Tag Archives: Lingkungan

Dapur Hidup: Kencur, Bumbu Dapur Multi Guna.

Standard
Kencur - tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Kencur – tanaman Dapur Hidup sekaligus Apotik Hidup.

Salah satu tanaman bumbu dapur yang menarik untuk disiagakan di halaman rumah adalah Kencur (Kaempferia galanga). Dengan nama daerah Cekuh, bumbu dapur yang satu ini sangat populer penggunaannya di Bali.

Kencur atau cekuh ini bersama dengan Suna (bawang putih) merupakan bahan utama untuk bumbu standard masakan traditional khas Bali yang sangat lezat yang disebut dengan “Basa Suna Cekuh”. Ada banyak jenis masakan Bali yang menggunakan Basa Suna Cekuh. Mulai dari ikan cue atau pindang suna cekuh, ayam mebasa suna cekuh, lindung (belut) suna cekuh, kakul (keong) suna cekuh,  hingga nasi goreng bumbu suna cekuh. Walaupun judul bumbunya Suna-Cekuh, sebenarnya pembangun bumbu ini bukan hanya suna dan cekuh saja, tetapi juga ada bahan bumbu lain seperti kunyit, sedikit bawang merah, cabe dan garam serta daun salam. Hanya saja penggunaan Suna dan Cekuh itu dominan.

Berikutnya, jenis bumbu standard masakan traditional Bali lainnya yang menggunakan kencur adalah “Basa Gede”(bumbu besar). Bersama sama dengan bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, jahe, kunyit dan garam serta rempah rempah lainnya, kencur juga ikut berperan di dalamnya. Di sini kencur tidak lagi menjadi pemain utama, tetapi keberadaannya sangat penting. Tanpa kencur rasa basa gede yang menjadi bumbu standard sebagian besar masakan Bali akan bubar. Banyak masakan Bali yang menggunakan Basa Gede sebagai bumbu standard misalnya lawar, be siap mekuah, jukut timbul, junkut nangka dan lain sebagainya. Nah..jadipenting ya keberadaan kencur ini?.

Selain sebagai bumbu dapur, kencur juga banyak dimanfaatkan untuk pengobatan traditional. diketahui bahwa kencur mengandung minyak atsiri dan alkaloid. Penggunaannya secara traditional misalnya untuk meredakan batuk,. Lalu ada juga yang menggunakannya untuk meredakan sakit perut dan kelebihan gas di lambung. Ada juga wanita dan ibu-ibu yang memanfaatkannya untuk meredakan rasa nyeri saat datang bulan.

Atas dasar pertimbangan itu, sayapun menanam kencur di halaman rumah. Untuk berjaga jaga jika perlu dan tukang sayur tidak punya. Saya pikir ini penting untuk meneruskan tradisi keluarga. Jaman dulu, Ibu saya juga menanam kencur di halaman. Dan saya masih ingat di rumah kakek saya dulu ditanam kencur dalam pongpongan (buah kelapa bulat yang jatuh dari pohonnya karena bolong akibat dimakan tupai) lalu digantung-gantung di pohon, kelihatan artistik dan natural juga.  Saat ini saya menanamnya di polybag saja. Ada 6 polybag. Lumayanlah.

Menanamnya cukup mudah. Saya hanya memanfaatkan  potongan kecil kencur sisa dapur. Lalu saya tanam rimpang kencur ini di tanah dalam polibag. Berikutnya saya hanya menyiramnya saja. Kelihatannya kencur ini suka tempat yang lembab.

Kencur sekarang siap untuk diambil daunnya untuk  lalap ataupun urab. Dan rimpangnya untuk bumbu dapur maupun obat. Nah… enak kan kalau punya pohon kencur  di halaman?.

Yuk kita  tanam kencur!. Bikin Dapur Hidup dan Apotik Hidup di halaman.

Urban Farming: Lima Ribu Rupiah Yang Membahagiakan.

Standard

Kangkung

Segenggam kangkung hasil panen perdana.

Tanaman kangkung yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya kini sudah berusia sebulan. Bukan saja tumbuh subur dan segar, tetapi satu dua batangnya mulai ada yang tumbuh sangat panjang bagaikan sulur. Barangkali jenis kangkungnya berbeda dengan yang lainnya. Tidak tahu juga. Selain itu ada juga satu-dua daun paling bawahnya yang sudah mulai tua dan menguning. “Kelihatannya seperti tanda-tanda sudah bisa dipanen” kata anak saya. Jadi kemarin Sabtu, berhubung saya ada di rumah, untuk pertama kalinya saya dan anak saya mulai bisa memanen sayur kangkung hasil tanam sendiri di halaman dalam polybag. Horreeee!. Lumayan, cukup untuk makan siang bersama keluarga.

Kangkung 1Hasilnya mungkin tidak banyak. Hanya cukup buat satu kali masak. Kalau beli di tukang sayur  paling banter harganya hanya Rp 5 000. Barangkali buat sebagian ibu rumah tangga Rp 5 000 sama sekali  tidak ada artinya. Tapi bagi sebagian ibu rumah tangga lain, segenggam kangkung dengan nilai Rp 5 000 juga barangkali sesuatu banget. Saya sendiri sangat senang dan bangga sekali dengan apa yang kami lakukan. Menurut saya nilai Lima Ribu Rupiah ini benar-benar berharga.  Mengapa? Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Menanam kangkung dari limbah sayuran yang tidak terpakai memberi sensasi sendiri karena ternyata kita menemukan fakta bahwa sesuatu yang kita pikir tak berguna sesungguhnya masih bisa di-recycle untuk kita manfaatkan kembali.  Dan kwalitas hasil re-cycle itu tidak selalu harus lebih buruk dari yang aslinya. Saya lihat batang dan daun kangkung yang saya tanam ini sama subur dan hijaunya dengan apa yang saya beli di pasar atau dari tukang sayur.

Menanam kangkung sendiri juga memberi kepastian kepada kita bahwa tanaman terkontrol dari pestisida dengan baik. Karena jumlah tanamannya yang cuma seuprit dan setiap hari saya lihat dan periksa, jadi saya bisa memastikan tidak ada kupu-kupu atau ngengat yang bertelor dan menetas menjadi ulat di sana. Sehingga saya tidak perlu menggunakan pestisida. Selain itu tanaman ini juga sudah bisa dipanen pada umur 4-5 minggu. Sangat singkat. Jadi pestisida memang benar-benar tak perlu digunakan.

Sayur kangkungSetelah ditumis, kangkung yang benar-benar fresh baru dipetik dan langsung dimakan, ternyata jauh lebih manis, renyah, segar dan lebih enak rasanya ketimbang yang sudah dipanen sehari atau bahkan dijajakan setengah layu di tukang sayur. Anak- anak dan suami  saya semuanya berkomentar yang sama dan memuji rasa sayuran segar hasil petik dari halaman sendiri itu.

Hm… sangat menarik sekali. Barangkali jika begitu dipanen langsung disayur, semua zat baik yang ada pada sayuran belum sempat menguap atau hilang dari batang dan daunnya. Semuanya masih tersimpan dengan baik.

Saat memanen, batang kangkung itu hanya saya gunting sedikit diatas ruang batangnya yang pertama. Tidak saya cabut. Karena saya ingin melihat apakah tanaman ini masih bisa direcycle kembali dengan cara begini. Jika ya, maka saya tidak perlu menanam ulang lagi. Bisa memanfaatkan tanah media tanam yang dipolybag itu kembali – dan barangkali hanya perlu menggemburkannya kembali dan menambahkan sedikit media tanam baru untuk memastikan unsur haranya cukup. Menggunakan kembali polybag yang ada, sehingga tidak menambah pencemaran alam dengan plastik.

Memanen kangkung

Memanen kangkung

Keberhasilan kecil kami menanam sayuran dan akhirnya memanennya dalam waktu sebulan,  memberi anak-anak saya contoh nyata yang baik, tentang hubungan antara NIAT- USAHA -SUKSESan. Niat memanfaatkan limbah sayuran – melakukan apa yang kita niatkan itu dan rajin memeliharanya setiap hari –  tanaman yang subur dan panen yang memuaskan. Contoh yang sangat kecil dan sederhana tapi  benar-benar real. Bahwa jika kita bersungguh-sungguh dengan apa yang niatkan, kita lakukan dengan baik dan letakkan semangat kita pada prosesnya, maka dengan pasti kita akan berhasil mendapatkannya dengan baik.

Jadi nilai-nilai yang bisa saya ajarkan kepada anak saya adalah bahwa untuk segala sesuatu, kita bisa mulai dari hal-hal kecil, mudah dan sederhana. Tapi kita kerjakan sendiri, lakukan sendiri, nikmati prosesnya dan berbanggalah atas apa yang kita lakukan dengan baik.

Yuk, ikut saya bertanam sayur dengan memanfaatkan limbah sayuran yang ada!. Bikin dapur hidup. Setahap demi setahap, kita jadi Ibu Rumah tangga yang lebih peduli lingkungan (dan kalau bisa menjadi lebih mandiri). Walaupun sedikit, kita berhemat pengeluaran dan ikut memproduksi oksigen dan menciptakan udara yang lebih bersih di halaman rumah kita sendiri.

 

 

 

Berkawan Dengan Alam: Mangkok Daun Jati Kering.

Standard

Mangkok Dari Daun Jati KeringDalam dunia modern ini, tidak mudah bagi kita untuk menghindarkan diri dari penggunaan bahan-bahan plastik yang tidak ramah bagi lingkungan alam sekitar kita. Dengan segala kemudahan dan kepraktisannya,  membuat kita menjadi sangat bergantung pada keberadaannya.  Demikian juga dengan bahan glass. Walaupun sebagian glass bisa digunakan lebih lama daripada plastik dan lebih mudah didaur ulang, namun sebagian bahan gelas terutana gelas yang dilapis tetap tidak ramah lingkungan.  Namun di sini, di sebuah camp di pedalaman India, saya melihat upaya untuk memperkecil perusakan lingkungan oleh aktifitas manusia  dilakukan dengan sungguh-sungguh di camp itu.

Salah satu upaya kegiatan ramah lingkungan yang saya lihat dilakukan di sana adalah mengganti penggunaan mangkok-mangkok plastik dan kaca dengan mangkok daun jati kering.  Saya belum pernah melihat yang ini sebelumnya. Menarik juga!.

Saya memang melihat banyak pohon kayu jati (Tectonia grandis) di tanam di sana. Daunnya banyak dan sebagian ada yang menguning lalu gugur ke tanah di tiup angin. Melihat banyaknya pohon jati, seseorang mungkin ada yang memunguti daunnya. Mengeringkannya dengan baik,  lalu  cukup kreative membentuknya menjadi cekung serupa mangkok dan memanfaatkannya untuk menikmati makanan.

Kacang Ijo Dalam Mangkok Daun JatiSaya menemukannya ketika sore hari kami disuguhi snack yang terbuat dari kacang ijo kukus berbumbu bawang dan cabe kering.   Snack alami dari kacang-kacangan, dihidangkannya dengan memanfaatkan mangkok daun jati. Dan dimakan sambil berdiri di luar ruangan di bawah pohon-pohon yang rindang. Di antara desau angin sore pedesaan.  Diantara kicauan burung dan tupai yang sibuk berlarian ke sana kemari mencari biji-bijian. Tidak ada sebuah aturan protokoler  acara makan yang harus diikuti. Semuanya sangat natural. Aduuuuh..saya merasa sangat menyatu dengan alam.

Setelah makan, kami membuang daun jati kering itu ke tempat sampah dan kamipun kembali ke aktifitas kami masing-masing. Saya terkesan sekali dengan upaya mereka merawat lingkungan.

Sebenarnya, jika kita ingat-ingat,  sebelum plastik datang merajalela, di Indonesiapun kita banyak memanfaatkan bahan alam ramah lingkungan untuk aktifitas kita sehari-hari.  Seperti contohnya daun jati ini. Di Jawa, daunnya yang lebar-lebar secara traditional  sangat umum kita lihat digunakan untuk membungkus makanan.  Demikian juga di tempat lain. Daun pisang.  Sangat umum  digunakan sebagai pembungkus.  Lalu  daun talas dimanfaatkan untuk payung. Namun semakin ke sini,  semakin sedikit pemanfaatannya karena semuanya sudah tergantikan dengan plastik.   Barangkali karena semakin sulit dan mahal juga didapatkan, karena pohonnya juga semakin banyak yang ditebang. Kembali lagi kealasan bahwa plastik lebih  praktis, lebih murah dan lebih mudah di dapat.

Jaman dulu orang di Bali juga biasanya makan dengan menggunakan kau, ingka atau tamas. Namun semakin ke sini, semakin tergantikan oleh piring kaca atau plastik. Kau, yakni mangkok  yang terbuat dari batok kelapa barangkali sudah tidak ada yang menggunakannya lagi selain sebagai hiasan.  Ingka, yakni piring yang terbuat dari jalinan lidi kelapa saya lihat masih digunakan sesekali.  Tamas, yakni piring yang dibuat dari daun kelapa hanya digunakan untuk upacara saja.   Agar bisa dipakai berulang-ulang ingka dan tamas ini biasanya dilapisi dengan daun pisang. Sekarang lapisan daun pisang ini  lebih sering diganti dengan lapisan kertas coklat pembungkus makanan. yang menggunakannya pun tetap lebih sedikit daripada yang menggunakan piring berbahan plastik atau gelas.

Nah melihat mangkok daun jati kering ini digunakan untuk menjamu tamu-tamunya, saya benar-benar merasa hormat kepada tuan rumah.  Sangat berkawan dengan alam!.

Pohon Di Halaman Yang BersihSebenarnya sebelum saya datang ke sana, saya sudah disurati agar mengatur sedemikian rupa pakaian saya, karena tuan rumah mempunyai komitment yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Saya pikir tentu maksudnya supaya saya tidak menggunakan detergent selama di sana.  Maka sayapun hanya membawa pakaian seadanya. Sesedikit mungkin agar tidak menyusahkan tuan rumah. Saya bisa mengerti akan maksud baik tuan rumah terhadap lingkungan.

Dan ketika tiba di sana,  saya melihat ternyata lingkungan di tempat saya menginap itu memang benar-benar sangat asri. Penuh pepohonan besar yang rindang dan hijau. Di bawah pepohonan itu, halamannya tampak bersih dan tak ada sampah plastik. Ada beberapa tempat sampah yang disediakan. Isinya sampah organik semua. Di belakang camp itu, saat saya pergi ke danau,  saya melihat ada tempat sampah untuk membuang sisa-sisa makanan. Ada juga sampah plastik di dalamnya, namun jumlahnya sangat sedikit sekali. Hebat juga!.  Saya pikir,hal ini mungkin bisa dicapai karena semua bahan-bahan yang dibutuhkan termasuk bahan makanan semua di swadaya oleh masyarakat setempat.Sehingga kebutuhan akan bahan-bahan dari luar yang umumnya dibungkus plastik menjadi berkurang.

Namun secara keseluruhan, memang bisa kita acungi jempol untuk upayanya dalam mengurangi plastik seminimal mungkin guna menyelamatkan lingkungan.

Let’s Go Green!.

Bandar Lampung : Bukit Kunyit Yang Putih Berkilau.

Standard

Bagi siapa saja yang pertama kalinya menginjakkan kaki di Bandar Lampung, tentu akan terperangah melihat pemandangan tidak biasa sebuah bukit di daerah Teluk Betung yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Bukit Kunyit. Bukit batu kapur itu tampak berbeda dari bukit-bukit yang lainnya karena bentuk dan tampilannya. Dari kejauhan, sebagian punggung bukit itu tampak tergerus memperlihatkan isi perutnya yang putih bersih berkilau. Terang ditimpa cahaya matahari pagi. Sangat indah dengan latar belakang bukit-bukit lain yang tampak hijau abu-abu di kejauhan,laut biru dan langit biru yang cerah.  Memandangnya membuat kita serasa sedang berada di negara antah berantah yang memiliki pemandangan bukit-bukit putih karena salju. Tapi pemandangan ini kita lihat nyata di Indonesia. Di Lampung.Karena keindahan dan keunikannya, sayapun mengambil foto bukit ini berkali-kali. Memandangnya dan mengagumi keindahan komposisi warnanya.

Ketika kebetulan lewat di dekatnya, saya pun mengambil gambar bukit itu kembali. Kali ini dari dekat dengan menggunakan lensa normal. Dari dekat, detail bukit ini tampak lebih jelas. Warnanya tidak lagi terlihat putih bersih, namun bercampur coklat kekuningan. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak gersang, kering kerontang dan bahkan sebagian mati. Batu-batu hasil penambangan liar tampak bergelimpangan di sana-sini. Jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, sekarang tidak ada lagi keindahan yang tersisa.  Kemarau panjang yang memanggang dan penggalian telah merusak bukit yang konon dulunya sangat luas ini.

Menurut teman saya yang memang lahir dan besar di Lampung, pengikisan bukit itu sudah dilakukan sejak lama sekali. Bahkan semenjak ia kecil.  Menurut iformasi lain, dulunya bukit ini sangat luas. Saking luasnya bahkan hingga menjorok ke pantai.  Karena lokasi dan ketinggiannya, bukit ini dulunya berfungsi sebagai benteng alam yang melindungi Bandar Lampung dari tsunami besar saat Gunung Krakatau meledak tahun 1883 ini.  Sekarang paling tinggal hanya sekitar 30%nya saja. Oh, sayang sekali ya.  Saya merasa sangat sedih mengetahui cerita itu. Semoga ada pihak yang perhatian dan mengambil tindakan penyelamatan lingkungan ini tanpa mengabaikan masalah sosial yang ada.

Tadinya apa yang kita lihat indah rupawan dari kejauhan, ternyata menyimpan cerita yang menyedihkan ketika kita tahu lebih dekat. Jadi teringat akan sebuah sesonggan (peribahasa) Bali yang mengatakan “Buka bukite, johin katon rawit” .   Terjemahannya ‘ Ibaratnya bukit, dari kejauhan tampak indah’.  Semua bukit selalu tampak indah dan rapi dari jauh. Namun, ketika kita dekati,  bukit yang terlihat indah itu ternyata memiliki jurang yang dalam, dinding yang terjal, semak belukar yang berduri, permukaan yang bopeng dan sebagainya yang tak tampak ketika kita melihatnya dari kejauhan.

Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang kita pikir mudah, ternyata ketika kita pahami dan kerjakan dengan detail ternyata tidak semudah apa yang kita pikir sebelumnya. Demikian juga apa yang kita pikir sebagai sebuah kehidupan yang enak. Belum tentu seenak apa yang kita bayangkan. Kita menyangka kehidupan teman kita A itu sungguh sangat enak, namun begiti kita mengetahuinya lebih lanjut ternyata barangkali lebih tidak enak daripada kehidupan yang kita jalani.

Serupa dengan Bukit Kunyit yang tampak indah putih berkilau  dari kejauhan ini. Setelah kita dekati, ternyata menyimpan berbagai pemandangan dan cerita yang memprihatinkan juga.

 

Air Kemasan Yang Tersisa.

Standard

Liburan ini saya berkunjung ke tempat salah satu kerabat di daerah  Cikidang di Sukabumi. Saya sempat melihat-lihat ke belakang rumahnya, di mana dulunya terdapat sebuah kolam ikan. Namun sayang saat ini kolam ikan itu tampak kering dan terlantar. Saya diberi penjelasan bahwa belakangan ini  sejak perkebunan karet diganti dengan kelapa sawit, mata air tidak lagi mengalir. Air tanah susut banyak, sehingga tidak cukup lagi untuk mengairi kolam.  Saya memandang ke luar. Matahari yang panas memanggang tanah yang coklat retak-retak. Hmm..sayang. Read the rest of this entry

Kreativitas Daur Ulang – Memanfaatkan Bekas Pot Rangkaian Bunga

Standard

Mungkin diantara kita para wanita  cukup  sering menerima hadiah baik saat ulang tahun ataupun saat hari special lainnya berupa rangkaian bunga yang sangat indah? Rangkaian bunga mungkin dihadiahkan oleh pasangan kita, suami atau kekasih kita, saudara, kerabat, atasan, sahabat maupun rekan kerja kita sebagai tanda sayang dan perhatian. Tentu saja sangat menyenangkan, bukan?

Karangan bunga ini kita bisa letakkan di sudut ruangan, dan kita nikmati keindahan, kesegaran maupun wanginya selama beberapa har i. Namun sayang, setelah itu cepat sekali kering dan layu. Mmm..sayang sekali!. Padahal kita masih ingin menikmatinya. Kita masih ingin melihatnya segar dan cantik. Kita masih ingin mengenang perhatian dan kasih sayang pengirimnya terhadap diri kita.  Mmm.. full of memory-lah ceritanya.

Namun apa boleh buat, karena memang sudah tak memungkinkan lagi terpaksa kita harus menyingkirkannya dari pandangan kita. Namun jangan buru-buru. Ada hal yang bisa kita lakukan sebelum memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah.

Kalau kita perhatikan, rangkaian bunga basah jaman sekarang ini biasanya ditata dalam sebuah pot yang indah dengan oasis yang memadai. Seringkali pot inipun terlalu indah untuk dicampakkan begitu saja. Sebenarnya sangat sayang, terlebih jika kita mengingat dari harga rangkaian bunga itu yang mencapai beberapa ratus ribu rupiah.  Seringkali cukup mahal, bahkan bila uang itu kita manfaatkan untuk belanja dapur tentu cukup untuk menghidupi keluarga kita untuk beberapa hari.  Namun, yang namanya sudah jadi pemberian seperti itu, tentu kita tak bisa menguangkannya kembali.  Kenapa kita harus membuangnya.? Sebenarnya kita bisa memanfaatkannya untuk menjadi pot tanaman hidup yang selalu segar sepanjang hari tanpa harus menggantinya berkali-kali. Merangkai tanaman hidup! Ya merangkai tanaman hidup dalam satu pot! Mengapa tidak?

Caranya adalah sebagai berikut:

1.       Cabut semua bunga dan daun yang layu. Bersihkan oasis dengan hati-hati dan periksa apakah masih ada sisa-sisa batang kembang yang membusuk dan pastikan semuanya sudah tercabut dengan bersih.

2.       Bersihkan pot dengan baik, keluarkan oasis lalu cuci dengan air bersih.

3.       Letakkan kembali oasis pada tempatnya dan isi dengan air hingga penuh. Jangan sampai melimpah.

4.       Pilih batang tanaman dari jenis yang tidak rewel perawatannya dan mudah tumbuh di dalam media air.

5.       Sesuaikan ketinggian batang tanaman dengan selera kita, lalu tata di atas oasis dengan baik.

6.       Pastikan batang dan daun menutup permukaan oasis dengan baik, sehingga setiap orang yang melihat berkesan dengan rangkaian tanaman hidup kita bahwa itu seolah-olah tumbuh dari media tanah biasa.

Tanaman yang tidak terlalu rewel perawatannya &  mudah menyesuaikan diri dengan media oasis antara lain adalah dari jenis pandan-pandanan (misalnya Pohon daun suji), sirih hias, lavender. Lavender bahkan bisa berbunga normal di media ini.

Tanaman ini akan tetap bertahan dan bahkan tumbuh baik.  Yang perlu dilakukan hanya menyiramnya agar tidak sampai kering dan sesekali menyianginya dan membersihkan dari daun dan ranting tua yang menguning, sehingga pot selalu kelihatan segar dan hijau royo-royo.  Berbulan-bulan kemudian, kita akan melihat pot itu mulai terlihat sangat natural dengan lumut yang mulai tumbuh dengan baik. Pot bisa kita tempatkan di salah satu sudut halaman rumah kita ataupun di teras. Cantik!!

Kini kitapun tetap bisa mengabadikan pemberian orang yang telah berbaik hati mengirimkan rangkaian bunga itu kepada kita. Saya rasa, orang yang bersangkutan pun pasti akan senang jika tahu, bahwa kita memelihara sebagian pemberiannya dengan baik.

Hitam-Putih … Menyelami Makna Keseimbangan Alam Dalam Kehidupan.

Standard

Ketika memasuki halaman rumah saya, seorang teman yang kebetulan mampir bertanya    dengan heran “ Mengapa orang Bali hobby memakaikan sarung? “.  Saya pun  ikut heran. Mengapa ia bertanya seperti itu? Saya tidak pernah ingat bahwa orang Bali menyukai sarung melebihi suku manapun di Indonesia. Sejenak kemudian kebingungan  saya terjawab  saat teman saya menunjuk kain hitam putih yang melilit pohon penaung di depan rumah saya. Sayapun mengerti apa yang ia maksudkan. Rupanya  apa yang kami sebut di Bali sebagai ‘Saput Poleng’ berwarna  Hitam-Putih itulah yang dimaksud. Read the rest of this entry