Tag Archives: nyepi

Gerubug Corona Dan Nyepi.

Standard
Tapak Dara.

Gerubug, adalah Bahasa Bali untuk kata Wabah. Wabah yang menyebabkan kematian masal, baik untuk tanaman, binatang maupun manusia, tidak termasuk bencana alam di dalamnya. Ada tiga jenis Gerubug yang dikenal, yaitu:

1/. Merana, atau Gerubug Mrana adalah wabah penyakit yang menyerang tanaman. Contoh Merana yang dianggap sangat serius di Bali, misalnya Hama Wereng yang menyebakan ratusan hektar sawah rusak. Contoh lain adalah serangan Virus CVPD yang merusak perkebunan jeruk di Bali. Atau hama tikus yang merajalela dan mengakibatkan gagal panen.

2/. Gerubug Sasab, atau lebih sering disebut dengan Gerubug saja, adalah wabah penyakit yang menyerang hewan. Contohnya wabah pada ayam yang disebabkan oleh serangan Paramyxovirus alias penyakit Tetelo (Newcastle Disease). Penyebarannya sangat cepat, dan mortalitasnya pun sangat tinggi. Tiba tiba saja beratus ratus ayam mati di peternakan dan di kampung.

Lalu belakangan ini, ada lagi berita di koran tentang wabah pada ternak Babi. Dimana saya baca tiba tiba puluhan babi mendadak mati. Rupanya serangan African Swine Fever Virus yang sangat menular dan mematikan.

3/. Gerubug Gering, yakni wabah penyakit yang menyerang manusia. Contohnya, wabah diare/ disentri akibat serangan bakteri shigella atau amuba disentri. Banyak orang yang meninggal. Atau wabah demam berdarah, akibat gigitan nyamuk yang membawa Virus Dengue, juga menyebabkan banyak orang meninggal. Nah, sekarang muncul Gerubug baru lagi yang disebabkan oleh Virus Corona. Gerubug Corona. Artinya ya Wabah Corona.

Saya mencoba mengingat ingat apa yang biasanya orang Bali lakukan jika menghadapi Gerubug atau wabah. Tebtunya di luar penanganan medis yang biasa yang juga dilakukan.

Pertama adalah Tapak Dara. Simbul seperti tanda tambah berwarna putih ini dianggap sebagai simbul perlindungan. Saya ingat waktu kecil, ketika terjadi wabah disentri kolera di kampung saya, setiap orang nemasang tanda Tapak Dara ini di gerbang halaman rumahnya. Tuhan Yang Maha Esa akan melindungi.

Lalu ada beberapa upacara yang dilakukan dengan maksud pembersihan bumi dan isinya dari berbagai macam wabah penyakit dan bencana. Misalnya Prayascita – upacara pembersihan, Nangluk Merana – upacara penolak wabah hama tanaman, Labuh Gentuh yaitu upacara penyucian agar tercapai keharmonisan alam, Tawur – misalnya Tawur Kesanga – upacara pembersihan bumi dan alam semesta dari segala wabah dan penyakit. Yang diadakan sehari sebelum hari raya Nyepi.

Upacara “Tawur Kesanga” yang artinya membayar kembali apa yang telah kita ambil dari alam (tawur = bayar) yang dilakukan pada bulan ke sembilan (ke sanga), yakni satu hari sebelum hari raya Nyepi. Dengan demikian diharapkan alam akan kembali dibersihkan dari segala bentuk dosa kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, juga dari segala bentuk wabah peñyakit yang membuat gerubug.

Rangkaian upacara dimulai dari prosesi melasti – pembersihan di tepi laut. Orang Bali percaya bahwa penyakit datang dari seberang lewat laut. Oleh karena itu pembersihanpun dilakukan dekat laut. Upacara ini melibatkan banyak orang. Hampir semua anggota keluarga mengikuti.

Sore hari menjelang malam, dilakukan upacara pengerupukan. Yakni beramai ramai mengusir segala bentuk wabah, penyakit, setan, sifat sifat buruk, angkara murka. Darimana? Tentunya pertama diusir dari diri sendiri dulu, lalu diusir dari pekarangan rumah ke jalan, lalu dari banjar diusir ke luar, berikutnya dari desa diusir lagi, demikian seterusnya sehingga semua bentuk penyakit itu bisa keluar dari Bali. Bentuk penyakit dan setan pengganggu itu dilambangkan dengan Ogoh-ogoh – raksasa buruk muka, yang biasanya dibakar seusai upacara. Sehingga yang tinggal setelahnya hanya ketenangan, kedamaian dan keselarasan dengan alam.

Esoknya tinggal Nyepi. Lock-down dalam arti yang sesungguhnya. Karena orang tidak keluar rumah dan tidak melakukan aktifitas yang berarti selama 24 jam.

Nah… sekarang berkaitan dengan wabah Corona ini, di mana sudah disarankan agar setiap orang merenggangkan jarak satu sama lain (Self Distancing) dan menjauhi keramaian agar terhindar dari resiko penularan, saya jadi terpikir bagaimana nanti saudara saudara saya di Bali akan melakukannya. Besar kemungkinan upacara melasti yang biasanya beramai ramai itu akan sulit dilakukan.

Demikian juga Upacara Pengrupukan. Upacara ini juga biasanya dipenuhi dengan keramaian. Sering kali orang satu banjar (ratusan kk) yang mengusung Ogoh-ogoh bertemu dengan banjar lainnya yang juga mengusung Ogoh ogoh di perempatan jalan. Persatuan masa yang membesar tentu terjadi dan tak bisa dihindarkan. Nah, jadi bagaimana dengan himbauan agar kita menjauhi keramaian?. Rasanya sangat sulit. Apalagi Pemda Bali menyatakan Bali sebagai Siaga Corona, besar kemungkinan pawai Ogoh-ogoh tidak bisa dilaksanakan.

Semoga semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Upacara Tawur Kesanga yang bermaksud membersihkan bumi dan alam dari segala wabah penyakit bia tetap berjalan walaupun tanpa keramaian.

Selamat Menyongsong Hari Raya Nyepi, teman -teman. Semoga damai di hati, damai di bumi, damai alam semesta. Semoga kita semua terhindar dari bahaya Corona.

Selamat Hari Nyepi!.

Standard

Seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana cara orang Bali me”raya”kan Nyepi?. Kan katanya Nyepi ?. Terus gimana perayaannya?. Ada kue kue atau makanan enak nggak di rumahnya?. Saya tertawa.

Iya betul. Hari Nyepi sesuai dengan namanya memang tidak ada perayaan dalam artian pesta pora raya penuh acara, tidak ada makanan melimpah, pakaian baru dan suasana gemerlap, seperti hari raya pada umumnya. Apalagi kembang api. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya sepi. Kesunyian. Setiap orang berusaha menyepikan diri. Berusaha membawa pikirannya ke dalam dirinya masing -masing, sehingga yang ada hanyalah kesunyian. Sungguh tidak ada perayaan.

Walaupun tidak semua orang melakukannya dengan penuh, pada umumnya warga Bali melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu melakukan tapa brata tidak melakukan 4 hal ini, sejak jam 6 pagi hingga jam 6 pagi keesokan harinya. Apa saja?

Pertama adalah Amati Geni, alias tidak menyalakan api maupun cahaya. Umumnya orang tidak masak, tidak menyalakan kompor. Tidak juga menyalakan lampu/ listrik di malam hari. Sehingga malam hari biasanya gelap gulita.

Kedua adalah Amati Karya, alias tidak bekerja. Orang orang beristirahat total. Tidak kerja kantoran, dan juga tidak msngerjakan pekerjaan lainnya. Tidak menyapu, tidak mengepel, tidak nemasak, tidak mencuci dan sebagainya.

Ketiga adalah Amati Lelungan, alias tidak bepergian. Orang orang umumnya tidak keluar rumah. Tidak berjalan kaki, tidak naik sepeda, motor, mobil dan sebagainya.

Keempat adalah Amati Lelanguan, alias tidak bersenang -senang. Misalnya tidak pesta pesta, tidak minum minuman keras, tidak menari nari dan sebagainya. Sebagian orang mungkin melakukan puasa penuh dari jam 6 pagi ke jam 6 pagi keesokan harinya. Sebagian mungkin melakukan puasa partial.

Karena tidak melakukan 4 hal yang disebut di atas, dengan sendirinya orang orang akan terarah untuk diam. Hening. Kosong.

Dan hal terbaik yang mungkin dilakukan orang saat terdiam adalah merenungkan diri. Entah mengingat ingat dan mengevaluasi diri, entah melakukan perjalanan pikiran ke dalam diri sendiri, memikirkan masa depan diri dan sebagainya. Dalam keheningan dan kesunyian, pemahaman tentang diri, sekitar dan semesta akan sangat mungkin tergali. Dan hanya dalam kekosongan, kita mungkin mengisi ulang kembali jiwa kita agar lebih baik lagi ke depannya.

Nah… karena hal ini lebih banyak merupakan sebuah ajakan ketimbang sebuah keharusan, dalam kenyataannya masyarakat melakukannya sedapat atau sekuat yang bisa dilakukan tanpa unsur pemaksaan. Jika sanggup ya lakukan, jika tidak yaaa sudah.

Misalnya jika kebetulan di rumah itu ada bayi atau anak kecil, dan sang ibu merasa butuh lampu untuk mengurus bayinya, atau anaknya sangat takut kegelapan. Maka mungkin saja di rumah itu tidak semua ruangan dimatikan lampunya. Mungkin ada sebuah ruangan yang dipakai bayi atau anak itu, listrik tetap dinyalakan seperti biasa. Tetapi untuk menghormati yang lain, ruangan itu ditutup rapat, jendela atau kisi kisi ditutup dengan koran atau kain agar cahaya tidak keluar.

Atau misalnya jika ada anggota keluarga yg sedang sakit, yang misalnya perlu makan makanan yang dimasak baru, maka keluarga itu mungkin masak untuk perawatan sang sakit.

Atau misalnya karena keadaan yang sangat mendesak sekali atau yang bersifat darurat, satu dua orang mungkin ada perlu keluar rumah tidak masalah dan tinggal melapor pada pecalang (petugas adat). Tentu diijinkan sepanjang jelas alasannya.

Fasilitas umum yang penting seperti Rumah Sakit umumnya tetap beraktifitas sebagai mana biasa.

Begitulah kurang lebih bagaimana orang Bali menyepi di hari raya Nyepi.

Selamat Nyepi teman teman !.