Tag Archives: Parenting

Over Protective.

Standard

image
Anak saya yang kecil pergi camping. Wajahnya berseri-seri ketika menginformasikan kegiatan sekolahnya itu. Saya ikut senang. Teringat ketika saya seumurnya.Saya melakukan hal yang sama dan alangkah menyenangkannya.  Tidur di tenda, berpetualang, menjelajah alam, mencari jejak, menyalakan api unggun. Belajar mandiri.

“Bolehkanh mama ikut?” tanya saya berharap. Anak saya terkejut. “Ah, jangan Ma! Nggak ada mama-mama yang lain yang ikut.Lagipula tidak boleh sama Ibu Guru” kata anak saya. Weh.. saya kecewa.

“Oke deh. Kalau gitu ntar mama tengok aja ya” kata saya lagi.  Anak saya tetap tidak mengijinkan. “Janganlah Ma!. Aku malu sama teman-temanku”. Saya merasa heran, kenapa sih harus malu ? Kan cuma ditengok doang.  Anak saya tetap mengatakan tidak bisa. Bahkan hape saja tidak boleh dibawa. “Kalau dibawa akan disita Ibu Guru”, katanya. Tapi akhirnya saya setuju untuk tidak mengantar dan tidak menengok.

Saya hanya membantu menyiapkan benda-benda yang perlu ia bawa. Pakaian secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebih. Agar backpack-nya tidak terlalu berat. Tali pramuka, sabun-odol-sikat gigi, sweater, selimut tipis, handuk, payung dan senter. Sambil meyiapkan peralatannya saya membayangkan suasana camping. Sebenarnya sih tidak ada yang bahaya, tapi entah kenapa saya merasa sangat khawatir.

Musim hujan begini! Saya khawatir tendanya kerendam air. Saya menawarkan agar ia membawa jas hujan yang berbahan plastik. “Nggak usahlah Ma!.Kan sudah bawa payung lipat” katanya.  “Buat jaga-jaga” kata saya. “Nggak usah. Payung saja cukup. Kan tidak boleh bawa banyak-banyak barang” kata anak saya.

Bagaimana nanti makannya? Tidak boleh bawa uang, sementara saya hanya diminta mempersiapkan bekal makan siang saja. Itupun ukurannya kecil-kecil saja. Tidak mau membawa banyak makanan. Saya membelikannya beberapa jenis snack. Buat jaga-jaga siapa tahu ia nanti kelaparan. Kan bisa bagi-bagi dengan teman-temannya. “Ntar jadi nyampah di sana, Ma.Aku tidak mau membuang sampah sembarangan. Apalagi sampah plastik” katanya. Ah! Positive thinking saja. Tentu saja makanan pasti disiapkan oleh Bapak Ibu gurunya .Saya menepis pikiran buruk saya. Akhirnya ia hanya bersedia membawa sebotol air minum saja, selain bekal makan siang.

Lalu saya teringat akan danau yang berada tak jauh dari tempat anak saya akan camping. “Jangan nakal-nakal nanti di sana ya… Jangan main ke danau. Harus hati-hati” kata saya. Anak saya tampak mulai tidak sabar.”Udahlah Ma. Aku juga tidak mungkin  nakal-nakal. Aku kan nanti akan hanya ikut kegiatan yang ditetapkan. Lagipula aku sudah gede. Aku tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak” katanya. Saya tertawa.

Ya. Sebenarnya saya tahu kalau ia sudah gede. Dulu saya bermain juga ke danau,walaupun saya tidak bisa berenang. Nah, sekarang jelas-jelas anak saya jauh lebih jago berenang dari saya, mengapa pula saya sangat khawatir.

Lalu anak saya mendekat “Mengapa sih mama over protective banget sama anaknya?” tanya anak saya dengan wajah serius. Saya nyengir dibuatnya. Pikiran saya melayang ke 35 tahun yang lalu. Cepat sekali melintas. Saya ingin berkemah. Walaupun akhirnya mengijinkan, tetapi Bapak saya banyak sekali larangan ini dan itunya. Nggak boleh begini. Nggak boleh begitu. Harus hati-hati. Jangan makan dan minum sembarangan. Bawa pakaian tebal.Bawa payung. Dan juga minyak gosok. Tidak boleh mekelanyiran (mekelanyiran = centil, dekat-dekat dengan teman cowok). Jangan mau jika dikasih minum oleh teman laki atau orang yang tidak dikenal. Kalau tidur di tenda harus pakai celana panjang. Jangan lupa berdoa.Dan seterusnya, dan seterusnya yang membuat saya stress. Setelah itu, Bapak saya juga menyuruh kakak-kakak sepupu saya menengok saya di tepat kemah. Kok rasanya seperti dimata-matai ya?. Hingga akhirnya, suatu ketika saya pernah protes keras kepada Bapak – saya merasa diperlakukan dengan tidak adil dan tidak dipercaya.

Sekarang saya baru tahu apa yang dirasakan oleh Bapak saya. Setiap orang tua pasti memiliki kekhawatiran akan anaknya. Tapi jika dulu saya bisa melewati masa -masa berkemah itu dengan baik, tentu anak saya akan bisa mekewatinya dengan jauh lebih baik lagi. Ia memiliki ketahanan fisik yang lebih dari saya saat seumurnya. Dan ia juga memiliki pengetahuan dan skill yang lebih baik ketimbang saat saya di umurnya. Lah…mengapa saya harus mengkhawatirkan anak saya.

Camping ataupun menjelajah di alam bebas memberikan manfaat yang luar biasa kepada perkembangan jiwa anak. Menurut saya, anak-anak yang terbiasa berkemah, wawasan dan tingkat kesiapan menghadapi hidupnya akan sangat tinggi. Pengalaman hidup di alam akan membuatnya tidak takut hidup susah. Tidak takut miskin. Lebih cepat tanggap jika ada masalah, dan lebih cepat pula mencari pemecahannya.  Karena ia tahu, jawaban untuk setiap permasalahan selalu ada di alam. Tinggal bagaimana kita mencari dan menemukannya.

Baiklah!.Akhirnya saya merasa tahu apa yang harus saya lakukan. Mengijinkan anak saya berkemah dengan keikhlasan hati.Biarlah ia mengalaminya sendiri. Dan memetik manfaatnya sendiri. Untuk dirinya sendiri di kemudian hari.

 

 

 

 

Anakku & Indonesia Piano Competition 2015.

Standard

20150412_180710Anak saya menyatakan ingin ikut Indonesia Piano Competition. Semangat sekali. Padahal ia sedang Ujian Akhir Sekolah. Awalnya saya agak ragu. Saya takut ia kurang fokus dengan pelajaran sekolahnya. Tapi melihat semangatnya yang tinggi dan keyakinannya yang menggebu akhirnya saya ijinkan ia ikut kompetisi itu. Tentu saja latihannya hanya boleh disela-sela waktu belajarnya. Tapi rupanya ia tetap menjaga semangatnya.

Nah kemarin tanggal 11 April, ikutlah ia dalam kompetisi itu di Menara Top Food, Alam Sutera. Pesertanya cukup banyak juga. 300 orang lebih.Waduh!. Umurnya 14 tahun. Ia masuk ke kategori Elementary C.  Pukul 2 siang ia sudah siap masuk ke kursi peserta.  Saya melihatnya dari kejauhan. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya bertanding, ia tampak grogi dan gelisah. Saya hanya bisa berdoa semoga ia diberi ketenangan.  Hingga akhirnya saat itupun tiba juga. Ia naik ke panggung, membungkukkan tubuhnya yang jangkung ke arah penonton, lalu mulai duduk di depan piano di atas panggung yang lampunya temaram. Dan mulai membawakan  musiknya. Bach kleine preludien no 4 BMV 927. Barangkali karena grogi, saya mendengar ia memainkannya tidak sebagus biasanya ia memainkannya di rumah. Temponya agak kurang smooth, tapi secara umum ia bisa menguasai diri dan alat musiknya dengan cukup baik.

2015-04-11 16.02.08Ingin sekali saya mengambil gambarnya. Sayang sekali panitia berkali-kali memberi peringatan agar penonton tidak mengambil gambar dengan flash atau blitz. Akhirnya saya hanya mengambil fotonya dengan kamera hape tanpa flash, yang walhasil….buram nyaris gelap gulita. Setelah saya lakukan sedikit edit, ya lumayan bisa terlihat walaupun tidak optimal.

Setelah selesai, anak saya turun dari panggung dan menceritakan betapa grogi dan paniknya dia. Saya menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu hal biasa. Apalagi pengalaman pertama. Sangat wajar. Berikutnya ia hanya perlu belajar menenangkan diri. Permainan musiknya tidak bermasalah. Lalu saya katakan, bahwa  ambisi untuk memenangkan kompetisi itu sangat penting, Tetapi hal pertama yang lebih penting dicapai adalah mendapatkan pengalaman panggung.  Saya adalah salah seorang yang percaya bahwa tingkat kepercayaan diri seseorang dalam berbicara di depan publik, sangat dibantu oleh pengalaman panggung masa kecilnya.

2015-04-13 00.08.31Jika orang itu sejak kecil terlatih naik turun panggung, maka ketika ia dewasa ia akan menjadi terbiasa menghadapi orang banyak dan berbicara di depan publik ketika kelak dibutuhkan. Demikian juga dengan kebiasaan bertanding dan berkompetisi. Orang yang sering ikut kompetisi akan lebih terlatih untuk menghadapi situasi menang ataupun kalah. Ia akan lebih sportif  dan mengerti aturan main yang fair. Jagi bagi saya, kalah ataupun menang baginya kali ini bukanlah hal yang paling penting.Saya hanya ingin ia merasakan bagaimana ia naik ke panggung di depan ratusan pasang mata penonton di ballrooom itu dan bertanding secara jujur.  Cari pengalaman, anakku!

Nah tadi sore keluarlah pengumumannya.Anak saya sangat tegang. Saya menghiburnya dan berkali-kali menegaskan bahwa yang penting adalah pengalamannya,bukan soal menang atau kalahnya. Pembawa acara pun mengumumnkan pemenangnya. Bukan anak saya. Ada beberapa orang yang lebih baik darinya. Tetapi belakangan diumumkan bahwa ia mendapatkan Award untuk Music Achievement. Hadirin pun bertepuk tangan dengan riuh. Wajah anak saya tampak lega. Ia berjalan ke depan untuk menerima Award itu. Saya bangga melihatnya.

Congratulation, anakku!.

Ricci Cup XV: Mendorong Anak Untuk Berprestasi…

Standard

aldoSepulang kerja, saya menemukan anak saya yang kecil sangat sibuk. Biola, kardus, spidol, lem dan gunting bertebaran di lantai. “Lagi ngapaian, nak?” tanya saya pengen tahu dan melihat ke gambar Biola yang ia buat di atas kardus. Anak saya tidak menyahut seketika. Tangannya meneruskan garis dari spidol yang ia bentuk menjadi gagang biola dan matanya sesekali melirik biola sungguhan yang tergeletak di depannya. Saya berdiri menunggu. “Lagi bikin biola mainan, Ma” jawabnya ketika garisnya selesai. Saya menonton ia bekerja.

Lalu ia mulai menggunting. Saya pikir ia mengalami kesulitan, karena wajahnya meringis. Kardus itu agak tebal dan terlalu keras untuk tangannya yang mungil. “Mari Mama bantuin menggunting” saya menawarkan bantuan. Awalnya anak saya tidak mau menyerah pada kardus itu, tapi akhirnya ia menerima tawaran saya untuk membantunya meneruskan menggunting. Ia sendiri beralih membuat mahkota kepala dengan antena yang mirip antena belalang. Setelah saya selesaimenggunting, ia mulai menempel. Akhirnya jadilah biola dari kardus seperti yang ia design. Ha..lumayan bagus juga. “Untuk apa biola mainan ini?” tanya saya ingin tahu.

Anak saya bercerita kalau ia terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut Story Telling Competition dalam memperebutkan Ricci Cup XV. Dan ia butuh beberapa alat pendukung untuk pentasnya nanti. Ha?! Story Telling?? Mewakili Sekolah pula??

Anak saya yang kecil ini  berbahasa Inggris dengan baik, namun mata pelajaran Bahasa Inggris bukanlah favoritnya.  Agak berbeda dengan kakaknya yang memang sangat suka belajar Bahasa asing.  Sehingga ketika ia mengatakan terpilih mewakili Sekolahnya dalam kompetisi Story Telling, saya sendiri agak heran.  “Kapan?” tanya saya. “Dua hari lagi. Tapi besok aku di camp, untuk ikut acara sekolah yang lain. Jadi tidak sempat membuat persiapan ini lagi” katanya.

Aduuuh. Kok mendadak begini ya? “Ya.Memang baru juga dikasih tahu Ibu Guru“katanya. Entah kenapa saya merasa was-was. Bagaimana anak saya akan melakukannya ya? Saya belum pernah melihatnya berlatih. Cerita apa yang akan dibawakannya? Bagaimana ia akan mengatur alur ceritanya? Volume suaranya? Mimiknya? Kostumenya? Dan sebagainya?  Aduuuh. Tapi saya harus mendukung anak saya untuk bertarung dengan baik. Karena menurut saya, kompetisi merupakan ajang yang sangat baik untuk mengasah kemampuan anak. Kompetisi memberikan kesempatan buat anak untuk menjajal kemampuannya dibandingkan dengan kemampuan anak-anak lain setingkatnya, sehingga ia bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Kompetisi juga akan melatih jiwanya menjadi lebih sportif.

Saya lalu memintanya mencoba melakukan Story Telling di depan saya terlebih dahulu. Ingin tahu kesiapannya. Ia pun beraksi. Gaya berceritanya sangat jenaka. Kalimat demi kalimat meluncur dari mulutnya dengan sangat lancar. Sambil memperagakan adegan demi adegan antara sang Belalang dan Sang Semut silih berganti diikuti mimik mukanya yang sangat kocak. Saya terpingkal-pingkal dibuatnya. Sungguh ia seorang dalang yang baik.  Ooh..jadi ceritanya tentang “The Ants and The Grasshopper“.

Kini saya mengerti mengapa ia dipilih oleh gurunya untuk mewakili Sekolahnya ke ajang kompetisi. Ia bisa mengekspresikan peranan setiap character dengan cukup baik dan dengan Bahasa Inggris yang fasih.  Saya hanya memintanya untuk mempertajam nada suara antara character satu dengan yang lainnya.Selebihnya saya lihat semuanya sudah cukup bagus.  “Semoga menang!”, tentu saja itu harapan saya.  Saya ingin anak saya bangga dengan apa yang ia capai. Bangga akan prestasinya. Bangga akan dirinya sendiri. Dan bangga itu tidak sama dengan sombong.

Tibalah pada hari H-nya!.

Hari dimana dilangsungkan Ricci Cup XV untuk memperebutkan piala-piala di kompetisi Story Telling, Speech dan Solo Vocal. Diikuti oleh murid-murid perwakilan berbagai Sekolah di Jakarta. Anak saya yang besar bertugas menjadi MC acara Speech Contest di tingkat SMP. Ia bangun lebih cepat dari biasanya dan bergegas berangkat sekolah.  Karena kesibukan kantor yang tidak bisa saya alihkan, sayang sekali saya tidak bisa datang, walaupun jauh-jauh hari anak saya sudah memberi kode ” Parents can come”. Jadi saya hanya memberinya semangat saja.

Andri

Anak saya yang besar ini sudah cukup sering dipercayakan sekolahnya menjadi MC berbahasa Inggris. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Saya yakin ia tidak akan mengalami demam panggung lagi. Walaupun dalam acara ini tentu tamu-tamu, para undangan dan peserta kontes datang dari berbagai Sekolah. Semoga ia bisa me’manage’ dirinya sendiri.  Selain itu, menjadi MC dengan menjadi peserta kompetisi tentu tingkat ketegangannya berbeda.  Kali ini anak saya yang besar tidak ikut berkompetisi apapun juga. Hanya menjadi MC saja.  Jadi sedikit agak lebih santai. So…good luck, Nak! Semoga bisa melakukan job dengan baik dan sukses membawa nama baik Sekolah.

Halnya anak saya yang kecil, rupanya ia bertanding di ruang kelas yang lain. Bukan di ruang di mana kakaknya menjadi MC. Akibatnya sang kakak juga tidak sempat melihat adiknya beraksi di panggung. Syukurnya,  Ibu gurunya berbaik hati merekam anak  saya saat ber’Story Telling ” di atas panggung, lalu memberikan rekamannya kepada kami. Lumayan! Jadi saya bisa melihat aksi anak saya saat berlomba. Tampak bagus dan ia terlihat pede dengan aksinya. Ada 35 orang peserta yang datang dari berbagai sekolah di Jakarta.

Hari Senin, keluarlah pengumumannya. Horeee!!!!. Saya mendapat kabar dari gurunya,  ternyata anak saya berhasil menggondol Juara I dalam kontes Story Telling itu. Wah, hebat!.   Sungguh saya tidak menyangka sebelumnya, ia akan menjadi pemenang pertama dalam pertandingan antar sekolah ini. But he did it!. Ia mendapatkan piagam dan berhasil menggondol piala untuk sekolahnya. Melihat usaha, kreativitas dan kemampuannya, saya pikir ia memang layak mendapatkannya. He deserves for the best!.

Tentu saja saya bangga kepada kedua anak saya. Baik yang menjadi MC maupun yang mengikuti kompetisi Story Telling. Keduanya menunjukkan prestasinya dengan baik.

Kompetisi, mendorong anak untuk berprestasi!

 

 

 

Musik Dan Perkembangan Jiwa Anak-Anak.

Standard

HomeConcertBermain musik!. Adalah salah satu bentuk berkesenian yang tidak saya kuasai.  Walaupun demikian, saya sangat menyukai musik. Apapun jenisnya.Mulai dari yang traditional hingga modern. Mulai dari gamelan, hingga alat musik asing.  Dan saya selalu kagum kepada orang yang jago bermain musik. Karena menurut saya mereka adalah orang-orang yang mampu menghayati dan mengamalkan keharmonisan dengan sangat baik. Saya tak habis pikir. Bagaimana ya caranya orang bisa berkonsentrasi dengan nada suara di dalam alat musik yang digunakannya sendiri agar tidak bertabrakan panjang pendek, cepat lambat ataupun tinggi rendahnya. Belum lagi harus menyeimbangkan keharmonisan dengan nada suara alat musik lain. Atau bahkan menyesuaikan dengan suara sang penyanyi jika ada. Repot, bukan?

Oleh karena ketidak mampuan saya bermain musik, maka saya mendorong anak-anak saya bermain musik. Agar tidak sama dengan emaknya yang cuma tahu dung dang ding dong deng – tangga nada dalam musik traditional Bali – sejenis do re mi fa sol. Pada awalnya saya membawa anak-anak saya ke sekolah musik yang ada di Bintaro. Anak saya yang besar memutuskan untuk belajar Violin, sementara yang kecil belajar piano.   Namun karena satu hal, saya kemudian memuuskan untuk melanjutkan pendidikan musik bagi anak saya di tempat kursus  yang lebih private, dimana gurunya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membimbing anak-anak.

Di tempat baru ini kedua anak saya mengambil kelas piano classic. Baru kelas persiapan dan grade 1. Masih jauh sekali ya hingga bisa menjadi pemusik yang pro? Tidak apa-apa.  Kalau ingin menjadi yang pro tentu harus sabar dan tekun belajar dari mulai yang mudah dan sederhana terlebih dahulu. Kalau terus berlatih dengan tekun tentu suatu saat bisa menjadi pro juga. Saya cukup senang anak-anak saya menyukai apa yang ia pelajari.  Selain itu di sekolahnya, anak saya yang kecil juga belajar Gamelan Jawa. Saya mendorongnya untuk mempelajari musik traditional juga. Home concert

Beberapa hari yang lalu mereka ikut Home Concert yang diselenggarakan oleh tempat kursusnya yang dihadiri sekitar 30-an penoton. Ada sekitar 17 peserta yang menampilkan Solo, selain ada juga performance gabungan. Anak saya yang kecil membawakan “Long Long Ago” karya komposer Inggris,  Thomas Haynes Bayly. Sementara anak saya yang besar, untuk penampilan piano classic  solo-nya ia membawakan dua buah lagu, dua-duanya karya Ludwig van Beethoven, komposer dan pianis Jerman. Lagu pertamanya adalah Alegro in G, dan yang kedua adalah  Fur Elise. Selain itu ia juga melakukan performance gabungan bersama seorang guru. Saya sangat senang melihat penampilan anak-anak saya. Rasanya tidak sia-sia mendorongnya untuk belajar.

Jadi teringat kembali masa-masa dimana ia baru saja mencoba menggunakan alat musiknya yang saya belikan untuk pertama kali dengan suara yang belepotan dan amburadul. Ngak ngik ngok. Tak terasa sekarang mereka telah mulai besar dan mulai lebih terlatih…

belajar musik

Mengapa bagi saya musik menjadi sedemikian pentingnya untuk anak-anak?

Musik  yang bagus memberikan keteduhan jiwa bagi siapapun pendengarnya. Mendorong anak-anak untuk mendengarkan musik atau bermain musik, sama dengan mendorongnya menuju ke keteduhan jiwa dan mental yang damai.

Belajar musik juga memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dengan lebih mudah akan pentingnya harmony dalam setiap langkah kehidupannya. Anak-anak akan menjadi lebih peka bahwa untuk membuat dirinya harmony, ia harus mengatur beberapa hal dengan baik secara internal, dan sekaligus bisa paham bahwa ia pun perlu menyelaraskan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Musik juga membantu anak dalam mengasah “rasa”. Mengatur tempo,tekanan dan nada. Dan juga menjadi obat mujarab untuk mengobati kebosanan.

Yuk kita dorong anak-anak untuk belajar bermain musik – apapun jenisnya!.

 

Menjahit Boneka Mini.

Standard

Pulang kantor, anak saya yang kecil sudah menunggu depan pintu. “Mama, aku ada tugas sekolah bikin boneka” kata anak saya. Ha? Bikin boneka? Sejenak agak terkejut. Bukannya itu urusan anak perempuan ya?  “Memang ada tugas jahit menjahit dari Pak Guru”  jelas anak saya. Saya tertawa akan pikiran konvensional saya. Memang kenapa kalau anak lelaki menjahit? Bukankah banyak perancang busana yang terbaik justru para lelaki? Serupa dengan memasak. Memasak adalah pekerjaan yang dikonotasikan dengan urusan perempuan. Tapi bukankah banyak chef terbaik dunia justru adalah laki-laki? “Lalu siapa yang men-drive pikiranmu, mengapa anak laki-laki tidak boleh menjahit atau memasak?” tanya saya kepada diri saya sendiri.

Sambil masih menahan tawa atas kebodohan saya,  lalu saya bertanya “Perlu bantuan apa dari mama?”. Anak saya berkata kalau saya perlu mengajarinya cara menjahit dan memberi contoh. Besok ia akan membuat sendiri bonekanya di sekolah sesuai dengan apa yang saya contohkan. Besok?. Waduuuh!. Sudah nyaris jam sepuluh malam.

Saya memeras otak sebentar.  Boneka apa yang bisa dibuat dalam waktu kira-kira sejam. Anak saya buru-buru mengambil felt, gunting, benang dan pernak pernik.”Aku pengen diajarin cara menjahit boneka kecil-kecil yang dulu sering mama bikinkan buat aku” katanya. Oh ya.. saya jadi teringat boneka-boneka mini buatan saya di jaman dulu. “Maunya boneka apa?” tanya saya. “Kelelawar atau anjing, atau ikan paus” katanya. Ok. Saya menyetujui untuk membuat contoh kelelawar, karena paling gampang. Bisa cepat.

KelelawarSaya mengambil kertas buffalo. Mengingat-ingat bentuk kelelawar sebentar, menggambar sketsa kelelawar, lalu menterjemahkannya ke dalam pola di kertas buffalo. Kelihatannya sudah masuk akal,  lalu saya menggunting pola itu pelan-pelan, dan menempelkannya di  kain felt dan mengguntingnya. Berikutnya saya mulai mengajarkan anak saya menjahit.

Untuk menjahit kita bisa menggunakan berbagai macam jenis stitch. Ada yang namanya stitch lurus, stitch rantai, stitch penuh, stitch kali, stitch feston, stitch batang, stitch bulu, dsb. Tapi kali ini saya hanya mengajarkan anak saya dua jenis stitch saja. Yakni stitch feston, untuk  menjahit pinggiran/gabungan kain felt- seperti misalnya sayap kelelawar, telinga kelelawar dsb. Lalu menjahit dengan menggunakan stitch lurus pada saat harus menggabungkan sayap kelelawar dengan badannya.   Anak saya memperhatikan dengan baik sambil sesekali mencoba melanjutkan menjahit sendiri. Saya melihat dengan awas. Hati-hati! jangan sampai jari tertusuk jarum. Tidak sampai sejam saya sudah menyelesaikan boneka kelelawar yang sesuai dengan keinginannya. Sayapnya terbentang – cukup dua dimensi saja. Hanya badannya saya sumpal sedikit bagian tengahnya dengan kapas agar lebih berisi. Anak saya tampak happy dengan apa yang sudah saya contohkan.

Lalu saya melanjutkan menggambar design untuk Paus Pembunuh, tapi mungkin karena sudah terlalu malam, anak saya tertidur. Sayapun merapikan posisi tidurnya,  menyelimuti tubuhnya dan membereskan sisa sisa kertas dan kain bekas guntingan yang tercecer.

Kelelawar 1Esok paginya ia pamit berangkat sekolah. Saya bertanya untuk memastikan, apakah ia masih ingat pelajaran menjahit dari saya.  Ia menjawab masih ingat dan pasti bisa membuatnya. Saya tersenyum dan berdoa semoga ia memang bisa.

Pulang kerja, anak saya menunjukkan hasil pekerjaannya di sekolah. Ohh…seekor kelelawar coklat dengan sayap berwarna hitam. Lebih menarik ketimbang  menggunakan satu warna saja. Warnanya kelihatan lebih masuk akal dari kelelawar buatan saya yang berwarna jingga. Bukankah warna kelelawar memang coklat kehitaman? Ah ya… anak memang harus minimal satu step lebih kreatif dibanding orang tuanya.

Barangkali diajarin Gurunya, iapun menempelkan mata boneka di wajahnya. Hi lucu juga bisa bergerak-gerak. Saya memuji hasil pekerjaannya.  Tapi ia tidak terlalu puas dengan hasilnya. Menurutnya jahitannya kurang rapi. “Tidak serapi jahitan mama” katanya. Ia juga mengeluh bahwa ada bekas lem UHU yang mengering di dekat mata kelelawarnya, karena ia sempat salah meletakkan mata dan mengangkatnya serta meletakkannya kembali di tempat yang sedikit berbeda. “Bekas lemnya jadi jelek” katanya. Saya menghiburnya. Saya pikir jahitannya cukup rapi, mengingat bahwa ia baru pertama kali menjahit. Dan ia bisa membuat lebih rapi lagi untuk berikutnya.

Paus PembunuhLalu saya menemaninya membuat boneka yang ke dua. Boneka Ikan Paus Pembunuh, alias Orca – the Killer Whale.  Lagi-lagi ia ingin membuatnya dalam dua warna. Biru dan putih. Ya. Saya pikir warna putih pada Paus Pembunuh itu adalah ciri khasnya.

Untuk membuat bonekanya menjadi lebih 3 dimensi, anak saya menyumpalkan kapas ke dalam perutnya. Lalu dijahit tutup. Nah…jadi deh. Kelihatan dengan jelas bentuk ikannya. Panjang ikan itu,  baik hanya badannya saja, maupun dengan ujung sirip ekornya. Juga bisa dilihat tinggi ikan itu, beserta ujung sirip punggungnya. Dan  tentu saja kelebaran tubuhnya, beserta sirip dadanya.

Lama-lama setelah saya pikir, saya senang dengan keputusan gurunya mengajak anak didiknya  membuat boneka.  Awalnya memang saya kurang antusias dengan tugas sekolahnya itu. Karena ya itu tadi..anak laki-laki kan nggak perlu pintar menjahit (walaupun pikiran saya itu ternyata salah). Tapi sekarang saya berpikir, menjahit boneka selain meningkatkan kreatifitas anak, juga melatih kemampuan anak untuk melihat dan berpikir 3 dimensi.  Dan itu sangat penting bagi perkembangannya. Satu step pemikiran, sebelum ia mampu meningkatkan kemampuan berpikirnya ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi.

 

 

 

Melepas Anak Bermain Ice Skating.

Standard

Ice Skating.Sudah sejak lama anak-anak menyampaikan keinginannya untuk bermain Ice Skating kepada saya.  Karena dua hal, saya belum bisa memenuhinya. Pertama, karena saya sendiri tidak bisa bermain Ice Skate, sehingga tidak bisa menemani. Dan yang ke dua, saat liburan sekolah begini, saya masih cukup sibuk di kantor, sehingga belum  punya waktu untuk menemani mereka. Namun anak-anak  tidak kehilangan akalnya. Merasa cita-citanya tidak kesampaian ditemani bermain Ice Skating oleh saya, mereka rupanya menitipkan diri pada seorang tetangga yang kebetulan anaknya yang bernama Matthew  adalah sahabat karib mereka. Mamanya  Matt meninggalkan pesan di telpon genggam saya, bahwa mereka sedang bermain Ice Skating di Bintaro X-change. Sepulangnya   mereka berceloteh betapa menyenangkannya bermain Skate di atas lapangan yang berlapis es.

Beruntungnya punya tetangga yang juga sekaligus ibu dari teman-teman bermainnya anak-anak. Jika sibuk, jadi kami bisa bergantian menemani anak-anak melakukan aktifitasnya. Karena minggu kemarin saya kebetulan di rumah, dan anak-anak  minta bermain Ice Skating lagi, tentu  kali ini giliran saya untuk menemani mereka. Yang bermain ada empat orang anak.

Tiba di Bintaro X-change pukul dua siang. Anak-anak memesan ticket yang harganya sedikit lebih mahal karena weekend. Ticketnya seharga Rp 70 000/orang pada saat weekend. Dan saya mengingatkan agar anak-anak juga mengenakan glove agar tidak kedinginan saat berada di ruangan es dan menyewa sebuah locker untuk menyimpan barang bawaannya.

Lapangan terlihat sangat penuh. Maklum musim liburan sekolah. Katanya Ice Skating ring yang ada di dekat rumah ini adalah Ice skating yang terbaik dan terluas di Indonesia. Saya tidak tahu kebenarannya. Namun bisa jadi sih. Rasanya lapangan es yang saya lihat di Malaysia, agak lebih kecil dari yang ini.

Saat akan masuk, petugas menginformasikan bahwa setengah jam  lagi  akan dilakukan pelapisan es. Proses pelapisan es akan memakan waktu setengah jam sendiri. Ia menyarankan agar anak-anak masuk sekitar jam tiga saja.  Saya melongokkan kepala saya ke lapangan es dan memang lapangan itu mulai kelihatan mencair. Saya setuju dan menjelaskan keadaan itu pada anak-anak. Merekapun setuju untuk menunda masuk, lalu mengisi waktu dengan bermain games di  counter Hawaii. Saya memutuskan untuk duduk di Food Exchange satu lantai di atas Ice Skating ring itu dan melihat proses pelapisan es dilakukan oleh petugas.

Pukul tiga sore, anak-anak turun ke ring. Ke dua anak saya kelihatan belum bisa bermain dengan baik. Namun atas bantuan Matt yang kelihatan lebih percaya diri dan lebih jago, perlahan-lahan yang kecil  mulai bisa bergerak sedikit ke tengah. Mulai melepaskan pegangannya di tepi ring.

Ia mulai berjalan pelan-pelan. Sempat terjatuh sekali, lalu bangkit lagi. Kelihatan tidak patah semangat sama sekali. Berdiri dan mencoba bergerak lagi. Kali ini lebih stabil. Ia melepaskan tangannya sama sekali dari ring dan berjalan ke tengah dituntun Matt. Saya melihat betapa tinggi tingkat kesabaran  si Matt dalam menuntun dia agar bisa lepas berjalan sendiri di tengah-tengah lapangan es. Beberapa saat kemudian ia sudah mulai bisa bergerak sendiri, meluncur dan melakukan aktifitas seperti halnya orang-orang lain di lapangan es itu. Ah, big thanks to Matt!. Ketika anak saya mulai bergerak sendiri,Matt tetap mengikuti dengan pandangannya dan sesekali mendekat untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Sehingga ia sendiri mengorbankan waktunya sendiri untuk bersenang-senang demi memastikan sahabatnya bisa meluncur sendiri.  Hanya setelah lebih dari dua jam dan anak saya memutuskan untuk berhenti bermain,barulah Matt kelihatan  meluncur sendiri  dengan kecepatan yang tinggi,menikmati permainannya sendiri dan enjoy life!.  Saya terharu melihat persahanatan luar biasa yang ditawarkan Matt kepada Aldo, anak saya.

Anak saya yang gede kelihaannya tidak mengalami kemajuan sebaik adiknya. Kerjanya hanya nempel dan berpegangan di pinggir ring saja. Namun demikian ketika saya tanya apakah ia ketakutan, putus asa atau masih tertarik untuk bermain Ice Skating? Iia mengatakan ia bahwa ia masih tetap ingin mencoba. Melihat itu semua saya berpikir lain kali saya  akan mencarikan coach yang benar untuk mengajarkan anak saya agar bisa bermain Ice Skating dengan baik dan benar.

Pelajaran yang saya ambil dalam menemani anak bermain Ice Skating ini antara lain:

1/.  Karena lapangan es cukup licin, dibutuhkan keberanian dan kesiapan mental untuk jatuh, dan kesediaan untuk bangun kembali. Dorong anak yang memang tertarik dan memiliki minat besar untuk bermain Ice Skating. Jika anak mengatakan takut untuk mencoba sejak awal, sebaiknya jangan dipaksa. Omong-omong, bermain Ice Skating ini juga cukup bagus untuk keberanian dan melatih mental siap jatuh bangun dari anak.

2/.  Anak yang belum sukses pada hari pertama, bukan berarti tidak akan sukses di kali berikutnya. Jika ia menyatakan tetap berminat, perlu dibantu oleh orang yang sudah lebih pengalaman dan berani. Atau jika tidak ada, mencarikannya seorang coach bisa jadi merupakan hal yang tepat.

3/ Sahabat merupakan orang yang tepat bagi anak untuk diajak bersama bermain.Mereka bisa saling mendukung dan saling menyemangati.

4/. Pastikan anak-anak berpakaian dengan cukup baik agar tidak mudah kedinginan. Sarung tangan dan kaus kaki bisa disewa, tapi jika sering bermain,  lebih baik bawa sendiri dari rumah.  Cegah anak bermain Ice Skating dalam keadaan flu. Karena dingin es akan menambah beban pada hidungnya.

Dan pelajaran terakhir yang sangat menyentuh hati saya kali ini adalah tentang persahabatan yang tulus pada anak-anak – dimana saya bisa melihat sebuah bentuk kebersamaan dan dukungan penuh terhadap sahabat yang berada diatas kepentingan sendiri yang ditunjukkan oleh Matt kepada saya. Sekali lagi, thanks to Matt for the inspiration!.

 

Tentang Kejujuran Uang Receh.

Standard

pink-lotus2Kemarin pagi, sambil jalan ke kantor saya sempat mampir di sebuah minimarket  untuk mengambil sedikit sisa uang buat belanja dapur hingga akhir bulan. Seusai mengambil uang, saya sekalian membeli 2 botol minuman Vitamin C  dan sekaleng teh bunga Chrysant. Karena takut kesiangan, saya terburu-buru membayar ke kasir.  Total harganya Rp 16 100. Saya merogoh sejumlah uang dari dompet dan mengangsurkannya kepada kasir.

Ketika menghitung uang yang saya bayarkan kepadanya,  saya melihat perubahan pada wajah dan mata kasir itu. Ia terlihat seperti kaget. Sejenak kasir itu tampak terdiam dan berhenti bergerak. Matanya tertuju pada uang saya yang sekarang ada ditangannya. Perubahan ekspresinya itu membuat saya jadi penasaran dan ikut melihat ke arah uang di tangan mas kasir itu. Ooh.. rupanya saya kelebihan membayar!. Ada empat uang lima ribuan,selembar uang ribuan dan sekeping logam ratusan.. Semuanya ada Rp 21 100. Jadi kelebihan lima ribu rupiah.  Itu rupanya yang membuat si mas kasir tertegun dan berubah ekspresinya.

Salah membayar !. Beberapa kali saya melihat kejadian salah membayar terjadi pada pelanggan Supermarket lain juga. Kelebihan atau kekurangan. Umumnya kasir akan menegur jika uang kita kurang, atau mengembalikan jika uang kita lebih. Karena cukup seringnya melihat kejadian seperti itu, sayapun hanya menunggu saja. Saya pikir ia akan segera mengatakan bahwa uang saya kelebihan Rp 5 000 dan akan segera mengembalikannya kepada saya. Tapi ternyata, alih-alih mengembalikan kelebihannya, si mas kasir itu malah memasukkan semua uang itu ke laci mesin kasir, memberi struk belanjaan kepada saya dan berkata ” Uangnya pas ya, Bu?”.

“Hah?! Bukannya uang saya tadi kelebihan lima ribu ya?” tanya saya spontan.  Mendengar pertanyaan saya, kasir itu berkata “O ya, benar Bu” lalu ia mengembalikan uang saya yang lima ribu rupiah itu. Wajahnya tampak memerah. Terlihat agak malu.

Sambil berjalan keluar dan masuk ke kendaraan saya jadi memikirkan kelakukan kasir itu. Mungkin ada yang berkata, hadeh..duit lima ribu saja kok dipermasalahkan. Bagi saya masalahnya bukan soal nominalnya yang lima ribu rupiah itu- karena uang bisa saya cari dengan baik selama saya masih mampu bekerja. Dan terus terang saya juga bukan orang yang mengutamakan uang dalam hidup saya. Tapi saya menyorot soal kejujurannya dalam hal keuangan. Kok bisa ya? Saya sungguh terperanjat akan kelakuan mas kasir itu.  Sama sekali tidak menyangka kalau ia akan melakukan perbuatan tidak jujur seperti itu. Sangat sayang!

Malam hari menjelang tidur, saya sengaja menceritakan hal ini kepada anak saya agar ia mendapatkan gambaran, betapa nilai kejujuran sangat penting bagi saya dan keluarga. Anak saya yang mendengar cerita saya tentang itu mencoba menetralisir, “Barangkali ia tidak nyadar kalau uangnya Mama kelebihan, Ma!“. katanya.

Itu sesuatu yang tidak mungkin. Karena mama melihat sendiri bagaimana ekspresi wajahnya saat menerima uang itu. Dan ia melihat ke uang itu cukup lama sebelum memasukkannya ke laci. Jadi ia sangat sadar kalau uangnya sebenarnya lebih. Dan ia juga mengatakan itu, kok” kata saya.

Lalu saya meneruskan,  bahwa kejujuran itu harus dibangun dari hal-hal kecil. Dipupuk dari uang receh seratus rupiah.  Jika kita terbiasa dengan sikap jujur terhadap uang receh, maka kita akan terbiasa berbuat jujur dalam keuangan. Satu rupiahpun jika memang bukan milik kita, jangan pernah diambil. Kembalikan kepada yang berhak.

Sebaliknya jika kita membiarkan diri tidak jujur dengan uang receh ini, mengabaikannya, maka lama-lama kita akan terbiasa mengambil hak yang bukan menjadi hak kita. Dari uang seratus yang kita pikir tidak ada artinya, kita ambil,  lalu berikutnya menjadi seribu yang berani kita ambil, selanjutnya menjadi lima ribu, menjadi seputuh ribu, lalu seratus ribu, sejuta, puluhan juta, ratusan juta bahkan semilyar…jadilah kita koruptor. Mengambil uang yang bukan menjadi hak milik kita. “Jika kita tidak mendisiplinkan diri untuk jujur dengan uang receh,  maka ketidak jujuran mungkin kita lakukan dalam jumlah yang lebih besar di kemudian hari” kata saya kepada anak saya.

Tapi aku kan selalu mengembalikan sisa uang kalau mama suruh belanja. Aku tidak pernah mengambil satupun ” kata anak saya. Saya membenarkan, anak saya memang selalu mengembalikan uang receh sisa belanja utuh -utuh.  Tak pernah diambil sekepingpun. Lalu saya menjelaskan kepadanya,  mengapa saya menceritakan kejadian ini kepadanya, bukan untuk menuduhnya atau mencurigainya melakukan ketidak-jujuran, tetapi  hanya untuk mengingatkan saja, bahwa betapa pentingnya nilai kejujuran bagi saya dan keluarga.

Anak saya hanya terdiam lalu mencium pipi saya dan menarik selimutnya lebih ke atas. “Selamat tidur, mama..” katanya. Ia memejamkan matanya. Sambil mengusap-usap punggungnya, saya menunggunya tertidur pulas. Berharap ia akan selalu mengenang percakapan kami dan membawa nilai-nilai kejujuran selalu dalam aliran darahnya di seluruh kehidupannya ke depan.

 

 

Aku, Anakku Dan Pentas Seni Sekolah.

Standard
Undangan untuk menghadiri Pentas Seni dari sekolah anak saya.

Undangan untuk menghadiri Pentas Seni dari sekolah anak saya.

Kalau ada hari tersedih yang pernah saya alami dalam hidup saya, salah satunya itu adalah hari kemarin.

Ceritanya dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Anak saya yang kecil memberi informasi bahwa sekolahnya akan menyelenggarakan sebuah Pentas Seni tahunan. Tapi kali ini akan sangat kolosal dan diadakan di Taman Mini Indonesia Indah. Bukan di sekolah. Mereka akan mementaskan Pinocchio!. Karena selama ini saya jarang bisa  menghadiri acara Pentas Seni sekolahnya dan jarang menontonnya beraksi di panggung, ia memohon kepada saya  agar kali ini saya mengambil cuti. Tentu maksudnya agar saya bisa menyaksikannya bermain di panggung. “Sekali ini saja, MaMama tidak boleh kerja di luar kota atau di luar negeri pas tanggal itu. Kalau disuruh kantornya, bilang nggak mau!“. Kata anak saya wanti-wanti.

Mendengar permintaannya itu saya merasa sangat trenyuh. Benar apa yang ia katakan. Selama ini saya terlalu sibuk. Sehingga jarang bisa menyaksikannya tampil di panggung. Aneh juga. Selalu ada saja kesibukan di kantor yang membuat saya tidak bisa hadir di sekolah setiap kali anak saya pentas. Sehingga kadang-kadang anak saya membanding-bandingkan saya dengan mama teman-temannya. “Mamanya orang-orang, selalu datang ke sekolah. Tapi mamaku sangat jarang”.  Katanya sedih. Memikirkan itu sayapun membulatkan tekad untuk mengambil cuti tanggal 28 Mei, kemarin. Boss saya sudah setuju dan sudah menandatangai ijin cuti saya. Itu beberapa bulan yang lalu.

*****

Ini cerita kemarin…

Minggu yang lalu boss saya mengatakan bahwa ia akan cuti dan pulang ke negaranya. Dan  tentunya meminta saya stand by di tempat selama beliau tidak ngantor. Dan seperti biasanya untuk urusan yang urgent dan butuh decision yang cepat saya harus konsultasi dengan bossnya boss saya yang berkedudukan di negara tetangga.  Oke. Tidak ada masalah.

Namun kemarin, saya diingatkan kembali akan janji menonton PenSi sekolah anak saya. Saya harus mengambil cuti hari ini. Toh juga ijin cuti saya sudah ditandatangani jauh hari sebelumnya. Jadi apa masalahnya? Saya berhak dong untuk tidak datang ke kantor?.

Tapi masalahnya ada banyak pekerjaan yang harus saya bereskan hari ini. Ada beberapa issue yang harus saya close case-nya hari ini.  Belum lagi ada beberapa brief dan proposal yang kena deadline hari ini.Waduuh! Sebenarnya urusannya jadi agak ribet ini.

Akhirnya setelah cross check kembali,  ternyata di undangan ada informasi bahwa PenSi akan berlangsung dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Ooh.. walaupun anak saya berangkat ke TMII pukul 9 pagi untuk gladi resik dulu, berarti  sebenarnya saya bisa berangkat sekitar jam 2-3 siang, agar bisa mencapai TMII sebelum jam 5 sore. Sebenarnya saya masih bisa ngantor dulu paginya, lalu nanti menyusul ke TMII langsung dari kantor. Rasanya tidak enak kalau saya memaksakan diri  mengambil cuti, sementara pekerjaan banyak  dan semuanya urgent. Dan boss lagi nggak ada pula.  Saya tidak mau juga memanfaatkan kesempatan tidak bekerja saat si boss tidak ada. Mungkin cutinya bisa saya switch ke hari lain.

Akhirnya aya memutuskan untuk ke kantor saja dulu paginya. Saya akan mengambil cuti setengah hari saja. Lalu saya akan pulang  selepas makan siang – kurang lebih jam 1 siang. Jadi masih keburu bagi saya untuk berangkat ke TMII dan menyaksikan anak saya manggung. Sayapun bekerja dengan anteng hingga pukul 12 siang, membereskan apa yang perlu saya bereskan.

Menjelang makan siang, saya teringat  bahwa hari ini anak-anak Management Trainee berada terakhir department saya dan saya terpikir mengajak mereka untuk makan siang terakhir bersama saya.  Kalau begitu, mungkin saya pulang agak  mundur sedikitlah. Pukul 2 siang masih terkejar.

Pukul 2 siang saya mau pergi, satu dua orang masuk ke ruangan saya “Bu, sebentar saja Bu. Ini saya perlu keputusan ibu..bla bla bla..” Mau tidak mau saya harus meladeninya. Okelah, saya mundur lagi pulangnya ke pukul 3 sore. Mungkin masih terkejar. Walaupun mepet.

Bersiap berangkat, lalu tiba-tiba bossnya boss saya yang berada di negara tetangga  meninggalkan pesan untuk mengajak skype call jam 4 sore. Penting dan urgent!.  Saya tidak bisa menolak. Karena memang itu urgent dan important dan merupakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab utama saya.   Lah ?! Akhirnya bubarlah semuanya!.

Suami saya mengatakan bahwa ia akan berangkat duluan saja kalau begitu. Ia tidak bisa menunggu saya lebih lama lagi.  Dan ia meninggalkan surat undangan dari sekolah untuk saya di atas meja piano.   Saya berusaha menghibur diri saya. Skype call barangkali hanya setengah – satu jam. Bilanglah saya berangkat dari kantor jam 5 sore. Perjalanan 1 jam ke sana, karena melawan arus. Mungkin saya bisa tiba di TMII pukul 6 sore. Telat se-jam mungkin nggak apa-apa.Anak saya memegang 2 peranan. Satu di depan dan satu di bagian akhir. Se-apes-apesnya tentu saya masih bisa melihat bagian belakangnya.

Perasaan saya menjadi galau. Karena ternyata, saya baru bisa keluar ruang meeting pukul setengah enam sore. Sedih!

Bergegas pergi, saya lalu mampir ke rumah dulu untuk mengambil undangan. Jika tidak tentu saya tidak akan diijinkan masuk ke Sasono Langen Budoyo. Jalanan ternyata sangat macet, tiba di rumah sudah pukul 7 malam.

Sopir bertanya apakah saya masih akan tetap mencoba ke Taman Mini?.  Ya!.  Saya kepalang janji kepada anak saya. Jadi saya harus pergi, walaupun kesempatan melihatnya di panggung sangatlah kecil. Saya masih berkeras  datang. Tol Bintaro kelihatan lancar, namun selepas tol Pondok Indah tiba-tiba semuanya mandek  dan merayap. Akhirnya ketika saya sampai di wilayah Pasar Minggu, suami saya mengirim pesan bahwa pementasan telah usai.

Saya tak mampu menahan kesedihan hati saya. Airmata saya mengalir. Sejenak rasa kesal, marah,sedih, nggak enak semuanya berkecamuk di kepala saya.  Apa yang harus saya katakan kepada anak saya? Ini benar-benar sebuah ketololan dan keteledoran fatal yang saya lakukan sehingga merusak janji penting pada anak saya.  Saya sangat menyesal. Mengapa saya tidak berusaha memaksakan diri tadi pagi untuk tetap mengambil cuti saja? Bukankah tidak setiap hari saya minta cuti?  Selain itu toh ijin cuti sebenarnya sudah saya kantongi? Dan toh juga kantor tidak pernah memaksa saya harus bekerja dan tidak mengambil cuti?  Mengapa saya sok merasa memiliki tanggungjawab tinggi terhadap pekerjaan jika pada akhirnya hanya menghancurkan harapan anak saya yang sudah ia kumpulkan sejak bertahun-tahun agar suatu kali bisa pentas di atas panggung ditonton oleh ibunya? Aduuh..saya sudah menghancurkan semuanya. Kebahagiaan saya dan kebahagiaan anak saya.

Saya tidak bisa berhenti meneteskan air mata saya. Dalam pikiran yang kusut masai, saya tidak bisa memfokuskan perhatian di jalan raya. Karena tidak fokus, salahlah saya memberikan arahan pada sopir dalam mengambil belokan dari tol menuju ke TMII. Harusnya masuk ke Taman Mini melalui belokan ke 3, persis setelah jembatan, sopir malah mengambil belokan ke dua yang mengarah ke Tol Jagorawi. Hadeh! Akhirnya terpaksa saya harus menyusuri jalan tol ke Bogor itu hingga ke Cibubur dan berusaha mencari pintu keluar agar bisa balik ke Jakarta. Hari sudah gelap. Saya tersesat di Cibubur!.

*****

Anak saya mengirim pesan. Mencoba menghibur saya.  Dia benar-benar seseorang yang memiliki big heart. Airmata saya mengambang membacanya. Membuat tulisan di BB menjadi kabur. Rasanya nyesel dan nyesek!.

Saya tahu bahwa saya harus mengulang kembali pelajaran saya tentang bagaimana menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan kehidupan keluarga dengan lebih baik.

Back to square one!.

 

 

Menyikapi Perkelahian Anak II: Peran Seorang Kakak.

Standard

Kakak AdikMelanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang Menyikapi Perkelahian Anak I, sebelumnya saya mengatakan bahwa reaksi yang muncul akibat perkelahian anak saya ini tentu berbeda dari saya sebagai ibunya  dengan reaksi bapaknya.   Seorang Ibu secara otomatis akan meletakkan fokus pada penderitaan anaknya, lalu memastikan apakah kesalahan tidak dilakukan oleh anaknya atau tidak. Sedangkan seorang Bapak akan otomatis mencari tahu penyebabnya lalu beralih ke soal membangun harga diri dan kepercayaan diri anaknya.

Reaksi Seorang Bapak.

Reaksi pertama  saya adalah  “Bagian mana yang dipukul? Sakit tidak? Parah tidak?”…lalu… “Mengapa dipukul? Apakah melakukan kesalahan?” .

Tapi reaksi pertama dari bapaknya : “Mengapa dipukul? Mengapa tidak pukul balik saja? Mengapa kakak tidak belain adik? .

Mendapat pertanyaan dari bapaknya, anak saya yang kecil tidak bisa menjawab dengan baik. Ia menangis sesenggukan merasa tidak berdaya.. Ia hanya menjelaskan bahwa temannya itu emosian dan mau menang sendiri. Tidak mau dibalas berhore-hore, padahal ia juga melakukan itu sebelumnya. Bahkan lebih parah, pakai acara mengejek-ejek segala.

Namun anak saya yang besar menjawab pertanyaan Bapaknya dengan tenang dan jelas. Mengapa ia tidak membela adiknya, padahal ia ada di sana saat kejadian sedang berlangsung? Bahwa suasananya sudah sangat panas. Dan ia tidak mau membuat suasana tambah panas lagi dengan membela adiknya begitu saja. Walaupun menurutnya ia tahu bahwa dalam kejadian ini, adiknya bukan dipihak yang salah. “Anak itu memang sangat emosional. Sudah sering begitu. Kalau aku ikut panas, suasananya akan jadi sangat panas , Pa. Bisa meledak nanti. Kan malu sama papa mama dan oma-nya. Juga sama tetangga yang lain.  Jadi harus ada orang yang tenang dan melerai. Makanya aku tidak mau ikut terbawa emosi dan marah di situ. Apalagi mukul. Aku nggak mau . Aku hanya kasih peringatan dia bahwa itu jangan lagi dilakukan. ” katanya menjelaskan. Ia bahkan melarang adiknya memukul kembali dan mengajaknya pulang.  Bapaknya kelihatan puas dengan jawaban anaknya. Lalu ia keluar dan tidak memperpanjang pertanyaannya lagi.

Anak saya yang besar lalu melanjutkan ceritanya ke saya “Orang emosian seperti itu, tidak bisa dibalas dengan emosi dong , Ma!“.  Ia menceritakan beberapa contoh kasus berhubungan dengan teman-temannya yang memiliki beragam kepribadian, termasuk diantaranya ada juga yang suka emosian. Dan bagaimana caranya ia mengatasi itu dan keluar dengan baik-baik saja.  Entah kenapa tiba-tiba saya melihat anak saya tumbuh dewasa begitu cepat. Pemikiran dan emosinya jauh lebih dewasa dari umurnya.

Saya sangat menyetujui pendapatnya. Masalahnya adalah bukan bagaimana caranya membalas dan merasa impas hanya dengan berhasil memukul kembali atau balas menyemprotkan kemarahan, namun lebih kepada bagaimana cara kita menghadapi teman-teman yang memiliki emosi beragam dan kita tetap bisa menguasai situasi dengan baik.  Tetap tenang dan mengendalikan emosi. Apa yang kelihatannya mengalah, sebenarnya tidak selalu berarti kalah.

Saya setuju. Setuju banget dengan pendapat anak saya itu. Menurut saya, ia telah melakukan sikap yang tepat menghadapi situasi itu.  Kasihan juga ia mendapat teguran dari bapaknya. Seorang kakak harus bisa menjaga adiknya dengan baik. Tentu saja, karena standarnya dimana-mana begitu ya.

…saya jadi teringat kepada kakak kandung saya. Dulu, waktu saya kecil, saya juga sangat bandel. Suka bermain ke sana kemari, lari, ke sungai, ke jurang,  bersepeda ke sana kemari,  memanjat pohon hingga pernah nyungsang, nyaris kecelakaan, kaki nyangkut di cabang pohon, sementara kepala menggelantung ke bawah, suka melanggar peraturan yang dibuat orang tua kami. Tapi beberapa kali ketika saya melakukan kebandelan dan nyaris celaka, bukan hanya saya saja yang dimarah oleh bapak saya, tapi juga kakak saya. kakak saya ditegur karena dianggap tidak becus menjaga adik saat ditinggal orang tua. Sehingga pernah suatu kali kakak saya berkata “ Mengapa ya, yang nakal itu kamu, kok  aku juga ikut dimarahin” ya.. benar sih. Kakak saya sangat tertib, rapi dan tidak pernah bandel. Seharusnya ia memang tidak ikut dimarahin atas kebandelan yang saya perbuat. Saya tidak tahu jawabannya….Yah, barangkali itulah swadharma-nya menjadi seorang kakak…

Mungkin begitu juga beban yang ditanggung oleh anak saya yang besar ini. Karena menjadi seorang kakak, dengan sendirinya ia menerima ekspektasi agar bersikap sebagai pelindung dan penjaga adiknya.  Saya melihat bahwa anak saya yang besar telah membuktikan bahwa seorang kakak, bukan semata harus menjaga adiknya secara fisik, namun juga menyelamatkannya secara emosional. Ia mengambil alih situasi dan membimbing adiknya bagaimana harus menguasai diri, agar bisa menguasai situasi dengan lebih baik lagi ke depannya. Saya tahu, dengan posturnya yang bongsor, tinggi besar, tentu akan mudah bagi anak saya untuk memukul anak yang badannya lebih kecil. Tapi toh ia tidak mau melakukannya. Ia mengutamakan hubungan ke depannya, dengan menasihati adiknya bagaimana seharusnya lain kali menguasai situasi seperti itu.

Saya keluar kamar dan duduk di sebelah suami saya yang sedang membaca di kursi. “Anaknya ternyata sudah dewasa pemikirannya ya” kata suami saya berkomentar. Saya mengiyakan sambil tetap berpikir, kekerasan pada anak adalah satu hal yang memang patut dijadikan perhatian oleh para orang tua.  Kita sebagai orang tua sebaiknya selalu memantau tindak tanduk anak-anak kita dan memberikan teguran, jika melakukan hal yang sebaiknya jangan dilakukan oleh anak.Apalagi jika anak melakukan tindak kekerasan dengan memukul anak yang lain. Idealnya barangkali saya perlu berbicara dengan orang tua dari anak itu, namun karena anak saya menjelaskan bahwa orang tuanya sudah tahu kejadian itu, sudah tahu bahwa anak itulah yang salah dan sudah menegurnya juga atas kejadian itu, maka saya memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi masalah ini.

Yah..kembali lagi. Namanya anak-anak. Bermain dan berantem adalah bagian dari hidup. Besok juga baik kembali…

Menyikapi Perkelahian Anak I: Tentang Kaya Dan Miskin.

Standard

Kakak-AdikSabtu sore. Saya tertidur. Lelah juga. Suara anak-anak yang  berbisik-bisik namun saling berargumentasi, membuat saya terbangun. Diantaranya terselip kata-kata bahwa anak saya yang kecil dipukul oleh teman bermainnya. Tentu saja saya terhenyak kaget. Akibatnya suami saya pun jadi ikut masuk ke kamar dan  mencari tahu ada apa.

Reaksi pertama yang muncul ke permukaan dari seorang ibu tentu “Bagian mana yang dipukul? Sakit tidak? Parah tidak?”…lalu… “Mengapa dipukul? Apakah melakukan kesalahan?” .  Dan reaksi pertama dari bapaknya tentu saja: “Mengapa dipukul? Mengapa tidak pukul balik saja? Mengapa kakak tidak belain adik? .   Typical reaksi yang memang selalu berbeda jika dikeluarkan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Seorang Ibu secara otomatis akan meletakkan fokus pada penderitaan anaknya, lalu memastikan apakah kesalahan tidak dilakukan oleh anaknya atau tidak. Sedangkan seorang Bapak akan otomatis mencari tahu penyebabnya lalu beralih ke soal membangun harga diri dan kepercayaan diri anaknya.

Reaksi Seorang Ibu.

Anak saya yang kecil sambil sesenggukan bercerita bahwa ia dipukul teman bermainnya yang emosi karena temannya itu kalah bermain. Menurutnya, sebelumnya  ia kalah. Temannya itu berhore-hore ria  atas kemenanganya dan mengejeknya habis-habisan. Maka saat giliran menang, anak saya membalas berhore-hore ria juga, walaupun tidak pakai mengejek. Rupanya sang teman emosi dan merasa dipanas-panasin, lalu memukulnya. Ia menunjukkan lengan kanannya yang sakit. Saya memeriksanya sebentar. Kelihatannya tidak apa-apa. Tidak ada luka. Tidak ada memar atau  biru.  Sakit sedikit. Jadi saya tidak terlalu khawatir.  Dipukul dan memukul adalah hal biasa pada anak laki-laki. Sepanjang tidak cedera serius. Nanti juga mereka baikan kembali.

Sayapun menjelaskan kepada anak saya, bahwa dalam setiap permainan itu dituntut sportifitas yang tinggi. Mental yang siap untuk kalah dan menang. Kalau menang jangan sombong dan kalau kalah jangan ngambek. Apalagi memukul.

Kalau kalah sekarang,  justru harus digunakan untuk melatih diri dengan lebih baik lagi, agar lain kali bisa menang kata saya. Anak saya mengatakan bahwa ia tidak melakukan itu. Ia justru menjadi korban emosi temannya itu yang memang selalu emosian.

Kakaknya menasihati, “Aku sudah hapal,  orangnya memang sering emosian. Makanya, orang seperti itu jangan dipanas-panasin. Santai aja” nasihat kakaknya.  Menghadapi orang yang tidak sportif dan suka emosian, perlu cara yang berbeda. “Orang seperti itu justru perlu dikasihani. Bukan dibalas dan dipanas-panasin” lanjut kakaknya lagi. Anak saya yang kecil kelihatannya tidak terlalu setuju dengan pendapat kakaknya. Ia tidak setuju jika dilarang untuk membalas berhore-hore ria.  Kenapa temannya boleh berhore-hore ria dan mengejeknya, sementara ia tidak boleh? Ia juga tidak mengerti, mengapa yang salah harus dikasihani.

Akhirnya saya memeluk anak saya yang kecil yang segera  menyusupkan kepalanya ke perut saya dan sesenggukan.

Orang di dunia ini, ada yang kaya dan miskin” kata saya memulai cerita. Lalu saya mulai mengajaknya berpikir tentang orang yang kaya. Bagaimana orang kaya dalam pikirannya itu? Orang kaya banyak uangnya. Rumahnya bagus. Makanannya enak-enak. Bajunya bagus. Mobilnya mahal. Liburan ke luar negeri terus. Mainannya mahal-mahal. Hidupnya enak ya. Sangat menyenangkan jadi orang kaya. Lalu orang miskin? Tidak punya uang. Atau punya sedikit. Rumahnya kurang bagus. Atapnya bocor-bocor. Atau mungkin tidak punya rumah. Makanannya juga tidak mahal. Yang murah-murah. Atau mungkin sulit untuk bisa makan karena tidak punya uang. Bajunya jelek, tidak bisa beli yang bagus-bagus. Judulnya kasihan!. Kalau dibandingkan dengan yang kaya.

Lalu saya mengingatkan bahwa itu adalah jika kita lihat orang kaya dan miskin dari sisi uang. Dari sisi harta.

Tapi kalau kita pandang dari sisi mental, budi pekerti dan tingkah laku, juga ada orang yang kaya dan miskin lho!” kata saya. Anak saya terdiam sejenak.  Mulai mengerti ke mana arah pembicaraan saya.  Orang yang kaya secara mental dan budi pekerti, akan berusaha selalu berbuat baik. Suka menolong orang lain. Selalu berusaha mengontrol emosinya.  Tidak pemarah. Tidak suka menghina orang lain.  Sportif!. Kalau bermain, tidak terlalu menyombongkan kemenangannya dan mengejek orang lain yang kalah. Suka memaafkan orang lain yang berbuat salah padanya. Dan banyak lagi perbuatan baik lainnya. Nah itu namanya orang kaya! Banyak orang yang suka padanya. Sangat menyenangkan ya  hidupnya! Anak saya setuju.

Lalu bagaimana dengan orang yang miskin secara mental dan budi pekerti? Ia pemarah. Suka menghina dan mengejak orang lain. Mem-bully orang. Memukul.  Membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang lebih buruk lagi.   Dan sebagainya hal yang buruk lagi. Banyak orang yang tidak suka padanya. Kurang menyenangkan ya hidupnya? Kasihan ya hidupnya!.  Ia perlu dibantu dan dikasih tahuin agar sikapnya berubah.

Sekarang anak saya mulai terlihat mengerti. Jadi mudah bagi saya untuk mengatakan agar ia segera melupakan kejadian itu dan memaafkan temannya yang sudah memukulnya itu.  “Menjadi kaya secara mental dan budi pekerti itu jauh lebih penting, daripada kaya harta tapi miskin mental dan budi pekerti”, kata saya. Tapi saya tidak mau terlalu mendesaknya untuk menerima kalimat saya. Saya biarkan saja pikirannya berjalan dan bekerja sendiri untuk mencerna situasi.

Akhirnya iapun mengusap airmatanya dan terlihat riang kembali. Semoga ia benar-benar bisa memaafkan teman yang memukulnya itu.  Belajar membaca situasi dan merespon situasi dengan lebih baik. Atau bahkan bisa membantu merubah sikap temannya itu dengan caranya sendiri. Lagipula tentu saja sebagai orang tua saya tidak mau memperpanjang permasalahan. Namanya juga anak-anak. Ya memang begitulah. Sebentar bermain, sebentar berantem. Tapi nett nett – ketika mereka dewasa, mereka akan memahami indahnya persahabatan yang terjalin diantara mereka sejak kecil. Lengkap dengan suka dukanya.