Tag Archives: Maldives

Kisah Petualangan: Di Bawah Langit, Di Atas Laut.

Standard

maldives - night

Malam menjelang. Tibalah waktunya saya meninggalkan Pulau Maafushi. Ali mengantarkan kami hingga ke dermaga, masuk ke dalam  dan menunggu hingga speedboat bergerak ke tengah lautan. Saya melambaikan tangan saya penuh rasa terimakasih atas perhatiannya. Ali Murthala, pemilik Stingray Beach Inn ini masih tetap berdiri di dermaga, hingga bayangan speedboat yang kami tumpangi hilang di kegelapan malam. Sekali lagi saya mengagumi kesopanan, kesederhanaan dan kerendahan hati pria ini.

Speedboat sekarang melaju dalam kegelapan. Musa menjadi kapten kami malam ini didampingi oleh Mohamed. Semuanya tampak gelap. Lampu mati. Yang ada hanya lampu kecil di bagian depan kapal untuk memberi tanda tentang keberadaan kami kepada setiap kapal lain yang melintas. Saya tidak mampu melihat apa-apa. Semuanya hitam pekat. Yang ada hanya desir angin dan deru ombak. Hingga beberapa menit kemudian, kami telah benar-benar berada di tengah lautan. Namun kali ini saya merasa sangat tenang. Saya tahu bahwa saya berada di tangan Musa yang handal dan dapat dipercaya. Read the rest of this entry

I Hope This Flower Will Remind You of Me…

Standard

Bunga Waru Laut

Sore hari saya berjalan  menyusuri dermaga. Melihat kesibukan yang terjadi. Ibu-ibu berbaris memancing  ikan untuk makan malam, pedagang menurunkan barang dagangannya dari kapal, anak-laki-laki menarik tali perahunya, dan burung gagak juga tak kalah sibukanya berkoak di pelabuhan. Saya memotret suasana sore di pulau Maafushi itu. Beberapa orang anak-anak yang sedang bermain nakhoda-nakhoda-an di atas sebuah beton bekas monumen, melihat ke arah saya dan memanggil minta dipotret.  Senampan kecil kembang waru laut berwarna jingga tampak bersama mereka. Rupanya mereka baru saja habis mengumpulkan kembang-kembang  itu dari pohonnya yang banyak tumbuh di sana. Saya pun mendekat dan segera memotret mereka. Anak-anak yang ceria. Penuh canda tawa. Terlihat mereka sangat senang bergaya di depan kamera. Tanpa saya suruh, malah pada berjoget dengan riangnya diatas beton itu. Read the rest of this entry

Maldives : The More Pampering Side.

Standard

Maldives -Anantara

Daripada hanya bengong di Maafushi, Ibrahim menceritakan beberapa hal yang bisa kami lakukan  untuk mengisi liburan. Misalnya kita bisa  menikmati tamasya  bawah laut dengan kapal Submarine terbesar di dunia. Kelihatannya menarik juga sih. Lalu Resort-resort mewah papan atas yang bertebaran Maldives.  Atau bermain ke Pulau Biyaadhoo yang hijau menikmati restaurant dan spa yang ada di situ dengan entry fee yang lebih murah. Atau Pulau  Fihaalhohi, Kandooma, Maadhoofinolhu dan sebagainya. Tentunya dengan fee yang beragam. Read the rest of this entry

Maldivian Art: Oil’s Drops On Water.

Standard

Pernahkan anda melihat tetesan-tetesan minyak tanah yang tumpah dan mengambang di air? Ada rasa nyesek dan sedih kelita kita melihatnya, karena memikirkan pencemaran yang terjadi dan tentu saja merasa sayang kalau  memikirkan berapa rupiah yang terbuang percuma begitu saja akibat tumpahan minyak itu. Namun jika kita perhatikan baik-baik, kadang-kadang tumpahan minyak meninggalkan bentuk-bentuk berupa bulatan, lonjong, garis lengkung, gelombang dan sebagainya yang cukup indah juga. Apalagi terkadang kita melihat kilauan warna biru, hijau, pink dan sebagainya yang bercampur baur. Sehingga secara keseluruhan terkadang kita melihat image-image yang mencengangkan juga darinya.  Saat SD, saya juga ingat pernah diajak oleh guru saya melakukan ‘expriment seni’ dengan menumpahkan Cat berberapa warna di dalam sesember air, mengaduknya lalu menempelkan kertas gambar di atas permukaannya. Kami biarkan hingga kering,maka terciptalah lukisan-lukisan indah yang menakjubkan. Sangat menarik!. Read the rest of this entry

Maldivian Art : Sea Inspirations.

Standard

Saya selalu senang melihat-lihat lukisan. Lukisan bagi saya adalah ekspresi alam imajinatif sang seniman yang ditransfer ke dunia nyata sehingga bisa ditangkap oleh orang lain. Kemanapun saya pergi, mata saya seolah selalu terhipnotis oleh pesonanya. Begitu juga ketika saya berada di Maldives. Begitu memasuki sebuah artshop, maka mata saya lagsung terpaku pada berbagai lukisan yang tergantung di dinding. Saya senang melihat gaya lukisan yang berbeda-beda dari satu seniman ke seniman lainnya. Dari satu tempat ke tempat lainnya.Dari satu gaya lukisan ke gaya lukisan lainnya. Semuanya terasa memperkaya pengalaman bathin saya. Read the rest of this entry

Maafushi: Hidup Damai Tanpa Keserakahan.

Standard

Sebelum saya melanjutkan cerita tentang perjalanan saya di Maafushi, mungkin ada baiknya saya bercerita sekilas tentang Maldives terlebih dahulu. Negara ini terletak di Samudera Hindia, di bawah ujung India. Terdiri atas gugusan pulau-pulau Atoll yang berjumlah 26 buah. Setiap lingkaran Atoll terdiri atas ratusan pulau-pulau kecil, sehingga jika ditotal, jumlah pulau yang membentuk negara Maldives itu kurang lebih 1 200 –an. Namun tidak semua dari pulau itu berpenghuni. Barangkali hanya 200 an buah saja yang didiami manusia. Sisanya adalah pulau-pulau kecil yang kosong. Bahkan diantaranya ada yang hanya bantaran pasir putih belaka. Oleh karena itu, barangkali Maldives adalah negara Asia yang paling kecil dari sudut jumlah penduduk dan luas daratannya.

Pulau Maafushi tempat saya menginap adalah salah satu dari gugusan pulau-pulau yang terdapat pada rantai Atoll yang bernama Kaafu Atoll. Pulau ini berukuran sangat kecil. Memiliki panjang 1 kilometer dan lebar 200 meter. Nah, bisa dibayangkan jika kita berdiri di tengah pulau,maka dengan jelas kita akan melihat laut 100meter di depan kita dan 100 meter di belakang kita. Sisi yang satu adalah ‘Lagoon’ dari cincin atoll sementara sisi yang satunya lagi adalah “Samudera Hindia”.Dan pulau ini, seperti halnya pulau-pulau lain di Maldives, hanya memiliki ketinggian 1,5 meter di atas pemukaan laut. Agak ngeri jika memikirkan gelombang dan tsunami, namun pada faktanya pulau ini sudah dihuni selama berabad-abad. Konon sangat jarang air laut bisa naik lebih dari setengah meter. Saya mendapatkan penjelasannya, barangkali karena pulau ini adalah pulau koral yang bisa dikatakan ‘mengambang’ di permukaan laut dan selalu fleksible mengikuti ketinggian laut. Kecuali jika memang terjadi bencana gempa yang luar biasa seperti pada tahun 2004. Read the rest of this entry

Kisah Petualangan: Menggelandang Ke Maldives III.

Standard

Kami berada di dalam speedboat yang akan mengantar kami ke Maafushi. Kapal disetir oleh Musa. Dan ditemani oleh Ali.  Kemanapun mata memandang, yang ada adalah laut dan hanya sedikit daratan kecil-kecil. Langit cukup cerah. Matahari tetap bersinar, walaupun ada sedikit mendung menggelantung di langit. Perahu bermotor itupun bergerak melaju membelah gelombang air laut.

Gelombang Laut Yang Meningkat.

Saya duduk di belakang. Awalnya saya cukup menikmatinya. Beberapa saat kemudian terasa oleh saya  gelombang semakin lama semakin besar. Terutama setiap kali kami harus melintasi jejak  kapal lain yang lewat sebelum kami. Gelombang laut terasa membesar dan mengguncang  perahu.  Gujrak! Gujrak! Gujrak! Musa meningkatkan kecepatan perahu. Saya semakin  merasakan gerakan perahu yang semakin kencang. Ombak yang membesar. Ooh, sekarang saya mulai menyadari bahwa kami berada  di tengah Samudera Hindia yang luas dan lepas tanpa akhir. Di dalam sebuah speedboat kecil, yang hanya berupa setitik debu kecil tak bermakna di tengah luasnya samudera ini. Entah kenapa, perasaan saya menjadi tidak enak. Oh, jika speedboat ini sampai terbalik bagaimana?  Saya bukan perenang yang baik.Jika misalnya terjadi yang terburuk, bisa-bisa saya akan terdampar di Kutub Selatan. Memikirkan itu, denyut nadi saya meningkat drastis dan rasanya kepala saya jadi pusing. Saya lalu meminta tolong agar Musa menurunkan kecepatannya. Ali melihat ke arah saya berkali-kali. Read the rest of this entry

Kisah Petualangan:Menggelandang Ke Maldives II.

Standard

Setelah kurang lebih setengah jam penerbangan dari Trivandrum,  akhirnya pesawat Air India yang saya tumpangi  memasuki wilayah negara Maldives. Pesawat menurunkan ketinggiannya. Saya melongokkan kepala saya di jendela dan melihat pemandangan yang luarbiasa indahnya dari udara. Pulau-pulau kecil yang hijau dikelilingi pantai pasir putih bersih yang berkilau, lalu diluarnya laut dangkal penuh koral yang berwarna hijau, sebelum akhirnya laut dalam yang berwarna biru. Ada banyak sekali pulau-pulau yang seperti itu. Sayang sekali lagi sayang, saya tidak boleh mengambil fotonya dari dalam pesawat.

Beberapa menit kemudian akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di MALE international Airport. Pramugara membukakan pintu dan mempersilakan saya keluar sambil tersenyum “Now, you are in Maldives for sure..”  Katanya. Ha ha .. saya jadi malu juga memikirkan itu. Setelah mengucapkan terimakasih kepadanya, sayapun berlalu. Read the rest of this entry

Kisah Petualangan: Menggelandang Ke Maldives I.

Standard

Setelah usai melakukan urusan kantor di India, maka sayapun segera pamit dan tidak lupa mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengunjungi negara itu.  Rekan –rekan saya kebanyakan langsung pulang kembali ke negaranya masing-masing.  Saya sendiri berencana akan mengunjungi Maldives  bersama dua orang teman saya. Alasannya adalah karena jarak dari Bangalore ke Maldives sangat dekat.  Tentu biayanya lebih murah.

Namun beda dengan perjalanan ke India yang dibiayai oleh kantor, perjalanan ke Maldives ini adalah atas biaya kami sendiri.  Jadi untuk irit-irit ongkos, kamipun akhirnya memutuskan untuk ‘menggelandang’ saja. Mencari penginapan yang murah meriah dan membuat acara dengan ongkos terjangkau. Read the rest of this entry

Catatan Dari Bandara Ke Bandara: Kuala Lumpur.

Standard

Hari ini saya  berniat balik kembali ke Jakarta, setelah  setelah menghabiskan beberapa waktu di Selangor. Tukang taxi yang mengantarkan saya ke bandara di Kuala Lumpur menyebutkan ongkos yang harus saya bayar. 65 ringgit. Lalu ia bertanya, apakah saya membutuhkan bon. Ya, saya bilang saya membutuhkannya untuk saya claim ke kantor. Berikutnya ia bertanya lagi, apakah saya ingin menuliskannya sendiri atau ia yang akan menuliskannya? Sejenak saya mengernyitkan alis saya. Maksudnya apa ya? Tentu saja ia yang harus menuliskannya. Kan ia yang menerima duitnya?

Belakangan saya mengerti bahwa,  ternyata ia memberi saya kesempatan, jika saya ingin berbuat curang menulis angka sendiri sesuka saya di bon, sehingga saya bisa claim lebih ke kantor. Ia memberi isyarat bahwa banyak orang yang berbuat seperti itu. Oops!. Parah juga rupanya!. Tidak habis pikir rasanya, mengapa kecurangan sejenis ini disupport ya?.Tapi saya tidak ingin berpikir lama-lama. Biarlah itu urusan orang lain. Saya memilih jalan hidup saya sendiri. Simple saja. Bayar apa adanya. Dan claim apa adanya. Hidup kita akan jauh lebih mudah jika menghindarkan diri dari praktek kecurangan. Live life in simplicity. Ga usah neko-neko!

 Setelah membayar taxi dan mengucapkan terimakasih kepada pengemudinya, sayapun bergegas ke counter check in. Agak lumayan, karena saya menumpang penerbangan Malaysia, jadi saya tidak perlu berlari-lari mengejar sky train untuk pergi ke terminal udara yang lain.  Jadi saya masih sempat membasuh muka saya, merapikan diri lalu berjalan santai sambil melihat-lihat. Memotret sebuah accessories interior di langit-langit bandara yang terlihat artistik. Baling-baling dengan design mirip papan selancar. Lalu mampir ke Duty Free untuk membelikan anak saya coklat.

Di dekat ruang tunggu,  tanpa sengaja saya melihat seorang teman saya yang berkebangsaan India  sedang menggeret kopernya. Setahu saya ia berangkat sebelum makan siang. Oh,mengapa ia masih berada di bandara sesore ini? Rupanya banyak hal yang melelahkan dan membuat bete telah terjadi, yang menyebabkan penerbangannya mundur ke sore. Ia pun menceritakan uneg-unegnya ke saya. Saya mendengarkannya dan berharap ia lega setelah berhasil bercurhat ria kepada saya.  Seusainya, saya kemudian memeluk dan mencium pipinya, sambil mendokan keselamatan baginya dalam perjalanannya.Semoga ia mendapatkan hari yang menyenangkan bersama keluarganya sesampai di rumah.

Persis di depan ruang tunggu, saya diberi informasi bahwa saya belum boleh masuk. Karena pesawat yang akan saya tumpangi belum datang. Celangak celinguk sendirian,akhirnya saya mencari tempat duduk.  Seorang gadis berambut panjang  duduk sendiri bersama ransel dan tasnya tersenyum kepada saya. Saya merasa senang.Setidaknya ada orang yang memberikan senyum sebelum saya sempat tersenyum terlebih dahulu.

“Hai!” Kata saya. Dari wajahnya, saya menebak ia orang Indonesia. “Silakan duduk, Bu” ajaknya mempersilakan saya duduk di sebelahnya. “Ibu mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab bahwa saya akan ke Jakarta.Ia bilang bahwa ia akan ke Maldives dan tinggal di situ setahun teakhir ini. Sayapun memanfaatkan kesempatan untuk  bertanya-tanya sedikit tentang Maldives. Mana daerah yang enak dikunjungi, yang murah  meriah tanpa harus bermain air. “Nggak ada. Semuanya mahal.Semuanya air” katanya tertawa. Setelah mengobrol beberapa lama ia bertanya, dari mana saya berasal di Indonesia. Saya bilang dari Bali. Dengan cepat ia mengatakan bahwa ia juga berasal dari Bali. Oh! Di mananya di Bali? Saya bilang di Bangli. Di Kintamani. Dia tampak terkejut. “Lho, saya juga dari Kintamani” katanya. Giliran saya yang terkejut. Kintamani mana? Dia menyebutkan sebuah desa. Oh! Tentu saja saya tahu desa itu. Saya lalu mengatakan bahwa saya juga punya keluarga di desa itu. Lagi-lagi dia terkejut. Akhirnya usut punya usut, ternyata masih berkerabat dengan kerabat saya juga. Ah, dunia memang benar-benar selebar daun kelor.

Kami berpisah, karena gerbang ruang tunggu saya sudah dibuka.  Saya melambaikan tangan saya dan memintanya agar hati-hati di jalan dan menjaga dirinya dengan baik di negeri orang.

Namun penerbangan rupanya ditunda akibat cuaca buruk. Dengan memanfaatkan wifi gratisan di bandara, akhirnya saya membunuh waktu dengan berkomunikasi dengan orang-orang yang saya cintai di tanah air. Betapa saya merindukan mereka. Saya memandang ke luar jendela kaca bandara. Hujan turun masih deras dan langitpun gelap berkabut. Sepi dan kesendirian mendera. Alangkah tidak enaknya bepergian sendiri.

Oh, tapi layakkah saya mengeluh? Karena tuntutan pekerjaan, saya melakukan cukup sering perjalanan dari satu bandara ke bandara yang lain. Namun tentu saja perjalanan saya tidak seberapa sering dibandingkan orang-orang yang karena tuntutan pekerjaan harus selalu berada di atas kapal dan jauh dari keluarga serta orang-orang yang dicintainya? Bagaimana dengan para pilot, para pramugari, para pelaut atau bahkan mereka yang bekerja sebagi tenaga kerja di negara asing?

“…cause  I’m leavin’ on  a jet plane, don’t know when I’ll be back again. Oh babe, I hate to go…” suara lembutnya Chantal Kreviazuk terngiang di telinga saya. Nah, lagu itu lebih menyedihkan lagi. Masih untung saya tidak mengalaminya.

 Setidaknya  masalah saya masih jauh lebih ringan. Dan saya masih memiliki orang yang mencintai saya dan mendoakan keselamatan saya diperjalanan. Sekarang, saya tahu maknanya bersyukur…