Tag Archives: Mother

Tentang Kepercayaan Diri: Face Your Fears & Just Do It!!.

Standard

Andani - hosting 1Anak saya memberitahukan bahwa ia ditunjuk menjadi Host untuk “Speech & Story Telling Competition” antar sekolah. Lalu meninggalkan pesan untuk saya “Mom, parent can come at 9.00. Do you want to come?”. Oh, tentu setiap ibu ingin melihat penampilan anaknya di panggung. Ingin memberikan dukungan. Dan menyuntikkan semangat, agar anaknya tampil prima, percaya diri dan sukses. Sayang sekali. Kebetulan saya sangat sibuk di kantor hari itu sehingga tak bisa ijin dari pekerjaan begitu saja (….gigit jari). Read the rest of this entry

Kuda Copot Dan Ayam Pake Kayu.

Standard
Di Rumah Sakit International Bintaro

Di Rumah Sakit International Bintaro

Hari minggu sore saya meluangkan waktu untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga di sebuah Supermarket di daerah bisnis Bintaro. Matahari sudah condong ke barat. Tanda senja mulai menjelang. Tempat parkir sangat penuh, sehingga saya harus mendorong kereta belanjaan saya ke luar area Supermaket. Persis di depan salah satu menara kembar di Bintaro. Sangat aneh! Suasana senja itu  membuat saya tiba-tiba terkenang kembali akan masa lalu. Entah apanya. Barangkali temaram sinar matahari yang sama. Atau barangkali desir angin yang serupa. Entahlah… Read the rest of this entry

Menjadi Ibu Bagi Anak ABG.

Standard

Tempat Perhiasan Dari jogja

Beberapa hari yang lalu anak saya mengikuti Study Tour ke Jogjakarta. Subuh-subuh ia berangkat dengan menumpang bus rombongan yang disediakan sekolahnya. Sebenarnya bukan sebuah peristiwa yang aneh. Setiap anak, pastinya suatu saat akan ikut Study Tour yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh saya juga melakukan hal yang sama semasa kecil dulu. Namun entah kenapa, yang namanya seorang ibu, selalu saja was-was memikirkan keselamatan anaknya.

Saya memastikan semua keperluannya terbawa dengan baik. Saya melarang ia membawa barang-barang yang kurang bermanfaat agar tidak terlalu berat. Saya juga memintanya berhati-hati dan menjaga dengan baik  barang bawaannya agar jangan ketinggalan. Salah satunya adalah buku tentang burung yang  saya dapatkan dari Inggris. Sebenarnya saya pikir kurang ada gunanya ia bawa ke sana. Tapi karena ia memaksa akan membacanya untuk membunuh waktu dalam perjalanan, akhirnya saya ijinkan juga asal dijaga dengan baik. Lalu saya juga sempat menelponnya dua kali selama perjalanan untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Namun beberapa saat  kemudian, setelah jam makan siang, signal telpon anak saya terputus. Sayapun mulai agak gelisah.

Kebetulan saat yang sama saya juga ada urusan kantor yang harus saya selesaikan di Jogjakarta. Saya berangkat sore dan tiba di Jogja dalam sejam. Saya coba telpon anak saya, namun belum bisa tersambung lagi.  Apakah ia sudah sampai di Jogja? Apakah ia sudah makan malam? Alangkah sedihnya.

Semakin sedih lagi jika saya bandingkan dengan keadaan saya. Anak saya berangkat dengan naik bus, sementara saya naik pesawat. Anak saya menginap di hotel ala kadarnya, sementara saya menginap di hotel berbintang lima.Tentu saja semua karena fasilitas kantor yang saya terima. Namun akhirnya saya pikir-pikir kembali, memang sebaiknya ia  menjalani kehidupan ini apa adanya. Tanpa perlu saya manjakan secara berlebihan.Dengan demikian ia akan tumbuh dengan normal seperti seharusnya.

Setelah mencoba menelpon beberapa kali tanpa hasil, akhirnya pada pukul sembilan malam saya berhasil tersambung dengan anak saya.  Ia sudah sampai dengan selamat di hotel dan kelihatan sangat menikmati perjalanannya dengan bis dan kebersamaannya dengan teman-teman sekolahnya. Ia juga sudah selesai makan malam. Namun yang cukup mengejutkan bagi saya adalah pertanyaan anak saya “Why do you keep calling me? What’s wrong?” tanyanya. Uups!. Sebenarnya agak sedikit kurang sopan pada orangtuanya, namun saya menghargainya karena ia berterus terang dengan pikirannya. Saya mulai berpikir, barangkali karena ia mulai besar sekarang. Dan anak laki mungkin malu jika teman-temannya tahu bahwa ibunya terlalu mengkhawatirkannya. Okey,akhirnya saya berhenti menelponnya.

Malam harinya, saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Kalau di rumah, ia sering asyik dengan laptopnya hingga larut malam, sehingga harus digubrak-gubrakin dulu baru mau berhenti,mandi dan tidur. Khawatir teman sekamarnya mendengar dan meledeknya sebagai “anak mami”, akhirnya saya kirimkan pesan saja kepadanya  agar jangan lupa mandi sebelum ketiduran. Yang dijawabnya pendek “Okay”.  Lalu saya teringat kembali bahwa ia sangat sulit bangun pagi. Biasanya saya membutuhkan waktu  5-10 menit di pagi hari hanya untuk membangunkannya. Jadi saya kirimkan pesan lagi agar jangan lupa menyalakan alarm pagi agar ia tidak ketinggalan acara gara-gara bangun kesiangan. Kali ini ia menjawab dengan panjang “ I’m 12 years old.I can handle myself. So don’t worry. By the way your book is 100% save (maksudnya safe – salah ketik) and secure”. Tentu saja saya terkejut bukan alang kepalang oleh jawabannya. Ada tiga butir pelajaran yang bisa saya petik di sini.

Pertama bahwa anak saya telah tumbuh menjadi ABG, yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Ia mampu mengekspresikan dengan kuat segala pikiran, pendapat dan apa yang diinginkannya – yang mana itu merupakan hal yang baik bagi pertumbuhannya. Ia juga mulai terlihat ‘aware’ akan lingkungannya dan citra dirinya di mata teman-temannya.

Kedua,sebagai ibu seharusnya saya menyadari perubahan itu. Dan juga sebaiknya segera melakukan perubahan dalam menanganinya. Tentu saja saya tidak bisa lagi menanganinya sebagaimana saya menangani seorang anak TK yang masih cengeng dan perlu banyak bantuan. Sekarang ia sudah besar dan mandiri.

Ketiga, saya harus meluruskan hal-hal yang berpotensi kurang baik ke depannya.Meluruskan persepsi yang salah bahwa saya menelponnya karena urusan materi. Lebih mengkhawatirkan buku saya ketimbang anak saya. Tentu saja tidak. I keep calling you because I love you!.Not because I love the book more…Aduuh..gimana sih?Saya ingin ia tetap merasakan cinta,kehangatan kasih sayang dan perhatian saya  melebihi apapun di dunia ini.

Memikirkan itu, akhirnya sayapun berusaha keras menahan diri saya untuk tidak selalu menghubunginya. Mungkin ia membutuhkan privacy. Mungkin ia membutuhkan saat-saat dimana ia bisa sendiri tanpa campur tangan orangtuanya. Mungkin ia ingin memperlihatkan kepada teman-teman dan gurunya, bahwa ia telah dewasa.  Dan sayapun tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak saya. Namun saya selalu memanjatkan doa terbaik saya untuknya. I stop calling you, also because I love you…

Sepulangnya dari Jogja, anak saya segera menghambur ke dalam pelukan saya. Wajahnya sangat bahagia.  Dengan mata berbinar-binar ia menunjukkan oleh-olehnya  dari Jogja –  sebuak kotak perhiasan terbuat dari batu marmer untuk saya. Rupanya ia mengirit-irit uang jajannya, demi bisa membelikan saya oleh-oleh.  Ya..ampuuun!. “Love you, mom. Thanks for understanding” katanya sambil menciumi pipi saya. Saya merasa sangat terharu oleh kalimatnya.

Setiap orang berkata bahwa hidup itu penuh dengan perubahan. Dan tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Demikian juga dunia saya sebagai seorang ibu. Juga mengalami perubahan. Anak-anak tumbuh menjadi ABG, tentunya mengalami perubahan fase dan membutuhkan perubahan dalam cara menyayanginya tanpa harus kehilangan intisari dari kasih sayang itu sendiri. Mungkin demikian juga yang dirasakan oleh ibu saya ketika saya meningkat remaja, dan tumbuh menjadi seorang pemberontak di dalam keluarga. Namun ibu saya selalu menyanyangi saya anaknya, melebihi apapun di duia ini. Saya mendongakkan wajah saya ke langit.  Berdoa untuk kebahagiaan ibu saya di alam sana.

Selamat Hari Ibu..

Satya Wacana.

Standard

Liburan ini sebenarnya saya berencana mengajak anak saya bermain ke Trans Studio di Bandung. Kebetulan kantor tempat saya bekerja berencana mengadakan acara Family Gathering di sana. Namun karena sesuatu dan lain hal, acara itu diundurkan jadwalnya.  Sehingga planning sayapun ikut bubar juga.  Tetapi hari Sabtu kemarin, kakak saya dari Bali mengabari bahwa ia akan ke Bandung  hari Minggu keesokan harinya. Dengan semangat sayapun berencana akan menjemputnya di bandara Soekarno Hatta dan  mengantarkannya ke Bandung. Walaupun suami saya  tidak bisa ikut  mengantar. Read the rest of this entry

Love Secret Recipe.

Standard

Bersamaan dengan  perjalanan saya ke Denpasar kemarin, sebuah rombongan keluarga yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya juga berangkat dengan menumpang pesawat yang sama.  Saya menaksir umurnya tidak jauh dengan saya.  Ia tampak mengatur tempat duduk anak, keponakan dan anggota keluarga lainnya. Lalu kepada seorang wanita yang ternyata adalah ibunya, ia berkata “ Mama duduk di sini saja ya” Katanya dengan nada yang penuh kasih sayang.  Ibu itupun duduk di sebelah saya.  Nafasnya kelihatan agak kurang teratur. Rupanya agak kecapean saat menaiki tangga pesawat.   Putranya menghibur dan menenangkan bahwa rasa tidak nyaman itu disebabkan karena kaki ibunya yang sakit dan sebentar lagi tentu sembuh.Lalu putranya membantu memasangkan  seat-belt ke pinggang ibunya dengan baik. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian. Selanjutnya ia memberikan shawl kepada ibunya yang segera menggunakannya untuk mengantisipasi jika udara menjadi sangat dingin di dalam pesawat. Diam-diam saya memperhatikannya dengan sudut ekor mata saya.  Saya sangat terkesan dibuatnya.  Sungguh Ibu yang berbahagia.Memiliki putra yang sangat baik dan penuh perhatian. Read the rest of this entry

Toxoplasma, Kucing Dan Wanita Hamil.

Standard
Toxoplasma, Kucing Dan Wanita Hamil.

Ketika saya memposting tulisan tentang kucing, saya mendapatkan pertanyaan & komentar  seputar Toxoplasmosis. Juga terdapat ekspressi kekhawatiran  jika memelihara kucing. Pertanyaan dan ekspressi khawatir yang saya tangkap itu,  memicu keinginan saya untuk mengulas sedikit tentang penyakit ini. Barangkali sebagian orang sudah sangat paham akan penyakit ini, namun saya berpikir barangkali tulisan saya ini ada gunanya bagi yang lainnya. Toxoplasmosis, adalah suatu jenis penyakit yang disebabkan oleh protozoa parasit bernama Toxoplasma gondii.  Bukan virus, seperti banyak dikira orang awam. Penyakit ini cukup populer terutama di kalangan wanita hamil, karena serangan penyakit ini dapat mengganggu pertumbuhan janin dan bahkan keguguran. Read the rest of this entry

Sarang Burung Di Tengah Ladang.

Standard
Sarang Burung Di Tengah Ladang.

Saya menghabiskan waktu untuk bermain di ladang bersama kedua anak saya. Cara menikmati liburan yang sangat menyenangkan. Menikmati angin dan wangi tanah  senja hari. Sambil memperlihatkan kepada anak-anak,  sisi lain kehidupan di luar hingar bingarnya kota yang penuh dengan mall dan pertokoan. Saya mengajaknya memetik cabai. Kebetulan banyak cabai yang ranum merah sore itu. Karena keasyikan  memilih dan memetik, tak terasa saya dan anak sayapun mulai terpisah sejauh beberapa blok tanaman.  Saat itulah anak saya yang lebih kecil berteriak memanggil saya. Rupanya ia  melihat sebuah sarang burung di tengah ladang. Read the rest of this entry

Menjadi Ibu Di Hari Ibu..

Standard
Menjadi Ibu Di Hari Ibu..

Pagi-pagi terbangun oleh sms seorang teman “ Selamat Hari Ibu…”

Oh menyenangkannya menjadi Ibu. Banyak orang memberi selamat kepada kita hari ini.  Setidaknya mengingatkan, bahwa kita adalah ibu.  Ibu dari anak-anak yang lahir dari rahim kita. Namun sebenarnya agak linglung juga memikirkannya. Saya duduk di tepian tempat tidur memikirkan itu. Memandang kepada ke dua anak saya yang masih tidur lelap. Belum bangun, karena hari ini mereka sudah libur. Saya sengaja membiarkannya bermalas-malasan hari ini. Read the rest of this entry

Tas Kecil Dari Bandung…

Standard
Tas Kecil Dari Bandung…

Suatu hari setahun yang lalu, anak saya yang saat itu duduk di  bangku kelas V SD melakukan studi wisata ke kota Bandung bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Pulangnya ia membawakan saya oleh-oleh tas kecil dari lidi kelapa yang dijalin. “Mama, ini tas untuk mama. Aku beli pakai uangku sendiri”. Kata anak saya dengan bangga.  Saya berterimakasih menerima oleh-olehnya. Sungguh terharu akan perhatiannya.  Ia selalu begitu. Baik, penuh perhatian dan sangat romantis. Saya ingat waktu masih kecil ia sering membawakan saya bunga rumput liar setiap kali habis jalan-jalan ke taman dekat perumahan bersama susternya. Ia juga sering menghadiahi saya lukisan tangannya ataupun perhiasan mainan hasil karyanya. Terkadang ia menulis surat untuk saya, berpesan agar saya bekerja dengan baik dan hati-hati di kantor. Tak terkira bersyukurnya saya memiliki anak sebaik dan sepenyayang itu. Tas itu pun saya letakkan di lemari. Read the rest of this entry

La Kitty , Kucing Liar Yang Memenangkan Simpathy.

Standard

Ketika mampir di sebuah ruko, anak saya yang kecil ikut turun. Ternyata ia mengejar seekor anak kucing liar yang menawan hatinya. Ia merengek ingin membawa anak kucing itu pulang. Awalnya saya melarangnya. Mengingat bahwa suami saya sama sekali tidak suka kucing. Wah, saya bisa mendapatkan masalah jika mengabulkan permintaannya itu. Saya bilang tidak, pada anak saya. Kucing kecil itu terlihat kurus dan kotor. Saya lalu memeriksa kesehatannya sekilas sekedar ingin tahu. Karena anak saya terus merengek, akhirnya sayapun melunak juga. Read the rest of this entry