Tag Archives: Motherhood

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Advertisements

Over Protective.

Standard

image
Anak saya yang kecil pergi camping. Wajahnya berseri-seri ketika menginformasikan kegiatan sekolahnya itu. Saya ikut senang. Teringat ketika saya seumurnya.Saya melakukan hal yang sama dan alangkah menyenangkannya.  Tidur di tenda, berpetualang, menjelajah alam, mencari jejak, menyalakan api unggun. Belajar mandiri.

“Bolehkanh mama ikut?” tanya saya berharap. Anak saya terkejut. “Ah, jangan Ma! Nggak ada mama-mama yang lain yang ikut.Lagipula tidak boleh sama Ibu Guru” kata anak saya. Weh.. saya kecewa.

“Oke deh. Kalau gitu ntar mama tengok aja ya” kata saya lagi.  Anak saya tetap tidak mengijinkan. “Janganlah Ma!. Aku malu sama teman-temanku”. Saya merasa heran, kenapa sih harus malu ? Kan cuma ditengok doang.  Anak saya tetap mengatakan tidak bisa. Bahkan hape saja tidak boleh dibawa. “Kalau dibawa akan disita Ibu Guru”, katanya. Tapi akhirnya saya setuju untuk tidak mengantar dan tidak menengok.

Saya hanya membantu menyiapkan benda-benda yang perlu ia bawa. Pakaian secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebih. Agar backpack-nya tidak terlalu berat. Tali pramuka, sabun-odol-sikat gigi, sweater, selimut tipis, handuk, payung dan senter. Sambil meyiapkan peralatannya saya membayangkan suasana camping. Sebenarnya sih tidak ada yang bahaya, tapi entah kenapa saya merasa sangat khawatir.

Musim hujan begini! Saya khawatir tendanya kerendam air. Saya menawarkan agar ia membawa jas hujan yang berbahan plastik. “Nggak usahlah Ma!.Kan sudah bawa payung lipat” katanya.  “Buat jaga-jaga” kata saya. “Nggak usah. Payung saja cukup. Kan tidak boleh bawa banyak-banyak barang” kata anak saya.

Bagaimana nanti makannya? Tidak boleh bawa uang, sementara saya hanya diminta mempersiapkan bekal makan siang saja. Itupun ukurannya kecil-kecil saja. Tidak mau membawa banyak makanan. Saya membelikannya beberapa jenis snack. Buat jaga-jaga siapa tahu ia nanti kelaparan. Kan bisa bagi-bagi dengan teman-temannya. “Ntar jadi nyampah di sana, Ma.Aku tidak mau membuang sampah sembarangan. Apalagi sampah plastik” katanya. Ah! Positive thinking saja. Tentu saja makanan pasti disiapkan oleh Bapak Ibu gurunya .Saya menepis pikiran buruk saya. Akhirnya ia hanya bersedia membawa sebotol air minum saja, selain bekal makan siang.

Lalu saya teringat akan danau yang berada tak jauh dari tempat anak saya akan camping. “Jangan nakal-nakal nanti di sana ya… Jangan main ke danau. Harus hati-hati” kata saya. Anak saya tampak mulai tidak sabar.”Udahlah Ma. Aku juga tidak mungkin  nakal-nakal. Aku kan nanti akan hanya ikut kegiatan yang ditetapkan. Lagipula aku sudah gede. Aku tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak” katanya. Saya tertawa.

Ya. Sebenarnya saya tahu kalau ia sudah gede. Dulu saya bermain juga ke danau,walaupun saya tidak bisa berenang. Nah, sekarang jelas-jelas anak saya jauh lebih jago berenang dari saya, mengapa pula saya sangat khawatir.

Lalu anak saya mendekat “Mengapa sih mama over protective banget sama anaknya?” tanya anak saya dengan wajah serius. Saya nyengir dibuatnya. Pikiran saya melayang ke 35 tahun yang lalu. Cepat sekali melintas. Saya ingin berkemah. Walaupun akhirnya mengijinkan, tetapi Bapak saya banyak sekali larangan ini dan itunya. Nggak boleh begini. Nggak boleh begitu. Harus hati-hati. Jangan makan dan minum sembarangan. Bawa pakaian tebal.Bawa payung. Dan juga minyak gosok. Tidak boleh mekelanyiran (mekelanyiran = centil, dekat-dekat dengan teman cowok). Jangan mau jika dikasih minum oleh teman laki atau orang yang tidak dikenal. Kalau tidur di tenda harus pakai celana panjang. Jangan lupa berdoa.Dan seterusnya, dan seterusnya yang membuat saya stress. Setelah itu, Bapak saya juga menyuruh kakak-kakak sepupu saya menengok saya di tepat kemah. Kok rasanya seperti dimata-matai ya?. Hingga akhirnya, suatu ketika saya pernah protes keras kepada Bapak – saya merasa diperlakukan dengan tidak adil dan tidak dipercaya.

Sekarang saya baru tahu apa yang dirasakan oleh Bapak saya. Setiap orang tua pasti memiliki kekhawatiran akan anaknya. Tapi jika dulu saya bisa melewati masa -masa berkemah itu dengan baik, tentu anak saya akan bisa mekewatinya dengan jauh lebih baik lagi. Ia memiliki ketahanan fisik yang lebih dari saya saat seumurnya. Dan ia juga memiliki pengetahuan dan skill yang lebih baik ketimbang saat saya di umurnya. Lah…mengapa saya harus mengkhawatirkan anak saya.

Camping ataupun menjelajah di alam bebas memberikan manfaat yang luar biasa kepada perkembangan jiwa anak. Menurut saya, anak-anak yang terbiasa berkemah, wawasan dan tingkat kesiapan menghadapi hidupnya akan sangat tinggi. Pengalaman hidup di alam akan membuatnya tidak takut hidup susah. Tidak takut miskin. Lebih cepat tanggap jika ada masalah, dan lebih cepat pula mencari pemecahannya.  Karena ia tahu, jawaban untuk setiap permasalahan selalu ada di alam. Tinggal bagaimana kita mencari dan menemukannya.

Baiklah!.Akhirnya saya merasa tahu apa yang harus saya lakukan. Mengijinkan anak saya berkemah dengan keikhlasan hati.Biarlah ia mengalaminya sendiri. Dan memetik manfaatnya sendiri. Untuk dirinya sendiri di kemudian hari.

 

 

 

 

Menonton Andri Concert Di Indonesia Young Musician Performance 2015.

Standard

Indonesia Young Musician Performance 2015 - AndriSaya hampir melupakan moment ini untuk ditulis. Padahal ini moment yang penting buat anak saya yang besar. Dan tentunya moment yang sangat penting juga bagi saya sebagai seorang Ibu yang selalu mengharapkan pertumbuhan positif anaknya. Jadi nggak apa apa ya..  agak telat sedikit , tapi tetap saya tulis  sekarang di sini buat catatan bagi saya sendiri dan anak saya tentang apa yang telah ia lakukan dalam kehidupan masa kecilnya.

Ini ceritanya Sabtu, 19 September yang lalu. Andri Titan Yade, anak saya yang besar mendaftarkan diri untuk ikut Concert Bersama Nasional  ini yang diselenggarakan  oleh Majalah Stacatto di Yamaha Concert Hall Jakarta. Kebetulan kakak saya sedang ada di Jakarta juga. Jadi sekalianlah saya ajak ikut menonton keponakannya konser.

Saya senang melihat anak-anak bisa tampil dalam panggung seperti ini, di mana mereka bisa bermain dengan optimal tanpa perasaan tertekan. Karena panggung ini bukan panggung kompetisi. Jadi mereka bisa mengambil benefits dari performance dengan baik, sehingga bisa lebih berani dan percaya diri menghadapi sorotan penonton. Itulah sebabnya, walaupun kali ini anak saya sebenarnya kurang punya waktu untuk latihan – berhubung jam sekolahnya sekarang sangat panjang – saya tetap mengijinkannya untuk ikut concert. Saya pikir nggak apa-apalah jika misalnya ia kurang hapal atau ada salah-salah sedikit karena kurang latihan. Yang penting berani tampil saja dulu, menurut saya itu sudah bagus. Jadi saya harus memberikannya dukungan.

Anak saya masuk di umur yang sesuai untuknya. Walaupun karena postur tubuhnya yang sangat bongsor, rasanya penonton hari itu sulit untuk mempercayai jika umurnya baru mau akan masuk 15 tahun.

Indonesia Young Musician Performance 2015

Andri bermain Solo Piano membawakan “Reverie” yang artinya a state of dreamy meditation karya composer Perancis Claude-Achille Debussy. Bagi saya yang awam, musik ini terdengar indah. Tapi belakangan saya mendengar komentar dari penyelenggara yang mengulas permainan anak saya, bahwa karya-karya Debussy, termasuk Reverie ternyata adalah karya-karya yang terkenal sangat sulit dimainkan. Sangat terkenal karena sensory content-nya dan sering menggunakan atonality.  Itulah sebabnya menurut penyelenggara, mengapa tidak banyak musician yang percaya diri memainkan karya composer itu. Dan saya mendengar penyelenggara mengucapkan terimakasih kepada anak saya atas keberaniannya memainkan karya itu di panggung Indonesia Young Musician Performance 2015. Wah.. terharu juga saya mendengar ulasan itu.

Menurut saya,  pengalaman manggung sangat penting artinya bagi perkembangan seorang anak. Karena dengan melatih anak berada di atas manggung, di bawah sorotan cahaya lampu dan tatapan mata penonton setidaknya anak akan terbiasa dengan keadaan ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih percaya diri saat kelak harus menghadapi orang banyak.

Selain itu, menurut saya memainkan musik akan membantu melatih kepekaan jiwa anak.  Mengisi jiwa anak dengan keindahan dan keharmonisan akan membantunya mengidentifikasi dan memilah hal-hal yang baik dan harmonis dalam hidup dari hal-hal yang yang kurang baik dan kurang harmonis.

Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap”

= Kahlil Gibran =

 

 

 

Inside Out – Gejolak Emosi Dibalik Personality Anak.

Standard
INSIDE OUT

INSIDE OUT

Akhir pekan. Sedang sibuk menata ulang halaman belakang agar bisa memuat lebih banyak tanaman, anak saya merengek minta nonton film “Inside Out”. Kalau menonton, biasanya anak saya pergi bersama teman-temannya atau anak tetangga dan didampingi oleh orang tua salah seorang temannya. Rupanya kali ini tidak ada temannya yang menonton. Jadilah dia menggeret-geret saya. Saya menghentikan pekerjaan saya dan mulai mengGoogle jadwal film XXI di Bintaro Plaza dan Bintaro X-Change. Akhirnya kami sepakat menonton jam 16.40 di Bintaro X-Change setelah saya usai merapikan tanaman.

Saya pikir film yang diproduksi Pixar Animation Studios dan direlease oleh Walt Disney Pictures ini menarik dan beda. Menjelaskan bagaimana emosi berperanan dalam membentuk kepribadian seseorang. Bagaimana  memori terbentuk dan disimpan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Barangkali sedikit agak berat dicerna untuk ukuran film kanak-kanak – terutama jika saya lihat ternyata ada cukup banyak Ibu-Ibu yang membawa anaknya yang masih balita untuk menonton film ini. Tetapi di satu sisi untuk anak-anak pra remaja, saya pikir film ini, justru sangat membantu memudahkan anak-anak untuk memahami sedikit neuro-science dan pyschology sederhana. Karena semuanya dikemas dengan simple dalam bentuk 3D animasi.

Barangkali ada yang belum sempat nonton filmnya – saya ceritakan garis besarnya.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley, anak perempuan kecil yang bahagia.

Riley seorang anak perempuan kecil, hidup bahagia bersama ke dua orangtuanya. Seperti kita semua, Riley memiliki emosi di dalam dirinya sendiri yang mengendalikan ekspresinya ke dunia luar setiap hari. Ada Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger.  Kalau di “bahasa-gampang”kannya ya  Gembira, Sedih, Takut, Jijik/Muak, Marah. Walaupun semua emosi ini  mengambil peranan dalam hidup Riley, tetapi Joy alias kegembiraanlah yang mendominasi hidup Riley.

Riley banyak mengalami kejadian-kejadian yang menyenangkan dan membahagiakan dengan kedua orangtuanya, dengan teman-temannya, dengan lingkungan alam sekitarnya. Walaupun tentu saja ada juga hal-hal kecil yang menyedihkan, menakutkan, membuat ia jijik ataupun marah pernah melintas dalam kehidupannya.

Inside out3Misalnya nih… ia merasa sangat jijik akan brokoli, marah ketika ayahnya mengancam tidak akan memberikannya hidangan penutup yang manis jika tidak mau makan brokoli. Atau sedih ketika kalah bermain Hoki dan sebagainya. Tetapi secara umum hidupnya sangat bahagia. Semuanya itu disimpan dalam pulau-pulau memori yang hidup dan menyala. Ada pulau Canda, pulau Sahabat, pulau Kejujuran, pulau Keluarga.

Semua itu berubah ketika ayahnya mendapatkan pekerjaan baru dan mereka harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tempat tinggal baru, sekolah baru dan suasana baru. Rumah yang besar dan kosong, tikus yang lewat, toko piza yang hanya menyediakan piza brokoli dan sebagainya. Di sini emosinya silih berganti menguasai dirinya. Joy masih mampu mendominasi.

Inside Out 4Perubahan sangat terasa ketika ia masuk ke Sekolah barunya. Teman-teman asing dan suasana asing. Terlebih ketika gurunya meminta ia menceritakan dirinya dan Minnesota kota kelahirannya. Ia tak mampu membendung kesedihannya dan menangis di depan kelas. Hal ini membuatnya tertekan. Demikian juga ketika berikutnya ia tak mampu bermain Hoki dengan baik. Semakin membuatnya tertekan. Orangtuanya berusaha membantu, tetapi Riley malah didominasi oleh kemarahan yang memicu kemarahan ayahnya. Satu per satu pulau-pulau memori yang indah dalam dirinyapun hancur. Tiada lagi pulau Canda. Pulau Hoki-nya juga hancur. Ia merasa kesepian. Tiada sahabat yang biasa ia ajak bicara. Pulau Sahabatnya pun hancur.

Ia sangat merindukan Minnesota dan memutuskan untuk kabur dari rumah dan kembali ke sana. Ia mencuri Credit card ibunya untuk membeli ticket bus ke Minnesota. Pulau Kejujurannya pun hancur juga. Kekacauan emosi semakin menjadi-jadi. Tapi seperti biasanya, sudah bisa ditebak kalau film ini pasti juga berakhir dengan Happy Ending. Sebelum pulau Keluarga hancur,  lima sekawan emosi ini plus Bing Bong, teman khayalan Riley waktu kecil berhasil membantu mengembalikan personality Riley seperti sedia kala.  Dimana Sadness yang selama ini dianggap mengganggu kebahagiaan Riley, justru sukses membawa Riley pulang kembali ke pelukan ayah ibunya.

Pada akhirnya, cinta,kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pada akhirnya, cinta, kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga yang membuat personality seorang anak menjadi sangat kuat.

Pesan moral yang saya tangkap adalah hidup itu memang penuh warna. Setiap emosi itu penting adanya dalam hidup seseorang – dalam hal ini hidup seorang anak. Ada kalanya emosi-emosi yang lain di luar kegembiraan berperanan juga untuk mengembalikan kebahagiaan anak. Ada kalanya kita perlu membiarkan emosi anak-anak kita disalurkan dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah peranan keluarga dalam perkembangan emosi dan personality anak.  Betapa pentingnya kita sebagai orangtua membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, perhatian, kehangatan dan kasih sayang. Karena pada akhirnya itulah fondasi yang sangat kuat yang akan membawa anak-anak kita ke dalam kestabilan emosi dan kejiwaannya. Tontonan yang menarik!.

Selain menarik, Film ini menjadi istimewa karena sudut pandang penceritaan diambil dari sudut internal emosi sang anak (Joy, Sadness, Fear, Disgust, Anger),  dan  bukan si anak itu sendiri (Riley), walaupun film ini berkisah tentang Riley. Jadi yang kita tonton, tokoh utamanya adalah Joy. Ia yang bertindak sebagai Subyek. Sedangkan Riley hanya sebagai obyek. Jadi dari sudut Cinematography-pun memang menarik.

 

Gaya Kita Berbahasa.

Standard

pink-lotusSaya dan suami serta anak-anak sedang dalam perjalanan pulang sehabis membeli beberapa keperluan rumah.  Di jalan suami saya bercerita bahwa ada seorang temannya yang tinggal di luar kota akan ke Jakarta malam ini. Mereka rupanya sedang terlibat pembicaraan lewat sms. Suami saya menawarkan temannya itu agar menginap di rumah kami saja. Karena sedang menyetir, suami saya meminta tolong saya membalaskan smsnya. Ia yang menentukan isinya. Saya hanya mengetikkan kalimatnya. Sebelum dikirim, saya bacakan dulu kalimatnya, guna memastikan apakah redaksionalnya sudah /belum sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh suami saya. Kalau suami saya setuju, maka segera saya kirim. Jika  belum cocok, segera saya perbaiki dan bacakan ulang kembali.

Saat membacakan itu, anak saya yang kecil yang sedari tadi diam ikut menyimak pembicaraan kami tiba-tiba nyeletuk ” Ma, kayanya teman Papa pasti tahu kalau yang membalas sms itu bukan Papa deh. Karena gayanya lain kalau Mama yang menulis” kata anak saya. Oohh!?. “Mengapa begitu?” Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. ” Kalau Mama yang menulis pasti gayanya panjang-panjang” katanya. O ya? Memang begitu ya? Saya takjub karena ternyata anak saya mengamati  gaya menulis saya. Ia juga bisa membedakannya dengan gaya menulis papanya yang menurutnya sangat beda. Pendek-pendek, singkat, padat dan jelas. “Apa? Siapa? Di mana? Ke mana? Kapan?“.

Loh? Memang tulisan Mama sering tidak jelas ya?” tanya saya khawatir. “Bukan tidak jelas, Ma. Malah sangat jelas. Terlalu jelas. Selain ada apa, siapa, kapan dan di mana, pasti selalu pakai tambahan penjelasan dan pendapat. Kenapa begini? Mengapa begitu? Karena begini… Yang ini aja, soalnya begini,  masalahnya begitu. Bagaimana? Oo.. begini aja ya caranya, biar nantinya begini hasilnya…” anak saya nyerocos terus dan membahas dengan panjang lebar kebiasaan saya menulis. Ha ha..saya tertawa.

Juga kalau marahin. Sama juga. Papa pasti marahinnya singkat, padat dan jelas. Kalau Mama biasanya tidak marah. Tapi ngasih tauin, tidak boleh begini begitu, dengan penjelasan kenapa dan mengapa lalu bagaimana, nye nye nye nye…” kata anak saya memberi indikasi kalau saya cerewet.  Dan ujung-ujungnya kembali ke pointnya dia tadi, bahwa teman papanya itu pasti bisa merasakan bahwa yang membalaskan sms itu tadi pasti orang lain dan bukan papanya sendiri. Karena menurutnya gaya bahasa kami sangat obvious memang berbeda.

Ketika saya tanyakan gaya bahasa mana yang lebih ia sukai, anak saya mengatakan tidak menyukai dua-duanya. Ia menyukai gaya bahasanya sendiri yang pas. Tahu kapan perlu singkat , kapan perlu panjang. Menurutnya pesan papanya terlalu singkat, sehingga membuat orang harus bertanya lagi  jika butuh penjelasan tambahan. Sedangkan saya, ia merasa kepanjangan “Kadang-kadang kan sudah tau reasonnya. Nggak perlu dijelasin lagi lah“. Saya hanya tertawa dan tidak berkomentar lagi.  Barangkali memang ada benarnya penilaian anak saya itu.

Anak saya yang besar membela saya dengan mengatakan betapa pentingnya melibatkan 5W+ 1 H (What, Who/Whom, Why, Where,  When + How) dalam setiap penjelasan. Semuanya menjadi jauh lebih jelas dan mudah dimengerti. Lalu seperti biasa kedua anak saya pun larut dalam perdebatan panjang mempertahankan pendapatnya masing-masing dan dengan gaya bahasanya masing-masing.

Seringkali kita tidak menyadari jika gaya bahasa kita ternyata unik dan berbeda dengan orang lain. Terbentuk oleh kebiasaan sehari-hari. Bermula dari cara kita bertanya atau menjawab sebuah pertanyaan orang lain, lalu berikutnya kita kembali menjawab dengan gaya yang sama,  yang akhirnya lama-lama menjadi sebuah kebiasaan yang bisa diingat oleh orang lain yang berinteraksi dengan kita sehari-hari. Demikian juga dengan saya. Barangkali karena waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru, saya memiliki kesenangan menjelaskan segala sesuatu dengan detail kepada orang lain. Terutama kepada anak-anak saya. Karena saya ingin anak-anak saya memahami akar setiap permasalahan yang ada, dan mendapatkan gambaran yang menyeluruh dan utuh dari sebuah kejadian dan bukan hanya sepotong-sepotong atau hanya sebatas di permukaannya saja. Dengan demikian,harapan saya kelak ia akan bisa mengambil keputusan yang tepat dan adil sesuai dengan konteks-nya dan bersikap lebih bijaksana dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada.

Tetapi hari ini saya mendapatkan masukan yang sangat menarik dari anak saya tentang gaya bahasa itu yang ternyata bisa juga jadi membosankan karena kepanjangan dan sering diulang-ulang. Hmmm…menarik juga!. Barangkali saya perlu memikirkan ulang bagaimana sebaiknya saya menanggapi masukan dari anak saya dan melihat kemungkinan cara memperbaiki diri saya.

Bagaimanapun gaya bahasa kita, mau itu pendek, panjang, halus, kasar, sinis, sopan, jelas, tidak jelas, terstruktur, amburadul, ketus, ragu, dan sebagainya, akan ditangkap orang lain dan disimpan dalam memorinya.

Jadi sebaiknya memang kita perlu membentuk kebiasaan berbahasa yang baik untuk diri kita sendiri dan nyaman bagi orang lain.

 

A for Average, B for Baaaaaaad…..

Standard

Asian ParentsSuatu malam, saya mengobrol dengan suami saya sambil melihat bulan purnama sedang mengambang.  Kedua anak saya sedang di kamar. Entah mereka bermain games atau menonton. Sambil tertawa-tawa cekikikan mereka memanggil-manggil  “Mama! Mama! Sini deh….” katanya. Saya tidak segera beringsut masuk.

Akhirnya anak saya yang kecil menyusul saya ke halaman dan mengajak saya masuk. Di kamar anak saya yang besar sudah menyiapkan  sebuah video di youtube untuk saya lihat. “Mommy, you have to see this… ” katanya sambil tersenyum bandel, diikuti oleh adiknya yang cekakak-cekikik.  Sebuah video yang berjudul ” Asian Immigrant Parents vs Western Parents”.  Mereka memilihkan dan memutarnya untuk saya. Nah..sekarang saya tahu siapa otaknya. Sayapun ikut menonton.

Career Choice Western Parents bilang : mereka mengatakan mendukung apapun pilihan career anaknya kelak, mau itu jadi Bill Gate, mau jadi President..intinya mereka tetap bangga akan anaknya. Asian parents juga serupa, membebaskan anaknya untuk memilih menjadi apa saja, Engineer, Docter, Lawyer atau apapun.

Kelihatannya tak terlalu jauh nih bedanya..Saya menyimak dengan baik apa yang dikatakan.

Falling In Love – Western parents umumnya ikut senang jika anaknya menyampaikan kalau ia falling in love dan malahan bertanya, kaya apa sih orangnya? Cakep nggak?. Sementara Asian Parents marah-marah jika anaknya mengatakan ia falling in love pada seseorang ” You think you in love? You crazy! You are too young..”ia menyarankan agar anaknya tetap fokus pada sekolah dulu, belajar keras, dapatkan pekerjaan dulu baru menikah.

Saya tetap menonton.

Sleep overs  – Western parents umumnya membolehkan anaknya menginap dan berharap agar anaknya bisa menikmati acara menginap di rumah orang lain. Tapi Asian parents biasanya tidak mengijinkan dan khawatir mereka menyusahkan orang lain. Toh juga mereka punya tempat tidur sendiri yang bagus,  ngapain harus menginap di rumah orang lain..

Sports – Western parents sangat mendukung anakanya aktif dalam Sport, bahkan bangga. jika menjadi team Sepakbola. Asian parents menganggap ikut Sports hanya membuang-buang waktu saja.Kalau memang ingin ikut Club, ikut saja Klub matematika…

Aah… Nggak seperti itulah!.  “Kan Mama juga sangat mendukung kalian untuk aktif Sport. Oke aja kan kalau mau ikut klub sepakbola atau mau ikut Merpati Putih. Juga nggak keberatan kalau memang mau nginep di rumah teman” kata saya berkeberatan jika anak-anak menganggap saya typical Asian parents yang seperti itu.  “Tunggu!. Mama harus denger yang berikutnya”saran anak saya.  Sayapun duduk kembali.

Grades –  Jika mendapat nilai B+ di sekolah, Western Parents akan tetap bangga atas pencapaian anaknya. Sedangkan bagi Asian parents nilai B+ itu sungguh sangat tidak membanggakan. You know what? B is Baaaaaadddd… 

Ha ha ha… Saya nyengir mendengar itu. Anak-anak memperhatikan reaksi saya.  “Nah! itu Mama banget!!!”  kata anak saya. Lalu kedua-duanya mulai membully saya. Mengatakan bahwa saya sangatlah typical Asian Parents yang menetapkan Standard terlalu tinggi untuk nilai yang harus mereka capai di Sekolah. “Bagi Mama, A is  for Average! And B is for Baaaaaaddddd – just like Asian Mom in this video!” kata anak saya yang besar meledek sambil tertawa-tawa. Rupanya ia bermaksud melakukan protes dengan memanfaatkan Video itu sehingga ia tidak perlu bersusah payah lagi menjelaskan kepada saya.  Ha ha.. cerdik juga caranya.

Video itu  menggambarkan gaya orangtua dalam mendidik anaknya. Berbeda beda. Ada typical Western Parents dan Asia Parents.  Dan  saya pikir gaya saya mendidik anak-anak lebih mirip Western Parents ketimbang Asian Parents dalam kebanyakan hal. Hanya dalam masalah  Grades saja barangkali saya lebih mirip Asian Parents. Anak-anak setuju.

Saya lalu menjelaskan kepada anak saya. Sangat wajar orangtua mengharapkan anaknya berprestasi dengan baik di Sekolah.  Itulah sebabnya mengapa mereka selalu mendorong dan mendukung anaknya untuk mencapainya. Tapi kalau urusan target, sebenarnya mereka sendiri yang bisa mengatur. Bukan harus dari saya.

Saya mengajak mereka berpikir sejenak. “Lupakan harapan Mama. Mama tidak menetapkan target. Coba kalau kalian sendiri berpikir. Kalian maunya bagaimana?” tanya saya menanyakan, apa sebenarnya yang mereka inginkan.  Apakah mereka tertarik untukmenjadi anak yang berprestasi atau tidak, jika seandainya saya tidak mendorong mereka.

Ketika ditanya seperti itu, anak saya mengatakan mereka ingin menjadi murid yang terbaik, terlepas apakah saya memintanya begitu atau tidak. Ya, OK – kata saya. Kalau ingin menjadi yang terbaik, caranya ya kita harus mendapatkan  score terbaik untuk setiap mata pelajaran di sekolah, plus prestasi yang juga membanggakan di luar  mata pelajaran. Anak saya setuju. “Kalau yang namanya score terbaik itu berapa?” tanya saya.  ” Ya..nilai A. atau 100” jawab anak saya. “Nah! Itu kalian sendiri yang menjawab. Bukan B+ atau 90 atau 80 kan?. Tapi A. Atau 100. “tanya saya sambil menegaskan. Anak anak setuju dan tertawa. “Bukan Mama lho yang bilang begitu. Kalian sendiri” kata saya. Anak saya mengangguk. “Jadi target A itu adalah dari diri kalian sendiri, bukan dari mama“kata saya mengakhiri. Anak saya terdiam dan tidak mempermasalahkan video itu lagi.

Seketika saya menyadari bahwa betapa pentingnya saya membuat “Target perolehan nilai mata pelajaran yang mereka harus capai” sebagai target yang mereka Set sendiri, usahakan sendiri dan evaluasi sendiri. Bukan target dari saya. Sehingga mereka merasa Target itu memang miliknya. Mereka yang akan mengejarnya dan mencapainya. Bukan karena saya yang menetapkan.

Saya bukan penentu hidup mereka. Sebagai orangtua saya hanya bertugas sebagai Coach dalam kehidupan mereka.

” ….You are the bows from which your children as living arrows are sent forth. The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
 Let your bending in the archer’s hand be for gladness; For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable”  – Kahli Gibran on Children –

 

Mencerna Ilmu, Mencerna Makanan.

Standard

Piza

Seorang teman anak saya pernah bercerita tentang kesulitannya mendapat nilai yang baik di sekolah. Saya mendengarkan cerita dan keluhannya dengan baik. Lalu saya memberi saran agar berusaha lebih memperhatikan penjelasan guru dengan lebih baik. Dan jangan pernah meninggalkan ruangan kelas, sebelum mengerti apa yang diajarkan oleh guru di hari itu juga. Karena menurut saya, pemahaman yang baik akan tersimpan lama di memory kepala kita ketimbang hapalan yang baik yang tersimpan sementara di otak kita.

Jika kita paham,pasti kita akan bisa menjelaskan kembali. Tapi jika kita tidak paham dan hanya mengandalkan diri pada hapalan, belum tentu kita bisa menjelaskannya kembali dengan baik.Jadi pertama, pastikan kalau kita mengerti dulu,baru nanti kita hapalkan detailnya.” saran saya. Itulah sebabnya mengapa ada banyak anak-anak yang cerdas, bahkan malas belajar namun skor-nya di Sekolah selalu tinggi.Karena ia paham dengan baik. Sebaliknya ada banyak anak-anak yang sangat rajin namun skor-nya tidak mampu mengimbangi temannya yang cerdas namun pemalas itu. Mengapa?karena ia tidak memahami permasalahannya.Ia hanya rajin menghapal. “Ya! Itulah masalahnya Tante…aku sering tidak langsung paham apa yang disampaikan guru. Rasanya sulit sekali mencerna” keluhnya.

Walaupun obrolan dengan anak itu sangat pendek, namun saya terhenti sejenak untuk memikirkannya. Saya menyukai anak itu dan keterbukaannya.Jadi sungguh tidak keberatan untuk ikut memikirkan hal yang dianggapnya menjadi masalah.

Jadi, sebenarnya masalahnya adalah bagaimana mencerna dengan baik. Mencerna ilmu.Bukan mencerna makanan!. Tapi urusan cerna mencerna pada prinsipnya sama saja bukan? Jika makanan adalah untuk seluruh tubuh kita, maka ilmu adalah makanan untuk otak kita. Menurut saya prinsipnya sih sami mawon.

Yuk coba kita lihat bagaimana kita mencerna makanan dengan baik…

Semua tentu familiar dengan konsep makanan harus dikunyah dengan baik agar mudah dicerna oleh tubuh kita. Bahkan orangtua atau guru kita di sekolah mengajarkan agar sebaiknya kita mengunyah makanan 24x kunyahan sebelum menelannya. Maksudnya tentu agar makanan yang kita telan itu sudah benar-benar hancur dan menjadi serpihan kecil oleh gigi dan geraham kita,sehingga usus kita tidak perlu lagi bekerja keras karenanya. Karena tugas usus, bukanlah untuk menyobek atau memotong makanan menjadi kecil-kecil. Selain itu,dengan mengunyah makanan lebih sering sebeum ditelan, juga memberikan kesempatan kepada enzym-enzym  yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, yakni merubah amylum menjadi glukosa (enzym ptialin) maupun sakarida yang lebih sederhana (enzym amilase). Nah kemudian hasil kerjasama gigi dan kelenjar ludah inilah yang kita telan untuk dicerna lebih jauh di dalam usus kita, sebelum semua intisarinya siap diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh pembuluh darah.

Kalau kita perhatikan,bagaimana kita bisa mencerna dengan baik di tahap pertama,tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memberikan kesempatan untuk gigi melakukannya berkali-kali (24 x mengunyah) dan memberi waktu untuk enzym-enzym itu bekerja. Jadi 2 kata kuncinya adalah waktu (time) dan berulang-ulang (repetition).  Ya..time & repetition!.

Saya pikir, dua hal ini sangat applicable dalam cara pembelajaran guru dan murid, untuk membantu murid agar lebih mudah mencerna ilmu yang diajarkan. Memberikan penjelasan yang berulang kepada murid. Jika sekali dijelaskan belum mengerti, barangkali penjelasan ke dua akan lebih mudah dipahami? Demikian seterusnya? Ibarat mengunyah, 24 x baru sempurna.  Atau setidaknya memberikan contoh-contoh yang beragam agar murid menangkap inti pelajarannya dengan lebih mudah.

Jika guru tidak melakukannya, anak juga sebenarnya bisa mengacungkan tangan dan mengatakan dengan terusterang bahwa ia belum paham dan meminta tolong guru untuk menjelaskannya kembali hingga ia benar-benar paham.

Penejelasan yang berkali-kali juga memberikan waktu bagi otak si anak untuk mencerna apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh guru.Informasi yang didapat akan disangkutkan ke sel otaknya satu per satu. Sehingga jika suatu saat nanti harus dikeluarkkan kembali saat Ulangan Umum maupun Ujian, pemahaman itu masih tersimpan dengan baik dan sangat mudah untuk dikeluarkan kembali untuk menjawab soal-soal ujian.

Ricci Cup XV: Mendorong Anak Untuk Berprestasi…

Standard

aldoSepulang kerja, saya menemukan anak saya yang kecil sangat sibuk. Biola, kardus, spidol, lem dan gunting bertebaran di lantai. “Lagi ngapaian, nak?” tanya saya pengen tahu dan melihat ke gambar Biola yang ia buat di atas kardus. Anak saya tidak menyahut seketika. Tangannya meneruskan garis dari spidol yang ia bentuk menjadi gagang biola dan matanya sesekali melirik biola sungguhan yang tergeletak di depannya. Saya berdiri menunggu. “Lagi bikin biola mainan, Ma” jawabnya ketika garisnya selesai. Saya menonton ia bekerja.

Lalu ia mulai menggunting. Saya pikir ia mengalami kesulitan, karena wajahnya meringis. Kardus itu agak tebal dan terlalu keras untuk tangannya yang mungil. “Mari Mama bantuin menggunting” saya menawarkan bantuan. Awalnya anak saya tidak mau menyerah pada kardus itu, tapi akhirnya ia menerima tawaran saya untuk membantunya meneruskan menggunting. Ia sendiri beralih membuat mahkota kepala dengan antena yang mirip antena belalang. Setelah saya selesaimenggunting, ia mulai menempel. Akhirnya jadilah biola dari kardus seperti yang ia design. Ha..lumayan bagus juga. “Untuk apa biola mainan ini?” tanya saya ingin tahu.

Anak saya bercerita kalau ia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut Story Telling Competition dalam memperebutkan Ricci Cup XV. Dan ia butuh beberapa alat pendukung untuk pentasnya nanti. Ha?! Story Telling?? Mewakili Sekolah pula??

Anak saya yang kecil ini  berbahasa Inggris dengan baik, namun mata pelajaran Bahasa Inggris bukanlah favoritnya.  Agak berbeda dengan kakaknya yang memang sangat suka belajar Bahasa asing.  Sehingga ketika ia mengatakan terpilih mewakili Sekolahnya dalam kompetisi Story Telling, saya sendiri agak heran.  “Kapan?” tanya saya. “Dua hari lagi. Tapi besok aku di camp, untuk ikut acara sekolah yang lain. Jadi tidak sempat membuat persiapan ini lagi” katanya.

Aduuuh. Kok mendadak begini ya? “Ya.Memang baru juga dikasih tahu Ibu Guru“katanya. Entah kenapa saya merasa was-was. Bagaimana anak saya akan melakukannya ya? Saya belum pernah melihatnya berlatih. Cerita apa yang akan dibawakannya? Bagaimana ia akan mengatur alur ceritanya? Volume suaranya? Mimiknya? Kostumenya? Dan sebagainya?  Aduuuh. Tapi saya harus mendukung anak saya untuk bertarung dengan baik. Karena menurut saya, kompetisi merupakan ajang yang sangat baik untuk mengasah kemampuan anak. Kompetisi memberikan kesempatan buat anak untuk menjajal kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan anak-anak lain setingkatnya, sehingga ia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Kompetisi juga akan melatih jiwanya menjadi lebih sportif.

Saya lalu memintanya mencoba melakukan Story Telling di depan saya terlebih dahulu. Ingin tahu kesiapannya. Ia pun beraksi. Gaya berceritanya sangat jenaka. Kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya dengan sangat lancar. Sambil memperagakan adegan demi adegan antara sang Belalang dan Sang Semut silih berganti diikuti mimik mukanya yang sangat kocak. Saya terpingkal-pingkal dibuatnya. Sungguh ia seorang dalang yang baik.  Ooh..jadi ceritanya tentang “The Ants and The Grasshopper“.

Kini saya mengerti mengapa ia dipilih oleh gurunya untuk mewakili Sekolahnya ke ajang kompetisi. Ia bisa mengekspresikan peranan setiap character dengan cukup baik dan dengan Bahasa Inggris yang fasih.  Saya hanya memintanya untuk mempertajam nada suara antara character satu dengan yang lainnya.Selebihnya saya lihat semuanya sudah cukup bagus.  “Semoga menang!”, tentu saja itu harapan saya.  Saya ingin anak saya bangga dengan apa yang ia capai. Bangga akan prestasinya. Bangga akan dirinya sendiri. Dan bangga itu tidak sama dengan sombong.

Tibalah pada hari H-nya!.

Hari dimana dilangsungkan Ricci Cup XV untuk memperebutkan piala-piala di kompetisi Story Telling, Speech dan Solo Vocal. Diikuti oleh murid-murid perwakilan berbagai Sekolah di Jakarta. Anak saya yang besar bertugas menjadi MC acara Speech Contest di tingkat SMP. Ia bangun lebih cepat dari biasanya dan bergegas berangkat sekolah.  Karena kesibukan kantor yang tidak bisa saya alihkan, sayang sekali saya tidak bisa datang, walaupun jauh-jauh hari anak saya sudah memberi kode ” Parents can come”. Jadi saya hanya memberinya semangat saja.

Andri

Anak saya yang besar ini sudah cukup sering dipercayakan sekolahnya menjadi MC berbahasa Inggris. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Saya yakin ia tidak akan mengalami demam panggung lagi. Walaupun dalam acara ini tentu tamu-tamu, para undangan dan peserta kontes datang dari berbagai Sekolah. Semoga ia bisa me’manage’ dirinya sendiri.  Selain itu, menjadi MC dengan menjadi peserta kompetisi tentu tingkat ketegangannya berbeda.  Kali ini anak saya yang besar tidak ikut berkompetisi apapun juga. Hanya menjadi MC saja.  Jadi sedikit agak lebih santai. So…good luck, Nak! Semoga bisa melakukan job dengan baik dan sukses membawa nama baik Sekolah.

Halnya anak saya yang kecil, rupanya ia bertanding di ruang kelas yang lain. Bukan di ruang di mana kakaknya menjadi MC. Akibatnya sang kakak juga tidak sempat melihat adiknya beraksi di panggung. Syukurnya,  Ibu gurunya berbaik hati merekam anak  saya saat ber’Story Telling ” di atas panggung, lalu memberikan rekamannya kepada kami. Lumayan! Jadi saya bisa melihat aksi anak saya saat berlomba. Tampak bagus dan ia terlihat pede dengan aksinya. Ada 35 orang peserta yang datang dari berbagai sekolah di Jakarta.

Hari Senin, keluarlah pengumumannya. Horeee!!!!. Saya mendapat kabar dari gurunya,  ternyata anak saya berhasil menggondol Juara I dalam kontes Story Telling itu. Wah, hebat!.   Sungguh saya tidak menyangka sebelumnya, ia akan menjadi pemenang pertama dalam pertandingan antar sekolah ini. But he did it!. Ia mendapatkan piagam dan berhasil menggondol piala untuk sekolahnya. Melihat usaha, kreativitas dan kemampuannya, saya pikir ia memang layak mendapatkannya. He deserves for the best!.

Tentu saja saya bangga kepada kedua anak saya. Baik yang menjadi MC maupun yang mengikuti kompetisi Story Telling. Keduanya menunjukkan prestasinya dengan baik.

Kompetisi, mendorong anak untuk berprestasi!

 

 

 

Musik Dan Perkembangan Jiwa Anak-Anak.

Standard

HomeConcertBermain musik!. Adalah salah satu bentuk berkesenian yang tidak saya kuasai.  Walaupun demikian, saya sangat menyukai musik. Apapun jenisnya.Mulai dari yang traditional hingga modern. Mulai dari gamelan, hingga alat musik asing.  Dan saya selalu kagum kepada orang yang jago bermain musik. Karena menurut saya mereka adalah orang-orang yang mampu menghayati dan mengamalkan keharmonisan dengan sangat baik. Saya tak habis pikir. Bagaimana ya caranya orang bisa berkonsentrasi dengan nada suara di dalam alat musik yang digunakannya sendiri agar tidak bertabrakan panjang pendek, cepat lambat ataupun tinggi rendahnya. Belum lagi harus menyeimbangkan keharmonisan dengan nada suara alat musik lain. Atau bahkan menyesuaikan dengan suara sang penyanyi jika ada. Repot, bukan?

Oleh karena ketidak mampuan saya bermain musik, maka saya mendorong anak-anak saya bermain musik. Agar tidak sama dengan emaknya yang cuma tahu dung dang ding dong deng – tangga nada dalam musik traditional Bali – sejenis do re mi fa sol. Pada awalnya saya membawa anak-anak saya ke sekolah musik yang ada di Bintaro. Anak saya yang besar memutuskan untuk belajar Violin, sementara yang kecil belajar piano.   Namun karena satu hal, saya kemudian memuuskan untuk melanjutkan pendidikan musik bagi anak saya di tempat kursus  yang lebih private, dimana gurunya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membimbing anak-anak.

Di tempat baru ini kedua anak saya mengambil kelas piano classic. Baru kelas persiapan dan grade 1. Masih jauh sekali ya hingga bisa menjadi pemusik yang pro? Tidak apa-apa.  Kalau ingin menjadi yang pro tentu harus sabar dan tekun belajar dari mulai yang mudah dan sederhana terlebih dahulu. Kalau terus berlatih dengan tekun tentu suatu saat bisa menjadi pro juga. Saya cukup senang anak-anak saya menyukai apa yang ia pelajari.  Selain itu di sekolahnya, anak saya yang kecil juga belajar Gamelan Jawa. Saya mendorongnya untuk mempelajari musik traditional juga. Home concert

Beberapa hari yang lalu mereka ikut Home Concert yang diselenggarakan oleh tempat kursusnya yang dihadiri sekitar 30-an penoton. Ada sekitar 17 peserta yang menampilkan Solo, selain ada juga performance gabungan. Anak saya yang kecil membawakan “Long Long Ago” karya komposer Inggris,  Thomas Haynes Bayly. Sementara anak saya yang besar, untuk penampilan piano classic  solo-nya ia membawakan dua buah lagu, dua-duanya karya Ludwig van Beethoven, komposer dan pianis Jerman. Lagu pertamanya adalah Alegro in G, dan yang kedua adalah  Fur Elise. Selain itu ia juga melakukan performance gabungan bersama seorang guru. Saya sangat senang melihat penampilan anak-anak saya. Rasanya tidak sia-sia mendorongnya untuk belajar.

Jadi teringat kembali masa-masa dimana ia baru saja mencoba menggunakan alat musiknya yang saya belikan untuk pertama kali dengan suara yang belepotan dan amburadul. Ngak ngik ngok. Tak terasa sekarang mereka telah mulai besar dan mulai lebih terlatih…

belajar musik

Mengapa bagi saya musik menjadi sedemikian pentingnya untuk anak-anak?

Musik  yang bagus memberikan keteduhan jiwa bagi siapapun pendengarnya. Mendorong anak-anak untuk mendengarkan musik atau bermain musik, sama dengan mendorongnya menuju ke keteduhan jiwa dan mental yang damai.

Belajar musik juga memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dengan lebih mudah akan pentingnya harmony dalam setiap langkah kehidupannya. Anak-anak akan menjadi lebih peka bahwa untuk membuat dirinya harmony, ia harus mengatur beberapa hal dengan baik secara internal, dan sekaligus bisa paham bahwa ia pun perlu menyelaraskan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Musik juga membantu anak dalam mengasah “rasa”. Mengatur tempo,tekanan dan nada. Dan juga menjadi obat mujarab untuk mengobati kebosanan.

Yuk kita dorong anak-anak untuk belajar bermain musik – apapun jenisnya!.

 

Menjahit Boneka Mini.

Standard

Pulang kantor, anak saya yang kecil sudah menunggu depan pintu. “Mama, aku ada tugas sekolah bikin boneka” kata anak saya. Ha? Bikin boneka? Sejenak agak terkejut. Bukannya itu urusan anak perempuan ya?  “Memang ada tugas jahit menjahit dari Pak Guru”  jelas anak saya. Saya tertawa akan pikiran konvensional saya. Memang kenapa kalau anak lelaki menjahit? Bukankah banyak perancang busana yang terbaik justru para lelaki? Serupa dengan memasak. Memasak adalah pekerjaan yang dikonotasikan dengan urusan perempuan. Tapi bukankah banyak chef terbaik dunia justru adalah laki-laki? “Lalu siapa yang men-drive pikiranmu, mengapa anak laki-laki tidak boleh menjahit atau memasak?” tanya saya kepada diri saya sendiri.

Sambil masih menahan tawa atas kebodohan saya,  lalu saya bertanya “Perlu bantuan apa dari mama?”. Anak saya berkata kalau saya perlu mengajarinya cara menjahit dan memberi contoh. Besok ia akan membuat sendiri bonekanya di sekolah sesuai dengan apa yang saya contohkan. Besok?. Waduuuh!. Sudah nyaris jam sepuluh malam.

Saya memeras otak sebentar.  Boneka apa yang bisa dibuat dalam waktu kira-kira sejam. Anak saya buru-buru mengambil felt, gunting, benang dan pernak pernik.”Aku pengen diajarin cara menjahit boneka kecil-kecil yang dulu sering mama bikinkan buat aku” katanya. Oh ya.. saya jadi teringat boneka-boneka mini buatan saya di jaman dulu. “Maunya boneka apa?” tanya saya. “Kelelawar atau anjing, atau ikan paus” katanya. Ok. Saya menyetujui untuk membuat contoh kelelawar, karena paling gampang. Bisa cepat.

KelelawarSaya mengambil kertas buffalo. Mengingat-ingat bentuk kelelawar sebentar, menggambar sketsa kelelawar, lalu menterjemahkannya ke dalam pola di kertas buffalo. Kelihatannya sudah masuk akal,  lalu saya menggunting pola itu pelan-pelan, dan menempelkannya di  kain felt dan mengguntingnya. Berikutnya saya mulai mengajarkan anak saya menjahit.

Untuk menjahit kita bisa menggunakan berbagai macam jenis stitch. Ada yang namanya stitch lurus, stitch rantai, stitch penuh, stitch kali, stitch feston, stitch batang, stitch bulu, dsb. Tapi kali ini saya hanya mengajarkan anak saya dua jenis stitch saja. Yakni stitch feston, untuk  menjahit pinggiran/gabungan kain felt- seperti misalnya sayap kelelawar, telinga kelelawar dsb. Lalu menjahit dengan menggunakan stitch lurus pada saat harus menggabungkan sayap kelelawar dengan badannya.   Anak saya memperhatikan dengan baik sambil sesekali mencoba melanjutkan menjahit sendiri. Saya melihat dengan awas. Hati-hati! jangan sampai jari tertusuk jarum. Tidak sampai sejam saya sudah menyelesaikan boneka kelelawar yang sesuai dengan keinginannya. Sayapnya terbentang – cukup dua dimensi saja. Hanya badannya saya sumpal sedikit bagian tengahnya dengan kapas agar lebih berisi. Anak saya tampak happy dengan apa yang sudah saya contohkan.

Lalu saya melanjutkan menggambar design untuk Paus Pembunuh, tapi mungkin karena sudah terlalu malam, anak saya tertidur. Sayapun merapikan posisi tidurnya,  menyelimuti tubuhnya dan membereskan sisa sisa kertas dan kain bekas guntingan yang tercecer.

Kelelawar 1Esok paginya ia pamit berangkat sekolah. Saya bertanya untuk memastikan, apakah ia masih ingat pelajaran menjahit dari saya.  Ia menjawab masih ingat dan pasti bisa membuatnya. Saya tersenyum dan berdoa semoga ia memang bisa.

Pulang kerja, anak saya menunjukkan hasil pekerjaannya di sekolah. Ohh…seekor kelelawar coklat dengan sayap berwarna hitam. Lebih menarik ketimbang  menggunakan satu warna saja. Warnanya kelihatan lebih masuk akal dari kelelawar buatan saya yang berwarna jingga. Bukankah warna kelelawar memang coklat kehitaman? Ah ya… anak memang harus minimal satu step lebih kreatif dibanding orang tuanya.

Barangkali diajarin Gurunya, iapun menempelkan mata boneka di wajahnya. Hi lucu juga bisa bergerak-gerak. Saya memuji hasil pekerjaannya.  Tapi ia tidak terlalu puas dengan hasilnya. Menurutnya jahitannya kurang rapi. “Tidak serapi jahitan mama” katanya. Ia juga mengeluh bahwa ada bekas lem UHU yang mengering di dekat mata kelelawarnya, karena ia sempat salah meletakkan mata dan mengangkatnya serta meletakkannya kembali di tempat yang sedikit berbeda. “Bekas lemnya jadi jelek” katanya. Saya menghiburnya. Saya pikir jahitannya cukup rapi, mengingat bahwa ia baru pertama kali menjahit. Dan ia bisa membuat lebih rapi lagi untuk berikutnya.

Paus PembunuhLalu saya menemaninya membuat boneka yang ke dua. Boneka Ikan Paus Pembunuh, alias Orca – the Killer Whale.  Lagi-lagi ia ingin membuatnya dalam dua warna. Biru dan putih. Ya. Saya pikir warna putih pada Paus Pembunuh itu adalah ciri khasnya.

Untuk membuat bonekanya menjadi lebih 3 dimensi, anak saya menyumpalkan kapas ke dalam perutnya. Lalu dijahit tutup. Nah…jadi deh. Kelihatan dengan jelas bentuk ikannya. Panjang ikan itu,  baik hanya badannya saja, maupun dengan ujung sirip ekornya. Juga bisa dilihat tinggi ikan itu, beserta ujung sirip punggungnya. Dan  tentu saja kelebaran tubuhnya, beserta sirip dadanya.

Lama-lama setelah saya pikir, saya senang dengan keputusan gurunya mengajak anak didiknya  membuat boneka.  Awalnya memang saya kurang antusias dengan tugas sekolahnya itu. Karena ya itu tadi..anak laki-laki kan nggak perlu pintar menjahit (walaupun pikiran saya itu ternyata salah). Tapi sekarang saya berpikir, menjahit boneka selain meningkatkan kreatifitas anak, juga melatih kemampuan anak untuk melihat dan berpikir 3 dimensi.  Dan itu sangat penting bagi perkembangannya. Satu step pemikiran, sebelum ia mampu meningkatkan kemampuan berpikirnya ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi.