Tag Archives: Pepatah

Bagai Membeli Apel Dalam Busa.

Standard

Teman teman pembaca tentu tidak asing lagi dengan pepatah, “Bagaikan membeli kucing dalam karung”. Dari luar terdengar suara kucingnya mengeong dengan sangat merdu, sehingga melambungkan impian sang pembeli akan seekor kucing cantik yang bersih, terawat dan menggemaskan. Ketika sudah dibeli dan dibayar, karung dibuka, eh….ternyata yang keluar kucing kotor buruk rupa yang budukan pula kulitnya. Kecewalah pembeli ya?

Itu pula yang terjadi pada saya kemarin sore saat membeli apel di pasar. Saya lihat hamparan buah apel yang merah ranum tampak segar-segar menyembul dari busa styrofoam pembungkusnya. Saya tertarik untuk membeli sekilo. Biasanya jika membeli, saya membuka pembungkus itu satu per satu dan memeriksa isi buahnya dengan teliti. Takut ada yang busuk.

Kemarin pun saya melakukan hal yang sama. Membuka pembungkus buah itu satu persatu.

Nah…sampai di rumah saya baru tahu, ternyata saya telah memilih satu buah apel busuk di antaranya. Lho, kok bisa?

Rupanya saat memeriksa buah apel itu, saya hanya melihat sepintas dan jika kelihatannya oke, langsung saya masukkan ke dalam plastik. Saya kurang teliti dan tidak memutar-mutar buahnya untuk memastikan tidak ada bagian yang cacat ataupun busuk. Dan bagian busuk itu rupanya tersembunyi di bawah, sedangkan saya hanya melihat permukaannya saja dan merasa diri sudah cukup mengamati. Padahal sebetulnya pengamatan saya sama sekali jauh belum cukup. “Saya terburu-buru karena anak saya menunggu” itu jawaban pembenaran saya atas keteledoran saya ini.

Sound familiar? Ya…itu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya bagi ibu rumah tangga dalam merekrut pembantu rumah tangga, bagi calon pekerja dalam melamar masuk ke sebuah perusahaan, bagi perusahaan dalam merekrut karyawannya, bagi calon suami dalam mencari calon istrinya, dan lain sebagainya.

Terutama jika itu menyangkut pemilihan akan hal yang sangat penting artinya dalam perjalanan hidup kita, kita benar-benar harus super teliti dalam melakukan seleksi. Kita mesti luangkan waktu yang cukup untuk itu. Mesti letakkan fokus perhatian kita untuk memeriksa secara menyeluruh segala sesuatu yang seharusnya bisa kita periksa. Periksa lebih jauh lagi jika ada indikasi yang kurang baik.

Begitulah teman-teman, pelajaran kehidupan yang bisa saya petik buat diti saya sendiri dari kasus apel busuk ini.

Selamat menjalani kehidupan dan menetapkan pilihan yang tepat dalam setiap persimpangan jalan ūüėä

Advertisements

Pilih Pilih Bekul, Yang Didapat Buah Bidara.

Standard

Buah Bekul (Bidara) 1Jika kita mendengarkan percakapan orang tua di Bali, terkadang kita mendengar ada pepatah “Pilih pilih bekul, patuh dogen ane bakat” terselip. (terjemahannya: Pilih-pilih buah bekul, sama saja yang didapat).¬† Atau kadang-kadang ¬†pepatahnya ¬†menjadi agak lebih lengkap ” Pilih-pilih bekul, bakat buah bangiang“. (terjemahannya: pilih-pilih buah bekul, yang didapat malah buah bangiang).Kedua pepatah itu mengandung kiasan yang sama yakni ” Terlalu pemilih, toh akhirnya yang didapat sama saja buruknya, atau malah lebih buruk lagi”.

Itu adalah nasihat orang tua, agar kadang-kadang kita jangan terlalu banyak membuang waktu untuk memilih jika yang dipilih kurang lebih sama kwalitasnya. ¬†Toh bedanya tidak terlalu jauh. Konon bekul (buah bekul) itu kurang lebih sama saja satu sama lain, jadi yang manapun yang kita pilih…ya..kurang lebih samalah rasanya. Itulah sebabnya, percuma saja membuang waktu terlalu lama untuk memilih, toh ujung-ujungnya yang didapat sama saja. ¬†Don’t be too picky!

Buah Bekul (Bidara) 2Kadang-kadang bahkan jika kita terlalu ‘picky’ malah bisa saja yang didapat justru buah bangiang, yang lebih buruk lagi dari yang diharapkan.

Saya sudah sangat paham akan maksud pepatah itu sejak kecil. Sehingga jika ada tetua atau kakak yang mengucapkan pepatah itu, saya tidak akan berani lagi membuang-buang waktu untuk memilih. Harus cepat mengambil keputusan. Tanpa ba bi bu lagi, dengan cepat segera ambil satu dan tak berani menoleh atau berpikir lagi.  Namun masalahnya adalah, saya tidak tahu yang manakah yang dimaksud dengan buah bekul atau buah bangiang itu.  Dua duanya saya tidak tahu.Saya belum pernah melihatnya, hingga siang itu di Lagoon BTDC Nusa Dua.

Saat sedang melihat-lihat burung di hutan mangrove di tepi Lagoon, pandangan saya tertumbuk pada sebuah semak mirip pohon apel, namun berduri. Daun dan batangnya mirip apel, demikian juga buahnya. Mirip apel kecil-kecil. Rasanya saya pernah melihat buah sejenis itu dijajakan di pinggir jalan di Hanoi. Ah! Tapi apa mungkin ya, buah yang sama? Saya mencoba menepis rasa sok tahu saya. Lalu sayapun bergumam “ Pohon apa ini ya?“. Saya tidak berhasil mengidentifikasinya.

Buah Bekul (Bidara) 3“Pohon bekul!” kata adik saya. Hah?! Jawaban adik saya membuat saya terperanjat. Bagaimana ia bisa lebih tahu tentang tanaman liar dibanding saya? Agak aneh. Biasanya saya yang lebih tahu. Saya merasa saya lebih penjelajah alam liar dibanding adik saya. “Ya! Tapi itu waktu kita kecil di Bangli. Saya kurang menjelajah waktu kecil. Tapi setelah di Denpasar, saya menjelajah lebih banyak. Dan karena pohon ini lebih banyak hidup di Badung, Kuta, dan sepanjang Jimbaran, jadi saya lebih tahu” kata adik saya. Saya pikir ia ada benarnya juga. ¬†Buktinya ia yakin sekali akan pohon itu. “Kalau gitu bisa dimakan dong buahnya?”tanya saya. ¬† “Bisa. Coba aja!” katanya. “Nggak mau ah! Takut mati” kata saya.

Rasanya agak kurang manis. Sepet dan agak asem. Makanya ada pepatah ‘pilih-pilih bekul’. Yang manapun yang dipilih ya..rasanya tetap begini. Mau yang muda tau yang tua , rasanya mirip-miriplah” katanya. Adik sayapun memetik ¬†sebuah lalu menggigitnya. Saya menunggu,melihat dan memastikan tidak terjadi apa-apa pada adik saya. Melihat ia tenang-tenang saja, akhirnya sayapun ikut memetik sebuah dan memakannya.

Memang benar, rasanya agak asem dan sepet. Lumayan juga sih dimakan di siang hari yang terik. Enaknya mungkin dirujak ya.

Buah Bekul (Bidara) 4Sepulang dari lagoon maka sayapun mulai melakukan searching di internet dan ketemu bahwa buah bekul ini memang umum dimakan. Nama lainnya adalah Chinee Apple, Indian Plum, Jujube  (Ziziphus mauritania). Dan saya baru nyadar,banyak juga buah bekul yang dikeringkan dijual di negara negara lain dan kadang-kadang saya memang memakan dan membelinya. Tapi asli, saya sungguh tidak tahu namanya sebelumnya. Paling banter ada pedagang  yang pernah bilang itu  small plum. Dan rupanya bahasa Indonesianya adalah Bidara. Ya ampuuun! Saya sering mendengar nama Bidara, tapi malah tidak tahu kalau pohon Bekul itu sama dengan pohon Bidara.

Nah, sekarang  setelah melihat sendiri pohonnya dan juga mendapatkan informasi dari adik saya dan  Wiki, bertambahlah pengetahuan saya hari ini.

Pilih pilih buah Bekul, eeh..ketemunya buah Bidara!.  Sama saja!.

 

Kisah Buku Agenda Baru: Hangat-Hangat Tahi Ayam.

Standard

Andani-Buku AgendaPernah suatu kali saya sedang duduk di studio menunggu pengerjaan sebuah iklan. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu sang operator merampungkan pekerjaannya untuk kami komentari berikutnya. Karena prosesnya cukup panjang maka saya dan teman-teman memutuskan untuk mengisi waktu luang dengan mendiskusikan project yang lain saja. Daripada bengong. Maka kami pun menarik kursi dan merapat ke sebuah meja panjang. Seorang rekan kelihatan mengeluarkan buku catatannya (buku agenda), untuk mencatat hasil diskusi kami yang akan dijadikan patokan untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya. Saya sempat melirik sebentar ke buku agenda yang cantik itu. Read the rest of this entry

Di Atas Langit Selalu Ada Langit.

Standard

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki seorang pemasar di team saya yang bukan saja sangat handal, namun juga sangat cerdas, rajin,  baik hati, humoris dan pintar bergaul.  Sebut saja namanya si A. Tentu saja saya bangga pernah menjadi atasannya. Jika saya disuruh menunjukkan kekurangannya, rasanya  satu-satunya hal yang bisa saya temukan adalah tulisan tangannya yang  jelek. Besar-besar, tidak rapi  dan tidak beraturan, selalu melebihi batas space yang harusnya diisi dan tampilan tulisannya selalu buruk. Read the rest of this entry