Tag Archives: Music

Dari Bigbang Izzi Video Music Star 4.

Standard
Dari Bigbang Izzi Video Music Star 4.

Bisa dibilang, semua orang tahu kalau musik memegang peranan sangat penting dalam kehidupan remaja. Saking lekatnya, begitu lepas dari pintu sekolah, hal yang pertama dilakukan adalah mengambil gadget dan mendengarkan musik. Hati senang dengerin musik, lagi galau juga dengerin musik. Musik adalah bagian dari hidup remaja. Dan Izzi mengerti banget akan hal ini.

Untuk itu Izzi yang merupakan brand fragrance remaja setiap tahun menyelenggarakan kompetisi video musik terbaik bagi para remaja yang memiliki bakat terpendam di bidang musik. Dan tahun ini adalah tahun ke 4 dari penyelenggaraan Izzi Video Music Star itu. Walaupun setiap tahun diadakan, ternyata ada yang beda kali ini lho!. Nah…pada mau tahu kan bedanya di mana?

Kompetisi yang biasanya terbatas pada “Singing” kategori ini, tahun ini mulai ditambah dengan kategori baru yakni “Dancing” juga. Mengapa? Karena selain untuk mengiringi nyanyian, musik juga digunakan untuk mengiringi tarian. Para remaja juga banyak lho yang hobby nge-dance.

Hal lain yang berbeda, kali ini kita melihat Izzi juga memperkenalkan rangkaian fragrance barunya dengan wangi segar, modern dan sesuai dengan karakter anak muda, yang mengambil tema seputaran hal-hal yang biasa dicurcolkan oleh para remaja putri kepada”Besties”nya. Ada 3 variant dari Izzi Fine Fragrance Mist yang diperkenalkan, yakni:

1/. Heart Beats, dengan note Orange- Cherry -Jasmine.

2/. Dear Diary, dengan note wangi Berry-Lemon-Lily.

3/. Secret Crush, dengan note wangi Apple-Strawberry-Rose.

Karena themanya tentang Besties, maka kali ini thema Izzi Video Music Star 4 ini pun serupa, yakni seputaran Besties juga.

Izzi mengajak remaja putri beserta besties ataupun squadnya masing masing untuk berkompetisi menunjukkan kehebatan teamnya dalam menyanyi ataupun menari dan sekaligus memenangkan hadiah yang jika ditotal-total mencapai Ratusan Juta Rupiah. Keren kan? Remaja mana yang nggak tergiur untuk tampil berprestasi dan sekaligus menyabet hadiah puluhan juta per pemenang itu?

BESTIES CHALLENGE!.

Wah… tentunya makin seru ya!.

Jadi sejak bulan Agustus yang lalu, Febriana Bustan -Brand Manager Izzi, beserta tim sudah mulai bekerja keras mempersiapkan acara ini. Mulai dari memikirkan konsepnya, membuat woro-woro dan mulai menyortir video yang masuk sesuai dengan kategorinya. Memilah dan memilih video-video yang kira-kira layak untuk menang dan masuk ke dalam babak penyisihan berikutnya. Pesertanya juga membludak.

Menurut Mohamad Andris, Digital Manager dari PT Unza Vitalis ada lebih dari 2300 video yang masuk dalam waktu kurang lebih 6 minggu Phase Submission. Dan dari sana kemudian dipilih 25 video untuk masing masing kategori Singing dan Dancing yang terbaik untuk kemudian disaring kembali menjadi masing-masing 10 video lagi untuk dimasukkan ke dalam Phase Voting secara digital yang berlangsung selama 2 minggu berikutnya.

Nah… jadi ceritanya Sabtu sore kemarin, saya ikut hadir untuk menyaksikan acara Big Bang Izzi Video Music Star 2017 yang diselenggarakan di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta.

Ini dia para jawaranya:

Untuk The Best Performance yang merupakan pilihan juri adalah:

Singing : The Pinkers.

Dancing: Girls Planet.

Untuk kategori Best Vote/Most Viral selama masa Voting berlangsung :

Singing : NYX

Dancing: JAJ Dance Crew.

Video di atas adalah penampilan JAJ Dance Crew.

Di acara ini manggung para pemenang Izzi VMS tahun ini.

Disertai oleh Anggi, bintang tamu yang merupakan pemenang Izzi VMS3 tahun 2016.

Selain itu, acara Big Bang Izzi Video Music Star 4 ini juga dimeriahkan oleh bintang tamu GAC group band yang lagi naik daun. Tampilan mereka sungguh mempesona dan membuat para penonton remaja yang hadir di pelataran Rollingstone Cafe itu berteriak heboh dan histeris kegirangan.

Semoga Izzi makin eksis dan tetap bisa mendukung para remaja yang memiliki bakat-bakat terpendam di bidang Musik, Nyanyi dan Menari.

Menonton Andri Concert Di Indonesia Young Musician Performance 2015.

Standard

Indonesia Young Musician Performance 2015 - AndriSaya hampir melupakan moment ini untuk ditulis. Padahal ini moment yang penting buat anak saya yang besar. Dan tentunya moment yang sangat penting juga bagi saya sebagai seorang Ibu yang selalu mengharapkan pertumbuhan positif anaknya. Jadi nggak apa apa ya..  agak telat sedikit , tapi tetap saya tulis  sekarang di sini buat catatan bagi saya sendiri dan anak saya tentang apa yang telah ia lakukan dalam kehidupan masa kecilnya.

Ini ceritanya Sabtu, 19 September yang lalu. Andri Titan Yade, anak saya yang besar mendaftarkan diri untuk ikut Concert Bersama Nasional  ini yang diselenggarakan  oleh Majalah Stacatto di Yamaha Concert Hall Jakarta. Kebetulan kakak saya sedang ada di Jakarta juga. Jadi sekalianlah saya ajak ikut menonton keponakannya konser.

Saya senang melihat anak-anak bisa tampil dalam panggung seperti ini, di mana mereka bisa bermain dengan optimal tanpa perasaan tertekan. Karena panggung ini bukan panggung kompetisi. Jadi mereka bisa mengambil benefits dari performance dengan baik, sehingga bisa lebih berani dan percaya diri menghadapi sorotan penonton. Itulah sebabnya, walaupun kali ini anak saya sebenarnya kurang punya waktu untuk latihan – berhubung jam sekolahnya sekarang sangat panjang – saya tetap mengijinkannya untuk ikut concert. Saya pikir nggak apa-apalah jika misalnya ia kurang hapal atau ada salah-salah sedikit karena kurang latihan. Yang penting berani tampil saja dulu, menurut saya itu sudah bagus. Jadi saya harus memberikannya dukungan.

Anak saya masuk di umur yang sesuai untuknya. Walaupun karena postur tubuhnya yang sangat bongsor, rasanya penonton hari itu sulit untuk mempercayai jika umurnya baru mau akan masuk 15 tahun.

Indonesia Young Musician Performance 2015

Andri bermain Solo Piano membawakan “Reverie” yang artinya a state of dreamy meditation karya composer Perancis Claude-Achille Debussy. Bagi saya yang awam, musik ini terdengar indah. Tapi belakangan saya mendengar komentar dari penyelenggara yang mengulas permainan anak saya, bahwa karya-karya Debussy, termasuk Reverie ternyata adalah karya-karya yang terkenal sangat sulit dimainkan. Sangat terkenal karena sensory content-nya dan sering menggunakan atonality.  Itulah sebabnya menurut penyelenggara, mengapa tidak banyak musician yang percaya diri memainkan karya composer itu. Dan saya mendengar penyelenggara mengucapkan terimakasih kepada anak saya atas keberaniannya memainkan karya itu di panggung Indonesia Young Musician Performance 2015. Wah.. terharu juga saya mendengar ulasan itu.

Menurut saya,  pengalaman manggung sangat penting artinya bagi perkembangan seorang anak. Karena dengan melatih anak berada di atas manggung, di bawah sorotan cahaya lampu dan tatapan mata penonton setidaknya anak akan terbiasa dengan keadaan ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih percaya diri saat kelak harus menghadapi orang banyak.

Selain itu, menurut saya memainkan musik akan membantu melatih kepekaan jiwa anak.  Mengisi jiwa anak dengan keindahan dan keharmonisan akan membantunya mengidentifikasi dan memilah hal-hal yang baik dan harmonis dalam hidup dari hal-hal yang yang kurang baik dan kurang harmonis.

Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap”

= Kahlil Gibran =

 

 

 

Anakku & Indonesia Piano Competition 2015.

Standard

20150412_180710Anak saya menyatakan ingin ikut Indonesia Piano Competition. Semangat sekali. Padahal ia sedang Ujian Akhir Sekolah. Awalnya saya agak ragu. Saya takut ia kurang fokus dengan pelajaran sekolahnya. Tapi melihat semangatnya yang tinggi dan keyakinannya yang menggebu akhirnya saya ijinkan ia ikut kompetisi itu. Tentu saja latihannya hanya boleh disela-sela waktu belajarnya. Tapi rupanya ia tetap menjaga semangatnya.

Nah kemarin tanggal 11 April, ikutlah ia dalam kompetisi itu di Menara Top Food, Alam Sutera. Pesertanya cukup banyak juga. 300 orang lebih.Waduh!. Umurnya 14 tahun. Ia masuk ke kategori Elementary C.  Pukul 2 siang ia sudah siap masuk ke kursi peserta.  Saya melihatnya dari kejauhan. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya bertanding, ia tampak grogi dan gelisah. Saya hanya bisa berdoa semoga ia diberi ketenangan.  Hingga akhirnya saat itupun tiba juga. Ia naik ke panggung, membungkukkan tubuhnya yang jangkung ke arah penonton, lalu mulai duduk di depan piano di atas panggung yang lampunya temaram. Dan mulai membawakan  musiknya. Bach kleine preludien no 4 BMV 927. Barangkali karena grogi, saya mendengar ia memainkannya tidak sebagus biasanya ia memainkannya di rumah. Temponya agak kurang smooth, tapi secara umum ia bisa menguasai diri dan alat musiknya dengan cukup baik.

2015-04-11 16.02.08Ingin sekali saya mengambil gambarnya. Sayang sekali panitia berkali-kali memberi peringatan agar penonton tidak mengambil gambar dengan flash atau blitz. Akhirnya saya hanya mengambil fotonya dengan kamera hape tanpa flash, yang walhasil….buram nyaris gelap gulita. Setelah saya lakukan sedikit edit, ya lumayan bisa terlihat walaupun tidak optimal.

Setelah selesai, anak saya turun dari panggung dan menceritakan betapa grogi dan paniknya dia. Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu hal biasa. Apalagi pengalaman pertama. Sangat wajar. Berikutnya ia hanya perlu belajar menenangkan diri. Permainan musiknya tidak bermasalah. Lalu saya katakan, bahwa  ambisi untuk memenangkan kompetisi itu sangat penting, Tetapi hal pertama yang lebih penting dicapai adalah mendapatkan pengalaman panggung.  Saya adalah salah seorang yang percaya bahwa tingkat kepercayaan diri seseorang dalam berbicara di depan publik, sangat dibantu oleh pengalaman panggung masa kecilnya.

2015-04-13 00.08.31Jika orang itu sejak kecil terlatih naik turun panggung, maka ketika ia dewasa ia akan menjadi terbiasa menghadapi orang banyak dan berbicara di depan publik ketika kelak dibutuhkan. Demikian juga dengan kebiasaan bertanding dan berkompetisi. Orang yang sering ikut kompetisi akan lebih terlatih untuk menghadapi situasi menang ataupun kalah. Ia akan lebih sportif  dan mengerti aturan main yang fair. Jagi bagi saya, kalah ataupun menang baginya kali ini bukanlah hal yang paling penting.Saya hanya ingin ia merasakan bagaimana ia naik ke panggung di depan ratusan pasang mata penonton di ballrooom itu dan bertanding secara jujur.  Cari pengalaman, anakku!

Nah tadi sore keluarlah pengumumannya.Anak saya sangat tegang. Saya menghiburnya dan berkali-kali menegaskan bahwa yang penting adalah pengalamannya,bukan soal menang atau kalahnya. Pembawa acara pun mengumumnkan pemenangnya. Bukan anak saya. Ada beberapa orang yang lebih baik darinya. Tetapi belakangan diumumkan bahwa ia mendapatkan Award untuk Music Achievement. Hadirin pun bertepuk tangan dengan riuh. Wajah anak saya tampak lega. Ia berjalan ke depan untuk menerima Award itu. Saya bangga melihatnya.

Congratulation, anakku!.

Musik Dan Perkembangan Jiwa Anak-Anak.

Standard

HomeConcertBermain musik!. Adalah salah satu bentuk berkesenian yang tidak saya kuasai.  Walaupun demikian, saya sangat menyukai musik. Apapun jenisnya.Mulai dari yang traditional hingga modern. Mulai dari gamelan, hingga alat musik asing.  Dan saya selalu kagum kepada orang yang jago bermain musik. Karena menurut saya mereka adalah orang-orang yang mampu menghayati dan mengamalkan keharmonisan dengan sangat baik. Saya tak habis pikir. Bagaimana ya caranya orang bisa berkonsentrasi dengan nada suara di dalam alat musik yang digunakannya sendiri agar tidak bertabrakan panjang pendek, cepat lambat ataupun tinggi rendahnya. Belum lagi harus menyeimbangkan keharmonisan dengan nada suara alat musik lain. Atau bahkan menyesuaikan dengan suara sang penyanyi jika ada. Repot, bukan?

Oleh karena ketidak mampuan saya bermain musik, maka saya mendorong anak-anak saya bermain musik. Agar tidak sama dengan emaknya yang cuma tahu dung dang ding dong deng – tangga nada dalam musik traditional Bali – sejenis do re mi fa sol. Pada awalnya saya membawa anak-anak saya ke sekolah musik yang ada di Bintaro. Anak saya yang besar memutuskan untuk belajar Violin, sementara yang kecil belajar piano.   Namun karena satu hal, saya kemudian memuuskan untuk melanjutkan pendidikan musik bagi anak saya di tempat kursus  yang lebih private, dimana gurunya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membimbing anak-anak.

Di tempat baru ini kedua anak saya mengambil kelas piano classic. Baru kelas persiapan dan grade 1. Masih jauh sekali ya hingga bisa menjadi pemusik yang pro? Tidak apa-apa.  Kalau ingin menjadi yang pro tentu harus sabar dan tekun belajar dari mulai yang mudah dan sederhana terlebih dahulu. Kalau terus berlatih dengan tekun tentu suatu saat bisa menjadi pro juga. Saya cukup senang anak-anak saya menyukai apa yang ia pelajari.  Selain itu di sekolahnya, anak saya yang kecil juga belajar Gamelan Jawa. Saya mendorongnya untuk mempelajari musik traditional juga. Home concert

Beberapa hari yang lalu mereka ikut Home Concert yang diselenggarakan oleh tempat kursusnya yang dihadiri sekitar 30-an penoton. Ada sekitar 17 peserta yang menampilkan Solo, selain ada juga performance gabungan. Anak saya yang kecil membawakan “Long Long Ago” karya komposer Inggris,  Thomas Haynes Bayly. Sementara anak saya yang besar, untuk penampilan piano classic  solo-nya ia membawakan dua buah lagu, dua-duanya karya Ludwig van Beethoven, komposer dan pianis Jerman. Lagu pertamanya adalah Alegro in G, dan yang kedua adalah  Fur Elise. Selain itu ia juga melakukan performance gabungan bersama seorang guru. Saya sangat senang melihat penampilan anak-anak saya. Rasanya tidak sia-sia mendorongnya untuk belajar.

Jadi teringat kembali masa-masa dimana ia baru saja mencoba menggunakan alat musiknya yang saya belikan untuk pertama kali dengan suara yang belepotan dan amburadul. Ngak ngik ngok. Tak terasa sekarang mereka telah mulai besar dan mulai lebih terlatih…

belajar musik

Mengapa bagi saya musik menjadi sedemikian pentingnya untuk anak-anak?

Musik  yang bagus memberikan keteduhan jiwa bagi siapapun pendengarnya. Mendorong anak-anak untuk mendengarkan musik atau bermain musik, sama dengan mendorongnya menuju ke keteduhan jiwa dan mental yang damai.

Belajar musik juga memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dengan lebih mudah akan pentingnya harmony dalam setiap langkah kehidupannya. Anak-anak akan menjadi lebih peka bahwa untuk membuat dirinya harmony, ia harus mengatur beberapa hal dengan baik secara internal, dan sekaligus bisa paham bahwa ia pun perlu menyelaraskan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Musik juga membantu anak dalam mengasah “rasa”. Mengatur tempo,tekanan dan nada. Dan juga menjadi obat mujarab untuk mengobati kebosanan.

Yuk kita dorong anak-anak untuk belajar bermain musik – apapun jenisnya!.

 

Gamelan Jawa Yang Teduh.

Standard

Catatan Tercecer Dari Perjalanan Ke Solo.

Di depan Hotel Lor In di Solo , tempat saya menginap beberapa minggu yang lalu terdapat sebuah perangkat  Gamelan Jawa yang menarik perhatian saya. Kebetulan sore itu saya sedang duduk-duduk di lobby menunggu kedatangan Agency setempat yang akan mengeksekusi sebuah project yang konsepnya sudah kami design sebelumnya.  Saat itu, sebuah grup penabuh gamelan dan seorang sindennya sedang melakukan pertunjukan. Suaranya merdu dan mendayu dengan tempo yang sangat lambat dan tenang.  Mengingatkan saya akan sebuah jenis Gamelan yang bertempo sangat pelan di Bali yang bernama  Tabuh Lelambatan. Tabuh Lelambatan, seperti namanya, memiliki tempo yang sangat lambat. Sangat berbeda temponya dengan jenis gamelan Bali yang lebih dikenal umum yakni  Gong Kebyar yang  sangat aggresive, rush dan dynamis. Read the rest of this entry