Tag Archives: Nature

Sumber Kehidupan Bagi Mahluk Hidup Di Alam.

Standard

Bediri di pinggir kali. Membuat saya sadar, bahwa sesungguhnya Sang Pencipta menyediakan sumber makanan yang sangat cukup bagi mahluk hidup di sekitarnya. Tanaman yang hijau berdaun subur, berbunga, berbuah dan berbiji juga berumbi. Semua menjadi sumber makanan yang melimpah untuk serangga dan mahluk hidup lain di alam. Ketika serangga dan binatang kecil melimpah, sangat cukup untuk mengganjal kelaparan para pemangsa yang lebih besar. Keseimbangan ekosistem berlangsung sedemikian stabil jika tidak ada bencana alam, hingga manusia datang dan merusak keseimbangan itu.

Manusia membabat semak dan rumput benggala, menyebabkan burung-burung pemakan biji-bijian terganggu. Manusia membakar ladang dan pohon yang mengakibatkan puluhan burung-burung menjadi tunawisma.  Manusia juga memasang jebakan, menangkapi burung dan biawak sungai, membuang sampah sembarangan, menebang pepohonan yang mengakibatkan banjir bandang yang akhirnya juga mengikis tanah di pinggir kali dan merobohkan banyak pohon besar di pinggirnya. Banyak sekali hal  lain lagi yang telah dilakukan manusia, yang jika dipikirkan membuat dada saya terasa sesak, karena saya tak mampu mengatasi semua masalah itu seorang diri.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di pinggir kali yang sangat mengesankan hati saya. Bagaimana alam menyediakan makanan yang melimpah untuk para burung, sesungguhnya demikian juga Ia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyediakan sumber kehidupan yang melimpah bagi mahluk lainnya, termasuk kita semua. Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat dan kasih sayangNYA.

Ada banyak sekali jenis makanan yang disediakan alam yang menarik burung-burung ini berdatangan atau bahkan menetap di sini.

Buah Coccinia. 

Sebelumnya saya pernah menulis tentang buah Timun Padang (Coccinia grandis) yang tumbuh merambat di pagar perumahan di pinggir kali. Tanaman ini selain bisa dimakan oleh manusia dalam keadaan mentah dan enak juga disayur, rupanya juga merupakan sumber makanan favorit bagi burung-burung Cerukcuk. Tanaman yang disebut dengan nama lain Little gourd atau baby watermelon ini, berubah warna menjadi jingga lalu merah saat buahnya menua. Rasa daging buahnyapun manis, sehingga mengundang banyak burung pemakan buah datang berkunjung.  Saya sangat senang mengamati-amati burung di dekat tanaman ini.

Buah Kersen 

Buah Kersen atau buah Singapur (Muntingia calabura) adalah buah kecil-kecil yang bertangkai miripbuah cherry, sehingga kadang disebutkan salah kaprah dengan nama buah Cherry. Anak-anak sangat menyukai buah merah ranum yang terasa manis ini. Waktu kecil sayapun sangat suka memanjat pohon ini untuk mengambil buahnya. Namun ternyata bukan hanya anak-anak saja yang suka. Beberapa jenis burung juga sangat menyukainya. Setidaknya saya melihat burung ciblek, burung,burung prenjak, burung kutilang dan burung cerukcuk suka hinggap di dahan dan ranting pohon ini untuk memanen buah yang ranum.

Biji-bijian Untuk Keluarga Burung Pipit.

Rumput benggala banyak tumbuh di tepi kali. Biji-bijinya yang banyak sangat disukai oleh keluarga Burung Pipit. Saya melihat burung-burung ini datang silih berganti dan bergerombol menikmati bijinya. Atau sekedar menarik-narik dan memutus  tangkai atau daunnya untuk dijadikan bahan sarang. Ketika saya datang, burung-burung ini terbang menjauh. Namun tak lama kemudian datang kembali dengan teman-temannya. Senang sekali melihatnya menikmati kehidupan pagi.

Buah Pepaya Dan Burung pemakan Buah.

Tanaman pepaya kadang tumbuh sendiri karena kita membuang biji-bijinya di tepi sungai. Kalau beruntung tanaman ini bisa bersaing dengan baik melawan rerumputan dan gulma di sekitarnya. Tumbuh, berbunga dan berbuah. Tentu saja manusia bisa menikmatinya juga. Namun jika tidak ada yang memetik, burung-burung pemakan buahpun berdatangan ikut berpesta pora. Senang juga hati rasanya bisa  mengintipnya sedang mematuk buah pepaya.

Serangga dan Burung Pelatuk.

Di cabang atau ranting pohon yang mati, banyak tempayak dan serangga hidup di sana. Walaupun mati, pepohonan tetap menjadi penyumbang makanan bagi burung-burung pemakan serangga. Seperi burung Pelatuk kecil alias Caladi Tilik ini. ia selalu rajin datang setiap hari. Jika terdengar suara “terrrrr…terrrr…” saya langsung mendongak ke cabang pohon yang mati ini. Di sana pasti ada burung Pelatuk yang sedang makan atau bercanda dengan temannya.

Bunga Benalu Dan Bunga Lamtoro.

Bukan hanya buah dan biji-bijian, bnga-bungaan juga menjadi sumber makanan menarik bagi burung-burung. Lihatlah burung-burung pemakan madu ini, seperti misalnya Burung Madu ataupun burung Cabe.  Setiap pagi sangat sibuk mencari makan di bunga-bunga benalu yang hidup di pohon mangga, di bunga pohon pepaya ataupun di bunga-bunga pohon lamtoro.

Saya sangat senang melihat-lihat kembali photo-photo ini. Karena selalu mengingatkan saya kembali bahwa sumber penghidupan dan rejeki itu telah disediakan bagi mahluk hidup secukupnya. Tergantung bagaimana kita berusaha mencarinya saja. Seperti burung-burung di pinggir kali ini. Selalu mendapatkan rejeki yang cukup tanpa pernah ada yang mati kelaparan.

 

Kegembiraan Pagi Burung-Burung Di Sekitarku.

Standard

Hi! Dunia pinggir kali belakang rumah, apa khabar?

Rasanya belakangan ini saya banyak bepergian meninggalkan rumah dan jadi kangen juga pada kedamaian pagi kehidupan liar tepi kali belakang rumah. Walaupun hujan mulai turun sedikit-sedikit, namun jejak musim kemarau belum membuat air kali menjadi penuh. Tepi kali masih agak kering, tapi  kehidupan di dalamnya kelihatan masih tetap exist.

CerukcukSeekor Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)  hinggap di atas tembok perumahan. Menarik perhatian saya,  karena berada dalam jarak yang cukup dekat dengan tempat saya berdiri. Ia berkicau dengan merdunya. Seolah sedang bercengkrama dengan sinar pagi.

Cerukcuk 2Tak seberapa lama seekor Burung Cerukcuk lain hinggap sambil membawa makanan di paruhnya. Sobekan buah Coccinia yang sudah matang memerah, yang ia cabik dari pohonnya yang merambat di kawat tembok kali. Ia mendekat dan memamerkan makanan yang didapatnya pagi itu, seolah berkata kepada temannya “Mengapa  kau tak nikmati juga anugrah alam yang merah merekah ini?”

Cerukcuk 3

Melihat temannya makan dengan nikmat, maka burung Cerukcuk yang pertamapun ikut menclok di rambatan pohon Coccinia, lalu makan di sana.

Cerukcuk 1

Saya menggeser posisi saya berdiri agar bisa melihat burung itu dengan lebih jelas. Ia sibuk mencabik-cabik buah Coccinia yang matang. Kulitnya sobek dan memperlihatkan biji dan isinya yang berwarna jingga kemerahan. Rasanya tentu sangat manis.  Betapa riangnya mereka mencari makan di pagi hari. Sementara temannya yang sudah menghabiskan makanannya kini kembali berkicau riang. Ah.. rasa gembira itu  ikut menjalar ke dalam hati saya.

Cerukcuk 4

Saya terus memperhatikan tingkah lakunya hingga ia kenyang dan akhirnya  mereka terbang entah kemana. Kembalilah besok, wahai burung-burung!

Alam memberikan kelimpahan makanan bagi burung-burung dengan gratis. Alam memberikan kelimpahan kegembiraan bagi burung-burung dengan gratis.Alam juga memberikan kelimpahan kebahagiaan bagi hati saya  yang  melihat kegembiraan burung-burung itu… juga dengan gratis.

Betapa alam sesungguhnya mencintai kita manusia. Sekarang tergantung bagaimana kita memaknainya…

 

 

Burung Kedasih Dan Nyanyiannya.

Standard

KedasihNyanyian burung Kedasih  yang memilukan terdengar beberapa kali di belakang rumah. Tiiiirrrrr….. tir tir tir tir tir…… Tiiiirrrr… tir tir tir tir… Saya membayangkan beberapa orang yang tinggal di dekat perumahan tentu ada yang berpikir bahwa salah seorang kerabat, sahabat atau handai taulannya yang meninggal dunia.  Suara dari Burung Kedasih ini memang sangat menyedihkan. Tidak heran jika banyak orang percaya bahwa burung ini pembawa berita duka.

Saya ingat, ketika kecil  mendengar suara burung itu dari pohon Boni di halaman belakang rumah tetangga, saya bertanya kepada ibu saya.  “Mengapa burung itu suaranya sedih sekali?”. Ibu saya menjawab “Burung itu sedih karena ia ingin bertemu dengan ibunya” kata ibu saya sambil duduk di kursi dapur membersihkan sayuran yang akan dimasak. “Tapi mengapa ia tidak bertemu ibunya? Ibunya kemana?”  Ibu saya lalu bercerita bahwa induk  burung itu sangatlah malas. Ia tidak mau bekerja keras membuat sarangnya sendiri. Dan juga terlalu malas untuk merawat dan memberi makan bayinya sendiri. Jadi ia menitipkan telornya di sarang burung lain yang juga memakan serangga. Biasanya sarang Kedis Kecinglar (Burung Prenjak). Agar burung tuan rumah tidak curiga, mengapa jumlah telornya bertambah, maka ibu burung Kedasih biasanya mencuri dan memakan telor burung Prenjak itu. Lalu ia menggantinya dengan telornya sendiri sehingga jumlahnya sama. Saya mendengarkan dengan khidmat cerita ibu saya itu.

Ketika anak burung Kedasih itu menetas, maka ia diberi makan dan dibesarkan oleh induk burung Prenjak” lanjut ibu saya.  Anak burung Kedasih ini cepat besar dan kadang-kadang bersifat rengka (bahasa Bali untuk sifat yang ingin menang sendiri, tamak dan rakus). Ia menghabiskan makanan lebih banyak, sehingga ia cepat besar dan gendut, sementara anak burung lain kurus-kurus. Terkadang ia malah sangat jahat menendang telor-telor atau bayi burung lain keluar dari sarangnya. Sehingga hanya dirinya sendiri yang tinggal di dalam sarang dan disuapi oleh induk Prenjak. Perilaku jahat sejak masih bayi.  Biasanya perbuatan jahat itu tidak disadari oleh induk Prenjak sampai Burung Kedasih itu besar dan bisa terbang serta mencari makan sendiri.

Namun kadang-kadang, ada juga induk Prenjak yang memergoki perbuatan jahat dan rakus dari anak burung Kedasih ini. Lalu mulai menyadari bahwa anak jahat itu bukan anaknya sendiri. Jadi kadang-kadang ada Burung Prenjak yang marah dan akhirnya mengusir  anak  Kedasih itu. Ibu saya bercerita, anak Kedasih itu pun akhirnya terpaksa pergi dari sarang Prenjak. Mencari-cari ibu kandungnya yang pergi entah ke mana. Ia memanggil-manggil dengan sedihnya “Tiiiirrrrr….. tir tir tir tir tir…… Tiiiirrrr….. tir tir tir tir… “ namun ibunya tak pernah kujung datang.  Begitulah konon riwayat nyanyian sedih si Burung Kedasih, menurut versi ibu saya.   Cerita itu sangat meresap ke dalam pikiran saya.

Tentu saja waktu kecil saya tidak tahu apakah cerita itu adalah kenyataan ilmiah atau dongeng. Tapi setelah besar saya baru tahu, ternyata Burung Kedasih tidak hanya bisa bernyanyi sedih. Ia juga bisa bernyanyi riang dengan nada yang heboh juga: “Twiiit tut twiiiit…. tut twiiit tut twiiit…/  Twiiit tut twiiiit…. tut twiiit tut twiiit….dst” makin lama makin tinggi dan makin kencang.   Sehingga tidaklah mengherankan, mengapa warga Betawi menyebut burung ini dengan nama Burung Tit Tut Tit. Ya,karena  suara riangnya  yang nadanya menanjak itu.

Yang saya belum tahu hingga kini adalah, kapan sebenarnya si Burung Kedasih akan bernyanyi riang dan kapan ia bernyanyi dengan nada sedih. Apakah nada suara yang terdengar sedih di telinga kita manusia, juga sebenarnya berarti itu adalah refleksi kesedihan hati si burung? Atau jangan-jangan sebaliknya?  Suara sedih itu ternyata suara memanggil pasangan? Entahlah. Semoga ada  ahli burung alias  ornitologist yang bisa membantu menjawab pertanyaan saya ini.

Burung Kedasih, dipanggil dengan banyak nama. Burung Tit Tut Tit, Burung Wiwik  Kelabu, Burung Emprit Gantil atau  jika di luar disebut juga dengan nama Plaintive Cucko (Cocomantis merulinus) adalah salah satu jenis burung yang sering singgah di kali belakang rumah saya. Tak terhitung seringnya saya mendengar suaranya dan entah beberapakali saya memergokinya sedang bertengger di batang pohon Petai Cina, di pagar tembok sungai ataupun di cabang pohon Sukun. Kalau sudah menemukan tempat yang aman untuk bertengger,umumnya burung ini akan diam cukup lama di posisi itu.  Kalau terbang, saya melihat kepakan sayapnya agak lambat, sehingga cukup mudah diikuti mata.

Yang saya perhatikan dari burung ini adalah tampilanya yang berbeda. Burung  Kedasih dewasa memiliki warna  kepala dan punggung kelabu dengan sayap berwarna coklat dan hitam bergaris-garis.  Demikian juga dengan ekornya yang cukup panjang. Warnanya loreng hitam-coklat atau hitam-putih.   Perutnya berwarna coklat terang.  Paruhnya berwarna jingga dan lancip seperti halnya burung pemakan serangga lainnya. Sorot matanya tajam.

Saat masih kecil burung ini memiliki warna yang jauh lebih terang dari burung yang dewasa.  Dadanya putih bergaris-garis halus. Sehingga banayk yang mengira bahwa itu adalah jenis burung lain.

Burung ini sebenarnya berukuran kecil  (paling banter sekitar 20-21 cm) namun karena ekornya relative pajang, jadi lumayan membantu tampilannya menjadi terlihat agak lebih besar. Makanannya adalah serangga kecil yang bertebaran banyak di tepi sungai, dan juga buah-buahan kecil.

Setidaknya saya tahu kalau burung ini tersebar di pulau Jawa dan Bali.

Merekam Keindahan Alam Dengan Kuas.

Standard

Menggambar alamSeorang kakak sepupu saya menulis pesan – Lagi ngapain? – tanyanya.  Saya menjawab pendek – lagi menggambar. Lalu ia menulis lagi  – ngambar apa?. Saya menjawab – Nggambar burung. Kok suka sekali sama burung? Tanya kakak saya lagi.  Entahlah. Saya memang suka banget pada burung, selain kupu-kupu, bunga dan ikan.  Lalu ia meminta saya mengirimkan gambar saya kepadanya. Sayapun memotretnya dan mengirimkannya kepada kakak saya itu.  Ia bilang bagus. Saya tertawa senang. Tentu saja ia bilang bagus, wong yang menggambar adiknya sendiri. Kalau adiknya orang lain yang menggambar, belum tentu ia akan mengatakan bagus.  Tapi apapun alasannya, saya senang kakak saya  menyemangati saya.

Ketika berjalan-jalan di luar rumah, banyak hal yang menarik perhatian saya. Orang-orang yang berlalu lalang, air sungai yang mengalir dengan tenang, pepohonan yang daunya melambai, atau akar udaranya menggantung membentuk tirai hidup yang sangat alami, ikan-ikan yang meloncat  atau berkerimit di bawah permukaan air sungai, capung yang beterbangan,  kupu-kupu yang hinggap di rerumputan serta burung-burung yang bernyanyi riang menyemarakkan pagi.  Hampir setiap ada waktu di pagi hari libur saya menyempatkan diri  untuk berjalan-jalan di bantaran kali. Atau duduk-duduk  di di atas tembok rendah yang menjadi pembatas bantaran dengan kali  sambil meBurungmandang keindahan alam yang tentunya tak mungkin saya nikmati dari balik ruangan kantor.

Alam dan kehijauannya, rasanya selalu membawa lebih banyak oksigen bagi saya untuk bisa  lebih segar kembali menghadapi hari hari kerja berikutnya yang melelahkan. Bukan hanya itu, alam juga memberikan inspirasi  yang menarik untuk ditangkap oleh mata dan diserap oleh jiwa kita.  Itulah sebabnya terkadang saya suka menuangkannya dalam gambar.

Seperti saat saya  memandang burung-burung madu sriganti yang sibuk  mencari makan di tanaman benalu, atau sedang bermain-main di pohon petai cina dan semak-semak bambu. Saya senang sekali melihatnya. Saya suka kegembiraanya dalam menghadapi hidup. Saya suka gerakannya yang lincah dan fleksibilitasnya dalam melakukan manuver terbang maju mundur, ke atas  ke bawah. Sangat mirip gerakan burung kolibri. Sungguh burung yang tak mengenal lelah dan tak mengenal kata patah semangat.  Sayapun tertarik untuk menuangkan hal yang saya lihat ke dalam gambar.

Seimbangkan hidup dari penatnya pekerjaan dengan melakukan aktifitas-aktifitas yang menyenangkan yang menyegarkan jiwa.

Menggambar, yuk!.

 

Top 10 Burung Liar Di Bintaro Dan Sekitarnya.

Standard

Bintaro dan sekitarnya yang sebenarnya sudah memasuki wilayah Tangerang Selatan  (Pondok Aren, Pondok Jagung, Paku Jaya), merupakan wilayah  yang mengalami perubahan sangat cepat. Berpuluh-puluh perumahan baru bermunculan yang pada akhirnya merubah drastis permukaan wilayah itu  yang dulunya adalah sawah ladang dan perkebunan serta kampung, menjadi perumahan modern dengan segala fasilitasnya.   Sudah pasti vegetasi dan juga hewan-hewan liar yang berhabitat di dalamnya juga ikut berubah. Entah jenisnya, maupun jumlahnya.  Untungnya area hijau juga masih ada walaupun sedikit, baik berupa taman-taman perumahan, bantaran sungai maupun upaya warganya untuk bertanam pohon – sehingga setidaknya kita masih bisa mengintip  kehidupan beberapa jenis satwa liar di alam bebas di wilayah ini.

Bagi saya, mengamati burung-burung liar di habitatnya merupakan salah satukegiatan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan pada akhir pekan bersama anak-anak.

Berikut adalah daftar 10  burung liar yang paling umum kita temukan di wilayah ini,  tentunya di luar Burung Gereja atau House Sparrow(Passer domesticus) yang bisa kita anggap sudah sebagai burung domestik ketimbang burung liar.

1.  Burung Terkwak ( Amaurornis phoenicurus).

Burung Terkwak 6

Burung yang hidupnya di badan-badan air ini, sering juga disebut dengan Burung Ayam-ayaman atau Ayam Air Berdada Putih /White Breasted Water Hen. Berhabitat di sepanjang sungai sungai kecil yang mengalir di wilayah  Bintaro Sektor IX hingga ke area Pondok Kacang. Sangat mudah menemukannya, karena populasinya yang cukup tinggi dan terutama karena bunyinya yang sangat ribut, terrrrr..kwaaakkkkk, terrrrr kwakkkk…

2. Burung Pipit (Lonchura leucogastroides)

Burung Pipit

Burung kecil pemakan padi dan biji rermputan ini  sering juga disebut dengan nama Burung Bondol Jawa /Javan Munia). Barangkali karena dulunya wilayah ini adalah areal sawah yang luas, sehingga populasi Burung Pipit ini masih cukup tinggi di sini. Sangat mudah kita temukan  di mana-mana, terutama di area terbuka yang belum tergarap dengan baik, di taman, di pinggir kali atau bahkan di pinggir jalan. Sibuk memakan biji-biji rerumputan sambil bercericit riang.

3. Burung Peking (Lonchura punctulata)

Burung Peking

Sama dengan burung Pipit, burung kecil  yang juga disebut dengan Bondol Dada Sisik /Scaly Breasted Munia  ini juga sangat mudah kita temukan di mana-mana di area yang berumput. Seringkali  bahkan mencari makan bersama dengan burung-burung pipit tanpa terlihat saling mengganggu.

4. Burung Kipasan (Rhipidura javanica)

Burung Kipasan 10

Burung lincah, centil dan energetic yang kadang disebut juga dengan nama Burung Murai Gila  ini sangat mudah kita temukan bernyanyi riang dan berkejar-kejaran dengan pasangannya sambi memamerkan keindahan ekornya yang sangat mirip dengan kipas.  Bermain dan hinggap di semak-semak berbunga dan pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi seperti misalnya pohon kersen, pohon lamtoro atau di lahan-lahan terbuka yang kiri kanannya bersemak.

5. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung pemakan buah-buahan dan serangga  yang sering juga disebut dengan Terucukan, Trocok, Crocokan atau Kutilang Dada Kuning / Yellow Vented Bulbul ini juga sangat mudah ditemukan di wilayah Bintaro. Burung ini menghuni pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Sangat mudah dipergoki sedang bertengger menikmati buah kersen yang matang. Sangat sering terlihat terbang berpasangan.

6. Burung  Cabe (Dicaeum trochileum)

Burung Cabe 1

Burung Cabe atau Burung Tabia -Tabia / Scarlet Headed Flower Pecker, juga merupakan burung yang cukup mudah ditemukan. Walaupun ukurannya kecil, namun karena warna jantannya merah  (walaupun tingkat kecemerlangan warnanya bisa berbeda dari satu burung ke burung yang lain).  Ia sangat sering berengger di tiang telpon/ listrik, selain di  pepohonan rendah yang banyak benalunya.

7. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)

Burung Madu Sriganti

Sesuai dengan namanya, burung ini adalah pengumpul nektar dari bunga ke bunga. Untuk menemukannya, kita bisa menyusuri pepohonan yang banyak bunga benalunya, atau pohon-pohon pepaya  yang sedang berbunga.

8. Burung Cinenen (Orthotomus sutorius).

Burung CinenenBurung yang juga digelari sebagai Burung Tukang Jahit ( Common Taylorbird) ini banyak bisa kita temukan di taman-taman yang memiliki perdu berbunga seperti bunga Asoka, bunga Kacapiring, Bougenville dan sebagainya. Sibuk berteriak    cuik, cuik, cuik…sambil mencari serangga di dahan-dahan yang rendah.

9. Burung Tekukur (Streptopelia chinensis)

TekukurBurung Tekukur atau yang sering juga disebut dengan Burung Balam.  Beberapa kali saya menemukannya sedang menclok di tembok perumahan di sekitar Bintaro atau sedang minum di pinggir kali atau sedang makan biji-bijian.

10. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster).

Burung KutilangBurung penyanyi  yang merupakan saudara dari Burung Cerukcuk ini biasanya bertengger di pucuk-pucuk pohon. Bernyanyi dari dahan-dahan yang tinggi. Karena ukuran tubuhnya yang lumayan besar, burung ini agak mudah terlihat.  Seringnya terlihat berpasangan.

Saya hanya bisa berharap, lingkungan hijau di sekitar Bintaro ini tetap bisa dipertahankan walaupun laju pembangunan sulit untuk dihentikan, sehingga burung-burung liar yang menarik ini tetap bisa lestari di alamnya.

Menemani Anak Bermain Di Sungai.

Standard

Bermain di Sungai _ Liburan!  Yiiiiiihaaaah!!!!. Mau ngapain ya, biar seru?   Kali ini saya mengajak anak-anak dan keponakan saya mengisinya dengan bermain-main di sungai. Tentu saja yang airnya masih bersih dan jernih.   Kebetulan saya sedang berada di kota Sukabumi.  Saya ingat ada sebuah tempat bersungai yang menarik untuk dikunjungi.  Letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal di Sukabumi. Namanya Pondok Halimun.   Halimun, seperti kita tahu artinya adalah Kabut.  Jadi Pondok Halimun maksudnya adalah Rumah Kabut. Dinamakan demikian,karena tempat itu letaknya di kaki Gunung Gede – Gunung Pangrango yang seringkali diselimuti kabut.  Terutama pada sore hari yang dingin menggigil.

Untuk mencapai Pondok Halimun, dari tempat tinggal saya di kota Sukabumi kita perlu  melewati Jalan  Bhayangkara, lalu berbelok masuk ke  Jalan Sela Bintana. Menjelang tempat wisata Sela Bintana, kita berbelok ke kiri, masuk ke daerah perkebunan. Lurus terus sampai  sampai ke Perkebunan Teh Goal Para (PT Perkebunan Nusantara VIII).  Di sana ada pos penjagaan  – kita berbelok ke kanan lalu ke kiri melintas di depan Rumah Kabayan (apakah ada yang masih ingat serial TV  Si Kabayan pada jaman dahulu? – rumah ini adalah tempat shooting Si Kabayan ), kita  terus mengikuti jalan dan tibalah di Pondok Halimun.

Sesungguhnya 2.5 km (kira-kira 1-1.5 jam berjalan kaki menanjak)  dari sana terdapat Air Terjun Cibeureum yang menjadi tujuan wisata banyak orang. Tapi saya dan anak-anak hanya bermaksud bermain di sungai saja.  Sungai yang dangkal berbatu-batu, dengan air jernih pegunungan  yang bebas polusi.  Saya pikir, di daerah-daerah lain tentunya juga banyak yang memiliki berbagai sungai jernih seperti ini.  Nah, mengapa ke sungai? Mengajak anak bermain ke sungai pegunungan menurut saya memberi banyak sisi pembelajaran non formal dan tak langsung yang bisa dipahami anak dengan cepat tanpa harus  merasa terbebani dengan kata ‘belajar’.  Karena ia bisa mendapatkannya sambil bermain-main.

1. Belajar bentang alam. Ketika pada mata pelajaran  science di sekolah anak-anak diajarkan oleh gurunya mengenai berbagai jenis bentang alam dengan melihat pada gambar-gambar yang ada. Di alam, anak anak secara mudah akan bisa memahami bentang alam sungai – mana yang disebut dengan sungai, jurang ataupun lembah sungai. Di sini anak-anak  juga sekaligus  bisa memahami dengan cepat mengenai bentang alam pegunungan- mana yang disebut dengan gunung, bukit ataupun lembah.

2.  Memahami perbedaan suhu udara akibat perbedaan ketinggian dari permukaan laut.  Menurut informasi, Pondok Halimun memiliki ketinggian sekitar  1050 meter di atas permukaan laut – memiliki suhu yang berkisar antara 16 – 20 derajat Celcius. Sangat berbeda dengan Jakarta yang berada rata-rata 7 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 27-29 derajat C.  Anak-anak tentu dengan cepat bisa menghubungkannya saat merasakan udara dingin menyergap kulitnya.

3. Memahami biodiversity sungai dan lingkungannya. Sambil mencelupkan kaki di air sungai yang dingin anak-anak bisa diajak untuk melihat-lihat binatang apa saja yang hidup di sungai dan sekitarnya.  Ikan-ikan kecil yang mudah terlihat, tentu saja.  Lalu anak-anak juga mengamati udang sungai dan gerakannya yang  menurut mereka sangat aneh dan menakjubkan. Anak-anak juga bisa kita ajak untuk mengamat-amati kumbang air yang bergerak berulang-ulang di atas permukaan air. Di pinggir sungai, tentu saja dengan mudah kita bisa menemukan berbagai jenis burung dan kupu-kupu indah warna warni yang beterbangan.

Selain fauna, juga banyak bisa kita temukan berbagai macam tanaman yang jarang dilihatnya di perkotaan. Keluarga pohon pakis tinggi  yang liar adalah tanaman pertama yang menarik perhatian anak saya. “Seperti di Jurasic Park!” kata anak saya. Seorang saudara dari Singaraja yang ikut berjalan bersama kami dan kebetulan banyak bergaul dengan tanaman hias menceritakan kepada anak saya bahwa itu adalah tanaman Pakis Monyet (Cybotium sp) dan harga per batangnya mencapai 2- 3 juta rupiah. “Wow!” anak saya yang kecil lalu mulai berhitung kira-kira berapa duit yang akan dihasilkan jika seluruh tanaman Pakis Monyet di sana dijual semua ke kota.  Lalu ada juga banyak pohon damar (Agathis dammara), lalu pohon honje hutan (Etlingera hemisphaerica) , pohon pucuk merah (Syzygium sp), pohon pinus (Pinus merkusii) dan masih banyak lagi tentunya. Hey! Ada yang ingat pelajaran Biology tentang Lumut Hati, tidak? Anak saya yang besar mengangguk. Lalu sayapun menunjukkan  contoh tanamannya yang tumbuh di dinding tebing. Lumut Hati (Marchantia polymorpha) memang sungguh jenis tanaman yang sangat menarik untuk dilihat.

4. Memperhatikan  batu-batu kali yang berserakan besar-besar, halus dan licin , anak-anak bisa memahami bahwa air yang mengalir secara terus menerus, memberikan dampak pengikisan dan membuat permukaan batu kalipun  menjadi halus dan membulat.

5. Bermain di kali Juga sekaligus memberikan kekuatan  pada anak untuk mengembangkan syaraf-syaraf motoriknya dengan cara naik, turun dan meloncat di atas batu. Beberapa kali jatuh terpeleset tidak apa-apa. Anak akan cepat bangun dan naik kembali.  Kita orangtua, hanya perlu mengawasinya saja dari dekat, untuk memberi pertolongan jika terjadi sesuatu yang membahayakan. Namun secara umum, bermain di sungai yang dangkal, bukanlah sesuatu yang berbahaya.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dipelajari oleh anak-anak sambil bermain. Dan lebih dari semuanya itu, bermain di sungai memberi anak kegembiraan yang tiada tara, yang tidak bisa ia dapatkan dari permainan games-nya di Laptop maupun di kartu Vanguard.

Jika kita menyadarinya, alam memberikan kebahaigiaan yang tak bisa dibeli dengan uang ke dalam hati manusia.

Hitam-Putih … Menyelami Makna Keseimbangan Alam Dalam Kehidupan.

Standard

Ketika memasuki halaman rumah saya, seorang teman yang kebetulan mampir bertanya    dengan heran “ Mengapa orang Bali hobby memakaikan sarung? “.  Saya pun  ikut heran. Mengapa ia bertanya seperti itu? Saya tidak pernah ingat bahwa orang Bali menyukai sarung melebihi suku manapun di Indonesia. Sejenak kemudian kebingungan  saya terjawab  saat teman saya menunjuk kain hitam putih yang melilit pohon penaung di depan rumah saya. Sayapun mengerti apa yang ia maksudkan. Rupanya  apa yang kami sebut di Bali sebagai ‘Saput Poleng’ berwarna  Hitam-Putih itulah yang dimaksud. Read the rest of this entry