Tag Archives: Makasar

Makasar: Bunga Mimosa Air.

Standard

Bunga Mimosa AirKetika berjalan-jalan di perkampungan di daerah Makasar, saya melihat ada sebuah bunga kuning yang menarik perhatian saya. Bunga itu tumbuh di lahan basah berawa-rawa. Warnanya kuning, sangat cerah. Mirip kemoceng mini. Imut sekali.  Bunga apa itu? Terus terang saya belum pernah melihat tanaman itu sebelumnya. Atau lebih tepatnya,belum pernah memperhatikannya.

Sekarang bunga itu menjadi sangat menarik perhatian saya. Karena setelah saya pikir-pikir, bunga dan daun tanaman itu sangat mirip dengan bunga kuning kecil yang kalau di Bali disebut dengan nama bunga Srikili (Mimosa Kuning). Bedanya, bunga Srikili hidup di darat, sedangkan bunga ini hidupnya di air. Selain itu, bunga Srikili juga berbatang tegak, sedangkan tanaman ini terlihat menyender dan rebah.  Jadi, sebenarnya agak berbeda.

Selain hidup di darat dan memiliki batang dan cabang yang kuat, bunga Srikili juga sangat wangi, sehingga sering digunakan untuk keperluan persembahyangan. Waktu saya kecil, saya sering melihat tanaman Srikili ini, walaupun belakangan ini saya tidak pernah melihatnya lagi.    Bunga ini juga mirip dengan tanaman Puteri Malu yang merambat, berduri dan berbunga ungu (Mimosa pudica).

Saya mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar tentang nama tanaman air itu, namun tak ada yang tahu namanya. Akhirnya saya menduga sendiri barangkali ini adalah Srikili Air atau Mimosa Air. Saya pikir, nanti ketika bisa terhubung ke internet akan saya coba cari tahu lebih jauh.

Akhirnya saya mendapatkan clue-nya dari Wikipedia.

Bunga Mimosa Air 1Rupanya tanaman ini memang bernama Mimosa Air (Neptunia oleraceae).  Tanaman umum penghuni rawa-rawa. Jadi dugaan saya tidak salah.

Tanaman yang saya sangka gulma ini rupanya bisa menjadi tanaman pengganggu dan bisa jadi sumber makanan, tergantung bagaimana kita memandang dan  memanfaatkannya. Ada yang mengatakan ini adalah gulma yang perlu diperhatikan ketat, karena perkembangannya yang pesat dan batangnya yang busuk bisa jadi berperanan dalam proses pendangkalan rawa-rawa.

Namun di sisi lain rupanya tanaman air ini malah banyak dibudidayakan untuk dijadikan bahan sayur mayur di negara-negara Asia, seperti Thailand, Vietnam, Kamboja dsb.  Pucuknya dimakan, demikian juga akar dan bijinya.  oooh..kelihatannya enak juga. Saya tidak tahu apakah di Makasar dan di bagian lain Indonesia tanaman ini juga disayur. Saya belum pernah mendengarnya.

Saya sangat senang, karena kali ini pengetahuan saya tentang tanaman liar jadi bertambah satu.

 

Makasar: Masakan Ikan Kudu-Kudu.

Standard

Ikan Kudu-Kudu1Hidangan Ikan laut! Tentu banyak yang menyukainya. Berbagai jenis dan rupanya. Ada kerapu, baronang, kue, bawal, tuna dan sebagainya.  Namun diantara semua ikan laut itu, ada satu jenis masakan ikan yang sangat saya sukai, yakni Ikan Kudu-Kudu. Ikan berbentuk kotak persegi ini, dagingnya sangat gurih dan empuk. Dibakar. Lalu dibelah dari bagian perutnya, sehingga terlihatlah dagingnya yang putih tinggal di dalam kulitnya yang mirip kotak.  Nyaris tidak ada tulangnya. Dimakan dengan sambal Parape. Saya pernah memakannya beberapa kali di sebuah restaurant di Jakarta. Namun sayangnya, harganya cukup mahal. Rp 250 000/ekor. he he..habis makan, kantongnya menangis deh.

Beberapa tahun yang lalu tanpa sengaja saya melihat Ikan ini dihidangkan di salah satu restaurant di Makasar.  Awalnya saya kira itu ikan buntal. Saya ragu mencobanya. Namun akhirnya saya tahu itu Ikan Kudu-Kudu. Bukan ikan buntal yang beracun. Bagi yang belum familiar dengan ikan Kudu-Kudu ini (disebut juga dengan boxfish (Ostracion cubicus), bisa saya ceritakan bahwa ikan ini berbentuk box persegi. Sebenarnya ada beberapa warna, tapi yang saya temukan di restaurant biasanya yang warnanya kelabu.  Sebenarnya kalau kita punya hobby menonton aquarium air laut, kadang-kadang kita juga melihat ikan jenis ini berwarna kuning berenang di dalamnya.

Saya juga  baru tahu bahwa masakan Ikan Kudu-Kudu ini rupanya memang berasal dari Makasar.  Dan menyenangkannya, harganya tidak sampai sepertiganya dibanding di Jakarta. Berbekal pengetahuan  itu, ketika mendapatkan kesempatan lagi untuk berkunjung kembali ke Makasar, saya berkata kepada teman seperjalanan saya yang kebetulan juga penggemar Ikan Kudu-Kudu.”Mari kita makan Ikan Kudu-Kudu, selagi harganya lebih murah dibanding di Jakarta” .  Saya berteori.

Tapi memang benar. Harga ikan Kudu-Kudu di Makasar sama saja dengan jenis ikan lainnya seperti kerapu atau baronang. Malah Baronang sedikit lebih mahal. Kamipun makan masakan ikan kudu-kudu ini setiap hari. Walaupun teman-teman saya juga memilih ikan-ikan lain seperti baronang atau kerapu, tapi saya tetap dengan pilihan saya : Kudu-Kudu.

Untuk masakan ikan dan seafood, saya mengacungkan jempol untuk apa yang saya temukan di restaurant-restaurant di Makasar ini. Walaupun sambalnya tidak semuanya kelihatannya asli Makasar ( saya melihat banyak dabu-dabu dan rica-rica dihidangkan, selain jenis sambal yang lain seperti sambal mangga ataupun sambal terasi). Buat saya terasa enak semuanya.

Senangnya mengenal kuliner tanah air!