Tag Archives: Pariwisata

I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

Standard
I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

The Man Behind The Gun!. Tentu istilah itu tidak asing bagi kita semua. Yap!. Orang bilang, sukses tidaknya sebuah karya, tergantung dari siapa orang yang berada di baliknya. Saya setuju sekali dengan itu, karena melihat kenyataan banyak sekali usaha yang tadinya biasa biasa saja, ketika ditangani oleh orang tertentu yang memiliki kemampuan managerial sangat tinggi, maka usaha itupun menjadi maju dan sukses.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan Bapak Ketut Mardjana saat beberapa hari yang lalu saya dan anak-anak bermain ke Toya Devasya, salah satu obyek pariwisata yang sedang naik daun di tepi danau Batur, di Bali. Pak Ketut adalah orang yang berada di balik kesuksesan tempat pariwisata Natural Hot Spring di tepi danau Batur ini.

Sebetulnya Toya Devasya sendiri sudah cukup lama berdiri. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, perkembangan pesat baru hanya terjadi 2 tahun belakangan ini saat Pak Ketut terjun langsung menanganinya sendiri, setelah beliau pensiun.

Beliau melakukan banyak sekali perombakan, memperbaiki konsep, membangun corporate culture, mempertajam cara pemasaran, memperkuat network dan terus berinovasi untuk memastikan kesuksesan Toya Devasya. Untuk saat sekarang, menurut Pak Ketut selama weekdays saja jumlah rata-rata kunjungan per hari ke Toya Devasya mencapai sekitar 500 orang, di mana setengahnya terdiri atas wisatawan domestik dan setengahnya wisatawan asing. Jika weekend atau musim liburan, kunjungan bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selama liburan menjelang akhir tahun ini, jumlah pengunjung bahkan mencapi 1500 an orang, dan pengunjung saat weekdays berkisar 500- 700 orang per hari.

Wah… lumayan banyak juga ya. Penasaran dong saya jadinya, bagaimana cara beliau mengelola usahanya ini.

Beliau dan istri menemani saya ngobrol tentang Toya Devasya sambil makan rujak pada sebuah senja yang indah di tepi danau Batur.

Toya Devasya sebagai sebuah brand.

Bagi seorang pebisnis, brand atau merk tentu merupakan aset utama yang harus ditangani dengan hati hati – bahkan namanya pun tetap harus dipikirkan dengan baik. Toya Devasya, sebagai sebuah brand pariwisata, diciptakan Pak Ketut dengan menyerap element yang membangun tempat wisata itu sendiri yakni air (Toya).

Dulu, di tempat di mana Toya Devasya sekarang berdiri, terdapat mata air suci panas yang diyakini penduduk sekitar sebagai anugerah Tuhan (Devasya) memberikan efek penyembuhan dan pengobatan berbagai penyakit bagi orang yang percaya dan memohon kesembuhan. Jadi Toya Devasya (namanya mirip bahasa Jepang – kata teman saya lho), artinya dalam bahasa Bali / Sanskerta adalah Air Anugerah Tuhan.

Saat ini pada kenyataannya, kolam renang /swimming pool dengan air panas dari mata air alami ini adalah penyumbang terbesar pemasukan tempat wisata ini. Walaupun pengunjung banyak juga yang datang untuk menikmati fasilitas lain seperti spa, villa, restaurant, camping, hiking dan sebagainya. Menurut Pak Ketut saat ini Toya Devasya telah memiliki 6 kolam renang air panas, satu diantaranya Olympic size. Dua diantaranya berada tepat di sebelah danau. Walaupun sudah ada 6, namun pengunjung tetap ramai dan Pak Ketut berencana menambahkan 2 kolam renang baru lagi. Jadi nantinya akan ada 8 kolam renang. Sebuah strategy yang sangat briliant dengan tetap berfokus pada wisata air yang merupakan “bread & butter”nya Toya Devasya.

Gajah di Toya Devasya dan Filosofinya.

Secara berseloroh saya bertanya kepada Pak Ketut, mengapa sih ada banyak gajah di mana mana di Toya Devasya?. Gajah duduk, gajah berdiri, gajah berbaring, gajah mina, dan sebagainya. Pokoknya semuanya gajah. Apakah ada alasan khusus?.

Pak Ketut tertawa waktu saya menanyakan ini. Tentu ada alasan khususnya.

Pertama, kata Pak Ketut, gajah adalah lambang dari Ganesha, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya membebaskan manusia dari segala aral yang melintang.

Alasan lain, gajah memiliki kebaikan-kebaikan yang patut ditiru oleh manusia. Contohnya?

Gajah memiliki telinga yang lebar, mengajarkan kita untuk selalu mendengarkan dengan baik, apa apa saja kebutuhan konsumen, apa keluhannya dan sebagainya sehingga kita bisa memberikan produk atau jasa yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Mulut gajah kecil, mengajarkan kita untuk tidak rakus. Mengambil seperlunya dan tetap menyisakan untuk yang lain. Gajah juga memiliki mata yang kecil dan tajam, mengajarkan kita untuk tetap fokus dan tidak ngawur. Gajah memiliki belalai yang panjang untuk menghirup air dan menyemprotkannya ke alam sekitar, mengajarkan manusia untuk hidup mencari rejeki bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga agar berguna bagi orang orang dan masyarakat sekitar. Dan perut gendut gajah adalah lambang kesuksesan dan kebesaran, pak Ketut berharap semoga Toya Devasya bisa terus berkembang dan makin besar dari tahun ke tahun. Aiiiih… keren banget penjelasannya Pak Ketut ya.

Ungu adalah lambang spiritualitas.

Terus kalau warna ungunya ada penjelasannya juga nggak, Pak?. Ya!. Rupanya segala sesuatunya memang sudah dipikirkan oleh Pak Ketut sebelumnya. Warna ungu ternyata adalah warna spiritual. Orang Bali percaya, ungu adalah warna cakra yang terletak di ubun-ubun yang merupakan lokasi tertinggi pada tubuh manusia. Dan orang-orang yang memiliki warna aura ungu diyakini memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi warna ungu dipilih oleh Pak Ketut bukan karena sebuah kebetulan.

Tempat Selfie di mana-mana.

Sebagai marketer yang peka, Pak Ketut sangat paham bahwa branding sangatlah penting. Beliau berhasil menangkap trend dan insight para netizen yang suka selfie dan mengupload foto ke media sosial. Pak Ketut memanfaatkannya untuk memperkuat branding Toya Devasya, dengan cara membangun pojok-pojok dan point point menarik untuk selfie. Dan…tentu saja super sukses!. Banyak sekali netizen yang mengupload foto selfie dengan latar belakang Toya Devasya seperti contoh foto di atas ke media sosial tanpa diminta. Jadi apa yang disebut oleh pak Ketut bahwa pasar sendirilah yang memasarkan Toya Devasya itu benar adanya. Sehingga tak heran jika sekarang Toya Devasya menjadi sangat memasyarakat. Terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ah….sungguh seorang praktisi pemegang brand yang sangat handal!. Saya jadi banyak belajar ilmu memasarkan dari beliau ini.

Corporate Culture.

Sayapun larut dalam pembicaraan yang semakin menarik tentang organisasi, networking dan pemasaran hingga tentang Corporate Culture dari Toya Devasya yaitu CINTA KASIH.

Rupanya “Cinta Kasih” adalah singkatan dari 10 hal yang dijadikan budaya untuk setiap orang di Toya Devasya.

C = Customer Focus. Karyawan dituntut agar selalu focus untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Memahami kebutuhan konsumen dan berupaya keras untuk memenuhinya.

I = Integrity. Setiap karyawan dituntut untuk mendemonstrasikan integritas yang tinggi bagi diri sendiri maupun organisasi. Jujur dan komit. Mengatakan dengan jujur apa yang dilakukan atau diketahui dan berkomitment tinggi untuk melakukan apa yang telah dijanjikan akan dilakukan.

N = Networking. Pak Ketut sangat memahami betapa pentingnya networking dalam kesuksesan sebuah usaha. Untuk itu beliau sangat rajin memperluas jaringan, mebangun hubungan baik dan memanfaatkan jaringan yang ada sebagai perpanjangan tangan pemasaran.

T = Teamwork. Tan hana wong sakti sinunggal” kata Pak Ketut Mardjana. Saya terdiam sejenak. Tapi bener!. Tak ada orang yang bisa hebat sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa bekerja sendiri. Harus saling bahu membahu dan bekerja sama untuk mencapai kesuksesan bersana.

A = Accountable. Pak Ketut juga mengharapkan agar setiap orang dalam organisasinya bisa diandalkan dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.

K= Knowledge. Karyawan diharapkan selalu mengasah diri, meningkatkan pengetahuan dan skillsnya.

A= Adaptive. Perubahan dunia yang sangat cepat juga menuntut karyawan untuk selalu mampu beradaptasi dengan setiap perubahan.

S = Spiritual. Walaupun aktifitas nyata yang dilakukan adalah kegiatan wisata, nsmun Pak Ketut tak melupakan unsur spiritual di dalamnya. Bahkan tak segan Pak Ketut pun memugar mata air panas suci dan menyediakan tempat melukat (menyucikan diri) bagi umat yang memang mau datang ke sana untuk tujuan itu.

I = Innovative. Seperti halnya di kategori apapun, konsumen sangatlah gampang bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Apalagi ya yang baru sekarang? Nah, untuk itu Pak Ketut juga memastikan Toya Devasya selalu hadir dengan sesuatu yang baru setiap saat. Mulai dari kolam renang, lalu merambah ke restaurant, terus berlanjut ke villa, jumlah kolampun nambah, lalu bikin coffee house, camping, spa dan terus dan terus. Jadi selalu saja ada yang baru di Toya Devasya sehingga konsumen tidak bosan untuk datang dan datang lagi.

H = Harmony. Pak Ketut juga memastikan bahwa semua hal yang dijalankan agar berjalan dalam keseimbangan. Baik secara internal di Toya Devasya, maupun dengan lingkungan sekitarnya.

Pembentukan corporate culture yang baik, akan membangun organisasi yang professional, cepat berkembang dan tahan banting walau dalam kondisi apapun.

Nah…lumayan banget kan. Duduk hanya sebentar di Toya Devasya, tetapi mendapat pelajaran yang sangat penting dari seorang marketer senior yang sudah proven kesuksesannya di berbagai organisasi.

Terimakasih ya Pak Ketut, atas sharingnya. Saya jadi banyak belajar nih dari Pak Ketut tentang organisasi. Semoga Toya Devasya semakin berkembang ya.

Advertisements

Klaten: Mengunjungi Candi Sewu.

Standard

Candi sewuDi areal Candi Prambanan, sebenarnya ada 3 buah candi lagi yang lebih kecil. Yakni Candi Bubrah, Candi Lumbung dan Candi Sewu. Ketiga-tiganya adalah Candi Budha. Seorang pengunjung mengatakan bahwa jarak ke candi-candi itu tidaklah seberapa jauh. Hanya beberapa ratus meter saja. Tapi karena udara sangat panas dan kaki saya mulai terasa letih, saya memutuskan untuk naik kereta keliling saja.  Akibatnya saya hanya bisa melihat candi-candi itu dari kejauhan saja.

Candi Bubrah saya yakin nama aslinya tentu bukan itu. Karena bubrah itu sendiri artinya adalah rusak. Mungkin karena candi itu ditemukan dalam keadaan rusak parah. Dan dari kejauhan saya juga melihat kondisi candi itu  memang sangat rusak parah. Saya hanya bisa memandangnya dengan rasa sedih. Demikian juga dengan Candi Lumbung. Saya lihat tinggal reruntuhannya saja. Barangkali karena tidak ada yang bisa dilihat, kereta tak berhenti di kedua candi itu. Hanya lewat saja.

Candi sewu 2Hanya ketika tiba di depan Candi Sewu kereta berhenti. Saya menyempatkan diri turun walau hanya sebentar. Candi Sewu  walaupun namanya seribu, menurut keterangan seorang bapak yang berdiri di dekat situ ternyata jumlah candinya bukan seribu lho, tapi 249 buah. Jadi hanya seperempat sewu dan bahkan kurang satu. Tapi sebenarnya 249 buah candi saja tentu sudah sangat banyak. Apalagi dalam keadaan runtuh. Barangkali lebih susah lagi menghitungnya, sehingga untuk mempercepat akhirnya orang mengatakan candi yang reruntuhannya banyak itu sebagai  Candi Sewu saja.

Saya ikut menguping penjelasan seorang ibu pemandu wisata yang duduk di sebelah saya. Ibu itu sedang mengantarkan tamu-tamu Jepang dan menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan  candi -candi di daerah itu.

Candi sewu 1Saya tidak berlama-lama di sana.  Mengamatinya dari pintu timur yang dijaga dua arca Dwarapala dikiri kanan. Pintu masuk candi ini sebenarnya ada di empat penjuru angin, timur, barat,selatan dan utara. Setiap pintu dijaga oleh masing-masing dua dwarapala.

Candi sewu 4Menurut keterangan jika keseluruhan candi-candi di kompleks Candi Sewu yang terdiri atas 249 candi itu tegak semuanya, maka detailnya terdiri atas 1 candi utama yang terletak di tengah-tengah. Lalu 8 buah candi penjuru yang terletak di 4 penjuru angin berpasang-pasangan. Dan sisanya terdiri atas 240 candi-candi prewara  yang membentuk 4 barisan yang terdiri atas 28 candi di baris pertama, 44 candi di baris ke dua dan 80 buah candi di baris ke tiga, serta 88 buah candi di barisan ke empat.  Sungguh besar kompleks candi ini.

Sekeluar dari sana , saya semakin merasa takjub akan kemegahan yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita. Peninggalan peningglannya menunjukkan kebesaran peradaban, teknologi, budaya dan spiritual yang tidak kalah dengan kemegahan peradaban bangsa di belahan bumi yang lain. Bahkan mungkin saja di jaman itu, peradaban kita relatif maju dibanding bangsa-bangsa lain. Sangat sayang, ketinggian peradaban itu sempat hilang entah karena bencana alam ataupun bencana perang. Dan kita keturunannya harus merangkak kembali dari bawah. Sedikit demi sedikit untuk mencapai ketinggian peradaban yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Semoga pemerintah bisa memugar kembali candi-candi itu dengan baik, secepatnya. Sehingga anak cucu kita tetap bisa menyaksikan kejayaan masa lampau. Jikadulu kita pernah bisa, mengapa tidak mungkin kita membangun peradaban yang lebih hebat lagi ke depannya?. Kita adalah bangsa yang mampu.

Yuk kita berkunjung ke Klaten!.

 

 

 

 

Sleman: Mengunjungi Candi Prambanan.

Standard

Candi PrambananMumpung ada di Yogyakarta saya berusaha mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengunjungi candi candi yang bertebaran di sekitar area itu.  Saya senang melihat-lihat dan mengenang kejayaan peradaban yang pernah dicapai oleh bangsa kita di masa lampau. Walaupun saat ini hanya reruntuhannya saja yang tersisa.

Saat itu sepulang dari kunjungan ke Istana Ratu Boko, saya tiba kembali di halaman Candi Prambanan sekitar pukul 10 pagi. Matahari bersinar kuat. Berjalan sedikit sudah cukup membuat saya berkeringat. Pengunjung cukup ramai pagi itu. Selain pengunjung umum, ada rombongan anak-anak sekolah yang diantar para guru. Lalu ada juga kesibukan orang orang  yang mempersiapkan kunjungan pejabat yang katanya akan datang siang ini. Saya melenggang ke halaman luar yang penuh dengan reruntuhan candi. Beberapa orang pekerja tampak sedang  sibuk merekonstruksi candi. Rasa trenyuh hati saya memandangnya. Terlebih ketika melihat gambar bagaimana dulunya bentuk dan susunan kompleks candi itu yang sedemikian besar  dan luas.

Berdiri di tengah-tengah reruntuhan candi ini, yang menurut keterangan harusnya berjumlah 240 candi, membuat saya sadar bahwa tempat ini sangat serupa dengan tempat – tempat suci di Bali. Pembangunan candi ini juga menerapkan concept Tri Mandala, yakni   nista, madya dan utama.

Di Nista Mandala yakni latar paling bawah yang luasnya 390 meter persegi tidak saya lihat ada bangunan apapun. hanya taman beserta tanaman.

Di Madya Mandala yang merupakan latar tengah ada  banyak reruntuhan candi candi kecil yang dianggap sebagai candi pengiring. Semuanya berada dalam keadaan runtuh. Menurut keterangan, candi-candi ini berjumlah 224 buah. Jika berdiri, candi-candi ini memiliki ukuran sama, yakni 4 meter persegi dengan tinggi 14 meter. Luas Madya Mandala adalah 222 meter persegi.

Candi Prambanan 5Di Utama Mandala  yang luasnya 110 meter persegi, berdiri Candi Tri Murti (Brahma,Wisnu Siwa) dengan Siwa sebagai fokus utamanya.  Candi Trimurti ini masing-masing didampingi dengan Candi Wahana, yakni Candi Nandi, candi Garuda dan Candi Angsa.  Kemudian ada  2 buah Candi Pengapit  yang berdiri diujung Selatan dan ujung Utara dari Utama Mandala ini. Di luar itu, ada lagi 8 candi kecil yang disebut dengan Candi Kelir yang berada di delapan penjuru mata angin.  Sungguh maha karya yang sangat indah dan besar. Saya merasa kagum dan sangat hormat kepada siapapun arsiteknya.

Saya hanya sempat masuk ke dalam Candi Siwa yang merupakan Candi Utama dari gususan Candi Prambanan ini. Om Namah Shiwaya. Pertama saya masuk dengan menaiki anak tangga ke ruang utama, di mana arca  Siwa Mahadewa  berdiri di sana.  Dalam Hindu, Siwa Mahadewa adalah sinar suci  dari Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai penguasa alam semesta dan perubahan dan pelebur agar semuanya bisa kembali ke asalnya dalam semesta. Arca ini menghadap ke timur, berseberangan pintu dengan Candi Nandi. Di bagian ruang utara dari Candi Siwa ini saya  melihat arca Durga  yang di dalam Hindu merupakan  sakti dari Siwa yang menguasai kematian. Lalu di bagian ruang barat saya melihat arca Ganesha, yang juga turunan Siwa yang merupakan manifestasi  Tuhan Yang Maha Esa dalam menguasai  segala kesulitan. Orang-orang memuja Tuhan Yang Maha Esa melalui Ganesha dalam memohon agar terhindarkan dari segala aral yang melintang. Dan di ruang yang terakhir yang menghadap ke selatan saya melihat arca Siwa Maha Guru  manifestasi Tuhan Yang maha Esa dalam menguasai segala wahyu dan pengetahuan. Pada intinya Candi utama ini adalah pemujaan Umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam  manifestasinya sebagai Siwa.

Jika kita melakukan pradaksina, yaitu berdoa sambil mengelilingi candi  searah jarum jam,  kita akan  bisa mengamati relief pada candi yang bercerita tentang kisah Ramayana.  Kita juga bisa melihat pemandangan kemegahan candi candi Brahma, Wisnu dan candi candi wahana serta candi apit yang indah dari Candi Siwa. Sungguh maha karya yang luar biasa. Menurut catatan sejarah, candi ini berdiri pada abad ke IX. Didirikan oleh raja raja Dinasti Sanjaya yakni Rakai Pikatan dan diteruskan oleh Rakai Belitung pada tahun 856 Masehi-sesuai dengan prasasti Ciwagraha.

Candi Prambanan 11Buat saya, kunjungan saya kali ini ke Prambanan memberikan kesempatan bagi diri saya untuk mengenang kembali serta menghargai karya seni dan spititual yang merupakan  refleksi kejayaan peradaban yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita. Senang mengingat pelajaran sejarah kembali.

Yuk kita berkunjung ke Jawa Tengah! Kita cintai tanah air kita.

Yogyakarta: Keraton Ratu Boko.

Standard

Gapura Keraton Ratu BokoSelagi di Yogyakarta, saya berusaha  mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengujungi situs-situs purbakala yang ada di sekitar daerah itu. Saya menjelaskan kepada Mas Tara, sopir yang mengantarkan saya bahwa saya ingin mengunjungi candi-candi kecil di luar Prambanan dan Borobudur. Karena saya sudah pernah beberapa kali berkunjung ke dua candi besar itu sebelumnya.  Jadi saya ingin tahu yang lain.  Mas Tara menyarankan, sebaiknya saya tetap mengambil Candi Prambanan, atau Borobudur (salah satu)  karena di sekitar candi itu masih banyak ada candi-candi bertebaran. Saya setuju. Akhirnya memilih jalur Candi Prambanan.

Keraton Ratu BokoKami berangkat pagi-pagi dan disarankan menuju Prambanan pertama untuk menghindari panas matahari yang menyengat. Alasan Mas Tara adalah karena Candi Prambanan sangat luas dan tidak ada pohon di dekat-dekat candi.Sedangkan candi lain yang lebih kecil ada banyak pohon di sekitarnya.Jadi kalau kepanasan, kita bisa cepat-cepat bernaung. Sekali lagi saya menurut. Karena jarak dari hotel tempat saya menginap tidak seberapa, sebentar kemudian sampailah kami di Candi Prambanan. Ketika mengantri untuk membeli ticket, saya diinformasikan bahwa ada ticket terusan ke Istana Ratu Boko. Dan disediakan shuttle bus pulang pergi ke sana. Dengan senang hati saya memilih membeli ticket terusan itu.

Gapura Keraton Ratu Boko

Gapura Keraton Ratu Boko

Istana atau Keraton Ratu Boko berada di sebuah perbukitan di bagian selatan Candi Prambanan. Merupakan sebuah kompleks bangunan peninggalan purbakala yang luasnya sekitar 25 hektar. Benar-benar berada di puncak sebuah bukit. Dari tempat pemberhentian shuttle bus, saya masih harus menempuh jalan menanjak berjalan kaki. Untungnya jalannya sudah rapi. Sesekali saya berhenti untuk menenangkan nafas sambil melihat-lihat pemandangan kemarau yang gersang di sekitarnya.

Berita tentang keberadaan Keraton ini agak simpang siur adanya.Tetapi saya lebih mempercayai catatan sejarah yang ada buktinya. Bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah Wihara seperti yang disebutkan dalam prasasti Abhaya Giri tahun 792 yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran dari kerajaan Medang (Mataram Hindu).  Berikutnya seorang raja bawahan yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni mengubahnya menjadi istana.

Di kompleks ini dtemukan sisa-sisa gapura, sebuah candi putih, candi pembakaran, pendopo, keputren, dua buah gua pertapaan. Disebutkan juga bahwa di tempat ini ditemukan artefak Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, Lingga, Yoni) dan juga artefak Budha (Stupa, Budha Dyani). Selain itu, menurut keterangan  juga ditemukan pecahan keramik, plakat emas bertuliskan “Om  Rudra ya namah swaha“. Jelas sekali pada jaman itu kehidupan toleransi beragama dikalangan leluhur kita tentulah sangat tinggi. Ajaran Hindu -Budha masih sangat menyatu. Saya sendiri tidak heran mendengar keberadaan artefak itu, karena  bahkan hingga saat inipun doa seperti Om Nama Ciwa ya, Om Nama Budha ya – masih diucapkan di kalangan penganut Hindu. Apalagi di masa itu, para leluhur kita menganut Ciwa Budha.

Batu-batu kuno penyusun jalan ke gapura Ratu BokoSaat saya berkunjung, masih sedang dilakukan penggalian situs. Yang menarik perhatian saya  adalah kenyataan bahwa pada jaman itu leluhur kita sudah memiliki kebudayaan dan pengetahuan teknik dan arsitek yang sangat tinggi. Terlihat ketika lapisan tanah dikelupas, batu-batuan yang datar disusun sedemikian rupa membentuk jalan lebar menuju pintu gapura.

Gapura sendiri dibangun dalam dua lapis berbentuk paduraksa yang terbuat dari batu andesit. Pagar dibuat dari batu putih.  Saya memperhatikan sisa-sisa ukiran yang sudah aus di beberapa bagian gapura. Tidak jauh dari style ukiran yang biasa saya temukan di Bali. Tapi kelihatan memang sudah sangat tua sekali.

Tidak jauh dari gapura saya melihat bekas parit yang kering.Wah jaman itu saja parit sudah ada ya. *Saya jadi teringat dengan Jabodetabek yang parit alias selokannya kadang ada kadang tidak*.   Nah, di sini malah ditemukan bukan saja parit yang bagus, tapi juga  sumur suci yang disebut Amerta Mantana. Juga kolam pemandian. Saya melihat banyak orang sedang bekerja menggali kolam yang baru ditemukan itu. Tak ada lelahnya di bawah sinar matahari pagi namun sudah sangat terik itu. O ya, di sana saya mendapatkan keterangan bahwa biasanya penganut Hindu mengambil air sumur itu terutama menjelang hari raya Nyepi. Mereka mengambilnya dengan kendi lalu dibawa ke halaman Candi Prambanan tempat dilaksanakannya upacara Tawur Agung.

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Di sebelah gapura ada Candi yang disebut dengan candi Putih.  Disebut demikian karena terbuat dari batu putih. Saya tidak tahu persis digunakan untuk apa Candi Putih itu.

Candi pembakaran di Keraton Ratu BokoSaya tertarik akan candi pembakaran yang posisinya berada di atas Candi Putih. Saya naik ke atas untuk melihat ada apa  dan bagaimana rasanya berada di atas.  Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah lubang persegi di tengahnya. Saya tidak tahu persis gunanya untuk apa. Dinamai candi Pembakaran rupanya karena ditemukan abu bekas pembakaran di tempat itu. Hal ini mengakibatkan terjadi simpang siur dugaan apakah Candi ini sebenarnya tempat kremasi atau penyimpanan abu jenasah raja. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata abu yang ditemukan itu hanyalah abu kayu. Tidak ditemukan indikasi abu dari pembakaran tulang.  Jadi masih terbuka kemungkinan jika di candi itu juga dilaksanakan upacara api yang lain.

Karena kompleks itu sangat luas, dan kaki saya yang pernah keseleo mulai kambuh, maka untuk memudahkan bagi saya memahami lay out istana itu, maka saya memaksakan diri naik ke punggung bukit yang tak jauh dari Candi Pembakaran. Dari sini kelihatan lebih jelas, seberapa luas Keraton itu dan ada sisa bangunan apa saja yang tertinggal.

Bagus sekali pemandangannya dari sini. Walaupun sedih juga tidak bisa melihat dari dekat, setidaknya saya bisa melihat dari kejauhan reruntuhan Pendopo seperti yang ada di keterangan.

Yuk kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita

Yogyakarta: Menikmati Body Rafting Sungai Oyo.

Standard

Ini masih lanjutan cerita ber Cave Tubing di Gua Pindul. Keluar dari gua, kami melanjutkan perjalanan ke Sungai Oyo dengan menumpangi  kendaraan bak terbuka. Wah…mirip ternak sapi yang mau diangkut ke balai karantina ha ha ha. Kami berkendara bersama dengan para ban dalam yang akan kami gunakan untuk menelusuri Sungai Oyo. Jalanan menuju ke sungai itu sungguh bergelombang. Gujrak-gujruk. Tapi pemandangan di kiri kanan jalan tampak indah juga. Sawah-sawah yang luas membentang. Kami juga melewati perkebunan  Kayu Putih yang daunnya sangat segar mewangi.

234Beberapa menit kemudian tibalah kami di tepi Sungai Oyo.Kami mengangkut band dalam kami masing-masing di atas kepala. Kami harus turun ke sungai. Agak kering karena kemarau yang panjang. Saya menyeberang menuju aliran yang debit airnya cukup untuk kami melakukan rafting.

Tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Karena saat melakukan rafting ini pun kami diminta untuk berpegangan pada ban di depan dan belakang kami masing-masing agar tidak terlepas sendiri-sendiri. Minimal  4-6 orang lah. Agar tangan saya bisa leluasa, saya mengakalinya dengan mengikatkan tali ban saya ke tali teman yang ada di depan dan di belakang saya. Nah! Sekarang aman. Tangan saya bebas untuk melakukan apa saja.

279Matahari mulai meninggi.  Ban berjalan mengikuti arus yang perlahan. Awalnya saya tidak tahu apa yang bisa saya nikmati sepanjang aliran sungai ini. Tapi kemudian saya menyadari bahwa ini adalah pengalaman baru bagi saya.

Biasanya saya adalah seseorang yang melihat sungai dari tepi. Nah sekarang saya bisa merasakan bagaimana melihat tepian dari dalam sungai.  Bagaimana rasanya kehidupan berjalan di tengah sungai. Saya mendengarkan kicauan burung pagi yang sangat riang. Mereka sibuk mencari makan di pohon-pohon bambu di pinggir sungai. Ada banyak jenis suara burung. Ada yang bisa saya kenali, namun ada juga jenis yang tidak mampu saya kenali. Semuanya memberi sensasi tersendiri bagi saya. Tiba-tiba saya merasa sangat menyukai tempat ini. Sungai Oyo.

20151010_082432Di tepi sungai bebatuan karst menjadi dinding. Berceruk-ceruk karena rongrongan arus air sungai. Ukiran alam di tebing ini  terlihat begitu indah serasa mengajak lamunan kita pergi ke alam purba.  Jika kita perhatikan dengan seksama, di dasar tebing, dekat dengan permukaan air, beberapa ekor ikan gelodok kecil-kecil atau disebut juga dengan nama Tembakul alias Mudskipper (Periophthalmus sp) tampak mendarat di cekungan batu-batu tebing itu. Ada yang meloncat ada juga yang berdiam diri. Ini membuat saya sangat terkejut. Sungguh tidak menyangka keberadaannya ditempat seperti ini. Karena biasanya ikan ini berada di tempat yang berlumpur.

Meloncat di Sungai Oyo

Meloncat di Sungai Oyo

 

Ban bergerak terus mengikuti arus sungai. Saya menikmati arus yang bergerak di bawah saya. Rasanya tenang dan damai. Tak lama kemudian tibalah kami di air terjun.  Debit air terjun ini tak berapa besar. Barangkali karena musim kemarau.  Kami turun dan mendarat untuk beristirahat sejenak di situ. Teman-teman saya ada yang meneruskan berenang, bermain air, memesan mie instan yang kebetulan dagangnya ada di situ. Bahkan ada juga yang menguji nyali dengan melakukan loncatan dari ketinggian ke dalam air.  Wah…luar biasa.

Saya sendiri hanya menonton sambil memperhatikan tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekita tempat itu.  Seekor kepik berwarna merah tampak menclok di sehelai daun tanaman perdu.  Saya mengamatinya sebentar. Indah sekali warna kumbang merah ini.  Mirip Lady Bug yang kita kenal di film-film kartun. Tapi badannya sedikit lebih besar dan pola bintik hitam merahnya juga agak berbeda. Warnanay juga tidak murni merah tapi bersemu hijau. Sayapnya berkilau metalik. Saya terus mengamati gerak-geriknya, hingga kepik itu terbang karena daun tempatnya menclok bergoyang-goyang keras di tiup angin.

Setelah puas bermain-main di tepi sungai itu, kami pun diajak pulang. Kembali menelusuri sungai. Kembali berayun-ayun di atas ban dalam mengikuti arus Sungai Oyo. Pulangnya kembali kami naik kendaraan bak terbuka. Menikmati segarnya angin pedesaan sambil  memandangi sawah yang luas terhampar.

Ke Sungai OyoPengalaman yang sangat menyenangkan. Saya berpikir suatu hari ingin mengajak anak-anak saya berkunjung ke sini untuk menikmati Body Rafting di sungai ini. Semoga kesampaian.

Yuk teman-teman, kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita.

 

 

Yogyakarta : Bermain Ke Gua Pindul Di Gunung Kidul.

Standard

Ceritanya sudah beberapa minggu yang lalu. Ada acara Cave Tubing ke Gua Pindul di Gunung Kidul, Yogyakarta.  Karena tidak jago berenang,  awalnya saya tidak berminat ikut. Saya hanya ingin melihat-lihat area sekitar. Sekedar mengamati flora fauna, terutama burung-burung dan kupu-kupu di bukit berkapur yang bisa jadi berbeda dengan di  dataran rendah. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan rute Cave Tubing dari petugas, akhirnya saya memutuskan ikut terjun ke air. Kamera terpaksa saya tinggalkan karena beresiko tercebur ke air dan basah.

Walau ber-Cave Tubing di Gua Pindul sudah sering diceritakan orang, tapi saya tetap tertarik ingin melihat seperti apa sih di dalam gua itu.Gua Pindul

Menelusuri Gua Pindul.

Mudah ditebak. Karena letaknya di pegunungan kapur Gunung Kidul, tentu gua ini terbentuk dari proses batuan kapur. Panjang gua sekitar  350 meter dengan lebar sekitar 5 meter, tetapi di tengah-tengah gua ada juga jalur yang hanya cukup dilewati satu  orang saja.  Untungnya karena kemarau, permukaan air sedang tidak terlalu tinggi, sehingga atap gua terasa jauh di atas sana. Memungkinkan saya  untuk bernafas lega, karena udara leluasa bisa keluar masuk ke dalam gua.

Dengan menelusuri gua ini perlahan, ada banyak hal yang bisa kita lihat. Sayangnya saya hanya bisa memanfaatkan kamera ponsel yang daya jangkaunya tidak seberapa. Itupun semakin nggak jelas akibat harus dimasukkan ke dalam selongsong tahan air. Takut kecebur tanpa sengaja. Jadi foto-foto yang saya hasilkan kwalitasnya sangat buruk.

Gua Pindul dulunya dihuni oleh banyak Burung Sriti.  Saaat ini saya tak berhasil  melihat seekorpun. Barangkali karena gua itu sudah dikunjungi oleh terlalu banyak orang,  sehingga ketenangan burung-burung Sriti itupun terusik. Akhirnya menyingkirlah mereka dari sana.

Stalagtit Gua PindulNamun demikian, saya masih bisa melihat-lihat bebatuan yang ada di dalam gua. Cahaya matahari masih bisa masuk di bagian sini. Ada banyak Stalagtit yang bergelantungan dengan sangat indahnya di atap gua. Terbentuk dari tetesan mineral calcium carbonate selama ribuan tahun. Beragam ukurannya. Dari yang  kecil-kecil beberapa cm hingga yang panjang nyaris menyentuh permukaan air sungai.  Tak terbayang seberapa lama  mineral itu secara konsisten harus menetes, mengingat pertumbuhan stalagtit paling cepat adalah 3 mm per tahun.

Sedikit agak masuk ke dalam gua, saya melihat ada tangga besi terpasang ke atas. Entah siapa yang memasang dan untuk apa.  Saya lupa bertanya kepada Mas Guide. Apa barangkali dulunya  digunakan untuk mengamati burung-burung  Sriti ya…

Gua Pindul 2Setelah tangga ada cekungan yang agak dalam ke dinding di depan saya. Rupanya cekungan itu dulunya digunakan orang untuk bertapa. Mencari ketenangan jiwa ataupun pengetahuan spiritual. Setelah itu saya melihat masih banyak stalagtit besar kecil bergelantungan.

Kami memasuki zona remang-remang. Saya melihat ke atap  gua, berusaha mencari tahu ada apa gerangan di atas sana. Tidak begitu jelas. Mas Guide menyalakan senter dan saya melihat seekor kelelawar bergantung. Jenis kelelawar pemakan buah alias Codot. Saya tidak memotret Codot ini  karena cahaya senter si Mas sudah berpindah.  Saya baru paham dari mas Guide ini bahwa Kelelawar jenis Codot seperti ini memang lebih menyukai Zona Remang-Remang gua ketimbang Zona Gelap Gulita yang lebih disukai saudaranya yang jenis pemakan nyamuk.

Di zona ini  saya juga sempat melihat ada stalagtit yang berkilauan menarik perhatian saya. Berbeda dengan stalagtit stalagtit yang lainnya. Menurut keterangan Si Mas Guide, stalagtit kristal jenis ini terbentuk dari tetesan termurni dari kapur. Katanya banyak digunakan orang untuk perhiasan. Tapi entunya dilarang diambil dari gua Pindul ini.

Kami terus menyusuri gua dan mengikuti arus air sungai yang perlahan-lahan membawa kami ke Zona Gelap. Ruangan gua menyempit. Hanya bisa dilalui satu ban.  Kami bergerak dengan lambat. Ada Stalagtit terbesar di area ini. Juga ada Stalagtit dengan cucuran air yang masih ‘on’. Orang-orang percaya, konon  jika kita lewat di bawahnya dan kena cucuran air Stalagtit itu akan membuat kita awet muda. Saya lewat tapi tidak kena cucurannya… wadah.. alamat bakalan awet tua deh ini. Ha ha ha…

Eh tapi sebenarnya saya lebih tertarik untuk mengetahui eksistensi kehidupan di sana. Benar seperti yang disampaikan si Mas tadi, bahwa di langit-langit Zona gelap ini sangat banyak bergelantungan kelelawar pemakan serangga. Langit-langit gua yang kena cakar kelelawar yang bergelantungan membentuk kubah-kubah mirip mangkok terbalik yang serupa dengan ruang-ruang. Pengetahuan baru untuk saya adalah bahwa ternyata menurut si Mas ruang-ruang itupun berbeda-beda peruntukannya. Ada ruang bayi dan anak-anak kelelawar. Lalu ada ruang untuk para kelelawar dewasa. Ada ada juga ruang khusus yang berfungsi seperti toilet kelelawar. Lalu ada ruang khusus untuk bercinta. Walah..ada ada saja.  Saya mencoba memotret. Tapi ya karena kwalitas fotonya  kurang baik, jadi kelihatan hanya mirip lukisan batik. Yang hitam itu sebenarnya adalah para kelelawar.

Gua Pindul 3Kurang lebih setengah jam,  kami mendekati pintu keluar gua. Cahaya matahari sedikit demi sedikit memasuki ruangan gua. Dan di ujung sana bahkan ada sebuah lubang yang cukup besar di atap gua itu. Cahaya matahari menerobos masuk. Melalui celah-celah dedaunan yang tumbuh di tepi lubang itu. Alangkah indah dan dramatisnya. Saya terpesona akan keagungan ciptaanNYA. Menyempatkan diri untuk sejenak memanjatkan doa dan mengucapkan syukur terimakasih atas karunia yang dilimpahkan ke dalam kehidupan saya.

Teman-teman saya sebagian ada yang turun dari ban dan berenang. Ada juga yang berhenti dan bersitirahat di sebuah cekungan kering di dalam gua. Saya masih terpesona dengan sinar matahari pagi yang menerobos dari lubang atap gua. Tiba-tiba terdengar teriakan “Bu Dani ulang tahunuuuuun!!! Bu Dani ulang tahuuuuuuunnnn!!” Waduuu… gawat. Saya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Cepat-cepat saya mengangkat tangan dan menyatakan diri tidak bisa berenang sebelum mereka mengambil ancang-ancang untuk menceburkan saya ke air sungai.  Lumayan berhasil menyelamatkan diri. Namun tak urung air sungai dicipratkan beramai-ramai ke arah saya sehingga akhirnya saya basah kuyup juga. Ha ha ha…  Saya bahagia berada di tengah-tengah teman-teman dan para sahabat saya.

Yuk kita  berkunjung ke Yogyakarta! Cintai tanah air kita.

 

Barong Brutuk Di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Standard

Barong Brutuk2Saya diajak adik saya pergi ke Desa Trunyan, yang letaknya di tepi Danau Batur di Kintamani, Bangli. Ada upacara Ngusaba Kapat di Pura Pancering Jagat. Dalam rangkaian upacara ini akan diadakan pementasan Barong Brutuk, yakni salah satu bentuk kesenian Bali Kuno yang sudah sangat lama sekali tidak pernah dipentaskan. Mengingat langkanya  pementasan ini, tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakannya.

Walau harus menghadapi sedikit halangan di jalan berupa pohon dan tiang listrik tumbang, pagi-pagi saya sudah sampai di Desa Trunyan.  Keramaian tampak di sekitar desa, terutama di areal Pura Pancering Jagat. Kami diterima dengan baik oleh pemuka adat setempat dan diberi penjelasan singkat mengenai upacara dan pementasan Barong Brutuk ini serta tata tertib yang harus kami patuhi selama acara berlangsung. Walaupun sebelumnya saya sudah pernah mendengar keberadaan Barong Brutuk ini, namun terus terang saya baru pertama kali melihatnya langsung dengan mata saya sendiri.

Barong Brutuk, adalah tarian Barong yang sangat kuno dan hanya ada di Desa Trunyan yang sejak ratusan tahun lalu dihuni oleh warga Bali asli. Tarian ini menggambarkan kehidupan para leluhur di jaman dulu. Menurut sebuah sumber konon Barong Brutuk ini adalah unen-unen (anak buah) dari leluhur orang Trunyan, yakni Ratu Sakti Pancering Jagat dengan istrinya Ratu Ayu Dalem Pingit Dasar.

Tidak seperti tarian Barong lain di Bali yang busananya biasanya sangat penuh dengan motif hiasan, busana Barong Brutuk ini sangat sederhana. Tidak ada ukiran, tidak ada potongan kaca, apalagi cat prada keemasan. Hanya  kumpulan daun pisang kering (Keraras), yang konon hanya boleh dipetik dari Desa Pinggan.  Tidak ada yang tahu mengapa harus dari Pinggan. Ketika saya tanyakan, beberapa orang penduduk hanya mengatakan ” Memang sudah begitu dari dulunya“.

 

Demikian juga topeng yang digunakan. Terlihat sangat sederhana dan berbeda dengan jenis barong-barong lainnya di Bali. Namun demikian, topeng-topeng itu tampak sangat berkarakter. Sebuah topeng misalnya digambarkan memiliki karakter wajah yang tegas dan kuat, sedangkan topeng lainnya memiliki karakter lebih feminine. Ada juga yang berkarakter tua, dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun yang bisa menjawab ketika saya bertanya, siapakah pembuat topeng itu. Mereka sudah menemukannya seperti itu. Turun temurun.

Bahkan menurut seorang penduduk yang menemani saya ngobrol, jumlahnya pun berubah-ubah setiap kali mereka membuka tempat penyimpanannya. Jika hari ini mereka membuka tempat penyimpanan itu menemukan 21 topeng, maka besoknya bisa jadi topeng itu akan berjumlah 23 buah. Kebetulan pada hari saya di sana, jumlah topeng yang ditarikan ada sebanyak 19 buah. Menurutnya, berapapun jumlah topeng yang ditemukan per hari itu, maka harus dipentaskan semuanya. Dan para Teruna (remaja pria) yang memakai topeng itu harus bisa memainkan peranannya.  Hmm…sangat menarik.

Yang berbeda lagi dengan Barong biasa, Barong Brutuk ini tidak diiringi dengan musik. Brutuk hanya berjalan-jalan di halaman atau mengelilingi Jeroan Pura sambil membawa cambuk.  Sehingga sebenarnya agak sulit kalau dibilang menari, karena memang hanya sembahyang,  berjalan berkeliling dan melecutkan cambuk. Tidak banyak penduduk diperkenankan masuk untuk menghindari lecutan cambuk. Banyak penduduk terlihat menonton dari balik pagar, ada juga beberapa yang nekat di pintu Jeroan. Beberapa kali nampak penduduk mengambil daun kraras dari barong Brutuk ini dan menyelipkan di telinganya. “Untuk apa?” tanya saya.

Penduduk mempercayai bahwa potongan daun kraras dari Barong Brutuk itu membawa keselamatan dan berkah. Demikian juga lecutan cambuknya. Dipercaya memberi kesembuhan (tamba) bagi yang sakit. Beberapa orang anak-anak memanggil-manggil dan menggoda Barong Brutuk agar mencambuk ke arah mereka. “Ratu!! meriki Ratu!” (Ratu! Ke sini Ratu!) atau “Malih Tu! Malih Tu! Nunas Tamba, Tu!” (lagi Ratu! Minta Obat). Namun ketika  Barong Brutuk itu mendekat dan mencambuk, anak-anak itu pada berlarian dan tertawa senang. Ada beberapa orang yang sempat terkena lecutan juga. Bahkan ada seorang penduduk yang tampak sedang sakit malah bersimpuh memohon dicambuk, dan ketika dicambuk bukannya kabur namun malah menyerahkan diri – karena ia percaya akan khasiat pengobatan dari lecutan Barong Brutuk itu. Selain itu bebrapa kali saya lihat Barong Brutuk itu melemparkan buah-buahan dari banten ke penonton. Dan orang-orang berebut untuk mendapatkannya,karena juga dipercaya sebagai berkah dan obat.

Pementasan ini sangat panjang. Pagi hari hanya di halaman Jeroan Pura, lalu setelah istiahat sejenak dilanjutkan ke areal Jaba Pura (bagian luar /areal Pura yang lebih rendah). Sore harinya dipentaskan bagaimana pria dan wanita Trunyan pada jaman dulu mencari pasangannya, yang disebut dengan acara metambak-tambakan. Barong Brutuk dengan topeng raja dan ratu menarikan tarian percintaan ini. Mereka sama -sama menari dengan aggresif-nya, hingga akhirnya merasa cocok dan menikah. Saya dijelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Trunyan, bahwa urusan mencari jodoh bukanlah hanya urusan pria saja yang harus aggresif menyeleksi dan menentukan pilihan hidupnya, namun para wanita pun layak sama aggresifnya dalam menentukan pilihannya sendiri.

 

Seorang penduduk mengatakan bahwa tarian sakral ini sudah tidak pernah dipentaskan sebagaimana seharusnya sejak  dua puluh tahun lebih, walaupun pernah diperagakan di Pesta Kesenian Bali. Namun seorang ibu lain mengatakan bahwa seingatnya tarian ini pernah dipentaskan pada tahun 2002.  Sayapun jadi penasaran, kapan seharusnya tarian ini dipentaskan? Jika tidak dipentaskan,apa sebabnya? Dan jika sekarang dipentaskan lagi, tentu ada penyebab juga. Sayang sekali saya tidak mendapatkan jawaban yang conclusive atas pertanyaan di kepala saya ini. Walaupun ada yang mengatakan Tarian sakral ini dipentaskan dalam rangka untuk memohon kesuburan.

Menurut seorang penduduk, Barong Brutuk seharusnya dipentaskan setiap dua tahun sekali, pada upacara Ngusaba Pura Pancering Jagat yakni pada Purnama Kapat. Purnama Kapat (bulan Purnama ke-empat dalam penanggalan Bali)  itu sendiri oleh penduduk diberi kode Kapat Lanang dan Kapat Wadon. Barong Brutuk hanya dimainkan pada Kapat Lanang oleh para Teruna (remaja pria). Tahun berikutnya, saat Kapat Wadon, Barong Brutuk tidak dipentaskan. Pada Ngusaba di Kapat Wadon ini, yang aktif adalah para Daa Bunga  (remaja puteri). Mereka akan mengisi kegiatan upacara dengan menenun kain suci. Itulah sebabnya secara natural, Barong Brutuk hanya dipentaskan setiap dua tahun sekali. Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti kepada saya mengapa tarian ini tidak dipentaskan. Hanya sebuah cerita singkat bahwa pada tahun 2007, terjadi bencana tumbangnya pohon Beringin besar yang tumbuh di Pura itu, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pementasan. Lalu apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya?

Masih banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala saya. Namun karena hari sudah semakin sore, maka sayapun berpamitan kepada para pemuka desa Trunyan untuk pulang ke Bangli.

 

Tour Guide Yang Ikut Membangun Image Pariwisata.

Standard

Memandu WisataDi perjalanan pulang dari Gunung Padang,  anak-anak berceloteh tentang betapa baiknya Pak Yusuf, petugas dari Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala yang telah berhujan-hujanan mengantarkan kami ke atas dan memberi penjelasan yang cukup detail mengenai situs megalitik Gunung Padang itu. Sangat baik dan suka membantu.

Anak-anak berkomentar, tentu karena pada saat menuruni jalanan yang licin banyak dibantu oleh Pak Yusuf. Selain itu,  pada saat hujan deras turun, Pak Yusuf mempersilakan kami berlindung di balik pohon. Sedangkan Pak Yusuf sendiri bersama suami saya berhujan-hujanan di teras pertama.  Karena memang di teras itu tidak ada tempat berlindung yang lain. Walaupun dipersilakan untuk berlindung di balik pohon, beliau  tidak mau dan tetap mengutamakan memberikan tempat yang lebih terlindung dari air hujan untuk anak-anak terlebih dahulu. Tentu hal ini menimbulkan kesan tersendiri di hati anak-anak.

Pengetahuannya juga baik. Saat anak-anak dengan cerewetnya mengajukan berbagai pertanyaan, Pak  Yusuf menjawab semuanya dengan sabar dan telaten. Apa yang ditanyakan selalu dijawab dengan baik dan jelas. Selain itu Pak Yusuf juga memberi tahukan hal-hal yang boleh dilakukan dan yang tidak. Misalnya jangan mengangkat batu untuk tujuan yang tak jelas, agar jangan jatuh dan patah. demikian juga Pak Yusuf memberitahukan agar jangan duduk di atas batu menhir yang berdiri tegak,maksudnya adalah agar posisi batu itu tidak bergeser ataupun patah. Sayang sekali, tentu kita tidak mau situs sejarah penting bangsa kita itu cepat rusak, bukan?. Pak Yusuf juga memberi contoh, memunguti sampah-sampah yang berserakan di dekat situs, yang dibuang oleh entah siapa – tentu salah seorang pengunjung yang datang sebelum kami sampai di sana.  Lalu membuangnya di tempat sampah yang tersedia.

Pak Yusuf, Pemandu Gunung Padang.Mengingat hal-hal itu, sayapun setuju dengan komentar anak-anak saya bahwa Pak Yusuf yang memandu kami selama di Gunung Padang sangatlah baik. Dan itu membuat keseluruhan kunjungan kami ke situs sejarah itu menjadi sangat berkesan.

Komentar itu membuat saya berpikir tentang betapa pentingnya keberadaan seorang pemandu wisata yang handal di sebuah lokasi pariwisata.  Terutama jika lokasi wisata itu adalah lokasi sejarah, dimana selain untuk berlibur, sebenarnya banyak orang berkunjung sekalian untuk belajar.  Penjelasan yang benar dan detail dari seseorang yang memahami situs itu tentu sangat dibutuhkan.  Bisa dibayangkan betapa mengecewakannya jika tour guide yang tersedia sangat tidak handal dan tidak menguasai dengan baik detail mengenai tempat wisata yang ditanganinya.

Memasarkan sebuah tempat wisata, tidaklah mungkin terlepas dari upaya pembangunan citra yang baik dari tempat wisata tersebut. Lokasi yang aman, akses yang mudah, sarana dan fasilitas yang memadai – termasuk di dalamnya adalah keberadaan tour guide yang handal ini.

Citra yang positive dari seorang  tour guide setempat berkorelasi langsung dengan citra dari lokasi wisata tersebut. Seorang guide perlu menyadari bahwa dirinya adalah representative dari tempat wisata yang diwakilinya.  Misalnya, tour guide situs Gunung Padang, tentu merupakan representative image dari situs Gunung Padang itu sendiri. Jika guidenya tidak handal, tentu pengunjung akan berpikir bahwa tempat wisata itu kurang menarik. Sebaliknya jika guidenya handal dan memahami apa yang harus dipahaminya serta mampu menjelaskan dengan baik ke pengunjung, tentu dengan sendirinya citra dari situs sejarah ini terangkat naik.

Jadi idealnya, seorang tour guide  perlu untuk menguasai  sejarah tempat  terkait dan menguasai setiap titik yang ada di lokasi itu yang memiliki keterkaitan dengan sejarah setempat.  Terutamanya jika tempat pariwisata tersebut adalah tempat bersejarah, semacam Gunung Padang ini, maka pemahaman yang detail seorang tour guide tentang sejarah tempat itu menjadi tuntutan yang sangat penting.  Berikutnya ia kemudian perlu  memiliki ketrampilan untuk menceritakan sejarah setiap titik itu dengan  cara yang menarik dan mudah dicerna oleh pengunjung.

Dengan demikian, maka setiap pengunjung yang datang merasakan betapa banyak pengetahuan baru yang ia dapatkan saat mengunjungi tempat wisata tersebut. Karena terkadang tanpa bantuan guide, bisa saja kita berkunjung di tempat yang sama, namun hanya sekedar lewat begitu saja. Kita tidak pernah tahu, bahwa ternyata batu kecil  di Gunung Padang yang sepintas lalu kelihatannya tidak ada artinya apa-apa, ternyata mengandung sejarah yang tinggi. Tugas tour guidelah untuk membuat pengunjung jadi memahami semua itu. Tour guide yang baik, akan membantu membangun citra tempat pariwisata yang baik.

Jadi, salah satu upaya pemasaran yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke suatu tempat adalah  dengan mengembangkan kemampuan para tour guide ini.