Tag Archives: Makanan

Kisah Pagi Di Bandara Ngurah Rai.

Standard

Sarapan pagiPagi-pagi buta saya bangun. Berdua dengan seorang teman, saya bermaksud berangkat ke pulau Lombok  mengambil jadwal penerbangan pagi. Perjalanan yang pendek sebenarnya. Paling banter hanya 15 menit dari Denpasar.

Setelah lepas counter check-in  kami lalu melenggang menuju  ruang tunggu.  Bandara Ngurah Rai sudah sangat ramai sepagi ini. Kursi di ruang tunggu terasa agak penuh. Rupanya tempat itu juga menjadi gate untuk beberapa penerbangan lokal ke Ende, Labuan Bajo,  Kupang, selain ke Praya.

Ada sebuah sebuah kafe  kecil  didekat situ. Lumayan nyaman untuk duduk dan menikmati sarapan pagi.  Kebetulan ada kursi yang kosong dan kami memang belum sempat sarapan pagi. Saya mengajak teman saya untuk menunggu boarding di sana saja. Dua orang yang tampaknya suami istri  tampak duduk di meja di sebelah kami. Melihat dua buah ransel di dekatnya, saya menduga mereka adalah tourist yang akan back pack-an melanglang Nusa Tenggara dari Bali. Mereka asyik berbincang sambil menyeruput kopi panas. Dari logatnya saya menduga mereka berkebangsaan Inggris. Yang perempuan kebetulan duduk berseberangan arah dengan saya. Ia tersenyum ramah saat saya mengambil tempat duduk. Sayapun membalas senyumnya sepintas, lalu melihat ke daftar menu yang ada. Tak banyak pilihan, tapi lumayanlah untuk sarapan saja.

Saya lalu  memesan secangkir teh panas dan pisang goreng untuk sarapan. Sementara teman saya memesan makanan lain. Sambil menunggu saya ngobrol ke kiri dan ke kanan dengan teman saya itu. Teh hangat muncul dalam waktu kurang lebih sepuluh menit. Tiba-tiba  wanita di sebelah kami mengasongkan sebuah salak ke teman saya untuk diambil.

Buah apa ini? saya baru melihatnya..” tanya wanita itu  kepada kami. “Salak” jawab saya. Pria  pasangannya tampak berkerenyit.  Kelihatan ia memang tidak pernah tahu buah salak sebelumnya. Saya lalu menjelaskan bahwa buah Salak adalah buah dari salah satu tanaman sejenis palma yang berduri.  Sangat umum dijumpai di Indonesia, termasuk di Bali. Terkadang disebut Snake Fruit juga karena kulitnya bersisik mirip kulit ular. Ia menggigitnya sebentar dan tampak ekspresinya biasa saja. Saya pikir barangkali ia mendapatkan salak yang agak sepet dan asem, bukan yang manis. Saya lalu menambahkan penjelasan saya, bahwa buah salak saat muda terasa agak sepat dan asam, tapi jika dipetik tepat saat matang, selalu terasa manis dan renyah.  Jika beruntung, kadang kita juga bisa menemukan jenis salak yang memang terasa sangat manis dan lebih manis dari yang lainnya. Namanya Salak Gula Pasir. “Barangkali saya kurang beruntung” kata pria itu sambil tertawa kecut.  Kamipun ikut tertawa.

Mereka  lalu memberikan lagi  Orange Juice dalam kemasan tetra pack kepada kami. Ia bilang tidak sanggup lagi meminumnya karena kebanyakan. Rupanya mereka membawa dua kotak makanan yang isinya snack, minuman dan buah-buahan. Barangkali dari Hotel tempatnya menginap semalam dan mereka tak bisa menghabiskannya. Itulah sebabnya mereka membaginya kepada kami daripada tidak termakan atau terminum. Wah..tahu gitu tentu kami tak perlu memesan minuman tadi.

Pengumuman penerbangan di ruangan itu  terdengar bergema. Petugas memanggil penumpang yang akan berangkat ke Labuan Bajo dan Ende untuk memasuki pesawat. Dua orang tourist itupun mempersiapkan ranselnya dan pamit kepada kami.

Saya memandang langkah kakinya dan tiba-tiba teringat. Baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini. Menerima pemberian makanan/buah-buahan dan minuman dari orang asing yang sama sekali tidak kami kenal.  Saya pikir apa yang mereka lakukan itu adalah ide yang sangat bagus. Mereka tahu bahwa mereka tak sanggup menghabiskannya. Dan karena tidak mau membuang-buang makanan, maka iapun memberikannya kepada kami. Sangat simple. Sangat praktis.  Sangat santai dan tidak ada beban. Seolah-olah kami telah kenal akrab bertahun-tahun lamanya.

Rasanya  saya tidak pernah melihat orang lain melakukan itu. Termasuk saya.Saya tidak  pernah punya ide sebelumnya untuk membagikan kelebihan makanan kepada orang yang  tidak saya kenal.  Kecuali itu teman dekat atau keluarga. Selama ini jika saya memiliki kelebihan makanan yang tidak sanggup saya makan (walaupun sangat jarang sih),  ada dua hal yang mungkin akan saya lakukan: 1/ jika makanannya bisa dikemas, mungkin akan saya  masukkan ke dalam tas, untuk saya makan lagi nantinya.  Atau jika saya tidak mau repot dan agak malas, mungkin saja  saya tinggal begitu saja di meja kafe/atau restaurant/ruang tunggu  tempat saya duduk.

Padahal kalau dipikir-pikir, membuang makanan tentu saja bukan perbuatan yang terpuji ya?. Sementara banyak orang sangat susah untuk makan.

Saya mencoba mencari-cari alasan mengapa saya tidak pernah membagi makanan di perjalanan kepada orang asing.  Barangkali saya takut jika orang merasa tersinggung jika tiba-tiba ditawarin makanan. Atau lebih parahnya bisa-bisa saya diduga tukang tipu yang sedang melakukan aksi lewat pemberian makanan. Entahlah…saya agak takut disangka begini dan disangka begitu. Jadi untuk amannya ya…makanan itu akhirnya tidak saya tawarkan. Padahal , barangkali itu hanya perasaan saya saja ya?.

Perbuatan dua orang tourist itu memberi saya inspirasi baru. Barangkali  akan coba saya contek  di kemudian hari, jika kebetulan saya mengalami hal yang sama…

 

 

 

i

Sambalku Di Mana Ya?

Standard

Kisah Lain Tentang Service Excellence.

Jumat itu  banyak sekali yang harus saya kerjakan, sehingga tidak sempat keluar untuk istirahat  makan siang.  Sibuk untuk menyelesaikan tugas bersama seorang teman saya di ruang meeting di lantai empat . Untuk menghemat waktu, maka saya meminta tolong kepada Office Boy agar memesankan makan siang.  Office Boy menawarkan  menu Ayam Bakar plus Tempe, Sambal dan Lalapan untuk saya dan teman saya. Saya setuju. Lalu kembali tenggelam dalam laptop kami masing-masing di ruang meeting yang sunyi  itu. Read the rest of this entry

“Potato – Brocolli – Cheese”, Kentang Keju Favorit Anak-Anak.

Standard
“Potato – Brocolli – Cheese”, Kentang Keju Favorit Anak-Anak.

 

Selera makan anak sangat berbeda-beda. Ada yang anteng dan mudah setuju untuk ikut mengkonsumsi makanan yang tersedia di meja makan, ada juga yang rewel dan susah dibujuk. Rupanya sebagai ibu, kita perlu juga menerapkan strategy yang jitu untuk menghadapi  anak-anak yang rewel makan ini agar  asupan carbohydrate, protein, mineral dan vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya mencukupi. Salah satu caranya adalah dengan mencoba berbagai jenis makanan dan memperhatikan, jenis makanan mana yang disukainya dan mana yang tidak.

Salah satu jenis makanan yang rupanya cukup menarik buat anak-anak saya adalah Potato Cheese. Saya perhatikan jika saya sediakan ini di meja makan, cukup menarik minat anak saya untuk nambah lagi dan nambah lagi. Nah, ini bisa kita bikin sendiri dengan mudah di rumah. Bahannya mudah, hanya Kentang, Keju dan Brokoli. Read the rest of this entry

Nasi Kepel Teri Goreng Kacang…

Standard

 

Teri Goreng Kacang ! Lauk yang terbuat dari Teri Medan dan Kacang Tanah goreng dengan bumbu iris bawang merah,bawang putih, cabe dan daun jeruk purut ( ada juga yang menambahkan irisan jahe). Dimakan hanya dengan nasi putih, apalagi hangat. Wah…enak dan gurih. Banyak orang yang suka. Begitu juga saya. Akibatnya teri goreng kacang ini  cukup sering  terhidang di meja makan di rumah saya. Selain itu, karena lauk ini kering juga cukup awet dan tidak cepat basi. Read the rest of this entry

Fruity Yogurt Ala Jineng, Membujuk Anak Untuk Makan Buah

Standard

Walaupun tidak terjadi setiap saat, kadang-kadang kita para ibu kesulitan untuk membujuk anak untuk makan buah & sayur. Padahal kita tahu, buah dan sayuran merupakan sumber vitamin yang sangat berperanan dalam pertumbuhan dan menjaga kesehatan anak. Mau tidak mau, para ibu terpaksa harus memeras otak untuk memastikan bahwa anaknya mendapatkan asupan buah & sayur yang cukup. Salah satunya adalah dengan mengkombinasikan buah ataupun sayuran dengan makanan kesukaannya, misalnya chocolate, susu, keju atau yogurt.

Anak- anak sangat menyukai Yogurt. Hasil olah susu  dengan proses fermentasi ini  belakangan semakin mudah dijumpai di pasaran dalam berbagai format kemasan yang menarik. Rasanya yang asem manis dan seringkali dipadu dengan rasa buah-buahan  membuat  anak-anak selalu tertarik untuk mengambil.

Bagaimana kalau kita buat variasi yang menarik? Kita campur dengan buah kesayangannya? Anak-anak mungkin akan lebih menyukainya. Caranya pun sangat mudah. Yang perlu dilakukan hanya membeli Yogurt kesukaan anak. Boleh yang plain, rasa anggur, lechi, strawberry, mangga dan sebagainya, serta buah yang kita ingin berikan pada anak kita, misalnya pisang, jeruk, pear, anggur, mangga, dan sebagainya. Read the rest of this entry

PisCok!. Pisang Coklat Ala Jineng, Favorite Anak- Anak.

Standard

Anak-anak tidak sabar menunggu saya di dapur menggulung kulit lumpia dengan isi pisang dan coklat. Sebentar-sebentar mereka muncul dan bertanya “ Sudah matang, Ma?”. Ketika saya bilang sebentar lagi, mereka kembali ke kamar. Namun beberapa menit kemudian kembali ke dapur dan bertanya “ Sudah matang, Ma?” Read the rest of this entry

Take What You Eat, Eat What You Take. ..

Standard

Cerita Tentang Sisa Makanan Yang Ditimbang.

Seorang rekan menelpon. Ia mengajak  saya untuk hadir dalam sebuah jamuan makan siang guna  menghormati kunjungan  tamunya dari luar. Tentunya dengan senang hati saya bersedia. Selain karena kebetulan saya tidak membawa bekal makanan,  saya juga belum punya ide untuk makan  di mana siang itu. Dengan bergegas saya langsung menuju alamat restaurant yang disebutkan rekan saya itu. Lokasinya tidak jauh dari kantor saya.

Begitu saya masuk, segera saya diperkenalkan dengan kedua orang tamunya. Saya ditempatkan di sebelah tamu itu duduk. Sebenarnya agak nggak nyaman karena saya baru kenal saat itu. Tapi saya pikir barangkali untuk meramaikan suasana (karena relative saya lebih banyak berceloteh ketimbang rekan-rekan kerja saya yang lain, yang semuanya pria).  Rekan saya bilang, tidak usah memesan makanan lagi. Ia telah melakukannya untuk kami semua. Saya hanya perlu untuk memesan minuman. Saya mengerti.  Jadilah kami hanya ngobrol saja sambil menunggu makanan datang. Obrolan kiri kanan, mulai urusan kerja, makanan, dan sebagainya,   hingga cerita tentang negara sang tamu berasal. Mungkin karena mereka sangat ramah dan banyak bicara, tak terasa percakapan dengan cepat mengalir begitu saja. Kami merasa sudah menjadi kawan akrab saja yang seolah-olah sudah kenal baik sejak lama.

Tidak berapa lama, pramusaji  datang membawakan hidangan satu persatu. Sangat mengejutkan ternyata makanan yang datang jumlahnya sangat banyak. Di luar nasi putih, ada 7 jenis hidangan dan masing-masing terhidang dalam 2 porsi besar. Padahal kami hanya berenam. Saya rasa kami tidak bisa menghabiskan itu semuanya.  Wah! Usut punya usut, ternyata telah terjadi miskomunikasi antara teman saya yang memesan dengan sang pelayan restaurant yang mencatat pesanannya.

Rupanya saat pelayan mengatakan bahwa porsi setiap hidangan itu besar, teman saya meminta pelayan agar membagi tiap porsi itu menjadi 2 piring saja. Maksudanya untuk memudahkan distribusi makanan ke setiap orang. Namun pelayan rupanya salah mengerti. Ia berpikir bahwa teman saya bermaksud memesan 2 porsi untuk setiap jenis makanan yang ia pesan. Apa boleh buat. Karena telah terlanjur memesan dan barangkali tak ingin merugikan sang pelayan restaurant, teman saya memutuskan untuk  menerima semua makanan itu. Kami lalu diminta untuk  mencoba menghabiskannya.

Tamu kami bertanya, apakah di Indonesia kami selalu makan dalam jumlah yang sebanyak itu? Tentu saja saya jawab tidak.  Kemudian  saya  jelaskan miskomunikasi yang membuat mengapa jumlah makanan yang kami pesan menjadi sebanyak itu.

Berkali-kali rekan saya menyendokkan hidangan itu dan meletakkannya di piringnya dan di piring kami yang lain agar cepat berkurang. Bagaimanapun juga, tentu perut kami ada batasnya. Perasaan yang sangat kenyang sebelum semua makanan itu bisa kami habiskan. Rekan saya agaknya merasa kurang nyaman dengan situasi itu. Tapi tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Lalu saya menghiburnya dengan memberi ide agar meminta pelayan membungkus saja sisanya untuk kita bawa pulang. Jadi kita tidak punya beban, bahwa kita membuang buang makanan. Toh makanan itu bisa kita panaskan dan makan kembali. Kalaupun tidak mau, pasti ada orang lain yang mau.

Ketika kami selesai makan, sang tamu mengucapkan terimakasih kepada teman saya.  Kamipun tertawa  dan menggoda rekan  saya atas miskomunikasi yang menyebabkan terjadinya hidangan  yang super berlimpah itu. Kami lalu kembali ke kantor secepatnya.

Ada satu hal yang membuat saya merenung  sepulang dari makan siang itu. Yakni cerita dari salah seorang tamu tadi, tentang sisa makanan. Mereka sangat menaruh concern akan makanan. Mereka sangat sensitive terhadap orang-orang yang kurang mampu dan tidak makan. Ia bercerita, di tempatnya, perusahaan menyediakan kantin khusus untuk karyawan. Namun karyawan diminta hanya untuk mengambil makanan seperlunya  saja, sesuai dengan yang dibutuhkan. Dan jika sudah mengambilnya, maka mereka harus memakannya habis tanpa sisa. Take what you eat and eat what you take! Begitulah kira-kira.  Tiap makanan yang tersisa diatas piring akan ditimbang oleh petugas dan dijumlahkan setiap hari. Hasilnya diinformasikan kepada seluruh karyawan “HARI INI KITA TELAH MEMBUANG MAKANAN DENGAN SIA SIA SEBANYAK XXX KILOGRAM”. Ditulis besar-besar di dinding kantin,  dan disertai dengan informasi jumlah orang yang hari ini kelaparan dan tak mampu makan. Sehingga, dengan melihat informasi itu, kitapun akan merasa sangat berdosa jika mengambil makanan lebih banyak dari yang sesungguhnya kita butuhkan. Apalagi jika kemudian tidak kita habiskan  dan sisakan di piring. Tentu orang lain tak bisa memakannya. Jika kita tidak seserakah itu, tentu sisa makanan  yang masih dalam keadaan baik (bukan sisa dari piring orang lain) bisa diberikan kepada para fakir miskin dan  orang –orang yang tak mampu makan. Karena sisa makanan di kantin yang masih baik dan tak dimakan oleh karyawan, setiap hari dikirimkan ke panti sosial atau rumah para fakir miskin.

Saya terpesona oleh cerita itu. Sungguh sangat salut pada pimpinan perusahaan yang telah mengambil kebijakan sedemikian baiknya. Bukan saja membantu orang lain yang tak sanggup makan, namun juga sekaligus membantu memberi pemahaman kepada orang-orang lain agar lebih peka dan lebih sensitive terhadap issue issue sosial di sekelilingnya.

“Sungguh tidak baik membuang buang sisa makanan, sementara orang-orang di sekeliling kita tak mampu makan”. Saya rasa, sangat banyak orang yang tahu dan paham sekali dengan hal itu. Namun berapa persen diantaranya yang perduli? Berapa persen diantaranya yang benar-benar mewujudkan kepeduliannya dalam bentuk tindakan yang nyata? Mendisiplinkan dirinya untuk melakukan itu dan juga menganjurkan orang lain untuk berbuat sama demi kemanusiaan? Termasuk diri saya sendiri. Walaupun tidak sering, namun beberapa kali saya ingat, saya juga pernah menyisakan makanan di piring saya. Dan fakta itu membuat saya merasa bersalah.

Hari itu saya pulang dengan tekad.  Bukan saja memaksa diri saya untuk mengikuti teladan yang diberikan oleh pimpinan perusahaan itu, namun saya juga memastikan diri akan membagi cerita ini ke kekeluarga saya dan sahabat-sahabat saya agar mereka juga bisa membantu mengurangi ‘kesia-sian’ dalam hidup.

Sambal Gandaria Ala Jineng…si pedas asem buat teman lalapan.

Standard

Mungkin sebagian dari kita ada yang bertanya.. “Sambal gandaria? Apa sih itu?”. Ya, bagi sebagian orang, terutama yang tidak tinggal di Jawa khususnya Jawa bagian barat, mungkin ada yang bingung. Sering mendengar nama gandaria, namun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan Gandaria.

Saya sendiri sebelumnya tidak mengenal arti gandaria itu. Lebih bingung lagi, saat ibu mertua saya yang berasal dari tanah Pasundan meminta tolong saya mengambilkan kebaya yang berwarna gandaria dari lemarinya. Saya sempat terlongong longong. Warna apa itu gandaria? Ternyata yang dimaksud adalah warna ungu.  Jadi ungu itu dalam bahasa Sundanya adalah Gandaria. Rupanya itu diambil dari warna biji buah gandaria yang memang ungu. Nah, bagi yang belum tahu gandaria, disini akan saya ceritakan sekilas mengenai buah gandaria itu.
Buah Gandaria (saya lihat di beberapa referensi, buah ini bernama latin Bouea macrophila, adalah buah kecil bulat sebesar kelereng sampai sebesar bola bekel, yang mirip dengan mangga mini yang bulat. Seperti halnya mangga, kulit gandaria berwarna hijau dan menguning bila masak. Rasanya juga sangat mirip dengan buah mangga kecut. Bijinya seperti telah saya ceritakan tadi, juga sangat mirip biji mangga kecil, tapi berwarna ungu. Buah ini bisa ditemukan di pasar-pasar traditional di daerah Jawa Barat, namun umumnya hanya pada musim berbuahnya saja (sekitar Desember – Januari). Masyarakat banyak menggunakannya sebagai campuran sambal terasi dan kemudian menamakannya dengan Sambal Gandaria.
Pertama kali saya mencoba sambal ini  juga di rumah ibu mertua saya. Menurut saya sangat cocok dipakai untuk menemani lalapan, ayam, ikan, tahu atau tempe goreng, maupun ikan asin. Sejak saat itu, setiap kali saya jalan ke pasar tradisional dan bila menemukan buah ini, saya selalu berusaha membelinya dan menjadikannya sambal untuk menemani makan siang keluarga.
Cara membuat sambal gandaria cukup mudah. Yang dibutuhkan sama dengan bahan-bahan untuk membuat sambal terasi biasa yakni, cabe (merah keriting, campur cabe rawit merah/hijau), terasi (jenis apa saja, tapi saya paling suka terasi Bangka, atau kalau tidak terasi dari Jawa Timur), tomat, garam & gula merah. Cabai dan tomat kita rebus sebentar agar lunak, lalu diulek hingga halus bersama terasi matang (boleh dibakar atau digoreng), garam dan gula merah. Setelah halus, lalu masukkan daging buah gandaria dan ulek kasar. Hidangkan bersama lalapan yang segar.

Chicken Clear Soup…Alias Soto Ayam Ala Jineng

Standard

Pada suatu siang seorang teman yang berkewarganegaraan Inggris mengatakan kepada saya bahwa ia paling menyukai salah satu masakan asli Indonesia yakni Chicken Clear Soup. Sebagai warga Negara Indonesia, tentulah saya sangat  bangga akan hal itu. Wah.. lumayan nih, ada lagi yang menyukai masakan Indonesia! Segera saya tersenyum senang sambil diam diam  bertanya-tanya dalam  hati, makanan apakah itu gerangan yang bernama Chicken Clear Soup – kok rasanya tidak pernah dengar. Jangan-jangan itu makanan Malaysia atau Thailand atau negara Asia lainnya yang salah sebut.

Kebetulan saat itu memang jam makan siang dan kami akan makan di restaurant yang menyediakan berbagai jenis masakan termasuk di dalamnya masakan Indonesia. Lalu ia menunjuk ke salah satu pojok di restaurant itu yang menyediakan Chicken Clear Soup. Alamaaak!!!. Rupanya yang berjudul Chicken Clear Soup itu ternyata adalah Soto Ayam. Iya, soto ayam yang sehari-hari kita masak di rumah di dapur kita itulah yang rupanya bernama Chicken Clear Soap. Jadi memang tidak salahlah kalau saya tadi berbangga hati, karena Chicken Clear Soup alias Soto Ayam itu memang benar masakan Indonesia asli. Yah.. mungkin sang pemilik restaurant sengaja memberi nama itu untuk memudahkan orang asing memahami jenis makanan apa yang sedang dipesannya itu. Judul Cicken Clear Soup jelas lebih mudah dimengerti oleh mereka yang tidak berbahasa Indonesia ketimbang Judul Soto Ayam.

Soto Ayam banyak ragamnya di Indonesia  namun di sini saya ingin berbagi bagaimana kami biasanya menyiapkan Soto Ayam alias Chicken Clear Soup itu menu  sehari-hari di rumah.

Bahan utama yang perlu disiapkan adalah, ayam, telor rebus, tauge kacang ijo, soun yang telah direndam air panas, irisan kol. Untuk bumbu, diperlukan bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe, daun salam, kemiri, jeruk nipis, garam, sedikit lada/merica dan ketumbar. Untuk taburan diperlukan Kacang goreng (bisa kacang Bali, kacang tanah goreng, kacang kedelai goreng, biji kacang panjang goreng, dsb), irisan daun bawang dan seledri. Sambal & kerupuk buat tambahan, bagi yang suka.

Cara membuatnya cukup mudah, pertama ulek bumbu untuk kuah soto yakni bawang merah, bawang putih, lengkuas, merica, ketumbar, kemiri, jahe, kunyit & garam hingga halus.  Kemudian rebus ayam  sudah dipotong & dibersihkan dalam panci beserta bumbu yang sudah diulek halus dan daun salam (kita bisa meminta tukang ayam langsung membersihkannya). Setelah matang, angkat ayam dari dalam panci dan tinggalkan kuah rebusannya untuk kuah soto.

Goreng dada dan paha ayam hingga kekuningan, lalu suir suir dan tempatkan dalam piring.  Rebus telor ayam, lalu potong potong persegi. Rebus juga soun dan tauge, lalu tiriskan dan tempatkan masing masing dalam piring. Kol mentah dicuci lalu diris tipis tipis.

Untuk menyajikannya, masukkan dan atur semua bahan (soun, tauge,irisan kol, ayam suir, potongan telor), lalu siram dengan kuah soto yang panas. Taburkan irisan seledri, kacang dan daun bawang, tambahkan perasan jeruk nipis. Bagi yang suka pedas boleh menambahkan sambal. Sajikan dalam keadaan panas.

Ice Lemon Grass Ala Jineng ..Kesegaran Alam Yang Nyaris Terlupakan.

Standard

Cuaca belakangan ini kurang bisa ditebak. Terkadang pagi hari cerah, siang mendadak mendung tebal dan bahkan hujan lebat bak tempayan raksasa sedang ditumpahkan dari langit. Atau kadang pagi terlihat redup, namun siang bisa panas membakar kulit. Nah, kalau sudah panas gerah seperti ini, paling enak memang mencari tempat berteduh sambil minum melepaskan rasa haus.

Menikmati  minuman yang segar dan segar tak selalu harus datang ke restaurant yang mahal, kita bisa melihat-lihat apa yang ada di dapur, atau bahkan mungkin dihalaman kita dan memanfaatkannya. Kali ini saya ingin membagi cerita mengenai Ice Lemon Grass alias Es Sereh, minuman traditional yang sangat menyegarkan rasanya dan telah lama telupakan.

Bagi yang cukup rajin mengikuti kegiatan PKK, atau mengikuti anjuran pemerintah jaman Pak Harto dulu untuk memiliki Dapur Hidup /Apotik Hidup di pekarangan rumah, tentu tidak asing dengan tanaman sereh dan jeruk purut. Nah bahan-bahan untuk membuat Ice Lemon Grass ini kita bisa petik dari halaman.  Kalaupun bagi yang tak punya di pekarangan tidak usah khawatir, cukup membeli dari tukang sayur/ pasar, karena bahan ini memang sangat berlimpah dan umum digunakan sebagai bumbu dalam masakan-masakan Indonesia lainnya.

Jadi, bahan-bahan ini bukanlah sesuatu yang  asing bagi kita. Jaman dulu orang tua umumnya merebus batang sereh dapur untuk mengurangi perut kembung.

Selain 2 jenis bahan tersebut diatas, kita juga akan membutuhkan gula pasir, air matang dan es batu. Cara membuatnya sangat mudah, yakni kita hanya perlu merebus gula, batang sereh dan daun jeruk purut dalam segelas air untuk membuat siropnya (jumlah bahan bahan tersebut bisa diperkirakan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan selera rasa manis/segarnya). Setelah gula cair dan mendidih beberapa saat, kompor kita matikan dan biarkan syrop sereh menjadi dingin. Saring dengan saringan yang bersih dan ditempatkan dalam wadah syrop (botol ataupun gelas) dan simpan dalam lemari pendingin. Sekarang syrop sudah siap untuk disajikan kapanpun kita membutuhkannya.

Untuk menyajikan, kita cukup menuangkan sedikit cairan syrop gula sereh ke dalam gelas, lalu mencampurnya dengan air matang dan potongan es batu. Rasanya segar mirip es jeruk namun lebih wangi. Seluruh keluarga pasti suka.