Tag Archives: Motivasi

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya ūüėä.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia ūüėÄūüėÄūüėÄ.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.

Advertisements

Tidak Disiplin.

Standard

kakiSeorang teman dari Bali sedang ada di Jakarta. Ia menghubungi saya dan mengajak ketemuan. Sayang sekali saya tidak bisa. Kemudian anak saya ingin menonton AFAID 2015, pameran Anime di Kemayoran. Lagi-lagi saya tidak bisa. Terpaksa meminta tolong keponakan untuk menemani mereka ke sana. Penyebabnya?

Bulan April yang lalu saya pernah bercerita di sini tentang kaki saya yang keseleo. Rasanya sungguh tidak enak. Sakit. Untungnya saat itu saya ditolong oleh Pak Bayu, seorang tukang urut di Bantul, sehingga  saya bisa berjalan normal kembali. Namun sayangnya, belakangan ini sakit di kaki saya kambuh lagi. Saya kurang tahu persis penyebabnya.

Barangkali gara-gara saya turun dari kendaraan agak terburu-buru. Atau barangkali karena berat badan saya yang melewati standard. Saya sendiri sudah berusaha mengantisipasi. Sudah lama saya meninggalkan sepatu jenis stiletto. Bahkan wedges pun sudah jarang saya gunakan. Sehari-hari saya hanya menggunakan sepatu ringan ber-hak datar. Bahkan untuk menghadiri beberapa acara resmi pun saya tetap menggunakan sepatu datar. Walau teman-teman saya banyak juga yang protes “Bu!. Pakai sepatu yang hak-nya lebih tinggi sedikit dong, Bu! Masak ngasih sambutan ke audience pake sepatu datar. Kok ya..rasanya kurang nyambung” pernah seorang teman memberi saran.Teman yang lain bahkan pernah rela menukar dan meminjamkan sepatunya yang ber-hak tinggi untuk saya. Tapi saya tetap memilih menggunakan sepatu datar. Karena rasa sakit yang amat sangat itu. Persis di tempat yang sama saat keseleo.

Kaki kiri saya benar-benar tidak bisa digunakan untuk bertumpu. Juga tidak nyaman jika dibiarkan menggelayut saat duduk. Jadi, walaupun hanya kaki yang sakit, tapi  gerakan saya menjadi sangat terbatas. Jam kehidupan saya serasa beku. Hidup saya jadi sangat pasif. Saya enggan melakukan aktifitas apapun. Saya tidak ke kantor. Saya tidak menulis. Saya tidak mengurus tanaman. Tidak melakukan hal-hal yang biasanya saya senang lakukan dengan riang gembira. Bahkan untuk turun dari tempat tidurpun terasa berat.

Akhirnya saya memutuskan untuk menemui tukang urut tak jauh dari rumah, yang biasa menangani kaki orang terkilir. Jawabannya sangat jelas. “Banyak yang begini. Sakitnya kambuh di tempat yang sama. Biasanya karena tidak disiplin. Kalau disuruh istirahat, harusnya istirahat saja dulu di tempat tidur. Dikompres air dingin dan kakinya diangkat tinggi-tinggi. Jangan dipaksa dibawa jalan. Kalau sudah begini jadi lebih repot” katanya. ¬†Saya tidak berkata apa-apa. Diam-diam mengakui apa yang dikatakannya. Sejak pertama kali keseleo, sebenarnya saya memang tidak pernah mengistirahatkan kaki saya. Saya tetap berjalan. Karena saya pikir rasa sakitnya sudah berkurang. Dan bahkan seminggu setelah keseleo saya ¬†masih sempat bermain ke Gunung Bromo.

Sambil menahan sakit saat diurut oleh Pak Tukang Urut, saya memikirkan diri saya sendiri. Yah.. mungkin ini memang ganjarannya bagi orang yang tidak disiplin. Ada Sebab, ada Akibat. Kalau orang Bali bilang itu salah satu bentuk hukum Karmapala. Ada Karma, Ada Pahala.  Hukum Semesta yang berlaku tidak hanya untuk kehidupan yang berada di permukaan bumi saja, namun juga berlaku di semua galaxy dan seantero semesta raya. Apa yang engkau perbuat, itulah yang kelak akan engkau tuai. Perbuatan baik akan selalu menghasilkan kebahagiaan. Sebaliknya perbuatan buruk akan selalu menghasilkan penderitaan. Jika tidak dibayar dalam kehidupan ini, barangkali suatu saat akan dibayar di phase kehidupan berikutnya.

Nah… diluar apa yang ditanamkan keras oleh orang tua kita seperti “jangan mencuri!, jangan menipu!, jangan memfitnah!, jangan membunuh!, jangan menyakiti!, jangan korupsi!, jangan berkhianat!, jangan mabok!, jangan serakah!,….dst banyak jangan..! dan jangan…! yang lainnya lagi” karena semua itu adalah perbuatan yang tidak baik, ketidak-displinan tentu saja termasuk salah satu perbuatan yang kurang baik. Perbuatan kurang baik yang tentunya akan ¬†menghasilkan akibat yang kurang baik juga. Disebabkan oleh ketidakdisplinan mengistirahatkan kaki, ¬†ya…akibatnya ¬†saya harus menerima jika kaki saya jadi sakit seperti ini.

Selain itu, sebenarnya agak tidak fair juga perbuatan saya yang kurang disiplin ini terhadap orang lain (tukang urut/dokter) yang sudah berusaha membantu. Bagimana mungkin saya mengharapkan orang lain membantu saya, sementara saya sendiri kurang berusaha membantu diri sendiri.  Tukang urut ataupun dokter mungkin saja bisa membantu, namun jika saya sendiri tidak disiplin dan malah melakukan hal-hal yang memperberat kesembuhan kaki saya, tentu kesembuhan tidak akan pernah terjadi. Kalaupun terjadi, sifatnya hanya sementara dan itu hanya berkat jasa para pelaku medik dan sama sekali tidak atas jasa diri saya sendiri.  Malu juga sih memikirkan ini.

Kesembuhan yang sesungguhnya akan terjadi, hanya jika diri kita sendiri sebagai pasien yang juga berusaha keras mendisiplinkan diri  untuk melakukan hal-hal yang harusnya dilakukan jika kita benar-benar ingin sehat.

Jadi…. sebenarnya jawaban atas semua yang kita alami itu ada di dalam diri kita sendiri.

 

 

 

Sang Pencari Cahaya & Sang Pembuat Cahaya.

Standard

When you see the road...

JakartaKemarin saya ada urusan di tengah kota.  Berangkatnya cukup lancar, tapi pulangnya itu. Lalu lintas macettttt. Cettt. Cettt.  Parah deh. Tak banyak yang bisa saya lakukan, kecuali memandang ke luar jendela kendaraan di tengah kemacetan.

Seorang perempuan muda keluar dari sebuah gedung perkantoran. Perempuan itu berjalan menunduk, seolah kepalanya diganduli oleh berkilo-kilo beban. Bahu kirinya menyandang sebuah tas. Sementara tangan kanannya tampak menjinjing tas lap top.  Saya memperhatikannya. Langkahnya tampak lesu. Barangkali pulang kerja. Lelah. Begitulah kesan yang saya tangkap. Ia berjalan dalam keremangan cahaya pinggir jalan. Sesaat kemudian saya tidak bisa melihatnya lagi karena sudah jauh.

Mata saya beralih pada gedung-gedung yang menjulang tampak megah. Kokoh laksana penguasa kota yang perkasa. Penuh dengan lampu terang benderang. Sebagian sudah padam. Namun sebagian besar lainnya masih menyala terang. Cayanya ada yang putih lembut, seperti perak, kuning, jingga terang dan bahkan ada juga cahaya biru ataupun merah dan hijau. Tampak indah. Inilah yang namanya Jakarta.  Jakarta yang tak pernah tidur cepat.

Entah berapa banyaknya gedung pencakar langit yang bertebaran di kota ini. Puluhan? Ratusan? Siapa yang mencatat jumlahnya? Saya berhitung kasar di kepala saya. Satu gedung entah terdiri atas berapa lantai. Dua belas? Lima belas? Dua puluh lima?Tiga puluh? Bervariasi, tentunya. Jika setiap gedung sedikitnya menampung satu  kantor per lantainya, berapa jumlah kantor atau perusahaan di Jakarta ini?  Seberapa banyak bisnis yang bergulir dari gedung-gedung tinggi ini? Seberapa banyak tenaga kerja yang bisa diserap di sini? Tak mengherankan berbondong-bondong tenaga kerja datang ke kota ini. Mencari kerja.

“Sedemikian banyaknya lowongan kerja di Jakarta ini,¬† masak satupun diantaranya tidak ada yang mau menerima saya bekerja?” barangkali itulah yang ada di dalam pikiran optimist para pemburu kerja dari seluruh Indonesia ini ke Jakarta. Termasuk diri saya. Datang ke Jakarta, laksana laron di musim hujan yang tertarik terbang mendatangi sumber cahaya.

Namun siapakah pemilik  sumber-sumber  cahaya yang banyak bertebaran itu? Siapakah para pemilik perusahaan yang kantornya terang benderang di gedung-gedung pencakar langit itu? Sangat banyak jumlahnya. Dan tentu saja saya tidak kenal orangnya. Saya hanyalah seorang karyawan. Seorang pekerja yang tertarik mendekat ke sumber rejeki di gedung-gedung yang banyak itu. Hanya seekor laron diantara jutaan laron yang terbang ke arah cahaya. Namun saya bukanlah sang pemilik cahaya. Lalu siapakah mereka itu? Siapakah mereka para sang pemilik cahaya?.

Sang pemilik cahaya adalah mereka, orang-orang super smart yang menemukan jalan bagaimana caranya membuat api dan cahaya. Bagaikan orang -orang purba menggosok keras bilah kayu dan menampung percikan apinya di atas dedaunan kering yang mudah tersulut, mereka berpikir dan berkreatifitas hebat di atas modal usaha yang mereka miliki. Mereka melihat jalan untuk menemukan modal usaha, layaknya mereka menemukan dedaunan kering. Mereka melihat jalan bagaimana cara menggosok dua bilah kayu kering agar terpercik api dan menyulut dedaunan kering itu. Mereka melihat jalan yang orang lain tidak melihatnya.

Sekali mereka menemukan jalan bagaimana cara membuat cahaya, maka mereka akan membuat dan membuat cahaya lagi di tempat lain. Sehingga mereka memiliki beraneka cahaya putih, perak, kuning, jingga, bahkan biru, hijau ataupun merah. Cahaya yang menarik para laron untuk terbang mendekat. Demikianlah sang pemilik cahaya bekerja.

Saya terkagum-kagum takjub sendiri memikirkan itu. Lalu apakah bedanya antara laron sang pencari cahaya dengan mereka sang pemilik cahaya? Apa yang menyebabkan mengapa segelintir orang bisa sukses di Jakarta, sementara sebagian besar lainnya tidak sukses, sehingga harus bekerja pada orang lain yang mau membayar upah atas pekerjaan, ide-ide dan kreatifitasnya?. Kapankah laron akan berhasil menciptakan cahayanya sendiri? Sehingga ia tidak perlu lagi terbang menyabung nyawa untuk menguber cahaya ?

Para laron tidak melihat jalan untuk membuat cahaya. Ia hanya melihat jalan bagaimana caranya menuju cahaya. Itulah sebabnya mengapa ia menjadi laron. Ia mungkin pernah mendengar bagaimana api diciptakan, tapi ia tidak tahu dimana mencari dedaunan kering yang mudah tersulut. Atau ia tahu di mana dedaunan kering banyak berada, namun ia tidak tahu cara memantik api. Atau barangkali ia pernah mencoba memantik api sendiri, namun tidak cukup kuat menggosoknya. Sehingga ujung-ujungnya ia memilih terbang ke arah cahaya. Saya jadi teringat kepada gadis muda yang berjalan di keremangan tadi.  Ia serupa dengan diri saya. Ia mirip laron yang melihat jalan untuk terbang ke arah cahaya, namun belum menemukan jalan untuk membuat cahaya.

Lalu jika ada laron, apakah nun jauh di bawah sana, di dalam lubang-lubang tanah yang pengap ada juga para rayap pekerja yang tidak melihat cahaya? ¬†Ya…tentunya. Jika kita ibaratkan masyarakat kita serupa dengan koloni rayap, maka di sana banyak juga saudara-saudara kita yang bahkan tidak menemukan jalan bagaimana caranya terbang ke arah cahaya. Mereka belum mampu menemukan sumber rejeki. Masih menjadi pengangguran. Sehingga mereka masih berkutat dengan kemiskinan.

Jika hari ini kita melihat cahaya, tidak ada salahnya kita berusaha semampunya membantu orang lain yang berada di kegelapan agar ikut melihat cahaya dan melihat jalan bagaimana mencapai cahaya. Sambil barangkali berusaha mencari jalan untuk menciptakan sendiri cahaya. Sehingga semakin banyak lagi cahaya-cahaya yang bisa terlihat dan semakin banyak lagi orang-orang yang bisa melihat jalan menunju cahaya.

Selamat pagi teman-teman. Semoga selalu sukses dan terang benderang dipenuhi cahaya.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya.

 

Menulis, Untuk Memberi & Menerima.

Standard

MEnulisSuatu ketika, saya sedang mengambil foto-foto di sebuah pasar traditional dan mengobrol dengan orang-orang sekitar. Seseorang bertanya kepada saya, apakah saya seorang wartawan? Saya menggeleng. Bukan!. Saya bukan seorang wartawan profesional. Lalu mengapa memotret-motret dan bertanya ini itu?. Saya menjelaskan bahwa saya hanya senang menulis. Menulis di dunia maya. Saya ngeblog. Saya memotret dan bertanya ini-itu  untuk mendukung apa yang akan saya unggah ke dunia maya. Ooh!.

Anehnya orang itu menyangka saya memiliki toko online. Menjual produk di dunia maya. Saya menggeleng. “Saya hanya menulis. Bukan berdagang” kata saya lagi. Oooh!. Lalu ia bertanya lagi, apakah saya mendapatkan uang dari tulisan saya? Ada yang membayar ¬†jika saya menulis? “Tidak!” Jawab saya. Sungguh!. Setidaknya untuk saat ini.¬† Entahlah ke depannya.”Saya menulis, hanya karena saya senang menulis. Tidak ada orang yang membayar” kata saya.

Orang itu heran dan tidak mengerti mengapa saya melakukan itu. Mengapa bersusah-susah menulis jika tidak menghasilkan uang? Apa untungnya?. Hmm…apa untungnya ya? Saya tidak bisa menemukan jawabannya dengan seketika. Tapi gara-gara pertanyaan itu saya jadi merenung. Benarkah jika kita menulis tanpa bayaran tidak memberi keuntungan apa-apa bagi diri kita?.

Bagi saya menulis walaupun tanpa bayaran, tetap sangat menguntungkan. Mengapa?

Pertama, sudah pasti karena saya sangat senang menulis. Bukankah kesenangan itu bisa kita anggap sebagai sebuah keuntungan? Saya merasa sangat beruntung karena bisa membuat diri sendiri senang dengan menyalurkan hobby menulis. Menulis di blog rasanya seperti menuis catatan harian…

Kedua, jika saya menulis, maka yang saya tulis adalah tentang kejadian sehari-hari yang menarik perhatian saya. Tentang hal-hal yang saya alami atau lakukan, tentang pemikiran-pemikiran saya, tentang alam sekitar, tentang sikap atau perbuatan baik orang-orang di sekitar yang menginspirasi saya. Menuliskan hal-hal yang menyenangkan dan memberi inspirasi membuat saya lebih mudah mengingat, mengenang dan mengambil inti sari pelajarannya.

Ketiga, menulis juga memungkin saya untuk berbagi kepada orang lain. Jika ada hal-hal yang menurut saya menarik atau berguna untuk diri saya, maka saya pikir barangkali ada orang lain juga yang mau mendengarkan? Atau mengambil inspirasi dan ide-idenya?

Dan yang keempat dan menurut saya paling penting adalah Рjika kita menulis, bukan saja kita sharing pemahaman dengan orang lain  namun juga meningkatkan pemahaman kita dengan signifikan terhadap topik yang kita tuliskan. Ketika ingin membagi pengetahuan ataupun pengalaman dengan orang lain, mau tidak mau terpaksa kita menggali isi kepala kita untuk mendapatkan pemahaman terbaik yang kita miliki untuk kita keluarkan.  Menulis membuat kita menyikat kembali isi otak kita dengan cermat. Atau bahkan mungkin mencari referensi-referensi tambahan untuk mendukung tulisan kita, entah dengan cara bertanya, membaca, meneliti data atau gambar-gambar dan sebagainya. Dengan demikian pada moment kita menulis, maka di moment itupun pemahaman kita ikut meningkat. Kita menyegarkan pemahaman kita atau bahkan menerima pemahaman-pemahaman baru.  Ada mekanisme memberi (sharing pemahaman) dan mekanisme menerima (meningkatkan pemahaman) di sini.

Jadi nett-nett kesimpulannya, walaupun tidak ada yang membayar, tetap saja menulis itu memberi keuntungan bagi kita yang memang senang melakukannya.

Ayo kita menulis!.

 

Apa Yang Kau Cari ???

Standard
Lihatlah tanaman ini. Jika kita meletakkan fokus pada bunganya,  maka bunga itu akan terlihat jelas, terang dan detail, sedangkan element lain di sekitarnya tampak blur, buram dan tidak jelas.

Lihatlah tanaman ini. Jika kita meletakkan fokus pada bunganya, maka bunga itu akan terlihat jelas, terang dan detail, sedangkan element lain di sekitarnya tampak blur, buram dan tidak jelas.

Sebelumnya saya bercerita tentang Bunga Merah Kacang Ucu Liar yang saya ambil fotonya di pinggir jalan di Pariaman, Sumatera Barat. Ketika teman saya melihat hasil jepretan saya, ia ikut kagum akan kecantikan bunga itu. ¬†Dan bertanya dengan heran, bagaimana saya bisa menemukan bunga indah itu hanya dengan memandang dari jendela kendaraan yang sedang melaju. Sementara ia sendiri yang sejak lahir sudah berada di Sumatera Barat dan berkali-kali melewati jalur itu tak pernah tahu akan keberadaan bunga itu di sana. “Kok bisa ya?” tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya.

Itulah salah satu bukti ¬†atas berlakunya hukum semesta. Bahwa apa yang kita dapatkan, sesungguhnya adalah apa yang kita cari dengan konstan “ kata saya ¬†tersenyum sambil menepuk bahunya. Jika kita mencari bunga liar dengan konstan, maka beraneka bunga liar akan muncul di depan mata kita. Jika kita mencari ilmu dengan konstan, maka kita akan menemukan pelajaran di dalam setiap hal yang kita alami. Ha ha! Teman saya tertawa nyengir mendengar theori yang saya katakan itu.

Malam sebelumnya, ketika kami makan malam, saya sempat mengedepankan theori ini  kepada teman saya itu, ketika saya menceritakan kegemaran saya bermain di alam bebas dan selalu berusaha mengambil intisari pelajarannya untuk membantu saya menjalani kehidupan. Saya belajar banyak dari sungai yang mengalir di belakang rumah, dari pohon-pohon yang daunnya berdesau di tiup angin, dari burung-burung yang berkicau menyambut pagi, dari bunga-bunga yang bermekaran menebarkan wangi ke udara, dari danau, dari laut, dari gunung, dari kabut dan sebagainya. Juga dari orang-orang di sekeliling saya, dari atasan, dari teman sejawat, dari bawahan, dari office boy, dari supir, dari tukang ojek, dari tukang parkir, tukang bubur dan sebagainya.  Saya selalu memetik makna dan instisari kehidupan yang disodorkan oleh alam kepada indera saya.

Teman saya setuju dengan pendapat saya. Bahwa alam dan sekitar kita adalah guru yang terbaik. Bukankah jika pelajaran itu bisa dipetik oleh seseorang, maka sebenarnya orang lainpun bisa memetiknya? Tentu saja bisa, asalkan ia mau melakukannya. Bagaimana bisa burung-burung, bunga-bunga, pohon-pohon , sungai atau bahkan gunung yang bisu itu bisa memberi pelajaran kepada seseorang?   Teman saya bertanya, bagaimana saya bisa menemukan guru-guru itu di alam? Saya selalu menemukan guru di alam, karena dengan konstan saya memang mencari guru untuk jiwa saya.

Kita akan menemukan hal yang kita cari dalam hidup, jika kita sangat  konstan mencarinya. Mengapa? Karena jika kita konstan mencari sesuatu, maka kita akan menjadi sangat fokus terhadapnya. Ibaratnya lensa kamera, fokus artinya membuat element yang kita tuju menjadi lebih jelas,lebih terang dan lebih detail, sedangkan element lain di sekitarnya akan menjadi blur, buram dan kurang terlihat. Jika kita dengan konstan mencari intisari pelajaran dari setiap hal yang kita temui, maka kita akan menjadi sangat fokus terhadapnya.Dan oleh karenanya kita akan sangat mudah menemukannya, karena intisaripelajaran itu kini menjadi terlihat sangat jelas, besar dan terang di depan mata kita. Sementara hal-hal yang tidak kita cari akan menjadi blur dan buram sebagai latar belakangnya.

Teman saya tampak terdiam dan merenung. Saya lalu bertanya, apa kendaraan yang ia gunakan saat ini? Ia menjawab “Xenia!” sambil tampak bingung kemana arah pembicaraan saya. ¬†Lalu saya menyuruh ia mengingat-ingat jumlah kendaraan Xenia yang ia lihat di jalan, saat sebelum ia memutuskan untuk membeli Xenia dibandingkan dengan saat ia mulai tertarik dan memutuskan akan membeli Xenia. “Iya. Tiba-tiba saya melihat lebih banyak jumlah Xenia berlalu lalang di jalan raya saat saya berpikir akan membeli Xenia” katanya dengan wajah berseri. ¬†Benar! Itu karena pikiran kita terfokus pada merek kendaraan itu. Oleh karenanya,kita berusaha mencari dan memperhatikan setiap kali ada Xenia yang lewat atau parkir disekitar kita.

Demikian juga jika kita memutuskan untuk membeli VW Kodok, Mitsubishi Pajero, Toyota Altis, Honda Accord, BMW dan sebagainya. Tiba-tiba merek kendaraan yang menarik hati kita itu terlihat lebih jelas muncul di depan mata kita. Teman saya yang lain membenarkan dan menceritakan pengalaman pribadinya ketika berpikir  untuk membeli sebuah kendaraan tertentu. Ia selalu memperhatikan jenis kendaraan itu  yang melintas di hadapannya dan seketika ia melihat jumlahnya jauh lebih banyak dibanding saat sebelum ia berniat untuk membeli kendaraan itu.

Sekarang ia mulai memahami apa yang saya maksudkan. Itu hanya sebuah analogi dalam keinginan untuk membeli kendaraan.  Demikian juga yang terjadi pada hal-hal lain.

Kita akan menemukan apa yang kita cari secara konstan di dalam hidup kita.  Kita akan lebih mudah menemukan guru jika secara konstan kita mencari guru. Kita akan lebih mudah menemukan sahabat jika secara konstan kita mencari sahabat. Kita akan lebih mudah menemukan uang jika kita secara konstan mencari uang. Kita akan lebih mudah menemukan karir jika kita secara konstan mencari karir. Demikian seterusnya. Tergantung pada apa yang kita cari di dalam hidup ini.

Push To The Limit.

Standard

burung cerukcukPernahkah teman-teman ikut latihan baris berbaris? Saya pernah. Tentu saja dulu, waktu saya masih kecil.

Suatu kali saya ikut latihan baris berbaris, karena akan ada Lomba Gerak Jalan antar sekolah dalam rangka perayaan 17 Agustus. Latihannya dilakukan setiap ¬†jam 3 sore di jalanan umum. Karena tinggi badan saya tidak seberapa, tentu saja saya tidak bisa berbaris di depan. Boro-boro dipercayakan menjadi komandan barisan. Saya hanya ikut sebagai anggota yang berbaris agak di belakang, walaupun bukan yang paling belakang. ¬†Siaaappp, grakkk!. Majuuuuuu, jalannn!!!. Saat latihan itu di jalanan, ¬† kami melewati seorang pria berbaju biru tua yang berdiri di pinggir jalan dan melihat kami dengan pandangan mata kosong. ¬†Saya melirik ke pria itu dan berakata dalam hati “Waduuuh..pasien Rumah Sakit Jiwa yang lepas! Mudah-mudahan ia tidak melihat saya dan menjadikan saya sasaran”.

Catatan: Masa kecil saya habiskan di kota Bangli, dimana berlokasi sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) terbesar yang ada di Bali.  Dengan daya tampung lebih dari 400 orang pasien, Rumah Sakit ini menangani berbagai pasien yang mengalami gangguan kejiwaan dari berbagai penjuru, bukan saja dari kota-kota lain di Bali, namun juga dari luar pulau Bali.  Saat itu beredar rumors di kalangan teman-teman sekelas saya kalau ada pasien RSJ yang lepas dan suka mengejar-ngejar anak kecil. Saya tidak tahu kebenarannya. Seragam pasien RSJ pada jaman itu  berwarna biru tua. Jadi jika melihat orang aneh berseragam biru tua, dengan cepat pikiran saya mengarah pada Orang gila.

Saya berusaha tetap fokus berbaris,namun tak berapa lama terjadi kehebohan. Teman-teman yang berbaris di belakang saya berteriak “ Orang gila! Orang gila!” semuanya pada berlarian. Saking takutnya,saya berlari sekencang-kencangnya. Sekencang yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan diri. Lari, lari dan terus lari. Melewati teman-teman saya yang berlari di depan saya. Melewati orang-orang yang berjalan di pinggir. Saya tidak perduli lagi kiri dan kanan. Pokoknya berlari dan terus berlari sejauh mungkin. Setelah jauh, barulah saya menoleh. Ternyata tidak ada orang lain yang berlari secepat dan sejauh saya. Mereka hanya berlari lambat dan berhenti tak jauh dari barisan kami membubarkan diri. Lho?! Saya heran sendiri.

Setelah itu guru saya bertanya mengapa saya berlari sekencang itu. Saya jawab karena saya takut dikejar orang gila. Guru saya tertawa dan menjelaskan bahwa  orang gila itu baik-baik saja, dan ia hanya hidup dalam dunia dan pemikirannya sendiri.   Orang gila itu tidak mengejar ataupun berniat membahayakan kita, jadi tidak perlu merasa takut.  Orang gila itu membutuhkan persahabatan dari kita, bukan sikap memusuhi atau menjauhi.  Ooh..saya jadi merasa sangat malu.

Namun gara-gara kejadian itu, guru saya mengidentifikasi saya sebagai seorang pelari cepat. Berikutnya saya disuruh latihan lari  untuk mewakili sekolah saya dalam memenangkan piala dalam lomba Lari Sprint 100 meter di Pekan Olah Raga antar Sekolah.

Jika saya kilas balik kejadian konyol di masa kecil itu, memberi saya pemikiran bahwa jika kita sedang berada dalam keadaan kepepet, maka kita akan memaksa diri kita, mendorong diri kita sebanyak-banyaknya, sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya hingga ke titik batas yang bisa kita lakukan. Push to the limit!.  Baik saya maupun guru saya tidak ada yang pernah tahu sebelumnya kalau saya ternyata bisa berlari secepat itu. Hanya karena kepepet, maka potensi berlari  yang ada di dalam diri saya bisa keluar dengan baik. Walaupun tentu saja kemampuan saya bukanlah sprinter tingkat nasional, setidaknya saya pernah mengeluarkan kemampuan berlari saya dengan baik di pertandingan antar sekolah.

Tanpa kita sadari,  bahwa jika kita membawa diri kita berada di posisi yang terpaksa dan tidak punya pilihan lain, ternyata membuat kita menjadi berusaha sekeras-kerasnya untuk melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Jika tidak demikian, kita tidak pernah tahu hingga dimana potensi diri kita bisa kita kembangkan.

Saya pikir, itu hanyalah sebuah contoh kecil yang diambil dari kehidupan saya bahwa manusia itu memiliki sesuatu di dalam dirinya yang sesungguhnya bisa ia kembangkan dengan baik, jika ia mau mendorong dirinya sendiri untuk melakukannya dan melatihnya. Tidak dengan maksud untuk menyombongkan kemampuan diri saya sendiri (karena kenyataannya setelah dewasa saya tidak pernah lagi melatih diri berlari, dan jika sekarang saya disuruh berlari sudah tentu ngos-ngosan dan megap-megap karena saking tidak pernahnya berolah raga – jadi apa yang harus saya sombongkan juga…he he), tetapi saya ¬†hanya ingin mengajak kita semua merenungkan “potensi diri” yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Apakah benar apa yang telah kita capai saat ini adalah sudah yang terbaik dari poetnsi yang kita miliki? Apakah sebenarnya kita juga memiliki potensi-potensi yang lain yang tidak kita ketahui, hanya karena kita belum pernah me’push’ kemampuan kita hingga ke level yang optimal? ¬†Saya yakin setiap orang pasti memiliki potensi penting dalam dirinya masing-masing. Namun apakah pada saat ini sudah didorong dengansebaik-baiknya atau belum? Itu yang masing-masing dari kita yang perlu menjawabnya.

Yuk kita tengadahkan wajah. Tegakkan leher sejenjang-jenjangnya. Tatap langit yang tinggi.  Bersama-sama kita coba cari dan dorong segala potensi yang ada di dalam diri kita agar bisa keluar dan mencapai level yang optimal!.

Selamat menyongsong Hari Senin!.

Tentang Kejujuran Uang Receh.

Standard

pink-lotus2Kemarin pagi, sambil jalan ke kantor saya sempat mampir di sebuah minimarket  untuk mengambil sedikit sisa uang buat belanja dapur hingga akhir bulan. Seusai mengambil uang, saya sekalian membeli 2 botol minuman Vitamin C  dan sekaleng teh bunga Chrysant. Karena takut kesiangan, saya terburu-buru membayar ke kasir.  Total harganya Rp 16 100. Saya merogoh sejumlah uang dari dompet dan mengangsurkannya kepada kasir.

Ketika menghitung uang yang saya bayarkan kepadanya,  saya melihat perubahan pada wajah dan mata kasir itu. Ia terlihat seperti kaget. Sejenak kasir itu tampak terdiam dan berhenti bergerak. Matanya tertuju pada uang saya yang sekarang ada ditangannya. Perubahan ekspresinya itu membuat saya jadi penasaran dan ikut melihat ke arah uang di tangan mas kasir itu. Ooh.. rupanya saya kelebihan membayar!. Ada empat uang lima ribuan,selembar uang ribuan dan sekeping logam ratusan.. Semuanya ada Rp 21 100. Jadi kelebihan lima ribu rupiah.  Itu rupanya yang membuat si mas kasir tertegun dan berubah ekspresinya.

Salah membayar !. Beberapa kali saya melihat kejadian salah membayar terjadi pada pelanggan Supermarket lain juga. Kelebihan atau kekurangan. Umumnya kasir akan menegur jika uang kita kurang, atau mengembalikan jika uang kita lebih. Karena cukup seringnya melihat kejadian seperti itu, sayapun hanya menunggu saja. Saya pikir ia akan segera mengatakan bahwa uang saya kelebihan Rp 5 000 dan akan segera mengembalikannya kepada saya. Tapi ternyata, alih-alih mengembalikan kelebihannya, si mas kasir itu malah memasukkan semua uang itu ke laci mesin kasir, memberi struk belanjaan kepada saya dan berkata ” Uangnya pas ya, Bu?”.

“Hah?! Bukannya uang saya tadi kelebihan lima ribu ya?” tanya saya spontan. ¬†Mendengar pertanyaan saya, kasir itu berkata¬†“O ya, benar Bu” lalu ia mengembalikan uang saya yang lima ribu rupiah itu. Wajahnya tampak memerah. Terlihat agak malu.

Sambil berjalan keluar dan masuk ke kendaraan saya jadi memikirkan kelakukan kasir itu. Mungkin ada yang berkata, hadeh..duit lima ribu saja kok dipermasalahkan. Bagi saya masalahnya bukan soal nominalnya yang lima ribu rupiah itu- karena uang bisa saya cari dengan baik selama saya masih mampu bekerja. Dan terus terang saya juga bukan orang yang mengutamakan uang dalam hidup saya. Tapi saya menyorot soal kejujurannya dalam hal keuangan. Kok bisa ya? Saya sungguh terperanjat akan kelakuan mas kasir itu.  Sama sekali tidak menyangka kalau ia akan melakukan perbuatan tidak jujur seperti itu. Sangat sayang!

Malam hari menjelang tidur, saya sengaja menceritakan hal ini kepada anak saya agar ia mendapatkan gambaran, betapa nilai kejujuran sangat penting bagi saya dan keluarga. Anak saya yang mendengar cerita saya tentang itu mencoba menetralisir, “Barangkali ia tidak nyadar kalau uangnya Mama kelebihan, Ma!“. katanya.

Itu sesuatu yang tidak mungkin. Karena mama melihat sendiri bagaimana ekspresi wajahnya saat menerima uang itu. Dan ia melihat ke uang itu cukup lama sebelum memasukkannya ke laci. Jadi ia sangat sadar kalau uangnya sebenarnya lebih. Dan ia juga mengatakan itu, kok” kata saya.

Lalu saya meneruskan,  bahwa kejujuran itu harus dibangun dari hal-hal kecil. Dipupuk dari uang receh seratus rupiah.  Jika kita terbiasa dengan sikap jujur terhadap uang receh, maka kita akan terbiasa berbuat jujur dalam keuangan. Satu rupiahpun jika memang bukan milik kita, jangan pernah diambil. Kembalikan kepada yang berhak.

Sebaliknya jika kita membiarkan diri tidak jujur dengan uang receh ini, mengabaikannya, maka lama-lama kita akan terbiasa mengambil hak yang bukan menjadi hak kita. Dari uang seratus yang kita pikir tidak ada artinya, kita ambil,¬† lalu berikutnya menjadi seribu yang berani kita ambil, selanjutnya menjadi lima ribu, menjadi seputuh ribu, lalu seratus ribu, sejuta, puluhan juta, ratusan juta bahkan semilyar…jadilah kita koruptor. Mengambil uang yang bukan menjadi hak milik kita. “Jika kita tidak mendisiplinkan diri untuk jujur dengan uang receh, ¬†maka ketidak jujuran mungkin kita lakukan dalam jumlah yang lebih besar di kemudian hari” kata saya kepada anak saya.

Tapi aku kan selalu mengembalikan sisa uang kalau mama suruh belanja. Aku tidak pernah mengambil satupun¬†” kata anak saya. Saya membenarkan, anak saya memang selalu mengembalikan uang receh sisa belanja utuh -utuh.¬† Tak pernah diambil sekepingpun. Lalu saya menjelaskan kepadanya,¬† mengapa saya menceritakan kejadian ini kepadanya, bukan untuk menuduhnya atau mencurigainya melakukan ketidak-jujuran, tetapi¬† hanya untuk mengingatkan saja, bahwa betapa pentingnya nilai kejujuran bagi saya dan keluarga.

Anak saya hanya terdiam lalu mencium pipi saya dan menarik selimutnya lebih ke atas. “Selamat tidur, mama..” katanya. Ia memejamkan matanya. Sambil mengusap-usap punggungnya, saya menunggunya tertidur pulas. Berharap ia akan selalu mengenang percakapan kami dan membawa nilai-nilai kejujuran selalu dalam aliran darahnya di seluruh kehidupannya ke depan.

 

 

Mendayung Melawan Arus

Standard

BerperahuMelihat orang bermain perahu di tengah danau sungguh mengasyikkan. ¬†Anak saya yang kecil¬† ingin ikut mencoba berperahu. Mendayung sendiri. Saya mengiyakan dan segera mencari informasi mengenai biaya naik perahu. “Tujuh ribu rupiah per orang” kata tukang perahu. Nanti tukang perahu akan membantu mendayungkan. ¬†Saya setuju.

Anak saya ingin mendayung sendiri.  Iapun segera berlari masuk ke perahu dan mengambil dayung.  Saya ikut masuk ke dalam perahu dan mengambil dayung lain yang tersedia di sana.

Memngambil posisi di sebelah kanan dan mulai menggerakkan dayung dari  rah depan ke belakang. Anak saya duduk di sebelah kiri dan mengikuti gerakan saya dengan  menggerakkan dayungnya dari depan ke belakang.

Row ¬†row ¬†row your boat, gently down the stream….. merrely merrely merrely merrely , life is but a dream!”.

Huuuuahhh alangkah indahnya hari!. Pagi hari yang menyenangkan. Sinar matahari yang hangat memantul di atas permukaan air danau. Perahu bergerak ke depan dengan mudah. Saya menggerakkan dayung dengan lebih semangat lagi, anak saya mengikut. Tujuan kami adalah berperahu mengelilingi danau yang luasnya kurang lebih 11 hektar itu. Pertama kami mengarah ke ujung danau di seberang, di mana terdapat pintu air yang mirip jembatan.  Mendayung terasa sangat mudah. Perahu bergerak cepat.  Anak saya sangat senang.  Saya melihat kegembiraan yang meluap di wajahnya.

Tak lama kemudian kami  berada di ujung danau di dekat pintu air itu, lalu membelokkan arah perahu sedikit untuk menyusuri tepi danau ke arah yang menjauh dari pintu air itu. Saya berharap agar bisa menemukan burung air liar di sekitar tempat itu, Sayang  tak seekorpun tampak. Sempat terdengar suara Burung Raja Udang, namun binatangnya entah di mana.

Ada sebah benda mengambang di permukaan danau tak jauh dari posisi perahu kami.”Apa itu?“tanya anak saya. Saya melihat. Agak silau. Ooh rupanya sekumpulan daun-daun teratai yang berwarna hijau kecoklatan sedikit ungu.¬† Menurut tukang perahu, itu adalah teratai gunung yang banyak diburu orang untuk diambil sebagai bahan obat. ¬†Dulunya banyak tumbuh di sekitar situ. Tapi sekarang sudah nyaris hilang. Ooh.. saya manggut-manggut mendengar cerita itu.¬† ¬† Sayang juga kalau sampai punah. Penasaran pengen melihat bunganya. Sayang jaraknya agak jauh, saya tidak bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dan memang sedang tidak ada bunganya.

Kami mendayung lagi¬† dan mendayung lagi. Perahu membelok menuju ke tempat pemberangkatan kami tadi. ¬†Bergerak melambat. Dayung terasa sedikit lebih berat. Anak saya rupanya menyadari itu,lalu bertanya. ” Lho?! Kok perahunya tambah lambat?” tanyanya terheran-heran. Mungkin ia merasakan dayungnya tambah berat,sementara perahu melaju tidak secepat sebelumnya. Itu karena kita mendayung melawan arus air danau” kata saya. ¬†Wajahnya kelihatan menunggu penjelasan lebih jauh. Sambil terus mendayung, dengan senang hati, sayapun mulai mendongeng kepada anak saya.

Ketika air mengalir menuju suatu tempat lain¬† yang umumnya berada di tempat yang lebih rendah, maka akan terjadi pergerakan. “Gerakan-gerakan itu disebut dengan Arus. Arus air! ” kata saya. Jika airnya banyak, maka gerakannya pun semakin kencang dan disebut bahwa ” arusnya ¬†semakin kencang”. Jika air yang mengalir sedikit, maka arusnya pun mengecil. Selain itu, arus air juga ditentukan oleh permukaan tempat ia mengalir. Semakin miring, semakin mudah ia meluncur. Maka arusnyapun semakin kencang. ” Seperti yang terjadi di danau ini. Air bergerak dari tempat kita tadi naik perahu menuju ke pintu air di sana. Jadi arusnya mengarah ke sana.” kata saya menunjuk pintu air.

Saya lalu menjelaskan, bahwa arus ini memiliki tenaga dorong yang besar menuju tempat ia mengalir. Jika ada benda-benda yang berada di air, maka dengan sendirinya benda itu¬† akan ¬†ikut terdorong oleh tenaga air itu ke arah yang sama. “Demikian juga perahu ini. Sebenarnya sejak tadi ia didorong oleh arus air. Itulah sebabnya ketika kita mendayung ke arah pintu air, kita merasa dayungnya sangat ringan.Sedikit saja kita mendayung, maka perahu akan bergerak dengan cepat. karena bantuan dorongan air”. Anak saya manggut-manggut. Setuju dengan apa yang saya ceritakan. ¬†Perahu yang bergerak seiring dengan arus, akan bergerak dengan sangat mudah dan cepat.

Sebaliknya perahu yang bergerak melawan arus akan bergerak lambat dan lebih susah. Membutuhkan energy untuk bisa melawan arus. Semakin besar ¬†arus yang harus kita lawan, maka semakin besar pula energy yang kita butuhkan untuk mendayung. Jika energy kita lebih lemah dari arus, maka perahu akan bergerak lambat atau tidak bergerak sama sekali. Bahkan jika kita sangat lemah sekali, bisa-bisa ¬†kita akan terseret dibawa arus. “Jadi kita harus mendayung dengan lebih kuat lagi” ajak saya kepada anak saya.

Sambil berkata demikian kepada anak saya, sayapun  berpikir-pikir . Bukankah dalam kehidupan sehari- hari juga begitu? Tak ada yang salah atau benar soal arus. Memilih menjalankan kehidupan  seiring dengan  arus  ataupun sebaliknya melawan arus, adalah hak kita. Namun yang jelas, kita perlu menyadari dan waspada. Bahwa berjalan melawan arus,  membutuhkan energy yang lebih banyak ketimbang dengan jika kita memilih berjalan seiring dengan arus.

Selamat mendayung biduk kehidupan!

 

 

 

Menghadiri Yudicium Keponakan Di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Standard

Beji-20140204-01796Kemarin saya mewakili kakak saya menjadi orang tua untuk menemani keponakan yang yudicium di FE Universitas Indonesia. Kakak saya terlambat datang dari Bali dan baru tiba sore hari. Jadilah saya pagi-pagi berangkat ke Depok agar bisa tiba di sana pukul 08 00 pagi.  Cepat sekali waktu berlalu. Rasanya belum lama saya mengantar keponakan saya ke sini untuk mendaftar  dan ikut masa orientasi. Sekarang kok sudah selesai ya? Cepat juga. Tapi setelah saya hitung-hitung kembali, ternyata memang baru 3.5 tahun.  Ya..memang termasuk cepat lah kalau begitu. Jenjang Sarjana Strata 1, normalnya kan ditempuh selama 4 tahun.

Acaranya sebenarnya menarik. Namun sayang sekali, kami para orangtua ditempatkan di area terpisah dengan mahasiswa yang akan yudicium itu. Walaupun telah disediakan 4 buah layar dimana kami bisa menyaksikan prosesi yudicium itu ‘life’ di layar, tetap saja ¬†terasa kurang mantap jika tidak bisa menyaksikan langsung di ruangan yang sama. Terutama jika kita ingin mengabadikan moment-moment penting di acara itu, jadi tidak bisa.

Akhirnya saya cuma menonton layar dan menyaksikan berjalannya acara serta mendengarkan setiap sambutan  yang diberikan, baik oleh Dekan, perwakilan Ikatan Alumni ataupun perwakilan Orangtua mahasiswa. Ada baiknya juga buat saya menyimak. Sangat jarang saya bisa dapat kesempatan di sini dan mendengar secara langsung pidato-pidato yang diucapkan oleh guru besar di fakultasnya sendiri.  Selain itu, jika berbicara tentang lulusan baru,  tentu saja sebagai karyawan sebuah perusahaan, selama ini sudut pandang saya lebih sebagai penampung lulusan/tenaga kerja baru Рbagaimana merekrut, memberikan training, menempatkannya di dalam perusahaan, dan sebagainya. Nah, mendengarkan bagaimana bagian dari civitas akademika dari lembaga yang menyediakan calon-calon tenaga kerja baru berbicara serta memberi wejangan kepada para lulusan barunya, tentu menjadi hal yang menarik untuk saya dengarkan.

The Next Level of Excellence.

Semua orang tahu bahwa selama ini FE UI telah mencetak sarjana-sarjana yang berkwalitas tinggi. Hal itu tentunya tidak terlepas dari upaya dan kerja keras FE UI. Mulai ¬†dari usahanya merekrut siswa siswi terbaik Indonesia yang memang benar-benar excellent dari sekolahnya masing-masing, hingga menyediakan kurikulum dan tata cara pendidikan yang sebaik-baiknya, sehingga keluar sebagai tenaga kerja dengan kwalitas yang sangat baik.Terbukti dengan banyaknya pejabat, akademisi, pengambil-pengambil keputusan ¬†di perusahaan-perusahaan, pakar-pakar maupun praktisi ekonomi yang bagus adalah lulusan FE UI. ¬†Excellent!. ¬†Namun tentu saja FE UI tidak ingin berhenti sampai di sana. Sudah saatnya sekarang FE UI untuk bergerak ke arah “the next level of Excellence”, yakni dengan menyiapkan lulusan yang memiliki basic yang excellent sehingga cepat beradaptasi dengan perubahan apapun yang terjadi di dunia luar sana. ¬†Ke depannya fakultas akan lebih fokus untuk memahami proses, sebagai contoh misalnya lebih tertarik untuk mempelajari mengapa sebuah keputusan diambil, dan bukan pada data-datanya, atau misalnya jika itu berkaitan dengan laporan keungan maka akan lebih memahami mengapa dan kapan ¬†sebuah laporan dibuat, bukan pada bagaimana cara membuat laporan –¬† demikian dijelaskan oleh Prof Ari Kuncoro, PhD – Dekan Fakultas ¬†Ekonomi UI. Saya pikir shifting focus ¬†seperti ini sangat penting, karena pada kenyataannya di dunia kerja, kita juga tidak mengharapkan karyawan kita hanya statis menjadi ‘do-er’ saja yang sangat ahli melakukannya. Namun lebih dari itu tentunya mengharapkan tenaga kerja yang memahami keseluruhan dan¬† inti permasalahan dengan lebih baik, ¬†serta peka terhadap dinamika pasar yang terjadi dan mampu ¬†mengantisipasinya dengan sangat baik.

Menjadi Pemain Kehidupan Yang Baik.

Lalu Professor itu pun menceritakan sebuah quote tentang ¬†golf. Di sana disebutkan bahwa Permainan golf itu tidak bisa dimenangkan. Golf hanya bisa dimainkan saja. Jika kita menang dalam permainan golf, itu karena kita bermain dengan bagus. Bukan karena kita nge”beat” lawan kita. Ha ha.! benar juga ya. Untuk memenangkan permainan golf dengan baik, tentu kita harus menjalaninya sendiri. ¬† Demikian juga dengan kehidupan. Jika ingin memahami kehidupan secara hakiki, ya kita harus menjalaninya sendiri dan bermain dengan baik. Bukan dengan cara ¬†nge”beat” kehidupan orang lain. Dan untuk bisa menjalaninya dengan baik, kita perlu memiliki kemampuan bermain yang baik. Ilmu yang kita dapatkan di perguruan tinggi hanyalah basic saja sifatnya. Berikutnya, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya dalam kehidupan kita. Analogi yang sangat baik.

Belajar Seumur Hidup

Sementara itu, Bapak Lorens Manurung, ketua persatuan orangtua mahasiswa memberi wejangan kepada para mahasiswa calon wisudawan/wisudawati ¬†dan sekalian melaporkan kegiatan dan pertanggungjawabannya. Mengutip sebuah quote ” Orang-orang yang berhenti belajar adalah pemilik masa lalu, orang-orang yang terus belajar akan menjadi ¬†pemilik masa depan.”. ¬† Wah.. boleh juga quote itu. ¬†Mengingatkan kita tentang betapa pentingnya belajar dan terus belajar.¬† Belajar seumur hidup kita. Dan jangan pernah merasa sombong dengan ilmu yang kita miliki. Karena di luar sana masih banyak ilmu yang belum kita kuasai. Jadi jangan pernah berhenti belajar.¬† Sangat setuju. Dan saya juga berpikir tak mau berhenti belajar.

Jangan Korupsi

Itu adalah beberapa hal menarik diantara yang saya dengar pagi itu. Tentunya masih ada banyak lagi ide-ide dan quote-quote ¬†lain yang menarik, termasuk wejangan perwakilan Iluni tentang ¬†bagaimana menjaga nama baik almamater dan pesan yang sangat baik tentang “JANGAN KORUPSI”. Cara menceritakannya membuat saya tertawa. Sangat benar adanya. Jika kita misalnya korupsi 100 juta rupiah, dan misalnya kita masih punya sisa hidup 60 tahun lagi, maka ¬†uang 100 juta itu jika didepresiasikan selama 60 tahun, sebenarnya sekitar empat ribu lima ratus rupiah sehari. Masa ¬†demi uang yang empat ribu lima ratus itu kita harus menanggung aib selama 60 tahun? Oleh karena itu jangan korupsi. Pesan yang sangat baik. Bukan dengan hanya mengatakan bahasa klise ¬†yang mengambang “Jaga nama baik almamater”, namun dengan sekaligus menunjuk beberapa “perbuatan buruk populer” *¬†yiiih..apalagi ini bahasanya* yang jangan sampai dilakukan. Dan saya tidak tahu, apakah setiap perguruan tinggi selalu mengingatkan hal ini kepada para alumninya?

Demikianlah saya menikmati acara yudicium itu. Walaupun tetap merasa agak kecewa karena tidak bisa melihat langsung acaranya dari ruangan yang sama, dan tidak bisa melihat keponakan saya secara langsung, namun saya cukup terhibur dengan mendengarkan pidato-pidato itu dari layar. Dan tentunya lebih terhibur lagi begitu mendengar nama keponakan saya diumumkan lulus dengan predikat ¬†“Cum Laude”. ¬†Lumayan deh. Lumayan membuat saya bangga sebagai bibinya.

Oh ya..dan tentunya sebagai wakil orang tua, saya juga ingin menyampaikan rasa hormat dan sekaligus mengucapkan terimakasih saya yang sebesar-besarnya kepada Fak Ekonomi Universitas Indonesia yang telah mendidik anak kami dengan baik hingga berhasil menyelesaikan studinya dengan baik pula.

Roti Sasur, Cita-Cita Yang Terlupakan.

Standard

???????????????????????????????Saya mampir di sebuah Super Market untuk membeli keperluan rumah yang habis. Ketika hendak membayar di kasir, saya melihat roti dipajang tak jauh dari sana. Jadi teringat perlu membeli roti tawar untuk anak-anak.  Sambil memeriksa  tanggal kadaluwarsanya,  saya melihat ada Roti  yang dibelah dengan rumbutter diusapkan di lapisan dalamnya. Hmm..kelihatannya enak dan empuk. Sayapun memeriksanya sebentar. Harganya Rp13 700 per bungkus.kalau tidak salah ada 6 buah di dalamnya. Berarti harga per buahnya adalah Rp 2 833. Lumayan.Tidak terlalu mahal.Sayapun memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan saya.  Roti ini mengingatkan saya akan Nyoman, adik saya  yang nomor tiga dan akan cita-cita kami bersama waktu kecil.

Bagi sebagian orang, terutama yang dibesarkan di kota besar, tentu Roti adalah makanan yang umum dan mudah ditemukan sehari-hari. Termasuk roti dengan rumbutter seperti ini. Tapi bagi saya yang dibesarkan di kota kecil, roti bukanlah makanan sehari-hari. Karena di rumah saya, untuk teman minum teh, ibu saya lebih banyak menyediakan jagung rebus, pisang goreng, keladi kukus , singkong, ubi kukus, bubur kacang ijo dan sebagainya makanan kampung yang alami. Makanan olahan seperti roti merupakan makanan yang terlalu mewah untuk kami dan sangat jarang dihidangkan. Paling banter juga, sesekali ibu saya kadang membuatkan kue donat,bolu kukus ataupun bolu kering. Seingat saya, walaupun ibu saya pintar memasak, tapi ibu tidak pernah membuatkan roti buat kami.

Namun, roti yang serupa dengan roti rumbutter ini juga beredar di Bangli, kota kelahiran saya saat saya masih kecil. Dijual di warung  dekat rumah dengan harga Rp 35 per buah.  Karena harganya Rp 35 maka saya dan adik-adik saya menyebutnya dengan nama Roti Sasur. ( Catatan: Sasur dalam bahasa Bali artinya 35. Serupa dengan kata Seket untuk angka 50).

Harga Rp 35 untuk sebuah roti pada jaman itu termasuk sangat mahal. Bandingkan harga Tipat Cantok (semacam gado-gado ketupat traditional Bali) yang pada jaman itu  adalah Rp 10 per porsi. Atau es potong yang Rp 5. Nah, bisa dibayangkan betapa premiumnya harga Roti Sasur di kota saya saat itu.

Tapi Roti Sasur ini sangat enak menurut saya. Rumbutter yang dioleskan di tengahnya terasa gurih dan manis. Ukurannya pun seingat saya lebih besar dari roti yang saya beli tadi. Saya, adik-adik dan kakak saya sangat menyukai Roti ini. Jadi kami ingin sekali bisa menikmatinya setiap hari.

Namun sayangnya kami tak mampu membelinya setiap hari. Mengingat uang jajan saya kalau ke sekolah pada saat itu hanya Rp 15 -20 per hari * uang jajan saya bergerak naik dari  1 ringgit (Rp 2.5)  waktu kelas 1 SD (tahun 1972), lalu menjadi 2 ringgit (5 rupiah) per hari  waktu kelas 2 SD dan seterusnya hingga waktu SMP uang jajan saya menjadi Rp 20 -25/hari* maka jika ingin makan Roti Sasur ini saya harus mengirit-irit uang jajan dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit agar bisa terkumpul menjadi Rp 35 dan bisa membeli roti ini. Biasanya saya hanya mampu membeli seminggu sekali. Karena uang jajan yang dikasih ibu, juga sebagian tetap kami manfaatkan untuk jajan lain saat istirahat jam sekolah. Biasanya yang disisihkan untuk membeli roti ini hanya Rp 5-10 per hari.

Ibu saya tidak akan mau menambahkan uang jajan begitu saja. Satu-satunya kesempatan bagi kami untuk menambah uang jajan hanya jika kami mau bekerja di penggilingan beras milik ibu saya. Mengawasi buruh, menimbang beras dan melayani petani pelanggan penggilingan atau pedagang beras yang akan membeli dari kami. Upahnya berupa dedak yang boleh kami jual dan uangnya kami miliki. Dan tentunya itu hanya bisa dilakukan di hari libur. Demikianlah, Roti Sasur itu tetap menjadi impian mewah bagi saya dan saudara-saudara saya.

Masih terbayang diingatan saya, pada suatu kali saya dan Nyoman (adik saya yang no 3) membeli roti ini diwarung dekat rumah. Kami menikmatinya segigit demi segigit sambil duduk berdua bersender di pagar rumah. Lalu ¬†Nyoman berkata, seandainya ia kaya, maka ia akan membeli dan makan Roti Sasur ini setiap hari. ¬†Sayapun menyetujui perkataannya. Jika saya punya uang, tentu saya juga akan membeli dan makan roti ini setiap hari. Dari percakapan itu, maka kamipun bercita-cita “Jika suatu saat kami kaya, maka kami akan membeli dan makan roti sasur ini setiap hari”. ¬†

Sejak saat itulah, membeli Roti Sasur menjadi cita-cita kami yang paling tinggi. Kami harus belajar keras agar menjadi pintar, lalu bisa bekerja dan  punya uang, agar mampu membeli Roti Sasur setiap hari!. Kakak dan adik-adik saya yang lainpun ikut familiar dengan CITA CITA ROTI SASUR ini.

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Cita-cita Roti Sasur itu masuk ke dalam nadi  kami dan tidak lagi muncul di permukaan otak. Sekarang kami sudah dewasa dan bekerja serta memiliki penghasilan sendiri. Walaupun tidak kaya, tapi sebenarnya saya sudah memiliki uang yang cukup untuk membeli Roti Sasur setiap hari. Tapi sungguh, saya tidak melaksakan impian saya untuk membeli dan makan roti sasur ini setiap hari. Saya bahkan lupa akan cita-cita saya waktu kecil itu, hingga Roti Rumbutter yang serupa dengan Roti Sasur ini ada di hadapan saya. Maka sayapun menelpon Nyoman, apakah masih ingat akan CITA-CITA ROTI SASUR-nya ? Begitu saya ceritakan bahwa saya membeli sebuah roti mirip roti Sasur kami jaman dulu, adik saya tertawa dan seketika ingat kembali akan cita-citanya.

Saya melihat ke “Roti Sasur” ¬†yang saya beli dan merasa berterimakasih kepadanya.Walau entah bagaimana hubungannya, saya merasa setidaknya Roti ini sempat menjadi penyemangat saya untuk menggapai cita-cita saya ke depannya.