Tag Archives: Mitivation

Spirit of Wipro Run 2019 – Indonesia. Further Together.

Standard

Musim berlari telah datang!.

Bersamaan dengan lebih dari 50 negara lain di dunia, Spirit of Wipro Run diselenggarakan kembali Minggu pagi tanggal 22 September ini. Di Indonesia, pelaksanaannya di lakukan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta dan di Salatiga.

Nah, saya hadir di Ancol, dimana lokasi Start dan Finishnya itu dilakukan di area Pasar Seni lalu keluar menyusuri pantai dan kembali lagi sejauh 5 km.

Seperti biasa acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (saya sangat suka bagian yang ini – setidaknya mengingatkan kita semua akan tanah air kita Indonesia tercinta ini), dilanjutkan dengan sambutan dari Chief Executive Wipro Unza Indonesia, Mr Amit Dawn, lalu sedikit pemanasan sebelum berlari.

Yang saya suka dari kegiatan Spirit of Wipro Run ini adalah kebersamaannya. Kami bertemu dengan teman -teman sesama karyawan dan keluarganya. Saling mengenal satu sama lain. Dan yang paling penting lagi adalah memperkenalkan kepada anak -anak di perusahaan mana orang tuanya bekerja.

Seperti tahun -tahun sebelumnya, Spirit of Wipro Run menggunakan thema yang berbeda-beda tergantung agenda yang sedang di-push oleh group Wipro. Tahun ini thema yang digunakan adalah “Further Together”, di mana Wipro Group mendorong karyawannya untuk bekerjasama dengan lebih erat lagi dalam melakukan usaha-usaha untuk mencapai kesuksesan dalam menerapkan value dari perusahaan yang disebut dengan Spirit of Wipro:

1. Be passionate about client’s success.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menunjukkan usaha, upaya dan semangatnya dalam membangun kesuksesan pelanggan. Karena kesuksesan pelanggan adalah kesuksesan kita.

2. Treat each person with respect.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menghargai dan menghormati orang lain, terlepas dari jabatannya, usianya,gendernya, suku bangsanya, agamanya, strata ekonomi dan sosialnya, dan sebagainya. Setisp orang harus diperlakukan sama.

3. Be global and responsible.

Wipro juga berharap agar setiap karyawan berpandangan luas dan global serta bertanggungjawab terhadap perkataan dan perbuatannya.

4. Unyielding integrity in everything we do.

Terakhir Wipro juga meminta agar setiap karyawan berlaku jujur dan kukuh dalam memegang prinsip prinsip kejujuran dan moral yang tinggi.

Terus terang seiring dengan bertambahnya usia, saya tidak lagi bisa berlari kencang apalagi berharap menjadi pemenang. Kaki saya kram melulu jika dibawa lari. Jadi saya lebih banyak berjalan saja. Fun Walking ūüėÄ. Untungnya di perjalanan saya bertemu dengan Mbak Ika yang menemami saya sambil ngobrol.

Walaupun pake nyasar masuk ke garis finishnya, yang paling penting adalah kami berhasil melewati 3 Meet point yang ditetapkan tanpa melakukan kecurangan. Saya diberikan gelang berbeda warna sebagai bukti telah melewati titik titik itu.

Saya telah berlari

Bagi saya ini bukanlah soal menangnya, tapi bagaimana kita bisa berkomitmen melakukannya tanpa kecurangan dan tidak menyerah.

Saya dan Mbak Ika mengambil foto di setiap titik. Untuk mengenang bahwa kami telah berhasil melewatinya dengan baik.

Gangsaran Tindak, Kuangan Daya.

Standard

“Gangsaran tindak, kuangan daya”¬† sebuah ungkapan dalam Bahasa Bali yang¬†¬† jika 20160115_133502.jpgditerjemahkan bebas artinya “Sigap dalam bertindak, tetapi lemah dalam strategi”. Tangan bergerak lebih cepat dibanding otak -begitulah kira-kira. Sering digunakan oleh para orang tua untuk menasihati anaknya, agar jangan terburu-buru mengambil tindakan, tanpa memahami duduk permasalahan dan memikirkan pemecahannya terlebih dahulu.

Ungkapan tua itu mendadak muncul di kepala lagi, ketika makan siang dengan seorang teman di sebuah pusat jajanan rakyat yang letaknya tak jauh dari lokasi kantor. Di sana ada berbagai macam pilihan untuk makan siang. Ada ketoprak, nasi goreng, empek-empek, nasi padang, mie ayam, ayam goreng lalapan, pecel lele dan sebagainya.

Kami sepakat ke tukang lalapan. Saya memesan nasi dengan hati ampela ayam +lalapan+sambal. Sedangkan teman saya memilih nasi + pecel lele +lalapan. Tukang lalapan mempersiapkan pesanan kami. Saya memesan minuman dari pedagang lain. Berikutnya saya mencari meja kosong. Tak lama kemudian tukang lalapan mengantarkan pesanan kami. Tanpa banyak ngobrol kami menghabiskan makanan masing masing. Dan setelah selesai kami kembali ke tukang lalapan untuk membayar.

Si bapak tukang lalapan tersenyum kepada kami sambil tangannya sibuk memilah-milah lele yang siap goreng. “Makan apa, Mbak?” Tanya si bapak. Pertanyaan yang umum ditanyakan pada saat kita membayar makanan di warung yang sistemnya makan dulu, bayar belakangan. Gunanya ya untuk membantu si kasir menghitung harga makanan yang harus kita bayar. Proses pembayarannya biasanya berdasarkan azas kepercayaan saja. Pembelipun biasanya jujur mengatakan apa saja yang dimakannya. Tetapi seandainya ada yang tidak jujur, apakah si pedagang akan tahu? Entahlah. Saya tidak tahu persis.Bisa jadi juga ada yang kelewatan.

Selain itu, saya pikir Bapak ini sebenarnya tidak tahu persis apa yang telah kami order dari sini dan telah kami makan.  Karena yang tadi menerima order dan menyiapkan makanan buat kami adalah tukang lalapan yang lebih muda (mungkin anaknya). Bapak ini tadi tidak di tempat, barangkali sedang mengantarkan makanan ke pengunjung  yang lain.
” Saya tadi makan nasi, lele dan sambel plus lalapan”. Jelas teman saya. Bapak itu masih sibuk. Ia memasukkan seekor lele ke penggorengan. Syooorrr…bunyi lele kena minyak panas. Barangkali ada pengunjung lain yang memesan pecel lele juga, pikir saya.

Kalau saya, tadi makan nasi dengan hati rempela, lalapan dan sambel” kata saya menyambung penjelasan teman saya. Bapak itu tetap sibuk juga. Tidak menoleh ke kami sama sekali. Kami menunggu beliau menghitung harga makanan kami. Sekarang beliau sibuk menyiapkan nasi di piring. Saya dan teman saya tetap berusaha sabar menunggu, walaupun sebenarnya kami harus buru-buru ke kantor karena ada meeting.

Setelah beberapa saat, bapak itu belum juga memberikan kami indikasi, berapa kami harus membayar harga makanan yang sudah kami santap tadi. Akhirnya saya berinisiatif ¬†“Jadi berapa harganya, Pak?” Tanya saya karena si bapak masih tetap asyik dengan pekerjaannya. “Nanti saja, Mbak” kata si bapak yang membuat saya jadi curiga.

“Lho, Pak??!!. Kami ini mau bayar. Bukan mau makan. Makannya kan sudah” jelas saya kepada si Bapak. Beliau kaget. Lalu buru buru menghentikan pekerjaannya. “Oooh…saya kira belum makan” kata si Bapak. Lah? Jadi lele yang baru masuk penggorengan itu dimaksudkan untuk kami ya? Waduuh. Kasihan dong si bapak rugi.

Si bapak ini rupanya kecepatan bertindak sebelum paham betul permasalahannya¬† bahwa kami mau membayar setelah makan. Bukan memesan. Menyadari itu si bapak lalu tertawa terbahak bahak. Saya yang berada di dekat kompor mencoba membantu untuk mematikan kompor. “Nggak usah, Mbak!. Nggak apa apa. Nanti lelenya bisa buat saya makan sendiri saja” katanya. Lalu cepat cepat mengambil kalkulator. Kamipun membayar.¬† Ya ampuuuuun!.

Gara gara kejadian itulah saya jadi teringat ungkapan tua dalam Bahasa Bali itu. “Gangsaran tindak, kuangan daya”. Hal seperti ini kadang terjadi bukan hanya pada si bapak tukang pecel lele itu saja, tetapi juga pada diri saya sendiri. Saya ingat kejadian seperti itu pernah terjadi beberapa kali pada diri saya sendiri juga.

Keadaan Gangsaran tindak kuangan daya, terjadi terutama pada saat kita berada dalam situasi terburu-buru. Ingin cepat merespon sesuatu. Sehingga tidak sempat memahami situasinya dengan cukup baik. Sebagai akibatnya, terjadilah “gagal paham” yang berikutnya men-‘trigger’ terjadinya response yang keliru.

Kemungkinan lain adalah saat kita terbawa emosi. Pemahaman kita terpaku hanya pada pemikiran kita sendiri saja dan tidak terbuka untuk fakta lain atau pemikiran lain yang terbuka luas. Sehingga dalam keadaan ini kita akan cenderung merespon dengan cara yang sempit yang mungkin berbeda dan kurang sesuai dengan permasalahan yang ada yang konteksnya lebih luas dari sekedar pemikiran kita yang sempit.

Kemungkinan yang lain lagi adalah pada saat  kita berada di dalam suasana hati yang kurang sabar. Pengen cepat cepat selesai. Terlalu malas untuk memahami konteks permasalahannya dengan lebih baik. Baru mendengar sepotong langsung bereaksi.

Seandainya kita punya sedikit lebih banyak waktu; seandainya kita bisa sedikit lebih sabar serta tidak terbawa emosi, sebenarnya kita bisa luangkan sedikit waktu untuk mempelajari permasalahannya secara lebih holistik. Jika permasalahannya lebih kompleks lagi, ada gunanya kita manfaatkan kesempatan untuk mencari informasi lebih dan bahkan menggali pendapat dan masukan dari orang lain. Sehingga pemahaman kita bisa lebih baik dan komprehensif. Setelah itu, barulah sebaiknya kita memberikan respon yang tepat.

Nah…jadi pelajaran yang saya petik kali ini dari tukang pecel lele adalah sebuah pengingat bagi diri saya sendiri. Bahwa jika kita ingin merespon sesuatu, sebaiknya kita memahami permasalahannya dengan baik terlebih dahulu, barulah memberikan jawaban maupun tanggapan. Jika tidak, maka kita akan cenderung memberikan jawaban yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteksnya.

Nyala Api Dan Pemantiknya.

Standard

Saya melihat sebuah pemantik api tergeletak di rak buku, ketika sedang berbenah. Saya coba nyalakan. Rupanya pemantik api itu sudah rusak. Maka sayapun membuangnya ke tempat sampah. Barangkali gas butana yang digunakan sebagai sumber energynya sudah habis.

Saat membuangnya ke tempat sampah, barulah untuk pertamakalinya saya memikirkan bagaimana sebuah pemantik api bekerja. Dan betapa pentingnya fungsi pemantik api itu dalam kehidupan kita sehari-hari.  Pemantik api kita nyalakan saat kita membutuhkan api. Api untuk untuk menyalakan lilin, menyalakan rokok bagi para perokok, membakar sampah, membuat bara guna membakar besi baja untuk membuat parang dan cangkul  dan sebagainya. Bahkan di dalam kompor dapur kitapun terdapat pemantik untuk menyalakan api yang dibutuhkan untuk memasak. Untuk setiap nyala api, selalu dibutuhkan pemantik. Read the rest of this entry