Tag Archives: Malaysia

Yam Seng Dalam Pernikahan Adat Cantonese.

Standard

Saya baru pertama kalinya menghadiri pernikahan adat Cantonese. Ini terjadi beberapa hari yang lalu, di mana kebetulan seorang teman menikah dan saya diundang datang ke pestanya di sebuah restaurant di Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia.

Awalnya saya menyangka pesta ini biasa saja , yang isinya makan-makan dan hiburan biasa. Tapi kemudian ada yang menarik dan unik serta belum pernah saya lihat dalam pesta pesta pernikahan yang pernah saya hadiri, di mana MC meminta kita untuk melakukan Yam Seng. Yakni bersulang dan meneriakkan kata “Yaaaaaaaaaaaaaaam” dan ” Seng” sebanyak 3 x.

Setelah itu kedua pemgantin mendatangi meja undangan satu per satu dan melakukan Yam Seng lagi masing masing sebanyak 3x dan berkompetisi kencang kencangan dan panjang panjangan seruannya. Nah…kebayang nggak jika di restaurant itu ada 50 meja (saya tidak tahu persis berapa jumlahnya, bisa jadi lebih dari 50 meja) dan masing masing meja terdiri atas 10 orang…terbayanglah ya, bagaimana ramenya. Ha ha… seru juga.

Karena unik banget, maka sayapun bertanya itu acara apa. Rupanya Yam Seng adalah adat Cantonese yang umum dilakukan untuk mendoakan kebahagiaan penganten, agar terus langgeng dan cepat punya momongan.

Yam Seng biasanya dilakukan dengan meneriakkan kata “Yaaaaam” sepanjang panjangnya. Lalu ditutup dengan ” seng” yang pendek. Dilakukan 3 x dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mendoakan kebahagiaan pengantin agar langgeng terus hingga akhir hayat.

2. Mendoakan pengantin agar cepat punya anak.

3. Ucapan terimakasih dan mendoakan tamu- tamu undangan yang hadir agar juga selalu bahagia dan sukses.

Sungguh budaya yang sangat baik. Karena baru kali ini saya mendengar pihak tuan rumah menyelipkan doa untuk tamu undangan. Biasanya paling ucapan terimakasih biasa, bukan doa khusus seperti itu. Biasanya doanya hanya untuk pengantin saja.

Waaah… luarbiasa ya.

Gemerlap Malam di Sunway.

Standard

Sunway Light 9Salah satu tempat menarik di Malaysia yang selalu ingin saya ceritakan, tapi entah kenapa saya selalu lupa adalah Bandar Sunway, yang berlokasi antara Petaling Jaya dan Subang Jaya.  Karena kantor saya tidak jauh letaknya dari sana, maka sayapun cukup sering bermain ke tempat ini, entah hanya sekedar untuk melihat-lihat, jalan-jalan, makan malam  atau menginap di salah satu hotel yang ada di sana.  Tempat ini sebenarnya adalah sebuah kompleks yang terdiri atas Shopping Mall yang disebut Sunway pyramid, taman rekreasi Sunway Lagoon, hotels dan restaurant.  Berjarak tempuh kurang lebih sejam  naik taxi dari bandara International Kuala Lumpur (KLIA).

Mengapa tempat ini menarik? Menurut saya, tempat ini sangat indah. Walaupun secara umum sebenarnya saya kurang menyukai kehidupan kota yang gemerlap lengkap dengan hiruk pikuk soal pershoppingan dan gaya hidup yang memboroskan uang, namun tempat ini terasa agak berbeda dengan kompleks pertokoan-hotel yang pernah saya tahu di tempat lain.

Pada dasarnya adalah karena  tempat ini memang sengaja dibuat indah. Kompleks pertokoannya sengaja mengambil thema Egypt, dengan bentuk bangunannya yang menyerupai Pyramid lengkap dengan patung singa yang bergaya menyerupai Sphynx  sang penjaga pyramid. Pillar bangunannyapun ditatah dengan tulisan hyerogliph – pokoknya ala Mesir banget deh.  Hal menarik lain adalah karena Mall  ini memiliki  lapangan “ice skating’ indoor, sehingga ketika kita lelah berjalan-jalan, atau harus menunggu karena janjian dengan seseorang – maka untuk membunuh kebosanan, kita bisa melongok ke bawah untuk melihat aktifitas di Ice Skating ring. Selain tentunya toko-toko yang menjual barang-barang bermerk, sudah pasti berbagai jenis restaurant juga ada di situ.  Tempat rekreasinya juga sangat menarik. Kolam renang yang besar, perosotan air raksasa dan air terjun raksasa dengan latar belakang hutan buatan yang hijau.Tidak heran  pada hari Sabtu kemarin, kolam renang besar yang ada di sana tiba-tiba menjadi sangat padat  dan penuh dengan orang yang berdatangan mau berenang- hingga lalu lintaspun terganggu.

Suatu malam sepulang urusan kerja, saya janjian dengan teman saya untuk makan malam di sana. Sangat dekat dengan hotel tempat saya menginap. Cukup jalan kaki – semenit juga sampai.  Awalnya agak tidak punya ide untuk makan apa dan di restaurant apa, tapi kemudian kami memilih restaurant Taiwan saja.  Cocok untuk lidah saya yang Indonesia banget dan lidah Hongkongnya. Saya mencoba potato ball yang rupanya adalah ubi rambat kuning (sweet potatoes) yang dibuat bulat-bulat mirip bakso lalu digoreng, lalu saya juga memesan Jamur King Oyster goreng yang enak banget  dan sayuran Kecipir yang dimasak ala Taiwan. Hmm..lebih enak daripada yang biasanya saya masak. Kami mengobrol ke kiri dan ke kanan hingga larut malam.

Sehabis makan saya menemani teman saya melihat-lihat di sebuah toko sepatu wanita namun tak sempat memilih, karena toko itu keburu tutup. Dari sana sayapun keluar, lalu berjalan-jalan sebentar di bawah langit malam. Menikmati dekorasi cahaya yang menghiasi hotel-hotel dan pertokoan. Sungguh indah. Tengah malam, berdiri di halaman Sunway seorang diri – membuat kita serasa sedang berada di negeri dongeng Seribu Satu Malam.

Cahaya yang berpendar dari lampu jalanan yang berbentuk bintang dan bulan sabit, terasa sangat sejuk dan artistik.  Namun entah kenapa, ketika melamun terlalu jauh, saya jadi membayangkan akan keluar seorang penyihir yang terbang berputar-putra di langit malam itu dengan sapunya. Ups! Berharap ia tidak sedang melihat saya yang sedang usil memotret.

Lalu tirai-tirai cahaya yang dihiasi motif-motif bulatan-bulatan yang umum kita temukan pada bulu burung Merak biru yang berasal dari Srilanka ataupun India. Wahai alangkah indah dan cantiknya.  Gemerlap dalam lingkaran kuning, jingga ,hijau dan biru. Lalu ada patung-patung gajah yang temaram disinari cahaya redup, vas-vas bunga yang bercahaya, gading, bunga-bunga cahaya dan pilar-pilar yang bermandikan cahaya.  Semuanya terlihat indah, seolah saya sedang berada di halaman istana Maharaj.  Saya dikelilingi cahaya.! ooh.. Alangkah indahnya hidup ketika dikelilingi cahaya.

Seketika saya teringat, sebentar lagi hari Deepavali, the Festival of Light  yang jatuh pada tanggal 2 atau 3 Nov ini.  Festival ini konon dirayakan sebagai peringatan atas kembalinya Sitha dari Alengka ke pangkuan Rama suaminya di Ayodhya. Konon malam saat mereka pulang, jalanan sangat gelap sehingga para penduduk menyalakan lampu agar mereka bisa pulang dengan selamat.

Happy Deepavali…

Catatan Dari Bandara Ke Bandara: TKI Oh TKI…

Standard

Setelah menempuh penerbangan selama dua jam  dari Kuala Lumpur, sampailah saya di  Jakarta. Pesawat merapat ke terminal. Saya berkemas turun dan berdiri di alley pesawat. “Adik ke Jakarta, kan?” tanya seorang Ibu di belakang saya..”Ya, Bu. Saya ke Jakarta.  Ibu juga dari Kuala Lumpur?”. Jawab saya. Ibu itu mengiyakan. “Dik, nanti saya tolong dikasih tahu caranya  ya. Saya bingung caranya pulang. Belum pernah sebelumnya”.  Ia mau ke Pamulang, tapi saudaranya yang awalnya mau jemput ternyata memberi kabar tidak bisa menjemput.  Ok. Saya lalu menawarkan, bahwa Ibu itu boleh ikut saya sampai di Cileduk atau Bintaro. Dari sana bisa mengambil taxi sendiri ke Pamulang. Sudah dekat dan lumayan bisa irit ongkos.

Lalu ia bercerita banyak. Bahwa ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Majikannya cukup baik. Namun menurutnya pekerjaannya sangat melelahkan. Ia jarang sekali mendapat istirahat.  Kerja terus dari pagi sampai larut malam. Istirahat sebentar. Subuh harus bangun lagi utuk  bekerja. Mulai mengurus anak,  membersihkan dan merapikan rumah, mencuci gosok, memasak di dapur dan sebagainya. Semua ia kerjakan sendiri. Tidak ada pembantu lain. Ooh! Kasihan sekali. Berat juga ya?

“Tapi, dik.  Agent saya jahat sekali” Katanya mengeluh kepada saya. “Saya dipindahkan terus dari  satu agent ke agent yang lain. Dijanjikan pulang setelah dua tahun. Tapi sampai lima tahun saya ditahan terus. Dan inipun setelah saya  nekat mau melapor, barulah saya diperbolehkan pulang.” katanya. Perasaan saya tidak enak mendengarkan itu. Bagaimana bisa seorang manusia ditransaksikan sedemikian rupa dari satu agent ke agent yang lain dan dicabut haknya untuk pulang dan bertemu keluarganya begitu saja.

Kami melewati gerbang imigrasi. Saya lihat pasport ibu itu warnanya hijau muda, sedikit berbeda dengan warna kulit pasport saya.  Saya tidak tahu,apakah  itu cuma variasi warna hijau saja  atau memang semua pasport TKI warnanya hijau muda ? Petugas itu bertanya “Lho? Ibu belum pernah pulang dalam 5 tahun terakhir ini ya?” yang dijawab oleh ibu itu ”Ya Pak. Soalnya agent saya menahan saya terus” Petugas itupun bertanya lagi “ Oh, jadi ibu bekerja di sana?”  “ Iya, Pak” Petugas lalu memberikan  passport ibu itu kembali.

Saya mengajak ibu itu  ke rest room, lalu  menemani saya mengambil bagasi terlebih dahulu. Ia bercerita bahwa ia terpaksa menjadi TKI, karena mantan suaminya (almarhum) penjudi dan meninggalkan sisa utang sebesar 10 juta rupiah  yang harus ia bayar.  Jika tidak, maka rumah satu-satunya yang mereka miliki akan disita. “Kalau tidak begitu, bagaimana nasib kedua anak saya dan ibu mertua saya? Tidak bisa  makan. Tidak punya tempat tinggal. Saya kangen sekali anak saya. Sudah  lima tahun saya ditahan terus di Malaysia. Tidak diperbolehkan ke Indonesia.” Katanya dengan airmata mengambang. Saya jadi ikut terbawa oleh kesedihannya. Saya melihat kemuliaan hati seorang ibu di hadapan saya. Pengorbanan demi anak-anaknya. Betapa menyedihkannya.

Ia juga menyebutkan kepada saya, mengenai besaran penghasilannya dalam ringgit. Ketika saya kurs 1 ringgit = Rp 3 000,- saya agak terkejut. Ternyata hanya sekitar 25% lebih tinggi dari rata-rata gaji pembantu di Jakarta.  Sebenarnya banyak juga rumah tangga yang membayar lebih tinggi atau sama dengan itu. Pekerjaannya pun lebih santai dan tidak capek, karena banyak yang membayar 2 atau 3 orang pembantu rumah tangga sekaligus.  Bervariasi sih. Dan sayang, ibu itu ternyata tidak tahu berapa kurs ringgit. Sehingga tidak tahu, berapa jumlah gajinya dalam rupiah. Weleh! Pahit bener!. Dan lebih pahit lagi mendengarnya,  ternyata ibu itu pulang tanpa membawa uang. Uangnya masih disimpan majikannya. Katanya nanti akan ditransfer. Ya..ampuuun!.

Menjelang pintu keluar, dua orang petugas menghampiri kami.  Seorang wanita muda yang sangat cantik dalam pakaian dinasnya ditemani oleh seorang pria.  Ia minta agar ibu itu menunjukkan pasportnya.  Saya menghentikan langkah saya. Petugas mempersilakan saya keluar. Saya tidak bergerak, karena saya sudah berjanji kepada ibu itu untuk menolongnya pulang.  Wanita cantik itu berkata, bahwa ibu itu seharusnya melewati jalur khusus TKI.  Ooh, OK. Saya tidak ngeh sebelumnya. Salah ya?

Lalu saya bertanya, proses apa yang harus dijalani oleh ibu itu dan berapa lama?  Saya akan menunggunya sampai selesai. Wanita itu menolak menjelaskan kepada saya prosesnya dan menyuruh saya meninggalkan saja ibu itu, karena nanti akan ada yang mengantarkannya pulang. Ibu itu merengek, minta tolong  jangan ditahan. Ia ingin dilepaskan karena  ingin ikut saya, cepat pulang dan cepat bertemu anaknya. Tapi petugas tetap menyuruhnya  lewat jalur itu.  Karena begitu peraturannya. Oke, kalau begitu aturannya, saya membujuk ibu itu untuk mengikuti prosedur yang benar. Sebagai warga negara yang baik, sebaiknya kita mentaati aturan dengan baik.

Ibu itu merengek lagi, “Ibu ini saudara saya. Saya ingin ikut dengannya”  katanya menunjuk saya.  Saya pikir ibu itu sekarang mulai ngacau untuk menyelamatkan dirinya. Saya tidak mau dilibatkan dalam sebuah kebohongan.  Akhirnya saya jelaskan apa adanya kepada petugas “ Saya bukan saudaranya. Saya hanya penumpang biasa yang kebetulan bertemu dengannya di pesawat. Merasa kasihan dan bersedia membantunya. Saya akan menunggu di luar. Silakan di proses”.

Saya tidak mau melakukan sebuah pelanggaran apapun. Saya hanya mau menolong orang yang kesusahan.  Tapi tidak mau menolong orang melakukan pelanggaran hukum.  Saya lalu bertanya kepada petugas, apa yang akan dilakukan oleh petugas terhadap ibu itu? Petugas tidak mau menjelaskan kepada saya. “Nanti  ibu akan tahu di sana saja” kata wanita cantik itu kepada ibu TKI itu tanpa menjawab kepada saya. Aneh juga!. Berala lama? Sejam? Dua jam? Sehari? Dua hari? Seminggu?  Aneh!. Petugas tetap menyuruh saya pulang saja dan jangan menunggu. Meyakinkan saya,bahwa ibu itu pasti akan diantarkan pulang.

Karena saya tahu ibu itu tidak membawa uang, lalu saya bertanya lagi kepada petugas, apakah Ibu itu nantinya perlu melakukan suatu pembayaran kepada petugas? Ibu itu  mengatakan bahwa ia  tidak punya uang jika harus membayar sesuatu kepada petugas. Mendadak saya lihat wajah wanita cantik itu berubah ketus dan suaranya kedengeran seperti membentak di telinga saya “ Nah itulah masalahnya, kenapa ibu tidak mebawa uang? Sudah berapa lama ibu bekerja ?” .  Ibu itu menjawab setengah menangis” Lima tahun”. Wanita itu bertanya lagi.  ” Mengapa lima tahun bekerja , tidak membawa uang?”. Gila!! Aneh banget sih menurut saya pertanyaannya.  Apa memang  harus begitu ya?  Saya bingung deh melihat pemandangan itu.

Ini baru pertamakalinya saya melihat adegan seperti ini. Saya melihat ke wajah ibu itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sinar matanya penuh permintaan pertolongan kepada saya. Namun saya tidak bisa menolongnya. Karena saya juga tidak mengerti bagaimana aturan kepulangan TKI di negara kita.  Dan saya pikir, sebaiknya setiap warga negara harus  mengikuti peraturan yang berlaku. Saya urungkan niat saya untuk memberinya uang ala kadarnya untuk sekedar bekal. Karena saya takut nanti malah mempersulit keadaannya. Tapi saya merobek secarik kertas dan meninggalkan nomor telpon saya, seandainya ia masih ingin berteman dengan saya suatu saat nanti. Lalu saya mengucapkan selamat tinggal dan berdoa semoga semuanya berjalan baik-baik saja. Semoga negara memelihara dan melindunginya dengan baik.

Sayapun keluar.  Masih sempat saya mendengar suara petugas itu yang memerintahkan ibu itu untuk berjalan lurus terus sampai ke gerbang di mana ada tulisan “ Selamat Datang Pahlawan Devisa”. Saya mendengarnya dengan getir. Mengapa pahlawan devisa diketusin ya?  Hati saya rasanya seperti teriris. Pilu.

Di perjalanan pulang, tatapan mata ibu itu terbayang terus di mata saya.  Saya baru saja menyaksikan sepenggal drama  kehidupan seorang Ibu yang berusaha membantu memecahkan kesulitan keluarganya dengan segala kepahitan dan kegetiran yang harus dijalaninya.  Seorang wanita yang mulia.

Tak terasa air mata saya meleleh …

Subang Jaya, Chinese Food Dan Burung Gagak.

Standard

 

Sebelumnya saya pernah berjanji ke diri saya sendiri akan menulis setiap perjalanan saya. Mengingat bahwa perjalanan-perjalanan saya di masa yang lalu  sebelum ada blog tidak saya dokumentasikan. Bahkan foto-foto atau cindera matapun  tidak ada. Saya merasa sangat sayang. Padahal jika saya dokumentasikan, barangkali banyak yang bisa saya kenang kelak bila saya sudah sangat tua dan tidak bisa lagi bepergian. Sama seperti perjalanan sebelumnya, perjalanan saya minggu ini ke Malaysia sudah pasti untuk urusan pekerjaan. Dan sudah jelas kondisinya: tak bisa jalan-jalan semaunya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan waktu yang ada, tanpa merugikan perusahaan. Tentu saja saya sudah merasa sangat bersyukur dan sangat berterimakasih kepada perusahaan tempat saya bekerja sehingga saya bisa mendapatkan kesempatan berharga seperti itu. Read the rest of this entry