Tag Archives: Pondok Aren

Top 10 Burung Liar Di Bintaro Dan Sekitarnya.

Standard

Bintaro dan sekitarnya yang sebenarnya sudah memasuki wilayah Tangerang Selatan  (Pondok Aren, Pondok Jagung, Paku Jaya), merupakan wilayah  yang mengalami perubahan sangat cepat. Berpuluh-puluh perumahan baru bermunculan yang pada akhirnya merubah drastis permukaan wilayah itu  yang dulunya adalah sawah ladang dan perkebunan serta kampung, menjadi perumahan modern dengan segala fasilitasnya.   Sudah pasti vegetasi dan juga hewan-hewan liar yang berhabitat di dalamnya juga ikut berubah. Entah jenisnya, maupun jumlahnya.  Untungnya area hijau juga masih ada walaupun sedikit, baik berupa taman-taman perumahan, bantaran sungai maupun upaya warganya untuk bertanam pohon – sehingga setidaknya kita masih bisa mengintip  kehidupan beberapa jenis satwa liar di alam bebas di wilayah ini.

Bagi saya, mengamati burung-burung liar di habitatnya merupakan salah satukegiatan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan pada akhir pekan bersama anak-anak.

Berikut adalah daftar 10  burung liar yang paling umum kita temukan di wilayah ini,  tentunya di luar Burung Gereja atau House Sparrow(Passer domesticus) yang bisa kita anggap sudah sebagai burung domestik ketimbang burung liar.

1.  Burung Terkwak ( Amaurornis phoenicurus).

Burung Terkwak 6

Burung yang hidupnya di badan-badan air ini, sering juga disebut dengan Burung Ayam-ayaman atau Ayam Air Berdada Putih /White Breasted Water Hen. Berhabitat di sepanjang sungai sungai kecil yang mengalir di wilayah  Bintaro Sektor IX hingga ke area Pondok Kacang. Sangat mudah menemukannya, karena populasinya yang cukup tinggi dan terutama karena bunyinya yang sangat ribut, terrrrr..kwaaakkkkk, terrrrr kwakkkk…

2. Burung Pipit (Lonchura leucogastroides)

Burung Pipit

Burung kecil pemakan padi dan biji rermputan ini  sering juga disebut dengan nama Burung Bondol Jawa /Javan Munia). Barangkali karena dulunya wilayah ini adalah areal sawah yang luas, sehingga populasi Burung Pipit ini masih cukup tinggi di sini. Sangat mudah kita temukan  di mana-mana, terutama di area terbuka yang belum tergarap dengan baik, di taman, di pinggir kali atau bahkan di pinggir jalan. Sibuk memakan biji-biji rerumputan sambil bercericit riang.

3. Burung Peking (Lonchura punctulata)

Burung Peking

Sama dengan burung Pipit, burung kecil  yang juga disebut dengan Bondol Dada Sisik /Scaly Breasted Munia  ini juga sangat mudah kita temukan di mana-mana di area yang berumput. Seringkali  bahkan mencari makan bersama dengan burung-burung pipit tanpa terlihat saling mengganggu.

4. Burung Kipasan (Rhipidura javanica)

Burung Kipasan 10

Burung lincah, centil dan energetic yang kadang disebut juga dengan nama Burung Murai Gila  ini sangat mudah kita temukan bernyanyi riang dan berkejar-kejaran dengan pasangannya sambi memamerkan keindahan ekornya yang sangat mirip dengan kipas.  Bermain dan hinggap di semak-semak berbunga dan pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi seperti misalnya pohon kersen, pohon lamtoro atau di lahan-lahan terbuka yang kiri kanannya bersemak.

5. Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier)

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung Cerukcuk Makan Buah Pepaya

Burung pemakan buah-buahan dan serangga  yang sering juga disebut dengan Terucukan, Trocok, Crocokan atau Kutilang Dada Kuning / Yellow Vented Bulbul ini juga sangat mudah ditemukan di wilayah Bintaro. Burung ini menghuni pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Sangat mudah dipergoki sedang bertengger menikmati buah kersen yang matang. Sangat sering terlihat terbang berpasangan.

6. Burung  Cabe (Dicaeum trochileum)

Burung Cabe 1

Burung Cabe atau Burung Tabia -Tabia / Scarlet Headed Flower Pecker, juga merupakan burung yang cukup mudah ditemukan. Walaupun ukurannya kecil, namun karena warna jantannya merah  (walaupun tingkat kecemerlangan warnanya bisa berbeda dari satu burung ke burung yang lain).  Ia sangat sering berengger di tiang telpon/ listrik, selain di  pepohonan rendah yang banyak benalunya.

7. Burung Madu Sriganti (Nectarinia jugularis)

Burung Madu Sriganti

Sesuai dengan namanya, burung ini adalah pengumpul nektar dari bunga ke bunga. Untuk menemukannya, kita bisa menyusuri pepohonan yang banyak bunga benalunya, atau pohon-pohon pepaya  yang sedang berbunga.

8. Burung Cinenen (Orthotomus sutorius).

Burung CinenenBurung yang juga digelari sebagai Burung Tukang Jahit ( Common Taylorbird) ini banyak bisa kita temukan di taman-taman yang memiliki perdu berbunga seperti bunga Asoka, bunga Kacapiring, Bougenville dan sebagainya. Sibuk berteriak    cuik, cuik, cuik…sambil mencari serangga di dahan-dahan yang rendah.

9. Burung Tekukur (Streptopelia chinensis)

TekukurBurung Tekukur atau yang sering juga disebut dengan Burung Balam.  Beberapa kali saya menemukannya sedang menclok di tembok perumahan di sekitar Bintaro atau sedang minum di pinggir kali atau sedang makan biji-bijian.

10. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster).

Burung KutilangBurung penyanyi  yang merupakan saudara dari Burung Cerukcuk ini biasanya bertengger di pucuk-pucuk pohon. Bernyanyi dari dahan-dahan yang tinggi. Karena ukuran tubuhnya yang lumayan besar, burung ini agak mudah terlihat.  Seringnya terlihat berpasangan.

Saya hanya bisa berharap, lingkungan hijau di sekitar Bintaro ini tetap bisa dipertahankan walaupun laju pembangunan sulit untuk dihentikan, sehingga burung-burung liar yang menarik ini tetap bisa lestari di alamnya.

Tentang Kepedulian Terhadap Sesama.

Standard

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis di Villa Bintaro Regency.

“Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all of which have the potential to turn a life around.”  (Leo F. Buscaglia).


Kesibukan yang super padat  agar bisa bertahan dari kehiruk-pikukan metropolitan, membuat kita terkadang merasa penat, lelah dan tertekan.  Jam kerja yang panjang, kemacetan yang semakin hari semakin tak terkendali, tekanan pekerjaan dan berbagai masalah hidup, semuanya terasa ikut memacu kehidupan menjadi lebih soliter, lebih individualistis, gersang dan bahkan mulai kehilangan sisi humanisnya. Read the rest of this entry