Tag Archives: Perkutut

Yogyakarta: Burung-Burung Liar Di Alun-Alun Utara.

Standard

Tekukur 5Minggu yang lalu saya ada di Yogyakarta dan kembali ke Jakarta pada hari Sabtu pukul 7 malam. Hari itu kebetulan urusan saya sudah selesai sekitar jam 2.30 siang.  Agak kelamaan kalau menunggu di airport. Jadi saya dan teman-teman ingin mengisi waktu dengan melihat-lihat sudut kota Yogyakarta.  Setelah berembug, kami memutuskan untuk melihat Keraton. Tapi sayangnya ketika kami tiba, Keraton sudah tutup. Yaaah…kecewa deh penonton.

Empat orang teman saya memutuskan untuk melihat-lihat batik produksi rumahan yang dipromosikan tukang becak. Saya sendiri lebih berminat untuk mengamati burung -burung liar di sekitar Alun-Alun Utara. “Melihat burung liar di lapangan?” Seorang teman saya kaget, bagaimana saya yakin di sana ada banyak burung yang bisa dipotret?. Saya tertawa. Ya..barangkali karena saya memang tertarik pada satwa liar (terutama burung-burung liar), jadi ketika kendaraan kami melewati Alun-Alun itu, dari kejauhan mata saya sudah menangkap ada beberapa ekor burung perkutut hinggap di lapangan berpasir itu.  Sementara bagi yang kurang berminat, tentu saja keberadaan urung-burung liar itu akan luput dari pandangannya. Karena mata kita cenderung mencari apa yang ingin kita lihat.

Satu orang teman saya yang lain, akhirnya memutuskan untuk menemani saya berjalan-jalan di sekitar Alun-Alun. jadilah saya berdua dengan teman saya itu memasuki lapangan yang tanahnya kering dan tandus dengan dua pohon beringin terpagkas itu. Selain dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan, ada beberapa pohon beringin lain juga yang mengelilingi lapangan itu. Memberikan akomodasi yang cukup bagi para burung. Tak heran saya mendengar kicauan burung yang riuh serta belasan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

1/. Burung Tekukur.

Saat memasuki lapangan, saya melihat ada belasan ekor burung tekukur sedang sibuk berjalan-jalan atau mencari makan.  Kebanyakan dari mereka berpasangan. Mengais-ngais dan mencari sesuatu di tanah dan rerumputan yang kering. Saya hanya duduk nongkrong mengamati tingkah lakunya. Burung Tekukur alias Kukur, alias Spotted Dove (Streptopelia chinensis) sebenarnya merupakan salah satu burung yang banyak disangkarkan orang. Melihatnya terbang bebas di alam membuat hati saya terasa sangat bahagia.Karena kelihatannya burung-burung itu juga sangat berbahagia. Sebenarnya mereka bisa hidup mandiri. Mereka bisa mencari makanannya sendiri- berupa biji-biji rumput maupun biji pepohonan tanpa perlu bantuan kita, manusia untuk membelikannya makanan setiap hari.

Burung-burung ini tampak santai. Ia membiarkan saya untuk tetap berjongkok mengamati tingkah lakunya dari jarak sekitar  4-5 meter. Hanya ketika saya bergerak terlalu dekat, merekapun terbang.

Sangat mudah mengenali burung ini, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Secara umum berwarna kelabu semu coklat kemerahan dengan sayap coklat berbercak-bercak. Leher bagian belakangnya berkalung hitam putih. Kepalanya kelabu kebiruan.Paruhnya berwarna kelabu. Kakinya berwarna pink.  Melihat kalungnya, tentu kita tidak akan tertukar dengan burung jenis lain.

Suaranya sangat merdu dan penuh kedamaian bagai siapa saja yang mendengarnya “ Tekkkukuurrrrr….. tekkukuurrrrrr…“.

Melihat banyaknya yang terbang berkelompok maupun berpasangan dari satu pohon beringin ke beringin yang lainnya, saya pikir jumlah populasi burung Tekukur di area ini mungkin puluhan mendekati ratusan.

2/. Burung Perkutut.

Burung ke dua yang jumlahnya cukup banyak juga di sekitar alun-alun ini adalah Burung Perkutut. Sama dengan Burung Tekukur, Burung Perkutut  juga merupakan salah satu burung yang sangat digemari untuk dipelihara. Suaranya yng merdu “Kwarrrr ketengkung…Kwarrr ketengkung…” membuatnya diburu orang. Baik untuk didengarkan sendiri maupun untuk dilombakan. Sayang sekali ya….banyak burung ini yang nasibnya berakhir di sangkar.

Burung Perkutut alias Titiran alias Zebra Dove (Geopelia Striata) rupanya agak mirip dengan Burung Tekukur, tetapi jika kita perhatikan tentu saja banyak bedanya.  Ukuran tubuh Burung Perkutut lebih kecil dari burung Tekukur. Warnanya merupakan campuran kelabu dan coklat kemerahan. Burung Perkutut tidak memiliki kalung bintik hitam putih di leher belakangnya.  Sayapnya juga tidak berbercak-bercak, tetapi motifnya cenderung membentuk alur-alur lurik mirip motif zebra, sehingga tidak heran disebut juga dengan nama Zebra Dove.

Populasinya di area ini juga lumayan banyak. Sama seperti Tekukur, mereka mencari makan dan terbang berpasang-pasangan. Syang banyak gambar yang saya ambil sangat blur.

3/.Burung Punai.

Burung Punai

Selain ke dua jenis burung di atas, sebenarnya saya berpikir masih ada beberapa jenis burung lain yang menghuni pohon-pohon beringin di sekitar area itu. Barangkali jenis merpati lain , burung jalak dan sebagainya. Tapi saya tidak bisa melihat dengan baik.Hanya mendengar ocehan suaranya yang berbeda.  Suatu kali saya melihat serombongan burung yang awalnya saya pikir Tekukur menclok di pohon beringin di tengah alun-alun.  Saya mengarahkan kamera saya ke puncak pohon, lalu jeprat jepret ala kadarnya di beberapa bagin puncak pohon itu tanpa memeriksa lagi hasilnya. Belakangan saya baru sadar bahwa yang tertangkap oleh kamera saya justru gerombolan Burung-Burung Punai alias Green Pigeon (Treron Capellei) bukan Burung Tekukur.  Ada belasan jumlahnya bertengger di sana. Salah satunya adalah seperti yang tampak di foto di atas ini. Wahhhh…sungguh saya jadi menyesal tidak mengambil foto yang lebih baik dan lebih banyak lagi.

4/. Burung Gereja.

Burung Gereja

Berbaur dengn para Burung Perkutut dan Burung Tekukur, tak mau kalah adalah gerombolan Burung Gereja (Passer domesticus). Burung-burung kecil ini ikut sibuk mengais-ngais makanan di sela-sela rumput dan pasir Alun-alun ini. Suaranya yang bercerecet lumayan  menghibur, meramaikan suasana sore Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5/. Burung Cerukcuk.

Burung CerukcukMenjelang pulang, tepat sebelum saya masuk ke kendaraan yang akan mengantarkan saya ke bandara, saya melihat seekor Burung Cerukcuk ( Pycnonotus goiavier) di atap bangunan tak jauh dari tempat kami parkir. Burung penanda pagi ini tampaknya hanya beristirahat sebentar di sana lalu terbang menyusul temannya dan menghilang di balik rimbunan daun-daun beringin.

Sore yang sangat menyenangkan di Yogyakarta. Senang bisa menyaksikan kehidupan liar masih ada di seputar kota. Semoga pemerintah setempat memberi perhatian terhadap kehidupan burung-burung ini,  agar kebebasannya tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil yang ingin menangkap dan memperjual-belikannya.

Yuk kita cintai Lingkungan Hidup kita!.

 

Kisah Burung Perkutut Dan Supir Taksi.

Standard

Perkutut 1Burung Perkutut oleh banyak orang dipercaya membawa keberuntungan. Perkutut Katuranggan – konon istilahnya.  Orang bilang itu hanya sebuah mitos. Saya pikir, setidaknya bagi penangkar burung  dan penjualnya tentu saja burung ini membawa rejeki – wong namanya juga barang dagangan.  Kalau dijual ya ngasilin duitlah ya. Keuntungan dari hasil jual beli itulah rejekinya.

Saya sendiri  tidak suka memelihara burung. Tapi saya suka mengamati burung di alam bebas sebagaimana halnya binatang liar lainnya. Tanpa mengait-ngaitkannya dengan mitos bahwa binatang ini membawa rejeki atau malah pembawa sial. Tapi  jika ada yang bercerita mitos tentang binatang tertentu, biasanya saya ikut menyimak.  Menjadi pendengar yang baik. Salah satunya adalah cerita  yang diceritakan kembali oleh salah seorang kawan kepada saya. Ini cerita kawan saya, lho!.

Kawan saya berlibur bersama suaminya di sebuah kota di Jawa Tengah. Mereka naik taxi menuju Hotel tempat mereka menginap. Di perjalanan, suaminya menyapa sang supir taxi yang terlihat sangat kalem dan pendiam.

“Sudah lama narik taksi, Mas?” tanya suaminya. Sang supir taksi mengatakan ia baru menarik taksi. Lalu pekerjaan sebelumnya apa dong? Ditanya seperti itu tiba-tiba sang supir taksi menangis sesenggukan. Kawan saya dan suaminya heran, bingung dan merasa tidak enak, lalu meminta maaf karena telah membuat supir taksi itu sedih karena pertanyaannya. Supir taksi itu bukannya berhenti menangis. Malah tangisannya semakin menjadi-jadi.  Pertama kalinya mereka  mengalami kejadian seperti ini. Supir taksi menangis tersedu-sedu saat ditanya apa pekerjaannya sebelum menjadi supir taksi. Maksud meraka hanya untuk ngobrol dan mencairkan suasana. Namun ternyata pertanyaan itu sangat sensitive bagi sang supir taksi.

Kawan saya akhirnya meminta supir taksi agar menepikan kendaraannya. Istirahat sejenak dan memberikan kesempatan kepada sang supir taksi untuk melepaskan kesedihannya. Sang supir taksi pun menangis tersedu-sedu. Kawan saya lalu  memberikan supir taksi itu minum agar ia lebih tenang.

Setelah  tenang, supir taksi itu bercerita  bahwa sebelumnya ia adalah seorang kontraktor bangunan yang sukses. Hidup bahagia dengan seorang istri dan anak-anak yang sangat dicintainya.Namun sekarang usahanya sudah bangkrut dan ia menderita hanya gara-gara seekor burung. Hah? Hanya  gara-gara seekor burung?  Bagimana ceritanya?  Saat kawan saya bercerita, saya menyangka mungkin kontraktor ini menggunakan modal usahanya untuk berbisnis burung dan usahanya itu bangkrut. Ceritanya ternyata jauh dari dugaan saya.

Supir taksi itu bercerita, bahwa suatu kali  ia membeli seekor burung perkutut dengan harga yang cukup mahal. Karena saat itu ia cukup sukses secara finansial, maka harga burung itu tidak menjadi masalah baginya. Dibawalah burung itu ke rumah dan dipeliharanya.  Tak berapa lama setelah itu, seorang anaknya sakit lalu meninggal.  Usahanyapun mengalami kemunduran.  Ia merasa sangat sedih atas kepergian anaknya.Tak lama kemudian, istrinya juga sakit lalu meninggal. Usahanya semakin lama semakin mundur. Hingga terakhir, anaknya yang lain pun ikut sakit dan juga meninggal. Tinggallah ia seorang diri. Dan usahanya yang semakin mundur akhirnya mengalami kebangkrutan. Ketika semuanya sudah hilang dan habis, dan ia berada diambang putus asa, seseorang memberitahu padanya bahwa semua malapetaka yang ia alami itu disebabkan oleh “sesuatu” yang dipeliharanya dirumah.  Iapun mencoba mengingat -ingat, apa itu? Ia tidak memelihara apa-apa, kecuali seekor Burung Perkutut yang dipeliharanya sejak setahun terakhir.

Saking penasarannya, ia menelusuri siapakah pemilik burung ini sebelumnya. Menurutnya ia menemukan bahwa ternyata si pemilik burung yang sebelumnyapun juga mengalami nasib buruk yang serupa dengan dirinya.  Keluarganya habis dan usahanya bangkrut. Dan walaupun ia telah menjual burungnya itu ke orang lain, tetap tidak bisa mengembalikan kesialannya itu. Setelah mengetahui kejadian dan nasib buruk si pemilik burung yang sebelumnya itu, maka iapun akhirnya memutuskan untuk melepas burung itu ke alam bebas.  Dan melanjutkan hidupnya kembali dari nol dengan menjadi supir taksi hingga saat ini.

Kawan saya terheran-heran mendengar cerita itu. Demikian juga saya ketika kawan saya itu menceritakannya kembali kepada saya. Aneh dan sulit dipercaya ya? Banyak pertanyaan menggelantung di kepala saya.  Apa ya benar itu kejadian nyata? Memang anak-anak dan istri supir taksi itu sakit apa? Sayang kawan saya lupa menanyakannya. Lalu kenapa usahanya mundur dan mengalami kebangkrutan? Apakah karena sebelumnya ia melakukan pekerjaan dengan kwalitas yang kurang bagus?  Atau kehabisan modal karena miss -management?  Mungkin penyebabnya  sebenarnya tak ada hubungannya dengan burung itu? Barangkali cuma kebetulan saja? Jadi dianggap membawa sial? Atau burung itu membawa strain virus flu burung yang mematikan? Tapi harusnya ia mati duluan ya sebelum menulari manusia ya? Ah..saya tak mampu memecahkannya.

Tapi menurut kawan saya, supir taksi itu benar-benar percaya dan yakin bahwa penyebab kesialan yang menimpanya itu adalah burung yang pernah dipelihara itu.  Ia pun tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya menghibur supir taksi itu dan memberinya kalimat-kalimat yang menyemangati agar supir taksi itu lupa akan kesedihannya.  Jika seseorang telah sangat percaya akan sesuatu, tentu sulit untuk merubahnya agar menjadi tidak percaya. Demikian juga bagi yang tidak percaya untuk merubahnya menjadi  percaya – tentu bukan pekerjaan mudah.

Saya juga ikut berdoa semoga supir taksi itu cepat keluar dari kesedihannya dan bisa kembali bangkit semangatnya dalam menjalani fragmen kehidupannya yang baru lagi.

Dan saya pikir selalu  lebih baik melepas burung itu ke alam bebas, terlepas apakah burung itu dianggap membawa sial atau membawa berkah. Burung adalah milik alam, maka biarkanlah ia kembali ke alamnya.

 

 

Mengamati Burung Perkutut Di Alam Bebas.

Standard

PerkututSalah satu burung yang paling banyak diburu manusia di Indonesia khususnya di Pulau Jawa adalah Burung Perkutut.  Karena Burung ini dianggap sebagai penentu ‘status’  dar pemiliknya dan juga dipercaya membawa nasib baik kepada pemiliknya. Entahlah kebenarannya.  Bisa dibilang saya sangat jarang sekali bisa menemukannya di alam liar. Saya sempat menemukannya terbang bebas di Bali, walaupun tidak semudah menemukan Tekukur. Namun selama saya tinggal di Jabodetabek, saya belum pernah melihatnya barang seekorpun terbang bebas. Semuanya hanya di dalam sangkar.  Terbayanglah bagaimana kagetnya saya ketika tiba-tiba melihat seekor burung Perkutut menclok di batang pohon Keluwih di tepi sungai di belakang rumah saya?

Awalnya saya menyangka itu anak Burung Tekukur. Karena ukuran tubuhnya yang kecil. Dan saya hanya melihatnya dari kejauhan. Sementara mata saya minus agak berat.  Tapi lama-lama saya curiga. Itu bukan anak Tekukur, karena tingkah laku hinggapnya agak berbeda. Saya segera mengambil kamera dan men-zoom hasil jepretan saya. Wah.. Perkutut!.  Perkutut dewasa. Alangkah girangnya hati saya. Perkutut di alam bebas. Baru pertama kali ini saya melihatnya di Jabodetabek. Barangkali  ia lepas dari kandang pemiliknya.Sepasang Perkutut

Lama saya menonton Burung itu yang hanya diam duduk di cabang pohon itu. hanya bergeser sedikit atau memutar posisi bertenggernya. Kelihatan seperti tak punya selera untuk terbang atau berpindah. Agak lama kemudian, seekor burung Perkutut lain muncul dan hinggap di sebelahnya. Kini saya melihat mereka sepasang. Nah..kalau sepasang begini,saya menjadi tidak yakin apakah burung ini memang burung peliharaan yang berhasil kabur ?Apakah mungkin lepas berpasangan?  Atau memang burung asli yang bebas di alam?

Keluarga Perkutut

Berikutnya hinggap dua ekor Burung Perkutut lain.  Waduuh sekarang ada empat ekor.  Tapi  yang dua ini kelihatannya adalah anak-anak burung Perkutut, karena warnanya agak lebih coklat dan sayap serta ekornya juga masih pendek. Saya rasa umur mereka baru sekitar dua tiga minggu.  Sedang diajarkan terbang oleh induknya. Sangat senang menonton tingkah laku keluarga perkutut ini.

Induk Perkutut dan anaknya

Burung Perkutut, alias Zebra Dove (Geopelia striata),sebenarnya merupakan burung yang umum di Indonesia.Namun saya pikir, kebanyakan burung yang diperjualbelikan di tukang burung adalah hasil penangkaran. Burung Perkutut termasuk burung yang lumayan jinak. Umumnya tidak terlalu merasa terganggu akan kehadiran manusia. Jika sudah menclok di sebuah cabang, ia akan cenderung berdiam diri di sana. Agak berbeda dengan kebiasaan Burung Tekukur yang biasanya lebih curigaan dan cepat terbang jika di sekitarnya ada manusia.  Di alam liar biasanya membuat sarangnya tidak terlalu tinggi. Telurnya umumnya dua butir. Anaknya berwarna sedikit kecoklatan, kepalanya berwarna putih dengan garis kecoklatan. Sedangkan yang dewasa umumnya memiliki warna kepala abu-abu kebiruan. Dada burung Perkutut berwarna coklat namun dari leher hingga ke bagian badan lainnya bergaris-garis hitam putih mirip kudan zebra. Burung perkutut memiliki ukuran tubuh yang kecil.  Makanannya adalh biji-bijian.

Saya menonton tingkah laku anak-anak dan induk burung ini hingga senja berubah menjadi gelap. Dimanakah mereka tidur? semoga tidak ada manusia jahil yang menangkapnya.