Tag Archives: olah raga

LITTLE PRESSURE TO SPARK UP THE SPIRIT.

Standard
7 Days in a row

Beri Sedikit Tekanan , Untuk Membangkitkan Semangat.

Belakangan ini saya sering mengunggah foto berkeringat habis berolah raga ke  media sosial.

Narsis???? Betul sih. Saya termasuk orang yang rada-rada menyukai diri saya sendiri.

Tetapi selain itu, ada alasan yang jauh lebih penting yang menyebabkan, mengapa saya melakukan itu. Mengupload foto-foto berkeringat itu setiap hari.

Selama berpuluh tahun saya menjalani gaya hidup yang kurang sehat. Pola makan kurang sehat, kurang minum, pola tidur kurang teratur, jumlah jam tidur yang sangat minim, kelebihan berat badan yang tak terkontrol, kurang bergerak dan tidak berolah raga. Akibatnya saya terdiagnosa mengidap beberapa penyakit yang membahayakan diri saya.

Sangat menyedihkan. Terlebih saat ada wabah corona, penyakit seperti yang saya derita sering menjadi faktor penyerta dan pemicu kematian pada pasien.

Setiap kali habis check lab dan konsultasi dengan dokter, saya merasa sangat khawatir. Segera saya rajin minum obat, mengubah pola makan saya dan berolah raga. Wah… hasilnya membaik. Senang hati saya. Namun kebosanan sangat cepat muncul. Saya bosan berolah raga. Tidak disiplin lagi menjaga pola makan dan minum obat. Pas waktunya kontrol lagi, eeeh… hasil labnya memburuk. Tentu saja dokter menasihati saya kembali, dan memberi obat kembali sesuai dengan situasi kesehatan saya yang terakhir.

Saya mulai lagi bersemangat minum obat, atur pola makan dan berolah raga. Syukur setelah kontrol berikutnya, hasilnya membaik. Nah saya mulai santai lagi. Mulai kurang disiplin lagi minum obat dan mengatur pola makan. Berhenti olah raga. Begitu saat kontrol tiba, eeeh… hasil test kesehatan saya memburuk lagi.

Demikian terjadi berulang-ulang. Hingga suatu hari dokter berkata,

“Ibu mesti berolah raga, Bu. Ringan -ringan saja. Tapi usahakan teratur. Pengalaman saya menangani banyak pasien, menunjukkan kalau kesembuhan terbaik terjadi pada pasien yang disiplin minum obat, jaga pola makan dan tidur, dan olah raga teratur”.

Saya mengangguk. Lalu dokter melanjutkan lagi.

“Tapi jika pasiennya bandel, pasien yang rajin berolah raga walau bandel-bandel dikit urusan minum obat dan makan, menunjukkan hasil yang lebih baik ketimbang pasien yang disiplin minum obat dan jaga pola makan, tapi tidak olah raga”.

Saya memikirkan kalimat dokter itu. Kalau gitu saya harus benar-benar berolah raga teratur, disiplin dan konsisten. Tapi bagaimana caranya?

Pertama saya memiliki kelemahan susah tidur cepat dan suka begadang. Jadi susah bangun pagi.
Kedua, jikapun saya bisa bangun pagi, sulit untuk memulai bergerak dan berolah raga. Dan berikutnya jika misalnya saya sudah berolah raga sekali,  susah untuk membuat diri saya disiplin berolah raga teratur. Paling banter 2-3 kali , saya jeda. Dan kalau sudah sempat jeda berolah raga, biasanya langsung berhenti dan nggak olah raga lagi. Memulainya kembali terasa sulit.

Pusing saya memikirkan, gimana caranya agar bisa olah raga secara teratur.

Akhirnya saya terpikir untuk mencoba cara baru untuk memaksa diri saya mau nggak mau harus berolah raga.

Saya membuat statement di SOSMED bahwa saya akan berusaha  berolah raga selama 7 hari berturut-turut tanpa jeda. Saya pikir 7 hari berturut-turut bukanlah target yang sulit banget. Beda jika saya bikin target satu bulan setiap hari berturut-turut. Itu sangat susah. Tetapi, target 7 hari berturut-turut, sejujurnya juga bukan target yang mudah dicapai. Karena rasa malas, lelah, jenuh dan bosan sangat mudah datang mengganggu.

Karena saya membuat statement itu di SOSMED, maka mau tidak mau saya harus melakukannya.

Demikianlah saya mulai berolah raga pagi. Memotret diri seusai olah raga dan berkeringat. Lalu upload ke Sosmed. Sebagai bukti bahwa saya memang sudah berolah raga hari itu.   Hari pertama berhasil. Upload! 
Hari ke dua berhasil, upload! 
Hari ke tiga, hari ke empat dan seterusnya berhasil. Saya upload terus buktinya.

Akhirnya Yes!! Hari ke tujuh! Saya berhasil menyelesaikan berolah raga 7 hari berturut-turut tanpa jeda.  Saya takjub sendiri dengan upaya saya.

Dengan mengupload target dan upaya serta proses saya untuk mencapai target itu ke SOSMED, memberi tekanan sosial kepada diri saya sendiri untuk terus berusaha dan terus berusaha setiap hari. Karena kalau saya tidak berolah raga, tidak ada foto berkeringat hari itu yang bisa saya upload, maka saya harus menanggung malu di depan publik. Berarti saya telah ingkar pada ucapan saya sendiri.

Sekarang tanpa terasa saya sudah berolah raga selama 7 hari berturut -turut selama 8 minggu. Dan sekarang ini sudah di putaran ke 9.

Jika saya tidak membuat statement dan merasa tidak perlu mengupload foto foto berkeringat saya itu ke sosmed, saya yakin pasti saya sudah berhenti berolah raga di hari ke empat atau ke lima, karena toh tidak ada yang tahu. Toh tidak ada yang membuat saya malu jika saya terus meringkuk di tempat tidur dan tidak berolah raga seperti sebelum-sebelumnya.

Memberi sedikit tekanan sosial pada diri sendiri, saya rasa cukup penting untuk membantu kita menjadi lebih disiplin dan lebih semangat.

“Dibutuhkan sedikit tekanan, agar bisa meloncat dengan baik”.

Dan setelah saya pikir-pikir, hukum ini sesungguhnya berlaku di mana-mana. Contohnya pada ayunan jungkat-jungkit. Jika  ingin agar sisi ayunan yang di ujung sana berjungkit ke atas, maka  yang di ujung sini harus diberi beban dan tekanan terlebih dahulu. Dan sebaliknya, sehingga mekanisme jungkat-jungkit terjadi.

Atau mainan kodok loncat dari karet. Anak-anak harus menekan sedikit bagian belakang kodok mainan itu agar si kodok mau meloncat ke depan.

Saya pikir mekanisme alam yang serupa, sesungguhnya bekerja untuk memicu semangat hidup kita.

SMALL TARGET, REACHABLE TARGET.

Standard

Memecah Target Besar Yang Sulit Menjadi Target Kecil-Kecil Yang Mungkin Dicapai.

Tak terasa dua bulan sudah berlalu, sejak pertama kali saya memutuskan untuk berolah raga setiap hari, guna memperbaiki kesehatan saya. Saya mulai berolah raga pagi sejak tanggal 11 Februari tahun ini dan hingga hari ini masih terus berolah raga tiap pagi, hanya pernah jeda sekali pada Hari Raya Nyepi.

Buat saya ini adalah pencapaian yang luar biasa, walaupun bagi sebagian orang yang memang disiplin dan rajin berolah raga, tentu ini bukan apa-apa. Karena sebelumnya, ngebayangin target berolah raga tiap hari selama sebulan penuh tanpa jeda hari itu kok rasanya berat banget dan nggak mungkin. Saya sangat yakin itu tidak akan tercapai. Apalagi 2 bulan berturut-turut. Sangat sangat sangat berat dan tidak mungkin tercapai rasanya.

Lalu bagaimana saya bisa melewati semua ini selama dua bulan lebih?

Yang saya lakukan adalah memecah target besar yang rasanya sangat berat dicapai menjadi target kecil-kecil yang mungkin tercapai oleh saya.

  1. Lupakan Target Sebulan. Fokus Pada Target Seminggu.

Saat memikirkan target berolah raga pagi selama sebulan penuh saya yakin tidak akan bisa saya capai. Tapi jika hanya 7 hari berturut-turut, kok rasanya saya masih sanggup ya. Soalnya targetnya nggak lama. Hanya 7 hari.

Lalu saya coba jalani. Olah raga setiap hari. Saat ada halangan datang, seperti rasa malas dan enggan, saya membujuk diri saya sendiri. “Targetmu cuma 7 hari. Nggak banyak. Ayo teruskan. Dikit lagi nyampe!!!”. Eeeh…ternyata bisa lho saya berolah raga selama 7 hari berturut-turut. Saya memuji diri saya sendiri.

Dan karena 7 hari pertana sudah lewat, saya jadi percaya diri, berarti jika saya kasih target 7 hari lagi ke depannya, mungkin saya bisa juga. Akhirnya saya jalani 7 hari berikutnya lagi dari nol. Dan bisa!!. Kasih target 7 hari berikutnya lagi. Dan bisa lagi !!. Begitu seterusnya. Akhirnya berolah raga setiap hari selama sebulan tercapai. Dan sekarang dua bulan tercapai.

Ternyata dengan memecah target besar menjadi kecil-kecil membuat kita menjadi lebih percaya diri dan yakin bisa mencapainya.

Ketimbang memikirkan target besar sebulan, lebih baik kita fokus pada target mingguan dan terus fokus setiap minggu. Ujung-ujungnya tercapai juga target sebulan yang terasa besar itu.

  1. Berolah raga tidak lama – lama.

Saya tidak menargetkan diri saya harus berjam-jam berolah raga. Cukup antara 45-60 menit tergantung dari jam bangun dan ada jadwal meeting pagi di kantor atau tidak. Bagi saya 45 menit itu sudah cukup berkeringat banyak dan membuat tubuh saya terasa segar.

  1. Berolah raga seimbang
    Dalam berolah raga saya juga tidak ngoyo ngikutin satu jenis saja. Saya coba campur-campur saja sesuai dengan kenyamanan hati saya.

Yang penting saya ada melakukan sedikit pemanasan (ini saya belajar setelah saat di awal kaki saya sempat keseleo, karena saya langsung berlari tanpa pemanasan), sedikit olah raga ringan, berat dan kardio. Kadang senam, lari kecil, jalan kaki, main bola basket, dsb. Saya tidak memaksa diri untuk melakukan olah raga yang kurang saya sukai.

Semua upaya itu, membuat olah raga menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi diri saya.

Semoga ke depannya, saya masih bisa terus konsisten berolah raga.

Panahan: Antara Logika & Rasa.

Standard

Kembali lagi ke lapangan Panahan bersama 2 anak saya. Memberi kesempatan tubuh untuk terpapar penuh oleh sinar matahari. Kali ini tanpa Pak Heydar yang bisa saya temui untuk berkisah lagi tentang Leadership. Rupanya beliau sedang sibuk memberikan pelatihan di tempat lain.

Setelah 2 minggu sebelumnya saya hanya menjadi penonton, pemantau dan pendengar, sekarang saya memutuskan untuk maju selangkah. Mencoba!. Jadi status saya naik ya dari pasif menjadi aktif😀😀😀.

Saya menemui Pak Azmi dan ditemani Mas Ido. Jadi bagaimana caranya untuk memulai?.

Pertama, kata Mas Ido saya harus memakai pelindung lengan bawah. Maksudnya agar nggak kejepret tali busur. Bisa merah. Saya menurut.

Lalu Mas Ido memberikan saya busur ukuran 18. Katanya yang ukurannya kecil dan enteng. Untuk wanita. Jadi tidak sama dengan yang diberikan ke anak-anak saya yaitu ukuran 22 dan 20 yg jauh lebih besar dan berat. Baiklah. Saya akan coba.

Berikutnya saya diberitahu bagaimana caranya memegang busur dengan tangan kiri dan posisi genggamannya. “Genggaman harus kuat tapi tak perlu kaku atau terlalu erat”. Mas Ido menunjukkan busur yang terpegang dengan baik, sudah pasti tidak akan jatuh, tetapi tidak erat, jadi busur masih bisa bergoyang sesuai situasi. Lalu menempatkan anak panah dan menarik tali busur.

Gunakan 3 jari (telunjuk, jari tengah, jari manis) yang diposisikan sedemikian rupa di tengah di dekat pangkal anak panah dengan jari tertekuk di ruas pertama. Lengan kanan ditarik ke belakang melalui bawah dagu dan ujung siku tarik ke atas. Tangan saya rasanya gemetar… dan busur bergoyang hebat. Tahan kurang lebih selama 3 detik daaan…. lepasss!!!!.

Whua… anak panahnya nyungsep di bawah kotak sasaran. Gagal!.😣😣😣

Ternyata keras juga ya. Cukup terasa berat bagi saya untuk menarik tali busur itu kuat-kuat sehingga busurnya bergoyang. Mas Ido melihat kondisi itu, lalu mencarikan saya busur yang lebih kecil. Bentangan busur saya terlalu lemah rupanya. “Nggak apa-apa. Ibu baru pertama kali. Mungkin juga karena jarang olah raga ya?. Nanti kalau sering latihan juga akan kuat” katanya menghibur.

Saya lalu mencoba busur yang lebih kecil dan yang lebih enteng. Busur untuk anak-anak 😀. Waduuh… antara rasa senang dan sedih rasanya. Senang karena akan memulai dengan yang “mungkin” terlebih dahulu, sehingga saya bisa berpikir lebih positive karena saya melihat ada harapan di sana. Tapi sedihnya ketika menyadari dan mengakui bahwa betapa lemahnya tubuh saya saat ini. Salah satunya karena jarang berolah raga. Kesalahan saya sendiri juga.

Masak setua ini bisanya hanya menggunakan busur ukuran anak kecil sih 😢😢😢.

Tapi baiklah, demi kesuksesan ke depannya mari kita lupakan bagian yang menyedihkannya itu. Kita hanya ingat bagian yang memberi harapannya saja ya 😀😀😀

Singkat cerita, berlatih lah saya hari itu. Belum sekalipun saya sukses bisa membidik titik kuning tepat di bagian tengah sasaran. Biro boro lingkaran kuning, anak panah saya bahkan kerap kali melayang di atas papan sasaran atau nyungsep sekalian di bawahnya.

Masalah yang lain adalah, Mas Ido mengatakan teknik saya membidik belum benar. Posisi tubuh saya dan tarikan tangan kanan saya belum benar. Objectivenya bukan hanya sekedar berhasil membidik yang kuning. Tapi bagaiman membidik yang kuning dengan cara yang tepat dan benar.

Semakin saya mencoba membidik yang kuning, kok malah semakin meleset ya. Padahal saya sudah letakkan pandangan saya baik-baik pada ujung mata panah dan saya arahkan ke titik kuning itu.

Turunkan lagi Bu, turunkan lagi”. Waduuh!. ???????. Kok diturunkan terus ya? Padahal jelas jelas terlihat ujung panah itu mengarah jauh di bawah titik kuning. Tapi sudahlah… tanpa nendebat sayapun menurunkan bidikan saya dan…lepasss!!. Hasilnya? Jauh di atas titik kuning dan miring pula 😀😀😀.

Kenapa bisa begitu ya? Saya menggaruk garuk kepala saya yang tak gatal. Penjelasannya adalah karena letak mata kita lebih tinggi dari titik sasaran. Jafi logikanya, tangan harus kita turunkan. O ya? Tapi kan saya sudah menurunkan posisi tangan agar ujung anak panah mengarah ke bawah titik kuning itu? Rasanya kok nggak masuk akal ya. Saya coba berkali kali lagi dan hasilnya gagal maning, gagal maning.

Akhirnya saya kira-kirain saja. Dan ajaibnya, kalau nggak pakai teori dan hanya memakai feeling kok malah semakin dekat dengan titik sasaran. Walaupun tidak tepat di titik kuning, tetapi paling tidak, beberapa kali akhirnya saya berhasil menancapkan anak panah di lingkaran merah. Sudah mendekati sasaran. Lumayan. Better daripada yang tadi.

Anak-anak saya yang keduanya telah berhasil membidik lingkaran kuning sebanyak 4-5 x mendekati saya dan memberi dukungan. “Mama! Ayo lepas! jangan ragu-ragu!“.

Jadi panahan ini rupanya membutuhkan kombinasi logika dan feeling. Barangkali logika yang dibungkus oleh rasa sebagai persepsi tubuh atas apa yang tertangkap oleh panca indera kita. Rasa yang menyangkut genggaman tangan kita pada busur panah, bentangan tali busur, tentang jarak sasaran, arah ujung anak panah, kekuatan tangan kita dan lain sebagainya. Dibutuhkan rasa yang lebih menyatu dengan busur dan anak panah itu sendiri. Seorang pemanah tidaklah boleh menjadi “stranger” bagi busur dan anak panahnya sendiri.

Sampai di titik ini saya belum berhadil. Saya masih ingin terus berlatih.

Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Standard
Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Hi! Saya mau berbagi cerita lagi nih. Cerita menarik hasil saya ikut nguping dari lapangan panahan minggu lalu 😀😀😀.

Teman-teman pembaca pernah nguping nggak? Mendengarkan pembicaraan orang lain diam-diam. Ihhh….itu kan tidak sopan ya?. Ya memang. Tetapi kadang-kadang kita terjebak dalam situasi dimana kita terpaksa jadi ikut nguping juga karena kepepet 😀.

Itu terjadi pada saya. Bukan karena niat nguping sih… tapi ya…awalnya nggak sengaja, tapi karena percakapan itu sungguh menarik, saya pun meneruskan kegiatan menguping itu hingga selesai.

Hari Sabtu yang lalu saya menemani anak-anak saya yang ingin mencoba bermain panahan di BSD Archery. Dikasih kontak oleh Mbak Pimpim, seorang teman baik, sayapun bertemu dengan Pak Azmi dan Pak Heidar yang mengelola tempat latihan panahan itu.

Anak-anak ikut berlatih 🎯🎯🎯dan mencoba dengan penuh semangat. Saya sendiri hanya menonton dan sesekali mengabadikan kegiatan anak saya dengan kamera hape. Mereka belajar meletakkan anak panah, merentangkan busur dan membidik sasaran. Mulanya meleset banyak. Tapi karena dicoba dan dicoba terus, anak-anak kelihatannya mulai dapat ‘feels’ nya.

Ini adalah kali pertama saya melihat peralatan panah yang benar dari dekat. Sebelumnya yang pernah saya lihat hanyalah panah mainan saja 😀. Jadi saya tertarik juga untuk memperhatikannya.

Serupa dengan panah mainan, peralatan panah terdiri atas Anak Panah dan Busur.

Kalau anak panah sih sudah sangat jelas ya. Terdiri atas batang, mata panah yang tajam dan pangkal panah yang mirip bulu ayam.

Busur, jika diperhatikan terdiri atas bagian yang melengkung ke atas dan bawah yang disebut dengan limb dan tali panah.

Lalu di bagian tengah limb, saya melihat ada bagian dari bahan kayu tempat pegangan tangan yang disebut dengan riser.

Di atas lekuk pegangan tangan, rupanya terdapat celah kecil tempat meletakkan anak panah. Dan sedikit lagi di atasnya terdapat celah bidik atau visir.

Saya memperhatikan Pak Azmi dan Pak Heidar memperagakan bagaimana cara memegang busur panah yang benar. Para peserta pun mulai mencoba, berlatih dan terus berlatih membidik ke sasaran yang sudah ditetapkan.

Latihan berjalan santai ditingkahi obrolan kiri kanan dan curhatan oleh peserta lain tentang kerjaan kantor yang entah bagaimana awalnya, kemudian berakhir dengan topik ‘Leadership’. Semakin seru karena tiba tiba Pak Heidarpun ikut nimbrung dan membagikan ilmu dan pengalamannya dalam hal ‘Leadership’ kepada sekelompok peserta latihan itu.

Sayangnya saya belum kenal dengan kelompok itu, jadi nggak bisa ikut nimbrung ya. Selain itu anak-anak saya masih meneruskan latihan walaupun panas makin terasa menghentak. Jadi sambil mengawasi dan memotret anak-anak, sebelah telinga saya ikut mendengar dan saya ikut menyimak pembicaraan Pak Heidar yang menarik itu. Begitulah asal muasalnya mengapa saya jadi ikut menguping *mencari pembenaran😀.

Menurut Pak Heidar, menguasai ilmu memanah, juga membuat kita memperbaiki kemampuan leadership kita. Bagaimana?. Nah ternyata ada ceritanya nih teman-teman pembaca….

Jika kita perhatikan bagaimana orang memanah, kita akan mengetahui sang pemanah akan menggenggam busurnya tepat di tengah pada riser.

Saya melirik sekilas, Pak Heidar menjelaskan bahwa bagian riser dari tengah ke bawah berfungsi sebagai pengendali. Bagian ini kurang lebih porsinya 60%.

Sedangkan bagian riser dari tengah ke posisi celah bidik berfungsi sebagai pembidik. Kurang lebih porsinya 40%.

Jika sebagai seorang pemanah, kita memfokuskan diri pada bagian “Pengendali” yang porsinya 60 % tadi, maka kita akan cepat merasa lelah dan hasil bidikanpun belum tentu tepat mengenai target.

Hal yang sama akan terjadi jika hal itu kita lakukan sebagai seorang pemimpin. Kadang-kadang karena kekhawatiran yang berlebih, sebagai pemimpin kita cenderung sibuk mengawasi, meneriksa, mengontrol semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bawahan kita (bahkan jika perlu membantu) hanya untuk memastikan semua sudah dikerjakan dengan baik. Sebagai akibatnya, kita akan merasa lelah sendiri. Karena bagian ini adalah bagian dengan porsi yang lebih besar yang seharusnya kita lepaskan kepada team untuk mengerjakannya. Sehingga kita bisa lebih fokus pada bagian lain yang lebih penting.

Sebaliknya jika sebagai pemanah kita memfokuskan diri pada bagian “Pembidik” yang porsinya cuma 40% tadi itu, maka kita tidak akan merasa terlalu lelah. Dan kemungkinan terbidiknya target sasaranpun semakin besar.

Sebagai leader pun demikian. Jika kita lebih memfokuskan diri pada membidik target dan mengarahkan team untuk mencapainya, maka kemungkinan untuk tercapainya objective menjadi lebih besar. Dan sebagai leaderpun pekerjaan kita menjadi tidak terlalu berat. Karena bagian detail yang merupakan porsi besar dari pekerjaan itu sendiri, telah kita percayakan pada team kita. Dan mereka akan baik-baik saja.

Wow! Analogi yang sangat bagus. Saya pikir itu sebuah tips yang sangat berguna bagi siapapun yang memegang posisi sebagai leader. Sungguh beruntung saya berada di situ dan jadi ikut mendengar dengan tanpa sengaja (nguping maksudnya 😀).

Selain itu, memanah juga mengajarkan ketahanan dan spirit yang bagus. Menurutnya lagi, diantara bala tentara kerajan jaman dulu, para pemanah adalah yang dianggap sebagai armada yang paling berbahaya. Karena mereka sangat tangguh dan memiliki mental baja. Itulah sebabnya pula, mengapa jika seseorang ingin menaklukan sebuah kerajaan lain maka armada pemanahnyalah yang dibabat habis untuk memastikan pemberontakan bisa diredam.

Hmm.. obrolan yang sungguh menarik. Terimakasih sharingnya Pak Heidar.

Spirit of Wipro Run 2013 – Indonesia.

Standard

Spirit of Wipro Run

 

Spirit of Wipro Run datang kembali di Indonesia pada hari  ini, 22 September 2013.  Jika tahun yang lalu diselenggarakan  di Alam Sutera Boullevard,Tangerang, tahun ini Spirit of Wipro Run diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah. Tempat yang sangat menyenangkan bagi peserta  karena selain berlari, para peserta juga sekalian bisa menikmati pemandangan indah di kiri kanan jalur lari yang dipenuhi dengan anjungan indah dari berbagai daerah di Indonesia ini.

Spirit of Wipro Run merupakan ‘tradisi’  berlari yang dilakukan oleh Wipro setiap tahunnya sejak 2006.  Dan tahun ini adalah merupakan tahun ke delapan. Diikuti oleh lebih dari 50 000 peserta di  97 kota di seluruh dunia -termasuk di Jakarta. Di Jakarta sendiri peserta terdaftar adalah sebanyak  kurang lebih 750 orang yang sebagian besar adalah para Wiproite (karyawan dari perusahaan dari Grup Wipro)  beserta keluarganya. Sebagai salah seorang Wiproite, sayapun mengajak keluarga saya untuk ikut berpartisipasi memeriahkan kegiatan Spirit of Wipro Run ini.

Spirit of Wipro Run 2013. ajpg

Apa yang beda dengan Spirit of Wipro tahun ini?  Yang jelas di tahun 2013 ini Spirit of Wipro mengusung thema “THE LONG RUN”. Jika  tahun yang lalu kegiatan berlari dilakukan di jalur sepanjang 4 km, kali ini kegiatan berlari dilakukan di jalur yang jauh lebih panjang yakni kurang lebih 10 kilometer.  Ten Ke!.  Lumayan panjang juga ya? Wah… nyamain Bali 10K nih!.

Jadi jalurnya itu dimulai dari area pasar seni Taman Kaktus, bergerak ke arah Taman Bekisar, Taman Burung,  lalu berbelok ke Museum Minyak Dan Gas Bumi, Museum Listrik Dan Energi Baru,  lalu terus ke Taman Budaya Tionghoa,  Museum Perangko, lalu ke Museum Komodo. lalu di dekat  Anjungan Sulawesi Tenggara, Anjungan Sulawesi Selatan, Anjungan Nusa tenggara Timur, Anjungan Nusa Tenggara Barat,  Anjungan Bali. Wow! Kita berada di depan danau dengan pulau-pulau yang merupakan miniatur dari kepulauan Indonesia.  Lalu dari sana kita bergerak terus  ke arah Sasana Krida,  Anjungan Jawa Timur, Anjungan Jogja, Anjungan jawa tengah, Anjungan Jawa Barat, lalu  menuju ke Anjungan Lampung dan Anjungan DKI jakarta – dimana di seberangnya kita bisa melihat jajaran rumah-rumah ibadah dari setiap agama yang diakui keberadaannya di Indonesia, mulai dari  Vihara Budha Arya Dwipa Arama, Pura Hindu Penataran Agung Kerthabumi, Gereja Protestan Haleluyah, Gereja Katholik Santa Katarina,  lalu sebelum Masjid Pangeran Diponegoro, kita berbelok ke kiri di depan Borobudur Mini.

Dari sana kita berbelok lagi di depan Sasana kriya, terus berlanjut ke Sasono Langen Budoyo, ke tempat parkiran di dekat gerbang, lalu menuju ke Anjungan jambi, terus Anjungan Sumatera Selatan, Museum penerangan terus berlari lurus…. terus dan terus  akhirnya kembali lagi  deh ke Taman Kaktus. Lari  yang sangat panjang.  Sangat melelahkan dan penuh tantangan.   Benar-benar THE LONG RUN… Walaupun banyak juga peserta yang kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk berlari lambat atau bahkan berjalan kaki saja, namun banyak juga diantaranya yang memang benar-benar lari marathon dengan penuh spirit tanpa mengenal lelah walaupun jaraknya jauh.

Jadi tahun ini,  tantangannya  bukan hanya sekedar bagaimana agar bisa menang, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya agr bisa bertahan lama. It’s not about winning. It is about endurance!.  Bukan hanya soal ketahanan dan kemenangan jangka pendek. IT IS ABOUT LONG RUN…

Spirit of Wipro Run 2013

Untuk memastikan semua kegiatan berlangsung dalam suasana yang sportif tanpa kecurangan, panitia menetapkan beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para peserta antara lain diskualifikasi jika melakukan kecurangan misalnya menghadang, mendorong  atau mengganggu peserta lain.  Memotong rute lomba ataupun menaiki kendaraan di tengah tengah lomba, maka kepesertaannya akan disikualifikasi.   Selain itu juga ditempatkan petugas yang akan memberikan kalung putaran di dua pos  yang harus dilalui dan 3 pos penjurian yang akan memantau peserta yang lewat.  Di pos-pos itu juga disediakan minuman dan permen, sehingga sangat menolong.

Untuk memastikan agar  tidak ada para peserta  yang tersesat dan tetap  konsisten di jalur yang telah ditetapkan, petugas-petugas dengan petunjuk alur marathon berdiri di beberapa titik alur jalan.  Jadi tidak perlu takut kesasar. Ambulance dan bis juga disediakan mengikuti para peserta lari yang mungkin saja kelelahan,mengingat cukup banyaknya peserta yang masih kanak-kanak diajaki kut serta oleh orangtuanya.

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, Spirit of Wipro Run adalah kegiatan yang dilakukan untuk memaknai “Spirit of Wipro”  yang merupakan semangat dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan diterapkan dalam kelaurga besar Wipro. Dan yang lebih penting lagi, merupakan ajang kebersamaan komunitas Wipro  bersama keluarga, sahabat dan siapaun yang ingin ikut serta dalam merayakan semangat “berlari”.

Berlari dengan bangga!.

Berapa Jumlah Senyum Yang Kita Terima Setiap Hari?

Standard

Hidup  itu penuh berkah kebahagiaan. Dan saya menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Kebahagiaan hati, rupanya banyak sekali  bersumber dari senyum dan ketulusan hati orang-orang di sekeliling kita.  Adakah yang pernah menghitung,  berapa jumlah senyuman yang kita terima setiap hari dari orang-orang sekeliling kita? Saya belum pernah.

Namun pagi ini, ketika berjalan-jalan sebentar di seputar perumahan, tiba-tiba saya menyadari jumlah senyuman yang saya terima ternyata sangat banyak sekali. Senyuman ramah dan kehangatan hati orang-orang di sekitar,  yang selama ini tidak pernah saya hitung namun membuat saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Read the rest of this entry