Tag Archives: Perjalanan

I’m Leaving On A Jet Plane…

Standard

???????????????????????????????Kecelakaan pesawat terbang yang berturut-turut dalam waktu yang tak terlalu jauh membawa kedukaan yang mendalam di hati kita semua. Tidak itu saja, kecelakaan itu juga membuat hati kita ketar ketir khawatir setiap kali memikirkan harus bepergian. Demikianlah yang terjadi pada anak saya. Ketika saya mengabarkan bahwa saya akan pergi sebentar ke Malaysia untuk urusan kantor, tiba-tiba anak saya yang kecil membelalak kaget, seperti tersetrum aliran listrik.  “Tidakkkk! Mama nggak boleh pergiiiii!“katanya histeris sambil memeluk saya. “Mengapa?” tanya saya heran.

Tentu saja heran, karena ini bukanlah perjalanan saya pertama kali. Bepergian seperti ini sudah menjadi bagian dari tugas rutin di kantor saya. Secara berkala saya memang harus bepergian dan meninggalkannya di rumah untuk beberapa hari. Ia biasa ditinggal. Jadi seharusnya sudah tidak kaget lagi. Tapi kali ini ia benar-benar histeris. Rupanya berita tentang kecelakaan pesawat itu benar-benar membawa trauma dan menghantui pikirannya. Ia tidak mau naik pesawat, bahkan ketika liburan pun ia tidak mau diajak pulang ke Bali hanya gara-gara takut naik pesawat. Padahal sebelumnya ia sangat suka diajak bepergian dan menikmati jika diajak naik pesawat terbang.

Malam harinya, sebelum saya berangkat. Ia minta saya menemaninya tidur. Ia memeluk saya erat-erat. Matanya berkaca-kaca dan memohon dengan amat sangat supaya saya jangan pergi. Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan?. Saya jadi ikut terbawa perasaan. Sebenarnya jauh di dalam hati saya juga tidak ingin bepergian. Takut juga. Tapi tentu saja saya tidak bisa begitu. Saya bekerja sebagai professional dan dibayar untuk itu. Tentu saja saya harus melakukan tugas kantor, memenuhi  tanggung jawab dan kewajiban saya secara professional juga. Masak saya harus menolak pergi hanya karena dirundung kekhawatiran. Tidak bisa begitu. Saya mencoba menjelaskan hal itu kepada anak saya.Ia mengerti. Tapi penjelasannya saya tampaknya tidak membantu meredakan ketakutannya barang sedikitpun. Ia bahkan semakin memperat pelukannya. Menciumi pipi saya berkali-kali. Saya sungguh tidak berdaya, apa yang harus saya katakan kepada anak saya untuk membujuknya dan menghilangkan rasa khawatirnya.

Akhirnya saya usap-usap punggungnya dan mengajaknya berdoa agar apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. Setelahnya ia memejamkan matanya. Tapi saya tahu ia tidak tidur. Pasti pikirannya berkelana kemana-mana. Tangannya masih erat memeluk tubuh saya. Saya menyadari betapa ia mencintai  dan sangat takut kehilangan saya, ibunya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajaknya berbicara tentang kematian. Mungkin terlalu dini untuk usianya yang masih sangat belia. Tapi saya pikir tidak ada salahnya saya ajak berbicara sekarang.

Bahwa menurut saya, kematian itu adalah sebuah keniscayaan. Semua mahlukyang hidup, pada suatu saat pasti akan mati. Karena kematian sesungguhnya hanyalah sebuah phase dari lingkaran kehidupan.  Lahir, tumbuh dan berkembang, menjadi dewasa, kemudian tua dan mati. Semua mahluk mengalaminya. Lihatlah kupu-kupu, dari telor, lalu menjadi ulat, kemudian berubah menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu untuk hidup hanya beberapa hari kemudian pasti mati. Demikian juga binatang-binatang lain. Juga dedaunan. Bernas, lalu tumbuh menjadi daun muda yang berwarna hijau muda, semakin tumbuh semakin hijau, lalu layu dan menguning layu, kemudian mati dan lepas diterbangkan angin dan jatuh ke tanah menjadi humus. Demikian juga bunga-bunga dan sebagainya.Semuanya tidak ada yang luput dari tahapan kehidupan. Dan kematian adalah salah satu tahapannya. Anak saya mendengarkan dengan cermat apa yang saya katakan. Namun ia tidak berkata sepatahpun.

Kematian bisa menghampiri seseorang di manapun dan kapanpun.Tidak ada yang pernah tahu. Kematian bisa terjadi di udara, di laut ,di darat, di jalanan, di kantor, di sekolah, di rumah atau bahkan di tempat tidurpun. Ia bisa datang saat kita sakit, saat kita bepergian, saat kita sedang bersantai, saat kita tersedak.  Kalau maut memang menghampiri, ia bahkan bisa datang saat kita tertidur nyenyak. “Jadi, kalau memang kematian itu harus datang, ia akan datang. Tidak menunggu kita  untuk naik ke pesawat tertentu dengan tujuan tertentu. Nah..sekarang tidurlah.  Yakinlah mama akan selamat ke tempat tujuan juga saat pulang lagi ke rumah” kata saya mengakhiri. Anak saya mengangguk. Mencium pipi saya lalu memejamkan matanya kembali. Kini ia benar-benar tertidur.

Keesokan harinya, di perjalanan, pesawat yang saya tumpangi memang mengalami sedikit goncangan akibat cuaca yang kurang bersahabat. Mendung, hujan dan angin memang sedang merajalela. Tidak ada yang bisa saya lakukan, selain hanya memasrahkan diri dan berdoa. Dari ketinggian 11 500 meter, saya terkenang akan anak saya. Saya ingin kembali pulang ke tanah air dengan selamat, demi anak saya yang menunggu saya dengan penuh cinta. Begitu pesawat mendarat, saya segera turun dari pesawat dan berpamitan pada pramugari di  dekat pintu yang tersenyum ramah kepada saya.

Melihat senyum pramugari itu, sesuatu terasa melintas di kepala saya. Oh…kekhawatiran anak dan keluarga saya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan kekhawatiran dari keluarga pramugari ini yang memang tugasnya setiap hari di udara. Bagaimana rasanya jika saya harus bertugas di atas pesawat setiap saat? Saya tak bisa membayangkannya.  Saya benar-benar hormat dan salut atas keberanian dan ketabahan para pramugara, pramugari dan pilot beserta seluruh crew udara ini.

Lagunya Chantal Kraviazuk seolah terdengar berputar di telinga saya:

“Cause I’m leaving on a jet plane. I don’t know when I’ll be back again. Oh, babe, I hate to go….”

Buru buru saya menghubungi suami, agar memberitahukan kepada anak saya bahwa saya sudah tiba dengan selamat di tempat tujuan. Barangkali bisa membuatnya lebih tenang dan senang.

Mengenal Alam Pedesaan Di Pedalaman India.

Standard

Selama beberapa hari saya berada di Camp Pegasus yang jika saya lihat di Google Map berada di daerah yang bernama Vassanthanahalli, dekat desa Kallukote, di wilayah Karnataka, India.  Tempat dan kegiatan yang sangat menyenangkan. Berada di atas tanah yang cukup luas dan penuh dengan pepohonan.  Saya melihat ada pohon asam, sawo, ceremai, jambu biji, banyak pohon jati dan sebagainya ditanam di tempat itu.  Sangat teduh.Sementara di bawahnya di tanam berbagai macam sayuran, seperti kubis,tomat, terong dan sebagainya. Mengingatkan saya akan masa kecil saat aktif di Pramuka, melakukan camping, tidur di tenda, makan dengan beralaskan daun dan sebagainya. Benar-benar kehidupan yang sangat dekat dengan alam.

Ini adalah tenda dimana saya tidur selama berada di sana.

Ini adalah tenda dimana saya tidur selama berada di sana.

Mungkin karena kesenangan saya akan alam, maka saya memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di sela-sela kesibukan untuk menikmati alam sekitarnya.  Demikian juga sore itu.  Dua orang teman India saya  mengajak berjalan-jalan keluar Camp. “Dani! jalan-jalan yuk! ” ajaknya begitu melihat saya usai dengan kegiatan saya sore itu.  Sayapun segera menyimpan alat-alat tulis saya dan mengambil kamera saku di tenda lalu segera berlari ke arah teman saya itu. “Kemana?” tanya saya. “Kemanapun kamu mau, akan kuantar” kata teman saya itu. Yes!! teman yang sangat baik!. Sayapun mengutarakan keinginanan saya untuk pergi ke danau. “Iwant to take some pictures” kata saya. Teman saya setuju. Mendengar itu, dua orang teman saya yang berkebangsaan Inggris pun mau ikut juga. Maka berangkatlah kami berlima menuju danau.

Tanah ladang yang berwarna merah sehabis di olah dan siap untuk ditanami kembali.

Tanah ladang yang berwarna merah sehabis di olah dan siap untuk ditanami kembali.

Perjalanan ke danau cuma makan beberapa puluh menit. Melewati ladang-ladang penduduk . Banyak tanah ladang yang terbuka dan kelihatannya baru habis diolah dan siap ditanami kembali. Tanahnya yang merah terlihat sangat indah diterpa matahari sore yang hangat. Sambil berjalan, saya melihat-lihat ke kiri dan kanan.

Suara burung terdengar riuh sekali bercericit dan berkicau dari arah semak-semak. Burung-burung  Pipit Benggala (Amandava amandava) yang sangat banyak populasinya.  Masih sekeluarga dengan pipit di tempat kita, namun warnanya merah  dengan bintik-bintik yang indah.  Sayang saya tak membawa kamera yang baik untuk menangkap gambar burung-burung itu. Juga banyak sekali burung Gagak di sana. Ukurannya sangat besar. Saya pikir burung-burung itu lebih besar dari ukuran tubuh seekor kucing. Membuat saya berpikir keras, apakah burung ini termasuk Raven atau Crow?  Bulunya yang  kusam dan paruhnya yang agak pendek membuat saya berpikir bahwa itu adalah gagak Crow. Sedangkan ukuran badannya yang sedemikian besar membuat saya berpikir bahwa itu adalah gagak Raven. Di Indonesia, baik Raven maupun Crow keduanya disebut dengan Gagak. Juga sangat jinak. Suaranya berkaok-kaok, hinggap di pepohonan, di tiang bahkan di tanah tanpa memperdulikan orang yang lewat. Barangkali karena tak pernah diganggu manusia, sehingga burung-burung itu merasa aman , tentram dan damai tanpa terusik.

Burung gagak berukuran besar sedang bertengger di atas batu pagar camp

Burung gagak berukuran besar sedang bertengger di atas batu pagar camp

Selain melihat-lihat burung,saya juga sekalian melihat bunga-bunga liar yang tumbuh di kiri kanan ladang. Banyak sekali. Salah satu yang membuat saya terkejut kegirangan, di sana saya menemukan pohon Kayu Tiblun. Dulu waktu saya kecil, bunga Tiblun ini selalu ada setiap hari raya Galungan. Bersama-sama dengan Bunga Padang Kasna (Edelweiss), bunga Tiblun selalu menjadi pertanda datangnya hari raya di Bali. Sudah lama saya tidak melihat bunga itu lagi di pasaran, tergantikan dengan bunga-bunga yang dibudidayakan manusia. Sehingga pernah berpikir jangan-jangan tanaman Kayu Tiblun itu sudah punah. Namun kali ini tiba-tiba saja tanaman itu ada di depan mata saya dan sedang berbunga pula.  Alangkah girangnya!.

Pohon Kayu Tiblun yang sedang berbunga

Pohon Kayu Tiblun yang sedang berbunga

Yang menarik hati lagi adalah lapisan batu-batu tua dari jaman precambrium yang sangat banyak yang mencuat ke permukaan tanah.  Sangat mencengangkan, karena area area yang terbuka yang tadinya saya pikir tanah tandus yang tak bisa ditanami ternyata setelah saya dekati adalah hamparan batu  besar yang sangat luas. Seringkali sama luasnya dengan ladang. Oh,pantas saja tak ada tanaman yang tumbuh diatasnya.

Tanah itu ternyata adalah batu yang sangat luas dari jaman precambium.

Tanah itu ternyata adalah batu yang sangat luas dari jaman precambium.

Namun demikian, di sela-sela lapisan batu-batu itu, selalu ada sedikit lapisan tanah yang cukup subur bagi peladang walaupun lapisannya sangatlah tipis dibanding luasnya lapisan batu yang ada di situ. Penduduk memanfaatkannya untuk untuk bertanam bawang putih, kentang, jagung, kacang dan sebagainya.  Sangat hijau dan subur.

Ladang bawang putih yang mengingatkan saya akan kampung halaman saya, desa Songan di tepi danau Batur Kintamani di Bali.

Ladang bawang putih yang mengingatkan saya akan kampung halaman saya, desa Songan di tepi danau Batur Kintamani di Bali.

Kami terus berjalan. Akhirnya mencapai sebuah persimpangan. beberapa orang penduduk terlihat berjalan pulang dari ladang. Ada seorang wanita yang menggiring sapinya yang terlihat kurus agak kurang makan. Saya sempat bertanya, untuk apa penduduk memelihara sapi,bukankah sebagian besar penduduk India tidak mengkonsumsi daging sapi? jawabannya adalah untuk membantu mereka bekerja di ladang dan diperah susunya. Teman saya yang bisa berbahasa setempat menanyakan dimana letak danau. kamipun diberi petujuk jalan yang tersingkat. Sungguh sangat beruntung memiliki teman yang mengerti, sehingga saya merasa sangat aman bersamanya dan tidak khawatir tresesat.

Danau di Vassanthanahalli

Akhirnya kami berbelok, tidak lagi mengikuti jalanan kampung itu, tapi masuk dan berjalan di pinggir ladang yang baru saja ditanami kacang.  Danau tampak kecil. Saya pikir debit airnya kurang karena kemarau yang panjang.  Namun rupanya saya hanya melihat sebagian kecil saja dari sisi barat danau itu.  Saya dan teman-teman turun ke danau. Banyak kerang air tawar  bertebaran di pantainya. Sayapun mengambil beberapa gambar.  Hari semakin sore. Matahari perlahan lahan tenggelam dan danau itupun  menjadi gelap.

Danau kecil di Vassanthanahalli

Danau kecil di Vassanthanahalli

Kamipun kembali pulang ke Camp. kembali menyusuri jalan setapak dan ladang-ladang yang sekarang telah gelap. Merekam semua ini ke dalam ingatan saya dan mengenang teman-teman yang bersama saya dalam perjalanan ini. Kebersamaan yang indah.

 

Liburan!. Mengajak Anak Bepergian.

Standard

bepergian dengan anakMusim liburan sekolah! Sebagian ada yang sudah mulai sejak pertengahan Juni, dan sebagian lagi ada yang baru mulai belakangan.  Kita para orangtua, tentu ada juga  yang ingin ikut mengambil cuti agar bisa menikmati waktu yang lebih optimal bersama anak-anak. Ada yang menghabiskan waktu di rumah, namun ada juga yang merencanakan  liburan di luar kota. Entah pulang kampung ataupun berwisata. Bagi pasangan yang pertama kalinya membawa anak-anak bepergian ke luar kota, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan dan terasa merepotkan.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa saya sampaikan, barangkali  ada gunanya:

1.    Menetapkan Tujuan Berlibur.

Pilih beberapa tempat tujuan berlibur  yang kira-kira menarik dan sesuai budget untuk dinikmati bersama anak-anak, lalu tetapkan satu tujuan yang paling tepat. Diskusikan  dan libatkan anak dalam menetapkan tujuan wisata. Hal ini penting untuk mengurangi kerewelan anak selama di perjalanan, karena tempat  wisata yang dituju adalah pilihan atau atas persetujuan mereka juga. Dengan sendirinya jika ada sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi selama liburan, anak-anak akan lebih bisa menerima, ketimbang jika tujuan wisata itu ditetapkan sendiri oleh orangtua.

2.    Ticket Dan Reservasi Hotel.

Bebeapa perjalanan bisa ditempuh lewat jalur darat, entah dengan kendaraan roda dua, roda empat atau kereta api, ada yang bisa ditempuh lewat jalur laut ataupun  udara.

  1. Terutama jika menggunakan pesawat udara, rencanakan perjalanan dan book ticket jauh-jauh hari sebelumnya untuk mendapatkan biaya yang termurah.  Book ticket secara on-line juga sangat praktis dilakukan. Jika beruntung, terkadang kita bisa mendapatkan ticket promo yang harganya sangat miring dibanding dengan harga ticket normalnya.
  2. Jika berencana menginap, carilah informasi mengenai lokasi serta rate hotel di sekitar area yang akan kita kunjungi. Melakukan reservasi /book secara online  juga seringkali membantu kita dalam mendapatkan rate hotel yang terbaik. Cek untuk setiap term & condition yang berlaku. Pastikan kamar yang kita book memungkinkan untuk membawa anak-anak/ boleh menggunakan kasur tambahan. Jika tidak hati-hati di depan, bisa membuat biaya penginapan kita membengkak.

3.    Persiapan Dan Perlengkapan Yang Dibawa.

Pelajari segala sesuatu tentang tempat yang akan kita tuju. Iklim, cuaca, temperature udara, peraturan yang berlaku, kebiasaan penduduk setempat, tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi/menarik bagi anak-anak – misalnya wahana permainan,  taman satwa, tempat berenang dan sebagainya.  Hal ini penting untuk memastikan kelancaran aktifitas bersama anak-anak di sana, jenis barang yang harus kita bawa dan memastikan efisiensi waktu.

  1. Jika perlu, book ticket untuk wahana permainan secara on-line, sehingga kita tidak perlu berlama-lama mengantri di loket pada saat berada di sana. Tinggal masuk saja. Prakis!.
  2. Informasikan kepada anak-anak dan suami, mengenai jadwal perjalanan dan rencana detailnya. Minta agar mereka ikut berpartisipasi untuk membuatnya menjadi menyenangkan.
  3. Siapkan semua keperluan yang akan dibawa. Usahakan sesedikit mungkin, seefisien dan sepraktis mungkin.
    1. Bawa pakaian secukupnya – kecuali untuk anak-anak, ada baiknya tambahkan masing-masing 1 stel untuk berjaga-jaga.
    2. Bawa perlengkapan obat standard yang penting-penting saja untuk berjaga-jaga jika anak jatuh sakit dalam perjalanan: Obat penurun demam, obat batuk dan obat tertentu jika anak mengidap penyakit tertentu. Misalnya obat anti allergy jika anak kebetulan pengidap allergy parah, dsb – jika perlu saja. Pastikan obat terkemas dalam keadaan baik agar tidak tumpah.
    3. Untuk mencegah kebosanan pada anak, bawa benda-benda kecil yang tidak terlalu berat misalnya: permen atau biscuit kecil (untuk mencegah kebosanan dan berjaga jika anak-anak merasa lapar sebelum kita sempat bertemu tempat makan yang menurut kita aman untuk anak-anak); sebuah mainan yang ringan,  buku, dsb.
    4.  Pastikan selalu untuk membawa tissue di dalam tas tangan kita. Sangat menolong saat anak-anak belepotan, ingusan dan sebagainya.
    5. Kamera saku jika ada, juga sangat penting untuk mengabadikan kenangan liburan bersama anak-anak.

4.    Dokumen Perjalanan.

Jika melakukan perjalanan ke luar negeri, persiapkan dokumen perjalanan yang diperlukan jauh-jauh hari  sebelumnya.  Tidak seperti yang dipersepsikan orang-orang jaman dulu, mengurus sendiri dokumen untuk anak-anak di Imigrasi, pada saat ini bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan. Pengalaman saya mengurus sendiri dokumen anak-anak di kantor Imigrasi di Tangerang sangatlah mudah dan transparant. Petugas imigrasi  mulai dari satpam, front office hingga officer-nya sangatlah ramah dan membantu, sepanjang kita memenuhi semua ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

5.    Tepat waktu di Bandara.

Bangunkan anak-anak lebih awal dari biasanya – jika perjalanan kebetulan menggunakan pesawat pagi. Dibutuhkan waktu yang tepat untuk tiba di bandara. Satu jam sebelum penerbangan local dan satu setengah jam sebelum penerbangan ke luar negeri. Kita juga perlu memperhitungkan kemacetan dalam perjalanan. Berangkat lebih awal tentu lebih baik. Demikian juga pada saat kepulangan. Usahakan agar selalu tepat waktu di bandara.

6.    Menjadi guide yang baik.

Tuntun anak-anak agar mendapatkan yang optimal dari setiap hal yang ia lihat, dengar dan alami di perjalanan. Misalnya jika kita mengunjungi candi Borobudur di Jawa Tengah, tentu sangat baik jika kita mempelajari dan mencari tahu terlebih dahulu tentang sejarah dan fakta-fakta seputar candi itu (tahun berapa dibuat, siapa yang membuat, apa gunanya, struktur bangunannya, fitur-fitur yang ada dan maknanya, dan sebagainya) sehingga kita bisa menjelaskan kepada anak-anak dengan baik. Jika kita kurang menguasai informasi tempat itu, ada baiknya juga berbincang-bincang dengan petugas atau penduduk local guna mendapatkan informai tambahan yang lebih baik. Demikian seterusnya untuk tempat-tempat yang lain.

7.      Jaga Kesehatan.

Betapapun menyenangkannya suasana liburan, orangtua perlu memastikan bahwa semua aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak, tidak ada yang berlebihan yang menyebabkan anak menjadi terlalu kelelahan dan jatuh sakit. Selalu pastikan agar makanan yang dimakan selama perjalanan adalah makanan yang menunjang kesehatannya dengan baik. Anjurkan anak-anak untuk mengkonsumsi buah-buahan segar lebih banyak. Pastikan anak-anak beristirahat dengan cukup.

Demikian semoga membantu. Selamat berlibur!.

Kisah Petualangan:Menggelandang Ke Maldives II.

Standard

Setelah kurang lebih setengah jam penerbangan dari Trivandrum,  akhirnya pesawat Air India yang saya tumpangi  memasuki wilayah negara Maldives. Pesawat menurunkan ketinggiannya. Saya melongokkan kepala saya di jendela dan melihat pemandangan yang luarbiasa indahnya dari udara. Pulau-pulau kecil yang hijau dikelilingi pantai pasir putih bersih yang berkilau, lalu diluarnya laut dangkal penuh koral yang berwarna hijau, sebelum akhirnya laut dalam yang berwarna biru. Ada banyak sekali pulau-pulau yang seperti itu. Sayang sekali lagi sayang, saya tidak boleh mengambil fotonya dari dalam pesawat.

Beberapa menit kemudian akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di MALE international Airport. Pramugara membukakan pintu dan mempersilakan saya keluar sambil tersenyum “Now, you are in Maldives for sure..”  Katanya. Ha ha .. saya jadi malu juga memikirkan itu. Setelah mengucapkan terimakasih kepadanya, sayapun berlalu. Read the rest of this entry

Cerita Perjalanan – Menempuh Penerbangan Berbahaya Dalam Kabut Asap.

Standard
Equator Monument, Pontianak

Image via Wikipedia

Beberapa saat yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke Pontianak. Saya berangkat pukul 06.00 pagi dengan menumpang pesawat Garuda. Rencananya pesawat akan mendarat di Bandara Supadio pada pukul 07.25 pagi. Pada awalnya semua berjalan lancar dan  cuaca cerah. Namun begitu mendekati kota bumi katulistiwa tersebut, tampak dari jendela pesawat, asap yang sangat tebal dan pekat menutup jarak pandang. Suara pesawat menderu agak aneh di telinga saya. Entah kenapa, perasaan saya menjadi tidak enak.

Namun demikian pesawat tetap berusaha bergerak turun ke depan dalam kabut pekat. Sesaat kemudian terdengar suara pilot memberikan informasi akan mendarat. Pesawat terus bergerak  dan kemudian saya merakan gerakan pesawat menikung. Saya menahan nafas. Walau penuh penumpang, ruang pesawat terasa sunyi. Pesawat berputar dan bergerak terus seolah mencari celah pendaratan yang tak berhasil ia temukan. Setelah cukup lama berputar putar di udara, akhirnya pilot memberikan pengumuman. Karena jarak pandang yang terbatas akibat tebalnya asap hasil kebakaran, pilot belum berhasil mendarat. Ketegangan di wajah para penumpang  terlihat meningkat. Sang pilotpun meminta maaf dan menambahkan informasi bahwa saat itu pesawat memilki extra bahan bakar untuk terbang selama 30 menit lagi. Pilot menyatakan akan mencoba berputar sambil menunggu jarak pandang membaik yang aman untuk melakukan pendaratan.

Diam-diam saya memikirkan arti kalimat pilot itu. Bahwa “pesawat saat ini memiliki extra bahan bakar untuk terbang selama 30 menit lagi”. Apakah maksudnya?

1. Apakah pesawat memang hanya memiliki extra  alias sisa bahan bakar untuk terbang selama 30 menit lagi? Apakah ‘Extra’ yang dimaksud adalah extra dari jumlah bakar standard yang ia perlu bawa untuk penerbangan Jakarta- Pontianak ? Lalu apa yang akan terjadi jika pilot tak mampu mendaratkan pesawatnya dalam batas waktu 30 menit itu? Apakah berarti mesin pesawat akan mati ? Dan kemudian pesawat akan jatuh? Dan kami semua penumpang akan mati?. Terus terang saya agak bingung memahaminya. Lalu saya berpikir, jika memang bahan bakar sisa yang dimiliki hanya cukup untuk terbang selama 30 menit lagi, apakah tidak ada kemungkinan bagi pesawat untuk di daratkan di Bandar udara terdekat yang memiliki jarak tempuh 30 menit atau kurang? Saya memikirkan bandara di Palembang atau Batam. Mungkin kedua bandara itu memiliki jarak tempuh setengah jam dari Pontianak.  Namun saya tidak tahu apakah bandara bandara itu mengalami masalah kabut asap serupa juga saat ini?. Mengapa pilot tidak mengambil keputusan untuk mendarat darurat di bandara lain? Perasaan takut dan khawatirpun merayap dalam hati saya.

2.  Ataukah pesawat memiliki  bahan bakar untuk terbang ‘extra’ selama 30 menit lagi  (diluar bahan bakar  standard yang ia miliki untuk balik kembali ke Jakarta ). Apakah maksudnya ia akan berusaha dulu selama 30 menit dan jika tidak berhasil ia akan membawa kami ke kembali Jakarta?

Para penumpang yang telah tegang sejak beberapa saat tadi, terlihat merespon pengumuman pilot dengan berbondong bondong ke toilet. Saya tidak tahu, apakah karena mereka memang telah menahan kencing terlalu lama, ataukah karena stress akibat ketegangan suasana itu.

Beberapa belas menit kemudian pilot memberi pengumuman, bahwa jarak pandang kini agak membaik dan ia akan berusaha mendarat lagi. Terasa pesawat turun dengan hati hati dengan suara menderu, semakin rendah dan semakin rendah namun tiba-tiba pesawat berbalik naik dengan kecepatan tinggi yang sangat mengejutkan. Seketika saya tahu, bahwa kali inipun sang pilot gagal lagi. Suasana dalam ruang penumpang menjadi sangat mencekam. Wajah-wajah yang khawatir dan beberapa diantaranya mengucapkan doa-doa keselamatan. Menit demi menit  berlalu penuh ketegangan. Waktu terasa sangat menekan.

Kembali terdengar suara pilot yang meminta maaf lagi karena pesawat tidak berhasil mendarat dengan baik dan menginformasikan kembali bahwa pesawat masih memiliki extra bahan bakar untuk terbang selama 10 menit lagi. Tetap tak mampu memahami maksud sang pilot, mengenai apa yang akan terjadi jika dalam 10 menit pesawat tak mampu mendarat, saya pun merenung.

Teringat akan orang-orang yang saya kasihi. Kedua anak saya yang masih kecil dan suami saya. Saudara dan keluarga saya di Bali serta orang orang yang saya cintai. Saya melirik hand phone saya yang mati. Betapa inginnya saya mengirim pesan kepada mereka yang bisa saya hubungi untuk mengucapkan selamat tinggal & terimakasih atas cinta kasihnya kepada saya selama ini. Namun niat itu saya urungkan, mengingat bahwa tindakan saya itu mungkin akan semakin membahayakan keselamatan penumpang lain. Saya juga teringat akan seorang rekan kerja saya yang juga rencananya berangkat dengan pesawat lain sejam setelah saya. Semoga ia dan pesawatnya selamat.  Saya tidak bisa berbuat apa-apa kini. Selain berpasrah diri padaNYA & berdoa sepenuh hati saya agar pilot diberikan kemampuan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.

Ternyata memasrahkan diri padaNYA memang selalu merupakan tindakan terbaik di saat-saat apapun juga. Ketenangan saya pulih kembali. Kalaupun saya harus mati saat itu saya yakin, mereka semua tahu bahwa saya sangat mencintai mereka. Dan itu membuat saya tenang dan merasa siap akan apapun yang terjadi. Namun anehnya tiba-tiba saya merasa yakin bahwa saya akan selamat dalam perjalanan ini.  Seorang Bapak yang duduk di sebelah saya dengan sangat khawatir  menatap wajah saya dan bertanya, apakah saya tidak merasa takut? Mengapa wajah saya tidak menunjukkan ketakutan?  Saya menjawab bahwa saya sudah pasrah. Tentu saja saya takut, namun apa yang bisa saya perbuat lebih baik lagi selain berpasrah diri?

Beberapa menit kemudian pilot menginformasikan bahwa jarak pandang sekarang sedikit membaik dan ia akan melakukan usahanya yang  terakhir untuk mendaratkan pesawat di bandara itu. Pilot lalu mengambil ancang ancang dan pesawatpun menurun kembali dalam kabut tebal dengan suara menderu. Beberapa menit kemudian saya merasakan ban pesawat menyentuh landasan bandara diiringi ucapan lega penuh puji syukur dari seluruh penumpang yang akhirnya berhasil selamat mendarat. Saya memanjatkan doa syukur dan terimakasih saya padaNYA. Lepas sudah ketegangan pagi itu. Jam tangan saya menunjukkan pukul 08.30. Jadi sebenarnya kami telah berputar-putar di udara di atas bandara Supadio dalam kabut asap tebal selama satu jam. Saya sangat berterimakasih kepada pilot & seluruh crew pesawat Garuda yang telah melakukan tugasnya dengan baik dalam kondisi udara seburuk itu.

Sesampainya di ruang bagasi, orang pertama yang saya hubungi adalah rekan saya yang rencananya berangkat juga ke Pontianak dengan Lion Air sejam setelah saya. Saya sangat mencemaskannya. Syukurnya, pesawat tersebut keberangkatannya ditunda.  Lega rasanya. Segera saya mengangkat koper saya dan menemui rekan kerja yang telah menunggu & menjemput saya di bandara.

Darinya saya mendengar bahwa beberapa pesawat lain yang dijadwalkan mendarat pagi itu tidak ada yang berhasil mendarat. Batavia Air kembali ke Jakarta setelah gagal mendarat. Sri Wijaya Air terpaksa mendarat darurat di bandara di Palembang. Pesawat Garuda yang saya tumpangi adalah pesawat yang pertama berhasil mendarat pagi itu. Ternyata kabut asap akibat pembakaran berhektar-hektar ladang  maupun hutan di Kalimantan itu memang sangat membahayakan penerbangan & nyawa para penumpang. Kapankah pembakaran-pembakaran  itu akan berakhir?

Di Atas Awan..

Standard

“Ketika mendung tebal menyelimuti hidup kita, fokuskanlah pikiran pada Yang Di Atas. Karena di atas awan pasti selalu ada cahaya matahari”

Suatu hari saya melakukan perjalanan dengan seorang rekan yang baru saya kenal. Cuaca sangat buruk saat itu. Hujan disertai angin yang kencang dan mendung yang tebal. Tentu saja saya merasakan takut di dalam hati saya. Namun karena saya belum begitu akrab dengan teman perjalanan saya itu, saya hanya diam saja dan tidak berani menceitakan kekhawatiran saya itu. Teman saya juga tidak berkata apa-apa. Maka naiklah kami ke pesawat  tanpa banyak mengobrol. Sekilas saya sempat mencuri pandang pada langit yang tampak gelap gulita dari bawah. Read the rest of this entry