Tag Archives: Management

Final Execution.

Standard

Hari ini libur. Yeiiii!.Benar benar libur. Saatnya melakukan hal yang menyenangkan dalam hidup. Mengurus tanaman di halaman. 
Ide ini sebenarnya sudah diniatkan sejak beberapa hari yang lalu. Gara garanya waktu itu saya ingin memotret cabe saya yang berbuah sangat lebat dan banyak yang memerah. Tapi malang nasib saya, begitu saya mengambil hape buat motret, lho???? Pada kemana ya buah cabe saya yang merah-merah itu kok pada menghilang dari pohonnya? Tinggal cuma sedikit yang tersisa…
Saya pun bertanya kepada orang rumah, siapakah yang sudah memetik cabe saya tanpa ijin? Tak seorangpun mengaku. Heran kan?
Setelah malam akhirnya teka tekinya terpecahkan. Ternyata pemetiknya adalah pak Supir yang setiap hari mengantarkan anak anak pulang pergi ke sekolah. Dengan muka tanpa dosa Pak Supir bilang “Saya Bu yang metik. Soalnya kasihan cabenya sudah merah-merah. Ketuaan.Ntar keburu jatuh atau dipatokin ayam. Semuanya sibuk. Jadi saya bantuin panen. Terus saya sudah simpan di dapur, Bu”. Yaaaah….gagal deh motret-motretnya.
Tapi memang benar sih, karena terlalu sibuk belakangan saya tidak sempat memetik hasil tanaman lagi. Melihat cabe berbuah banyak dan merah merah saya sangat senang dan membiarkannya begitu saja menjadi penghias halaman. Saya lupa kalau cabe dan tomat dan apapun itu di funia ini punya yang namanya batas waktu. Jika saya biarkan dan tidak petik-petik, akibatnya banyak tanaman saya yang kadaluwarsa….
Buah cabe yang kering di pohon atau jatuh ke tanah.

image

Buah tomat dengan nasib yang sama. Tua, kering dan keriput di pohon. Atau jatuh ke tanah.

image

Kangkung yang ketuaan. Batangnya menjalar kemana mana dan berbunga. Tentunya tidak ada diantara kita yang ingin masak bunga kangkung bukan?

image

Kailan juga mulai nenunjukkan putik bunganya. Aduuuh ketuaan ini.

image

Demikian juga pohon kemangi. Sudah tua tua. Banyak bunganya ketimbang daunnya.

image

Bayam telat memetik. Pada dimakanin ulat. Aduuuuh….

image

Tidak kalah kadaluwarsanya si timun padang. Pada merah merah dan berjatuhan di tanah.

image

Semua itu menyadarkan saya bahwa urusan memanen yang merupakan sebuah final execution dari sebuah proses berkebun,  kelihatannya sepele dan mudah, tetapi sebenarnya bisa mengakibatkan kegagalan dan kesia-siaan jika saya tak mampu mengeksekusinya dengan baik dan tepat waktu.

Sayuran, cabe, tomat, timun adalah bahan baku makanan. Menyia-nyiakannya dengan terlambat memanen sama saja dengan menyia-nyiakan makanan. Bukan perbuatan terpuji. Jika tak sempat memetik sendiri harusnya lain kali saya mempersilakan orang lain / tetangga untuk memetik dan memanfaatkannya.

Berikutnya, jika kita melihat kembali proses membibit, menanam, memelihara tanaman sayuran ini, maka sebenarnya saya sudah membuang-buang waktu saya selama ini dengan sia sia hanya gara gara kurang disiplin pada bagian akhir dari sebuah proses menanam. Karena ujung-ujungnya hasilnya tidak saya manfaatkan juga. Idealnya investasi waktu kita, jangan sampai sia sia hasilnya hanya gara gara kita terlambat mengeksekusi final prosesnya.

Sambil membersihkan instalasi hidroponik , saya berpikir-pikir. Dalam kehidupan serta pekerjaan sehari-hari pun sebenarnya hal ini berlaku juga. 
Sering sekali kita sudah memiliki gagasan yang menarik, sudah membuat perencanaan dengan baik, juga sudah mengeksekusinya dengan tidak kalah baiknya hingga hampir rampung. Di ujung tahap penyelesaian, mulailah kita lengah dan lupa daratan dan tidak mempush diri kita lagi untuk menyekesaikannya dengan baik. Apalagi jika sempat mrlihat hasilnya yang bagus pada saat 90% hampir rampung, kita menyangka bahwa hasil yang bagus itu akan berlanjut begitu saja. Padahal tidak ada yang menggaransi seperti itu. Untuk mendapat hasil yang bagus, kita harus mengeksekusi dengan sama baiknya di setiap tahap dari tahap awal hingga tahap final.

Selain tetap fokus di final execution,  kita juga tetap perlu mengeksekusi dengan mempertimbangkan waktu. Ibaratnya hasil tanaman yang memiliki batas usia – dimana jika tidak cepat dipanen nanti keburu terlalu tua, kering, jatuh, atau busukvatau dimangsa mahluk lain – segala seduatu di dunia ini punya batas waktu yang menuntut kita untuk segera melakukan final eksekusi sebelum segala sesuatunya berubah. Entah itu perubahan karena jaman, karena trend maupun perubahan prilaku masyarakat di sekitar. Jika tidak kita eksekusi dengan baik pada waktu yang tepat di tahap final, tidak perduli betapapun bagusnya gagasan, perencanaan dan eksekusi di tahap awalnya, maka keseluruhan project itu tetap tidak akan berhasil dengan baik.

Kesabaran Dan Pemahaman Situasi.

Standard

MacetSaya harus berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Karena ada schedule conference call pukul 7.30 pagi. Rencana saya, jika tiba lebih pagi, sisa waktu akan saya gunakan untuk membaca materi yang akan saya diskusikan sebelum conference call. Sempat terpikir, apakah sebaiknya masuk tol saja?. Hmmm.. Belum lama ini saya sempat lewat jalan tol, tapi apes banget. Saat itu tol malah lebih macet dari jalan biasa dan saya telat nyampai ke kantor. Kali ini saya tidak mau mengambil resiko.

Akhirnya saya menempuh jalan biasa. Lewat Pondon Aren -Ciledug – Cipondoh- Poris lalu masuk Daan Mogot. Lumayan lancar hingga keluar dari pertigaan Ciledug. Selepas itu, lalu lintas ternyata sangat padat.Antrian panjang sekali, sehingga laju kendaraan lambat. Beberapa kali harus berhenti. Makin lama lalu lintas makin macet, bahkan  sebelum jembatan Kali Angke, lalu lintas berhenti bergerak. Bergerak sedikit-lalu berhenti lama. Bergerak sedikit lagi, lalu berhenti lama lagi dan seterusnya. Saya melihat jam. Tanpa terasa sudah setengah jam kami di sini. Kemacetan ini mungkin masih akan berlangsung lama. Bisa jadi kami baru akan bisa melewatinya setengah jam lagi dari sekarang.  Sisa waktu yang tadinya saya pikir ada untuk membaca materi di kantor kini hilang. Pak Supir menawarkan apakah sebaiknya kami mencari jalan alternatif lewat Pondok Bahar saja?  Saya setuju saja karena sayapun mulai merasa tidak sabar lagi.

Memasuki jalur Pondok Bahar, jalanan terasa lancar. Namun sekitar lima menit kemudian, lalu lintas di jalur inipun semakin padat. Makin lama makin padat dan …macet lagi.  Waduuh. Bagaimana ini ya?. Saya berharap agar kemacetan menjadi cair. Namun alih-alih lancar, lalu lintas malah semakin semrawut dan akhirnya macet total!. Lebih  parah lagi karena jalanan di jalur ini sangat sempit ketimbang jalur Ciledug-Cipondoh. Menit-menit berlalu. Saya tidak bisa maju dan juga tidak bisa mundur ataupun memutar. Sekarang saya sadar bahwa saya benar-benar tidak akan bisa tiba di kantor tepat pada saat call terjadi. Saya coba hubungi kantor dan menginformasikan keterlambatan saya. Akhirnya Conference Call ditunda 45 menit, karena menunggu saya datang. Aduuh..jadi nggak enak hati ini.

Lalu lintas makin buruk. Jauh lebih buruk dari yang di Ciledug tadi. Saya memutuskan untuk naik ojek saja. Pak Supir memarkir kendaraannya di depan sebuah toko yang masih tutup, lalu turun mencoba mencarikan saya tukang ojek. Tidak saya duga, ternyata sangat sulit mencari tukang ojek di daerah itu. Entah karena memang jumlahnya sedikit atau barangkali karena kemacetan, semua tukang ojek sudah menerima order dari orang lain. Pak supir tak berhasil mendapatkan satu orangpun. Setelah setengah jam lewat tanpa hasil, akhirnya ada seorang tukang ojek datang. Tapi tukang ojek ini tidak membawa helmet dan kaget jika harus mengantarkan sejauh itu ke Daan Mogot. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Saya pikir  mungkin lebih baik saya kembali ke Ciledug dan mengantri di sana lagi. Setidaknya tingkat kemacetannya tidak separah di sini.  Pak Supir mencoba memutar haluan dan sungguh tantangannya sangat berat sekali. Bukan saja karena jalanannya sangat sempit, namun juga karena ukuran kendaraan yang saya gunakan sangat jumbo. Sehingga untuk memutar haluanpun sudah menimbulkan kemacetan baru tersendiri. Orang-orang melihat kami dengan wajah tidak senang. Aduuuh…maafkan saya ya.

Akhirnya saya kembali di antrian kemacetan Ciledug.  Saya hitung-hitung, sebenarnya sudah memakan waktu 1 jam sejak saya meninggalkan hingga saya kembali lagi ke titik di Ciledug ini. Jadi sebenarnya saya telah mebuang waktu saya selama 1 jam dengan percuma. Kemacetan sedikit lebih ringan. Tapi saya tahu kalau saya bahkan tidak akan bisa memenuhi waktu yang dijanjikan. Kembali saya menelpon kalau saya belum berhasil lolos. Conference Call ditunda 15 menit lagi.

Syukurnya kali ini saya bisa melewati antrian dengan lebih cepat.lalu selepas Ciledug Indah, jalanan sangat lancar. Akhirnya saya tiba di kantor. Semua orang di ruang meeting memandang saya dengan wajah cemas bercampur kasihan. Conference call pun dimulai. Saya meminta maaf atas apa yang terjadi.

It’s OK. Don’t worry. But if I fall asleep  now, I’ll blame you, Dani…” kata sebuah suara di seberang bercanda. O ya beda waktu yang cukup tajam di beberapa negara dengan di sini. Tentu sudah semakin malam sekarang di sana.  Saya tertawa kecut. Walaupun hanya bercanda dan semuanya bisa mengerti keadaan saya, tapi saya benar-benar merasa nggak enak.

*******

Saya pikir apa yang saya alami pagi itu pada dasarnya adalah akibat dari kegamangan saya dalam pengambilan keputusan.

Pertama adalah soal kesabaran. Kadang-kadang kita kurang sabar dan telaten untuk menangani masalah yang kita hadapi dan cenderung mengambil jalan pintas yang kita pikir lebih baik untuk menyelesaikannya. Padahal jika saja kita bisa sedikit lebih sabar dan telaten, barangkali kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan lebih baik tanpa harus mencari jalan pintas yang lain. Sama dengan kesabaran saya saat menghadapi keacetan Ciledug. Saya pikir jalur pintas Pondok Bahar akan memberi saya alternative yang lebih baik. Ternyata tidak. Bahkan lebih buruk.

Kedua, adalah pemahaman situasi yang parah. Pemetaan situasi yang buruk, sering membuat kita tergelincir dalam pengambilan keputusan. Kita tidak yakin dengan strategy yang kita ambil dan tidak paham pula dengan pilihan strategy yang tersedia. Serupa dengan pemahaman saya yang rendah akan situasi kemacetan di Ciledug, sementara saya pun tidak paham akan tingkat kemacetan yang mungkin terjadi di jalur Pondok Bahar. Belakangan saya tahu ternyata di sanapun ada Sekolah dan tempat keramaian lain sementara jalannnya sangat sempit. Entah kenapa sayapun lupa untukmendengarkan informasi jalan raya dari radio atau mencoba mencari berita dari internet.

Dua hal itu – Kesabaran dan Pemahaman Situasi –  menjadi pelajaran penting bagi saya di pagi hari  ini.

Kacamata Kuda.

Standard

andani-kuda-11Ada sebuah tanah kosong di daerah seputar Graha Raya Bintaro yang sering saya lewati. Jika akhir pekan, tanah lapang itu penuh. Di sana ada banyak kuda-kuda tunggang dan kuda delman yang disewakan.  Ibu-ibu pun rajin datang ke sana beserta anaknya. Sesekali saya pun ikut nongkrong di sana untuk  ikut melihat keindahan dan ketangkasan kuda -kuda itu berlari di padang rumput buatan manusia itu.

Melihat kuda-kuda yang banyak merumput di situ, tiba-tiba saya teringat akan sebuah pertanyaan anak saya yang kecil dulu, “Ma, mengapa kepala kuda itu ditutup kain?“. Sayapun melihat ke arah kuda-kuda itu. Memang benar kepalanya ditutup, entah dengan kain ataupun bahan lain dan hanya menyisakan sedikit lubang di kedua matanya. “Oh! Itu namanya kacamata kuda” jawab saya. “Mengapa kuda disuruh memakai kacamata?“tanya anak saya lagi. “Supaya kudanya tidak menengok ke sana kemari. Nanti Pak Kusirnya susah ngasih tahu kudanya agar jalan ke tujuan yang diinginkan” kata saya.  Untuk mencapai tujuan, kuda perlu fokus dan, kacamata kuda itu memang perlu.

Mengingat itu, saya jadi berpikir, kadang-kadang kacamata kuda itu sebenarnya perlu juga digunakan oleh kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Seorang teman bercerita kalau dulunya ia pernah kuliah. Namun tidak menyelesaikan pendidikan S1-nya, karena kepalang kenal uang. Saat itu ia telah menuntaskan semua mata kuliahnya, tinggal menyusun skripsi. Beberapa bulan lagi tentu ia bisa maju untuk sidang, lalu lulus dan di wisuda. Ia mulai  menyusun proposal penelitian dan berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Saat mengerjakan itu, ia merasa punya banyak waktu yang luang. Rupanya dosen pembimbingnya tak selalu ada setiap kali iamembutuhkan bimbingan. Kadang harus menunda konsultasinya sehari- dua hari. Saat itu seorang trmannya memberi informasi lowongan part time  di sebuah perusahaan. Ia pikir, kalau bisa mulai bekerja lebih cepat mengapa tidak? Toh juga tujuan kuliah ujung-ujungnya untuk mencari kerja. Ia pun mencoba melamar dan diterima.

Sebulan berlalu ia mengerjakan skripsinya dengan baik sambil bekerja. Horee! Pertama kali mendapat gaji atas jerih payah sendiri memang sangat membanggakan. Bulan  ke dua, ia semakin semangat bekerja dan tetap berusaha mengerjakan skripsinya. Namun karena kadang dosennya tidak ada saat ia ke kampus, ia mulai merasa agak malas. Bulan ke tiga semakin malas lagi  dan semakin malas di bulan-bulan seterusnya.  Ia merasa lebih baik menghabiskan waktu dengan kerja lembur untuk mendapatkan tambahan uang.Bulan demi bulan berlalu, dan tahun demi tahun pun lewat dan skripsi itu tetap tak jadi jadi, hingga akhirnya ia dinyatakan Drop out dari kampusnya. Di kantor pun ia mengalami kesulitan untuk naik posisi karena kalah saing dengan anak-anak sekarang yang memiliki gelar S1 atau S2.

Sekarang ingin melanjutkan lagi, tapi biaya kuliahpun semakin tinggi dan tidak terjangkau oleh penghasilannya sendiri. Sementara orang tuanya sudah tua dan pensiun dan tak mampu lagi membantunya. Saya sedih mendengar ceritanya.

Cerita yang lain datang dari teman yang memegang project pengembangan sebuah produk baru. Awalnya ia mengikuti keseluruhan step step yang perlu dilakukan dengan tertib dan teratur. Mulai dari Ideation, research-research, pembuatan konsep dan sebagainya. Masalah mulai terjadi ketika ia masuk ke fase Development.  Ia telah mendapatkan formula yang bagus dengan wangi yang enak. Tinggal menunggu kemasan yang designnya sedang dibuat.

Suatu hari atasannya mereview projectnya dan berkata, “Ini wanginya agak kurang seger ya. Coba lihat ada nggak alternatif fragrance lain?” Ia menjelaskan bahwa fragrancenya itu sudah lolos test konsumen. Tapi atasannya mengatakan “Kan masih ada waktu.Sementara kamu menunggu designnya jadi, bisa test ulang lagi. Masih cukup waktunya kan? Kalaupun mundur paling sebulan” kata atasannya sambil memberikan contoh.

Ia mencari fragrance baru lagi. Ngetest lagi dari awal. dan tentunya itu membutuhkan waktu beberapa bulan. Ketika design kemasannya jadi, ia merasa  ada yang kurang sreg dengan element grafiknya. “Sementara menunggu fragrance yang baru, tidak ada salahnya aku perbaiki dulu sekalian. Masih ada waktu.Kalaupun telat, paling sebulan” pikirnya. Maka ia pun melakukan brief ulang ke Creative Designer. Ketika fragrance yang baru selesai dan sudah lolos test, atasannya berkomentar bahwa “Skin feel-nya kok agak kurang enak ya? Masih ada waktu kan? Toh juga masih menunggu design? Bisa coba perbaiki sedikit nggak?” Atasannya mengambil sample sebuah produk dari luar dan memebrikan sebagai referensi.”Ide  skin feelnya ini kaya gini” lanjut atasannya. ia mencoba dan memang terasa enak. “Wah. Ide bagus juga” pikirnya.

Akhirnya ia datang lagi ke Laboratorium dan meminta bantuan perbaikan formula. Demikianlah seterusnya. Ia merubah formula lagi, design kemasan lagi, fragrance baru lagi, setiap kali ia atau atasannya punya ide baru. Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, menjadi setahun.Demikian juga tahun berlalu tak terasa akhirnya telah lewat dua tahun dan produk baru itu belum keluar juga ke pasaran.

Dua kisah di atas, jelas sekali menunjukkan kepada kita bahwa kacamata kuda itu kadang sangat diperlukan bagi kita juga. Walaupun kita terbuka untuk gagasan dan ide-ide baru, namun pada suatu titik kita harus fokus. Fokus, Fokus dan fokus. Jangan tergiur pada kindahan bunga-bunga yang kita temukan di pinggir jalan, yang mungkin saja memberhentikan langkah kaki kita untuk maju ke depan.

Pasang kacamata kuda dan tancap gas. Tidak usah pakai tengok kiri kanan lagi, tetap berjalan lurus dan pastikan tujuan kita tercapai dengan baik.