Tag Archives: Loksado

Loksado Writers & Adventure 2017: Amandit River Lodge.

Standard

Suami saya mengirim pesan. Tentu yang pertama ditanyakan adalah anaknya. Bukan istrinya. Lalu setelah itu”Nginep di mana?”.  “Amandit River Lodge” jawab saya. “Di mana itu?” Tanyanya lagi. “ Di Loksado” saya menjawab lagi “Coba share posisi ” pintanya. Agaknya suami saya tidak jelas di mana saya berada. Sayapun segera melakukan searching Google Map. Nah…muncullah posisi Loksado di peta itu.

Loksado adalah sebuah perkampungan yang terletak di Hulu Sungai Selatan,  kurang lebih 4 jam perjalanan darat dari Banjarmasin. Kurang lebih sekitar 45 menit lah dari kota Kandangan. Jauh ya?. Sebetulnya nggak juga sih. Terutama jika kita tahu apa yang bisa kita lihat di sana. 

Loksado memiliki alam yang sangat indah. Jika dilihat topografinya, Loksado berada diantara lereng Pegunungan Meratus dengan puncak-puncaknya yang terkadang berselendang kabut dan Sungai Amandit yang mengalir jernih di bawahnya. 


Nah, Amandit River Lodge, alias Graha Wisata Sungai Amandit itu berada tepat di sisi Sungai Amandit.  Penginapan kecil ini kelihatannya dikelola oleh pemda setempat. Jumlah kamarnya tidak banyak, saya kira tidak lebih dari 20 buah. Setiap ruangan dilengkapi dengan tempat tidur yang digelar di atas lampit, kamar mandi dan kipas angin. Suhu di sana tidak terlalu panas, walaupun tidak dingin juga. Lumayan agak sejuk. 
Bangunan, sebagai kebanyakan bangunan di daerah itu terbuat dari kayu dan berdiri tinggi di atas panggung. Selain kamar kamar, penginapan ini juga memiliki fasilitas ruangan pertemuan sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. 

Walaupun sederhana, saya menyukai tempat ini karena masih banyak pohon pohon besar di sekelilingnya, yang membuat tempat itu tetap sejuk dan nyaman. Suara burung pun sangat medu. Terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, atau berjingkat-jingkat di tepi sungai. Suaranya terkadang ditingkah suara cycada memeriahkan senja. Terasa sangat riang dan damai. 

Amandit River Lodge


Di halaman belakang, terbentang rerumputan yang hijau hingga ke tepi  Sungai Amandit yang mengalir tenang. Sesekali penduduk setempat melintas di sungai dengan rakitnya. Membuat saya penasaran dan ngiler juga ingin mencoba berakit rakit di sungai itu. 

Di latar belakang tampak puncak puncak pegunungan Meratus yang sebentar sebentar di peluk kabut. Puncak yang tampak tertinggi itu diberi nama Puncak Kantawan. 
Ah! Rasanya tak perlu kemana-mana. Hanya dengan diam atau berbaring di rerumputan ini saja, keindahan dan kedamaian itu hadir begitu saja ke hati kita. 

Seekor burung prenjak tampak berlompatan di dahan sambil ribut memanggil manggil. Saya mendongak. Sekumpulan bunga anggrek merpati rupanya sedang bermekaran tinggi di atas dahan. Oh cantiknya.Sungguh tempat yang sangat indah untuk melupakan sejenak kepenatan ibukota. 

Yuk mampir ke Loksado!

Loksado Writers & Adventure 2017. Menyimak Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”.

Standard

Buku Antologi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia”

Salah satu hal yang saya “setengah tahu” tentang Loksado Writers &Adventure 2017 adalah bahwa ternyata penyelenggara telah meminta karya karya para penyair yang diundang ke forum untuk dikumpulkan dan dijadikan buku Antologi Puisi Hutan Tropis yang berjudul “dari Loksado Untuk Indonesia” sebelum kami tiba di sana. Whuaaa…keren!. 
Maksud saya dengan setengah tahu adalah bahwa saya tahu ada beberapa penyair telah menuliskan puisinya dari timeline facebook Mbak Agustina Thamrin, tetapi saya tidak tahu jika ternyata itu diterbitkan sebagai sebuah buku. Saya pikir sebelumnya hanya untuk selebaran saja ha ha.. Maafkan pikiran saya yang pendek dan sempit. 

Nah, malam hari saat acara penyambutan dan ramah tamah dengan para pemuka adat suku Dayak Meratus, saya mendapatkan buku bersampul cantik ini. Yuk kita bahas!. 

Mulai dari sampulnya dulu ya. Design sampul dan lay out dari buku ini sungguh menarik dan “Catchy”. Berlatar belakang biru langit, bergambarkan pohon, burung-burung dan kupu-kupu. Tiga hal yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentunya sangat representatif mewakili hutan tropis pegunungan Meratus. Pohon itu sangat cantik berhiaskan motif Dayak yang indah dengan warna etnik yang menarik. Agak mendua, karena selain keindahan yang terpancar, serasa ada yang membara di sana. Design buku ini disiapkan oleh penyair Salimi Ahmad, yang salah satu tulisannya juga dimuat dalam Antologi Puisi ini.

Buku diisi oleh karya-karya indah dari 17 penyair. Yang semuanya mengambil latar belakang Loksado dan Pegunungan Meratus sekitarnya. Siapakah mereka dan karyanya? 

1/. Adri Darmadji Woko. Penyair dan Wartawan senior ini menuliskan puisi berjudul “Tarian Enggang”. 

2/. Agustina Thamrin. Penyair kelahiran Banjarbaru Kalimantan Selatan yang sekaligus juga instruktur vokal ini memuat 2 buah tulisannya yaitu Gung Garantung dan Ketika Rimba Menggugat.

3/. Arsyad Indradi. Penyair fenomenal kelahiran Barabai ini menulis 2 puisi panjang yakni Minyak Balian dan Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati.

4/. Bambang Widiatmoko. Penyair kelahiran Yogya (sayang saya tidak berkesempatan mengenal beliau di Loksado) menulis puisi dengan judul Persinggahan 1 dan Persinggahan 2.

5/. Cornelia Endah Wulandari. Satu lagi penyair wanita dari Kalimantan yang lahir di Hulu Sungai Tengah. Menulis puisi Perempuan dan Kopi Hutan. Puisinya ini dipilih oleh Aldo anak saya untuk dibacakan di acara malam Loksado.

6/. El Trip Umiuki. Penyair kelahiran Yogyakarta yang berdomisili di Tangerang ini menulis puisi Meratus (Juga) Indonesia. 

7/. Handrawan Nadesul. Penyair yang juga berprofesi sebagai dokter ini menulis puisi Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi. 

8/. Handry TM. Rasanya saya tak bertemu penyair ini di Loksado. Tapi tulisannya yang berjudul Dari Kriyo Ke Panitiranggang di muat di buku ini. 

9/. Kurniawan Junaedhie. Penyair kelahiran Magelang ini membuat 2 buah puisi untuk dimuat di buku ini .  Judul yang pertama Bersama Arsyad, Suatu Hari, Di Loksado. Satunya lagi berjudul Anak Samosir Di Surga Meratus.

10/. Micky Hidayat. Penyair yang juga penulis esai sastra dan teater ini menuliskan  Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus. Pada saat acara malam penyambutan Loksado Writers 2017, penyair dan seniman Isuur Loeweng bersama Bagan membawakan puisi ini. 

11/. Prasetyohadi Prayitno. Pimpinan redaksi majalah Kicau Bintaro ini menuliskan Haiku Meratus. 

12/. Rini Intama. Pendidik dan penulis kelahiran Jawa Barat ini menulis 2 buah puisi berjudul Perempuan Di Lereng Meratus dan Sasirangan.

13/. Roymon Lemosol. Penyair dengan cerita keberangkatan yang spektakuler menuju Loksado dari Ambon ini menulis Narasi Hujan Puncak Meratus. 

14/. Salimi Ahmad. Asli Jakarta. Menuliskan puisi dengan judul Meratus, Gunung Besar Dan Hutan yang terdiri atas 3 fragment I, II, III.

15/. Setia Budhi alias Budhi Borneo, dosen di Universitas Lambung Mangkurat ini menulis puisi Perahu Kayu Dari Sungai Amandit dan Jejak Padi Meratus.

16/. Sulis Bambang. Wanita yang berwiraswasta dan pekerja sosial ini menulus puisi Pulang dan Kangen.

17/. Yahya Andi Saputra. Pencinta tradisi lisan Sohibul Hikayat ini menulis sebuah puisi untuk Loksado Writers berjudul Monolog Perempuan Meratus. 

Jika kita menyimak puisi puisi yang termuat dalam buku ini, sangat mudah menemukan benang merah yang menghubungkan antar satu puisi ke puisi yang lain. Semuanya berbicara soal yang sama. Tentang alam Meratus dan sekitarnya!. Yang tentunya dibidik dari beragam sudut pandang yang berbeda beda. 

Yang sangat mengesankan adalah, walaupun sebagian besar penulisnya mengaku bahwa belum pernah mengunjungi Loksado atau daerah pegunungan Meratus sebelumnya, dan hanya memahaminya lewat informasi yang disajikan oleh Google, tetapi bagi pembaca awam seperti saya puisi puisi itu terasa sangat nge-link dengan alam Meratus. Terasa banget ketika dibacakan dalam acara Loksado Writers 2017 yang diselenggarakan di tepi Sungai Amandit di Loksado.

Pak Setia Budhi menjelaskan bahwa rencananya Loksado Writers ini akan meliputi seluruh Kalimantan. Dan yang disebut dengan Dayak Meratus itu bertempat tinggal membentang dari selatan, timur, tengah dan barat Kalimantan. Itu sebabnya Meratus yang kita sebut tidak hanya Loksado, tetapi juga Dayak Maanyan, Paser, Dayak Bawo,  Dayak Bahau, Dayak Tunjooy.  

Oleh karena itu, backdrop acara Loksado Writers tempat buku Antologi Puisi ini direlease juga didesign cepat sedemikian rupa agar semua suku Dayak se Kalimantan terwakili di Loksado. Dayak di Brunei, Dayak di Sabah dan Sarawak juga akan terwakili.

Secara umum jiwa dan nafas dari puisi puisi di Antologi Puisi Hutan Tropis itu tetap menyatu dengan alam Meratus dan Kalimantan pada umumnya.  Puisi adalah expresi jiwa, pikiran dan ungkapan perasaan setiap penyair atas apa yang ia lihat, dengar ataupun alami yang dalam hal ini adalah apa yang mereka ekspresikan untuk Kalimantan secara umum. 

Secara pribadi saya tertarik menyimak karya karya penyair kelahiran bumi Borneo. Agustina Thamrin, Arsyad Indradi, Cornelia Endah Wulandari, Micky Hidayat, Setia Budhi. Tentu saja sebagai pembaca saya tergelitik untuk ikut menyibak apa yang ada di alam pikir mereka yang memang sejak kecil ada di pulau besar itu. Karena merekalah yang lebih tahu. 

Ada Kepedihan dan Penderitaan terefleksi dengan sangat kuat dalam tulisan tulisan tangan para penyair Kalimantan ini. Hampir di semua tulisan. Misalnya:

Gung, biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus” Agustina Thamrin dalam Gung Garantung.

Hutan rimba dijarah menjadi padang anaksima., Gunung batubara runtuh menjadi danau kubangan bumburaya. Meranti, lanan, ulin, para dijajah kelapa sawit menjadi halimatak, Dayak terperangkap dalam perangkap kabibitak“. Arsyad Indradi dalam Kuasapkan Kemenyan Saat Balian Mati. 

“…Buah kopi hutan yang tumbuh terhimpit oleh hamparan sawit milik investor. Hatinya kelu bercampur pilu. Ia rindu pada aroma harumnya bunga kopi Meratus dan hutan tropis yang hangat yang pernah dipuja di seantero negeri“. Cornelia Endah Wulandari dalam Perempuan dan Kopi Hutan.

Lalu misalnya penggalan dari puisi Micky Hidayat dalam Reportase Dari Kaki Pegunungan Meratus ” Maka aku pun tak sanggup lagi bertanya tentang hari depanmu. Tersebab hari depanmu adalah buldoser, ekskavator, chainsaw, dump truk, trailer, tronton, kontiner, tongkang,ekspor non migas, dan mesin mesin peradaban. Karena hari depanmu telah menjelma virus teknologi yang bersemayam di jantungku. Karena hari depanmu hanyalah sebuah kehancuran:erosi, longsor, danaudanau raksasa pasca eksploitadi dan eksplorasi batu bara tanpa reklamasi, banjir bandang, kobaran api, kabut asap…..”

Hal yang senafa jika kita simak puisi Jejak Padi Meratus  tulisan Setia B. Borneo. “Riwayat Meratus dalam rimbun daun kini mengering. Terbakar di atas kekuasaan menebas tabir mimpi Balian di balai balai. Jerit tangisan burung Enggang dan gelegar mesin gergaji. Kepak sayap luruh tercabut di sela rumahnya yang roboh sebelum pohon lain sempat bertunas. OoiiPunai yang bersarang di rantingranting Tengkawang. Berlimpah darah perlawanan, jangan menyerah“.

Saya menangkap, kepedihan itu adalah refleksi perasaan mereka terhadap apa yang berlangsung di Meratus. Yang jika tidak salah saya tangkap adalah menipisnya hutan-hutan akibat penebangan liar, penjarahan isi hutan besar-besaran oleh pemilik modal besar, kebakaran hutan, tanah longsor dan memudarnya kearifan lokal dan melemahnya adat istiadat dan budaya masyarakat asli Kalimantan. Sungguh tulisan yang sangat menyentuh,  membukakan mata hati dan jiwa akan apa yang tengah berlangsung di sana yang tidak terlihat dengan mudah oleh mata awam. 

Berharap pesan pesan dalam tulisan tulisan ini yang disusun oleh para penyair Kalimantan dan didukung oleh tulisan tulisan penyair lain dari luar Kalimantan dengan nada serupa, pesannya bisa sampai kepada pihak terkait, para pengambil keputusan, penentu kebijakan dan pelaksananya baik di tingkat Kabupaten,  Provinsi maupun di tingkat Nasional. Agar keputusan dan kebijakan apapun yang diambil tetap mengedepankan kelestarian lingkungan pegunungan Meratus dan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat penghuninya.

Buku Antologi Puisi Hutan Tropis “dari Loksado Untuk Indonesia” ini bisa saya katakan sebagai buku yang sangat bagus sekali untuk menjadi bacaan kita semua. Sangat menarik dan sangat membukakan mata.  Salah satu bentuk kepedulian para penyair atas apa yang terjadi saat ini di Meratus. Karena mengutip apa yang disampaikan oleh Pak Setia Budhi sang koordinator dalam pengantarnya “… sastrawan berikut karya sastranya hendaklah tidak terasing dari persoalan yang ada di masyarakat….”.

Cuma memang jika ada pertanyaan dimana kita bisa membeli buku ini, saat ini saya belum tahu jawabannya. Apakah sudah didistribusikan di toko toko buku nasional atau belum. Nanti bisa saya tanyakan ke panityanya. 

Semoga masa depan Meratus bisa menjadi jauh lebih baik. Alamnya tetap lestari dan masyarakat aslinya bisa terus maju seiring dengan perkembangan jaman tanpa harus meninggalkan adat istiadat dan budaya aslinya.

Salam hangat dari saya. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Empat Jam Menuju Loksado.

Standard

Sekitar pukul 8 pagi kami tiba di bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin. Semua peserta yang berangkat bersama saya pagi itu adalah orang-orang yang baru saja saya kenal subuh tadi di bandara Soetta di Jakarta. Kecuali Aldo, anak saya tentunya. Ada Pak Rachmat Ali beserta Bu Kartini istri beliau, yang tiba paling pagi karena takut terlambat. Lalu ada Pak Adri yang tadi subuhnya membagi-bagikan ticket untuk kami. Lalu Bang Salimi dan Bu Gantina, Pak Trip Umiuki, Bang Yahya, Pak Kurniawan Junaedhi dan Ibu Evi Manalu. Sejak awal pertemuan saya merasakan kekompakan team ini. Walaupun saya dan Aldo baru mengenal mereka. Keramahannya, kesetiaannya untuk  saling menunggu dan saling mengingatkan, juga kebersamaannya, semuanya memberi kesan yang mendalam di hati saya. 

Untuk beberapa saat kami menunggu bagasi keluar. Bang Salimi menyarankan agar saya dan Aldo bergantian saja ke rest room untuk menyegarkan diri. Semua ibu-ibu yang lain juga mengambil kesempatan untuk membersihkan diri. Udara terasa panas. Saya membuka jacket saya.  Tak sabar rasanya ingin cepat cepat bertemu dengan Mbak Agustine Thamrin. Orang yang mengundang saya datang ke Loksado Writers & Adventure 2017 ini. 

Tiba di Banjarmasin -foto Agustine Thamrin

Selepas pemeriksaan bagasi, akhirnya bertemulah saya dengan Mbak Agustine yang menyambut kami semua dengan sangat ramah. Wanita cantik bertubuh tinggi langsing itupun menyalami dan memeluk saya dengan akrab. Seolah kami sudah bersahabat bertahun tahun. Padahal saya baru bertemu dengannya pagi itu. Lega rasanya. Kesan saya Mbak Agustine ini memang memang sangat ramah dan baik, dan rupanya memang sudah mengenal dekat teman teman penyair dalam rombongan saya itu. 
Setelah pintu keluar, saya diperkenalkan dengan Pak Budhi Borneo sang penggagas acara Loksado Writers & Adventure 2017, juga dengan Mbak Lena seorang peserta lain dari Yogya yang rupanya tadi satu pesawat dengan kami dari Jakarta. Juga di luar menunggu  Pak dr Handrawan Nadesul (Pak Hans) yang sudah lebih dulu mendarat dengan pesawat lain. 

Dari sana Pak Budhi lalu mengatur keberangkatan. Saya dan Aldo ikut rombongan Pak Budhi bersama dengan Mbak Lena dan Pak Hans. Kami bermaksud mengisi perut dulu di warung Soto Banjar tak jauh dari airport. Walaupun dekat, ternyata rombongan yang lain sempat agak lewat juga. Ha ha…terlambatlah mereka tiba di tempat sarapan. Memang pekerjaan mengatur orang banyak itu tidaklah mudah. Dan tentunya merepotkan. Tapi saya lihat para peserta dan panitya semangat sekali. Membuat saya merasa senang bertemu dengan mereka. 

Soto Banjar.

Soto Banjar

Warung Soto Banjar dekat bandara itu pada dasarnya menyajikan 2 menu yakni Soto Banjar yang disajikan dengan ketupat, dan Rawon Sapi yang disajikan dengan nasi putih. Saya sendiri memesan Soto Banjar. Alasannya karena selain saya memang tidak mengkonsumsi daging sapi, saya sudah pernah makan Soto Banjar sebelumnya dan saya menyukainya. Lagipula Soto Banjar, sesuai dengan namanya adalah makanan khas Kalimantan Selatan. Ngapain pula sudah jauh-jauh ke sini tidak menikmati masakan khasnya? 
Bagi yang penasaran seperti apakah Soto Banjar? Saya cerita sedikit ya..     

Soto Banjar  serupa tampilannya dengan soto lain. Terdiri atas soun (glass noodle) yang direbus, suiran daging ayam dengan bumbu kuah. Yang beda, kuahnya agak manis dan biasanya dihidangkan dengan ketupat. Bukan nasi. Sempat saya bertanya kepada tukang warung tentang bumbunya, rupanya selain bawang merah, bawang putih, lada, kapulaga dan pala juga dilengkapi dengan kayu manis dan cengkeh. Oh..pantesan rasanya agak lebih berempah ya. Tapi enak dan segar. 

Di tempat itu kamipun diperkenalkan dengan Isuur dan teman teman penyair dari komunitas Kalimantan Selatan. Bersama sama kami berangkat menuju Loksado. Beriring-iringan. Akan tetapi karena ada rombongan yang  juga menjemput Ibu Sulis Bambang dan Roymon di penginapan maka kamipun berpisah  dan berjanji bertemu di Haur Kuning. 

Haur Kuning & Kemegahan Namanya. 

Di manakah Haur Kuning? Penasaran dong ya. Menurut Pak Budhi Haur Kuning adalah tempat yang biasa untuk janjian jika mau bepergian bersama ke suatu tempat. Sejenis ‘meeting point ‘ begitulah kira kira. Mengapa Haur Kuning? Ya karena lokasi itu mudah dijangkau dan semua penduduk Banjarmasin tahu letaknya. Kami mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Pak Budhi. Saya membayangkan sebuah tempat dengan tugu besar berwarna kuning yang mudah terlihat oleh semua orang. 

Setiba di Haur Kuning ternyata tak terlihat oleh saya adanya  tugu besar berwarna kuning. Sayapun bertanya dalam hati. Tak seberapa lama saya dengar Pak Hans bertanya kepada Pak Budhi, “Yang mana haur kuningnya?”.  Pak Budhi menjawab “Yang itu, Pak” sambil menunjuk dua rumpun bambu kecil di pinggir jalan.  * haur kuning = bambu kuning.  Nyaris tak terlihat oleh mata. Oalah…ya ampuun. Hanya dua rumpun bambu kuning kecil, tapi namanya sangat terkenal. Lalu mengapa bambu sekecil itu bisa menjadi sangat terkenal?. Saya rasa karena bambu kuning tidak umum ditanam di tepi jalan. Dan orang-orang memanfaatkan ketidak-umumannya ini sebagai penanda tempat. Mudah dikenali karena ia berbeda. Namanya lebih tenar dari pohonnya sendiri.  Nah…pelajaran moralnya adalah kecil bukan berarti harus membuat kita minder dan patah arang.  Walaupun kecil, jika kita bisa membuat diri kita unik dan tidak biasa biasa saja, maka akan lebih mudah bagi kita untuk membuat hidup kita menjadi bermakna. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya berangkatlah kami menuju Loksado melalui kota Martapura. Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan yang indah. Pohon pohon yang hijau, sungai sungai yang mengalir, rumah rumah penduduk yang berdiri macam panggung,  lahan lahan yang luas banyak yang belum tergarap dengan baik. Oh..alangkah luasnya pulau Borneo ini. Dan alangkah kaya rayanya. Hati saya sangat bangga dan terharu. Indahnya tanah airku. 

Sepanjang jalan kami mengobrol. Mulai dari soal durian hingga ke pohon jengkol. Juga tentang sungai sungai yang mengalir dan  intan yang didulang dari sungai tertentu. Lalu tentang jalur khusus pertambangan yang terlihat berliku di bawah sana. Saya menyimak baik-baik cerita Pak Budhi. Juga cerita Pak Hans. Tentang masa mudanya, bagaimana beliau berkarya dan berkumpul dengan penyair penyair senior seperti Putu Wijaya, Sutardji, Pak Adri dan sebagainya. Membuat puisi, prosa dan artikel untuk menghidupi dirinya. Cerita jaman dulu saat semua karya harus diketik dan diserahkan sendiri ke kantor redaksi. Lalu bagaimana beliau menyelenggarakan kegiatan sastra Negeri Poci di Tegal setiap tahunnya. Saya sangat terkesan dengan pengalaman beliau itu. Walaupun menjadi dokter yang terkenal, tetapi beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk sastra. Sungguh saya merasa salut. Pak Budhi tetap menyetir sambil sesekali ngobrol. Sementara Mbak Lena sibuk dengan hapenya lalu kemudian tertidur. Demikian juga Aldo yang duduk di belakang. 

Kami sempat mampir sebentar di Banuang untuk membeli Neo Remacyl guna berjaga jaga karena kaki saya sering kramp. Agak aneh juga, di provinsi sebesar ini ternyata jumlah Apotik yang kami lihat tidaklah banyak. Selain itu sebagian juga tutup karena kebetulan hari itu tanggal merah, karena hari Waisak. 

Mampir di Kota Kandangan.

Di sebuah rumah makan di kota Kandangan – photo Yulian Manan.

Pukul 2 siang kami tiba di kota Kandangan. Mampir di sebuah rumah makan setelah sempat tersesat dan berputar jalan akibat salah petunjuk. Hari panas terik. Tak heran karena dekat dengan garis katulistiwa. 

Bersama Abah Arsyad, Dr Handrawan Nadesul dan Isuur Loeweng

Di rumah makan ini saya dan Aldo berkenalan dengan Abah Arsyad beserta istri. Menurut cerita teman teman yang lain, Abah ini adalah penyair yang sangat eksentrik dengan penampilannya yang selalu bikin heboh penontonnya. Dulunya juga selalu rajin menghadiri acara temu sastra di manapun di seluruh Indonesia. Hanya saja belakangan ini beliau lebih banyak jaga kandang saja di Kal Sel. Juga di tempat ini saya berkenalan dengan Mbak Cornelia Wulandari yang sajaknya pernah saya baca di timelinenya Mbak Agustine Thamrin. Juga sempat ngobrol panjang lebar dengan penyair Isuur Loeweng tentang usaha penggemukan sapi. Sayang sekali ada satu kendarasn yang membawa rombongan Pak Rahmat Ali dan ibu serta Bang Yahya yang rupanya langsung menuju Loksado tanpa sempat mampir di Kandangan. 

Makanan yang disajikan di rumah makan ini enak sekali. Ada ayam, itik dan ikan yang disajikan dengan sambel lalapan daun ubi rebus, timun dan kacang panjang. Nikmat sekali. 

Setelah kenyang dan beristirahat sebentar, barulah kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Loksado. 

Kali ini udara mulai menyejuk. Kiri kanan mulai tampak pohon pohon besar. Rumah rumah penduduk pun berkurang. Kami mulai memasuki kawasan hutan pegunungan Meratus. Jalanan sangat sepi. 

Salah satu pemandangan Loksado. Hijau royo royo.

Pemandangan yang luarbiasa. Puncak puncak bukit Meratus terkadang tampak dikelilingi kabut. Di sekelilingnya hutan menghampar hijau. Pohon kayu manis, pohon durian, pohon pakis, pohon luwak, pohon jahe jahean melengkapi vegetasi hutan itu. Suara nyanyian cycada menyambut sore ditingkahi suara burung hutan. Alangkah indahnya alam pegunungan Meratus. Hati saya terasa riang dan bahagia berada di tempat itu. Sayang saya hanya bisa memotret dari balik jendela kendaraan yang melaju. 

Amandit River Lodge

Tak terasa setengah jam telah berlalu. Pak Budhi terus menyetir, membawa kami ke jalan yang semakin sepi dan semakin jauh memasuki kawasan hutan Meratus. Akhirnya tibalah kami di Amandit River Lodge, tempat kami menginap di tepi Sungai Amandit. 

Lama perjalanan yang dibutuhkan dari Banjarmasin ke Loksado seharusnya cuma 4 jam. Tetapi rupanya kami menempuhnya dengan lebih lama karena kami singgah singgah untuk sarapan, menunggu di Haur Kuring, lalu mampir di Apotik dan lama ngobrol di Kandangan. Namun demikian perjalanan tetap terasa menyenangkan.