Tag Archives: perahu

Mendayung Melawan Arus

Standard

BerperahuMelihat orang bermain perahu di tengah danau sungguh mengasyikkan.  Anak saya yang kecil  ingin ikut mencoba berperahu. Mendayung sendiri. Saya mengiyakan dan segera mencari informasi mengenai biaya naik perahu. “Tujuh ribu rupiah per orang” kata tukang perahu. Nanti tukang perahu akan membantu mendayungkan.  Saya setuju.

Anak saya ingin mendayung sendiri.  Iapun segera berlari masuk ke perahu dan mengambil dayung.  Saya ikut masuk ke dalam perahu dan mengambil dayung lain yang tersedia di sana.

Memngambil posisi di sebelah kanan dan mulai menggerakkan dayung dari  rah depan ke belakang. Anak saya duduk di sebelah kiri dan mengikuti gerakan saya dengan  menggerakkan dayungnya dari depan ke belakang.

Row  row  row your boat, gently down the stream….. merrely merrely merrely merrely , life is but a dream!”.

Huuuuahhh alangkah indahnya hari!. Pagi hari yang menyenangkan. Sinar matahari yang hangat memantul di atas permukaan air danau. Perahu bergerak ke depan dengan mudah. Saya menggerakkan dayung dengan lebih semangat lagi, anak saya mengikut. Tujuan kami adalah berperahu mengelilingi danau yang luasnya kurang lebih 11 hektar itu. Pertama kami mengarah ke ujung danau di seberang, di mana terdapat pintu air yang mirip jembatan.  Mendayung terasa sangat mudah. Perahu bergerak cepat.  Anak saya sangat senang.  Saya melihat kegembiraan yang meluap di wajahnya.

Tak lama kemudian kami  berada di ujung danau di dekat pintu air itu, lalu membelokkan arah perahu sedikit untuk menyusuri tepi danau ke arah yang menjauh dari pintu air itu. Saya berharap agar bisa menemukan burung air liar di sekitar tempat itu, Sayang  tak seekorpun tampak. Sempat terdengar suara Burung Raja Udang, namun binatangnya entah di mana.

Ada sebah benda mengambang di permukaan danau tak jauh dari posisi perahu kami.”Apa itu?“tanya anak saya. Saya melihat. Agak silau. Ooh rupanya sekumpulan daun-daun teratai yang berwarna hijau kecoklatan sedikit ungu.  Menurut tukang perahu, itu adalah teratai gunung yang banyak diburu orang untuk diambil sebagai bahan obat.  Dulunya banyak tumbuh di sekitar situ. Tapi sekarang sudah nyaris hilang. Ooh.. saya manggut-manggut mendengar cerita itu.    Sayang juga kalau sampai punah. Penasaran pengen melihat bunganya. Sayang jaraknya agak jauh, saya tidak bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dan memang sedang tidak ada bunganya.

Kami mendayung lagi  dan mendayung lagi. Perahu membelok menuju ke tempat pemberangkatan kami tadi.  Bergerak melambat. Dayung terasa sedikit lebih berat. Anak saya rupanya menyadari itu,lalu bertanya. ” Lho?! Kok perahunya tambah lambat?” tanyanya terheran-heran. Mungkin ia merasakan dayungnya tambah berat,sementara perahu melaju tidak secepat sebelumnya. Itu karena kita mendayung melawan arus air danau” kata saya.  Wajahnya kelihatan menunggu penjelasan lebih jauh. Sambil terus mendayung, dengan senang hati, sayapun mulai mendongeng kepada anak saya.

Ketika air mengalir menuju suatu tempat lain  yang umumnya berada di tempat yang lebih rendah, maka akan terjadi pergerakan. “Gerakan-gerakan itu disebut dengan Arus. Arus air! ” kata saya. Jika airnya banyak, maka gerakannya pun semakin kencang dan disebut bahwa ” arusnya  semakin kencang”. Jika air yang mengalir sedikit, maka arusnya pun mengecil. Selain itu, arus air juga ditentukan oleh permukaan tempat ia mengalir. Semakin miring, semakin mudah ia meluncur. Maka arusnyapun semakin kencang. ” Seperti yang terjadi di danau ini. Air bergerak dari tempat kita tadi naik perahu menuju ke pintu air di sana. Jadi arusnya mengarah ke sana.” kata saya menunjuk pintu air.

Saya lalu menjelaskan, bahwa arus ini memiliki tenaga dorong yang besar menuju tempat ia mengalir. Jika ada benda-benda yang berada di air, maka dengan sendirinya benda itu  akan  ikut terdorong oleh tenaga air itu ke arah yang sama. “Demikian juga perahu ini. Sebenarnya sejak tadi ia didorong oleh arus air. Itulah sebabnya ketika kita mendayung ke arah pintu air, kita merasa dayungnya sangat ringan.Sedikit saja kita mendayung, maka perahu akan bergerak dengan cepat. karena bantuan dorongan air”. Anak saya manggut-manggut. Setuju dengan apa yang saya ceritakan.  Perahu yang bergerak seiring dengan arus, akan bergerak dengan sangat mudah dan cepat.

Sebaliknya perahu yang bergerak melawan arus akan bergerak lambat dan lebih susah. Membutuhkan energy untuk bisa melawan arus. Semakin besar  arus yang harus kita lawan, maka semakin besar pula energy yang kita butuhkan untuk mendayung. Jika energy kita lebih lemah dari arus, maka perahu akan bergerak lambat atau tidak bergerak sama sekali. Bahkan jika kita sangat lemah sekali, bisa-bisa  kita akan terseret dibawa arus. “Jadi kita harus mendayung dengan lebih kuat lagi” ajak saya kepada anak saya.

Sambil berkata demikian kepada anak saya, sayapun  berpikir-pikir . Bukankah dalam kehidupan sehari- hari juga begitu? Tak ada yang salah atau benar soal arus. Memilih menjalankan kehidupan  seiring dengan  arus  ataupun sebaliknya melawan arus, adalah hak kita. Namun yang jelas, kita perlu menyadari dan waspada. Bahwa berjalan melawan arus,  membutuhkan energy yang lebih banyak ketimbang dengan jika kita memilih berjalan seiring dengan arus.

Selamat mendayung biduk kehidupan!

 

 

 

Kisah Petualangan: Menggelandang Ke Maldives III.

Standard

Kami berada di dalam speedboat yang akan mengantar kami ke Maafushi. Kapal disetir oleh Musa. Dan ditemani oleh Ali.  Kemanapun mata memandang, yang ada adalah laut dan hanya sedikit daratan kecil-kecil. Langit cukup cerah. Matahari tetap bersinar, walaupun ada sedikit mendung menggelantung di langit. Perahu bermotor itupun bergerak melaju membelah gelombang air laut.

Gelombang Laut Yang Meningkat.

Saya duduk di belakang. Awalnya saya cukup menikmatinya. Beberapa saat kemudian terasa oleh saya  gelombang semakin lama semakin besar. Terutama setiap kali kami harus melintasi jejak  kapal lain yang lewat sebelum kami. Gelombang laut terasa membesar dan mengguncang  perahu.  Gujrak! Gujrak! Gujrak! Musa meningkatkan kecepatan perahu. Saya semakin  merasakan gerakan perahu yang semakin kencang. Ombak yang membesar. Ooh, sekarang saya mulai menyadari bahwa kami berada  di tengah Samudera Hindia yang luas dan lepas tanpa akhir. Di dalam sebuah speedboat kecil, yang hanya berupa setitik debu kecil tak bermakna di tengah luasnya samudera ini. Entah kenapa, perasaan saya menjadi tidak enak. Oh, jika speedboat ini sampai terbalik bagaimana?  Saya bukan perenang yang baik.Jika misalnya terjadi yang terburuk, bisa-bisa saya akan terdampar di Kutub Selatan. Memikirkan itu, denyut nadi saya meningkat drastis dan rasanya kepala saya jadi pusing. Saya lalu meminta tolong agar Musa menurunkan kecepatannya. Ali melihat ke arah saya berkali-kali. Read the rest of this entry

Nelayan Di Pantai Senggigi, Lombok.

Standard

Setelah melepaskan segala kepenatan selama acara kantor berlangsung  kemarinnya, saya menikmati  pagi hari yang berangin dengan berjalan-jalan di tepi pantai Senggigi. Pantai berpasir putih dengan laut yang biru jernih serta matahari  yang hangat membuat kehidupan terasa sangat menyenangkan di tepi  pantai  barat pulau Lombok itu.  Pandangan saya terpusat pada sebuah perahu kecil  yang bergerak  mendekati garis pantai.  Seorang lelaki muda tampak berada di dalam perahu yang layarnya tergulung itu.  Sang nelayan pulang ! Pulang dari melaut. Read the rest of this entry