Tag Archives: Pendidikan

Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Membaca puisi di Minggu Raya Banjarbaru.

Saya penyuka karya sastra. Dan puisi termasuk di dalamnya. Atas kesukaan saya itu, ketika remaja, saya rajin mengikuti forum dan panggung lomba-lomba baca puisi yang diselenggarakan di kota saya. Saya akui bahwa forum dan panggung-panggung sastra seperti itu sangat mendongkrak kemajuan sastra di Bali. Karena minat remaja akan sastra menjadi sangat tinggi. Sayang sekali, aktifitas seperti itu, belakangan saya dengar tidak banyak lagi dilakukan pada saat ini. 
Dengan latar belakang seperti itu, saya tiba tiba terpikir untuk mengajak anak saya yang remaja untuk ikut ke Loksado Writers & Adventure 2017. Tentu dengan catatan jika panitya mengijinkan. Dan ternyata syukurnya memang diijinkan!. Saya senang sekali. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan anak saya dunia sastra dengan cara yang lebih baik lagi *menurut saya* ketimbang hanya dari apa yang ia dapat dari sekolahnya. 

Saya tahu, anak saya tentu mendapat pelajaran sastra dengan cukup baik dari sekolahnya. Tetapi akan sangat berbeda jika ia mendapatkan kesempatan terekspose langsung dengan forum sastra dan bertemu dengan para sastrawan senior di komunitasnya yang tepat. 

Demikianlah ceritanya saya membawa anak saya ikut ke Loksado. Ia sendiri setuju, walaupun ketika diawal ia mau karena tertarik melihat foto orang bermain rakit di sungai Amandit. 

1. Paparan Sastra

Sejak tiba di Bandara Sorkarno-Hatta di Jakarta, anak saya mulai berkenalan dan diterima dengan baik oleh para sastrawan senior yang kebetulan berangkat satu pesawat dengan kami subuh itu. Gap usia yang cukup jauh syukurnya tidak membuat anak saya terasing. Ia kelihatan biasa saja. Bahkan terlihat berusaha ngobrol dan bergaul. Saya cukup lega. Setidaknya ia bisa membawa diri. 

Antologi puisi. Dari Loksado Untuk Indonesia.

Berikutnya, ketika panitya membagikan buku Antologi puisi. Ia melihat sepintas lalu mulai membaca puisi puisi yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ditanya cukup satu buku baca gantian dengan mama, anak saya ingin memiliki buku Antologi puisi itu sendiri. Dan.. ia serius membacanya. Nah..kini saya tahu minimal ia suka. 

Yang lebih penting adalah, karena ini adalah sebuah forum sastra, tentu banyak sekali diskusi dan pembahasan tentang puisi dan karya sastra lain sepanjang acara itu, baik yang formal maupun yang tidak formal. Ia juga mendengar tentang Haiku. Tentang Senryu . Dan tentang format format karya sastra yang lain.  Hal ini tentu menambah khasanah, wawasan dan cara pandang anak saya terhadap karya karya sastra. 

Baca puisi di Loksado Writers & Adventure 2017.

Di forum itu, anak saya juga terekspose dengan pembacaan puisi dengan berbagai gaya yang dilakukan oleh para sastrawan yang hadir di sana. Bisa saya pastikan ini sangat menginspirasi anak saya. Bagaimana membacakan puisi dengan baik, bagaimana berdeklamasi dan bahkan belajar memahami bahwa karya sastra pun bisa berfusi dengan karya seni lain seperti vokal, seni gerak tubuh dan sebagainya. Anak saya terlihat sangat terkesan misalnya saat seniman Isuur Loeweng berkolaborasi dengan Bagan Topenk Dayak membawakan sebuah puisi dengan luar biasa mengesankannya. Tak habis habisnya kami membicarajan dan memujinya. 

Hal lain yang ia pelajari adalah, bahwa puisi tidak hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai sekedar karya sastra yang indah saja, tapi sangat mungkin menjadi media penyalur pesan sosial dan aspirasi masyarakat yang selama ini mungkin buntu atau terpinggirkan. Terlebih ketika ia juga ikut diajak berkunjung dan berbaur dengan masyarakat setempat, dengan sendirinya ia pun belajar. Melihat, mendengar dan menangkap fakta untuk kemudian ia proses dalam alam pikir dan jiwanya untuk kemudian ia sambungkan sendiri dengan puisi. 

2. Pengalaman Sastra

Pak HE Benyamin, sang motivator.

Adalah HE Benyamin, sastrawan Kalimantan Selatan yang berhasil menyentil keberanian anak saya untuk tampil membaca puisi di panggung forum itu. Awalnya saya bujuk -bujuk tidak mau. Tetapi berkat kalimat-kalimat motivasi Pak HE Benyamin yang menyihir, eeh….. anak saya nekat maju ke panggung. Sayapun kaget dan terharu. Luar biasa!. Bayangkan! Di hadapan sekian banyak sastrawan dan seniman sastra baik dari Kal Sel maupun dari berbagai daerah Indonesia itu, anak saya berdiri. Membacakan puisi untuk pertama kalinya. Puisi yang juga baru pertama kali ia lihat dan baca.  Judulnya ” Perempuan Dan Kopi Hutan”. Karya Cornelia Endah Wulandari. 

Membacakan puisi Perempuan & Kopi Hutan. Karya Cornelia Endah Wulandari.

Hasilnya?. Saya harus mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak HE Benyamin untuk proses pergulatan keyakinan diri yang dialami anak saya hingga akhirnya berani maju dan bergata di depan panggung. 

Perempuan & Kopi Hutan. Cornelia Endah Wulandari. Foto milik Agustina Thamrin.

Dan tentu saja pastinya buat Mbak Cornelia Endah Wulandari yang puisinya menjadi batu loncatan pertama bagi anak saya untuk menyebur ke dunia sastra. 

3. Tantangan Dan Ujian Sastra

Berhasil membacakan puisi karya HE Benyamin di Minggu Raya Banjar baru. Bersama Pak HE Benyamin.

Tak selesai sampai di sana, bahwa Loksado telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk terekspose dengan dunia sastra dan sekaligus memberi ‘new experience’ baginya. Menjelang kepulangan kami ke daerah mading-masing, teman teman Kalimantan mengajak kami mampir di Minggu Raya. 
Awalnya saya tak mengerti. Karena tempat itu kelihatannya hanya tempat nongkrong-nongkrong saja di tepi jalan dengan suara deru motor yang meraung raung. Ternyata kembali Pak HE Benyamin memberi tantangan kepada kami semua (termasuk anak saya), untuk menguji nyali. Beranikah dan mampukah membaca puisi di tepi jalan? Di tonton orang yang berlalu lalang? Dan diantara suara kendaraan yang menggelegar?. 

Syukurlah, anak saya pun mau mengambil tantangan itu. Mau, bisa dan berani!. Horeeee!. Akhirnya luluslah ia di forum sastra Kalimantan Selatan yang unik itu. Sesuatu hal yang membanggakan tentunya. Bagi dirinya sendiri dan saya sebagai orangtuanya. 

Aku sudah membaca puisi. Minggu raya Banjar baru.

Anak saya mendapatkan pin tanda kelulusan.  Saya juga ikut membaca dan mendapat pin yang sama. 

Buku Antologi Puisi HE Benyamin. Pohon Tanpa Hutan.

Dan juga hadiah buku Antologi Puisi “Pohon Tanpa Hutan” langsung dari Pak HE Benyamin – penulisnya. Aduuuh…senang & bangganya. 
Nah! Untuk segala apa paparan, pengalaman, tantangan dan ujian sastra yang diterima anak saya yang remaja ini, tentunya saya sebagai orangtua sangat berterimakasih kepada semua rekan rekan sastrawan yang hadir baik dari Kalimantan Selatan maupun dari daerah lain, kepada Pak Budhi dan Mbak Agustine serta masyarakat Loksado. 

Sudah menjadi cita cita kita bersama agar Sastra dan penulisan terus berjaya di negeri kita, dan tentunya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memupuk minat dan kecintaan  anak anak dan remaja kita terhadap sastra sejak dini.  Seperti kata pepatah, jika tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya kita perlu meperkenalkannya dengan baik. 

Besar harapan saya, kecintaan anak saya terhadap sastra dan penulisan, kelak semakin meningkat. Jikapun tidak, maka sebagai ibu saya sudah berusaha meletakkan dasar yang sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. 

Salam Sastra. 

Mengenang Sekolahku Tercinta, SD II Kawan Bangli Yang Terbakar. Part 2.

Standard

image

Karena sebelumnya saya bercerita tentang betapa bagusnya kualitas ‘non akademis” di SD II Kawan Bangli yg pada jaman dulu bernama SD III Bangli, lalu ada yang bertanya bagaimana dengan kualitas akademisnya? Ada juga adik kelas yang meminta saya menceritakan tentang guru guru kami pada saat itu.

Inilah pengalaman yang saya alami selama bersekolah di sana.

Menurut saya, sekolah ini memiliki kwalitas akademis yang lumayan bagus jika dibandingkan dengan sekolah dasar yang lain pada saat itu. Sekolah kami juga aktif mengirimkan wakilnya di ajang kompetisi Siswa Teladan, ajang Cerdas Cermat dan ajang kompetisi lainnya bagi anak SD dengan menuai cukup banyak kesuksesan dari tahun ke tahun.

Pun berhasil mencetak alumni dengan kwalitas yang unggul. Tidak sedikit kakak kelas maupun  adik kelas saya yang memiliki prestasi bagus yang diakui di tingkat kabupaten, provinsi bahkan di tingkat nasional. Dan tentunya prestasi itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung oleh kwalitas guru yang handal.

Untuk itu saya ingin mengucapkan terimakasih saya yang amat besar kepada para Ibu dan Bapak Guru yang telah mendidik kami dengan susah payah. Dengan sangat sabar dan tulus. Saya ingin mengenang mereka di sini satu persatu.

Guru saya di kelas 1 dan kelas 2, bernama Ibu Rai. Beliau mengajarkan saya dasar-dasar budi pekerti yang baik. Disiplin yang baik dan taat pada tata tertib yang berlaku. Tubuh dan pakaian yang bersih, rambut yang rapi, kuku yang terpotong pendek dan bersih, masuk dan keluar kelas dengan tertib dan tepat waktu. Beliau juga yang memperkenalkan alphabet latin kepada saya sehingga saya bisa nembaca dan menulis. Dan juga sekaligus mengajarkan saya dasar- dasar aksara Bali ha na ca ra ka. Juga mengajarkan saya dasar-dasar ilmu berhitung, tambah, kurang, kali dan bagi. Beliau adalah seorang guru yang sangat sabar, baik, penuh perhatian namun juga sekaligus tegas dan disiplin.
Pada saat kelas satu saya hanya belajar 2 jam per hari. Mulai belajar pukul 7.00 pagi dan pulang pukul 9.00. Sedangkan saat kelas dua, kami masuk mulai jam 9.00 pagi dan pulang pukul 12.00.
Yang menarik untuk saya ceritakan di sini adalah bahwa pada jaman itu buku tulis/buku kertas belum ada. Jadi kami belajar dan latihan menggunakan batu tulis atau Lai. Sedangkan alat untuk menulisnya adalah Grip. Setiap kali latihan , ibu guru akan mengumpulkan Lai kita. Memberi nilai dengan kapur. Saya sangat senang, karena jika saya betul semua atau nilainya 100, saya akan tempelkan ke pipi saya. Angka 100 atau tanda betul semua itupun menempel di pipi. Lalu saya tunjukkan ke Bapak saya dengan bangga. Bapak saya tentu senang melihat saya selalu mendapat score 100 setiap saat. Setelah akhir kelas 2 atau awal kelas 3 barulah muncul buku kertas dan saya termasuk orang yang beruntung bisa mempelopori penggunaan buku kertas dan pensil di sekolah.

Sekarang kalau dipikir-pikir, belajar dengan lai itu sebenarnya sulit juga. Karena kita hanya punya satu  lai. Apa yang kita catat selalu kita hapus lagi. Tulis- hapus- tulis – hapus. Dibutuhkan otak yang sangat kuat untuk memahami dan menghapalnya – karena catatan itu sudah terhapus. Salut juga sama orang-orang jaman dulu yang sepanjang sekolahnya memakai batu tulis. Daya ingatnya tentu luar biasa.

Jaman itu juga belum banyak murid yang punya sepatu. Ke sekolah kami ya nyeker saja atau paling banter menggunakan sandal jepit. Saya juga punya sepatu. Tapi apa daya, karena sepatu pada jaman dulu adalah barang mewah, saya  hanya menggunakan sepatu saat berada di dalam kelas saja. Saat jam istirahat saya melepas sepatu. Demikian juga jika pulang. Sepatunya saya lepas, saya tenteng atau panggul di punggung saya, sementara saya nyeker ke rumah. Sayang sepatu. ..ha ha.

Suatu kali di hari kenaikan kelas, tidak ada pelajaran hari itu. Jadi saya hanya bermain di halaman sekolah bersama teman-teman. Tentunya dengan melepas sepatu. Tiba-tiba saya dipanggil Ibu Rai. Ooh.. dengan terburu-buru saya masuk ke dalam kelas. Sepatu saya ketinggalan di halaman. Ternyata saya mendapat ranking 3. Ranking pertama diduduki oleh teman saya  Komang Suarsana dan ranking ke dua oleh Putri Paramitha.  Sayapun dipotret dan tentunya…..tanpa sepatu!.

Saya sangat senang. Demikian juga Bapak Ibu saya. Itulah saat  pertama kalinya saya tahu ternyata di kelas itu ada ranking- rankingan. Kalau kita pandai, kita dapat juara. Saya ingin mendapat ranking satu. Tidak mau ranking 3!. Bapak saya tertawa. Kata bapak saya, “Kalau begitu  kamu harus berusaha!”.  Dan sayapun berusaha. Demikianlah di tahun berikutnya ranking saya naik bertahap hingga di kelas 4 akhirnya saya berhasil menduduki ranking pertama. Dan seterusnya hingga saya lulus. Selain itu saya juga senang karena berhasil membawa nama baik sekolah saat harus berkompetisi di ajang Siswa Teladan tingkat SD pada tahun 1976.

Guru kelas III saya bernama Ibu Puji. Ibu Puji adalah ibunda dari teman saya Putri Paramitha. Selain mengajar di kelas, Ibu Puji juga sangat terampil menjahit. Kelas 3 kami mulai belajar full. Dari pukul 7.00 -12.00. Di sini kami mulai belajar ilmu hitung yang lebih rumit. Juga berbahasa Indonesia dengan semakin rapi. Rasanya bangga juga bisa fasih berbahasa Indonesia. Karena jaman itu belum 100% orang di daerah saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan fasih. Namun demikian pelajaran Bahasa Bali juga semakin tinggi levelnya.
Seingat saya, saat di kelas 3 ini pada tahun 1974, dinding sekolah yang tadinya berbahan bedeg mulai diganti dengan dinding tembok secara bertahap.

Guru saya di kelas IV bernama Pak Suta. Beliau merupakan guru favorit saya. Sangat pintar mengajar. Karena beliau, saya bercita-cita ingin menjadi guru. Setiap kali bermain sekolah -sekolahan, saya sering berpura-pura menjadi guru. Membayangkan diri saya menjadi sosok sepintar Pak Suta guru saya.
Saya ingat bagaimana beliau menceritakan sejarah dengan cara yang sangat menarik. Kisah Mpu Gandring, Ken Arok, Tunggul Ametung dan Ken Dedes menjadi sangat menarik dan mudah diingat. Demikian juga kisah Raden Wijaya dan hutan tariknya. Juga semua mata pelajaran yang lain. Agama, Ilmu Bumi, ilmu alam, bahasa dan sebagainya dijelaskan dengan cara yang sangat menarik. Karena menceritakannya sangat menarik, membuat mudah bagi kami untuk mengingat dan menjawab.

Saat di kelas V, metode pembelajaran mulai sedikit berubah. Kami memiliki Guru wali kelas dan juga guru-guru mata pelajaran yang berbeda. Guru wali kelas saya di kelas V adalah seorang jago Matematika. Namanya Pak Banjar. Karena beliau jago, maka kamipun terbawa ikut-ikutan menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang paling menyenangkan.

Dan di kelas 6, kelas terakhir di sekolah itu, guru saya bernama pak Sutapa. Guru yang menurut saya sangat pintar dalam segala bidang,  walaupun terkenal keras dalam menerapkan disiplin kepada muridnya.

Guru guru lain yang juga mengajar pada saat itu tetapi tidak pernah menjadi wali kelas saya adalah Ibu Nengah Cenik, Pak Pegol dan Pak Sudena. Dan tentunya ibu Runih yang merupakan Kepala Sekolah kami.
Doa terbaik untuk para guru saya yang sangat mulia.

Sekarang, jika saya pikir balik, sungguh predikat Teladan sangat layak diberikan kepada sekolah saya itu.  System pendidikannya sangat baik. Menggabungkan materi akademis formal dengan muatan lokal dan nilai nilai kemandirian dan kewirausahaan.
Dengan kondisi perekonomian masyarakat yang tidak begitu baik pada jaman itu, setiap anak telah dibekali dengan ketrampilan yang mudah dilakukan dan mudah dijadikan uang. Sehingga separah-parahnya, jika ada murid yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena alasan ekonomi, terpaksa drop out, si anak sudah siap mencari nafkah dengan ketrampilan yang dimilikinya. Mulai dari mengelola kebun sayur, sawah, beternak kambing, membuat arang, sapu lidi, kemoceng dari bulu ayam, kesetan kaki, taplak meja, sarung bantal dan sebagainya.
Dengan bekal pendidikan mental dan budi pekerti yang sangat kuat, kami yakin kami mampu menghadapi setiap masalah dalam kehidupan yang harus kami jalani. Kami bisa. Kami siap menghadapi hidup dan tidak takut menggadapi kemiskinan. Kami bisa. Dan semua itu karena kwalitas pendidikan dasar yang sangat baik yang kami terima darimu.

Terimakasih guruku. Terimakasih sekolahku. Tak terhingga besarnya jasamu dalam kehidupanku.
Sekolah Dasar adalah tempat dimana seorang anak mendapatkan dasar-dasar pengetahuan dan dasar-dasar nilai kehidupan. Ibarat bangunan, jika fondasinya kuat akan menghasilkan bangunan yang sangat kokoh dan tetap kokoh bahkan pada saat bangunan itu harus menjulang tinggi.

Harapan saya semoga sekolah ini bisa dibangun kembali dengan lebih baik secepatnya, agar anak-anak bisa belajar kembali seperti sedia kala. Sementara waktu barangkali pemerintah membantu mencarikan tempat darurat untuk kegiatan sekolah. Tetap semangat dan jangan patah arang.

Bravo SD II Kawan Bangli!

Mengenang Sekolahku Tercinta, SD II Kawan Bangli Yang Terbakar. Part I.

Standard

image

Saya melihat foto  SD II Kawan, Bangli yang sedang terbakar ludes. Rasanya sangat sedih mengetahui sekolahku dilalap si jago merah. Tidak terbayang bagaimana dan di mana nantinya para murid-murid dan guru akan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar mereka. Walaupun saya juga percaya, pemerintah daerah dan setiap anggota masyarakat akan segera bahu membahu untuk mempercepat pembangunan kembali gedung sekolah ini.

Dulu bernama SD III Bangli.

Waktu saya kecil,sekolah ini bernama SD III Bangli. Barangkali karena jaman itu, sekolah dinamakan sesuai dengan nomor urut berdirinya d alam satu kecamatan, yaitu Kecamatan Bangli. Kebetulan Bangli adalah nama kecamatan sekaligus juga nama kabupaten.  Sekarang ini,sekolah diberi nama sesuai dengan nomor urut Desa tempat sekolah itu berada. Dan karena nama desanya  adalah Kawan, maka jadilah ia bernama SD  II Kawan, Bangli.Tapi apalah artina sebuah nama.Dulu sebelum saya masuk bahkan sekolah ini bernama SR III Bangli (SR= Sekolah Rakyat). Bagi saya, kenangan indah dan pelajaran serta ilmu yang saya timba dari sekolah inilah yang jauh lebih penting artinya.

Sekolah Yang Berdinding Anyaman Bambu.

Saya masuk ke sekolah ini pada bulan January tahun 1972. Saat itu, walau sudah berlantai semen, tetapi sekolah saya masih berdinding Bedeg (Bahasa Bali untuk anyaman bambu). Di setiap dinding tergantung gambar-gambar yang indah. Warnanya hitam putih. Ada berbagai gambar jenis-jenis burung beserta keterangannya. Yang paling saya ingat adalah gambar Burung Srigunting (Black drongo) karena sering saya amat-amati setiap jam istirahat.

Lalu ada lagi tulisan-tulisan  tangan Bapak/Ibu guru kami yang sangat indah yang berisi pepatah dan pesan-pesan baik kepada kami. Beberapa diantaranya masih saya ingat. “Pikir itu Pelita Hati“, mengajarkan kepada kami agar senantiasa menggunakan pemikiran kita dengan sebaik-baiknya setiap saat, agar hati kita tidak gelap gulita. Lalu ada tulisan “Rajin Pangkal Pandai, Hemat Pangkal Kaya” yang mengajarkan kami agar belajar dengan rajin agar cepat pintar.  Atau “Tak Akan Dua Kali Orang Tua Kehilangan Tongkatnya“. yang mengajarkan kami agar berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan masih banyak lagi.Kepala Sekolah kami pada jaman itu bernama Ibu Runih. Di mata saya belaiu adalah sosok yang sangat serius, berwibawa dan sangat disegani. Beliau juga yang memprakarsai berbagai proggram ketrampilan luar biasa bagi anak-anak didiknya, sehingga tidak heran sekolah kami digelari dengan SD Teladan.

Kebun Sayur dan Kotoran Sapi.

Tidak seperti sekolah-sekolah lain yang hanya memfokuskan diri pada pendidikan formal akademis, sekolah kami memberikan pendidikan formal akademis dan praktek kewira-usahaan sekaligus.

Sekolah tidak pernah membiarkan halaman depan dan sampingnya kosong menjadi lahan tidur atau hanya sekedar menjadi kebun bunga. Halaman Sekolah itu dijadikan kebun sayur yang menghasilkan. Setiap kelas memiliki lahannya sendiri-sendiri yang harus diolah. Ada kebun kelas 1. Kebun kelas 2. kebun kelas 3, dan seterusnya. Lalu setiap kelas dibagi menjadi 4 group yang masing-masing mendapat 1/4 lahan dari lahan kelasnya untuk dikelola. Kami diajarkan membibit sayuran. Menanamnya pada hari krida (hari Jumat), menyiramnya setiap hari dan memberinya pupuk kandang seminggu sekali. Tentu saja pupuk kandangnya kami bawa dari rumah. Biasanya kami bawa setiap hari Senin. Hari Minggunya biasanya kami bergerilya ke kandang-kandang sapi untuk meminta seember kotorannya yang sudah kering guna kami bawa ke sekolah. Sayuran yang paling sering kami tanam adalah Bayam, Pitsai (Sawi Putih) dan Kacang Jongkok (Kacang Buncis yang pohonnya pendek, bukan melilit). Saya ingat betul, bibit sayuran Pitsai saat itu baru saja memasuki Indonesia dan kami adalah salah satu yang berhasil membudidayakannya. Sisi  selatan sekolah yang berbatasan dengan Asrama Polisi Bangli juga ditanami dengan tebu, sehingga tetap bisa dipanen dan dijual pada waktunya. Di halaman utara, di depan kantor kepala sekolah, ditanam pohon Markisa Besar, (Giant Granadilla) yang merambat. Buahnya mirip melon kalau matang sangat empuk dan rasanya sangat manis menggiurkan. Bunganya juga cantik berwarna ungu.

Sawah Di Belakang Sekolah.

Di belakang sekolah kami, ada sebuah gang sempit yang bisa menjadi jalan pintas ke rumah saya. Di sebelahnya adalah sawah yang cukup luas milik sekolah kami. Siapa yang mengolah sawah? Kami tentunya. Saya ingat ketika pertama kali belajar menanam padi, menginjakkan kaki di lumpur, malamnya saya tidak bisa tidur. Kaki dan betis saya sangat gatal dan pedih. Sementara tulang punggung saya sakit karena seharian bungkuk menanam anakan padi satu per satu sambil mundur di dalam lumpur. Pengalaman itu membuat saya jadi mengerti betapa beratnya hidup menjadi petani. Karena saya pernah menjalaninya sendiri. Apalagi jika harga gabah anjlok sem.entara harga pupuk  melambung. Makin miris jadinya.

Kambing Peranakan Etawa.

Pada tahun 1974, saat itu saya kelas 3, ada berita baru. Indonesia sedang mengembangkan peternakan kambing. Bibit kambing PE (Peranakan Etawa)memasuki pasar Indonesia termasuk Bali dan Bangli di dalamnya. Sekolah saya tentu tidak mau ketinggalan. Kamipun memelihara kambing. Siapa yang memeliharanya? Kami juga. Setiap hari ada regu yang bertugas, memberi makan kambing dan membersihkan kandangnya. Memberi makan kambing biasanya kami lakukan sore hari sambil bermain-main dengan teman-teman. Kami memotong dahan pohon Dadap atau Berere (karena dua jenis tanaman ini sangat disukai kambing), mengambil sepeda lalu ke sekolah memeberi makan kambing dan sekalian lanjut main sepeda keliling-keliling lapangan Kabupaten. Saya tahu bagaimana caranya beternak kambing.

Kerajinan Pohon Kelapa, dari Arang Batok hingga Kesetan.

Jaman dulu, pohon kelapa sangat banyak tumbuh di tempat kami. Guru-guru mengajarkan bagaimana caranya memanfaatkannya. Kami disuruh membawa tempurung kelapa, atau lidi, atau sabut kelapa dari rumah setiap hari Senin. Untuk apa?
Tempurung kelapa ini nantinya akan dibakar  oleh murid-murid pria di dalam lubang yang dibuat dangkal di dalam tanah dan dijadikan Arang Batok.

Lidi biasanya kami ambil dari limbah para wanita dewasa yang membuat sajen menggunakan busung (janur = daun kelapa yang masih muda warnanya putih) atau selepaan (daun kelapa yang sudah lebih tua, warnanya hijau tua). Biasanya yang diambil hanya daun janurnya saja, sedangkan lidinya dibuang. Nah..daripada dibuang-buang lebih baik kami kumpulkan dan bawa ke sekolah untuk kami jadikan sapu lidi. Kami diajarkan bagaimana caranya membuat Sumpe. (Sumpe = gelang sapu lidi yang terbuat dari anyaman pelepah kelapa.
Kami juga sering meminta sabut kelapa yang menjadi limbah dapur dan dibuang (jaman dulu belum ada santan instant atau mesin parutan kelapa, setiap rumah tangga mengolah kelapanya sendiri, jika ingin masak dengan kelapa/santan). Nah..daripada terbuang percuma, kami minta sabut kelapanya lalu kami bawa ke sungai,getok-getok dengan kayu di atas batu, sehingga tinggal seratnya saja,lalu kami jemur. Hari Senin kami bawa ke  Sekolah untuk diperiksa ibu guru dan dikumpulkan sesuai dengan tingkat gradasi warnanya (kuning muda – coklat kemerahan). Untuk apa? Untuk dipintal oleh murid-murid pria menjadi tali sabut kelapa. Selanjutnya bisa dibuat keset ataupun tali tambang.

Menyulam dan Merenda.

Jika murid-murid pria diajar dan ditugaskan membuat arang dan menganyam kesetan, murid wanita tidak kalah terampilnya. Kami diajarkan menyulam dan merenda. Mulai dari membuat tatakan gelas, membuat bantal kursi, membuat taplak meja, sprei, hingga membuat baju. Kami diajarkan bagaimana menggambar design, bunga-bunga, hewan dan sebagainya untuk  ditimpa dengan kertas karbon di atas kain.Lalu kami mulai menjahit satu per satu dengan stitch-stich yang sesuai. Mulai stitch batang, stitch penuh, stitch silang, feston dan sabagainya. Lalu dibawa kemana semua hasil karya kami itu?.

Koperasi Sekolah Kami.

Kami memiliki koperasi yang mengadakan bazar penjualan dan mengundang para orang tua murid dan masyarakat sekitar setiap tahun pada saat Kesaman (kenaikan kelas). Tentu saja sangat  banyak yang dipamerkan dan dijual di sana. Mulai dari hasil panen, sayur-sayuran, tebu, beras, keset,sapu lidi, arang batok, taplak meja, sarung bantal, sprei, renda dan sebagainya.

Selain bazaar tahunan, sekolah kami juga sering melakukan lelang hasil panen. Saya nggak tahu persis uangnya digunakan untuk apa karena waktu itu saya masih kecil dan tak terpikir soal uang, tapi saya pikir tentu uang itu digunakan untuk meningkatkan fasilitas sekolah, seperti menambah koleksi buku-buku di perpustakaan, menambah modal koperasi sekolah dan lain sebagainya.

Koperasi juga menjual penganan kecil seperti permen dan kue-kue. Dan anak kelas 5 bergiliran bertugas menjadi penjaganya saat jam istirahat. Sekalian belajar berdagang dan menghitung uang. Tidak hanya sampai di sana, pada musim Pekan Olah Raga dan Seni, saat ada murid yang bertanding mewakili sekolah, murid yang lain disuruh datang sebagai supporter atau diajarkan menjajakan dagangan kepada murid-murid sekolah lain yang datang untuk bertanding ataupun menjadi penggembira di laga Porseni itu di lapangan kabupaten.

Sekolah saya benar-benar mengajarkan dan melatih  sejak kecil bagaimana kita harus bekerja  dan beusaha keras jika ingin menghasilkan sesuatu. Dan saya rasakan sangat besar manfaatnya sekarang.

 

Ceritaku Tentang Buku Lagi.

Standard

nimadesriandani - bookMasih dalam rangka membersihkan dan merapikan buku-buku di rak yang sudah penuh dan tumpang tindih.  Walaupun sudah banyak yang tua dan ada pula yang sobek di sana sini, dan walaupun barangkali suatu saat kelak buku-buku cetak akan digantikan dengan buku digital, saya rasa saya akan tetap mencintai buku cetak ini.  Bagaimanapun juga  saya memiliki banyak kenangan indah dengan buku.

Lho?! Kok terbalik?.

Jika musim ulangan, kami anak-anak selalu diharuskan belajar oleh Bapak.Tapi yang namanya anak kecil barangkali ya, tetap saja bandel dan malas kalau disuruh belajar.  Suatu malam Bapak dan Ibu saya lagi ngobrol di belakang. Saya dan adik-adik belajar di kamar. Ada yang duduk di kursi belajar, ada juga yang membaca sambil tiduran. Pokoknya belajarlah. Entah bagaimana asal mulanya, seseorang berinisiatif untuk bermain kartu remi. Kamipun bermain di tempat tidur di bawah selimut dengan buku pelajaran terlempar entah ke mana. Lupakanlah buku sejenak. Kami asyik bermain kartu. Tiba-tiba terdengar langkah kaki Bapak saya akan masuk ke kamar tempat kami belajar. Saya rasa pasti akan memeriksa apakah kami sedang belajar atau tidak. Maka tanpa diperintah saya dan adik-adik langsung mengambil buku masing-masing dan memasang wajah serius seolah-olah sedang membaca. Apes bagi kami, ternyata Si Ketut, adik saya yang nomer empat melakukan kesalahan fatal. Barangkali karena mengambil bukuya tergesa-gesa, ia membaca dalam posisi buku yang terbalik. Judul dibawah, sementara nomer halaman di atas. O o??!. Ketahuan deh!. Berikutnya bisa ditebak, Bapakpun marah-marah kepada kami semua dan memberi nasihat panjang lebar akan betapa pentingnya belajar dengan serius. Ha ha… geli juga mengingat masa itu.

Buku ini aku pinjam. 

Gaya pacaran remaja jaman dulu barangkali berbeda dengan gaya berpacaran remaja jaman sekarang ya. Saya tidak tahu kalau sekarang bagaimana. Tapi kalau dulu  buku merupakan benda penting sebagai penghubung remaja yang pacaran. Mengapa? Karena tidak berani bertemu, boro-boro mengungkapkan perasaan secara langsung, jadilah aktifitas utamanya adalah surat-suratan. Mengekspresikan perasaan, rindu dendam kepada pujaan hati dan sebagainya, semua lewat surat.  Dan surat itu diselipkan di buku dong, biar nggak ketahuan. Buku cetakan atau buku tulis, sama saja. Lalu dititipkan ke salah seorang sahabat agar disampaikan kepada si dia. Oh, betapa maha pentingnya buku pada jaman itu. Mirip lagunya Iwan Fals, “Buku ini aku pinjam, kan kutulis sajak indah, hanya untukmu seorang, tentang mimpi-mimpi  malam…” hua ha ha.. pokoknya romantis habis deh.. Ada yang ngalamin gaya pacaran macam begini juga nggak ya?

Jadi fungsi buku  di sini adalah sebagai mediator.

Maling Doyan Buku?

Ini cerita waktu saya baru saja menikah. Kalau ada yang bilang bahwa rumah tangganya mulai dari bawah. Nah bisa saya pastikan bahwa rumah tangga kami benar-benar mulai dari bawah dalam arti yang sesungguhnya. Ceritanya begini nih…

Saking terpesonanya saya akan pak suami  waktu itu (ehmm! Kok agak batuk ya..), saya nurut saja diajak nikah dan dibawa kabur dari Bali ke Jakarta. Sebagai taggung jawab atas kenekatan itu, kami harus hidup mandiri tanpa support orang tua. Gengsi dong kalau harus ngeluh dan meminta bantuan. Sapa suruh datang Jakarta. Mulailah kami mengontrak rumah kosong tanpa perabot. Karena tak punya tempat tidur, maka kami tidur di lantai beralaskan kasur gulung (nah ini benar-benar rumah tangga yang dimulai dari bawah alias dari lantai).

Apa yang terjadi dengan tidur di lantai? Entah tanah merupakan pengantar suara yang baik atau bukan, setiap suara langkah kaki orang terdengar lebih jelas. Suatu malam saya terbangun karena mendengar suara kaki orang mengendap-endap di dekat jendela rumah kontrakan kami. “Wah! Ada maling” pikir saya. Cepat-cepat saya membangunkan suami saya, “Bangun!. Bangun!Ada maling” kata saya berbisik ketakutan. Tetapi suami saya susah sekali dibangunin. Setelah saya guncang-guncangkan badannya lebih keras lagi, barulah ia bangun dan berkata dengan sangat malasnya “Biarin aja maling masuk. Apa yang mau dicuri dari kita. Wong kita tidak punya apa-apa.” katanya lalu melihat ke sekeliling. “Kecuali…buku!. Kita hanya punya buku.  Memangnya maling doyan buku?” tanya suami saya menunjuk buku lalu tidur lagi tidak perduli pada si Maling saking ngantuknya.Tinggallah saya sendirian. Melihat ke sekeliling. Benar juga kata suami saya. Kami tak punya apa-apa. Yang ada hanya buku. Dan saya belum pernah mendengar ada maling yang doyan mencuri buku.

Seketika saya sadar, ternyata kami memang miskin harta duniawi. Tidak punya harta apa-apa yang menarik pencuri untuk datang.  Tapi di sisi lain saya mendapatkan kesadaran yang baik, bahwa salah satu kekayaan yang tidak bisa dicuri dan tidak menarik untuk dicuri adalah pengetahuan. Seandainyapun bisa dicuri, pengetahuan adalah harta abadi yang tidak akan hilang ataupun berkurang walaupun dibagikan atau bahkan dicuri orang lain. Karena pengetahuan menempel di dalam diri kita.  Selain itu yang mencuri juga belum tentu tertarik untuk mencuri. Jangankan jika pengetahuan itu sudah menempel di dalam diri kita, bahkan jika masih dalam bentuk buku yang belum terbacapun maling kagak doyan.

Bunga-Bunga dan daun Kering.

Bunga KeringSalah satu kegunaan buku bagi saya adalah untuk mengeringkan bunga-bunga dan daun yang indah untuk prakarya, dijadikan prakarya atau kolase dengan goresan pensil/lukisan. Bisa dibuat untuk hiasan kartu ucapan dan sebagainya. Kebetulan kapan hari anak saya yang pengen tahu, penasaran bagaimana caranya membuat bunga kering. Nah salah satu cara yang bisa saya ajarkan adalah dengan cara mem-press-nya di antara halaman buku.  Sangat kebetulan saya punya specimen daun yang saya press sejak tahun  2000, masih awet hingga sekarang. Padahal sudah 15 tahun yang lalu. Padahal tanpa bahan pengawet.

Horeee! Ada yang ditunjukkan ke anak-anak dengan bangga.

Nah itulah sebagian kenangan saya akan buku. Saya yakin teman-teman yang lain juga pasti memiliki kenangan indah akan buku yang bisa diceritakan.

Ceritaku Tentang Buku.

Standard
nimadesriandani-books

nimadesriandani-books

Banyak yang nanya, ngapain aja lo selama liburan? Nggak pernah kasih kabar, nggak update status di grup, nggak juga nulis di blog. He he.. sebenarnya banyak juga sih yang saya lakukan. Liburan dari kantor, ya …berarti menjadi ibu rumah tangga 100% (walaupun sesekali tetap juga nengok-nengok e-mail kantor barangkali ada yang darurat dan harus di-feed back secepatnya). Saya ada di rumah. Banyak kerjaan rumah tentu saja. Mulai dari kerjaan dapur, masakin anak-anak & suami, ngasih makan kucing, bongkar pasang tanaman, hingga berberes-beres. Kalau diceritain satu per satu pasti banyak deh.

Salah satu yang saya lakukan adalah membongkar dan membersihkan rak buku yang ternyata memakan waktu nyaris seharian penuh. Walaupun bukan kutu buku amat, seingat saya, saya  ini memang penyuka buku sejak kecil.  Sejak jaman majalah si Kuncung beredar (ayoo..masih ada yang inget nggak jaman itu?), saya sudah doyan membaca.

Sejak jaman dulu setiap kali  punya sisa uang jajan, selalu saya belikan buku. Sangat jarang uang jajan saya gunakan untuk membeli lipstick atau pakaian.  Buat saya, punya buku lebih penting daripada punya lipstick atau pakaian bagus. Karena buat saya buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Dan saya tertarik kepada orang-orang yang memiliki ‘software’ yang baik. Oleh karenanya saya selalu merasa perlu mengupgrade software saya sendiri agar tak ketinggalan amat.

Kesenangan akan buku itu terus berlanjut hingga saya tinggal di Jakarta. Saya hanya membawa sedikit sekali buku-buku saya dari Bali. Tapi di Jakarta saya mulai lagi membeli buku bacaan yang menarik hati saya satu per satu. Tanpa sadar eh…jumlahnya lumayan banyak juga ya.  Cuma sayangnya buku saya juga banyak tercecer di sana -sini. Ada yang minjam terus nggak dikembalikan. Ada juga yang hilang saat pindah lokasi, beres-beres, bersih-bersih dan sebagainya. Atau saya lupa ketinggalan entah di mana.

Walaupun dengan kondisi yang sudah banyak hilang itu, saat ini  setidaknya di rak saya masih tersimpan sekitar dua ribuan buku. Barangkali tidak seberapa banyak dibanding koleksi teman-teman pencinta buku lainnya. Tapi jika diturunkan dari raknya lumayan juga memenuhi lantai rumah saya yang sempit dan lumayan membuat sulit melangkah lewat.

Karena saya menyukai banyak hal, buku yang saya koleksi juga jenisnya beragam. Ada buku tentang masakan sekitar 90 buah, buku tentang pemasaran sekitar 50-an buah, buku tentang bisnis management dan leadership sekitar 70-an buah, buku tentang pengembangan  diri sekitar 40 -an buah.

Lalu ada cukup banyak buku tentang farmasi dan obat-obatan, kedokteran, ensiklopedia, kedokteran hewan, buku-buku tentang binatang mulai dari buku tentang burung-burung, buku tentang ikan hias, tentang kambing, tentang sapi, tentang ayam, bebek, kambing, kupu-kupu, kuda, anjing, ular,binatang liar dan sebagainya berbagai binatang lainnya.

Lalu ada juga buku tentang tanaman hias, berbagai jenis tanaman bunga, herbal dan khasiatnya, buku-buku berbagai agama dan spiritual. Buku-buku tentang kewanitaan, buku menjahit, merenda, menyulam, kerja tangan wanita dan sebagainya. Lalu ada juga buku-buku perbankan, ekonomi, accounting dan buku-buku tentang hukum,  bahkan hingga kebuku-buku komik, sastra, novel dan sebagainya.

Jaman sekarang saat di mana semua informasi bisa didapatkan secara on-line, apakah memiliki buku masih penting?. Agak terasa galau juga memikirkan jawaban pertanyaan ini.

Saya pikir ke depannya mungkin memang akan semakin banyak orang mencari dan mendapatkan informasi lewat internet. Membeli buku bisa on-line. Membaca buku bisa lewat e-book. Ingin tau tentang apapun tinggal search di Google atau lihat di Wikipedia.  Sangat menakjubkan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan ilmu sedemikian banyak dengan gratis jika kita rajin mencari informasi di dunia Digital. Jadi kembali lagi, apakah buku cetak masih perlu ke depannya?

Agak sulit menjawabnya. Saya sendiri secara pribadi merasa bahwa buku cetak tetap masih perlu, walaupun  takbisa dipungkiri saya juga mendapatkan banyak sekali infornasi dari dunia digital. Setidaknya saya merasa masih tetap merasa perlu menyimpannya.  Ada banyak alasan.

Pertama buku-buku cetak jaman dulu belum tentu semuanya sudah di ‘on-line’kan. Maksud saya walaupun sudah banyak informasi yang bisa kita dapat di internet, tetapi ada juga banyak pengetahuan yang hanya bisa kita temukan di buku cetak tertentu dan belum ada di internet.

Kedua, membaca buku cetak itu sensasinya beda lho!. Kita bisa meraba covernya, membuka halaman demi halamannya,  terus membacanya sambil berbaring hingga mata mengantuk dan kita tertidur pulas. Jadilah itu buku sebagai bantal pengganti. Nah..sensasi seperti itu tidak kita dapatkan jika kita baca buku di internet bukan?Masak mau tidur di atas laptop? he he..

Ketiga, buku cetak juga bisa dipajang.  Terutama bagi ibu rumah tangga macam saya yang nggak punya barang-barang antik atau benda mewah buat dipajang di rumah, buku -buku cetak bisa juga dijadikan penghias ruangan. Nggak apa-apa nggak kelihatan kaya. Karena memang nggak kaya juga sih. Tapi oke juga lah kalau kelihatan agak banyak membaca dikit. Nah..kalau e-book gimana dong mau majangnya? Dicetak dulu?

Keempat,  buat kasih kado. Nah.. terkadang buku cetak juga merupakan pilihan yang bagus buat ngasih kado ke keponakan atau ke sahabat tersayang. Saya banyak juga menerima buku pemberian dari sahabat-sahabat saya. Sebaliknya saya pernah juga memberikan hadiah buku bagi beberapa orang-orang yang saya sayangi.

Kelima, jika punya tempat yang baik, ada gunanya juga membuka perpustakaan kecil buat orang-orang yang kurang mampu membeli buku atau mengakses internet. Membuka keran ilmu pengetahuan bagi orang lain tentu perbuatan yang baik bukan? Ilmu akan mengalir kepada lebih banyak orang. Ilmu yang mengalir akan membuat dunia yang gelap gulita menjadi lebih terang benderang. Oh, itu cita-citaku.

Saya yakin masih banyak lagi kegunaan buku cetak yang lain. Barangkali ada teman yang mau menambahkan?

 

 

Menghadiri Yudicium Keponakan Di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Standard

Beji-20140204-01796Kemarin saya mewakili kakak saya menjadi orang tua untuk menemani keponakan yang yudicium di FE Universitas Indonesia. Kakak saya terlambat datang dari Bali dan baru tiba sore hari. Jadilah saya pagi-pagi berangkat ke Depok agar bisa tiba di sana pukul 08 00 pagi.  Cepat sekali waktu berlalu. Rasanya belum lama saya mengantar keponakan saya ke sini untuk mendaftar  dan ikut masa orientasi. Sekarang kok sudah selesai ya? Cepat juga. Tapi setelah saya hitung-hitung kembali, ternyata memang baru 3.5 tahun.  Ya..memang termasuk cepat lah kalau begitu. Jenjang Sarjana Strata 1, normalnya kan ditempuh selama 4 tahun.

Acaranya sebenarnya menarik. Namun sayang sekali, kami para orangtua ditempatkan di area terpisah dengan mahasiswa yang akan yudicium itu. Walaupun telah disediakan 4 buah layar dimana kami bisa menyaksikan prosesi yudicium itu ‘life’ di layar, tetap saja  terasa kurang mantap jika tidak bisa menyaksikan langsung di ruangan yang sama. Terutama jika kita ingin mengabadikan moment-moment penting di acara itu, jadi tidak bisa.

Akhirnya saya cuma menonton layar dan menyaksikan berjalannya acara serta mendengarkan setiap sambutan  yang diberikan, baik oleh Dekan, perwakilan Ikatan Alumni ataupun perwakilan Orangtua mahasiswa. Ada baiknya juga buat saya menyimak. Sangat jarang saya bisa dapat kesempatan di sini dan mendengar secara langsung pidato-pidato yang diucapkan oleh guru besar di fakultasnya sendiri.  Selain itu, jika berbicara tentang lulusan baru,  tentu saja sebagai karyawan sebuah perusahaan, selama ini sudut pandang saya lebih sebagai penampung lulusan/tenaga kerja baru – bagaimana merekrut, memberikan training, menempatkannya di dalam perusahaan, dan sebagainya. Nah, mendengarkan bagaimana bagian dari civitas akademika dari lembaga yang menyediakan calon-calon tenaga kerja baru berbicara serta memberi wejangan kepada para lulusan barunya, tentu menjadi hal yang menarik untuk saya dengarkan.

The Next Level of Excellence.

Semua orang tahu bahwa selama ini FE UI telah mencetak sarjana-sarjana yang berkwalitas tinggi. Hal itu tentunya tidak terlepas dari upaya dan kerja keras FE UI. Mulai  dari usahanya merekrut siswa siswi terbaik Indonesia yang memang benar-benar excellent dari sekolahnya masing-masing, hingga menyediakan kurikulum dan tata cara pendidikan yang sebaik-baiknya, sehingga keluar sebagai tenaga kerja dengan kwalitas yang sangat baik.Terbukti dengan banyaknya pejabat, akademisi, pengambil-pengambil keputusan  di perusahaan-perusahaan, pakar-pakar maupun praktisi ekonomi yang bagus adalah lulusan FE UI.  Excellent!.  Namun tentu saja FE UI tidak ingin berhenti sampai di sana. Sudah saatnya sekarang FE UI untuk bergerak ke arah “the next level of Excellence”, yakni dengan menyiapkan lulusan yang memiliki basic yang excellent sehingga cepat beradaptasi dengan perubahan apapun yang terjadi di dunia luar sana.  Ke depannya fakultas akan lebih fokus untuk memahami proses, sebagai contoh misalnya lebih tertarik untuk mempelajari mengapa sebuah keputusan diambil, dan bukan pada data-datanya, atau misalnya jika itu berkaitan dengan laporan keungan maka akan lebih memahami mengapa dan kapan  sebuah laporan dibuat, bukan pada bagaimana cara membuat laporan –  demikian dijelaskan oleh Prof Ari Kuncoro, PhD – Dekan Fakultas  Ekonomi UI. Saya pikir shifting focus  seperti ini sangat penting, karena pada kenyataannya di dunia kerja, kita juga tidak mengharapkan karyawan kita hanya statis menjadi ‘do-er’ saja yang sangat ahli melakukannya. Namun lebih dari itu tentunya mengharapkan tenaga kerja yang memahami keseluruhan dan  inti permasalahan dengan lebih baik,  serta peka terhadap dinamika pasar yang terjadi dan mampu  mengantisipasinya dengan sangat baik.

Menjadi Pemain Kehidupan Yang Baik.

Lalu Professor itu pun menceritakan sebuah quote tentang  golf. Di sana disebutkan bahwa Permainan golf itu tidak bisa dimenangkan. Golf hanya bisa dimainkan saja. Jika kita menang dalam permainan golf, itu karena kita bermain dengan bagus. Bukan karena kita nge”beat” lawan kita. Ha ha.! benar juga ya. Untuk memenangkan permainan golf dengan baik, tentu kita harus menjalaninya sendiri.   Demikian juga dengan kehidupan. Jika ingin memahami kehidupan secara hakiki, ya kita harus menjalaninya sendiri dan bermain dengan baik. Bukan dengan cara  nge”beat” kehidupan orang lain. Dan untuk bisa menjalaninya dengan baik, kita perlu memiliki kemampuan bermain yang baik. Ilmu yang kita dapatkan di perguruan tinggi hanyalah basic saja sifatnya. Berikutnya, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya dalam kehidupan kita. Analogi yang sangat baik.

Belajar Seumur Hidup

Sementara itu, Bapak Lorens Manurung, ketua persatuan orangtua mahasiswa memberi wejangan kepada para mahasiswa calon wisudawan/wisudawati  dan sekalian melaporkan kegiatan dan pertanggungjawabannya. Mengutip sebuah quote ” Orang-orang yang berhenti belajar adalah pemilik masa lalu, orang-orang yang terus belajar akan menjadi  pemilik masa depan.”.   Wah.. boleh juga quote itu.  Mengingatkan kita tentang betapa pentingnya belajar dan terus belajar.  Belajar seumur hidup kita. Dan jangan pernah merasa sombong dengan ilmu yang kita miliki. Karena di luar sana masih banyak ilmu yang belum kita kuasai. Jadi jangan pernah berhenti belajar.  Sangat setuju. Dan saya juga berpikir tak mau berhenti belajar.

Jangan Korupsi

Itu adalah beberapa hal menarik diantara yang saya dengar pagi itu. Tentunya masih ada banyak lagi ide-ide dan quote-quote  lain yang menarik, termasuk wejangan perwakilan Iluni tentang  bagaimana menjaga nama baik almamater dan pesan yang sangat baik tentang “JANGAN KORUPSI”. Cara menceritakannya membuat saya tertawa. Sangat benar adanya. Jika kita misalnya korupsi 100 juta rupiah, dan misalnya kita masih punya sisa hidup 60 tahun lagi, maka  uang 100 juta itu jika didepresiasikan selama 60 tahun, sebenarnya sekitar empat ribu lima ratus rupiah sehari. Masa  demi uang yang empat ribu lima ratus itu kita harus menanggung aib selama 60 tahun? Oleh karena itu jangan korupsi. Pesan yang sangat baik. Bukan dengan hanya mengatakan bahasa klise  yang mengambang “Jaga nama baik almamater”, namun dengan sekaligus menunjuk beberapa “perbuatan buruk populer” * yiiih..apalagi ini bahasanya* yang jangan sampai dilakukan. Dan saya tidak tahu, apakah setiap perguruan tinggi selalu mengingatkan hal ini kepada para alumninya?

Demikianlah saya menikmati acara yudicium itu. Walaupun tetap merasa agak kecewa karena tidak bisa melihat langsung acaranya dari ruangan yang sama, dan tidak bisa melihat keponakan saya secara langsung, namun saya cukup terhibur dengan mendengarkan pidato-pidato itu dari layar. Dan tentunya lebih terhibur lagi begitu mendengar nama keponakan saya diumumkan lulus dengan predikat  “Cum Laude”.  Lumayan deh. Lumayan membuat saya bangga sebagai bibinya.

Oh ya..dan tentunya sebagai wakil orang tua, saya juga ingin menyampaikan rasa hormat dan sekaligus mengucapkan terimakasih saya yang sebesar-besarnya kepada Fak Ekonomi Universitas Indonesia yang telah mendidik anak kami dengan baik hingga berhasil menyelesaikan studinya dengan baik pula.

LIGA SAINS SMP PEMBANGUNAN JAYA 2013.

Standard

Liga Sains SMP Pembangunan Jaya 2013

Saya mendapatkan surat pemberitahuan dari sekolah bahwa anak saya Andri terpilih oleh sekolahnya (SMP RICCI II) untuk mengikuti LIGA SAINS SMP PEMBANGUNAN JAYA 2013.  Apa itu? Anak saya menjelaskan bahwa ia akan melakukan Science Presentation dalam bahasa Inggris berkaitan dengan teknologi ramah lingkungan. “Tapi kompetisinya hari Sabtu. Seninnya kan Ulangan Umum, Ma!”kata anak saya. “Nggak apa-apa!Maju aja!” Kata saya mendorong. Lalu saya bertanya, apakah ada anak lain lagi yang dikirim dari sekolahnya? Anak saya menjawab. Ada beberapa kompetisi: Matematika, IPA, Komputer dan Science Presentation yang dibuka untuk murid-murid SMP se Jabodetabek. Jadi dari sekolah mengirim beberapa orang murid. Untuk Science Presentation, sekolah mengirimkan 5 orang. Empat orang adalah kakak –kakak kelasnya di kelas 8. Jadi anak saya sendiri yang dari kelas 7. Berarti nanti, selain harus bertarung dengan murid-murid sekolah lain, ia juga harus bertarung dengan kakak-kakak kelasnya. Read the rest of this entry

Pikir Itu Pelita Hati… Jika Pelita Itu Padam, Gelap Gulitalah Hati Kita.

Standard

Catatan dari Sebuah Dinding Sekolah

 

 


Tadi pagi saya ke sekolah anak saya untuk mengambil rapot. Sambil menunggu giliran berkonsultasi dengan guru atas perkembangan kemampuan akademis anak saya, maka saya melihat-lihat dinding kelas, tulisan dan hiasan-hiasannya. Entah kenapa semua itu membuat pikiran saya melayang ke masa berpuluh puluh tahun silam saat saya masih di bangku Sekolah Dasar.

Pada sebuah dinding kelas saya dulu, terpampang  tulisan tangan  guru saya yang berbunyi  “Pikir Itu Pelita Hati”. Saya masih ingat betapa indahnya tulisan tangan guru saya itu. Dan saya juga masih ingat guru saya menjelaskan kepada saya  bahwa makna dari gurindam tua itu  adalah “ Jika pelita itu padam, maka gelap gulitalah hati kita”. Artinya, setiap kali jika kita ingin melakukan suatu perbuatan, hendaknya kita pikirkan terlebih dahulu dengan matang-matang segala dampak baik dan buruknya, agar kita tidak terjebak dalam perangkap kegelapan.

Mengingat itu, tiba tiba saya terkenang akan semua perjalanan hidup saya sejak saat itu. Banyak hal yang telah saya lakukan. Perbuatan baik dan juga beberapa perbuatan buruk menurut takaran saya. Entah kenapa,  walaupun telah diajarkan dengan sangat baik oleh guru saya, ternyata  saya tak selalu memanfaatkan  gurindam  itu sebagai pertimbangan dalam melakukan sebuah perbuatan. Terkadang ketika saya merasa benar dan yakin, beberapa kali saya hanya mengikuti kata hati saya dan mengabaikan pertimbangan pertimbangan akal sehat yang diberikan teman, saudara atau kerabat di sekitar saya. Walhasil dari  perbuatan saya yang  ‘tidak umum’ itu, terkadang jika beruntung saya merasakan dampak yang positive, namun tak jarang  juga saya merasakan dampak yang negative. Dan saya benar-benar baru menyadari bahwa itu adalah akibat saya tidak menyalakan pelita hati saya, alias tidak mikir matang-matang sebelumnya.

Malam ini, saya memikirkan kalimat itu kembali dengan mata yang berkaca kaca.  Sudah tentu banyak perbuatan yang akan saya lakukan ke depannya. Ada yang telah saya rencanakan dan ada  yang  berupa ide-ide baru yang  akan muncul pada saatnya nanti. Berharap saya akan mampu menyalakan pelita hati saya dengan baik, menyinarinya dengan terang benderang, agar jalan saya tidak tergelincir dalam kegelapan. Biarkanlah saya  berjalan mengikuti kata hati saya yang telah diterangi oleh pikiran yang sehat dan pertimbangan yang baik dan matang.

Malam ini saya sangat merindukan guru sekolah dasar saya itu. Entah dimana sekarang beliau berada, berharap semoga beliau selalu dalam keadaan baik jika masih ada, atau beristirahat dengan baik di sisiNYA jika memang sudah meninggalkan kami semua. Alangkah sedihnya ketika mengingat betapa saya belum sempat mengucapkan sepotongpun kata terimakasih pada beliau.