Tag Archives: Life

SEGELAS AIR PUTIH.

Standard

Belakangan ini, matahari bersinar sangat terik setiap hari di Jabodetabek. Membuat jadi malas keluar rumah.

Ingin membersihkan daun-daun teratai yang menguning di halaman depan, rasanya kok malas sekali. Pipi rasanya gosong. Demikian juga saat ingin membereskan tanaman kailan yang menua di instalasi hidroponik, rasanya juga malas banget. Mau masak malas, mau cuci piring apalagi.

Seandainya saja ada Kompetisi Kemalasan Nasional dan misalnya saya jadi pemenangnya, barangkali untuk mengambil pialanya saja pun saya enggan, saking malasnya πŸ˜€. Sungguh. Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Sungguh sinar matahari ini sangat terik dan membuat lelah.

Terlebih ketika saya merasa kurang enak badan, kepala belakang sedikit nyeri dan nggak nyaman. Kebetulan libur, jadi saya hanya berbaring saja di tempat tidur. Leyeh-leyeh saja. Sambil lihat-lihat Sosmed dan chat di WA.

Pas lagi bermalas-malasan begitu, seorang teman melemparkan ide di chat, untuk menggunakan hiasan topi papua – ikat kepala cantik yg dibuat dari bulu-bulu unggas saat besoknya mau ikut lomba 17 Agustusan. Wah… saya pikir idenya boleh juga ini.

Seketika saya melakukan searching topi papua dan menemukan sebuah toko yang menjual dan bisa mendeliver dengan cepat. Okay, saya setuju untuk membayar lebih agar bisa terdeliver hari ini. Lokasinya di Bekasi. Saya menyelesaikan pembayaran dengan cepat dan yes!. Tinggal tunggu barangnya datang.

Beberapa jam kemudian, seseorang mengetok pintu depan. Saya mengintip dari jendela. Rupanya seorang pria dari bagian pengiriman mengantarkan topi bulu yang saya order.

Buru-buru saya mengenakan masker, lalu keluar dan meminta pria itu meletakkan barang orderan saya itu di salah satu kursi di teras depan. Saya berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya. Buat jaga-jaga saja, mengingat saya ini penyandang co-morbid dan belum divaksin pula. Tak pernah ada yang tahu, secepat apa penularan bisa terjadi dan bisa saja dari orang-orang yang tak menunjukkan gejala yang sempat kontak dengan kita.

Pria itupun meletakkan barang itu seperti permintaan saya. Maksud saya, nanti setelah ia pergi, pembungkus barangnya akan saya semprot dulu dengan Maxkleen disinfectant spray, barulah akan saya buka.

Saya mengucapkan terimakasih. Tetapi pria itu tampak terdiam di dekat pagar.
Saya menunggunya pergi. Beberapa saat ia hanya terdiam. Sayapun ikut terdiam.

Tetapi saya memperhatikan wajahnya. Tampak pucat. Keringat bercucuran di dahi dan lehernya. Kelihatannya ia kurang sehat. Tangannya agak gemetar.

“Ibu, boleh saya minta air putih” katanya agak tersendat.

Ooh… orang ini kayaknya mengalami dehidrasi. Mengapa saya tidak sensitive dari tadi ya. Bukannya menawarkan minum, malah menunggu sampai orang itu meminta. Betapa tidak pekanya saya ini.

Seperti diingatkan, saya buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil air putih. Lalu menyodorkan kepadanya. Ia meminumnya dengan gemetar. Saya merasa trenyuh melihatnya.

Ia pun bercerita tentang perjalanannya dari Bekasi di ujung timur ke Tangerang Selatan yang letaknya di wilayah barat dibawah terik matahari. Kepanasan dan kehausan, dan ia belum sempat makan, hingga merasa sakit kepala dan limbung.

Sebenarnya ingin hati saya menyuruhnya masuk ke dalam, mengingat halaman depan saya cukup panas. Mungkin jika ia saya suruh istirahat di dalam setidaknya udara ruangan yang sejuk karena AC akan membantunya lebih cepat pulih kembali.

Tetapi kali ini saya agak ragu. Pertama karena musim pandemi begini, saya harus sangat berhati-hati jika kontak dengan orang lain. Siapakah yang tahu orang ini bebas dari virus atau tidak. Sementara saya beresiko tinggi jika sampai tertular.

Selain itu saya hanya sendirian di rumah. Apakah cukup aman jika saya membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah saat tidak ada satupun orang lain di rumah. Siapa yang tahu orang ini berniat baik atau bisa saja punya niat tersembunyi.

Tapi orang ini terlihat sangat kelelahan dan menderita. Sejenak saya bimbang. Bathin saya bertengkar. Saya merasa sangat iba, tapi di sisi lain, saya juga harus waspada. Saya ingat pesan Bapak saya untuk selalu berhati-hati, di manapun berada. Karena hanya kewaspadaanmu sendirilah yang akan berhasil menyelamatkan dirimu sendiri.

Akhirnya saya sarankan agar ia istirahat di teras depan saja. Toh angin juga mulai bertiup dan membawa udara segar melintas.

Ia menjawab, “Terimakasih Ibu. Tidak usah. Ijinkan saya berteduh di bawah pohon ini saja sebentar dulu” katanya, sambil menepi di bawah pohon kersen.

Ooh…dia malah bilang tidak usah di teras pun. Mungkin orang baik-baik.

Lalu saya ingat, jika tadi ia ada bilang belum sempat makan. Saya mengambilkan beberapa buah pear dari atas meja makan , mencucinya dan memberikan untuknya, agar bisa langsung dimakan. Sayang saya sedang tidak punya makanan lain. Gara-gara tadi tidak memasak. Mudah-mudahan bisa membantunya.

Sesaat kemudian orang itu pamit. “Terimakasih ya Ibu. Gelasnya saya taruh di atas pagar” katanya sambil melambaikan tangannya. Sayapun membalas lambaian tangannya.

Saya mengambil gelas air putih di atas pagar di bawah pohon kersen itu.

Angin menggerakkan dahan-dahan pohon kersen. Udara mengalir dengan sangat baik. Sesungguhnya udara di halaman saya ini tidak terlalu panas ketimbang di udara jalanan.

Namun anehnya, segitu aja saya tadi sempat mengeluh, tidak melakukan apa-apa dan bermalas-malasan. Padahal ini sungguh tidak ada apa-apanya ketimbang keadaan Bapak pengantar barang tadi itu yang harus berjuang di bawah terik matahari, menahan lapar dan haus demi bisa mengantarkan “topi papua” itu ke rumah.

Sementara udara sesungguhnya tidak terlalu panas di halaman karena ada pohon penaung. Saya masih bisa beristirahat di ruangan yang ber-AC. Masih bisa makan dan minum dan bersantai.

Dimanakah rasa syukur saya, atas segala kemudahan dan kenikmatan hidup yang saya miliki.

Segelas Air Putih ini, seolah mengingatkan.

SEPATU BOOTS UNTUK TUKANG SAYUR.

Standard

Penampilan diri di depan publik adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang. Ya, setidaknya kita perlu tampil rapi, bersih dan terawat, agar kita merasa nyaman dan orang lain yang bertemu kitapun ikut nyaman.

Berangkat dari sini, banyak orang kemudian melakukan usaha lebih untuk mengoptimalkan penampilannya seperti memakai make up, hair do, menggunakan parfum dan sebagainya. Lebih jauh lagi, menyesuaikan pakaian, tas dan sepatu sesuai dengan kondisi, trend masa kini dan menggunakan merk-merk terkenal untuk meningkatkan image dan prestise-nya.

Secara umum, saya sendiri tentunya serupa. Berupaya agar bisa tampil dengan baik di depan umum. Bersih dan terawat. Tetapi saya kadang rapi, kadang kurang rapi. Dibanding wanita lain, secara relatif saya memiliki ketertarikan yang kurang terhadap pakaian.

Saya jarang membeli pakaian. Apalagi tas dan sepatu. Kalaupun lemari pakaian saya kelihatan penuh, tetapi sebagian sudah tak bisa dipakai dan usang, karena semua itu adalah koleksi sejak puluhan tahun lalu. Saya jarang membuang atau menghibahkan pakaian saya. Karena setiap pakaian memiliki kenangan.

Daster atau pakaian lainnya jika robek, biasanya saya jahit dan pergunakan lagi. Demikian juga sepatu. Saya biasanya menggunakan sepatu untuk jangka waktu yang panjang. Hanya setelah benar-benar sobek atau butut, barulah saya membeli yang baru.

Suami saya menganggap saya bukanlah wanita yang modis atau berpenampilan keren. Karena itu kadang-kadang ia membantu saya membelikan baju-baju, tas dan sepatu. Tentu dengan maksud agar penampilan istrinya bisa lebih keren dan kece. Atau mengikhlaskan baju-baju kemejanya saya pakai jika perlu.

Bekakangan ini entah kenapa dia hobby banget membelikan saya barang-barang yang menurut dia adalah kebutuhan saya. Mungkin karena kemudahan memilih dengan belanja online.

Tiba-tiba saja dia membelikan saya dompet baru dan mengatakan dompet yang saya pakai sudah tua dan layak diganti. Emang sih umurnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Lalu ia membelikan saya tas, karena dilihatnya saya sering menggunakan ransel anak saya yang tidak terpakai untuk ke kantor. Terakhir ia merasa sepatu saya sudah usang dan itu-itu saja.

Ya sih. Saya suka menggunakan boots yang ringkas dan nyaman di kaki. Sudah saya pakai sejak 5 tahun yang lalu dan tak pernah saya ganti. Saya pakai ke kantor, ke mall, ke pasar, ke mana saja. Kecuali jika perlu banget berpakaian resmi, misalnya pakai kain kebaya, barulah saya ganti dengan high-heels.


Sesekali saya lap, bersihkan dan saya semir. Menurut saya sih masih layak banget dipakai. Karena bahannya kulit dan tidak ada kerusakan sama sekali. Jadi saya tidak merasakan urgensi dalam membeli sepatu baru.

Suami saya menunjukkan beberapa model sepatu boots yang dijual di toko-toko online. Barangkali ada yang saya sukai. Hm.. sebenarnya tidak ada yang cocok banget. Saya menggeleng.

Beberapa bulannya kemudian, dia menunjukkan kembali katalog sepatu boots di toko online. Kali ini modelnya cukup mirip dengan sepatu usang saya, tetapi kelihatannya agak ribet. Ada strap, tali dan restleting. Sedangkan sepatu usang saya cukup hanya restleting samping saja. Walaupun harganya cukup mahal, tapi ini lagi ada promo. Jadinya harganya miring. Setengah harga. Okey. Jadi saya setuju dengan pilihannya.

Akhirnya sepatu boots baru itupun datang. Saya mencobanya. Ya seperti diduga, modelnya mirip dengan sepatu yang sekarang tapi agak lebih ribet aja. Tapi saya pakai juga buat ke kantor.
Nggak ada teman saya yang ngeh jika sepatu saya baru πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ . Sehari dua hari saya pakai, lama-lama saya jadi ingin memakai sepatu yang lama lagi. Apa pasal?


Saya punya kebiasaan buruk, jika duduk mengeluarkan kaki saya dari sepatu. Lalu memasukkannya lagi jika mau berjalan. Karena kaki saya mudah merasa kepanasan di dalam sepatu. Jadi perlu sepatu yang simple agar mudah memasukkan dan mengeluarkan kaki saya.


Nah…sepatu yang ini ribet banget. Sudah ada restletingnya, ada talinya juga dan ada strapnya lagi. Untuk mengeluarkan kaki, minimal saya harus membuka restleiting dan strapnya.


Lalu untuk memasukkannya pun sama. Minimal harus menutup restleting dan strap. Untung talinya tidak harus selalu dibuka dan diikat ulang.


Diam-diam sayapun mengganti sepatu itu dengan sepatu saya yang usang. Yang lebih nyaman di kaki saya.

Suami saya rupanya mengetahui ini dan kadang-kadang menanyakannya kepada saya. Sayapun kadang-kadang memakainya lagi jika ditegur suami saya. Tetapi berikutnya kembali lagi saya gunakan sepatu butut kesayangan saya itu.

Semalam, suami saya bertanya lagi. Mengapa sepatu pemberiannya tidak pernah saya pakai. Sayapun menjawab jika sepatunya sebenarnya kurang praktis. Kaki saya suka kepanasan dan ribet mengeluarkan-memasukkannya kembali.

Suami saya tersenyum mendengar alasan saya. Lalu ia berkata,

“Baiklah. Kalau begitu besok sepatunya kita kasih ke tukang sayur saja ya. Barangkali ia lebih memerlukannya”.

Saya tertawa dengan gurauan suami saya. Lalu saya menjawab,

“Sepatu Boots Untuk Tukang Sayur. Besok saya tulis di blog. Kelihatannya menarik ini” kata saya.
Sebenarnya ada rasa nggak enak.

Lalu suami saya menjawab dengan tersenyum,


” Tulislah! Agar kamu bisa menyadari dan menghargai pemberian orang lain. Betapa orang yang memberikan sesuatu kepada orang yang disayanginya itu dengan tulus, sesungguhnya ingin agar pemberiannya itu dipakai”.

Saya terdiam. Lalu diam-diam ke kamar mandi. Air mata saya bercucuran. Ooh.. alangkah jahatnya saya pada suami saya selama ini. Ia telah bersusah payah mengumpulkan setiap rupiah penghasilannya agar ada yg bisa dihadiahkannya kepada saya dan anak-anaknya dengan tulus. Tetapi saya kurang menghargai pemberian dan usahanya selama ini.

Semoga Tuhan mengampuni.

MEMAHAMI KEMURNIAN RASA.

Standard

Ini cerita soal kesehatan dikit ya.
Jadi setelah melihat berbagai parameter kesehatan saya yg buruk bulan lalu, (jangan tanya sakitnya apa, karena banyak dan complicated πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ – syukurnya mendapatkan penanganan dokter dengan baik dan keluarga yg juga sangat supportive), lalu saya bertekad untuk membuat parameter kesehatan saya ini agar normal kembali. Setidaknya membaiklah.

Saya pikir ini adalah badan, badan saya sendiri. Orang lain bisa kasihan, bersimpati, atau berusaha membantu, tetapi jika kitanya sendiri tidak ada usaha untuk membetulkannya, yaah…sama aja dengan bohong ya. Jadi, saya adalah orang yang harus menyetir kesehatan diri saya sendiri.

Pertama saya menjaga diri agar tetap semangat. Orang bilang semangat itu sendiri sudah merupakan 50% dari proses penyembuhan πŸ˜€.

Lalu berbagai upaya saya lakukan, selain mengikuti pengobatan dari dokter dan berolah raga, saya juga mulai memaksa diri saya untuk cukup istirahat, tidak pulang malam-malam lagi dari kantor, kurangi begadang, mengatur pola makan, dan mengurangi level kegendutan saya.

Untuk pola makan, saya mengurangi asupan karbohidrat, mengurangi garam dan gula. Saya lebih banyak memakan sayuran rebus, tahu kukus, putih telur, daging ayam dsb. Sebenarnya apa saja saya makan, yg penting bukan yg berkarbohidrat tinggi, tidak manis dan tidak terlalu asin. Hambar?

Ya kebanyakan rasanya hambar. Terutama di awal-awal ya (kadang saya cocolin ke sambel juga biar lebih ada rasa). Barangkali karena lidah saya agak shock juga. Biasanya makan dengan rasa yang meriah, pedas, asam, manis, asin, kadang sedikit pahit, nah sekarang tiba-tiba berubah menjadi berkurang semua itu. Tidak ada lagi gegap gempitanya rasa di lidah. The party Is over!

Masih untung, saya punya semangat dan keinginan untuk sembuh. Walaupun kebanyakan hambar, saya lakoni saja dan terus lakoni dengan setia. Sehari berlalu, dua hari, 3 hari, seminggu dan seterusnya, hingga suatu hari saya menyadari, sesungguhnya makanan yang tadinya saya bilang hambar itu ternyata ada rasanya. Dan nikmat.

Saya bisa menikmati rasa itu dengan baik. Tahu yang lebih Tahu tanpa ada bumbu lain. Rasa Bayam yang lebih Bayam dalam kemurniannya. Rasa Brokoli dan segala macam rasa makanan lain dalam bentuknya sendiri yang selama ini terkamuflase di dalam polesan rasa asin, manis, pedas dan sebagainyabdari bahan lain.

Jadi hambar itu sesungguhnya bukan benar-benar hambar. Hanya karena ia tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan panca rasa yang diklasifikasikan manusia, bukan berarti dia benar-benar hambar.

Betapa banyak sesungguhnya jenis rasa yang tercipta dalam semesta ini. Selama ini kita hanya mengklasifikasikan dengan sangat sederhana, Manis, Asin, Pedas, Pahit, Asam… dan kalau tidak tahu menggolongkannya, kita sebut saja Enak dan Tidak Enak. Padahal rasa itu jauh lebih banyak dari sekedar itu. Rasa Bayam berbeda dengan rasa Tauge. Berbeda dengan rasa Sawi. Berbeda dengan rasa Tahu. Dan seterusnya. Dan bahkan yang disebut dengan rasa asampun sebenarnya jenis asamnya berbeda-beda. Antara asamnya buah asam dengan buah jeruk berbeda. Dan diantara berjenis-jenis buah jerukpun berbeda-beda lagi.

Memakan makanan dalam rasa aslinya, membuat saya merasakan sel-sel lidah saya menemukan fungsinya dengan lebih baik. Ibarat melakukan meditasi ke dalam diri sendiri, melewati setiap sel perasa di lidah. Setiap sentuhan rasa di sel itu, memicu rasa syukur dan ketakjuban akan kebesaranNYA
Saya mulai mampu menikmati dan memahami setiap rasa. Memahami kemurnian.

Dalam waktu sebulan, beberapa parameter kesehatan saya mulai ada yang normal, dan sebagian lagi sudah mendekati normal. Astungkara Tinggal sedikit lagi dan saya harus terus berjuang.

Mudah-mudahan berikutnya semakin membaik.

GPS & Otak Yang Tak Terlatih Lagi.

Standard

Saat ini GPS alias Global Positioning System sudah sangat umum digunakan untuk membantu kita menentukan arah ke tujuan ataupun memahami di mana posisi kita berada.Β  System ini sangat mudah kita temukan di telpon genggam yang kita pakai, di pesawat, dan bahkan banyak kendaraan generasi baru juga sudah memiliki GPS yang terpasang di dalamnya. Ini tentu sangat memudahkan kita, terutama saat sedang dalam perjalanan.

Kapan hari saya juga menggunakan GPS ini untuk mencari lokasi Agen pengiriman barang terdekat. Saat itu sedang bepergian ke Denpasar bersama adik saya yang nomer tiga. Kami berada di area Renon. Di sekitar jalan Badak Agung. Di tengah jalan saya keingetan jika perlu mengirim  paket. Jadi saya bilang ke adik, untuk mencari agen pengiriman terdekat , entah itu JNE, JNT, Sicepat dan sejenisnya.
“Coba search saja” kata adik saya. Sayapun melakukan searching dan dengan cepat bisa menemukan lokasi Agen perjalanan yang saya cari.
Saya langsung memberi tahu adik saya alamat Agen itu.

“Coba bantu dengan GPS,” kata adik saya. Oh.. padahal dekat. Kenapa harus pakai GPS, pikir saya. Selain itu juga ia tumbuh dan besar di Denpasar. Harusnya sangat mudah baginya untuk mencari lokasinya.

Demikian juga setelah selesai dengan urusan pengiriman barang dan kami bermaksud pulang ke Bangli. Lagi-lagi kami mengandalkan GPS.

Adik saya lalu bercerita, jika ia sudah terlalu sering menggunakan GPS belakangan ini, sehingga jadi terbiasa dan males juga mikir jika harus mencari sebuah lokasi. Kalau dulu sebelum ada GPS ia hapal dan tahu persis peta area Renon, Denpasar dan sekitarnya. Karena tak punya pilihan, harus menghapal dan mengingat setiap jalan yang dilalui. Sejak ada GPS, ia tak perlu banyak berpikir lagi, karena GPS yang sudah memikirkan, dimana lokasi yang mau dituju dan bagaimana cara terdekat menuju ke sana.

GPS di satu sisi sangat membantunya menjadi cepat dalam mencari sebuah lokasi, tapi di sisi lain juga membuatnya malas berpikir, manja dan bisa dibilang… menjadi bodoh akan peta area, karena kemampuan alias Orientation skill-nya tidak lagi terasah dengan baik.

Bener juga ya. Saya jadi ikut merenungkan cerita adik saya itu.

Teori evolusi mengatakan, mahluk hidup cenderung akan menghilangkan organ-organ dan kemampuannya yang tidak dipergunakan lagi.

Contohnya nih, jaman dahulu manusia dikatakan memiliki ekor. Tetapi karena manusia sudah berhasil berdiri dengan seimbang dan bahkan berjalan dan berlari stabil dengan dua kaki , maka ia tidak lagi membutuhkan ekor sebagai organ penyeimbang. Demikian juga fungsi ekor sebagai alat komunikasi. Tidak lagi dibutuhkan, karena kemampuan manusia berkomunikasi dg organ lain sudah sangat berkembang. Akibatnya , lama kelamaan ekornya  menghilang. Karena tak berguna. Tinggal sisa-sisa tulang ekor yang mengalami rudimenter.

Demikian juga Ular memiliki kaki jaman dulu. Tapi gara-gara keseringan ngesot, kakinya tidak dibutuhkan lagi akhirnya mengalami rudimenter dan menghilang. Sesekali kita masih menemukan sisa-sisa tulang kaki pada ular tertentu.

Pada kenyataannya kemampuan lain manusia juga mengalami hal yang sama.Β  Saya ingat jaman dulu belum ada kalkulator. Menghitung tambah, kurang, kali, bagi, kwadrat, rasanya bisa kita lakukan dalam hitungan detik saat SD dan SMP. Begitu guru menyelesaikan kalimat pertanyaannya, secepat itu juga kita bisa mengangkat jari telunjuk ke atas agar bisa ditunjuk Guru untuk menjawab. Tapi sekarang ?

Bahkan hitungan yg mudahpun terkadang saya butuh waktu panjang untuk menjawab. Kenapa?. Ya itu. Karena saya sudah menggantungkan diri pada kalkulator atau Excel. Tidak pernah lagi mengasah otak saya untuk berhitung. Dan ibaratnya pisau, jika tak diasah ya lama -lama tentu semakin tumpul. Kemampuan berhitung saya mengalami rudimenter wk wk wk .

Nah sekarang datang lagi GPS. Jika suatu saat kita menjadi sangat tergantung padanya, maka kemampuan kita memetakan area di sekitar akan menjadi semakin kurang dan kurang.

Pada suatu ketika nanti, manusia akan menjadi terlalu manja, terlalu bergantung atau bahkan mungkin akan disetir oleh benda ciptaannya sendiri.

Mengapa Saya Gendut?

Standard

Kapan hari ketika saya memposting kartu karyawan saya yang lama versus yang baru, beberapa saudara dan teman malah berkomentar kalau sekarang saya lebih kurus.

Astaga!. Saya baru ngeh ternyata di ke dua kartu karyawan itu, foto saya memang sangat berbeda dari tingkat ketebalan badan πŸ˜€. Yang baru, terlihat lebih tipis ketimbang di foto yang lama.

Karena seorang adik saya bertanya, mengapa sekarang saya lebih kurus, maka sayapun bercerita karena saya diet karbohidrat dan step stepnya, mengganti nasi dengan jagung, singkong, talas, dan sebagainya, juga aktif melakukan olahraga, mulai nge-gym, thai boxing, jalan pagi, hingga menggunakan sepeda statik.

O ya… saya lupa cerita jika saya juga sering minum air lemon panas atau air rebusan seledri setiap pagi. Ini yang membuat mengapa ketebalan badan saya jadi berkurang. Dan tak lupa saya bercerita bahwa penurunan ini saya raih setelah melalui usaha sekitar 16 bulan alias setahun 4 bulan.

Tapi tak seorangpun yang bertanya, mengapa saya GENDUT sebelumnya.

Mirip dengan mengapa seseorang bisa kurus, kegendutanpun tidak ada yang bisa diraih dalam semalam πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Ketika belum menikah, berat badan saya sangat sulit mencapai di atas 42 kg. Itu sedikit dibawah berat badan ideal yang harusnya 47kg, mengingat tinggi saya hanya 157 cm. Jadi saya kelihatan kurus.

Setelah menikah berat badan saya berangsur naik. Apa pasal?.

Karena sebelum menikah, saya mengikuti pola makan keluarga yang ditetapkan oleh ibu saya. “Makan nasi 2 x sehari, siang dan malam, dan banyak banyak”. Paginya saya sangat jarang makan nasi. Paling cuma minum teh. Atau paling ditambah pisang goreng.

Anehnya walaupun saya makan banyak banyak, saya nggak pernah gendut, hingga ibu saya pernah bercanda bilang ke saya “Kamu makan banyak banyak, tapi kok nggak gendut gendut???. Apa jangan jangan di kehidupan sebelumnya kamu pernah memirat milik orang (memirat = meminjam uang/barang dan tidak mengembalikan), sehingga yg punya nyumpahin kamu “Semoga apapun yg kamu makan, tidak memberikan sari bagi tubuhmu” ????πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€”.

Tentu saja ibu saya hanya bercanda. Kami orang Bali mempercayai hukum Karma Phala dan Reinkarnasi (kelahiran kembali). Orang akan lahir kembali berulang ulang sampai timbangan dosanya nol dan bisa jadi dalam kehidupannya sekarang ia menerima Pahala dari Karma yang dia buat sendiri di kehidupan- kehidupan sebelumnya.

Setelah menikah, saya terpapar oleh pola makan keluarga suami saya. “Makan nasi 3x sehari. Sedikit sedikit”.

Nah… sayapun beradaptasi dengan keluarga suami saya dong. Jadi pola makan saya yang baru menjadi “3x sehari dan banyak banyak” πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya mengadopsi 3 x sehari dari keluarga suami, dan mempertahankan “banyak-banyak”nya dari keluarga saya sendiri πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Demikianlah, mengapa saya gendut.

VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.

Beli Jagung Depan Kuburan.

Standard

Awalnya saya tidak ingin bercerita tentang kejadian ini, khawatir orang-orang menyangka saya tidak logis, tidak rasional, atau mengalami Halu πŸ˜€. Karena kejadian ini rada-rada nggak masuk akal, tapi ini sungguh kisah nyata yang saya alami sendiri.

Saya pulang malam dari kantor. Di tengah jalan saya merasa sangat lapar. Saking laparnya sampai perut saya perih dan saya mual. Saya berniat membeli camilan di pinggir jalan. “Jangan gorengan ya Bu. Nggak sehat”, kata Pak Supir yang mengantar saya pulang. “Oke”, kata saya.

Saya lalu mikir, apa yang sehat ya? “Kacang rebus atau jagung rebus. Nanti kalau ada di pinggir jalan kita berhenti” kata saya. Pak supir melambatkan laju kendaraan sambil mencari-cari dagangnya di pinggir jalan. Apesnya, hingga setengah jam lewat belum terlihat ada tanda tanda tukang kacang rebus – jagung rebus.

Kendaraan terus melaju pelan. Gerimis mulai turun. Jalanan terasa sepi. Semakin pupus harapan saya untuk bisa membeli kacang atau jagung rebus.

Tiba- tiba Pak Supir menghentikan kendaraan “Kayaknya itu ada tukang jagung bakar. Mau Bu?” tanyanya sambil memundurkan kendaraan tanpa menunggu jawaban saya. Dagang jagungnya sudah terlewat bebetapa ratus meter. Ya ya…tentu saja saya mau.

Saya pun turun. Sekarang saya baru sadar, ternyata posisi dagang jagung bakar ini tepat di pintu gerbang Pemakaman Umum. Agak gelap dan hanya ada satu lampu kecil. Ada 2 dagang di situ. Seorang ibu yang menjual jagung bakar. Dan 2 orang anak muda yang menjual kepiting. Saya memesan beberapa buah jagung untuk saya dan Pak Supir – barangkali ia mau juga buat istri atau anaknya.

Karena sepi, tidak ada pembeli lain lagi, si ibu penjual jagung langsung meladeni permintaan saya. Saya berdiri di bawah payung sambil menonton si ibu mengipas bara dan membolak -balik jagung. Bagus juga baranya dan tidak terpengaruh oleh gerimis. Saya mendongak ke atas. Oooh.. rupanya pembakaran ini ada di bawah pohon rindang. Pantas terlindung dari hujan. Baranya stabil. Asapnya menebar ke udara.

Tiba tiba saya mencium wangi semerbak keluar dari pembakaran jagung. Wangi Kemenyan Arab yang dibakar!. Wah… apa nggak salah penciuman saya ini?. Saya coba hirup lebih dalam. Tapi sekarang wanginya hilang.

Namun beberapa saat kemudian, wangi Kemenyan itu muncul lagi. Bahkan jauh lebih kencang dari sebelumnya dan lamaaaa sekali. Saya membayangkan jika itu sebuah parfum, tentu dosagenya tidak kurang dari 25% dalam larutan ethanol.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wangi Kemenyan. Kemenyan atau Olibanum atau Frankincense, adalah aromatic resin atau getah dari pohon-pohon jenis Boswelia/ Styrax. Merupakan bahan baku penting dalam industri parfum dunia. Kemenyan juga banyak digunakan dalam pengobatan, berbagai ritual keagamaan ataupun budaya berbagai bangsa, mulai dari Arab, Eropa hingga Asia. Namanya sangat positive dan harum.

Hanya di Indonesia saja Kemenyan ini mendapatkan nama buruk karena dikait-kaitkan dengan hal mistik πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Sehingga banyak orang Indonesia yang takut pada wangi Kemenyan.

Walaupun saya orang Indonesia, tetapi sebagai orang yang bekerja di industri parfum dan memahami apa sebenarnya Kemenyan, tentu saja saya tidak takut pada wangi Kemenyan. Saya cuma heran saja, bagaimana bisa kok wangi Kemenyan keluar dari asap pembakaran jagung???. Tidak normal!!!. Kecuali jika ada orang yang memasukkan Kemenyan ke dalam pembakaran ini.

Atau apakah ada orang lain yang membakar menyan di balik tembok kuburan itu?. Tapi rasa saya wanginya kelyar dari pembajaran jagung ini deh. Sangat dekat dan kenceng.

Saking penasarannya, saya lalu bertanya pada ibu tukang jagung, “Ibu ada memasukan kemenyan ke dalam arang pembakaran jagung ini nggak Bu?. Kok saya mencium wangi kemenyan ya? “.

Si ibu tampak terkejut, lalu agak kesal pada saya. “Demi Allah Bu, saya tidak seperti pedagang lain yang menggunakan penglaris biar dagangannya laku” . Jawabnya.

Saya hanya mendengarkan. Oh…mengapa ia mengaitkan kemenyan dengan penglaris?. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Tapi ya sudahlah. Ntar dia malah makin tersinggung. Selain itu, dua orang anak muda yang menjual kepiting itu juga tiba tiba mengemas daganganya buru- buru, mematikan lampu dan pulang. Lah?. Kok kabur?. Jadi gelap sekali sekarang di sini.

Si ibu tukang jagung lalu mencari cari saklar dan menyalakan lampunya sendiri.

Sebenarnya jujur saja Bu. Setiap malam saya berjualan di sini hingga jam 1 malam. Kadang- kadang memang gitu, Bu. Tiba tiba kecium bau wangiiii. Atau bau busuk. Malah sering juga suara cewek ketawa. Saat malam sepi dan nggak ada pembeli”, katanya.

Lalu ia bercerita. Ia terpaksa berjualan di situ, karena tak mampu membayar sewa lapak di tempat yang lebih baik. Tak punya pilihan lain. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia harus menghidupi 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan masih sekolah. Dan saat ini, ia sendiri sebenarnya sedang menderita sakit jantung. Untunglah 2 orang anaknya yang besar sekarang sudah bekerja dan menikah.

Ya apa jadinya ya Bu, jika umur saya tidak ada lagi. Gimana nanti nasib anak-anak saya?”, katanya dengan sangat sedih. Saya jadi ikut terbawa kesedihannya. Lalu saya besarkan hatinya bahwa ia pasti bisa melewati semua masalah itu dan saya doakan agar ibu itu membaik kesehatannya dan kuat serta lancar rejekinya. Lalu saya pamit.

Saya lihat mata ibu itu berkaca-kaca saat menerima uang dari saya. Sekali lagi saya berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan ibu tukang jagung itu. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang baik, rejeki yang banyak dan makin banyak pembeli yang mampir ke sini. Lalu saya kembali ke kendaraan.

Begitu duduk di dalam mobil. Tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Aneh sekali perasaan saya ini. Tadi padahal saya tidak merinding, kenapa tiba tiba sekarang?. Saya pikir saya sedang merasakan takut. Lihat ke sebelah dan jok belakang. Tidak ada apa apa. Tapi saya semakin merinding.

Nyaris putus asa dengan perasaan ini, akhirnya saya berkata kepada entah siapa “Jangan mengganggu saya. Karena niat saya selalu baik. Saya hanya membeli jagung karena perut saya lapar. Berhenti gentayangan. Saya doakan agar kamu bertemu jalan untuk kembali kepadaNYa“. Saya lalu berdoa dengan khusuk agar jika memang ada arwah, atau mahluk lain di sekitar saya (selain Pak Supir tentunya), agar kembali kepadaNYA dan berbahagia.

Setelah itu rasa merinding saya perlahan berkurang. Nah…. sekarang tinggal jagungnya. Apa yang harus saya lakukan dengan jagung ini sekarang?. Makan atau jangan?. Jangan jangan jagung bakar aroma Kemenyan. Saya cium. Ternyata wanginya tetap wangi jagung bakar biasa. Tidak ada tercampur dengan wangi Kemenyan πŸ˜€.

Tapi anehnya pikiran saya berkembang makin buruk. Bagaimana jika tiba tiba keluar darah dari jagung ini saat saya gigit?. Atau jika tiba-tiba batang jagung ini berubah jadi tulang manusia?. Seperti di cerita-cerira horor. Saya bergidik. Ngeri banget memikirkannya. Mungkin ini yang namanya Super Halu. Saya jadi galau dan mikir-mikir.

Setelah saya timbang timbang, akhirnya saya putuskan untuk memakan jagung itu saja.

1/. Alasan logis, tadi saya beli jagung karena saya lapar. Sekarang jagung sudah di tangan saya. Ya harus saya makanlah, agar perut saya tidak perih lagi.

2/. Tidak baik membuang makanan. Banyak orang lain yang kelaparan dan tak mampu.

3/. Selain itu, saya beli jagung ini dari gaji hasil kerja saya. Masak dibuang?. Rejeki akan seret datangnya jika kita menyia-nyiakan rejeki yang sudah di tangan kita sendiri.

4/. Tanaman jagung itu sendiri tentu akan sangat sedih jika saya menyia nyiakannya. Karena ia sudah bersusah payah mengekstrak zat kehidupan dari tanah dan mengalirkannya ke dalam biji-bijinya guna keberlangsungan kehidupan generasi berikutnya. Tapi kita manusia mengambil buahnya dan membakarnya. Dan setelah dibakar tidak pula kita makan, alangkah berdosanya saya ini pada pohon jagung.

Akhirnya ” nyuam nyuam” saya makan jagung itu setelah sebelumnya saya berdoa, agar jagung ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh saya dan bukan penyakit. Saya juga berdoa memohon agar tubuh saya dilapisi dan dilindungi dengan kekuatan jika seandainya ada pengaruh atau energi buruk dalam jagung yang saya makan itu.

Ha ha .. tidak terjadi apa apa tuh. Jagungnya ya tetap jagung biasa saja. Tidak ada darah ataupun berubah jadi tulang belulang πŸ˜€

Setiba di depan rumah, entah kenapa saya merasakan ada seseorang yang mengikuti langkah saya kelyar dari mobil, walaupun saat saya tengok kiri, kanan, depan, belakang tidak ada satu orangpun. Daripada daripada, sebelum membuka pintu rumah, saya membalikkan badan saya lalu berbicara entah kepada siapa ” Kamu jangan ikut masuk. Cukup sampai di sini saja. Pulanglah! Jangan gentayangan. Terimakasih sudah ikut mengantar”, kata saya. Terasa sangat bodoh. Ngomong sendiri πŸ˜€. Tapi serius, itu ngefek lho. Setidaknya memberi dampak psikologis kepada perasaan saya bahwa sekarang saya sudah aman. Setelah saya ngomong gitu, tidak ada lagi perasaan ada sesuatu atau seseorang yang sedang membuntuti saya.

Lalu saya masuk ke dalam rumah. Di sini tenang, nyaman dan damai.

Demikianlah cerita saya sesuai dengan kejadian nyata yang saya alami. Mungkin sebagian teman pembaca mentertawakan dan menganggap saya tidak rasional atau menyebut saya Halu. Tetapi sebagian lain mungkin bisa memahami atau bahkan pernah mengalami kejadian yang serupa ini. Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan secara rasional.

Tidak apa apa. Setiap orang punya pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Terimakasih sudah membaca.

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong πŸ˜€.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama πŸ˜€) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😒😒😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.

Di Batas Rasa Iba Dan Kebodohan.

Standard

Satu hari, saya mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di sekitar area Pasar Seni, Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari di daerah sana dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Kasturi – Central Market, Museum Textil, Taman Burung, Taman Kupu- Kupu, Masjid Negara, Islamic Art Center dan sebagainya.

Anak-anak memutuskan untuk menggunakan MRT saja. “Lebih murah, Ma. Kita bisa saving-saving duit cash kita“. Saran anak saya. Saya setuju. Terlebih karena stock ringgit di dompet saya juga sudah mulai menipis. Kamipun melangkah keluar hotel dan menuju stasiun.

Di stasiun kami menuju auto ticket counter guna membeli coin. Memilih milih Line kereta yang ada di menu, tiba tiba seorang pria yang berdiri di mesin ticket di sebelah saya bertanya dengan ramah. “Hai!. Kalian mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab, mau ke Pasar Seni.

Begitu mendengar jawaban saya, dengan sigap ia membantu anak saya. Ceklak ceklik… kami bayar dan coin ticket kereta pun keluar. Sangat cepat kejadiannya. Ooh tentu saja. Karena ia seorang pria lokal yang pastinya sudah hapal dengan jalur-jalur MRT maupun kereta lain di kota ini.

Saya berterimakasih. Orang itu mengangguk dengan sangat ramah. Lalu ia bertanya, apakah saya bersedia memberinya beberapa butir uang receh. Ia sedang kesulitan dan kehabisan uang. Oooh!. Saya memandang wajahnya dan merasa iba. Membayangkan jika saya berada di posisi dia.

Tentu saja saya tidak keberatan. Saya pun mengeluarkan semua uang logam yang ada di dompet saya. Dan memberikannya kepadanya. Ia mengucapkan terimakasih.

Lalu ia bercerita kalau sesungguhnya ia sedang bermasalah dengan kakinya. Ia menyingsingkan sedikit celana panjangnya dan saya melihat luka yang sangat serius. Oooh. Sungguh terkejut melihatnya. Luka yang besar yang tidak cukup hanya jika diobati dengan obat merah saja. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangani dengan serius. Bahkan mungkin perlu beberapa jahitan untuk menutup luka terbuka itu.

Saya pikir uang logam yang tadi saya berikan kepadanya tidak akan cukup. Lalu sayapun memberikan beberapa lembar uang kertas lagi agar bisa ia gunakan untuk mendapatkan perawatan yang baik dari rumah sakit. Saya menyerahkannya sembari berdoa dalam hati saya, semoga orang ini mendapatkan perawatan yang baik dan sembuh dari lukanya.

Tanpa saya duga, orang itu merunduk di hadapan saya, menyentuh kaki saya dengan tangan kanannya lalu mengusapkan tangannya itu di keningnya, sebanyak tiga kali. Saya terkesima dengan kelakuannya dan mencoba melarang ia berbuat begitu kepada saya. Tetapi ia keburu selesai. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan saya melihat airmatanya mengambang sebelum ia melangkah pergi.

Mama apain orang itu?” anak saya yang rupanya melihat bagian akhir kejadian itu terheran -heran. Mengapa orang itu menunduk di depan saya dan menyentuh kaki saya, lalu menempelkannya ke keningnya. Saya bilang “Nggak Mama apain. Mama cuma kasih uang“, kata saya.

Anak saya terkejut. Rupanya ia tidak melihat kejadian saat saya memberikan uang pada orang itu. “Astaga, Mama!!!. Mengapa Mama berikan dia uang?. Itu sejenis…. scamming, Mama!!!“. Tegur anak saya yang sulung dengan suara tinggi. Saya terkejut akan reaksi anak saya yang tak terduga itu.

Mama ditipu!!!“. Lanjut anak saya yang bungsu lagi. Mereka seperti bersekutu mengkritik saya.

Saya membantah kalimat anak-anak saya itu. Saya bukan tertipu. Saya kasihan padanya dan memang ingin memberinya bantuan uang. Saya sadar. Dan bahkan sangat sadar melakukannya karena rasa kasihan. Karena rasa iba. Bagainana mungkin kedua anak saya bisa mengatakan jika saya tertipu.

Berapa banyak uang yang Mama berikan kepadanya?” tanya anak saya yang sulung.

Saya tidak menjawab dengan tepat. Jawaban yang tidak menipu, tapi tidak bisa dibilang jujur juga. “Hanya beberapa ringgit” jawab saya. Jawaban yang mengambang. Siapakah yang tahu, berapa batas kata “beberapa” itu?. Banyakkah? Sedikitkah?.

Saya lalu memberikan pengertian kepada anak saya. Itu bukan penipuan. Tapi masalah rasa iba kepada orang lain yang sedang kesulitan. Sebagai sesama manusia, kita wajib membantu orang yang sedang kesulitan, jika posisi kita memungkinkan untuk membantu.

Tapi ke dua anak saya tetap tidak yakin bahwa orang itu tidak menipu saya. Saya lalu mengingatkan, bahwa kaki orang itu luka parah. Dan kami semua melihatnya. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa orang itu tidak menipu?.

Anak anak saya tetap tidak setuju. Belum tentu itu luka beneran. Kesan luka bisa dibuat buat. Banyak seniman bisa membuat karya tiruan luka. Ooh…ya. Bisa juga sih jika diambil dari sudut pandang itu. Anak anak lalu memberi contoh fakta beberapa kejadian pengemis dengan luka palsu yang memang kami pernah lihat sendiri, saat anak anak masih kecil.

Sampai akhir hari, saya masih sulit untuk setuju dengan pendapat anak-anak saya bahwa orang itu telah menipu saya. Karena saya yakin telah melihat luka beneran dan saya melihat airmatanya mengambang saat mengucapkan terimakasih kepada saya sebelum pergi.

Sementara anak-anak saya tetap berpikir bahwa saya sudah melakukan kebodohan karena begitu mudah ditipu oleh orang itu. Masalah air mata mengambang itu kan bisa juga soal keahlian seseorang ber-acting yang sangat bisa dilatih. Yaaa…. bisa juga sih jika kita hubung-hubungkan ke situ.

Sungguh saya tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Karena semuanya memberi kemungkinan yang sama untuk menjadi benar ataupun salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Hanya Tuhan pula yang tahu di mana batas antara rasa iba dan kebodohan manusia.

Saya tercenung. Aaah…. tidak usah saya pusingkan apa yang telah terjadi. Ibarat sedang menonton sebuah potret. Kita tak pernah tahu kejadian apa saja yang terjadi sebelum kamera menjepret kejadian di foto itu, dan juga kejadian apa saja yang terjadi setelah potret itu dibuat. Tak usah kita pusingkan dan pertanyakan. Cukup nikmati saja satu single moment saat potret itu dibuat.

Tidaklah begitu penting, apakah orang itu memberi keterangan benar atau menipu. Yang lebih penting adalah keikhlasan hati kita. Sehingga membuat apapun dan seberapapun yang kita keluarkan menjadi berharga. Setidaknya di hati kita.

Saya pun melenggang pergi dengan hati riang.

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya 😊.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.