. Jadi ya…lupakan sajalah.

Nah..jadi bertahanlah saya dengan kacamata saya hingga kini. Kalau lelah, biasanya saya angkat saja ke atas kepala sekalian untuk menahan rambut saya terurai ke depan. Jadi mirip bandana gitu.

Cara lain ya saya lepas sekalian dan letakkan di atas meja misalnya. Cuma jika tidak disiplin, kadang jadi merepotkan juga. Karena lebih sulit mencari kacamata dalam keadaan tanpa kacamata πŸ˜€

Bertemu Kiki, Penjaja Kue Keliling di Melia Walk.

Standard

Suatu malam saya pulang kemalaman dari kantor. Jadinya telat masak deh. Takut anak-anak kelaparan menunggu, sayapun mampir ke ruko Melia Walk di Graha Raya buat beli lauk. Mau dibungkus dan dibawa pulang saja. Praktis.

Saya memesan dan menunggu antrian. Karena agak lama, sambil menunggu sayapun berjalan-jalan di sekitar ruko itu untuk melihat-lihat barangkali ada cemilan lain yang bisa saya belikan buat anak-anak.

Saat berjalan, seorang anak kecil dengan ransel di punggung melintas tak jauh dari saya. Ia juga menenteng 3 box yang isinya kue. Sambil melangkah masuk ke dalam restirant sebelah, ia menawarkan kuenya kepada pengunjung restoran. Sayang tidak ada yang berminat tampaknya. Anak itu berjalan lagi. Saya memperhatikan langkah kaki kecilnya. Anak itu terlihat tetap optimis, walaupun ditolak.

Merasa iba, akhirnya saya memanggil. “Bawa kue apa, dek?” Tanya saya. Anak itu membuka dagangannya. Rupanya ada donut, dan kue bulat yang isinya coklat. “Berapa harganya?”. “Dua ribu Bu” jawabnya dengan riang. Saya pun memilih kue kue itu.

Saya beli delapan buah ya” kata saya. Anak itu tampak semangat memasukkan kue kue yang saya pilih ke dalam kantong plastik. Wajahnya yang gelap tampak riang penuh harapan.

Saya jadi teringat akan anak saya sendiri. Mengapa ya anak ini masih berkeliaran di luar rumah menawarkan dagangan, padahal malam sudah cukup larut begini?Saya pun jadi ingin tahu.

Anak itu bernama Kiki. Umurnya baru 10 tahun. Kelas 4 SD. Menurut ceritanya, ia sudah berdagang kue setiap malam sejak ia kelas 1 SD. Saya nerasa prihatin mendengarnya.

Lalu kapan belajarnya?” Tanya saya. “Sore, Bu. Sepulang sekolah” jawabnya dengan pasti. Tetap dengan nada riang dan optimist. Entah kenapa, saya merasa menyukai anak itu. Dan semakin penasaran.

Rupanya anak itu mengambil barang dagangan dari bibinya yang sehari-hari membuat kue. Untuk setiap buah kue yang terjual, ia diberikan bibinya Rp 1 000. Kiki bercerita bahwa ia biasanya membawa 4 box kue yang totalnya 60 buah. Rata-rata ia hanya mampu menjual 2 box atau sekitar 30 kue semalam. Jadi untung yang bisa ia dapatkan sehari sekitar Rp 30 000. Lumayan ya.

Semakin ingin tahu, sayapun bertanya lagi untuk apa ia gunakan uang keuntungan itu. “Buat mama belanja dapur. Saya juga kadang ngambil. Lima ribu atau sepuluh ribu kalau ada perlu” katanya dengan muka senang. Oh!. Kerongkongan saya terasa tercekat mendengarnya. Rasa sedih dan tak percaya mendengar ucapannya itu. “Mama saya di rumah saja. Tidak bekerja” katanya saat saya tanya apa pekerjaan mamanya.

Sejenak pikiran sedih melintas di kepala saya. Memang bapak anak ini ke mana ya? Apakah orang tua mereka berpisah?. Atau……?.

Bapak saya di rumah. Sedang tidak punya pekerjaan sekarang. Lagi nyari nyari, Bu. Tapi belum dapat” katanya seolah meralat pikiran saya. Saya tercengang dibuatnya. Anak ini sangat tulus. Tidak sedikitpun ia menyalahkan orangtuanya yang nganggur yang membuat ia terpaksa harus bekerja sampai malam untuk menanggung keluarga. Ia seolah paham, bahwa itu hanya nasib buruk yang sedang menimpa ayahnya, sehingga daripada hanya bisa menyalahkan ia lebih memilih untuk membantu memecahkan masalah.

Saya kasihan sama mama. Jadi saya bantu cari uang dengan jualan kue” katanya. Tak terasa air mata saya mengambang. Dada saya rasanya sesak. Kalimat anak itu sungguh menyentuh hati saya sebagai seorang ibu. Ingin rasanya saya memeluknya saat itu.

Saudaramu ada berapa?” Tanya saya lagi. Dia bercerita jika ia punya satu orang kakak laki yang sekolahnya SMA tapi sudah tidak sekolah lagi saat ini. Dan tiga orang lagi adik-adiknyang masih kecil. “Kakakmu juga berjualan kue?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak, Bu. Dia nanti mau bekerja. Sekarang lagi cari -cari pekerjaan”. Saya semakin sedih mendengarnya.

Jadi, nggak ada orang yang bekerja di rumahmu selain kamu?” Tanya saya semakin pilu. Anak sekecil ini harus berjuang seorang diri setiap malam untuk memastikan dapur keluarganya mengepul. Mengapa yang lain tidak ikut berjualan kue juga? Bathin saya meronta. Tapi tentu saja saya tak punya jawaban dan pemecahannya.

Pernahkah kamu merasa sedih? ” tanya saya. “Pernah Bu. Kalau dagangannya nggak laku” jawabnya dengan lirih. Oooh. Rasanya saya benar-benar ingin merangkulnya. Cerita anak ini sangat mengharukan, walaupun belum tentu ia merasa apa yang ia sampaikan semengharukan begitu.

Akhirnya saya usap-usap kepalanya. Saya sampaikan pendapat saya bahwa ia anak yang sangat baik dan berbakti pada orang tua. Sejak kecil sudah berusaha dan bekerja keras. Kelak ia akan terbiasa menghadapi persoalan hidup dengan mudah. Semoga besarnya akan menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam hidup. Anak itu mengamini doa saya.

Sayapun membayar harga kue itu dan meninggalkan sedikit tambahan rejeki untuknya malam itu.

Ia sudah melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan di usianya untuk membantu keluarganya. Semoga kelak ia menjadi orang yang sukses dalam kehidupan.

Melia Walk malam itu memenuhi pikiran saya dengan cerita si Kiki. Kiki barangkali hanya salah satu dari anak di Jakarta ini yang harus berjuang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya yang sedang mengalami kesulitan untuk hidup. Entah berapa banyak lagi yang menjalani kehidupan serupa di luar sana.

TERASI

Standard

Awal tahun baru.Hari Selasa. Seorang teman saya baru balik dari pulang kampung di Cirebon. Seperti biasanya ia sangat rajin membawa oleh oleh. Semua orang kebagian. Termasuk saya sendiri. “Khusus untuk ibuibu yang suka memasak, oleholehnya terasi“katanya dengan wajah sumringah. Sayapun ikut tertawa sambil berterimakasih. 

Malam hari menjelang pulang dari kantor, buru-buru saya memasukkan terasi itu ke dalam tas. Takut kelupaan dan ketinggalan di kantor. 

Di jalan saya membuat rencana akhir pekan akan memasak Plecing Kangkung dengan sambel terasi udang Cirebon yang konon sangat sedap dan gurih karena masih asli dan traditional cara pembuatannya. Tapi rencana itu baru akan saya lakukan beberapa hari lagi ya. Sabtu atau Minggu lah. 

Nggak apa-apalah. Yang penting terasinya saya bawa  pulang dulu. 

******

Hari Kamis malam. Handphone saya bermasalah. Tiba-tiba ngadat. Nggak bisa dibuka sama sekali. Saya sangat sedih. Waduuh .. gimana ini ya?. Saya putuskan untuk membawanya ke tukang service hape di perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan saya mencoba mencari counter service hape. Tapi yg banyak adanya counter penjualan hape. 

Akhirnya saya diberitahu untuk pergi ke Borobudur di Ciledug. Di lantai 3 isinya semua urusan jual beli dan service hape. Sayapun meluncur ke sana. 

Setiba di tempat parkir, saya bersiap untuk masuk. Saya tidak terlalu mengenal tempat ini. Saya pikir mungkin lebih baik jika laptopnya saya bawa saja. Karena saya tidak terlalu yakin keamanannya jika saya tinggal di dalam kendaraan. 

Untuk membantu meringankan beban di pundak, sayapun mengeluarkan barang barang lain yang kurang berharga dari dalam tas.  Mainya akan saya tinggal di kendaraan saja. Buku. Tas kosmetik. Parfum. Charger laptop. 

Ketika mengeluarkan benda-benda itu, tiba-tiba tercium bau yang kurang sedap.Waduuuh. Bau apa ini?. Saya curiga itu datangnya dari dalam tas saya. Jangan-jangan ada cicak mati 😧. Atau buah atau makanan busuk barangkali? .

Saya ubek-ubek tak kelihatan apa-apa. Kebetulan tempat parkirnya juga agak gelap. Terpaksa saya keluarkan dulu seluruh isi tas. Tentu nggak enak dong berbau busuk kalau berjalan- jalan ke pertokoan, melintas di depan banyak orang pula. 

Astagaaaa!!!!!Ternyata…terasi yang saya masukkan ke dalam tas beberapa hari yang lalu πŸ˜…. Lupa menurunkan.

Selamat Tahun Baru 2017.

Standard

​Tahun berganti lagi. Tak terasa kita sudah berada di tahun 2017. Saya sendiri tidak kemana-mana. Hanya di rumah bersama anak-anak. Tidak ada kembang api dan tidak ada perayaan apapun. Awalnya sih niat mau bakar-bakar jagung, dan sudah beli pula jagung dan arangnya. Tapi berhubung tidak ada yang berminat, akhirnya batal juga. Semuanya memilih kegiatannya masing masing. Ada yang kembali ke laptop, bermain games, leyeh-leyeh dan ada juga yang masih ngotot nggak mau diganggu  dengan prakaryanya. 

Tapi bagi saya tidak apa-apa juga. Karena menurut saya,  for the best benefits, melakukan sesuatu itu harus dengan hati senang. Saya sendiri sempat tertidur hingga anak saya masuk membuka pintu kamar  dan berujar “mommy… happy new year” katanya melihat saya terbangun. Rupanya tepat jam 12.00 malam. 

Sayapun duduk dan tiba -tiba terpikir. Ini sudah masuk tahun 2017. Dan sangat bersyukur saya ada di sini. Berarti saya masih diberi kesempatan hidup guna memperbaiki perbuatan saya. Mendadak pikiran saya jadi melayang kemana-mana. 

Jika setiap tahun baru kita anggap sebagai sebuah milestone alias tonggak kilometer seperti yang ada di pinggir jalan,  maka ini adalah milestones yang ke 52 yang pernah saya lalui. Lumayan sudah agak panjang juga ya perjalanan saya? Walau tentu jawabannya relatif. Karena sebenarnya tak pernahlah kita tahu berapa banyak milestones lagi yang akan kita lalui hingga akhirnya menemui batas akhir perjalanan hidup ini. Ketika maut menjemput dan membawa kita kembali kepadaNya. Mungkin saja hanya  tinggal sedikit lagi, atau mungkin juga masih sangat panjang atau bahkan lebih panjang dari apa yang telah kita lewati. Who knows? 

Walau jumlah milestones yang di sisa perjalanan mungkin berbeda,  namun semua kehidupan tujuan akhirnya adalah sama yakni kembali kepada Sang Maha Pencipta. Menyatu kembali kepadaNya.  Dumogi amor ring Acintya -semoga kembali kepada Ia Yang Maha Tak Terpikirkan -demikian orang Bali biasanya berkata.

Jika tujuan akhirnya ujung-ujungnya sama dan jelas, maka yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita bisa membuat perjalanan dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas?. Berkwalitas maksud saya disini adalah perjalanan hidup yang  lebih bahagia dan yang menurut kita lebih bermakna. 

Ada yang merasa bahagia ketika sebagian besar hasrat indra fisiknya terpenuhi.Memiliki sesuatu yang indah untuk dilihat dan didengar, sesuatu yang wangi untuk dicium, sesuatu yang enak untuk dirasakan dan  sesuatu yang nyaman untuk disentuh. Yang kemudian diterjemahkan sebagai hasrat makan, hasrat untuk minum, hasrat sexual dan sebagainya.

Ada  yang merasa bahagia ketika mampu meningkatkan strata sosialnya dengan mengumpulkan dan membangun kekayaan materi dan kekuasaan. Entah semata untuk dirinya atau juga sebagian untuk menyenangkan keluarganya atau orang lain. 

Ada juga yang merasa bahagia ketika setiap saat mampu tetap melangkah di jalan dharma. Selalu bisa berbuat baik  dan membantu sesama mahluk ciptaanNYa. 

Dan ada lagi yang merasa bahagia dalam pencarian makna hidup dan spiritual dalam perjalanannya untuk kembali kepadaNya. 

Walaupun pada kenyataannya mungkin ada orang yang kebahagiaannya lebih ditrigger oleh hanya salah satu aspek saja, sementara  aspek yang lain tak mampu membuatnya tergetar, namun sesungguhnya kebahagiaan yang dipicu oleh pemenuhan hasrat duniawi dan materi  sifatnya hanya sesaat dan tidak kekal.  Sementara kebahagiaan yang ditrigger oleh pemenuhan diri dalam menjalankan perbuatan-perbuatan baik bagi sesama mahluk ciptaanNya serta dalam upaya mendekatkan diri kepadaNYa selalu lebih long last dan abadi. 

Di sinilah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa mencapai kebahagiaan yang lebih kekal atau sedikitnya mem”balanced” kebahagiaan itu sehingga setiap saat dalam perjalanan kita dari satu milestone ke milestone berikutnya menjadi lebih berkwalitas. 

Selamat tahun baru 2017!.

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. β€‹Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

​

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

​

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Hidup Adalah Tentang (Berusaha) Mewujudkan Mimpi.

Standard

*Dapur Hidup: Stacking, Menyiasati Pekarangan Sempit*.

​​Ketika kecil, saya sering bermimpi. Mimpi tinggal di sebuah rumah kecil yang di kelilingi ladang luas penuh buah-buah tomat yang merah ranum,  kentang, labu parang, semangka dan berbagai sayuran yang hijau segar. Serta kandang ayam petelor dengan kokok ayam jago yang membangunkan tidur saya di pagi hari. Rumah  ladang impian saya  itu dihiasi dengan bunga mawar pagar yang mekar super banyak berwarna pink dan wanginya semerbak  ke mana-mana. Romantis banget kan impian saya itu? 

Ketika saya dewasa, sebagian impian itu menjadi kenyataan. Saya tinggal di sebuah rumah kecil. Sama ya dengan mimpinya?. Juga dikelilingi tanaman sayuran. Sama juga dengan mimpi saya. 
Tapi bedanya, rumah saya dikelilingi halaman yang sempit (bukan ladang yang luas) yang tentunya tidak muat untuk menampung semua tanaman sayuran impian itu. Boro-boro kandang ayam petelor. Jauhlah dari mimpi. Dan bunga bunga mawar pagar yang pink romantis? Mmmm… lupakan lah itu, karena mimpi kanak-kanak saya tak pernah menjelaskan bahwa mawar pagar hanya tumbuh di ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Hanya ada di kampung saya di Kintamani sana dan daerah pegunungan lainnya. Sementara sekarang saya tinggal di Jakarta (eh… sebenarnya TangSel deh…) di mana udaranya panas dan sudah pasti mimpi tentang bunga mawar pagar itu sudah terbang entah kemana. Sudah pernah saya tanam (Waktu itu batangnya saya ambil dari Puncak, Bogor). Tapi hanya batangnya saja yang memanjang dan gendut. Bunganya tiada kunjung muncul. Aah… tidak ada romantis-romantisnya amat tanaman ini ketika dibawa ke kota. 

Dengan kenyataan dunia ini,  apakah saya harus berhenti bermimpi? Oww…tentu tidaakkkk!!!!. Saya harus berusaha menikmati hidup sedekat mungkin dengan mimpi masa kecil saya itu. *Kedengeran agak keras kepala, agak ngeyel dan sedikit sombong ya?  

Ha ha… tentu saja karena kenyataannya lahan pekarangan saya sangat sempit saat ini (itu harus saya terima dengan penuh syukur), tapi saya harus mikir bagaimana caranya mengoptimalkan setiap centimeter pekarangan itu agar menghasilkan bahan makanan Sebanyak mungkin.

Saat ini hampir semua permukaan  terbuka di halaman saya tidak ada yang kosong. Full dengan tanaman.Mau diletakkan di ruangan, tanaman tidak dapat sinar matahari. Pertumbuhannya terganggu. Kerdil dan ‘nyalongcong’ kata teman saya yang orang Sunda. Tinggi langsing dan pucat pasi.  Jadi bagaimana akal? satu-satunya areal yang kosong adalah di udara!.  Ya…di udara adalah tempat yang paling memungkinkan bagi saya 2vesaat ini. 

Akhirnya saya berpikir untuk melakukan penumpukan box box tanaman itu ke atas saja selain menggantungnya di udara. Stacking!. Bisa menggunakan rak atau bisa juga memasang paku dan papan penyangga di dinding.

Stacking 4-5 tingkat ke atas, rasanya cukup banyak dan saya letakkan pada dinding. Dengan cara ini memungkinkan saya untuk memberi peluang yang sama kepada setiap tanaman untuk terpapar sinar matahari. Nah …setidaknya saya bisa memproduksi lebih banyak sayuran dengan cara begini. 

Rak ini memuat 3 box kangkung, 3 box selada. 3 box pak choi dan 1 box kailan dan 1 box tanaman sawi jenis lainnya. Lumayan banget ya buat Dapur Hidup berlahan sempit. 

Impian saya untuk hidup di tengah tanaman sayuran, sekarang satu langkah lebih mendekat. Walaupun lahan sangat sempit.

Hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Jangan pernah mau menyerah pada keterbatasan. Jika kenyataan hidup memberi banyak keterbatasan, cari cara agar impian kita semakin mendekat. Minimal mirip-miriplah.Yuk kita terus berusaha!!!.

Apa mimpimu, kawan?